Feb 11, 2015

Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika



Oleh Marsigit

Guru Matematika:


Wahai muridku, engkau kelihatan berbeda dan kelihatan cerdas. Sekiranya aku ditugaskan untuk menjadi Guru Matematika di kelasmu maka apakah permintaan-permintaanmu kepadaku?

Murid:

Aku menginginkan agar pelajaran matematika itu menyenangkan bagi diriku, memberi semangat kepadaku, dan bermanfaat bagiku.

Aku juga ingin bahwa pelajaran matematika itu mudah aku pelajari.

Aku harap engkau juga menghargai pengetahuan-pengetahuan yang sudah aku miliki.

Aku ingin juga bahwa pelajaran matematika itu mempunyai keindahan, sesuai dengan norma dan nilai agama.

Aku mohon agar aku diberi kesempatan untuk berdoa sebelum pelajaran matematika itu dimulai.

Aku ingin agar persoalanku sehari-hari dapat digunakan dalam belajar matematika.

Ketahuilah wahai guruku bahwa rasa senang itu juga milikku, walaupun engkau juga berhak mempunyai rasa senang.

Tetapi menurutku, rasa senang itu tidaklah engkau berikan kepadaku, melainkan harus muncul dari dalam diriku sendiri.

Engkau tidaklah bisa memaksa diriku menyenangi matematika, kecuali hanya dengan keikhlasanku.

Aku juga ingin engkau agar memberi kesempatan kepada diriku agar aku bisa mempersiapkan psikologis diriku dalam mengikuti pelajaran matematika.

Ketahuilah wahai guruku, bahwa diriku dan diri teman-temanku semua itulah yang sebenar-benarnya melakukan persiapan.

Itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai Apersepsi.

Maka berilah kami semua tanpa kecuali untuk melakukan kegiatan-kegiatan agar kami bisa melaukan Apersepsi, dan tidak hanya engkau ceramahi atau engkau hanya bertanya kepada sedikit siswamu yang duduk di depan.

Aku juga berharap agar pelajaran matematika itu engkau persiapakan sebaik-baiknya agar aku dapat melakukan berbagai aktivitas di kelas.

Aku juga memohon agar engkau bersikap adil, tidak pilih kasih. Jika nilaiku jelek, janganlah engkau remehkan diriku, tetapi jika nilaiku terbaik maka janganlah terlalu disanjung-sanjung.

Menurutku, belajar matematika itu adalah hak dari setiap murid-muridmu di kelas. Oleh karena itu mohon agar perhatianmu jangan hanya yang duduk di bagian depan saja, melainkan harus meliputi semuanya.

Aku juga memohon agar engkau tidak bersikap otoriter. Tetapi aku mohon agar engkau dapat bersikap demokratis.

Oleh karena itu, aku mohon agar engkau jangan terlalu banyak bicara apalagi terkesan menggurui.

Berikanlah kami beraneka ragam aktivitas matematika.

Karena jika engkau terlalu banyak bercerita dan mengguruiku maka sebenar-benar diriku merasa tersinggung dan kasihan terhadap dirimu karena engkau terkesan sombong.

Aku juga mohon agar engkau tidak hanya bercerita, tetapi hendaknya memberikanku kesempatan untuk beraktivitas.

Aku ingin agar engkau guruku, dapat membuat atau menyiapkan LKS agar aku bisa berlatih di situ, sekaligus aku akan mempunyai catatan dan informasi-informasi.

Aku mohon agar LKS yang engkau siapkan bukan sekedar kumpulan soal, melainkan dapat menjadi sarana bagiku untuk belajar mandiri maupun kelompok.

Kata Pamanku, LKS merupakan sarana yang sangat strategis bagi guru agar mampu melayani kebutuhan belajar matematika siswa-siswanya yang beraneka ragam kemampuan.

Aku mohon juga agar engkau jangan menilai aku hanya dari test saja, tetapi tolonglah agar penilaianmu terhadap diriku itu bersifat komprehensif, lengkap meliputi proses kegiatanku dan juga hasil-hasilku.

Aku juga menginginkan dapat menampilkan karya-karyaku.

Aku sungguh merasa jemu jika engkau hanya menggunakan metode ceramah saja.

Wahai guruku, seberapakah engkau menyadari betapa kecewanya murid-muridmu ketika sudah engkau minta untuk unjuk jari bertanya, tetapi engkau hanya menunjuk satu saja diantara kami. Padahal hal itu engkau lakukan setiap hari dan dari waktu ke waktu. Menurut Pamanku, ini disebabkan karena pengelolaan kelas yang belum bagus.

Aku dan teman-temanku juga merasa tidak begitu nyaman, jika engkau selalu bertanya dengan kalimat panjang dan kalimat terbuka, kemudian menyuruhku untuk menjawab secara koor/choir. Seakan-akan engkau telah memperlakukan diriku hanya sebagai obyek pelengkap kalimat-kalimatmu. Sungguh guru hal yang demikian telah membuat diriku telah tidak berdaya dihadapanmu. Lagi-lagi menurut Pamanku, metode mengajar yang demikian perlu segera diubah.

Oleh karena itu aku memohon agar engkau menggunakan berbagai variasi metode mengajar, variasi penilaian, variasi pemanfaatan sumber belajar.

Aku juga menginginkan agar engkau mampu menggunakan teknologi canggih seperti website dalam pembelajaranmu. Kenapa guru, aku belajar matematika musti menunggu hari Selasa, padahal pada hari Selasa yang telah aku tunggu-tunggu terkadang engkau tidak dapat mengajar dikarenakan mendapat tugas yang lebih penting. Aku sangat kecewa akan hal ini.

Aku ingin agar engkau guruku, dapat membuat Website yang memungkinkan aku belajar matematika setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung dengan keberadaanmu. Aku juga ingin bertanya persoalan matematika kepadamu setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung keberadaanmu. Menurut Pamanku, itu semua bisa dilayani jika engkau membuatkan Wbsite atau Blog untuk murid-muridmu.

