Feb 11, 2015

Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika



Oleh Marsigit

Guru Matematika:


Wahai muridku, engkau kelihatan berbeda dan kelihatan cerdas. Sekiranya aku ditugaskan untuk menjadi Guru Matematika di kelasmu maka apakah permintaan-permintaanmu kepadaku?

Murid:

Aku menginginkan agar pelajaran matematika itu menyenangkan bagi diriku, memberi semangat kepadaku, dan bermanfaat bagiku.

Aku juga ingin bahwa pelajaran matematika itu mudah aku pelajari.

Aku harap engkau juga menghargai pengetahuan-pengetahuan yang sudah aku miliki.

Aku ingin juga bahwa pelajaran matematika itu mempunyai keindahan, sesuai dengan norma dan nilai agama.

Aku mohon agar aku diberi kesempatan untuk berdoa sebelum pelajaran matematika itu dimulai.

Aku ingin agar persoalanku sehari-hari dapat digunakan dalam belajar matematika.

Ketahuilah wahai guruku bahwa rasa senang itu juga milikku, walaupun engkau juga berhak mempunyai rasa senang.

Tetapi menurutku, rasa senang itu tidaklah engkau berikan kepadaku, melainkan harus muncul dari dalam diriku sendiri.

Engkau tidaklah bisa memaksa diriku menyenangi matematika, kecuali hanya dengan keikhlasanku.

Aku juga ingin engkau agar memberi kesempatan kepada diriku agar aku bisa mempersiapkan psikologis diriku dalam mengikuti pelajaran matematika.

Ketahuilah wahai guruku, bahwa diriku dan diri teman-temanku semua itulah yang sebenar-benarnya melakukan persiapan.

Itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai Apersepsi.

Maka berilah kami semua tanpa kecuali untuk melakukan kegiatan-kegiatan agar kami bisa melaukan Apersepsi, dan tidak hanya engkau ceramahi atau engkau hanya bertanya kepada sedikit siswamu yang duduk di depan.

Aku juga berharap agar pelajaran matematika itu engkau persiapakan sebaik-baiknya agar aku dapat melakukan berbagai aktivitas di kelas.

Aku juga memohon agar engkau bersikap adil, tidak pilih kasih. Jika nilaiku jelek, janganlah engkau remehkan diriku, tetapi jika nilaiku terbaik maka janganlah terlalu disanjung-sanjung.

Menurutku, belajar matematika itu adalah hak dari setiap murid-muridmu di kelas. Oleh karena itu mohon agar perhatianmu jangan hanya yang duduk di bagian depan saja, melainkan harus meliputi semuanya.

Aku juga memohon agar engkau tidak bersikap otoriter. Tetapi aku mohon agar engkau dapat bersikap demokratis.

Oleh karena itu, aku mohon agar engkau jangan terlalu banyak bicara apalagi terkesan menggurui.

Berikanlah kami beraneka ragam aktivitas matematika.

Karena jika engkau terlalu banyak bercerita dan mengguruiku maka sebenar-benar diriku merasa tersinggung dan kasihan terhadap dirimu karena engkau terkesan sombong.

Aku juga mohon agar engkau tidak hanya bercerita, tetapi hendaknya memberikanku kesempatan untuk beraktivitas.

Aku ingin agar engkau guruku, dapat membuat atau menyiapkan LKS agar aku bisa berlatih di situ, sekaligus aku akan mempunyai catatan dan informasi-informasi.

Aku mohon agar LKS yang engkau siapkan bukan sekedar kumpulan soal, melainkan dapat menjadi sarana bagiku untuk belajar mandiri maupun kelompok.

Kata Pamanku, LKS merupakan sarana yang sangat strategis bagi guru agar mampu melayani kebutuhan belajar matematika siswa-siswanya yang beraneka ragam kemampuan.

Aku mohon juga agar engkau jangan menilai aku hanya dari test saja, tetapi tolonglah agar penilaianmu terhadap diriku itu bersifat komprehensif, lengkap meliputi proses kegiatanku dan juga hasil-hasilku.

Aku juga menginginkan dapat menampilkan karya-karyaku.

Aku sungguh merasa jemu jika engkau hanya menggunakan metode ceramah saja.

Wahai guruku, seberapakah engkau menyadari betapa kecewanya murid-muridmu ketika sudah engkau minta untuk unjuk jari bertanya, tetapi engkau hanya menunjuk satu saja diantara kami. Padahal hal itu engkau lakukan setiap hari dan dari waktu ke waktu. Menurut Pamanku, ini disebabkan karena pengelolaan kelas yang belum bagus.

Aku dan teman-temanku juga merasa tidak begitu nyaman, jika engkau selalu bertanya dengan kalimat panjang dan kalimat terbuka, kemudian menyuruhku untuk menjawab secara koor/choir. Seakan-akan engkau telah memperlakukan diriku hanya sebagai obyek pelengkap kalimat-kalimatmu. Sungguh guru hal yang demikian telah membuat diriku telah tidak berdaya dihadapanmu. Lagi-lagi menurut Pamanku, metode mengajar yang demikian perlu segera diubah.

Oleh karena itu aku memohon agar engkau menggunakan berbagai variasi metode mengajar, variasi penilaian, variasi pemanfaatan sumber belajar.

Aku juga menginginkan agar engkau mampu menggunakan teknologi canggih seperti website dalam pembelajaranmu. Kenapa guru, aku belajar matematika musti menunggu hari Selasa, padahal pada hari Selasa yang telah aku tunggu-tunggu terkadang engkau tidak dapat mengajar dikarenakan mendapat tugas yang lebih penting. Aku sangat kecewa akan hal ini.

Aku ingin agar engkau guruku, dapat membuat Website yang memungkinkan aku belajar matematika setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung dengan keberadaanmu. Aku juga ingin bertanya persoalan matematika kepadamu setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung keberadaanmu. Menurut Pamanku, itu semua bisa dilayani jika engkau membuatkan Wbsite atau Blog untuk murid-muridmu.

Aku ingin engkau menunjukkiku di mana sumber-sumber belajar matematika yang baik.

Aku juga akan merasa bangga jika engkau sebagai guruku mampu membuat modul-modul pembelajaran, apalagi jika engkau dapat pula membuat buku-buku teks pelajaran matematika untukku.

Aku juga menginginkan engkau dapat memberi kesempatan kepadaku untuk memperoleh keterampilan matematika.

Aku ingin agar matematikaku bermanfaat tidak hanya untuk diriku tetapi juga untuk orang lain.

Aku juga menginginkan masih tetap bisa berkonsultasi denganmu di luar jam pelajaran.

Pak Guru, aku ingin sekali tempo juga belajar di luar kelas. Kelihatannya belajar diluar kelas udaranya lebih segar dan menyenangkan.

Tiadalah seseorang di muka bumi ini selain diriku sama dengan diriku. Oleh karena itu dalam pelajaran matematika itu nanti aku berharap agar engkau dapat mengenalku dan mengerti siapa diriku.

Tetapi aku juga mengetahui bahwa diri yang lain juga saling berbeda satu dengan yang lain.

Maka sesungguh-sungguhnya dirimu sebagai guru akan menghadapi murid-muridmu sebanyak empat puluh ini, juga sebanyak empat puluh macam yang berbeda-beda.

Oleh karena itu aku memohon agar engkau jangan hanya menggunakan metode tunggal dalam mengajarmu, supaya engkau dapat membantu belajarku.

Menurutku, untuk melayani sebanyak empat puluh siswa-siswa yang berbeda-beda ini, maka tidaklah bisa kalau engkau hanya menggunakan metode mengajar tradisional atau ceramah.

Menurut bacaan di internet dan menurut Pamanku, maka untuk dapat melayani siswa-siswamu yang beraneka ragam, maka engkau perlu mengembangkan RPP yang flesibel, perlu membuat LKS dan yang penting lagi adalah engkau sebagai guruku harus mempercayai bahwa jika diberi kesempatan maka muridmu ini mampu mempelajari matematika.

Itulah yang aku ketahui bahwa engkau harus lebih berpihak kepada kami.
Keberpihakan engkau kepada kami itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai student centered.

Mohon agar engkau lebih sabar menunggu sampai aku bisa mengerjakan matematika. Usahakanlah agar matematika itu menjadi miliku, maka janganlah aku hanya diberi kesempatan untuk melihat atau menonton saja.

Yang betul-betul perlu belajar matematika itu adalah diriku.
Aku ingin betul-betul belajar dan melakukan kegiatan belajar dan tidak hanya menonton engkau yang mengerjakan matematika.

Maka jikalau engkau mempunyai alat peraga, maka biarkan aku dapat menggunakannya dan jangan hanya engkau taruh di depan saja.

Aku bahkan dapat mempelajari matematika lebih efektif jika belajar bersama-sama dengan teman-temanku.

Oleh karena itu wahai guruku, maka dalam pelajaran matematika itu nanti berikan kami kesempatan untuk belajar bersama-sama dalam kelompok.

Tetapi jika engkau telah menyuruhku belajar dalam kelompok, maka berikanlah aku waktu yang cukup untuk berdiskusi dan janganlah engkau terlalu banyak memberikan petunjuk dan ceramah lagi ketika aku sedang bekerja dalam kelompok.

Karena hal demikian sangat mengganggu konsentrasiku dan terkesan engkau menjadi kurang menghargai kepada murid-muridmu.

