Nov 20, 2014

Hasil Observasi dan Refleksi Pembelajaran Matematika pada kegiatan Lesson Study di Kec. Bantul (20 Nopember 2014)

Oleh Marsigit



Berikut saya sampaikan hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika di sebuah smp swasta model di Kabupaten Bantul, yang saya rekam pada hari Kamis, 20 Nopember 2014. Saya, disamping sebagai Koordinator Lesson Study FMIPA untuk sekolah-sekolah di Bantul, tetapi juga sebagai Pendamping Lesson Studi di SMP Kecamatan Bantul. Untuk menjaga privasi, maka saya tidak menyebut nama sekolah, tidak menyebut nama Koordinator MGMP, dan tidak menyebut nama Guru Model; kecuali hanya nama simbolik saja.

Kegiatan Lesson Studi yang saya observasi adalah kegiatan pada fase Do dan See; yaitu fase menyelenggarakan pbm atau open-class, dan kegiatan refleksi. Kebetulah hari ini karena tg 20, maka ada yang unik dari para guru karena mereka semuanya mengenakan Baju Kebaya dan Sorjan (tradisional Jawa).

Sebelum Observasi (pk 09.00 sd 09.50)

Ramah Tamah:
Sebelum observasi ada kegiatan ramah-tamah dan sedikit komunikasi tentang persiapan yang telah dibuat oleh guru Model. Acara ramah tamah dihadiri oleh Kepala Sekolah, Ketua MGMP, Guru Model, dan dosen Pendamping (saya). Jumlah guru yang hadir sebanyak 20 guru SMP Negeri/Swasta dari Kec Bantul. Yang menjadi Guru Model adalah seorang guru muda (yayasan), lulusan LPTK th 2011. Guru Model belum memunyai pengalaman sebelumnya sebagai guru model (ini adalah pertama kali untuk menjadi guru model pada sebuah kegiatan DO Lesson Study).

Hasil wawancara tak langsung (wawancara informal) dengan Guru Model diperoleh bahwa Guru Model mengindikasikan sebagai berikut:

1. Bahwa Guru Model memunyai pengalaman mengajar selama 2 (dua) tahun. Selama mengajar dia
merasa sudah menerapkan metode inovatif, yaitu selalu mengadakan diskusi kelompok bagi siswa dan menggunakan berbagai alat bantu, termasuk komputer.

2. Untuk kali ini Guru Model akan mengajar berdasar Kurikulum 2013, terutama sumber atau buku teksnya. Kurikulum dan Silabus berdasar Kurikulum 2013 sudah tersedia. Tetapi hingga sekarang sekolah belum mendapatkan Buku Teks dari pemerintah. Maka solusinya adalah dengan mengunduh (down load) dari E-book yang berupa file buku Teks pelajaran Matematika berbasis Kurikulum 2013.

3. Setiap siswa sudah memunyai Laptop sehingga cara menggunakan buku adalah dengan menghidupkan Laptop dan membuka file buku.

4. Guru Model bersama-sama tim pada kegiatan PLAN sudah membuat RPP dan LKS

Identitas PBM:

Sekolah                : SMP
Mata Pelajaran      : Matematika
Kelas/Semester     : VII (tujuh)/ I (satu)
Materi Pokok       : Garis dan Sudut
Alokasi Waktu      : 1 pertemuan (2 x 40 menit)
Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Pembelajaran , dan Penilaian terekam dalam dokumen RPP.

Pendamping menemukan secara khusus metode yang tertulis di RPP adalah : "Model Pembelajaran Discovery Learning"; tetapi Sintak pada Langkah-langkah Pembelajaran meliputi : Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Data, Mengasosiasi, dan Mengomunikasi (Metode Saintifik). Sintak juga tidak tercantum di LKS, artinya LKS belum memuat langkah-langkah seperti yang ditulis di RPP.

Kegiatan Do dan Observasi PBM: (pk 09.50 sd pk 11.10)

Berikut beberapa aktivitas yang terekam:


(Photo by Aslan)

Kegiatan SEE (Refleksi) (Pk 11.10 sd 12.30):

Kegiatan SEE atau Refleksi di pimpin oleh Ketua MGMP, didampingi Kepala Sekolah, Guru Model dan Dosen Pendamping.

Acara Pertama : Pembukaan oleh Ketua MGMP

Acara Kedua     : Sambutan Kepala Sekolah

Acara Ketiga    : Refleksi dari Guru Model

Berikut adalah Refleksi yang tercatat oleh Pendamping:
1. Guru Model mengucapka terimakasih kepada semua pihak yang mendukung kegiatan LS
2. Guru mengakui masih banyak kekurangan terutama: a. dalam mengatur waktu, b. lupa tidak menginformasikan tentang tujuan pembelajaran
3. Guru Model menyadari terdapat beberapa siswa yang belum terampil dalam bekerjasama di dalam kelompok
4. Guru model menemukan ada siswa yang belum dapat mengukur besar sudut dengan alat bantu
5. Guru Model mengaku terlalu lama dalam kegiatan Apersepsi
6. Guru Model mengaku dikarenakan waktu yang terbatas, maka presentasi siswa kurang dan sebagian presentasi dilakukan oleh Guru Model

Acara Keempat:
Ketua MGMP memimpin kegiatan diskusi meliputi tanggapan dan saran dari guru observer yang lain dengan semangat bukan untuk menghakimi Guru Model, tetapi untuk mencari solusi bersama meningkatkan kualitas pembelajaran.