Aku ingin engkau menunjukkiku di mana sumber-sumber belajar matematika yang baik.

Aku juga akan merasa bangga jika engkau sebagai guruku mampu membuat modul-modul pembelajaran, apalagi jika engkau dapat pula membuat buku-buku teks pelajaran matematika untukku.

Aku juga menginginkan engkau dapat memberi kesempatan kepadaku untuk memperoleh keterampilan matematika.

Aku ingin agar matematikaku bermanfaat tidak hanya untuk diriku tetapi juga untuk orang lain.

Aku juga menginginkan masih tetap bisa berkonsultasi denganmu di luar jam pelajaran.

Pak Guru, aku ingin sekali tempo juga belajar di luar kelas. Kelihatannya belajar diluar kelas udaranya lebih segar dan menyenangkan.

Tiadalah seseorang di muka bumi ini selain diriku sama dengan diriku. Oleh karena itu dalam pelajaran matematika itu nanti aku berharap agar engkau dapat mengenalku dan mengerti siapa diriku.

Tetapi aku juga mengetahui bahwa diri yang lain juga saling berbeda satu dengan yang lain.

Maka sesungguh-sungguhnya dirimu sebagai guru akan menghadapi murid-muridmu sebanyak empat puluh ini, juga sebanyak empat puluh macam yang berbeda-beda.

Oleh karena itu aku memohon agar engkau jangan hanya menggunakan metode tunggal dalam mengajarmu, supaya engkau dapat membantu belajarku.

Menurutku, untuk melayani sebanyak empat puluh siswa-siswa yang berbeda-beda ini, maka tidaklah bisa kalau engkau hanya menggunakan metode mengajar tradisional atau ceramah.

Menurut bacaan di internet dan menurut Pamanku, maka untuk dapat melayani siswa-siswamu yang beraneka ragam, maka engkau perlu mengembangkan RPP yang flesibel, perlu membuat LKS dan yang penting lagi adalah engkau sebagai guruku harus mempercayai bahwa jika diberi kesempatan maka muridmu ini mampu mempelajari matematika.

Itulah yang aku ketahui bahwa engkau harus lebih berpihak kepada kami.
Keberpihakan engkau kepada kami itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai student centered.

Mohon agar engkau lebih sabar menunggu sampai aku bisa mengerjakan matematika. Usahakanlah agar matematika itu menjadi miliku, maka janganlah aku hanya diberi kesempatan untuk melihat atau menonton saja.

Yang betul-betul perlu belajar matematika itu adalah diriku.
Aku ingin betul-betul belajar dan melakukan kegiatan belajar dan tidak hanya menonton engkau yang mengerjakan matematika.

Maka jikalau engkau mempunyai alat peraga, maka biarkan aku dapat menggunakannya dan jangan hanya engkau taruh di depan saja.

Aku bahkan dapat mempelajari matematika lebih efektif jika belajar bersama-sama dengan teman-temanku.

Oleh karena itu wahai guruku, maka dalam pelajaran matematika itu nanti berikan kami kesempatan untuk belajar bersama-sama dalam kelompok.

Tetapi jika engkau telah menyuruhku belajar dalam kelompok, maka berikanlah aku waktu yang cukup untuk berdiskusi dan janganlah engkau terlalu banyak memberikan petunjuk dan ceramah lagi ketika aku sedang bekerja dalam kelompok.

Karena hal demikian sangat mengganggu konsentrasiku dan terkesan engkau menjadi kurang menghargai kepada murid-muridmu.

Aku juga mohon agar engkau memberikan kesempatan kepada diriku untuk membangun konsepku dan pengertianku sendiri.

Wahai guruku, ketahuilah bahwa aku juga ingin menunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku juga dapat menarik kesimpulan dari tugas-tugasmu mengerjakan matematika.

Ketahuilah wahai guruku bahwa kesimpulan-kesimpulan dari tugas-tugasmu itu sebenarnya adalah milikku.

Oleh karena itu janganlah engkau sendiri yang menyimpulkan tetapi berikan kesempatan kepadaku agar aku juga bisa menemukan rumus-rumus matematika.

Rumus yang aku temukan sendiri itu sebenar-benarnya akan bersifat lebih awet dan langgeng dari pada hal demikian hanya sekedar pemberianmu.

Maka jika aku sudah susah-susah melakukan kegiatan kearah menemukan rumus, sementara pada akhirnya malah engkau yang menyimpulkan, maka sebetulnya aku menjadi marah kepadamu.

Janganlah engkau membuat pesan ganda kepada diriku. Janganlah engkau memberi hukuman kepadaku dengan menyuruh aku untuk mengerjakan sebanyak-banyak soal. Karena bagiku, hukuman adalah jelek sedangkan mengerjakan soal adalah baik.

Jangan pula engkau pura-pura memberi soal yang sangat sulit kepadaku padahal engkau sesungguhnya bermaksud untuk menghukumku.

Aku memohon agar engkau mempercayaiku. Kepercayaanmu kepadaku itu merupakan kekuatan bagiku untuk memperoleh pengetahuanku. Tolong sekali lagi tolong, percayailah diriku, bahwa jika aku diberi kesempatan maka insyaAllah aku bisa.

Aku akan bangga jika guruku suatu ketika dapat muncul di kegiatan seminar baik secara nasional maupun internasinal. Wahai guruku, gunakanlah data-dataku, hasil-hasilku, dan proses belajarku sebagai data penelitianmu. Menurut Pamanku, jika engkau mampu menggunakan data-data dikelas mengajarmu, maka engkau akan menghasilkan karya ilmiah setiap tahunnya.

Wahai guruku, aku juga bangga dan ingin membaca karya-karya ilmiahmu. Setidaknya hal demikian juga akan memotivasi diriku.