Aku juga mohon agar engkau memberikan kesempatan kepada diriku untuk membangun konsepku dan pengertianku sendiri.

Wahai guruku, ketahuilah bahwa aku juga ingin menunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku juga dapat menarik kesimpulan dari tugas-tugasmu mengerjakan matematika.

Ketahuilah wahai guruku bahwa kesimpulan-kesimpulan dari tugas-tugasmu itu sebenarnya adalah milikku.

Oleh karena itu janganlah engkau sendiri yang menyimpulkan tetapi berikan kesempatan kepadaku agar aku juga bisa menemukan rumus-rumus matematika.

Rumus yang aku temukan sendiri itu sebenar-benarnya akan bersifat lebih awet dan langgeng dari pada hal demikian hanya sekedar pemberianmu.

Maka jika aku sudah susah-susah melakukan kegiatan kearah menemukan rumus, sementara pada akhirnya malah engkau yang menyimpulkan, maka sebetulnya aku menjadi marah kepadamu.

Janganlah engkau membuat pesan ganda kepada diriku. Janganlah engkau memberi hukuman kepadaku dengan menyuruh aku untuk mengerjakan sebanyak-banyak soal. Karena bagiku, hukuman adalah jelek sedangkan mengerjakan soal adalah baik.

Jangan pula engkau pura-pura memberi soal yang sangat sulit kepadaku padahal engkau sesungguhnya bermaksud untuk menghukumku.

Aku memohon agar engkau mempercayaiku. Kepercayaanmu kepadaku itu merupakan kekuatan bagiku untuk memperoleh pengetahuanku. Tolong sekali lagi tolong, percayailah diriku, bahwa jika aku diberi kesempatan maka insyaAllah aku bisa.

Aku akan bangga jika guruku suatu ketika dapat muncul di kegiatan seminar baik secara nasional maupun internasinal. Wahai guruku, gunakanlah data-dataku, hasil-hasilku, dan proses belajarku sebagai data penelitianmu. Menurut Pamanku, jika engkau mampu menggunakan data-data dikelas mengajarmu, maka engkau akan menghasilkan karya ilmiah setiap tahunnya.

Wahai guruku, aku juga bangga dan ingin membaca karya-karya ilmiahmu. Setidaknya hal demikian juga akan memotivasi diriku.

Wahai guruku yang baik hati, aku merasa dari waktu ke waktu terdapat perubahan dalam diriku. Aku juga melakukan percobaan atau eksperimen mencari cara belajar yang baik. Kelihatannya aku belum menemukan cara belajar yang terbaik bagi diriku. Tetapi aku dapat menyimpulkan bahwa cara belajarku haruslah dinamis, fleksibel, dan kreatif menyesuaikan dengan kompetensi yang harus aku kuasai. Oleh karena itu sungguh aneh jika engkau guruku hanya mengajar diriku dengan metode yang sama dari waktu ke waktu.

Permintaan terakhirku adalah apakah bisa engkau Guruku, untuk kami yang beraneka ragam, berilah kesempatan untuk mempelajari matematika yang beraneka ragam pula, dengan alat peraga atau fasilitas yang beraneka ragam pula, dengan buku matematika yang beraneka ragam pula, dengan kompetensi yang beraneka ragam pula, dengan waktu yang beraneka ragam pula, walaupun kami semua ada dalam satu kelas, yaitu kelas pembelajaran matematika yang akan engkau selenggarakan.

Demikian guru permohonanku, saya minta maaf atas banyaknya permintaanku karena sesungguhnya permintaanku itu telah aku kumpulkan dalam jangka waktu yang lama. Sampai aku menunggu ada seorang guru yang bersifat terbuka untuk menerima permohonan dan saran dari muridnya.

Sekali lagi mohon maaf guruku. Mohon doa restunya. Amin


Guru Matematika:

Astagfirullah al adzimu....ya Allah ya Robi ampunilah segala dosa-dosaku.

Wahai muridku, aku tidak bisa berkata apapun dan aku merasa terharu mendengar semua permintaanmu itu.

Mulutku seakan terkunci mendengar semua permintaan dan penuturanmu itu.

Tubuhku tergetar dan keringat dingin membasahi tubuhku.

Aku tidak mengira bahwa diantara murid-muridku ada murid yang secerdas kamu.

Aku tidak mengira bahwa jika aku beri kesempatan dan aku beri sarana penyambung lidah bagi suara hati nuranimu, maka ternyata harapan-harapanmu, permintaan-permintaanmu, dan pikiran-pikiranmu bisa melebihi dan di luar apa yang aku pikirkan dewasa ini.

Setelah mendengar semua permintaanmu, aku menjadi tahu betapa tidak mudah menjadi Guru Matematika bagimu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menjadi ragu tentang kepastianku.

Setelah mendengar permintaanmu, aku merasa malu dihadapanmu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku merasakan betapa diriku itu bersifat sangat
egois.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa aku telah berbuat sombong dihadapanmu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa malas diriku itu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat tidak adil terhadapmu.

Selama ini aku telah berbuat aniaya terhadap dirimu karena aku telah selalu menutupi sifat-sifatmu, aku selalu menutupi potensi-potensimu, aku selalu mendominasi inisiatifmu, aku selalu menimpakan kesalahan pada dirimu, dan
sebaliknya aku selalu menutupi kesalahanku.

Selama ini aku telah berpura-pura menjadi manusia setengah dewa dihadapanmu.

Dihadapanmu, aku telah menampilkan diriku sebagai manusia sempurna yang tiada cacat, serba bisa, serba unggul, serba hebat, tiada gagal, wajib digugu, dan wajib ditiru.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat munafik di depanmu, karena aku selalu menyembunyikan keburukan-keburukanku sementara aku menuntumu untuk menunjukkan kebaikan-kebaikanmu.

Oh muridku hanyalah tetesan air mataku saja yang telah mengalir merenungi menyadarai bahwa KERAGUANKU terhadap praktek pembelajaran matematika ternyata benar adanya.

Ternyata yang aku lakukan selama ini lebih banyak mendholimi murid-muridku.

Wahai orang tua berambut putih salahkan jika aku berusaha membimbing murid-muridku?

Orang Tua Berambut Putih:

Ketahuilah wahai guru, jikalau engkau renungkan, maka hakekat membimbing adalah memberdayakan siswa. Sudahkah kegiatan membimbingmu memberdayakan siswa? Saya khawatir jangan-jangan niatmu membimbing, tetapi yang terjadi sebetulnya justeru membuat siswamu tidak berdaya.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Orang tua berambut putih, salahkan jika aku mewajibkan murid-muridku untuk belajar giat?

Orang Tua Berambut Putih:

Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat belajar itu adalah kebutuhan dan kesadaran siswa, dan bukanlah kewajiban dan perintah-perintahmu. Saya khawatir jangan-jangan dibalik kegiatanmu mewajib-wajibkan dan perintah-perintah kepada siswamu itu, sebetulnya terselip sifat egoismu.

Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika aku mengajar dengan cepat dan tergesa-gesa untuk memberi bekal sebanyak-banyaknya kepada siswa. Apalagi beban kurikulum yang banyak sementara waktunya terbatas.

Orang Tua Berambut Putih:

Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat pendidikan itu adalah kegiatan jangka panjang. Cepat dan tergesa-gesa itu artinya tidak teliti dan memaksa. Maka tiadalah gunanya engkau dipundakmu membawa segunung pengetahuanmu untuk engkau tuangkan kepada siswamu sementara siswa-siswamu meninggalkan dirimu. Sebaliknya jika siswamu telah berdaya, merasa senang, menyadari dan memerlukan mempelajari matematika, maka sedikit saja engkau memberinya, maka mereka akan meminta dan mencari yang lebih banyak lagi.

Guru Matematika:
Subhanallah....baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika saya menggunakan metode tunggal saja yaitu metode ekspositori?


Orang Tua Berambut Putih:

Metode ekspositori atau ceramah itu metode yang sudah kadaluwarsa, tidak mampu lagi melayani kebutuhan siswa dalam belajarnya. Metode ekspositori selalu sajalah merupakan siklus dari kegiatan: menerangkan, memberi contoh, memberi soal, memberi tugas, dan menerangkan kembali, demikian seterusnya. Selamanya ya seperti itu. Itu hanya cocok jika paradigma mengajarmu adalah paradigma lama yaitu trasfer of learning. Jaman sekarang dan kecenderungan internasional, metode yang dikembangkan adalah multi metode, yaitu metode yang bervariasi, dinamis dan fleksibel.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian bagaimanakah caranya aku melayani kebutuhan siswa-siswaku mempelajari dan menemukan sendiri matematikanya? Sementara murid-muridku itu jumlahnya banyak dan kemampuannya berbeda-beda pula?

Orang Tua Berambut Putih:
Tidaklah mungkin engkau mampu melayani kebutuhan belajar murid-muridmu, jika engkau tidak merubah paradigmamu.

Guru Matematika:
Paradigma seperti apa sehingga saya mampu melayani siswa-siswaku mempelajari matematika?