1. Guru L: Ada kelompok yang semua anggotanya menghidupkan Laptop sehingga diskusinya kurang efektif, bagaimana solusinya?
Solusi yang muncul: 1. Agar yang menghidupkan Laptop 2 siswa saja, tetapi menggunakan Laptop penting untuk melihat buku electronik sebagai sumber belajar; 2. Perlu penyesuaian tata letak meja dan kursi untuk berdiskusi; 3. Ketua MGMP menyerahkan kepada guru masing-masing untuk menentukan solusinya berdasar konteks dan pengalamannya.

2.  Guru M: Kenapa untuk menemukan sudut-sudut dalam sepihak dan luar berseberangan, guru menyarankan agar siswa menggunakan Busur Derajat. Menurut Guru M, Busur Derajat tidak diperlukan karena sudut-sudut yang ditemukan tidak secara spesifik menunjuk kepada besar sudut. Untuk itu guru M menyarankan agar digunakan alternatif alat bantu/media misalnya menggunakan "mal" sudut yang sudah dipotong-potong.

3. Guru S: Sebetulnya bagaimana menentukan anggota kelompok? Apakah ditentukan sebelum pbm atau pada saat pbm sudah mulai?
Tanggapan Guru W: Penentuan anggota kelompok seyogyanya sejak awal; agar siswa dapat diskemakan sebelum pbm.
Tanggapan Guru I: Saya menemukan ada kecanggungan komunikasi atau komunikasi yang tidak lancar karena di dalam kelompok terdapat perbedaan gender. Apakah tidak sebaiknya, anggota kelompok laki-laki semua atau perempuan semua.
Tanggapan Guru W: Perbedaan gender dalam kelompok tidak masalah; justru jika terdapat berbeda-beda kemampuan dalam kelompok hasilnya akan lebih baik.
Tanggapan Ketua MGMP: Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa anggota kelompok hendaknya heterogen agar dapat saling membelajaran.

4. Ketua MGMP: Bagaimana tentang penggunaan Busur Derajat, kenapa tidak ada alternatif lain?
Jawaban Guru I: Dalam kegiatan PLAN sebetulnya kelompok guru tim model sudah mendiskusikan, tetapi Guru Model sudah membuat RPP dan LKS secara lengkap dan baik, sehingga akhirnya kami pun ingin menyobanya seperti apa?
Tanggapan Ketua MGMP: Itulah pentingnya kegiatan Penelitian, untuk meneliti dengan metode yang bagaima untuk mengajar Garis dan Sudut, khususnya untuk menemukan sudut-sudut dalam sepihak dan sudut luar berseberangan; agar kita dapat memeroleh berbagai alternatif metode pbm.

5. Guru I: Bagaimana memfasilitasi bermacam-macam kemampuan yang ada pada kelompok; karena saya melihat ada anggota kelompok yang pandai tetapi malah dianggap mengganggu oleh anggota yang lain? (untuk pertanyaan ini tidak ada yang menjawabnya)

6. Guru W: Bagaimana tentang jumlah LKS? Apakah setiap anak perlu mendapat LKS masing-masing, atau satu kelompok hanya mendapat dua LKS atau bahkan satu saja?
Jawaban Guru I: Setiap kelompok dapat memeroleh banyak LKS secara fleksibel bergantung kondisinya, bisa 1, 2, 3 atau 4 LKS.

7. Guru W: Bagaimana tentang pencapaian Kurikulum? Jika terlalau banyak memberi kesempatan kepada siswa, maka Kurikulumnya tidak selesai?

8. Ketua MGMP: Bagaimana cara meningkatkan kemamuan Menjelaskan /Menerangkan bagi para siswa; karena sebagian siswa mengalami kesulita ketika disuruh Menerangkan matematika?
Tanggapan Guru I: Siswa diberi kesempatan maju ke depan kelas untuk menerangkan matematika.

Acara kelima:
Ketua MGMP menyilahkan Guru Model untuk menanggapi segala macam pertanyaan dan tanggapan.
Guru Model: sementara cukup dulu, karena perlu mendengarkan tanggapan dari Dosen Pendamping

Acara keenam:

Tanggapan Dosen Pendamping (Marsigit)

Sebelum menanggapi semua persoalan yang muncul termasuk mendeskripsikan apa yang terjadi di kelas, Dosen Pendamping terlebih dulu memberikan pengalaman mengamati sebuah kelas pembelajaran matematika di Inggris beberapa tahun yang lalu, tentang bagaimana seorang guru mampu mengelola kelas untuk melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika.

Kesimpulan dari uraian tersebut adalah agar guru mampu mencari solusi dari semua persoalan tersebut di atas, intinya guru perlu melakukan overhauled atau perubahan persepsi atau perubahan paradigma, yaitu dengan cara memromosikan: Matematika Sekolah, Pembelajaran Konstruktivisme, Matematika yang Plural, Belajar adalah membangun atau menkonstruksi, Mengajar adalah kegiatan riset atau to teach is to research, dst.

Secara spesifik guru diminta membaca atau membuka posting :

http://powermathematics.blogspot.com/search?q=menentukan+kurikulum

Sebagai referensi atau gambaran, berikut saya cuplikan dari konten di atas, yang menggambarkan apa yang terjadi jauh di sana yaitu disebuah sekolah di tenggara kota London (sekitar 15 tahun yang lalu):

"Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin guru bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya. Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut: Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok. Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa. Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran. Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya. Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras. Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS. Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi. Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.
Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun. Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Referensi di atas mengajarkan kepada kita bahwa untuk dapat melayani kebutuhan siswa dengan aneka perbedaan kemampuan, maka seorang guru matematika perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Menggunakan matematika yang tepat untuk siswa smp yaitu Matematika Sekolah, seperti yang diberikan oleh Ebbutt dan Straker (1995) bahwa hakikat Matematika Sekolah adalah sebagai aktivitas atau kegiatan: a. mencari pola atau hubungan, b. menyelesaikan masalah, c. melakukan investigasi, d. komunikasi.

