Nov 20, 2014

Hasil Observasi dan Refleksi Pembelajaran Matematika pada kegiatan Lesson Study di Kec. Bantul (20 Nopember 2014)

Oleh Marsigit



Berikut saya sampaikan hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika di sebuah smp swasta model di Kabupaten Bantul, yang saya rekam pada hari Kamis, 20 Nopember 2014. Saya, disamping sebagai Koordinator Lesson Study FMIPA untuk sekolah-sekolah di Bantul, tetapi juga sebagai Pendamping Lesson Studi di SMP Kecamatan Bantul. Untuk menjaga privasi, maka saya tidak menyebut nama sekolah, tidak menyebut nama Koordinator MGMP, dan tidak menyebut nama Guru Model; kecuali hanya nama simbolik saja.

Kegiatan Lesson Studi yang saya observasi adalah kegiatan pada fase Do dan See; yaitu fase menyelenggarakan pbm atau open-class, dan kegiatan refleksi. Kebetulah hari ini karena tg 20, maka ada yang unik dari para guru karena mereka semuanya mengenakan Baju Kebaya dan Sorjan (tradisional Jawa).

Sebelum Observasi (pk 09.00 sd 09.50)

Ramah Tamah:
Sebelum observasi ada kegiatan ramah-tamah dan sedikit komunikasi tentang persiapan yang telah dibuat oleh guru Model. Acara ramah tamah dihadiri oleh Kepala Sekolah, Ketua MGMP, Guru Model, dan dosen Pendamping (saya). Jumlah guru yang hadir sebanyak 20 guru SMP Negeri/Swasta dari Kec Bantul. Yang menjadi Guru Model adalah seorang guru muda (yayasan), lulusan LPTK th 2011. Guru Model belum memunyai pengalaman sebelumnya sebagai guru model (ini adalah pertama kali untuk menjadi guru model pada sebuah kegiatan DO Lesson Study).

Hasil wawancara tak langsung (wawancara informal) dengan Guru Model diperoleh bahwa Guru Model mengindikasikan sebagai berikut:

1. Bahwa Guru Model memunyai pengalaman mengajar selama 2 (dua) tahun. Selama mengajar dia
merasa sudah menerapkan metode inovatif, yaitu selalu mengadakan diskusi kelompok bagi siswa dan menggunakan berbagai alat bantu, termasuk komputer.

2. Untuk kali ini Guru Model akan mengajar berdasar Kurikulum 2013, terutama sumber atau buku teksnya. Kurikulum dan Silabus berdasar Kurikulum 2013 sudah tersedia. Tetapi hingga sekarang sekolah belum mendapatkan Buku Teks dari pemerintah. Maka solusinya adalah dengan mengunduh (down load) dari E-book yang berupa file buku Teks pelajaran Matematika berbasis Kurikulum 2013.

3. Setiap siswa sudah memunyai Laptop sehingga cara menggunakan buku adalah dengan menghidupkan Laptop dan membuka file buku.

4. Guru Model bersama-sama tim pada kegiatan PLAN sudah membuat RPP dan LKS

Identitas PBM:

Sekolah                : SMP
Mata Pelajaran      : Matematika
Kelas/Semester     : VII (tujuh)/ I (satu)
Materi Pokok       : Garis dan Sudut
Alokasi Waktu      : 1 pertemuan (2 x 40 menit)
Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Pembelajaran , dan Penilaian terekam dalam dokumen RPP.

Pendamping menemukan secara khusus metode yang tertulis di RPP adalah : "Model Pembelajaran Discovery Learning"; tetapi Sintak pada Langkah-langkah Pembelajaran meliputi : Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Data, Mengasosiasi, dan Mengomunikasi (Metode Saintifik). Sintak juga tidak tercantum di LKS, artinya LKS belum memuat langkah-langkah seperti yang ditulis di RPP.

Kegiatan Do dan Observasi PBM: (pk 09.50 sd pk 11.10)

Berikut beberapa aktivitas yang terekam:


(Photo by Aslan)

Kegiatan SEE (Refleksi) (Pk 11.10 sd 12.30):

Kegiatan SEE atau Refleksi di pimpin oleh Ketua MGMP, didampingi Kepala Sekolah, Guru Model dan Dosen Pendamping.

Acara Pertama : Pembukaan oleh Ketua MGMP

Acara Kedua     : Sambutan Kepala Sekolah

Acara Ketiga    : Refleksi dari Guru Model

Berikut adalah Refleksi yang tercatat oleh Pendamping:
1. Guru Model mengucapka terimakasih kepada semua pihak yang mendukung kegiatan LS
2. Guru mengakui masih banyak kekurangan terutama: a. dalam mengatur waktu, b. lupa tidak menginformasikan tentang tujuan pembelajaran
3. Guru Model menyadari terdapat beberapa siswa yang belum terampil dalam bekerjasama di dalam kelompok
4. Guru model menemukan ada siswa yang belum dapat mengukur besar sudut dengan alat bantu
5. Guru Model mengaku terlalu lama dalam kegiatan Apersepsi
6. Guru Model mengaku dikarenakan waktu yang terbatas, maka presentasi siswa kurang dan sebagian presentasi dilakukan oleh Guru Model

Acara Keempat:
Ketua MGMP memimpin kegiatan diskusi meliputi tanggapan dan saran dari guru observer yang lain dengan semangat bukan untuk menghakimi Guru Model, tetapi untuk mencari solusi bersama meningkatkan kualitas pembelajaran.