Wahai guruku yang baik hati, aku merasa dari waktu ke waktu terdapat perubahan dalam diriku. Aku juga melakukan percobaan atau eksperimen mencari cara belajar yang baik. Kelihatannya aku belum menemukan cara belajar yang terbaik bagi diriku. Tetapi aku dapat menyimpulkan bahwa cara belajarku haruslah dinamis, fleksibel, dan kreatif menyesuaikan dengan kompetensi yang harus aku kuasai. Oleh karena itu sungguh aneh jika engkau guruku hanya mengajar diriku dengan metode yang sama dari waktu ke waktu.

Permintaan terakhirku adalah apakah bisa engkau Guruku, untuk kami yang beraneka ragam, berilah kesempatan untuk mempelajari matematika yang beraneka ragam pula, dengan alat peraga atau fasilitas yang beraneka ragam pula, dengan buku matematika yang beraneka ragam pula, dengan kompetensi yang beraneka ragam pula, dengan waktu yang beraneka ragam pula, walaupun kami semua ada dalam satu kelas, yaitu kelas pembelajaran matematika yang akan engkau selenggarakan.

Demikian guru permohonanku, saya minta maaf atas banyaknya permintaanku karena sesungguhnya permintaanku itu telah aku kumpulkan dalam jangka waktu yang lama. Sampai aku menunggu ada seorang guru yang bersifat terbuka untuk menerima permohonan dan saran dari muridnya.

Sekali lagi mohon maaf guruku. Mohon doa restunya. Amin


Guru Matematika:

Astagfirullah al adzimu....ya Allah ya Robi ampunilah segala dosa-dosaku.

Wahai muridku, aku tidak bisa berkata apapun dan aku merasa terharu mendengar semua permintaanmu itu.

Mulutku seakan terkunci mendengar semua permintaan dan penuturanmu itu.

Tubuhku tergetar dan keringat dingin membasahi tubuhku.

Aku tidak mengira bahwa diantara murid-muridku ada murid yang secerdas kamu.

Aku tidak mengira bahwa jika aku beri kesempatan dan aku beri sarana penyambung lidah bagi suara hati nuranimu, maka ternyata harapan-harapanmu, permintaan-permintaanmu, dan pikiran-pikiranmu bisa melebihi dan di luar apa yang aku pikirkan dewasa ini.

Setelah mendengar semua permintaanmu, aku menjadi tahu betapa tidak mudah menjadi Guru Matematika bagimu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menjadi ragu tentang kepastianku.

Setelah mendengar permintaanmu, aku merasa malu dihadapanmu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku merasakan betapa diriku itu bersifat sangat
egois.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa aku telah berbuat sombong dihadapanmu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa malas diriku itu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat tidak adil terhadapmu.

Selama ini aku telah berbuat aniaya terhadap dirimu karena aku telah selalu menutupi sifat-sifatmu, aku selalu menutupi potensi-potensimu, aku selalu mendominasi inisiatifmu, aku selalu menimpakan kesalahan pada dirimu, dan
sebaliknya aku selalu menutupi kesalahanku.

Selama ini aku telah berpura-pura menjadi manusia setengah dewa dihadapanmu.

Dihadapanmu, aku telah menampilkan diriku sebagai manusia sempurna yang tiada cacat, serba bisa, serba unggul, serba hebat, tiada gagal, wajib digugu, dan wajib ditiru.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat munafik di depanmu, karena aku selalu menyembunyikan keburukan-keburukanku sementara aku menuntumu untuk menunjukkan kebaikan-kebaikanmu.

Oh muridku hanyalah tetesan air mataku saja yang telah mengalir merenungi menyadarai bahwa KERAGUANKU terhadap praktek pembelajaran matematika ternyata benar adanya.

Ternyata yang aku lakukan selama ini lebih banyak mendholimi murid-muridku.

Wahai orang tua berambut putih salahkan jika aku berusaha membimbing murid-muridku?

Orang Tua Berambut Putih:

Ketahuilah wahai guru, jikalau engkau renungkan, maka hakekat membimbing adalah memberdayakan siswa. Sudahkah kegiatan membimbingmu memberdayakan siswa? Saya khawatir jangan-jangan niatmu membimbing, tetapi yang terjadi sebetulnya justeru membuat siswamu tidak berdaya.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Orang tua berambut putih, salahkan jika aku mewajibkan murid-muridku untuk belajar giat?

Orang Tua Berambut Putih:

Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat belajar itu adalah kebutuhan dan kesadaran siswa, dan bukanlah kewajiban dan perintah-perintahmu. Saya khawatir jangan-jangan dibalik kegiatanmu mewajib-wajibkan dan perintah-perintah kepada siswamu itu, sebetulnya terselip sifat egoismu.

Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika aku mengajar dengan cepat dan tergesa-gesa untuk memberi bekal sebanyak-banyaknya kepada siswa. Apalagi beban kurikulum yang banyak sementara waktunya terbatas.

Orang Tua Berambut Putih:

Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat pendidikan itu adalah kegiatan jangka panjang. Cepat dan tergesa-gesa itu artinya tidak teliti dan memaksa. Maka tiadalah gunanya engkau dipundakmu membawa segunung pengetahuanmu untuk engkau tuangkan kepada siswamu sementara siswa-siswamu meninggalkan dirimu. Sebaliknya jika siswamu telah berdaya, merasa senang, menyadari dan memerlukan mempelajari matematika, maka sedikit saja engkau memberinya, maka mereka akan meminta dan mencari yang lebih banyak lagi.

Guru Matematika:
Subhanallah....baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika saya menggunakan metode tunggal saja yaitu metode ekspositori?


Orang Tua Berambut Putih:

Metode ekspositori atau ceramah itu metode yang sudah kadaluwarsa, tidak mampu lagi melayani kebutuhan siswa dalam belajarnya. Metode ekspositori selalu sajalah merupakan siklus dari kegiatan: menerangkan, memberi contoh, memberi soal, memberi tugas, dan menerangkan kembali, demikian seterusnya. Selamanya ya seperti itu. Itu hanya cocok jika paradigma mengajarmu adalah paradigma lama yaitu trasfer of learning. Jaman sekarang dan kecenderungan internasional, metode yang dikembangkan adalah multi metode, yaitu metode yang bervariasi, dinamis dan fleksibel.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian bagaimanakah caranya aku melayani kebutuhan siswa-siswaku mempelajari dan menemukan sendiri matematikanya? Sementara murid-muridku itu jumlahnya banyak dan kemampuannya berbeda-beda pula?