2. Mendefinisikan "belajar" sebagai "membangun konsep/teori/hidup", yaitu menggunakan pendekatan konstruktivisme, di mana siswa sendirilah yang pada hakikatnya melakukan kegiatan belajar.

3. Mendefinisikan "mengajar" sebagai "melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika". Agar mampu melayani kebutuhan belajar siswa maka guru perlu secara terus menerus melakukan kegiatan riset tentang kegiatan pembelajarannya. Maka pada tahap selanjutnya kita harus menuju atau bisa mendefinisikan bahwa sebenar-benar mengajar adalah kegiatan riset; atau "to teach is to research".

Berdasarkan uraian yang sudah saya buat, maka berikut ini saya akan menanggapi kegiatan Guru Model dan juga pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh guru observer lainnya, dengan semangat bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai sarana silaturakhim bidang pendidikan matematika dengan semangat saling asah, sih dan asuh, sebagai berikut:

Secara umum, saya ingin menyampaikan apresiasi yang tinggi dan salut kepada Guru Model, yang menjadi guru masih relatif muda tetapi sudah menunjukkan usaha yang keras dan hebat untuk menjadi guru yang inovatif.

Namun saya ingin memberi catatan dan komen agar usaha mencapai guru inovatif dapat diwujudkan sebaik-baiknya, sebagai berikut:

1. RPP sudah cukup bagus; hanya metode saintifik perlu disebutkan secara eksplisit.

2. LKS disamping perlu memuat identitas sekolah, nama mapel, standard kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, dst; tetapi juga perlu memuat Informasi tentang bagaimana para siswa bekerja menggunakan LKS dan bekerja di dalam kelompoknya. LKS perlu disusun berdasarkan Sintak atau langkah-langkah sesuai dengan yang disebutkan di RPP (metode saintifik). Fungsi LKS adalah untuk membantu atau melayani kebutuhan belajar matematika agar siswa mampu membangun/menemukan konsep matematika. LKS bukanlah hanya kumpulan soal. Oleh karena itu yng sebenarnya berhak membuat LKS adalah guru itu sendiri.

3. Apersepsi sudah cukup baik yaitu dengan cara mengingatkan para siswa tentang apa yang sudah dipelajari; namun Apersepsi masih dilakukan secara Klasikal dan Teacher centered. Ingat bahwa Apersepsi adalah kesiapan siswa, jadi dia milik siswa, dan tidak hanya seorang siswa tetapi semua siswa. Sehingga Apersepsi hendaknya berlaku untuk semuanya sesuai dengan prinsip "Education is for all". Jadi Apersepsi bukan hanya untuk siswa yang di depan saja. Untuk itu guru perlu mencari alternatif kegiatan untuk Apersepsi misalnya dengan membuat soal kecil yang harus dikerjakan oleh semua siswa tanpa kecuali.

4. Diskusi Kelompok sudah berjalan dengan baik, tetapi secara Akademik masih mempunyai problem mendasar, karena LKS hanya dibuat 1 (satu) macam untk semua siswa; sehingga berpotensi menimbulkan kebosanan bagi mereka yang sudah selesai atau bagi siswa yang relatif pandai (karena mereka harus menunggu yang lain).

5. Metode mengajar guru didominasi dengan Expektasi yang sangat tinggi untuk mengarahkan semua pendapat siswa agar sama dengan satu pendapat guru. Artinya, guru menerapkan paradigma hidup "walaupun", artinya walaupun terdapat banyak siswa, tetapi guru menggunakan matematika yang tunggal. Ke depan, perlu dicoba agar guru perlu memromosikan paradigma "karena", yaitu karena siswanya bermacam-macam, maka siswa dapat memelajari bermacam-macam matematika pula. Matematika yang tunggal adalah matematika yang ada di dalam pikiran/matematika formal/matematika/aksiomatik/matematika yang diandaikan/matematika murni/matematika perguruan tinggi/matematika untuk orang dewasa. Sedangkan Matematika yang tidak tunggal adalah matematika yang banyak/matematika yang konkret/matematika dunia nyata/matematika dalam kehidupan sehari-hari/matematika untuk anak kecil/matematika intuitif/matematika sekolah.

6. Akibat guru memunyai Ekspektasi yang sangat tinggi untuk bermatematika tunggal; maka mangakibatkan munculnya fenomena misalnya guru sangat berusaha keras (semi berteriak-teriak) untuk memeroleh perhatian siswa; guru menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar dan sumber kebenaran (walaupun pernah terjadi guru melakukan kesalahan-artinya ini adalah potensi untuk menjadi tidak konsisten); fenomena yang lain adalah guru mengharapkan jawaban Choir dan jawaban pendek untuk setiap pertanyaannya; fenmena yang lain adalah guru menjadi sangat tergesa-gesa untuk menyelesaikan target kurikulum; guru mengimplementasikan very strong guided teaching; guru merasa tidak memunyai waktu yang cukup untuk memberikan waktu kepada siswa untuk melakukan presentasi di muka kelas sehingga posisi murid cenderung untuk mengamini pendapat guru.