1. Guru L: Ada kelompok yang semua anggotanya menghidupkan Laptop sehingga diskusinya kurang efektif, bagaimana solusinya?
Solusi yang muncul: 1. Agar yang menghidupkan Laptop 2 siswa saja, tetapi menggunakan Laptop penting untuk melihat buku electronik sebagai sumber belajar; 2. Perlu penyesuaian tata letak meja dan kursi untuk berdiskusi; 3. Ketua MGMP menyerahkan kepada guru masing-masing untuk menentukan solusinya berdasar konteks dan pengalamannya.

2.  Guru M: Kenapa untuk menemukan sudut-sudut dalam sepihak dan luar berseberangan, guru menyarankan agar siswa menggunakan Busur Derajat. Menurut Guru M, Busur Derajat tidak diperlukan karena sudut-sudut yang ditemukan tidak secara spesifik menunjuk kepada besar sudut. Untuk itu guru M menyarankan agar digunakan alternatif alat bantu/media misalnya menggunakan "mal" sudut yang sudah dipotong-potong.

3. Guru S: Sebetulnya bagaimana menentukan anggota kelompok? Apakah ditentukan sebelum pbm atau pada saat pbm sudah mulai?
Tanggapan Guru W: Penentuan anggota kelompok seyogyanya sejak awal; agar siswa dapat diskemakan sebelum pbm.
Tanggapan Guru I: Saya menemukan ada kecanggungan komunikasi atau komunikasi yang tidak lancar karena di dalam kelompok terdapat perbedaan gender. Apakah tidak sebaiknya, anggota kelompok laki-laki semua atau perempuan semua.
Tanggapan Guru W: Perbedaan gender dalam kelompok tidak masalah; justru jika terdapat berbeda-beda kemampuan dalam kelompok hasilnya akan lebih baik.
Tanggapan Ketua MGMP: Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa anggota kelompok hendaknya heterogen agar dapat saling membelajaran.

4. Ketua MGMP: Bagaimana tentang penggunaan Busur Derajat, kenapa tidak ada alternatif lain?
Jawaban Guru I: Dalam kegiatan PLAN sebetulnya kelompok guru tim model sudah mendiskusikan, tetapi Guru Model sudah membuat RPP dan LKS secara lengkap dan baik, sehingga akhirnya kami pun ingin menyobanya seperti apa?
Tanggapan Ketua MGMP: Itulah pentingnya kegiatan Penelitian, untuk meneliti dengan metode yang bagaima untuk mengajar Garis dan Sudut, khususnya untuk menemukan sudut-sudut dalam sepihak dan sudut luar berseberangan; agar kita dapat memeroleh berbagai alternatif metode pbm.

5. Guru I: Bagaimana memfasilitasi bermacam-macam kemampuan yang ada pada kelompok; karena saya melihat ada anggota kelompok yang pandai tetapi malah dianggap mengganggu oleh anggota yang lain? (untuk pertanyaan ini tidak ada yang menjawabnya)

6. Guru W: Bagaimana tentang jumlah LKS? Apakah setiap anak perlu mendapat LKS masing-masing, atau satu kelompok hanya mendapat dua LKS atau bahkan satu saja?
Jawaban Guru I: Setiap kelompok dapat memeroleh banyak LKS secara fleksibel bergantung kondisinya, bisa 1, 2, 3 atau 4 LKS.

7. Guru W: Bagaimana tentang pencapaian Kurikulum? Jika terlalau banyak memberi kesempatan kepada siswa, maka Kurikulumnya tidak selesai?

8. Ketua MGMP: Bagaimana cara meningkatkan kemamuan Menjelaskan /Menerangkan bagi para siswa; karena sebagian siswa mengalami kesulita ketika disuruh Menerangkan matematika?
Tanggapan Guru I: Siswa diberi kesempatan maju ke depan kelas untuk menerangkan matematika.

Acara kelima:
Ketua MGMP menyilahkan Guru Model untuk menanggapi segala macam pertanyaan dan tanggapan.
Guru Model: sementara cukup dulu, karena perlu mendengarkan tanggapan dari Dosen Pendamping

Acara keenam:

Tanggapan Dosen Pendamping (Marsigit)

Sebelum menanggapi semua persoalan yang muncul termasuk mendeskripsikan apa yang terjadi di kelas, Dosen Pendamping terlebih dulu memberikan pengalaman mengamati sebuah kelas pembelajaran matematika di Inggris beberapa tahun yang lalu, tentang bagaimana seorang guru mampu mengelola kelas untuk melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika.

Kesimpulan dari uraian tersebut adalah agar guru mampu mencari solusi dari semua persoalan tersebut di atas, intinya guru perlu melakukan overhauled atau perubahan persepsi atau perubahan paradigma, yaitu dengan cara memromosikan: Matematika Sekolah, Pembelajaran Konstruktivisme, Matematika yang Plural, Belajar adalah membangun atau menkonstruksi, Mengajar adalah kegiatan riset atau to teach is to research, dst.

Secara spesifik guru diminta membaca atau membuka posting :

http://powermathematics.blogspot.com/search?q=menentukan+kurikulum

Sebagai referensi atau gambaran, berikut saya cuplikan dari konten di atas, yang menggambarkan apa yang terjadi jauh di sana yaitu disebuah sekolah di tenggara kota London (sekitar 15 tahun yang lalu):

"Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin guru bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya. Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut: Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok. Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa. Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran. Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya. Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras. Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS. Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi. Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.
Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun. Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Referensi di atas mengajarkan kepada kita bahwa untuk dapat melayani kebutuhan siswa dengan aneka perbedaan kemampuan, maka seorang guru matematika perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Menggunakan matematika yang tepat untuk siswa smp yaitu Matematika Sekolah, seperti yang diberikan oleh Ebbutt dan Straker (1995) bahwa hakikat Matematika Sekolah adalah sebagai aktivitas atau kegiatan: a. mencari pola atau hubungan, b. menyelesaikan masalah, c. melakukan investigasi, d. komunikasi.