Orang Tua Berambut Putih:
Tidaklah mungkin engkau mampu melayani kebutuhan belajar murid-muridmu, jika engkau tidak merubah paradigmamu.

Guru Matematika:
Paradigma seperti apa sehingga saya mampu melayani siswa-siswaku mempelajari matematika?

Orang Tua Berambut Putih:
Hijrahlah, berubahlah, bergeraklah.
Ubahlah paradigmamu:
-dari transer of knowledge menjadi to facilitate
-dari directed-teaching menjadi less directed-teaching
-dari menekankan kepada teaching menjadi menekankan kepada learning
-dari metode tunggal menjadi metode jamak
-dari metode yang monoton menjadi metode yang dinamis dan fleksibel
-dari textbook oriented menjadi problem-based oriented
-dari UNAS oriented menjadi process-product oriented
-dari cepat dan tergesa-gesa menjadi sabar dan menunggu
-dari mewajibkan menjadi menyadarkan
-dari tanya jawab menjadi komunikasi dan interaksi
-dari otoriter menjadi demokrasi
-dari penyelesaian tunggal menjadi open-ended
-dari ceramah menjadi diskusi
-dari klasikal menjadi klasikal, kelompok besar, kelompok kecil dan individual
-dari guru sebagai aktor menjadi siswa sebagai aktor
-dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa
-dari mencetak menjadi menembangkan
-dari guru menanamkan konsep menjadi siswa membangun atau menemukan konsep
-dari motivasi eksternal menjadi motivasi internal
-dari siswa mendengarkan menjadi siswa berbicara
-dari siswa duduk dan menunggu menjadi siswa beraktivitas
-dari siswa pasif menjadi siswa aktif
-dari kapur dan papan tulis saja menjadi media dan alat peraga
-dari abstrak menjadi kongkrit
-dari inisiatif guru menjadi inisiatif siswa
-dari contoh oleh guru menjadi contoh oleh siswa
-dari penjelasan oleh guru menjadi penjelasan oleh siswa
-dari kesimpulan oleh guru menjadi kesimpulan oleh siswa
-dari konvensional menuju teknologi
-dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu
-dari hasil yang tunggal menjadi hasil yang plural

Guru Matematika:

Subhanallah ...ya Allah ya Rab ampunilah segala dosa-dosaku. Baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian, secara kongkrit, bagaimanakah aku dapat melayani kebutuhan belajar siswa-siswaku yang banyak itu.

Orang Tua Berambut Putih:

Selama ini mengajarmu berpola atau berprinsip: "untuk siswa-siswa yang bermacam-macam kemampuan, engkau hanya mengajarinya matematika yang sama, dalam waktu yang sama, dengan tugas yang sama, dengan metode mengajar yang sama, dan mengharapka hasil yang sama, yaitu hasil yang sama dengan apa yang engkau pikirkan". Itulah sebenar-benar metode mengajar Tradisional yang tidak mampu lagi dipertahankan. Berubah dan berubahlah segera...

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian akau harus mengubah pola mengajarku yang bagaimana?

Orang Tua Berambut Putih:

Jika engkau menginginkan mampu menerapkan metode pembelajaran inovatif, maka terapkanlah prinsip:"untuk siswa yang berbeda-beda, seyogyanya mempelajari matematika yang berbeda dan bermacam-macam, walau memerlukan waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan metode yang berbeda-beda pula, alat yang berbeda-beda pula, serta hasil yang boleh berbeda, yaitu boleh berbeda dengan apa yang engkau pikirkan"

Guru Matematika:

Subhanallah ...baru kali ini aku menyadarinya.
Apakah yang dimaksud teknologi atau alat agar aku mampu melayani kebutuhan siswa belajar matematika?

Orang Tua Berambut Putih:

LKS sementara ini dianggap sebagai teknologi atau alat yang sangat strategis. Namun jangan salah paham, LKS bukanlah sekedar kumpulan soal, melainkan LKS adalah wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan ilmu atau menemukan rumus matematikanya. Maka seorang guru harus menembangkan sendiri LKS nya. Tiadalah orang lain mengetahui kebutuhan guru ybs. Maka tidaklah bisa mengadakan LKS hanya dengan cara membeli. Itu betul-betul salah dan tidak proesional.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kenapa musti siswa harus belajar dengan berdiskusi dalam kelompoknya.

Orang Tua Berambut Putih:
Hakekat ilmu itu diperoleh dengan cara berinteraksi antara obyektif dan subyektif, antara teori dan praktek, antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, ..dst. Maka diskusi kelompok itu sebenarnya adalah sunatullah.

Guru Matematika:
Subahanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Terimakasih orang tua berambut putih.
Ya Allah ya Robbi, ampunilah segala dosa dan kesombonganku selama ini, yang telah mengabaikan betapa pentingnya aspek psikologis belajar matematika itu, yang telah meremehkan kemandirian siswa, yang telah serampangan dan hantem kromo terhadap perlakuan pedagogis belajar matematika, yang telah merasa cukup dan puas terhadap ilmu dan pengetahuanku selama ini.
Permohonan ampunku yang terus menerus kiranya belum cukup untuk menghapus dosa-dosaku.
Ya Allah ya Rab semoga Engkau masih bersedia melindungi dan meridai pekerjaan-pekerjaanku.

Amin

35 comments:

  1. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Permintaan murid pada artikel ini membuat kita para pendidik dan calon pendidik intropeksi diri tentang apa yang kita lakukan dan kita pahami terkait proses pembelajaran yang baik selama ini. Segala sikap, perhatian, aktivitas, dan gerak gerik seorang pendidik ikut mempengaruhi peserta didik. Maka sebenar-benar usaha yang dapat dilakukan seorang pendidik agar mampu menciptakan lingkungan yang bersahabat dengan peserta didik, tidak lain dan tidak bukan adalah memiliki kecakapan pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.