Orang Tua Berambut Putih:
Hijrahlah, berubahlah, bergeraklah.
Ubahlah paradigmamu:
-dari transer of knowledge menjadi to facilitate
-dari directed-teaching menjadi less directed-teaching
-dari menekankan kepada teaching menjadi menekankan kepada learning
-dari metode tunggal menjadi metode jamak
-dari metode yang monoton menjadi metode yang dinamis dan fleksibel
-dari textbook oriented menjadi problem-based oriented
-dari UNAS oriented menjadi process-product oriented
-dari cepat dan tergesa-gesa menjadi sabar dan menunggu
-dari mewajibkan menjadi menyadarkan
-dari tanya jawab menjadi komunikasi dan interaksi
-dari otoriter menjadi demokrasi
-dari penyelesaian tunggal menjadi open-ended
-dari ceramah menjadi diskusi
-dari klasikal menjadi klasikal, kelompok besar, kelompok kecil dan individual
-dari guru sebagai aktor menjadi siswa sebagai aktor
-dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa
-dari mencetak menjadi menembangkan
-dari guru menanamkan konsep menjadi siswa membangun atau menemukan konsep
-dari motivasi eksternal menjadi motivasi internal
-dari siswa mendengarkan menjadi siswa berbicara
-dari siswa duduk dan menunggu menjadi siswa beraktivitas
-dari siswa pasif menjadi siswa aktif
-dari kapur dan papan tulis saja menjadi media dan alat peraga
-dari abstrak menjadi kongkrit
-dari inisiatif guru menjadi inisiatif siswa
-dari contoh oleh guru menjadi contoh oleh siswa
-dari penjelasan oleh guru menjadi penjelasan oleh siswa
-dari kesimpulan oleh guru menjadi kesimpulan oleh siswa
-dari konvensional menuju teknologi
-dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu
-dari hasil yang tunggal menjadi hasil yang plural

Guru Matematika:

Subhanallah ...ya Allah ya Rab ampunilah segala dosa-dosaku. Baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian, secara kongkrit, bagaimanakah aku dapat melayani kebutuhan belajar siswa-siswaku yang banyak itu.

Orang Tua Berambut Putih:

Selama ini mengajarmu berpola atau berprinsip: "untuk siswa-siswa yang bermacam-macam kemampuan, engkau hanya mengajarinya matematika yang sama, dalam waktu yang sama, dengan tugas yang sama, dengan metode mengajar yang sama, dan mengharapka hasil yang sama, yaitu hasil yang sama dengan apa yang engkau pikirkan". Itulah sebenar-benar metode mengajar Tradisional yang tidak mampu lagi dipertahankan. Berubah dan berubahlah segera...

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian akau harus mengubah pola mengajarku yang bagaimana?

Orang Tua Berambut Putih:

Jika engkau menginginkan mampu menerapkan metode pembelajaran inovatif, maka terapkanlah prinsip:"untuk siswa yang berbeda-beda, seyogyanya mempelajari matematika yang berbeda dan bermacam-macam, walau memerlukan waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan metode yang berbeda-beda pula, alat yang berbeda-beda pula, serta hasil yang boleh berbeda, yaitu boleh berbeda dengan apa yang engkau pikirkan"

Guru Matematika:

Subhanallah ...baru kali ini aku menyadarinya.
Apakah yang dimaksud teknologi atau alat agar aku mampu melayani kebutuhan siswa belajar matematika?

Orang Tua Berambut Putih:

LKS sementara ini dianggap sebagai teknologi atau alat yang sangat strategis. Namun jangan salah paham, LKS bukanlah sekedar kumpulan soal, melainkan LKS adalah wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan ilmu atau menemukan rumus matematikanya. Maka seorang guru harus menembangkan sendiri LKS nya. Tiadalah orang lain mengetahui kebutuhan guru ybs. Maka tidaklah bisa mengadakan LKS hanya dengan cara membeli. Itu betul-betul salah dan tidak proesional.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kenapa musti siswa harus belajar dengan berdiskusi dalam kelompoknya.

Orang Tua Berambut Putih:
Hakekat ilmu itu diperoleh dengan cara berinteraksi antara obyektif dan subyektif, antara teori dan praktek, antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, ..dst. Maka diskusi kelompok itu sebenarnya adalah sunatullah.

Guru Matematika:
Subahanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Terimakasih orang tua berambut putih.
Ya Allah ya Robbi, ampunilah segala dosa dan kesombonganku selama ini, yang telah mengabaikan betapa pentingnya aspek psikologis belajar matematika itu, yang telah meremehkan kemandirian siswa, yang telah serampangan dan hantem kromo terhadap perlakuan pedagogis belajar matematika, yang telah merasa cukup dan puas terhadap ilmu dan pengetahuanku selama ini.
Permohonan ampunku yang terus menerus kiranya belum cukup untuk menghapus dosa-dosaku.
Ya Allah ya Rab semoga Engkau masih bersedia melindungi dan meridai pekerjaan-pekerjaanku.

Amin

65 comments:

  1. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di dalam pembelajaran, penting adanya interaksi antara guru dan siswa. Interkasi pun juga bermacam-macam. Baik interaksi antara guru dengan seluruh siswa, guru dengan seorang siswa, guru dengan sekelompok siswa, antar dua orang siswa, interkasi dalam kelompok siswa, dan interaksi seorang siswa terhadap seluruh teman sekelasnya. Interaksi yang sangat beragam ini dalam pembelajaran yang inovatif diperlukan. Ini akan membantu siswa untuk lebih bisa menyampaikan gagasannya, dan guru tidak terlalu banyak mendominasi di kelas.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika mengingatkan agar guru selalu bisa memposisikan ketika menjadi siswa. Ternyata permintaan yang begitu banyaknya benar-benar adanya. Ketika menjadi siswa, tidak ingin ketika kita mengikuti pelajaran matematika hanya sebagai sarana menghabiskan waktu dan hanya sarana mencari nilai. Lebih dari itu harusnya.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Ketika menjadi guru, banyak hal yang perlu disiapkan. Kita juga harus pandai mengontrol emosi untuk bisa memahami perbedaan individu siswa. Untuk mengajar matematika agar lebih baik kita dapat menyiapkan diantaranya mendalami materi matematika, menggunakan alat peraga atau media, dan meyediakan LKS.

    ReplyDelete
  4. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika kepada siswa terutam untuk anak SD dan SMP harusnya dibuat aktivitas yang penuh kesenangan. Hal ini agar siswa betah dan menyukai suasana kelas matematika. Bisa juga ketika pembelajaran matematika, diadakan permainan yang relevan dengan materi matematika, sehingga siwa dapat beraktivitas dan juga belajar.

    ReplyDelete
  5. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru yang baik yaitu bisa mengetahui apa yang dibutuhkan siswanya. Guru membantu memfasilitasi kebutuhan siswa dengan terus memahami karakteristik siswa-siswanya. Guru di kelas baiknya menggunakan berbagai inovasi dalam pembelajaran matematika. Inovasi pembelajaran akan menumbuhkembangkan juga pemikiran siswa.

    ReplyDelete
  6. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru bisa membuat media pembelajaran matematika yang lebih inovatif sesuai denga n perkembangan teknologi. Misal guru membuat game pembelajaran ataupun membuat blog yang berisi tentang pengetahuan matematika yang relevan. Pemanfaatan teknologi ini yang harus terus dikembangkan.

    ReplyDelete
  7. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berkembangnya teknologi membuat siswa mudah mengakses pengetahuan. Sehingga siswa tidak hanya mendapatkan materi dari guru di kelas. Akan tetapi bisa memperoleh informasi dan pengetahuan dari berbagai sumber. Alangkah baiknya perkembangan teknologi ini diimbangi dengan mengembangkan budaya Indonesia juga. Inilah salah satu peran dari adanya etnomatematika.

    ReplyDelete
  8. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Dalam tulisan diatas permintaan murid yang berharap agar pelajaran matematika itu guru persiapakan sebaik-baiknya agar murid dapat melakukan berbagai aktivitas di kelas akan membuat guru merancang kegiatan pembelajaran yang tidak hanya efektif namun juga menarik. Menarik untuk murid dalam arti murid dapat bereksplorasi dengan beraktivitas. Hal ini memang merupakan hal yang penting untuk guru.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    S1 Pendidikan Matematika

    Hakikat mengajar adalah membimbing siswa. Orientasi dalam mengajar tidak sekedar transfer of knowladge, agar siswa plek sama dengan pikiran guru, lebih jauh dan lebih berkembang dari itu, orientasi membimbing bagai mengantarkan siswa kepada setiap pintunya, sehiongga pada titik tertentu seorang murid masih mampu mengembangkan ke atas, ke samping ke kanan, ke kiri. dalam artian pendidikan, seorang murid diharapkan dapat berkembang dan melebihi kemampuan guru.

    ReplyDelete
  10. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Bagaimana seharusnya seorang pendidik memberi media yang dapat membangun pengetahuan siswa dengan sendirinya dan bagaimana siswa ingin diperlakukan sesuai dengan psikologinya. Elegi ini merupakan contoh langsung inovasi pembelajaran yang bapak lakukan, bapak menyadarkan kami tentang tugas-tugas kami sebagai seorang pendidik namun bukan dengan menceramahi hal-hal yang harus kami lakukan namun membimbing kami untuk menemukan tugas-tugas itu yang tertuang dalam percakapan antara murid dan guru dalam tulisan ini.