2. Mendefinisikan "belajar" sebagai "membangun konsep/teori/hidup", yaitu menggunakan pendekatan konstruktivisme, di mana siswa sendirilah yang pada hakikatnya melakukan kegiatan belajar.

3. Mendefinisikan "mengajar" sebagai "melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika". Agar mampu melayani kebutuhan belajar siswa maka guru perlu secara terus menerus melakukan kegiatan riset tentang kegiatan pembelajarannya. Maka pada tahap selanjutnya kita harus menuju atau bisa mendefinisikan bahwa sebenar-benar mengajar adalah kegiatan riset; atau "to teach is to research".

Berdasarkan uraian yang sudah saya buat, maka berikut ini saya akan menanggapi kegiatan Guru Model dan juga pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh guru observer lainnya, dengan semangat bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai sarana silaturakhim bidang pendidikan matematika dengan semangat saling asah, sih dan asuh, sebagai berikut:

Secara umum, saya ingin menyampaikan apresiasi yang tinggi dan salut kepada Guru Model, yang menjadi guru masih relatif muda tetapi sudah menunjukkan usaha yang keras dan hebat untuk menjadi guru yang inovatif.

Namun saya ingin memberi catatan dan komen agar usaha mencapai guru inovatif dapat diwujudkan sebaik-baiknya, sebagai berikut:

1. RPP sudah cukup bagus; hanya metode saintifik perlu disebutkan secara eksplisit.

2. LKS disamping perlu memuat identitas sekolah, nama mapel, standard kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, dst; tetapi juga perlu memuat Informasi tentang bagaimana para siswa bekerja menggunakan LKS dan bekerja di dalam kelompoknya. LKS perlu disusun berdasarkan Sintak atau langkah-langkah sesuai dengan yang disebutkan di RPP (metode saintifik). Fungsi LKS adalah untuk membantu atau melayani kebutuhan belajar matematika agar siswa mampu membangun/menemukan konsep matematika. LKS bukanlah hanya kumpulan soal. Oleh karena itu yng sebenarnya berhak membuat LKS adalah guru itu sendiri.

3. Apersepsi sudah cukup baik yaitu dengan cara mengingatkan para siswa tentang apa yang sudah dipelajari; namun Apersepsi masih dilakukan secara Klasikal dan Teacher centered. Ingat bahwa Apersepsi adalah kesiapan siswa, jadi dia milik siswa, dan tidak hanya seorang siswa tetapi semua siswa. Sehingga Apersepsi hendaknya berlaku untuk semuanya sesuai dengan prinsip "Education is for all". Jadi Apersepsi bukan hanya untuk siswa yang di depan saja. Untuk itu guru perlu mencari alternatif kegiatan untuk Apersepsi misalnya dengan membuat soal kecil yang harus dikerjakan oleh semua siswa tanpa kecuali.

4. Diskusi Kelompok sudah berjalan dengan baik, tetapi secara Akademik masih mempunyai problem mendasar, karena LKS hanya dibuat 1 (satu) macam untk semua siswa; sehingga berpotensi menimbulkan kebosanan bagi mereka yang sudah selesai atau bagi siswa yang relatif pandai (karena mereka harus menunggu yang lain).

5. Metode mengajar guru didominasi dengan Expektasi yang sangat tinggi untuk mengarahkan semua pendapat siswa agar sama dengan satu pendapat guru. Artinya, guru menerapkan paradigma hidup "walaupun", artinya walaupun terdapat banyak siswa, tetapi guru menggunakan matematika yang tunggal. Ke depan, perlu dicoba agar guru perlu memromosikan paradigma "karena", yaitu karena siswanya bermacam-macam, maka siswa dapat memelajari bermacam-macam matematika pula. Matematika yang tunggal adalah matematika yang ada di dalam pikiran/matematika formal/matematika/aksiomatik/matematika yang diandaikan/matematika murni/matematika perguruan tinggi/matematika untuk orang dewasa. Sedangkan Matematika yang tidak tunggal adalah matematika yang banyak/matematika yang konkret/matematika dunia nyata/matematika dalam kehidupan sehari-hari/matematika untuk anak kecil/matematika intuitif/matematika sekolah.

6. Akibat guru memunyai Ekspektasi yang sangat tinggi untuk bermatematika tunggal; maka mangakibatkan munculnya fenomena misalnya guru sangat berusaha keras (semi berteriak-teriak) untuk memeroleh perhatian siswa; guru menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar dan sumber kebenaran (walaupun pernah terjadi guru melakukan kesalahan-artinya ini adalah potensi untuk menjadi tidak konsisten); fenomena yang lain adalah guru mengharapkan jawaban Choir dan jawaban pendek untuk setiap pertanyaannya; fenmena yang lain adalah guru menjadi sangat tergesa-gesa untuk menyelesaikan target kurikulum; guru mengimplementasikan very strong guided teaching; guru merasa tidak memunyai waktu yang cukup untuk memberikan waktu kepada siswa untuk melakukan presentasi di muka kelas sehingga posisi murid cenderung untuk mengamini pendapat guru.