    ReplyDelete
  2. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami meyakini bahwa bukan suatu hal yang mudah bagi seseorang untuk menjadi guru. Karena sebagai guru, guru harus mampu melayani siswa dalam kegiatan belajar. Siswa memiliki kecerdasan yang berbeda, oleh karena itu mereka membutuhkan pengetahuan yang berbeda pula dari apa yang akan mereka dapatkan dari guru dalam proses belajar. Dalam menyusun lembar kerja siswa juga haruslah membantu siswa dalam mengontruksi sendiri pengetahuan mereka, selain itu untuk siswa yang memiliki kemampuan tinggi guru harus mempersiapkan masalah yang tersendiri pula. Hal yang demikian ini merupakan yang rumit dan kompleks, dan kami menyadari bahwa kami harus mampu menjadi guru yang baik, sehngga kami menyadari bahwa kami harus berusaha dan berjuang sebaik mungkin sehingga kegiatan pembelajaran yang kami laksanakan bisa mendekati yang kondisi ideal tersebut.

    ReplyDelete
  3. Dari berbagai macam permintaan yang disampaikan murid keda guru matematika pada artikel diatas, inti dari semua permintaan tersebut adalah agar pembelajaran matematika menjadi lebih mudah. Susah atau mudahnya siswa dalam mempelajari matematika tidak hanya bergantung bagaimana guru mengajar tetapi juga bergantung dengan diri siswa itu sendiri. Dalam psikologi dikenal istilah Fixed Mindset dan Growt Mindset. Siswa yang tergolong Fixed mindset adalah siswa yang menganggap matematika itu susah dan merasa dirinya tidak akan mampu untuk mempelajarinya, sedangkan siswa yang tergolong growt mindset adalah siswa yang selalu berusaha agar dapat mengerti materi matematika yang dipelajarinya

    ReplyDelete
  4. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum.. Membaca elegi ini membuat saya menyadari apa keinginan murid dan guru mengenai proses pembelajaran matematika yang diinginkan. Guru berperan sebagai fasilitator, menghargai pendapat siswa, dan menyadari bahwa setiap siswa unik dengan caranya sendiri. guru perlu memiliki kemampuan komunikasi yang baik sehingga siswa tidak merasa takut kepada guru. Jika siswa menyukai guru matematika, maka mereka akan tertarik untuk mempelajari matematika dan mereka tidak akan takut terhadap pelajaran matematika. Pembelajaran perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan mendorong siswa untuk maju serta menyukai matematika. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sungguh saya sangat terinspirasi dengan bacaan ini. Saya disadarkan melalui ungkapan hati si murid cerdas ini. Sungguh yang seperti itu yang sebenarnya diharapkan oleh siswa kita. Meski tidak semua siswa bisa mengungkapkan keinginannya bahkan tidak ada satu pun, namun sudah sepantasnya kita mengerti tentang harapan mereka. Tuntutan sebagaimana harusnya guru jaman sekarang merupakan jalan yang harus ditempuh dan diikuti alurnya. Hal ini dilakukan agar kualitas belajar mencapai proses dan hasil yang optimal. Guru dengan segala tuntutannya akanlah terasa ringan dan ikhlas jika kita melakukannya dengan tujuan mulia yaitu dalam rangka mencari Ridho-Nya. Menjadi guru dengan ikhlas dalam mencapai hakekat belajar dengan siswa merupakan hal mulia yang tidak semua orang dapat melakukannya. Semoga kita adalah salah satu diantaranya yang kedepannyamampu menjadi guru dengan segala kebaikannya dan ikhlas dalam menjalankan perannya.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sebaiknya seorang guru mampu memberikan keleluasaan kepada murid-muridnya agar muridnya mampu berkembang dan tidak ada perasaan tertekan dalam menimba ilmu. Sebagaimana konstruktivisme, setiap siswa diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak perlu selalu mengikuti apa kemauan sang guru karena tentunya setiap siswa memahami satu masalah dengan cara yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  7. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013


    Murid jaman now sudah banyak sekali pekembangan dan perubahan, oleh karena itu guru pun harus memiliki intuisi dan inovasi. terimakasih sebelumnya pak atas pengetahuan baru lagi dengan kritisnya bahwa guru pun memiliki tingkatan yang besar bagi pendidikan.

    ReplyDelete
  8. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Sebagai seorang guru, kita harus menyadari bahwa siswa kita bukanlah mesin. Yang apabila disuruh akan langsung bekerja. Jika diminta berhenti akan menurut untuk berhenti. Atau jika diminta mengerjakan pekerjakan tanpa henti akan terus dilaksanakan tanpa melakukan perlawanan. Siswa kita adalah manusia yang tentu saja mempunyai nilai – nilai humanistik. Oleh karena itu, guru perlu mempertimbangkan faktor – faktor yang ada pada diri siswa, antara lain karakteristik siswa, sikap, minat, pendapat siswa, hak siswa, kemampuan kongitif, afektif, priskomotorik dan lain – lain. Hal ini membuat kita berkaca untuk mengelola proses pembelajaran dengan sebaik – baiknya.

    ReplyDelete
  9. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dari Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika yang telah bapak tuliskan ada banyak pelajaran berharga yang kami dapatkan. Elegi ini juga menunjukkan bahwa sungguh, menjadi seorang guru itu bukan hanya sekedar menyampaikan materi dan memberi penilaian. Elegi ini menjadi introspeksi diri dan renungan bagi calon-calon pendidik bahwa ada begitu banyak yang harus diperhatikan dalam pembelajaran, ditambah lagi dengan karakteristik siswa yang berbeda-beda, pembelajaran yang diberikan harus tepat, efisien dan bervariasi. Semoga dengan membaca elegi ini, banyak calon-calon pendidik yang akan termotivasi.