    ReplyDelete
  11. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013


    Saya mengucapkan terima kasih karena banyak ilmu yang dapat saya ambil dari Elegi Permintaan Si Murid kepada Guru Matematika ini. Berdasarkan elegi ini, saya memahami bahwa siswa memiliki banyak hak yang terkadang diabaikan oleh guru. Seorang guru yang baik selain mengingatkan kewajiban siswa yaitu belajar juga menghormati hak-haknya sebagai siswa. Hal ini menunjukkan bahwa betapa mulianya profesi seorang guru, akan tetapi tidak mudah dalam menjalani semua tugas dan kewajiban bagi seorang guru.

    ReplyDelete
  12. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Pada percakapan guru matematika dan orang tua berambut putih, saya memahami seorang guru seharusnya memberdayakan siswanya, mengembangkan multi metode, yaitu metode yang bervariasi, dinamis dan fleksibel, mengembangkan LKS yang dapat memberikan wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan ilmu, dan tentunya guru sebagai fasilitator bagi siswa.

    ReplyDelete
  13. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013
    Saya mengucapkan terima kasih karena banyak ilmu yang dapat saya ambil dari elegi permintaan si murid kepada guru matematika ini. Berdasarkan elegi permintaan si murid cerdas kepada guru matematika, saya memahami bahwa siswa memiliki banyak hak yang terkadang diabaikan oleh guru. Seorang guru yang baik selain mengingatkan kewajiban siswa yaitu belajar juga menghormati hak-haknya sebagai siswa. Hal ini menunjukkan bahwa betapa mulianya profesi seorang guru, akan tetapi tidak mudah dalam menjalani semua tugas dan kewajiban bagi seorang guru.

    ReplyDelete
  14. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013
    Pada percakapan guru matematika dan orang tua berambut putih, saya memahami seorang guru seharusnya memberdayakan siswanya, mengembangkan multi metode, yaitu metode yang bervariasi, dinamis dan fleksibel, mengembangkan LKS yang dapat memberikan wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan ilmu, dan tentunya guru sebagai fasilitator bagi siswa.

    ReplyDelete
  15. Yudit Pardianti
    15712251001
    S2. DIKDAS kelas A 2015


    Terimakasih prof, tulisan ini cukup membuka wawasan saya mengenai pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru dalam setiap pembelajara yang dilakukan. Sangatlah penting seorang guru untuk melakukan pembelajaran yang inovatif dalam setiap pembelajaran yang dilakukan. Pembelajaran yang mampu memotivasi dan menginspirasi siswa adalah pembelajaran yang menfasilitasi siswa untuk dapat bereksploasi. Dalam setiap pembelajaran yang dilakukan, guru harus senantiasa melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Seorang guru harus mengubah pradigmanya dari mengajar (mentransfer ilmu) menjadi menfasilitasi dan membangun.

    ReplyDelete
  16. Khotimah
    15712251030
    S2. Pendidikan Dasar kelas B 2015

    Terimakasih atas tulisan ini Prof.
    Tulisan ini menambah wawasan saya bahwa guru mempunyai peranan yang sangat penting bagi siswa dalam membangun pengetahuan. Selama ini ternyata sebagian besar siswa merasa matematika menjadi pelajaran yang paling sulit dan membosankan salah satunya dikarenakan oleh guru. Guru yang selama ini mengajar dengan menerangkan, memberi contoh, memberi soal, memberi tugas, dan menerangkan kembali, demikian seterusnya ternyata membuat siswa kurang menikmati belajar matematika yang akhirnya berujung pada kesulitan belajar matematika. Oleh sebab itu diperlukan adanya kesadaran guru untuk mengubah paradigma dari teacher centered menjadi student centered, dari transer of knowledge menjadi to facilitate, dari directed-teaching menjadi less directed-teaching, dari menekankan kepada teaching menjadi menekankan kepada learning, dari metode tunggal menjadi metode jamak, dan lain-lain. Guru harus mampu memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan mereka. Guru juga harus mampu menerapkan pembelajaran yang inovatif agar siswa tidak merasa bosan pada pembelajaran matematika sehingga kesulitan belajar matematika yang mereka alami akan berkurang.

    ReplyDelete
  17. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sekiranya memang pembelajaran seperti yang dikatakan Orang Tua Berambut Putih itulah yang harus dilaksanakan, mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Namun pergeseran tersebut harus diikuti dengan kesiapan guru dan siswa pula. Bagi guru yang masih close minded tentulah sulit menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru sebagai fasilitator. Dan pada kenyataannya di lapangan, siswa masih banyak yang meminta guru menjelaskan saja dibandingkan dengan diskusi kelompok dan presentasi. Miris memang, tapi pandangan masyarakat harus diubah. Jika guru saja yang berusaha maka percuma. Seluruh pihak harus merubah cara pandang mereka terhadap pendidikan.

    ReplyDelete
  18. Nama : iLania Eka Andari
    Kelas : PM C 2017 (S2)
    NIM : 17709251050

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Bapak Marsigit karena telah membuat tulisan
    "Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika",
    dimana tulisan ini dapat menjadi salah satu acuan untuk mengetahui apa yang harus dan tidak harus kami lakukan sebagai seorang guru maupun calon guru.

    Berdasarkan elegi tersebut, kesimpulan yang saya dapatkan adalah bahwasannya seorang guru selain harus bisa menjadi fasilitator juga harus bisa menjadi organisator dan inisiator.
    Sebagai organisator, guru dalam melaksanakan tugasnya harus dapat mengatur dan mengelola sumber-sumber pembelajaran yang tersedia. Seorang guru harus menyadari bahwa sumber belajar tidak hanya dari buku atau jurnal semata, melainkan dapat juga melalui blog yang dibuat guru untuk muridnya. Dengan demikian, peserta didik dapat memanfaatkan sumber-sumber tersebut sebagai media pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan proses pembelajaran dengan efektif dan efisien.
    Sedangkan sebagai inisiator, guru dituntut untuk menggali dan mencetuskan ide-ide dalam proses pembelajaran. Ide-ide yang dikemukakan adalah ide-ide yang kreatif dan dapat memotivasi peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencetuskan ide-ide yang dimiliki peserta didik adalah dengan cara diskusi kelompok dan juga membuat LKS untuk siswa. Dimana LKS ini bertujuan sebagai wahana siswa untuk menemukan rumus matematika dengan caranya sendiri. Sehingga mereka akan lebih memahami rumus tersebut.

    ReplyDelete
  19. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Hal yang kami (saya) pelajari dari elegi ini adalah kebutuhan siswa itu banyak sehingga pekerjaan/profesi seorang guru termasuk juga guru matematika itu sejatinya cukup sulit. Selain matematika yang sudah berpredikat sulit, objek dari matematika sendiri itu abstrak. Sehingga terkadang siswa sudah tertekan dulu sebelum pembelajaran matematika. Guru tidak bisa memaksa siswa untuk suka matematika dan giat belajar, akan tetapi setidaknya guru bisa berusahan keras agar siswa bisa memiliki atau menumbuhkan rasa suka terhadap matematika dan menumbuhkan keinginan siswa untuk belajar lebih giat salah satu nya adalah mengembangkan pembelajaran yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa tersebut. Karena sejatinya setiap orang yang terpenuhi kebutuhannya itu biasanya bahagia.

    Terima kasih Pak, Elegi ini sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  20. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih kepada Prof. Marsigit, karena berkat bapak saya menjadi sadar tentang bagaimana seharusnya kita bersikap kepada siswa ketika membantu mereka dalam proses pembelajaran. Siswa yang berbeda-beda karakter dan kemampuannya, tetapi masih dituntut untuk mencapai hasil yang sama dengan cara yang seragam. Padahal dengan kemampuan dan karakter yang berbeda tentu saja siswa seharusnya diberi perlakuan yang berbeda pula, sesuai dengan kebutuhannya.
    Kemudian, permasalahan masih banyaknya LKS yang beredar bukanlah lembar yang mengeksplore kemampuan serta membangun pengetahuan siswa, namun hanyalah penjelasan singkat dan lebih banyak soal-soal. masih banyaknya kekurangan dalam mengajar tentunya menjadi keprihatinan bersama sehingga diharapkan dimasa depan lebih banyak orang yang sadar akan pentingnya mengetahui kewajiban dan tugas serta harapan yang harus dipenuhi dari menjadi seorang guru.

    ReplyDelete
  21. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PPs UNY PEP S2 B 2017

    Semakin antusias mendengar wejangan sang orangtua berambut putih. Postingan di atas menjadi jawaban dan solusi lanjutan selepas saya membaca tulisan Bapak Marsigit dengan judul "Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa" serta "Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif". Terlepas dari begitu bermanfaatnya isi postingan dia atas (betapa pentingnya keberadaan dan kesadaran guru di tengah-tengah peserta didiknya), sejauh ini, meskipun baru sedikit sekali yang saya baca, saya belajar bahwa fenomena ataupun permasalahan harus diselesaikan secara sistematis dan berkelanjutan. Hal ini memotivasi saya untuk semakin menambah referensi bacaan saya.