7. Untuk pertanyaan dan tanggapan guru tentang pembentukan kelompok, banyaknya LKS dan kemampuan memahami matematika, dengan sendirinya terjawab dari kasus yang saya angkat dari pbm di London. Untuk memfasilitasi kebutuhan siswa, maka bentuk dan anggota kelompok dapat beragam; demikian juga konten dari LKS. Seperti yang terjadi di Inggris, dalam satu kelas pembelajaran matematika, terdapat 6 Kelompok Belajar terdiri 2 kelompok beranggotakan 2 siswa, 3 kelompok beranggotakan 4 siswa, dan 1 kelompok besar beranggotakan 16 yang selanjutnya akan bekerja bersama-sama dengan guru. Untuk setiap kelompok disediakan sejumlah LKS berseri LKS1, 2, 3..dst. Jadi guru memunyai stok LKS. Dengan beragam kelompok dan beragam LKS maka tidak akan ada lagi siswa yang pandai (the Quicker) harus menunggu siswa yang lambat (the Slower).

8. Untuk pertanyaan guru tentang bagaimana cara menyelesaikan target Kurikulum padahal waktunya terbatas? Jawaban saya adalah "sebesar-besar dua gunung ilmu yang kita bawa di atas pundak kita untuk kita berikan kepada siswa, maka itu semua akan mubazir, jika siswa lari menjauh atau melarikan diri dari kita; tetapi sedikit saja saya memberikan ilmu kepada siswa, maka akan sangat efektif dan berguna jika siswa berjalan mendekati atau menuju saya, bahkan mereka akan mencari sendiri ilmu yang lebih banyak lagi"

9. Agar guru tidak dihantui dan merasa dikejar-kejar waktu untuk penilaian, maka guru perlu mencari alternatif penilaian atau mengubah paradigma menuju ke Penilaian Authentic dengan Portfolio Siswa dan Keeping Record. Tepatnya terminologi yang menunjang adalah lebih baik Asesmen dari pada sekedar Evaluation.

8. Secara spesifik saya sangat memuji dan menilai tinggi kemampuan para guru untuk melakukan observasi serta mengungkap fenomena pedagogik yang terjadi di kelas, sehingga terjadi dialog saling asah, asih dan asuh yang sangat baik. Mungkin hal ini disebabkan karena sudah berpengalaman melakukan kegiatan Lesson Study beberapa tahun, sementara saya sendiri baru kali ini mendampinginya. Atmosphere ini adalah harta karun yang tak ternilai harganya, dan saya mempunyai ekpektasi bahwa untuk waktu-waktu mendatang, para guru yang terlibat dalam Lesson Study seperti di Kabupaten Bantul ini akan leading atau memimpin guru-guru dari tempat lai dalam hal melakukan inovasi pendidikan. Semoga. Amin.

9. Ketahuilah bahwa guru-guru di Dunia Barat, untuk satu atau dua kali mengajar, mereka kemudian sudah mampu membuat Karya Ilmiah/Makalah/Artikel yang dapat di Seminarkan atau/kemudian dikirim ke jurnal/atau membuat buku, kenapa? Sekali lagi karena mereka menerapkan paradigma "to teach is to research". Maka dalam setiap pembelajaran, dokumentasi segala macam aktivitas menjadi sangat penting misalnya foto dan video atau arsiprsip. 

10. Secara spesifik, saya sangat menghargai peran Ketua MGMP yang telah mampu memotivasi dan menggali problematika pedagogik dan berusaha mengomunikasikan untuk mencari solusinya.

11. Secara khusus, saya juga menyampaikan penghargaan kepada Kepala Sekolah MTs Muhammadiyah Unggulan Bantul dan segenap guru dan karyawan. Sebagian guru matematika di sekolah tersebut dan juga Guru Modelnya adalah mantan murid-murid saya ketika di S1 Pendidikan Matematika FMIPA UNY.

Demikian, selamat berjuang para guru. Amin

Marsigit
Dosen Pendamping, FMIPA UNY




38 comments:

  1. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Berkaca dari pengalaman saya mengajar di sekolah, sepertinya guru-guru di negeri kita butuh usaha keras menuju guru yang inovatif (termasuk saya). Dua langkah menuju guru inovatif masih sangat jauh dari kata membudaya di lingkungan guru kita yaitu menyusun sendiri LKS dan guru sebagai peneliti. Tidak sedikit guru yang tidak memahami paradigma ini. Kurangnya waktu selalu menjadi alasan para guru ‘membeli’ LKS sebagai bahan ajar padahal sejatinya sumber belajar yang sesungguhnya disusun oleh guru berdasarkan karakteristik siswa. Di samping itu, tidak sedikit pula guru yang tidak memahami cara melaksanakan PTK padahal sejatinya penelitian tindakan adalah diri guru sendiri dan tiadalah alasan bagi guru untuk tidak melaksanakan penelitian selain rasa malas. Dengan demikian perlu perubahan paradigma agar pendidikan di negeri kita mengalami kemajuan serta diperlukan dukungan pemerintah seperti peningkatan pelatihan bagi guru untuk menuju guru yang inovatif.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017

    Hasil observasi ini merupakan terobosan baru dalam mengajarkan ilmu matematika terhadap siswa dengan menggunakan metode yang menyenangkan dan mengajak siswa untuk berpartisipasi lebih sehingga meningkatkan motivasi siswa untuk menambah daya tarik dan ingat matematika siswa. Siswa akan menilai bahwa mata pelajaran matematika bukan lagi pelajaran yang mengerikan.

    ReplyDelete
  3. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Dari dokumentasi pada observasi mengenai pembelajaran dengan lesson study yang diselenggarakan di salah satu SMP di kecamatan bantul tersebut, terlihat banyak sekali observer yang berada didalam kelas. Banyaknya observer yang ada dikelas tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan hawtrone effect pada diri siswa sebagai subjek penelitian. hawtrone effect sendiri secara garis besar adalah kecenderungan siswa untuk bekelakuan tidak sesuai dengan kebiasaannya karena adanya orang asing yang mengawasi dirinya.