7. Untuk pertanyaan dan tanggapan guru tentang pembentukan kelompok, banyaknya LKS dan kemampuan memahami matematika, dengan sendirinya terjawab dari kasus yang saya angkat dari pbm di London. Untuk memfasilitasi kebutuhan siswa, maka bentuk dan anggota kelompok dapat beragam; demikian juga konten dari LKS. Seperti yang terjadi di Inggris, dalam satu kelas pembelajaran matematika, terdapat 6 Kelompok Belajar terdiri 2 kelompok beranggotakan 2 siswa, 3 kelompok beranggotakan 4 siswa, dan 1 kelompok besar beranggotakan 16 yang selanjutnya akan bekerja bersama-sama dengan guru. Untuk setiap kelompok disediakan sejumlah LKS berseri LKS1, 2, 3..dst. Jadi guru memunyai stok LKS. Dengan beragam kelompok dan beragam LKS maka tidak akan ada lagi siswa yang pandai (the Quicker) harus menunggu siswa yang lambat (the Slower).

8. Untuk pertanyaan guru tentang bagaimana cara menyelesaikan target Kurikulum padahal waktunya terbatas? Jawaban saya adalah "sebesar-besar dua gunung ilmu yang kita bawa di atas pundak kita untuk kita berikan kepada siswa, maka itu semua akan mubazir, jika siswa lari menjauh atau melarikan diri dari kita; tetapi sedikit saja saya memberikan ilmu kepada siswa, maka akan sangat efektif dan berguna jika siswa berjalan mendekati atau menuju saya, bahkan mereka akan mencari sendiri ilmu yang lebih banyak lagi"

9. Agar guru tidak dihantui dan merasa dikejar-kejar waktu untuk penilaian, maka guru perlu mencari alternatif penilaian atau mengubah paradigma menuju ke Penilaian Authentic dengan Portfolio Siswa dan Keeping Record. Tepatnya terminologi yang menunjang adalah lebih baik Asesmen dari pada sekedar Evaluation.

8. Secara spesifik saya sangat memuji dan menilai tinggi kemampuan para guru untuk melakukan observasi serta mengungkap fenomena pedagogik yang terjadi di kelas, sehingga terjadi dialog saling asah, asih dan asuh yang sangat baik. Mungkin hal ini disebabkan karena sudah berpengalaman melakukan kegiatan Lesson Study beberapa tahun, sementara saya sendiri baru kali ini mendampinginya. Atmosphere ini adalah harta karun yang tak ternilai harganya, dan saya mempunyai ekpektasi bahwa untuk waktu-waktu mendatang, para guru yang terlibat dalam Lesson Study seperti di Kabupaten Bantul ini akan leading atau memimpin guru-guru dari tempat lai dalam hal melakukan inovasi pendidikan. Semoga. Amin.

9. Ketahuilah bahwa guru-guru di Dunia Barat, untuk satu atau dua kali mengajar, mereka kemudian sudah mampu membuat Karya Ilmiah/Makalah/Artikel yang dapat di Seminarkan atau/kemudian dikirim ke jurnal/atau membuat buku, kenapa? Sekali lagi karena mereka menerapkan paradigma "to teach is to research". Maka dalam setiap pembelajaran, dokumentasi segala macam aktivitas menjadi sangat penting misalnya foto dan video atau arsiprsip. 

10. Secara spesifik, saya sangat menghargai peran Ketua MGMP yang telah mampu memotivasi dan menggali problematika pedagogik dan berusaha mengomunikasikan untuk mencari solusinya.

11. Secara khusus, saya juga menyampaikan penghargaan kepada Kepala Sekolah MTs Muhammadiyah Unggulan Bantul dan segenap guru dan karyawan. Sebagian guru matematika di sekolah tersebut dan juga Guru Modelnya adalah mantan murid-murid saya ketika di S1 Pendidikan Matematika FMIPA UNY.

Demikian, selamat berjuang para guru. Amin

Marsigit
Dosen Pendamping, FMIPA UNY




35 comments:

  1. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, pembentukan kelompok sebaiknya dilakukan sejak awal pembelajaran. Pembentukan kelompok ini dibuat seheterogen mungkin sehingga pembelajaran lebih efektif. Yang sudah bisa mengajari yang belum bisa, yang aktif bisa membantu yang pasif, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  2. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam diskusi kelompok seharusnya dilakukan dengan anggota dipilih secara heterogen. Agar pembelajaran berjalan efektif, seharusnya guru bisa mengatur pembagian kelompok dari awal dengan telah mempersiapkannya terlebih dahulu

    ReplyDelete
  3. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Guru juga harus membimbing agar di dalam kelompok bisa berkomunikasi degan baik, tidak hanya siswa pandai yang aktif dan membiarkan yang lain pasif, hal itu yg biasa menyebabkan dianggap mengganggu karena terlalu mendominasi

    ReplyDelete
  4. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Guru semestinya bisa menentukan atau menciptakan pembelajaran yang inovatif, sehingga muridnya bisa tertarik dalam mengikuti pembelajaran. jangan sampai murid bosan atau tidak tertarik sama sekali, hal itu menyebabkan tujuan pembelajaran tidak bisa tercapai

    ReplyDelete
  5. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Sangat setuju dengan beberapa solusi, terutama tentang apersepsi. Sebagaimana masih sering terjadi, bahwa apersepsi biasanya masih teacher centered. Padahal seharusnya pada bagian ini seharusnya kita menguji kesiapan siswa, perlunya pencanangan apersepsi yang sesuai dengan tujuannya agar pencapaian dari pembelajaran bisa dicapai. Perlunya pemahaman guru dan siswa akan apersepsi ini diharapkan agar bisa melaksanakan sebagaimana mestinya.