    Pada postingan di atas saya sangat setuju bahwa guru memang harus mengubah paradigma yang dimiliki. Satu kalimat penuh makna, "Berubahlah dan berbahlah segera". Berinovasi. Menggunakan berbagai media. Dan lainnya

    ReplyDelete
  22. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Elegi yang Bapak Marsigit sampaikan menyadarkan saya, bahwa sebagai guru tidak selamanya berada di posisi yang terbaik, paling mengerti segalanya, paling pandai atau bahkan merasa lebih dari siswa-siswanya. Guru tidak boleh memperlakukan siswanya seperti robot yang diisi baterai, kemudian digerakkan dengan remote control. Guru tidak diperkenankan menganggap siswa sebagai 'tong kosong' yang tidak mengerti apa-apa, lugu, dan polos. Setiap siswa pada dasarnya sudah memiliki potensi-potensi, tinggal bagaimana guru mengarahkan atau sekadar memfasilitasi bagaimana potensi-potensi tersebut dapat berkembang ke arah lebih baik. Guru bukanlah sosok malaikat yang mampu memahami segalanya, termasuk memahami isi hati dan pikiran siswanya. Sempatkan para siswa untuk lebih sering bertanya, diskusi, mengungkapkan pendapat, ide, gagasan, uneg-uneg, bahkan sanggahan kepada guru (dengan sopan tentunya).

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 PM A

    Elegi ini menggambarkan problematika yang sering terjadi di lapangan, bahkan kita sebagai siswa pun mungkin juga pernah merasakannya. Uneg-uneg yang dirasakan oleh siswa terhadap matematika (baik dari segi cara mengajar guru maupun media pembelajaran yang digunakan) dan situasi yang dihadapi oleh guru matematika tersebut (dengan beban kurikulum yang banyak sementara waktunya terbatas, harus memberikan pelajaran matematika yang beragam kepada siswa yang beragam pula). Jika jawaban Orang Tua Berambut Putih adalah benar kiranya, hal tersebut sudah menjawab problematika antara guru dan siswa tadi. Oleh karena itu sekarang dibutuhkan kerjasama antara guru dan siswa, serta berbagai pihak yang terkait lainnya untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang bisa memberdayakan siswa.

    ReplyDelete
  24. Afiramita Hertanti
    S2- PMA 2017
    NIM. 17709251008

    terima kasih, pak. saya sangat takjub membaca elegi percakapan antara 3 subjek diatas. yang membuat saya bertanya-tanya sebagai mantan guru smp yang belum pernah menemukan jenis murid yang kelewat cerdas seperti itu adalah, dalam konteks material (kehidupan sehari-hari) mungkinkah kita menemukan murid yang memiliki keceradasan emosi yang sekompleks itu di tengah-tengah peradaban kapitalisme? setidaknya dalam usia sekolah dasar dan menengah? atau apakah elegi di atas hanyalah sebatas satire (sndiran positif) kepada sosok guru yang selalu menempatkan dirinya sebagai subjek yang aktif?

    ReplyDelete
  25. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih banyak Prof. Marsigit..
    Tulisan di atas akan sangat baik jika juga dibaca oleh guru-guru matematika sebagai cerminan untuk memperbaiki kulitas dalam mengajarkan matematika.
    Dari tulisan di atas, saya merasa malu sekali. Sebagai seseorang yang pernah menjadi guru mata pelajaran matematika SMA di salah satu pondok pesantren di kota saya, saya merasa jauh sekali dari kriteria guru matematika yang dijelaskan di atas. Begitu juga dengan teman-teman yang lainnya, kendala kami antara lain, masih banyak siswa yang belum mampu untuk mengikuti pembelajaran yang siswa sendiri mengkonstruk pengetahuannya, sehingga waktu yang dibutuhkan lebih lama dan pada akhirnya target materi dari atas tidak bisa dipenuhi semua dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sehingga pada akhir-akhir menjelang Ujian Semester materi dikebut oleh guru dalam waktu yang singkat dan hanya dengan metode ceramah. Masalah ini sering kami hadapi. Padahal kami tahu ini tidaklah baik. Tetapi harus kami lakukan karena semua materi harus kami sampaikan. Bagaimanakah sebenarnya solusi untuk masalah ini?

    ReplyDelete
  26. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya membaca elegi ini dari dua sudut pandang. Yaitu sebagai murid dan sebagai guru. Pertama sudut pandang sebagai murid. Jika seorang murid ditanya oleh seorang guru tentang permintaan-permintaannya kepada sang guru, maka pastilah ia akan mengungkapkan seluruh isi hatinya. Saya yakin setiap murid pasti memiliki permintaan atau unek-unek di pikirannya mengenai pelaksanaan pembelajaran yang ia alami di sekolah. Betapa senangnya jka seorang murid diberi kesempatan untuk menyampaikan isi hatinya di depan gurunya. Namun jika tidak ditanya oleh guru maka hampir mustahil murid mau mencurahkan isi hatinya pada guru. Pasti ada rasa ragu atau takut dimarahi oleh guru. Sebaliknya, siswa akan dengan senang hati menyampaikan perasaannya jika ia merasa nyaman dengan gurunya. Karena harapan terbesar setiap siswa adalah agar keinginan mereka dapat dipahami oleh guru mereka. Dan belajar yang efektif menurut siswa adalah jika mereka dapat leluasa mengembagkan pola pikir mereka dan berdiskusi dengan teman.
    Sudut pandang yang kedua adalah sebagai seorang guru. Guru yang seperti elegi di atas menurut saya adalah guru yang sangat baik karena mau mendengarkan bahkan memikirkan dan berusaha mengabulkan permintaan-permintaan dari si murid. Karena sangat jarang ada guru yang repot-repot memikirkan keinginan siswa. Sebagian besar guru sibuk mengejar target materi mengajar, sehingga mengajar dengan otoriter dan tergesa-gesa. Tentu saja pencapaian tersebut penting, tetapi sebagai guru juga harus ingat bahwa siswa juga memiliki hak untuk mengembangkan pola pikirnya. Bukan hanya disuapi materi sebanyak-banyaknya. Guru harus memperhatikan proses dalam belajar dan tidak hanya terpaut pada hasil. Guru yang bijak adalah guru yang mau membuka diri kepada muridnya sehingga murid merasa nyaman dengan gurunya. Jangan sampai membuat murid tidak menyukai pelajaran matematika hanya karena gurunya yang dianggap galak atau membosankan. Mari kita menjadi guru yang inovatif dan kreatif.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  27. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingan elegi yang tidak hanya menyentuh tapi juga seakan menampar saya sebagai seorang guru. Tanpa sadar guru masih sering menempatkan dirinya sebagai pusat dalam proses belajar mengajar sehingga lupa dengan kebutuhan siswa. Guru terkadang terlalu fokus akan target atau hasil pencapaian belajar yang harus dicapai sampai lupa memperhatikan detail-detail kecil namun penting yang terjadi selama proses pencapaian hasil tersebut.

    ReplyDelete
  28. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Elegi ini merupakan penggambaran akan pembelajaran yang dilakukan selama ini oleh sebagian besar guru. Hal ini juga menyadarkan saya karena selama pengalaman saya mengajar terdapat beberapa situasi seperti yang diutarakan diatas. Hal ini memang memilki kecendruangan besar untuk terjadi dimana guru yang seharusnya menjadi fasilitator malah terkesan menggurui dengan cara ceramah dan melakukan segala hal seperti menganggap bahwa siswa tidak mampu melakukan apapun. Elegi ini berisi permintaan siswa agar guru lebih menghargai keberadaannya, yaitu dengan membiarkannya beraktivitas dalam kelas. Siswa beragam dengan cara belajar yang beragam pula, untuk itu, guru diminta untuk lebih siap dalam merencanakan pembelajaran. Semoga kelak kami sebagai calon guru bisa lebih meningkatkan kualitas guru indonesia di masa yang akan datang. Amin

    ReplyDelete
  29. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Percakapan tiga tokoh dalam postingan tersebut sangat menarik dan mengandung makna mendalam terutama bagi guru. Pelajaran yang dapat dipetik dari percakapan tersebut adalah tentang kriteria seorang guru yang diperlukan untuk memfasilitasi siswa belajar saat ini. Banyak hal yang harus dipersiapkan oleh guru agar dapat memfasilitasi siswa dengan baik. Dari percakapan tersebut saya memperoleh informasi yang lebih luas tentang posisi guru dan siswa, hak-hak yang seharusnya siswa dapat, serta perlakuan guru terhadap siswa.

    ReplyDelete
  30. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Selama ini, kebanyakan dari guru lupa bahwa siswanya terdiri dari berbagai macam kakakteristik. Padahal di dalam kelas terdiri dari berbagai macam siswa dengan berbagai macam kebutuhan pula. Maka elegi ini mengingatkan guru untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif, variatif, dinamis, dan fleksibel. Guru juga perlu menyadari bahwa pada hakikatnya, yang belajar adalah siswa. Maka siswa lah yang membangun pengetahuannya sendiri, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pengelola kelas. Guru juga tidak seharusnya menuntut siswa untuk belajar, tetapi justru membuat siswa agar sadar terhadap kebutuhan belajarnya. Maka dengan sendirinya, siswa akan belajar dengan senang, ikhlas, dan menyadari pentingnya belajar.

    ReplyDelete
  31. Junianto
    17709251065
    PM C

    Belajar yang paling baik adalah belajar atas kemauan dan kesadaran sendiri. Begitu juga kegiatan belajar siswa, tidak sepantasnya guru memaksa siswa untuk suka dengan pelajaran matematika karena siswa memiliki bakat dan kemampuan sendiri. Biarkan siswa menemukan konsep dan kecintaan pada matematika dengan sendirinya. Siswa memiliki hak untuk suka maupun tidak suka dengan pelajaran matematika. Maka dari itu, guru hanyalah sebagai fasilitator saja, bukan transfer ilmu.