    ReplyDelete
  4. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan/model pembelajaran tertentu, digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran yang dulunya bersifat konvensional menjadi inovatif. Perubahan yang terjadi dapat menimbulkan beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Hal ini merupakan akibat yang dapat ditemui dalam proses pembelajaran. Belajar adalah belajar itu sendiri, berawal dari sesuatu yang baru, ada penyesuaian, kemudian sampai pada apa yang disebut bermakna dan dapat diterima.

    ReplyDelete
  5. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika pada kegiatan Lesson Study di Kec. Bantul dapat kita ambil hikmah utnuk menjadi guru yang inovatif tidak bisa dilakukan dengan cara yang instan. Diperlukan usaha dan latihan serta meningkatkan pemahaman terhadap pembelajaran yang diperlukan oleh siswa. melalui lesson study, guru dapat menerapkan pendekatan saintifik ke dalam RPP maupun LKS yang akan digunakan dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  6. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sebagai pendidik, guru memang sebaiknya berusaha untuk terus mengembangkan berbagai macam metode atau model-model pembelajaran yang bervariasi dan inoatif untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Memang tidak ada model atau metode pembelajaran yang benar-benar sempurna, namun, dengan keberagaman variasi pembelajaran yang diberikan, diharapkan siswa dapat memahami materi dengan lebih baik dan mereka termotivasi untuk belajar. Hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika pada kegiatan Lesson Study di Kec. Bantul pada artikel ini memberikan wawasan baru tentang pelaksanaan pembelajaran yang dapat dipilih atau diimplementasikan oleh guru.

    ReplyDelete
  7. Latifah Fitriasari
    PM C

    Ternyata Banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran. Kegiatan lesson study ini sangat menarik dan mampu memberi pengertian pada guru bagaimana menjadi guru yang baik. Penerapan lesson study yang tidak kalah menarik juga. Kita menjadi tahu kendala di lapangan dan solusi yang mungkin untuk dilaksanakan jika kita akan menerapkan lesson study. Sehingga begitulah pentingnya Lesson study pada pembelajaran matematika. Masing-masing guru memiliki cara yang berbeda-beda untuk membelajarkan siswanya.

    ReplyDelete
  8. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Terkadang guru melakukan apresepsi dengan cara menanyakan kepada keseluruhan siswa namun biasanya untuk mempersingkat waktu, guru hanya melihat siswa yang paling depan unutk menjawab pertanyaan apresepsi. Hal ini tidak menyeluruh unutk siswa, sehingga tidak banyak siswa yang terkena kegiatan apresepsi oleh guru.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih atas ulasan yang sangat bermanfaat ini. Melalui artikel di atas, saya merasa bahwa saya pun sedang berada dalam forum tersebut. Semua yang dikupas sangatlah menarik, salah satunya yaitu masih munculnya permasalahan bahwa guru seakan akan ingin mengimplementasikan "matematika tunggal" atau pengetahuan lainnya yang sifatnya tunggal. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan guru bukanlah seorang fasilitator. Sudah seharusnya guru siap dengan multikulturalitas kemampuan siswa, termasuk di dalamnya ialah kemampuan kognitif yang berkaitan dengan bermacam macamnya sudut pandang siswa terhadap suatu objek kajian. Dari sinilah saya semakin menyadari jika siswa ialah subjek pembelajaran yang hidup dan menghidupkan.

    ReplyDelete
  10. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013


    berdasarkan artikel hasil observasi diatas menjadikan motivasi untuk saya bagaimana menjadi seorang guru yang memiliki inovativ dalam pengajaran, banyak hal yang masih harus dibenahi. setidaknya dalam bertambah pengetahuan, bertambah juga rasa ingin menjadi lebih mencari tahu
    sebagaimana melihat apa yang ada dan proses yang terjadi dalam pengembangan kognitif pada anak
    terimakasih pak

    ReplyDelete
  11. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Artikel ini memberikan banyak pengetahuan baru mengenai lesson study dan praktik pembelajaran di kelas. Apersepsi merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pembelajaran. Tujuan apersepi adalah mengetahui kesiapan siswa untuk pembelajaran saat ini serta mengingatkan siswa mengenai materi sebelumnya, terutama yang berkaitan dengan materi pembelajaran saat ini. Fokus utama apersepsi adalah siswa sehingga apersepsi bukan dilakukan oleh guru, melainkan oleh siswa dengan bantuan guru. Seperti yang bapak ungkapkan di atas, apersepsi bisa dilakukan dengan membuat soal kecil. Soal yang diberikan secara klasikal ini akan mau tidak mau akan mengarahkan siswa untuk mengingat materi yang ada di soal, sehingga saat itulah siswa telah melakukan apersepsi dengan sebenar-benarnya.