    ReplyDelete
  6. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Lesson study adalah upaya untuk meningkatkan kualitas mengajar seorang guru agar pembelajaran berjalan dengan efektif. Baik itu dalam penyampaian materi, pengelolaan kelas maupun dalam penilaian. Lesson study di universitas adalah hal yang sangat familiar khususnya universitas di bidang pendidikan. Dalam mata kuliah misalnya, kegiatan lesson study dilakukan oleh mahasiswa sebagai guru model dan mahasiswa lain yang berperan sebagai siswa. Guru model mempersiapkan lesson study mulai dari instrumen pembelajaran, mengajar, hingga assessment atau penilaian. Selama proses berlangsung mahasiswa yang lain serta dosen memperhatikan sekaligus menilai kelebihan dan kekuranannya. Kemudian mahasiswa yang lain serta dosen memberi masukan kepada guru model dan dilakukan diskusi atau tukar pikiran tentang bagaimana proses pembelajaran yang baik.
    Lesson study yang sangat terkenal adalah lesson study dari Jepang. Negara Jepang memang dikenal sebagai negara yang aktif mempublikasikan lesson study mereka. Proses pembelajaran di Jepang menggunakan sistem pembelajaran berpusat pada siswa atau student center. Tidak seperti di iIndonesia yang mayoritas gurunya menggunakan model pembelajaran ceramah atau techer center. Pembelajaran dengan sistem student center akan membuat siswa aktif berpikir dan mengembangkan kekreatifitasan mereka. Sehingga siswa mampu memahami tanpa merasa terbebani. Selain itu kegiatan diskusi di dalamnya menjadikan siswa mampu berinteraksi dengan teman-temannya sehingga menumbuhkankemampuan komunikasi siswa. Hal inilah yang menjadikan model pembelajaran student center dianjurkan dalam pembelajaran. Oleh karena itu banyak lesson study tentang model pembelajaran ini.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  7. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Metode Lesson Study bagi saya sangat menarik dikarenakan mengkombinasikan dengan berbagai metode dari mulai bahan ajar, metode guru, asesmen pada siswa dan sebagainya. Menurut saya pendekatan lesson study tidak hanya berfokus pada pengembangan aspek kognitif siswa, namun ada pula upaya peningkatan keahlian pada guru. Selamat pada guru di SMP Kec. Bantul yang telah berhasil mendampingi siswa dalam kegiatan Lesson Study. Saya memiliki suatu pandangan bahwa kegiatan Lesson Study saat guru mendidik dan mengajar suatu mata pelajaran dengan level kesulitan tertentu, siswa tidak hanya dituntut untuk mengembangkan aspek kognitif. Namun guru juga dituntut dapat memahami dan menghargai kemampuan masing-masing siswa pada mata pelajaran tersebut. Semoga ini menjadi langkah awal untuk mengatasi masalah kesulitan belajar pada siswa dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  8. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Prof. Marsigit atas postingannya. Sebagai seseorang yang pernah mengajarkan matematika di sekolah, saya dan teman-teman saya yang lain sering menghadapi masalah seperti yang Profesor jelaskan pada poin 8 (tangapan terhadap guru) yakni kesulitan menyelesaikan target kurikulum dalam waktu yang terbatas. Di sekolah sering kali terjadi hal seperti ini. Ternyata, solusi dari Prof. Marsigit ialah sampaikanlah ilmu walaupun sedikit tetapi efektif yang membuat siswa tertarik untuk mempelajari ilmu tersebut. Jika siswa tertarik, maka ia akan menuju kepada kita, bahkan akan merasa butuh akan ilmu tersebut dan akan mencari sendiri ilmu yang lebih banyak lagi.

    ReplyDelete
  9. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    RPP adalah rancangan pembelajaran yang memuat langkah-langkah dalam pembelajaran agar kita dapat mengajar secara runtut dan sistemastis. Namun saat ini, RPP hanya dijadikan formalitas belaka. RPP akan dibuat selengkap-lengkapanya, sebagus-bagusnya, dan seruntut-runtutnya, menjelang penilaian/asessment dari kepala sekolah atau pengawas. Setelah itu RPP hanya menumpuk pada loker-loker, tidak disentuh, dan menjadi sampah.
    Sesungguhnya dalam RPP memuat hal-hal yang sangat penting seperti standar kompetensi yang harus dicapai, apersepsi, penilaian, bahan ajar, dan lainnya. Apersepsi mengarahkan guru untuk dapat memulai pembelajaran dengan baik. Saya setuju dengan apersepsi yang dikatakan oleh Bapak Marsigit, bahwa apresepsi harus berlaku untuk semua siswa. Pemberian kuis-kuis kecil atau soal-soal singkat mengenai materi pada pertemuan sebelumnya akan melibatkan semua siswa tanpa terkecuali. Dalam penilaian juga akan lebih baik menggunakan penilaian autentic dengan portofolio. Dengan begitu, progress para siswa dapat terlihat dan terkontrol dengan baik. Siswa yang tidak berprogress atau malah mengalami kemunduran akan mendapat perhatian yang lebih dari guru.