    ReplyDelete
  32. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Subhanallah.. baru kali ini saya menyadari.
    Terimakasih Prof atas postingan kali ini. Elegi permintaan si murid cerdas kepada guru matematika, akan menjadi pembelajaran kepada saya dan teman-teman lainnya. Ini bekal penting untuk saya (Insya Allah) sebagai calon seorang guru matematika. Yang dapat saya simpulkan bahwa, ketika kita mengajar, kita harus bisa memposisikan diri kita sebagai murid, agar kita paham apa yang dibutuhkan murid, dan apa yang diinginkan murid. Jadi dengan adanya elegi ini, dapat menjadi wawasan untuk saya dan teman-teman, sehingga kami menjadi tahu sebenarnya apa saja yang diharapkan siswa dalam proses pembelajaran matematika. Dan ilmu serta nasehat dari bapak berambut putih pun akan menjadi bekal pengetahuan untuk kami sebagai calon seorang guru, agar menjadi guru yang baik, profesional, dan berkualitas tentunya.

    ReplyDelete
  33. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak yang telah membuat Elegi yang sangat menginspirasi dan menyadarkan kami.
    Elegi ini benar-benar harapan yang di inginkan seorang siswa di kelas akan matematika. Sering kali apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan, salah satu evaluasi karena kita sebagai pendidik kadang mendidik dengan apa yang kita inginkan, bukan apa yang di inginkan siswa.
    Tentulah yang benar dan baik sebagai pendidik yang benar-benar ikhlas hati dan pikirnya perlu memperhatikan apa yang di inginkan siswa. Bagi guru yang telah khilaf mengabaikan hal yang terpenting yaitu melakukan HIJRAH dari metode tradisional menjadi modern, menggunakan metode yang beraneka ragam, memperhatikan keberagaman siswa, memanfaatkan media dan fasilitas yang ada. Dan untuk calon pendidik yang ingin ikhlas hati dan pikir haruslah membuka mata lebar, telinga yang lebar untuk mendapatkan wahyu/pengetahuan untuk bekal bagaimana mengajar yang baik itu.

    ReplyDelete
  34. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Subhanallah, terima kasih Pak Prof. atas eligi diatas yang Bapak posting. Eligi permintaan si murid cerdas kepada guru matematika ini seakan menjadi sentilan bagi kita semua, terutama bagi guru maupun calon guru mtematika, dan sekaligus eligi yang sangat menginspirasi dan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi kita. Bagaimana tidak? Melalui eligi ini, kita guru dan calon guru matematika serasa mendapat tamparan dari permintaan-permintaan si “murid”, bahwa selama ini dalam proses belajar mengajar kita (guru dan calon guru matematika) merasa egois, merasa sempurna, dengan menuntut siswa harus begini dan begitu tanpa menyadari sesungguhnya awal dari kesulitan yang ditemui siswa berawal dari ketidakpekaan kita sebagai guru.
    Melalui eligi ini juga, para guru matematika disentil untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dengan berbagai pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Dalam hal ini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator sedangkan siswa yang bergerak untuk membangun pengetahuan mereka melalui fasilitas yang diberikan oleh guru. Dengan demikian, siswa dapat berkembang dan merasa bahwa belajar itu memang penting untuk dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  35. Yopi K
    15712259024
    Dikdas 2015

    Terimakasih atas tulisannya prof, tulisan yang sangat menginspirasi, semoga dengan ini dapat menjadi jalan memperbaiki cara pandang yang berujung pada upaya perbaikan proses pembelajaran. Mohon izin untuk share agar menjadi inspirasi bagi pendidik lainnya.

    ReplyDelete
  36. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Apa yang disajikan oleh bapak pada artikel ini membuka mata saya untuk selalu berjuang dalam menyiapkan pembelajaran matematika yang baik bagi anak. Tadi saya mengikuti talk show dengan Prof. suyanto, Ph.D. bliau memaparkan mengenai pendidikan yang ada pada zaman sekarang. Salah satu kekurangan dari pendidikan di Indonesia adalah sikap guru yang terlalu mengekang siswa-siswinya untuk melakukan apa yang diinginkan oleh guru dengan fasilitas maupun bahan ajar yang diberikan seadanya. Disini secara tidak langsung saya berfikir bahwa selama ini saya telah mendzolimi murid saya yang pernah saya ajar. Saya selalu menuntut siswa melakukan ini itu tanpa berfikir apakah cara penyampaian saya sudah benar dan membuat siswa paham. Semoga kedepan saya sebagai calon pendidik akan berusaha lebih keras dalam mempersiapkan pengajaran di dalam maupun di luar kelas.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  37. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Permintaan murid cerdas kepada guru matematika sangatlah banyak. Ini mengindikasikan bahwa yang selama ini dilakukan oleh guru matematika tidak sesuai dengan kebutuhan murid. Padahal pembelajaran yang baik adalah yang memenuhi kebutuhan murid dalam belajar. Salah satunya adalah kesempatan untuk bertanya. Sejak dulu, Indonesia menerapkan metode belajar ekspositori, dimana guru menjelaskan materi atau topik belajar kepada siswa. Karena pembelajaran yang strict, terkadang membuat siswa menjadi takut untuk bertanya. Takut salah, takut dibilang bodoh, takut disuruh menjawab pertanyaannya sendiri, dan ketakutan-ketakutan yang lain. Hal ini menyebabkan siswa enggan bertanya kepada guru. Padahal dengan bertanya, akan membantu siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Pertanyaan adalah refleksi dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan adalah indikasi bahwa seseorang sedang mempelajari sesuatu. Metode ekspositori adalah metode yang sudah kadaluwarsa untuk digunakan di kelas, menurut orangtua berambut putih. Hal ini dikarenakan kondisi dunia saat ini sudah sangat berbeda dengan zaman dulu ketika ekspositori digunakan. Selain itu, metode ekspositori membatasi gerak siswa di kelas. Bukan hanya gerak fisiknya, namun juga gerak pikirannya. Metode belajar yang relevan saat ini salah satunya adalah discovery learning, dimana siswa mengkonstruk pengetahuannya atas kesadarannya dan tanpa paksaan pihak lain.

    ReplyDelete
  38. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    masyaAllah begitu cerdarnya murid tersebut sehingga dapat merinci sebegitu detailnya permintaan unutk guru matematikanya.
    Tidak terasa bahwa beban guru tersebut banyak sekali. Harus menfasilitasi begitu banyak permintaan sang anak. Satu anak. Tidak bisa dibayangkan bagaimana sang guru akan menghadapi banyak anak di dalam satu kelas. Dan pasti tidak hanya anak yang kelihatan cerdas saja yang memiliki keinginan seperti itu.
    Besar harapan saya dapat menfasilitasi anak didik dengan segala keinginan yang mereka harapkan.

    ReplyDelete
  39. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Perminta'an yang diajukan oleh murid cerdas tersebut sebenarnya sangat mewakili permintaan oleh seluruh siswa walaupun mereka tidak menyadarinya ataupun tidak bisa mengungkapkan nya, bahkan mungkin belum pernah terpikir oleh mereka bahwa. tidak hanya pada murid-murid disekolah, tetapi juga bagi mereka yang menemppuh pendidikan di perguruan tinggi.

    ReplyDelete
  40. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Jika dilihat dari sederetan permintaan permintaan murid itu, memang merupakan banyak hal yang harus dilakukan seorang guru terhadap muridnya. Dan jika guru tidak melakukan hal tersebut maka guru tersebut telah mendzolimi anak didiknya. Sebagai contoh, ketika guru hanya bertanya kepada siswa yang didepan, hanya menerapkan satu model pembelajaran dll. Hal-hal tersebut lah yang patut untuk ditunjau kembali pelaksanaannya ketika dikelas. Pasti banyak faktor mengapa guru melakukan hal yang tidak menyenangkan siswa tersebut. Kemungkinan mengapa hanya siswa yang bagian depan saja yang mendapat pertanyaan adalah karena siswa yang bagian belakang rame dengan teman sebangkunya dan guru telah memperingatkan berkali kali namun tidak ditanggapinya.

    ReplyDelete
  41. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Saya setuju dengan orang tua yang bijak berambut putih ini. Bahwa cepat dan tergesa-gesa itu tidak lah baik. Tergesa gesa adalah kemauan untuk mendapatkan apa yang diinginkan namun belum waktunya untuk didapatkan. Ada yang berpendapat juga bahwa sifat tergesa gesa itu adalah dari setan sehingga harus dijauhi. Tidak hanya tergesa gesa yang harus diperbaiki oleh guru, namun guru juga dituntut untuk menyelesaikan sebegitu banyak materi dalam waktu yang bisa dikatakan singkat belum lagi guru juga dituntut untuk mereview pokok bahasan yang siswa belum paham. Bagaimana menurut bapak akan hal tersebut ?

    ReplyDelete
  42. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Dengan melihat percakapan di atas benar-benar membuka mata kami, sejauh mana keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Untuk itu sangat penting dalam mengajar benar-benar jeli dalam mempersiapkan dan membuat segala perangkat pembelajaran. Agar pembelajaran yang diharapkan baik siswa yang cerdas maupun sebaliknya dapat menjadi sebuah realitas dan bukan hanya sekedar apersepsi belaka.