    ReplyDelete
  12. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Melalui hasil observasi ini banyak ilmu yang dapat kita dapatkan terutama mengenai bagaimana pembelajaran matematika yang seharusnya guru. Selama ini kita hanya masih terpaku pada 1 LKS yang sama untuk setiap kelompok, walau kelompok sudah dibuat dengan heterogen namun berdasarkan pengalaman saya yang masih sedikit ini diperoleh bahwa siswa dalam kesulitan kerjasama melaksanakan diskusi kelompok dan cenderung hanya siswa yang pandai yang mengerjakannya sedangkan anggota lainnya terutama siswa yang tidak pandai hanya bersantai. Karakteristik setiap siswa dalam satu kelas berbeda sehingga pembelajaran dan LKS yang kita buat pun harus mmefasilitasi siswa-siswa yang berbeda tersebut agar mampu belajar sesuai potensinya, LKS tidak dibuat 1 saja namun bisa dibuat beragam sesuai dengan karakteristik siswanya. Ilmu yang sangat bermanfaat sekali dan patut untuk dicoba di kelas. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  13. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari hasil observasi dan refleksi ini ada beberapa hal yang dapat saya pelajari yaitu tentang peran penting lesson study ini, karena secara bersama-sama bersinergi dengan beberapa pihak kemudian untuk memajukan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Kemudian dari refleksi guru model dan tanggapan dari bapak Marsigit dimana secara garis besar yaitu agar guru mampu mencari solusi dari semua persoalan melakukan perubahan persepsi atau perubahan paradigma, yaitu dengan cara memromosikan Matematika Sekolah, Pembelajaran Konstruktivisme, Matematika yang Plural, Belajar adalah membangun atau menkonstruksi, Mengajar adalah kegiatan riset atau to teach is to research, dst.

    ReplyDelete
  14. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Kemudian dari bacaan ini juga kita sebagai calon guru mendapat informasi bagaimana membuat RPP yang sesuai dan LKS yang sesuai kurikulum 2013. Diantaranya disampaikan bahwa LKS perlu disusun berdasarkan Sintak atau langkah-langkah sesuai dengan yang disebutkan di RPP (metode saintifik). Fungsi LKS adalah untuk membantu atau melayani kebutuhan belajar matematika agar siswa mampu membangun/menemukan konsep matematika. LKS bukanlah hanya kumpulan soal. Oleh karena itu yng sebenarnya berhak membuat LKS adalah guru itu sendiri. Untuk memfasilitasi kebutuhan siswa, maka bentuk dan anggota kelompok dapat beragam; demikian juga konten dari LKS. Kemudian dalam RPP perlu di sebutkan secara eksplisit sintak saintifik.

    ReplyDelete
  15. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Melihat hasil observasi di atas, saya merasa bersyukur menemukan artikel ini. Pertama, selama ini kendala yang sangat sangat sering dialami adalah seperti apa yang telah diungkapkan hasil observasi di atas. Dimana guru-guru di Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda dalam waktu pembelajaran yang dilakukan sama.

    ReplyDelete
  16. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Menurut saya hasil observasi sekolah di London seperti yang digambarkan di atas bisa dijadikan penelitian grounded teori. Dimana terdapat kesamaan kondisi antara pendidikan di London dan Indonesia yaitu kemampuan anak dalam 1 kelas bersifat heterogen dan jumlah rata-rata siswa di kelas dalam pendidikan kita sekitar 32-35 orang. Terima kasih banyak Prof atas referensinya, hal ini bisa saya jadikan referensi dan pertimbangan dalam penelitian tesis selanjutnya.

    ReplyDelete
  17. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Hal ini menggelitik saya:
    "Setiap siswa sudah memunyai Laptop sehingga cara menggunakan buku adalah dengan menghidupkan Laptop dan membuka file buku."
    Waaah kalau semua siswa diwajibkan mempunyai laptop maka akan sulit menjangkau pembelajaran. Menyadari kemungkinan bahwa tak semua siswa berasal dari kehidupan yang berkecukupan, saya rasa meminta semua siswa menggunakan laptop cukup berlebihan. Kecuali sekolah menyediakan semua laptop untuk siswa..

    ReplyDelete
  18. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Tentunya ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari hasil observasi dan refleksi pembelajaran dengan Leson Study yang disampaikan. Disini saya semakin tersadar bahwa memang seharusnya seorang guru tidak memaksakan pendapat atau hasil yang sama pada setiap siswanya karena memang kemampuan dan yang ada dalam pikiran siswa itu berbeda-beda. Maka dari itu, dalam melaksanakan pembelajaranpun guru harus kreatif dan inovatif, serta mempersiapkan kegiatan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, kita memang harus belajar lagi untuk terus memajukan pendidikan di Indonesia. Dan kegiatan Lesson Study ini dapat dilakukan untuk mengevaluasi cara kita mengajar di dalam kelas. Semoga kegiatan Lesson Study ini selalu bermanfaat dan dapat diterapkan di daerah-daerah yang lain.

    ReplyDelete
  19. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Dari hasil observasi dan refleksi tentang kegiatan Lesson Study di salah satu SMP Swasta Bantul di atas, kita dapat belajar dari hasil refleksi tersebut. Hal-hal yang dapat dipelajari adalah :
    1. Penyusunan RPP
    Dalam penyusunan RPP harus disesuaikan antara metode pembelajaran yang digunakan dengan sintaks yang terdapat pada RPP. Apabila menggunakan metode saintifik, sebaiknya lebih eksplisit jadi dapat dibedakan mana bagian Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasi, dan Mengkomunikasikan

    ReplyDelete
  20. 2. Penyusunan LKS
    Dalam penyusunan LKS juga sebaiknya sesuai dengan sintaks metode pembelajaran yang digunakan. LKS juga sebaiknya memuat langkah pengerjaan, dan LKS yang baik adalah LKS yang membantu siswa menemukan konsep. Sebaiknya Untuk setiap kelompok disediakan sejumlah LKS berseri. Dengan LKS yang beragam maka siswa yang pandai tidak akan merasa bosan karena harus menunggu siswa yang lambat.
    3. Pentingnya Apersepsi
    Untuk memulai pembelajaran, apersepsi sangat penting. Seperti yang sering Prof. Marsigit katakan bahwa apersepsi itu bukan hanya untuk seorang ataupun sekelompok siswa, jadi usahakan menghindari apersepsi secara klasikal yaitu dengan menunjuk siswa menjawab pertanyaan. Prof. Marsigit selalu mengingatkan pada Mata Kuliah Microteaching bahwa apersepsi sebaiknya yang dapat dikerjakan oleh seluruh siswa karna "Education is for all"