    ReplyDelete
  10. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Terima kasih Prof atas informasi yang diberikan. Hemat saya tentunya masing-masing guru memiliki cara yang berbeda-beda untuk membelajarkan siswanya. Dalam lesson study ini, para guru bisa saling sharing tentang metode yang mereka gunakan dan diharapkan dapat menemukan metode mana yang paling cocok untuk menanamkan konsep matematika di kelas masin-masing. Tentunya tidak ada guru yang sempurna, namu semangat untuk memerpabaiki kualitas diri sebagai seorang pendidik harus terus ditingkatkan sehingga nantinya bia menjadi guru yang profesional di bidang masing-masing.

    ReplyDelete
  11. Junianto
    17709251065
    PM C

    Lesson Study sangatlah penting diterapkan di Indonesia. Dengan cara ini guru akan mengetahui kemampuan mereka mengajar dengan adanya evaluasi dari guru lain. Dengan demikian, guru dituntut untuk terus melakukan perbaikan setelah mendapatkan saran dan masukan setelah melakukan pembeljaran di kelas. Inovasi dalam pembelajaran, baik dari segi metode, media maupun fasilitas yang lain sangat dibutuhkan untuk membuat iswa tertarik dan tidak bosan dengan pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete
  12. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Bismillah.
    Postingan bapak kali ini, menggambarkan proses pembelajaran Lesson Study. Disini kita dapat mengetahui kira kira hasil dari Lesson Study itu seperti apa. Dan pada postingan ini ada refleksi dan langkah-langkah Lesson Study, ini juga akan menjadi pengetahuan tambahan buat saya, ketika nantinya saya ingin menerapkan Lesson Study. Selain itu referensi di atas mengajarkan kepada kita bahwa untuk dapat melayani kebutuhan siswa dengan aneka perbedaan kemampuan, maka seorang guru matematika perlu melakukan banyak hal. Misalnya mendefinisikan "belajar" sebagai "membangun konsep/teori/hidup", yaitu menggunakan pendekatan konstruktivisme, di mana siswa sendirilah yang pada hakikatnya melakukan kegiatan belajar. Dan mendefinisikan "mengajar" sebagai "melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika".

    ReplyDelete
  13. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dari ulasan Bapak pada postingan kali ini menggambarkan masih banyak aspek-aspek tak terlihat yang seringkali tidak menjadi prioritas. Disaat guru akan dinilai atau dievaluasi, katakanlah oleh Kepala Sekolah misalnya, seringkali hanya perangkat yang dipersiapkan. Terkhusus untuk penggunaan laptop, saya pribadi sering mengalami kesulitan mengontrol penggunaan laptop setiap siswa pada saat PBM berlangsung. Beberapa siswa malah fokus ke laptop sendiri dan mengabaikan diskusi kelompok. Saya setuju dengan solusi yang diberikan, hanya satu laptop yang dipakai bersama dalam satu kelompok.

    ReplyDelete
  14. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Berdasarkan postingan bapak mengenai hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika pada kegiatan lesson study yang mengulas bagaimana keadaan kondisi jalannya proses pembelajaran yang terjadi, apa saja yang masih menjadi kelemahannya serta bagaimana tanggapan serta saran yang diberikan sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi.
    Catatan dan komen diakhir ulasan tentang beberapa usaha agar mencapai guru inovatif dapat diwujudkan sebaik-baiknya mulai dari perangkat mengajar, metode yang diterapkan, bagaimana menentukan kelompok, dan semua yang mendukung proses belajar mengajar agar terlaksana dengan baik.

    ReplyDelete
  15. Vidiya Rachmawati
    17709251019

    Berdasarkan hasil obsservasi dan refleksi lesson study di salah satu SMP unggulan di Bantul, didapat beberapa poin yang harus menjadi perhatian bagi guru maupun calon guru. Yang pertama adalah hakikat matematika sekolah bawa siswa adalah subjek utama pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Ebbutt dan Straker (1995) bahwa hakikat Matematika Sekolah adalah sebagai aktivitas atau kegiatan: a. mencari pola atau hubungan, b. menyelesaikan masalah, c. melakukan investigasi, d. komunikasi. Poin selanjutnya bahwa guru mampu mendefinisikan belajar sebagai kegiatan siswa dalam membangun konsep dan mengajar sebagai bentuk pelayanan dan penyediaan fasilitas bagi siswa.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum prof.
    Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kegiatan pembelajaran seringkali atau bahkan selalu ditemukan permasalahan. Sebaik apapun persiapan yang dilakukan oleh seorang guru pasti ada sesuatu yang perlu dievaluasi. Hal ini menyangkut keterbatasan seorang guru sebagai manusia yang terbatas. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas guru maupun kualitas pembelajaran diperlukan evaluasi pembelajaran secara bersama-sama dengan cara berdiskusi. Hal ini dapat dilakukan dengan pengamatan terhadap proses pembelajaran, kemudian dilakukan refleksi secara bersama untuk menemukan solusi pada setiap permasalahan. Kegiatan ini dapat disebut sebagai lesson study dimana setiap guru dapat melakukan refleksi terhadap pembelajaran, saling memberi masukan berdasarkan pengalamannya masing-masing, sehingga dapat ditemukan solusi yang sesuai untuk setiap permasalahan