    ReplyDelete
  43. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Membaca permintaan-permintaan si murid cerdas saya semakin menyadari bahwa pembelajaran yang pernah atau bahkan familiar jauh dari kata mampu untuk menutupi permintaan-permintaan tersebut. Dengan bijaknya si Murid cerdas mengutarakan keinginan-keinginannya yang sebenarnya tidak hanya cerminan kebutuhan siswa yang cerdas saja, melainkan yang dibutuhkan oleh semua siswa. Jika berbicara mengenai LKS yang kerap digunakan di sekolah, benar adanya bahwa LKS tersebut kurang memfasilitasi siswa. Terlebih dengan pendekatan saintifik yang dicanangkan dewasa ini, peran LKS semakin jauh untuk bisa menjadi sumber belajar yang beik. Mengingat konten LKS biasanya memaparkan tujuan pembelajaran, ringkasan materi, contoh soal kemudian soal-soal yang diberikan LKS tak jauh beda dengan contoh dan sedikit sekali yang menampilkan permasalahan sehari-hari siswa. Oleh karena itu, kiranya guru perlu memperdalam dan mengembangkan LKS sesuai kebutuhan siswa dan sesuai metode yang cocok dengan karakteristik siswa yang diajar. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  44. Menarik membaca segmen antara guru dan orang tua berambut putih. ORang tua berambut putih bermaksud memberikan pencerahan kepada guru sebagai "a wise person who know so much abouth education". Petuah-petuah orang tua berambut putih kian menyadarkan kita para guru atau calon guru mengenai seluk-beluk pendidikan yang harus diperhatikan agar tercipta harmoni di dalamnya sehingga tercapainya tujuan pendidikan bukan hanya wacna belaka. Ambil contoh mengenai LKS, Diskusi Kelompok,paradigma belajar mengajar, cara meng-cover semua karakteristik siswa dan lain sebagainya. Mungkin para guru atau calon guru sebenarnya paham dan mengerti, hanya saja manusia kadang lupa dan membutuhkan orang lain untuk mengingatkan dan untuk diteladani, terima kasih Prof

    ReplyDelete
  45. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih banyak pak, pesan yang bapak sampaikan melalui tulisan bapak tentang elegi permintaan murid cerdas kepada guru matematika sungguh berarti dan membuat saya sadar bagaimana gambaran umum sudut pandang siswa terhadap pembelajaran matematika sebelum ini. Elegi ini meninggalkan kesan mendalam sekaligus menjadi evaluasi diri bagi kita sebagai guru maupun calon guru matematika, agar menyadari bagaimana harapan dan keinginan siswa dalam belajar matematika.
    Sebagai langkah utama yang harus dilakukan guru untuk memenuhi ‘apa yang diinginkan dan dibutuhkan siswa dalam belajar matematika’ yaitu dengan hijrah, berubah dan mengubah paradigma, sebagaimana yang telah dirincikan satu-persatu secara detail oleh orang tua berambut putih pada wacana di atas.

    ReplyDelete
  46. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pemberdayaan berarti memberikan siswa lebih dari sekedar kewenangan mengikuti materi pelajaran. Para guru tidak harus kaku dalam menyampaikan materi. Oleh karena itu, siswa hendak diberikan peran yang lebih aktif lagi dalam kegiatan sekolah. Mereka bukan saja sebagai peserta, tetapi juga penggagas pelaksanaan suatu kegiataan. Mereka juga perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam batas-batas tertentu sehingga guru dan siswa sama-sama menjadi subjek. Artinya, siswapun diharapkan berperan aktif, berinisiatif, dan berkreasi dalam proses pembelajaran di sekolah. Terimakasih Prof, postingan Prof sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  47. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terimakasih banyak Prof. Marsigit atas cerita di atas. Begitu banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari tulisan tersebut, baik tersirat maupun tersurat. Permintaan-permintaan cerdas seorang siswa yang ingin mendapatkan pendidikan dan pembelajaran yang sebaik-baiknya dari seorang guru seperti di atas, tidaklah semua siswa memiliki harapan dan angan yang sama. Karena kenyataannya, setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Namun demikian, usaha guru dalam melaksanakan proses pembelajaran seperti yang diminta sosok siswa di atas, amatlah penting dicoba, tidak hanya sekali namun berkali-kali. Karena segala rintangan dan kegagalan yang berulang pasti akan menjadi hambatan dalam proses perjalanannya. Guru yang memadai dan bersedia melaksakan seperti permintaan siswa di atas, akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa bagaimana ia perlahan akan mampu melakukan dengan benar cara membimbing dan membelajarkan siswa nya hingga mereka menjadi manusia yang berdaya guna di dalam kehidupan mereka. Begitupun siswa, proses pembelajarannya dengan guru pun akan menjadi pengalaman yang sangat berharga, akan teringat sepanjang waktu dan pengetahuan mereka akan lebih abadi dalam ingatan mereka.
    Wassalamualaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  48. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai bagaimana seharusnya guru mengambil dan melakukan perannya dalam proses belajar mengajar. Paradigma bahwa seorang guru merupakan sumber pengetahuan yang mentransfer ilmu kepada siswa, merupakan paradigma lama yang memang sudah harus ditinggalkan. Seorang guru yang baik adalah mereka yang mampu memberikanan kesempatan kepada siswanya untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan dan konsep baru melalui serangkaian aktivitas baik di dalam maupun di luar kelas. Selain itu, hendaknya seorang guru mampu memahami alur dan pola berfikir siswa, menyesuaikan metode pembelajaran dengan tingkat kemampuan siswa, sehingga ia akan mampu memposisikan diri pada posisi yang tepat dalam membantu siswa membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  49. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Sungguh luar biasa, posting diatas benar-benar kompleks menggambarkan situasi pendidikan di Indonesia dan sekaligus memberikan gambaran bagaimana mestinya pendidikan yang cocok untuk siswa dimasa sekarang ini. Baik dari perspektif siswa ataupun guru. Keinginan-keinginan siswa yang dipaparkan diatas mengkritik guru, ini bisa menjadi bahan introspeksi diri bagi para guru, Keinginan-keinginan itu juga memotivasi siswa untuk meningkatkan semangat belajar.
    Kemudian percakapan guru matematika dengan orang tua berambut putih menjawab semua permasalahan yang sering dihadapi guru untuk memenuhi Keinginan-keinginan siswa dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  50. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Ceritanya mengharukan.Guru memang berperan penting dalam mengembangkan bakat anak didiknya.Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.Guru adalah orang tua kedua bagi murid.Guru harus memposisikan diri sebagai sahabat.Guru adalah wadah buat siswa menuangkan masalahnya, kemuadian mencari solusi bagaimana cara memecahkan masalah tersebut.Harapannya, seorang siswa tidak merasa takut terhadap gurunya.Maka dari itu seorang guru setidaknya memberikan wajah ramah kepada siswanya.Niat siswa yang menggebu-gebu di dalam hati untuk berusaha mencintai pelajaran, semoga tidak hilang.Diharapkan seorang guru menuntunnya.Buat ia tambah mencintai pelajaran tersebut.Terkadang ada siswa yang bosan terhadap gurunya, ada yang mendoakannya gurunya supaya tidak mengajar.Oleh karena demikian, buatlah keadaan yang ketika hadirrnya kita mereka merasa senang bahagia.Ketika kita tidak ada kita dirindukan.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  51. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Tidak banyak komentar untuk elegi ini, BAGI kita CALON PENDIDIK marilah kita bersama-sama introspeksi untuk berhijrah dari hal yang kurang baik menjadi hal yang baik, dari hal yang sudah baik menjadi lebih baik. Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang juga.

    ReplyDelete
  52. Arina Husna Zaini
    PEP B S2
    17701251024

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Terima Kasih bapak atas postingannya diatas. percakapan antara guru, siswa dan orang tua putih sebagai simbol pencerahan bagi para pendidik di masa sekarang bahwasanya pendidikan bukan hanya sekedar transfer pemgetahuan semata.Namun, lebih dari itu pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai kepada siswa untuk membuahkan akhalal yang terpuji. Untuk mengahsilkan pengetahuan baik dan akhlak yang terpuji harus ada sinergi antara guru, siswa dan orang tua agar pembelajaran berjalan baik dan mampu menghasilkan buah yang maksimal. Karena pada zaman sekarang ini banyak guru yang belum memahami keadaan siswa di kelasnya sehingga beberapa siswa yang memang semestinya memiliki potensi lebih menjadi belum bisa memaksimalkan potensinya. Namun, dengan adanya hal tersebut kita tidak boleh menyelahkan kepada guru oleh karena itu perlu obrolan dan diskusi dari berbagai macam pihak. terima kasih

    ReplyDelete
  53. Arina Husna Zaini
    PEP B S2
    17701251024

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Terima Kasih bapak atas postingannya diatas. percakapan antara guru, siswa dan orang tua putih sebagai simbol pencerahan bagi para pendidik di masa sekarang bahwasanya pendidikan bukan hanya sekedar transfer pemgetahuan semata.Namun, lebih dari itu pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai kepada siswa untuk membuahkan akhalal yang terpuji. Untuk mengahsilkan pengetahuan baik dan akhlak yang terpuji harus ada sinergi antara guru, siswa dan orang tua agar pembelajaran berjalan baik dan mampu menghasilkan buah yang maksimal. Karena pada zaman sekarang ini banyak guru yang belum memahami keadaan siswa di kelasnya sehingga beberapa siswa yang memang semestinya memiliki potensi lebih menjadi belum bisa memaksimalkan potensinya. Namun, dengan adanya hal tersebut kita tidak boleh menyelahkan kepada guru oleh karena itu perlu obrolan dan diskusi dari berbagai macam pihak. terima kasih