    ReplyDelete
  10. Latifah Fitriasari
    PM C

    Harapandan doa yang telah disampaikan di atas adalah yang selalu ingin saya sampaikan kepada guru-guru lain karena dapat mewakili seluruh doa serta harapan semua anak - anak yang ingin belajar dan memahami matematika. Pembelajaran yang dilakukan selama ini oleh sebagian besar guru masih sangat jauh dari harapan siswa. Guru yang seharusnya menjadi fasilitator malah terkesan menggurui dengan cara ceramah. Sehingga memberikan gambaran kepada kita semua layaknya calon pendidik ataupun yang sedang mendidik mengenai idealnya pembelajaran disekolah seperti apa baiknya yang dilakukan untuk melayani siswa baik dalam hal teknis maupun non teknis.

    ReplyDelete
  11. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Elegi ini sangat bermanfaat sekali bagi kita calon-calon pendidik. Melalui elegi ini kita diberikan gambaran bagaimana pembelajaran matematika yang sebenarnya, pembelajaran yang bermakna, pembelajaran dari, untuk dan oleh siswa (student center), karena menciptakan pembalajaran yang demikian bukanlah hal yang mudah. Keberhasilan pembelajaran tergantung pada gurunya, guru harus rendah hati, menyadari kekurangan-kekurangan kompetensinya, menyadari bahwa paradigma pembelajarannya keliru, menyadari karakteristik siswa-siswanya berbeda, menyadari bahwa matematika yang harus diberikan bukanlah matematika orang dewasa melainkan matematika anak-anak yang berdasarkan aktivitas/pengalaman dan kontekstual. Sekian dan Terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  12. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Guru dituntut untuk lebih berperan sebagai fasilitator daripada sebagai satu-satunya sumber utama dalam proses pembelajaran. Begitu juga sebaliknya, seorang siswa harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran. Dengan keterlibatan siswa yang tinggi dalam proses pembelajaran maka kreatifitas mereka akan muncul dan proses pembelajaran menjadi lebih aktif dan menyenangkan, sehingga tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan yang harapkan.

    ReplyDelete
  13. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "LKS bukanlah sekedar kumpulan soal, melainkan LKS adalah wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan ilmu atau menemukan rumus matematikanya."
    Nah ini. Biasanya LKS itu identik dengan soal-soal. Hanya untuk latihan saja. Padahal akan menjadi bermakna jika LKS digunakan sebagai alat belajar siswa menemukan sendiri pengetahuannya. LKS yang menuntun, bukan sekedar menjadi kumpulan soal. Apalah arti mengerjakan soal jika pembelajaran yang dilakukan tak bermakna. Mengerjakan soal hanya sekedar untuk mengejar nilai saja. Bukan untuk pemahaman.

    ReplyDelete
  14. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini bagus sekali, seharusnya para calon pendidik, dan juga guru-guru bisa membaca ini. Perkataan dari si murid cerdas sepertinya merupakan ungkapan hati murid-murid di Indonesia saat ini, dimana pembelajaran masih ekspositori, LKS yang digunakan masih hanya kumpulan soal, kurangnya aktivitas untuk siswa, serta guru terlalu cepat memberikan materi karena tuntutan kurikulum.
    Dengan konsep kurikulum yang baru yaitu kurikulum 2013, diharapkan permasalahan-permasalahan yang diungkapkan di murid cerdas akan teratasi, karena konsep kurikulum ini sudah sejalan dengan apa yang Orang Tua Berambut Putih katakan.

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dari elegi di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa sungguh masih banyak kekurangan kita sebagai guru, sungguh masih banyak realisasi kita belum terlaksana sebagai guru. maka marilah kita belajar dari kekurangan kita berdasarkan elegi ini agar kelak kita mampu menjadikan diri lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Hermeneutika pendidikan memang sangat diperlukan bagi guru. Karena pada dasarnya guru memang harus menjalis hubungan yang baik dengan siswa. Karena jika seorang gruu itu memberikan kebebasan namun tetap dimonitor, hal ini akan membuat perkembangan siswa akan lebih cepat daripada mereka harus mengikuti apa yang diperintahkan guru dan tidak bebas berkreasi dengan apa yang mereka fikirkan. Jadi seorang guru memang harus pintar dalam memberikan apa yang siswa butuhkan. karena jika tidak, maka hubungan antara guru dan siswa tidak akan baik dan menimbulkan banyaknya hal terjadi tidak sesuai dengan tujuan pendidikan
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Saya sangat tersentuh dan elegi ini menginspirasi tidak hanya untuk semua guru, tetapi juga semua pelajar di Indonesia. Kasus ini bisa menjadi pelajaran para praktisi pendidikan bahawa memperhatikan karakteristik siswa dalam pembelajaran itu penting. Pemerintah harus bersikap tegas untuk menangani permasalahan ini dengan melakukan kerjasama dengan LPTK. Karena LPTK menjadi tonggak awal pencetak guru dan tenaga pendidik yang kompeten. Di sisi lain, orang tua memiliki peran utama untuk mendukung pendidikan anak-anak mereka. Jika masalah yang terjadi dengan anak-anak di sekolah, mereka bisa memberi masukan atau memberikan nasihat pada guru. Terakhir, pesan utama elegi ini adalah jika Anda seorang mahasiswa, Anda harus berani dan kritis untuk mengungkapkan pendapat.

    ReplyDelete
  18. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    dalam postingan ini dapat saya ketahui bahwa sesungguhnya siswa yang cerdas sekalipun membutuhkan cara agar pembelajaran matematika menjadi mudah dipahami, indah dan menyenangkan. berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan pada akhir tahun 2016, salah satu cara yang dapat mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan media pembelajaran. aplikasi pada playstore menjadi alternatif media pembelajaran yang dapat digunakan, karena dengan aplikasi tersebut siswa menjadi sangat antusias dalam belajar dan tidak merasa bosan. dengan media ini pembelajaran dapat berlangsung dengan efekti, mudah, indah, dan menyenangkan.