    ReplyDelete
  17. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Terkait dengan Lesson Study, kebanyakan guru di Indonesia masih kerap sekali menganggap bahwa lesson study tidak terlalu dipentingkan dalam pengajaran di kelas. Padahal, jika kita lihat, lesson study sangatlah membantu kegiatan belajar siswa di kelas. Selain itu juga membantu guru dalam memberikan permasalahan yang ada dengan waktu yang relatif sedikit dibandingkan tanpa adanya lesson study. Adanya lesson study disini dapat membantu guru untuk menarik perhatian siswa dalam belajar, karena jika guru tidak menyiapkan lesson study, kebanyakan dari mereka hanya menyampaikan apa saja yang dipikiran saat itu juga sehingga pembelajaran bisa dikatakan akan lebih membosankan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  18. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, guru akan menemukan berbagai masalah yang akan terjadi berkaitan dengan siswa dan pembelajaran. Lesson study berfungsi untuk memecahkan masalah dan mencari solusi untuk masalah tersebut. Pada postingan ini disebut-sebut kata “ekspektasi”. Ketika memasuki ruang kelas, guru seharusnya tidak memiliki ekspektasi apa pun terhadap murid. Hal itu tidak diperkenankan dalam pembelajaran, karena secara mental akan memengaruhi proses belajar mengajar. Dengan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap siswa, akan menyebabkan guru berusaha agar siswa memiliki persepsi atau pendapat yang sama dengan guru. Hal ini akan berakibat pada dominasi guru di kelas, yang tentunya akan membatasi ruang gerak siswa dalam mengambil tindakan ataupun berpikir

    ReplyDelete
  19. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    saya setuju bahwa untuk memahami konsep sudut-sudut dalam sepihak, sudut-sudut berseberangan dan sudut-sudut lain yang terbentuk dari hasil perpotongan sebuah garis dan 2 buah garis sejajar, sebenarnya tidak memerlukan busur.

    ReplyDelete
  20. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Dengan memahami pembelajaran yang dilakukan oleh guru dari salah satu kota yang ada dilondon tersebut, saya berfikir ternyata dalam pembelajaran kita tidak selalu harus terfokus kepada satu tujuan saja untuk semua siswa karena pada dasarnya setiap siswa memiliki kemampuan pemahaman dan daya tangkap yang berbeda-beda. Jadi kita harus membungkus materi dan tujuan pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan setiap karakter siswa.

    ReplyDelete
  21. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menanggapi "Penyusunan LKS masih belum memunculkan sintak pembelajaran saintifik" saya ingin berbagi pengalaman dalam menyusun bahan ajar sebagai syarat riset desain saya sewaktu s1. Menyusun bahan ajar, modul, LKS dan sebagainya memang sulit. Terlebih jika harus memunculkan suatu pendekatan penyusunan atau metode mengajar yang nantinya akan dipakai. Butuh beberapa instrumen yang mendasari penyusunan seperti indikator pendekatan pengembangan yang dipakai, ataupun indikator metode pembelajaran yang dipakai. Dalam menuangkan materi, permasalahan matematis, serta latihan dan pengayaan bagi siswa sesuai dengan pendekatan dan metode yang dipakai, bisa jadi guru mengira bahwa beliau telah melakukan yang terbaik dan merasa bahwa semua indikator sudah muncul atau sintak pembelajaran sudah muncul di bahan ajar, modul atau LKS yang disusun. Oleh karena itu, perlu adanya validasi produk kepada para ahli untuk dapat memunculkan sintak pembelajaran serta indikator metode dan pendekatan pengembangan di produk yang dihasilkan. Sebagi tambahan, sebenarnya dalam menyusun modul, bahan ajar maupun LKS kita dapat menonjolkan kemampuan tertentu yang perlu diasah dari siswa, misalnya pemecahan masalah, kita memperkaya masalah matematis dalam produk yang dikembangkan. atau bahkan kita juga dapat memasukkan kecondongan belajar siswa ke dalam produk yang akan dibuat. Dan semua itu tentunya memerlukan keterampilan dan ketelatenan yang tidak mudah. Mari belajar menjadi yang lebih baik demi pendidikan Indonesia yang makin maju

    ReplyDelete
  22. Benar bahwa semangat riset para guru di Indonesia perlu suntikan yang ekstra. Keanekaragaman baik hayati, hewani, karakter siswa sebenarnya merupakan objek penelitian yang dapat dieksplor sedalam-dalamnya. Memang mengajar sambil meneliti butuh ketelatenan dari guru yang bersangkutan, namun seperti yang telah dipaparkan oleh Pak Marsigit, hal ini dapat diantisipasi dengan merekam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan memfokuskan pembelajaran terhadap metode dan fenomena yang terjadi di kelas untuk selanjutnya dicari solusinya dan diterapkan selama beberapa kali sampai ada hasil yang lebih stagnan. Jika guru-guru di Indonesia memiliki semangat yang tinggi, tentu masalah dalam pembelajaran berangsur-angsur dapat dicari solusinya berdasarkan pengelaman riset yang dilakukan, bukan hanya mengajar dengan asal mengobati gejala pembelajaran saat itu saja. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  23. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Cukup menarik postingan Bapak kali ini yaitu mengenai hasil observasi dan refleksi pembelajaran Matematika pada kegiatan lesson study di salah satu SMP swasta model di Kabupaten Bantul. Dalam kegiatan belajar mengajar, memang tidak dapat dipungkiri bahwa proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas seringkali menemui kendala dan permasalahan. Meskipun guru telah mempunyai pengalaman mengajar yang cukup lama dan berbagai persiapan telah dilakukan seperti menyusun RPP dan LKS. Namun, masih saja terdapat kendala-kendala saat melaksanakan proses belajar mengajar.
    Untuk itu, memang diperlukan suatu kegiatan untuk mengobservasi, merefleksi dan berdiskusi secara bersama-sama terhadap evaluasi proses belajar mengajar dengan tujuan untuk perbaikan pembelajaran kedepannya. Dan kegiatan lesson study ini merupakan salah satu ikhtiar untuk mencapai peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan saling bertukar pikiran dan bertukar pengalaman, diharapkan guru mampu mencari solusi dari semua persoalan yang ditemui saat proses belajar mengajar.