    ReplyDelete
  54. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ikhlas hati dan pikiran adalah hal mutlak yang harus dimiliki guru. Tidak seharusnya guru hanya memaksakan kehendaknya dan berlaku sesukanya dalam mendidik siswa, perlu juga mempertimbangkan berbagai faktor seperti kondisi siswa dan likungan. Guru seharusnya dapat berganti dari pembelajaran tradisional ke modern. Pembalajaran modern dengan banyaknya metode akan membantu siswa mengeksplor diripnya dan tidak hanya berpaku pada satu hal saja.
    Tentunya pemilihan metode yang tepat sesuai dengan kondisi siswa, lingkungan dan materi yang disajikan adalah hal yang wajib dilakukan oleh guru, tidak sembarang metode yang digunakan. Dengan proses pembelajarana yang tepat siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran dan diharapkan dapat menerapkannya dalam kehidupan tanpa ada perasaan tertekan saat proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  55. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Matematika merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit untuk siswa. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki beribu cara untuk membuat siswa mengerti dan paham dengan materi matematika. Metode pembelajaran adalah salah satu komponen yang penting di dalam pembelajarab matematika. Guru harus memilih metode belajar yang tepat dan inovatif sehingga siswa merasa tertarik dengan pembelajaran. Guru juga harus menjadi teman untuk siswanya dengan cara mendengarkan keluh kesah yang dirasakan dalam pembelajarn. Guru juga harus kreatif membuat alat peraga untuk pembelajaran matematika. Kesimpulannya untuk menjadi guru tidak hanya pintar dalam materi, tetapi harus pintar dalam bersosialisasi dengan siswa. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  56. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Curahan hati murid diatas membuka mata hati saya bahwa kelak saya harus menjadi guru yang seperti apa dan bagaimana. Karena tidak bisa dipungkiri masih banyak hal-hal yang dianggap sepele oleh guru, namun sangat memberi efek besar pada siswa. Seperti "jangan menggurui, karena itu mejadikan murid merasa bahwa guru tersebut orang yang sombong". Selain itu cara guru mengajar juga harus menjadi perhatian utama, apalagi tujuan guru untuk dapat memberikan pemahaman kepada murid yang beragam. Adapun salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah paradigma guru tentang arti mengajar yang sebenarnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  57. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Postingan ini memberikan pembelajaran yang begitu erat kaitannya dengan refleksi diri. Hakikat antara guru dan murid tidaklah hanya sebatas mengajar. Murid memiliki kapasitas yang terdapat dalam diri dan tugas guru tersebut hanyalah mengembangkan dan menjadi stimulus kemampuan yang masih terpendam di dalam diri. Sependapat dengan statement yang ada di dalam postingan ini mendidik merupakan proses jangka panjang. Maka dari itu, saat proses belajar berlangsung murid sangat dianjurkan untuk diberdayakan. Guru diharapkan dapat menjadi pendamping dan fasilitator dalam belajar dan sangat penting guru memiliki sikap yang bijak saat mengajar.

    ReplyDelete
  58. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Kisah yang sungguh menarik, saya rasa ini adalah potret dari pendidikan kita saat ini. Cobaan terbesar dari guru adalah menjadi maha tahu, maha kuasa, dan maha sumber dari segala sumber. Dengan dialog di atas, saya dapat memetik bahwa tugas dari guru bukanlah berjalan sesual dengan rel yang ia ciptakan sendiri. Melainkan, guru harus mampu membangun rel bersama, yaitu dengan siswa, orangtua, masyarakat. Dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut maka guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang lebih mudah, mulus dan nyaman.

    ReplyDelete
  59. Aristiawan
    177012510125
    PEP B 2017

    Terima kasih prof untuk tulisannya. Tulisan tersebut benar-benar menggambarkan isi hati dari dua belah pihak yaitu guru dan murid. Andai tiap guru dan murid membaca tulisan tersebut, barangkali akan menambah pemahaman satu pihak pada pihak lain. Sekali lagi, tulisan prof benar-benar mewakili isi hati dari pihak murid maupun guru.
    Pelajaran matematika seolah-olah dijadikan hantu untuk menakuti anak-anak, sehingga anak-anak terlebih dahulu mengembangkan perasaan takutnya meskipun belum bertemu dengan matematika. Efek selanjutnya mereka seringkali menghakimi diri bahwa mereka tidak bisa menguasai matematika dan menyerah pada asumsi tersebut. Disinilah peran guru untuk memotivasi dan menciptakan kesadaran bahwa belajar (apapun mapelnya) merupakan sebuah kebutuhan bagi murid, bukan perintah dari guru

    ReplyDelete
  60. Terimakasih bapak atas postingannya yang sangat menggugah hati. Dan saya berharap bahwa semua guru yang ada di Indonesia membaca tulisan bapak ini, saran saya jika perlu saya mohon bapak untuk mengembangkan tulisan ini menjadi buku yang akan dibaca oleh semua guru di Indonesia. Saya mohon izin bapak, apakah boleh untuk membagikan postingan bapak ini ke berbagai social media yang saya miliki? Agar semua guru Indonesia dapat tergugah hatinya.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  61. Alangkah sangat baik jika semua guru Indonesia dapt mengubah pola piker paradigmanya dalam pembelajaran matematika. Saat saya sedang menjalankan kegiatan PPL, dimana observasi guru yang mengajar matematika, dimana beliau hanya banyak berinteraksi dengan siswa yang duduk di depan dan yang tergolong siswa pintar. Sementara siswa di belakang tampak tidak diperhatikan, sehingga saya lihat siswa tersebut juga tidak ikut memberikan perhatian penuh pada pembelajaran saat itu. (guru yang mengajar tersebut sudah tergolong guru yang umurnya sudah tua/senior). Saat saya mulai praktek mengajar, saya ubah keaadan, saya tidak hanya memperhatikan siswa yang tergolong pintar/duduk di depan, hasilnya siswa yang tadi di duduknya di belakang / tergolong tidak pintar, bisa lebih percaya diri mengikuti pelajaran, bahkan mereka ikut aktif mencoba sendiri di tempat duduknya. Ini sungguh membuktikan bahwa perubahan itu perlu.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  62. Saat saya mengajar privat anak SMA, kebanyakan dari mereka mengeluh kepada saya, “Mbak, kami ini idak ngerti belajar matematika di sekolah, guru kami di sekolah itu hanya menjelaskan pelajaran kepada yang pintar, pelajaran matematika idak ado dijelaskan, guru tu cuman menuliskan ringkasan rumus dan contoh, trus dibaca, trus nyuruh kami ngerjakan latihan, sering idak masuk, langsung dikasih soal-soal aja”. Bahwasanya ini membuktikan bahwa sesugguhnya mereka sangat ingin untuk dapat predikat “bisa belajar matematika”, namun terkadang keadaan si guru yang kurang dapat membuat proses pembelajaran di kelas dengan baik. Semoga…semoga…semoga…guru di Indonesia menjadi sebaik-baiknya guru menjalankan amanah sebagai guru dengan baik.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  63. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas postingan bapak yang sangat bermanfaat ini. Postingan ini memberikan gambaran kepada kami calon pendidik bagaimana harus bersikap kepada siswa dan apa saja yang perlu dipersiapkan serta diperbaiki ketika akan mengajar. Saya yang pernah praktik mengajar baik secara non formal maupun yang formal (di sekolah-sekolah) sering kali mengalami kesulitan untuk bisa mendekati sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh guru seperti yang diuraikan pada postingan ini. Hal ini karena banyak faktor salah satunya target materi yang banyak dengan waktu proses belajar mengajar tatap muka yang sedikit. Namun saran untuk membuat blok atau web bisa digunakan sebagai solusi. Sekali lagi terimakasih pak atas postingan ini. Semoga saya khususnya bisa lebih mempersiapkan diri untuk menjadi guru yang insyaAllah terbuka/demokratis, kreatif, dan fleksibel. Aamiin

    ReplyDelete
  64. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    tulisan ini menyadarkan saya, bahwa menjadi guru itu tidak mudah. namun juga tidak terlalu sulit. intinya seorang guru harus dapat menerima kritikan jika ingin menjadi guru yang baik. menjadi guru berurusan dengan tuhan jika salah maka hajablah. bukan hanya didunia tapi juga diakhirat saat didunia ketika mengajarkan pengerjaan suatu rumus yang salah terus anak itu membawanya hingga ke jenjang yang lebih tinggi dan sadar jika pengerjaan yang bertahuntahun ia pahami itu salah, maka ia akan menyalahkan gurunya atau malah mengutuk gurunya disebabkan membuat ia malu ketika menjawab soal didepan teman temannya. dan kutukan itu akan sampai ke ALLAH karna anak tersebut termasuk org di dzolimi jika sudah berurusan dengan akhirat maka hanya allah yang tahu, allahu'alam
    semoga kita semua menjadi pendidik yang senantiasa berlapang dada menerima kritikan, bijak dalam mengambil kesimpulan dan bertawakkal kepada ALLAH

    ReplyDelete