    ReplyDelete
  19. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    postingan ersebut juga bisa menjadi PR bagi para guru untuk terus berinovasi dalam melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan apa yang diinginkan oleh siswa.

    ReplyDelete
  20. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Membaca elegi permintaan si murid cerdas kepada Guru Matematika membuat saya sadar betapa banyaknya hal yang harus saya pelajari dan lakukan untuk menjadi guru yang profesional. Menjadi guru profesional ternyata tidak sesederhana yang selama ini saya pikirkan. Terima kasih Orang Tua Berambut Putih karena telah menyadarkan saya bahwa menjadi guru tidak sebatas transfer of knowledge and value tetapi juga harus mampu membuat siswa berdaya.

    ReplyDelete
  21. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Artikel di atas menggambarkan keadaan pendidikan di Indonesia saat ini. Banyak guru di Indonesia yang mengajar masih menggunakan metode konvensional. Mengajar dengan cara ceramah serta guru menjadi satu-satunya sumber ilmu masih banyak kita temui. Selain itu menilai siswa hanya dari hasil yang didapat. Proses pembelajaran tidak menjadi bahan pertimbangan. Padahal proses adalah hal yang sangat penting dalam suatu pembelajaran

    ReplyDelete
  22. Seorang guru hendaklah mulai mengubah paradigma dari pembelajaran yang konvensional menjadi pembelajaran yang inovatif. Keberagaman siswa di kelas harus dipertimbangkan untuk menggunakan berbagai macam metode pembelajaran agar semua siswa dapat terlayani dengan baik. Guru harus bersikap adil kepada semua siswa jangan hanya memperhatikan yang duduk di depan atau siswa pandai saja. Semua siswa berhak mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama di dalam kelas. Jangan menjadi seorang guru yang arogan yang membuat siswa merasa tidak nyaman.

    ReplyDelete
  23. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Sebagai tambahan dari komentar saya di atas,
    Pendidik atau guru memiliki peran yang sangat besar dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Pada era ini, guru tidak dapat lagi menggunakan cara tradisional dalam pembelajarannya. Cara tradisional hanya akan menghambat kreativitas siswa. Padahal kreativitas pada diri siswa adalah hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Guru juga harus menggunakan cara yang bervariasi dan inovatif dalam menghadapi peserta didik yang memiliki karakter yang berbeda. Siswa memiliki kebutuhan, potensi, dan lingkungan yang berbeda, sehingga guru tidak dapat menggunakan cara yang "itu-itu" saja dalam pembelajarannya. Maka dari itu, guru juga harus dapat menciptakan pembelajaran yang inovatif, bervariasi, dan menarik.
    Guru harus memahami betul siswa-siswanya sehingga dapat membuat rancangan pembelajaran yang sesuai dan benar-benar dapat memfasilitasi siswa. Oleh karena itu, guru maupun calon guru harus terus menerus mempersiapkan diri, belajar, dan mengembangkan diri dalam rangka merancang pembelajaran yang dapat membentuk generasi masa depan yang berkualitas.

    ReplyDelete
  24. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Manusia sebagai makhluk yang unik memiliki karakter, sifat, hobi yang berbeda-beda. Bahkan dua atau lebih anak kembar pun pasti berbeda. Pembentukan kelas berkelompok hingga 40 siswa membuat kelas menjadi memiliki banyak karakter, Sifat, hobi yang beraneka ragam. Tuntutan agar guru menggunakan metode yang mampu memfasilitasi semua siswa dengan karakter yang berbeda menuntut saya hal yang sulit. Dengan tuntutan materi, waktu yang terbatas, administrasi serta beban kerja guru akan mengalami dilema yang besar. Antara tuntutan mendidik siswa atau memenuhi semua administrasi guru. Suatu sistem pendidikan tak akan baik jika unsur-unsur pendukung nya tidak bersatu satu tujuan. Pertanyaan anak tersebut menurut saya dapat dilakukan pada tingkat sekolah menengah atas dan perguruan tinggi.

    ReplyDelete
  25. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Permintaan yang diinginkan murid kepaga gurunya, sejatinya merupakan suatu saran akan pembelajaran yang sebenarnya yang diinginkan siswa. Atau bahkan hal ini bisa menjadi kritik bagi guru tentang pelajaran yanhg selama ini dilakukan, yang terkadang malah membuat murid susah mngerti akan pelajaran yang sedang ia pelajari.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya menyadari bagaimana seharusnya guru bersikap kepada siswa ketika membantu mereka dalam proses pembelajaran. Siswa yang berbeda-beda karakter dan kemampuannya, tetapi siswa dituntut untuk mencapai hasil yang sama dengan cara yang seragam (metode pembelajaran sama dalam kelas). Padahal dengan kemampuan dan karakter yang berbeda tentu saja siswa seharusnya diberi perlakuan yang berbeda pula, sesuai dengan kebutuhannya. Kemudian, permasalahan masih banyaknya LKS yang beredar penjelasan singkat dan lebih banyak soal-soal yang setipe dan kurang kreatif. Kemudian masih banyaknya kekurangan dalam mengajar tentunya menjadi keprihatinan bersama sehingga diharapkan dimasa depan lebih banyak orang yang sadar akan pentingnya mengetahui kewajiban dan tugas serta harapan yang harus dipenuhi dari menjadi seorang guru.

    ReplyDelete
  27. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. terkadang guru lupa bahwa siswa juga memiliki keinginan-keingan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang matematika. guru terlalu sombong dengan berpikir bahwa dirinyalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk siswa. Guru perlu mendengarkan pendapat siswa dalam setiap pelajaran agar siswa juga menikmati belajar matematika dan prestasi belajr siswa dapat meningkat.

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Elegi di atas jelas dapat menjadi refleksi diri bagi para guru, bagaimana sebenarnya masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Andai saja ada satu saja siswa seperti itu dikelas, pasti akan menjadi pelajaran betul ketika guru-guru masuk ke kelas tersebut. Mungkin akan menjadi proses yang panjang dan menadalam untuk memperbaiki proses pembelajaran ke arah yang benar-benar mampu dikatakan student centered. Namun itu semua memang harus terus diupayakan agar pendidikan di negara kita semakin maju dan output yang dihasilkan juga berkualitas.