    ReplyDelete
  21. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Matematika Sekolah, Pembelajaran Konstruktivisme, Matematika yang Plural, Belajar adalah membangun atau menkonstruksi, Mengajar adalah kegiatan riset atau to teach is to research, dan lain sebagainya, merupakan stigma yang memang perlu dipromosikan kepada guru-guru ataupun pendidik pada umumnya. Karena semala ini yang terpraktikkan di sekolah-sekolah adalah matematika orang dewasa. Matematika orang dewasa. Ambisi orang dewasa. Sehingga anak-anak juga mengalami kesulitan untuk mewujudakan ambisi orang dewasa tersebut.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  22. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Siswa akan cenderung tertarik dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan oleh guru jika kegiatan pembelajaran yang disajikan direncanakan dan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa. Karena jika apa yang dibutuhkan oleh siswa disediakan, maka akan mebuat anggapan siswa mengenai pentingnya
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  23. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    terdapat banyak manfaat dari observasi dan refleksi tersebut, diantaranya guru merasa kesusahan dalam melakukan apersepsi, penyusunan RPP dan LKS harus sesuai dengan model atau metode pembelajaran yang akan dilakukan. dalam memilih model atau metode pembelajara, guru diharapkan memperhatikan sudut pandang siswa, pembelajaran seperti apa yang dibutuhkan dan diinginkan siswa, sehingga proses belajar-mengajar akan berjalan dengan maksimal dan efisien.

    ReplyDelete
  24. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Mengadakan sebuah proses pembelajaran di kelas membutuhkan persiapan yang sangat matang. Seorang guru harus cermat dalam menyusun setiap langkah pembelajaran. Pemilihan metode, media, hingga penyusunan RPP dan LKS harus sesuai dengan materi yang akan dibawakan. Lesson study merupakan suatu kegiatan yang sangat bermanfaat bagi guru. Dengan Lesson study, guru akan mendapatkan banyak masukan untuk perbaikan proses pembelajaran di kelas nantinya. Manfaat dari lesson study tidak hanya akan dirasakan oleh guru model saja tetapi juga guru-guru lain yang mengobservasi

    ReplyDelete
  25. ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Dari hasil observasi di atas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sintax pada RPP dan LKS harus jelas ditulis secara eksplisit. Kemudian pembagian kelompok secara heterogen serta variasi LKS yang akan diterima siswa. Apersepsi sebaiknya tidak hanya tanya jawab secara klasikal tetapi siswa dapat diberi kuis secara mandiri.

    ReplyDelete
  26. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Sebagai tambahan komentar saya di atas,
    Lesson study adalah upaya peningkatan kemampuan guru dalam menyelenggarakan PBM dengan cara meneliti dan merefleksikan secara sistematis PBM tersebut. Tujuan Lesson Study adalah untuk meningkatkan pelayanan guru terhadap kebutuhan belajar siswa. Sehingga lesson study memang merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.
    Dari uraian hasil lesson study diatas, saya mendapatkan beberapa hal penting. Salah satunya adalah hal pembuatan LKS. LKS seharusnya dibuat oleh guru itu sendiri, LKS bukan sekedar kumpulan soal. LKS juga penting dibuat bervariasi agar siswa tidak akan merasa bosan, khususnya siswa-siswa yang kemampuannya lebih baik dibanding siswa lain.

    ReplyDelete
  27. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Sebagaimana masih sering terjadi, bahwa apersepsi biasanya masih teacher centered. Padahal seharusnya pada bagian ini seharusnya kita menguji kesiapan siswa, dan juga menguji pemahaman siswa mengenai materi yang menjadi materi prasyarat dalam materi yang diajarkan. Perlunya apersepsi yang sesuai dengan tujuannya agar pencapaian dari pembelajaran bisa dicapai. Perlunya pemahaman guru dan siswa akan apersepsi ini diharapkan agar bisa melaksanakan pembelajaran yang baik.

    ReplyDelete
  28. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ada hal menarik dari elegi diatas, yaitu keterbukaan guru, serta kesediaan guru untuk di beri masukan atas pembelajaran yang telah beliau lakukan. Karena sejatinya menerima kritik dan saran dari orang lain tidaklah mudah, walaupun dari beberapa sisi orang yang memberikan kritikan adalah orang yang lebih paham dari kita. Hal ini bisa terjadi, karena manusia memiliki ego yang besar, sehingga terkadang menganggap diri sudah benar, sehingga jika dikritik akan menimbulkan kekecewaan dalam dirinya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  29. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Dari hasil refleksi di atas, sangat bermanfaat bagi guru atau calon guru untuk memperbaiki metode dan gaya mengajar. memang benar bahwa hal tersebut bukanlah hal yang gampang. diperlukan usaha keras, dan yang terpenting adalah niat yang ikhlas untuk terus belajar memperbaiki cara pengajaran yang selama ini diterapkan.

    ReplyDelete
  30. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Lesson study sangat bermanfaat bagi guru terutama untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dalam mengajar sehingga dapat dilakukan perbaikan. Dengan lesson study pula guru dapat menyebarkan inovasi-inovasi yang dilakukan. Menarik sekali membaca bagaimana lesson study dilakukan dan bagaimana cara melakukan refleksi terhadap lesson study.