    ReplyDelete
  24. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap maksud dalam materi akademis yang mereka terima, mampu mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya serta mampu mengaplikasikannya ke dalam dunia nyata. Kemampuan dari masing-masing siswa beraneka ragam sehingga dibutuhkan LKS untuk menentukan tolok ukur kemampuan siswa. Menurut postingan di atas juga siswa harus dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping yang sangat bermanfaat sekali. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa yang mengalir dari tahun ke tahun, sehingga guru dapat melakukan evaluasi terhadap masing-masing siswanya dengan terstruktur.

    ReplyDelete
  25. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb. Saya sangat mengaparesiasi ketika seorang guru mengakui dirinya mempunyai kekurangan ketika mengajar.Hal ini membuat seorang guru untuk lebih giat mencari apa yang kurang .Lesson study sangat menarik karena dapat memberi peluang kepada guru untuk mengembangkan pengetahuan pedagogis secara optimal. Hal ini disebabkan karena melalui LS guru secara terus menerus berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menerjemahkan kurikulum. Guru dapat secara terus menerus memikirkan bagaimana kualitas pertanyaan yang mampu dipecahkan oleh siswa dalam pembelajaran. Pertanyaan tersebut diharapkan dapat memotivasi siswa untuk mempertahankan minat belajarnya secara konsisten. Guru juga memikirkan bagaimana menggunakan debat agar mampu memaksimalkan partisipasi siswa dalam diskusi dan bagaimana mendorong siswa untuk dapat membuat catatan yang baik dan melakukan refleksi diri.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  26. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Lesson study bukanlah metode pembelajaran, Lesson study adalah kegiatan yang dilakukan seorang guru atau sekelompok guru untuk merencanakan, mengajar, mengobservasi, meninjau kembali dan melaporkan hasilnya pada aplikasi dalam pengajaran individu. Lesson study memberikan banyak sekali manfaat, seperti membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya, memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum, dan membantu guru memfokuskan bantuannya pada pembelajaran siswa.

    ReplyDelete
  27. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Kegiatan Lesson study merupakan salah satu upaya konkrit yang dapat dilakukan ole guru, guna melihat sejauh mana keefektifitasan pembelajaran yang telah dilakukan guru. Sehingga nantinya guru dapat melakukan berbagai perubahan dalam metode ajarnya. Selain itu Lesson study juga melatih guru, agar legowo menerima kritik dari orang lain, demi pembelajaran yang lebih baik kedepannya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  28. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    lesson study merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kinerja guru secara kolaboratif. Permasalahan salah satu permasalahan guru dalam pembelajaran adalah minimnya kesadaran untuk mengetahui perbedaan kemampuan dan gaya belajar siswa. Guru kerap kali terjebak ke dalam pembelajaran yang menyamakan kemampuan dan gaya belajar siswa. Solusi yang sangat menarik jika menggunakan LKS dan Portofolio sebagai alat yang memberi guru ruang untuk mengatasi perbedaan siswa.

    ReplyDelete
  29. Melalui postingan ini, saya dapat mengambil makna bagaimana seorang guru dalam melayani kebutuhan siswa dengan aneka perbedaan
    kemampuan, bagaimana usaha seorang guru untuk mencapai predikat guru yang inovatif, semoga saya bisa terus semangat mengubah diri ini menjadi guru yang ideal tersebut. Terima kasih bapak atas postingannya yang meninspirasi saya dan calon guru bijak lainnya.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  30. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari hasil observasi dan refleksi yang disampaikan oleh Prof. Marsigit dalam postingan ini. Salah satu poin penting yang menurut saya sangat menarik adalah bahwa seharusnya guru tidak berekspektasi berlebihan kepada siswa dengan mengharapkan siswa mendapatkan pengetahuan yang sama atau tunggal sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Hal ini menyebabkan siswa tidak akan dapat mengembangkan potensi yang ia miliki secara maksimal. Pasalnya guru masih menerapkan paradigma "walaupun", yakni walaupun siswanya beragam namun pengetahuan yang diperoleh harus tunggal. Paradigma seperti ini seharusnya sudah mulai ditinggalkan oleh guru dan di ganti dengan paradigma "Karena", yakni karena siswanya beragam, maka pengetahuan yang diperolehpun juga dapat beragam. Dengan paradigma ini siswa akan lebih optimal dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  31. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Penggunaan laptop dalam suatu kelompok sebaiknya hanya satu atau dua buah saja saya rasa sudah cukup, karena jika semua anggota kelompok menghidupkan laptop maka proses diskusi akan terhambat karena masing-masing anggota kelompok tidak dapat berdiskusi secara maksimal.

    ReplyDelete
  32. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Bagaimana memfasilitasi bermacam-macam kemampuan yang ada pada kelompok; karena saya melihat ada anggota kelompok yang pandai tetapi malah dianggap mengganggu oleh anggota yang lain? Karena kelompok yang dibentuk memang harus heterogen, maka anggota kelompok yang bisa saja terdiri dari berbagai tingkat akademis baik yang tinggi maupun rendah harus diberi perhatian lebih oleh guru pada jalannya proses diskusi agar tidak ada dominasi dari salah satu siswa.

    ReplyDelete