    ReplyDelete
  29. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pembelajaran yang baik tentunya harus melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Disamping itu, siswa tentunya juga menginginkan suasana belajar yang nyaman yang membuat mereka bersemangat untuk mempelajari matematika. Suasana yang nyaman dan aktif akan membuat siswa belajar secara maksimal. Dalam hal ini guru hendaknya tanggap dengan situasi ini. Dengan kata lain guru sebagai fasilitator bagi siswa dlaam belajar harus mampu memilih dan menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang tepat.

    ReplyDelete
  30. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PMC

    Belajar merupakan kebutuhan siswa, maka sudah seharusnya guru juga mendengar keinginan siswa. Jangan sampai seorang guru mendhalimi siswa-siswanya. Seorang guru perlu memahami pembelajaran seperti apa yang diinginkan siswa, penilaian seperti apa yang dapat memenuhi kebutuhan siswa. Guru perlu menyadari bahwa kedudukannya adalah sebagai fasilitator. Siswa adalah aktor utama dalam pembelajaran maka sudah seharusnya guru memberikan kesempatan kepada siswa bukan malah mengambil hak siswa.

    ReplyDelete
  31. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam mengajar, guru tidak diperkenankan untuk selalu menggunakan metode ceramah. Student-oriented perlu untuk dikembangkan dengan lebih menekankan pada metode pembelajaran yang cooperative learning. Guru juga disarankan menggunakan alat-alat peraga yang inovatif yang mampu memudahkan siswa dalam mempelajari suatu konsep matematika. Guru juga harus dapat membuat pembelajaran matematika menjadi menarik dan menyenangkan, suapaya siswa aktif dan antusias dalam pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  32. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini, yang saya pahami bahwasnya pembelajaran mateamtika yang seharusnya diajarkan disekolah adah pembelajaran matematika yang bermakna. Dekat dengan kehidupan. Membuat siswa menjadi bahagia. Hal tersebut dapat dicapai jika guru tidak bersikap sombong. Sombong yang dimaksud disini adalah, bahwa guru selalu memposisikan diri sebagai pusat pembelajaran. Era ini, sudah saatnya guru memberikan kepercayaan kepada siswanya untuk membangun dan memiliki matematikanya sendiri. Guru sudah saatnya untuk memposisikan diri sebagai fasilitator dan motivator bagi siswanya. Terimakasih

    ReplyDelete
  33. Luluk Mauluah
    17706261012 S3 Dikdas
    Wahai murid yang cerdas...aku sangat suka pada kata-katamu ini:
    "....Engkau tidaklah bisa memaksa diriku menyenangi matematika, kecuali hanya dengan keikhlasanku...."
    Andaikan engkau mengijinkan aku menjadi gurumu, aku akan merasa sangat terhormat. Aku akan membersamaimu melampaui rentang waktu yang mungkin tak kau senangi ini. Akan kukatakan: tabahkan hatimu mengikuti pelajaran yang menurutmu tak menarik ini, akan kutanya dirimu: mana yang tak kau pahami? Jika engkau jawab: semuaa...Hahaha...aku akan tertawa: karena aku mengalami sendiri rasa ini, saat anakku memalingkan mukanya pada matematika yang padahal itu bidang ilmu ibunya, yaaa diriku ini. Jadi akan kuajak engkau sekedar membuka hati, menerima untuk melampaui sesi ini sebagai bagian proses engkau menemukan kesejatian apa yang engkau suka untuk kau pelajari dan kau geluti sepanjang hidupmu.
    Yang kupesankan padamu..., jangan sia-siakan saat berharga belajar bersama teman dan gurumu, tetap menghormati guru sebagai pembimbingmu di sekolah. Semoga engkau mendapat berkah atas kesabaran dan ketabahanmu menjalani proses...semoga engkau nanti mendapatkan tempat belajar sesuai bidang ilmu minatmu, dan mendapat tempat kerja mengamalkan ilmumu yang sesuai dengan harapanmu...aamiin...

    ReplyDelete
  34. Puspitarani
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244008
    Waalaikumsalam Pak
    MasyaAllah, saya sedikit merinding membaca artikel tersebut.
    Ternyata masih banyak yang harus saya lakukan, saya baca dan saya pelajari untuk menghadapi banyak sekali pertanyaan, keinginan, harapan dari peserta didik dan orang tua peserta didik.Salah satu amalan yang tidak akan pernah terputus adalah ilmu yang bermanfaat. Semoga saya dapat menjadi pendidik yang tidak biasa-biasa saja dan kelas saya selalu ditunggu oleh peserta didik saya suatu hari nanti.

    ReplyDelete
  35. Siti Efiana
    15301241029
    Pendidikan Matematika I 2015

    Terima kasih banyak, Prof. Marsigit. Sungguh, tulisan ini seakan semakin mengingatkan saya bahwa menjadi seorang Pendidik adalah pekerjaan mulia sekaligus berat. Banyak hal yang harus saya pelajari lagi, saya persiapkan lagi, agar bisa menjadi sebenar-benarnya pendidik.
    .
    Begitu banyak karakter yang akan saya temui besok, pun begitu banyak harapan dari siswa, orang tua, dan orang-orang pada para Pendidik. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik, kita harus senantiasa berpikiran terbuka, fleksibel terhadap perubahan, dan terus belajar.
    .
    Mendadak, saya teringat dengan kata-kata yang saya lupa dituliskan oleh siapa.
    .
    Umur kita terbatas, dan mendidik adalah salah satu cara untuk melanjutkan mimpi :)
    .
    Oleh karena itu, marilah senantiasa belajar, senantiasa bersiap, agar bisa mendidik dengan baik dan bisa menghasilkan generasi-generasi pemimpin masa depan yang terbaik :)

    ReplyDelete