    ReplyDelete
  31. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Pelaksanaan K13 memang masih belum sesuai harapan, saat saya mengajar di salah satu sekolah, sekolah tersebut belum mendapat buku teks pelajaran K13, padahal sekolah tersebut merupakan sekolah ternama di Jogja, selain itu LKS yang digunakan masih sekedar latihan soal.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  32. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    LKS yang digunakan masih sekedar latihan soal. Hal tersebut mengidentifikasikan bahwa belum adanya kesatuan pemahaman baik dari guru, sekolah dan pemerintah. Sehingga evaluasi memang diperlukan agar tujuan K13 dapat tercapai saat semuanya sudah dievaluasi.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  33. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dalam kegiatan tersebut, guru lupa menyampaikan tujuan pembelajaran. Hal ini harusnya menjadi poin penting dalam KBM karena hal tersebut berhubungan dengan waktu dan penjelasan materi yang akan disampaikan. Nilai penting kenapa tujuan pembelajaran harus disampaikan supaya siswa tidak bingung dan bisa fokus belajar sesuai dengan arahan guru. Pembelajaran pun juga didukung dengan penggunaan media pembelajaran atau alat peraga yang digunakan dalam kelas. sehingga penggunaan alat peraga menjadi salah satu fokus sekolah untuk menjadi fasilitas yang mendukung siswa dalam memahami dam mengerti pengetahuan yang diberikan.

    ReplyDelete
  34. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Hasil observasi dan refleksi ini menjadi motivasi dan pelajaran bagi guru-guru kita. Banyak sekali permasalahan dari masalah RPP, LKS, hingga mengatur siswa dengan latar belakang dan karakterisitik yang beragam masih belum dapat sepenuhnya terselesaikan. Bagaimana dengan kebiasaan guru-guru di Dunia Barat yang hanya pada satu atau dua kali mengajar, mereka kemudian sudah mampu membuat Karya Ilmiah/Makalah/Artikel yang dapat di Seminarkan atau/kemudian dikirim ke jurnal/atau membuat buku. Luar biasa sekali kan. Guru-guru kita kurang diberikkan arahan dan langkah yang tepat dalam menjalani proses pembelajaran. Mereka fokus dengan keformalan PBM tanpa terkadang kurang peduli dengan masalah nyata di kelasnya. Meskipun berbagai pelatihan mungkin sudah diadakan dan bukan wacana semata, namun agaknya perlu penekanan dan dorongan motivasi yang kuat untuk menggapai lesson study yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  35. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Dalam dokumentasi yang dilampirkan pada blog ini, saya melihat banyak sekali para observer yang mengobservasi kegiatan pembelajaran. Banyaknya observer ini dikhawatirkan akan menimbulkan efek pada siswa, dimana siswa menunjukkan perilaku atau aktivitas yang tidak natural atau tidak biasanya dilakukan. Siswa yang biasanya tidak memperhatikan pembelajaran menjadi sangat antusias dalam pembelajaran bukan karena metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru, melainkan karena adanya banyak sosok asing bagi siswa tersebut sehingga ia memodifikasi perilakunya selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Bila memang hal ini terjadi, maka penelitian atau lesson study menjadi kurang bermakna, karena adanya factor lain yang membuat situasi pembelajaran berubah.

    ReplyDelete
  36. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Lesson study menjadi salah satu alternatif dalam mengevaluasi dan memperbaiki kinerja seorang guru. Seorang guru yang baik, adalah guru yang siap untuk dinilai guna mengetahui seberapa kemampuan yang ia telah mampu sampaikan kepada siswa-siswanya. Kegiatan Lesson Study di Kecamatan Bantul ini menjadi salah satu bentuk nyata penilaian yang membangun. Adanya masukan dari banyak pihak tentu diharapkan akan memperbaiki atau bahkan meningkatkan kinerja guru model. Lesson study juga menjadi media diskusi antara sesama guru, baik guru model atau guru yang mengamati. Tidak hanya guru model saja yang mendapat masukan, namun lebih dari itu guru pengamat pun dapat meniru cara mengajar guru model atau bahkan menghindari cara mengajar guru model jika dirasa kurang baik.

    ReplyDelete
  37. Endar Chrisdiyanto
    Pmat A 2015
    Assalamualikum.wr.wb
    observasi ini menjdikan motivasi bagi saya kedepannya didalam mengajar nantinya. lesson studi ini membuat pembelajaran matematika menjadi pembelajaran bermakna dibenak siswa dan juga mampu meningkatkan kualitas guru. Dengan lesson study ini diharapkan guru dengan 2-3 pertemuan bisa mengikuti lkti maupun jurnal sehingga atmosfer untuk pengembangan pembelajaran matematika menjadi semakin meningkat dan kualitas dari pene;ian semakin tinggi.

    ReplyDelete
  38. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Berdasarkan postingan terkait dengan pelaksanaan lesson study tersebut, saya mengetahui bahwa pelaksanaan lesson study terdiri atas 3 tahap, yaitu plan--mempersiapkan open class, do--pelaksanaan open class, dan see--refleksi terhadap tahap plan dan do. Lebih lanjut, melalui lesson studi tersebut guru- guru memeroleh kesempatan untuk dapat mengamati perilaku siswa saat belajar dan cara guru dalam memfasilitasi siswa untuk belajar berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. Melalui postingan tersebut, saya memahami bahwa pada tahap "see", guru-guru dapat melakukan refeleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung yang dapat guru-guru gunakan sebagai referensi dalam melaksanakan kegiatan mengajar di kelasnya masing-masing.

    Dari postingan tersebut terlihat bahwa lesson study sangat berpotensi dalam meningkatkan profesionalitas guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete