Oct 17, 2015

ARTI HIDUP DALAM KACAMATA FILSAFAT

Minggu, 27 September 2015
Refleksi Pertemuan Ketiga



ARTI HIDUP DALAM KACAMATA FILSAFAT
Oleh : Tri Kurniah Lestari, S.Pd.
(15709251065)
http://trikurniahlestari-ririn-mpm.blogspot.co.id/2015/09/refleksi-pertemuan-ketiga.html#more

Bismillahirrahmanirahim
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatu

Pertemuan ketiga ini dilaksanakan pada selasa tanggal 22 September 2015 jam 11.10 sampai dengan 12.50 diruang 305b gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Matematika kelas a pada matakuliah Filsafat Ilmu dengan dosen pengampuh pak Marsigit. Perkuliahan ini diawali dengan mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang harus dibuat setiap minggunya.

Sistem perkuliahan masih sama seperti 2 pertemuan sebelumnya, yaitu lebih banyak mendengar dan merekam apa yang disampaikan oleh Bapak. Topik yang dibicarakan saat ini yaitu membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara lisan. Beliau juga menyampai informasi seputar Facebook beliau, kemudian beliau juga memberitahukan bahwa ada dua orang yang hasil refleksi pertemuan keduanya telah di postkan ke Facebook beliau, karena beliau menganggap hasilnya cukup baik.

Pertanyaan secara lisan untuk pertamakalinya di sampaikan oleh bu Retno Kusuma Dewi, petanyaan beliau yaitu : “Menurut sudut pandang filsafat memahami tentang kehidupan kenapa kok kira-kira siswa sekarang ini cenderung memilih hal mudah?, mudah maksudnya segala sesuatu yang instan”

Setelah mendengar pertanyaan yang disampaikan, pak marsigit kemudian menjawab : “Jadi gini bu, ibu meluncurnya telalu tajam, dari filsafat sampai ke siswa, tetapi selain meluncur terlalu tajam ada pantulan yang bagus yaitu budaya instan, anda semua perlu membaca di akademia edu mengenai narasi besar ideology dan politik pendidikan dunia, itu saya uraikan persis dari jaman Yunani sampai jaman sekarang, sehingga kita bisa mengetahui alasan dan sebab-sebab adanya budaya instan, ceritanya panjang dan disamping cerita panjang disitu juga memerlukan pengetahuan-pengetahuan lain. Uraian saya tidak membosankan karna disajikan dalam bentuk power point, sehingga dapat dibaca sekilas saja, ulangi kembali dan bisa menyimpulkan point-pointnya, ratusan ribu orang membaca, intisarinya sebetulnya merupakan atmosfirnya, kurun waktunya memang sampai pada kehidupan saat ini.”

Beliau menambahkan kembali “kalau memang ada yang mudah kenapa musti cari yang sulit, saya juga menjelaskan di kelas lain kalau itu tesis maka ada anti tesisnya. Anti tesisnya aku buat begini, kalau bisa mengerjakan yang sulit kenapa cari yang mudah, didengar juga gak begitu jelas diucapkan juga gampang tapi dilaksanakan sangat sulit, silahkan anda uji diri anda dan dari dua kata itu, andai kata anda laksanakan maka dampaknya itu seluas dunia akhirat, karena secara psikologi antara yang pertama (sebelah kiri) : ‘kalau ada yang mudah kenapa cari yang sulit, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit,’ dan yang kedua (sebelah kanan) ‘kalau bisa mengerjakan yang sulit kenapa cari yang mudah’ saja sudah berbeda. Bila dilihat dari keadaannya dari segi pelakunya yang sebelah kiri tidak mau berjuang, nyaman dizona aman, tidak mau meningkatkan diri, santai, gampang menyerah, tidak ingin berkembang, tidak mau bekerja keras, motivasi kurang, difensif, tidak kreatif, masa bodoh, tidak cerdas, bodoh,termasuk juga cara yang singkat, dan budaya instan; semiliar pangkat semiliar pun belum bisa aku menyebutkannya, karna itu dunia, dunia si dia. Lawannya sebelah kanan memiliki keadaan yang kreatif, cerdas, pekerja keras, ulet, suka tantangan, ingin berkembang, ingin tahu yang tinggi, dan motivasinya tinggi. Jadi hidup itu adalah interaksi antara yang pertama dan kedua, hidup yang lebih baik adalah gejala dari yang pertama menuju yang kedua”.

Pertanyaan selanjutnya disampaikan oleh saudara Heru Tri Rizky Novi : “bagaimana tanggapan filsafat tentang pendapat ilham nokhen tentang penciptaan alam ini yang dalam konsep ada dan tiada?”

Bapak menyampaikan bahwa pertanyaan yang diajukan mempunyai maksud sama seperti bagaimana pandangan Agama tentang makhluk pertama manusia dan seperti temuan Darwin yaitu nenek moyang manusia itu adalah binatang (monyet). Sementara orang beragama  percaya bahwa nenek moyang manusia itu adalah manusia juga, nabi Adam AS. Darwin membuat teori evolusi, hukum sebab akibat, jika manusia itu setiap pagi belajar terbang selama hidupnya, begitu pula anaknya belajar terbang selama kurun waktu bermiliyar-milyar keturunan diharapkan suatu ketika manusia bisa terbang. Itu merupakan teori pengembangan potensi diri. Yang ditangkap oleh Immanuel Kant sebagai Teleologi, segala macam perkembangan masa depan masuk kedalam Teleologi. Jadi Teori Evolusi dasarnya adalah filsafat, segala sesuatu mengalami perubahan dan tidak ada didunia ini yang tidak mengalami perubahan, tapi pendapat seperti itu merupakan pendapat separuh dunia, karna separuhnya lagi memiliki pendapat bahwa sesuatu itu bersifat tetap, tidaklah sesuatu didunia ini yang tidak bersifat tetap. Masing-masing memiliki tokoh, yang tetap memiliki tokoh Permenides dan yang berubah tokohnya adalah Herakleitos, kemudian dari kacamata filsafat memandang bahwa ternyata hidup itu adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah, jadi hidup dapat di definisikan sebanyak yang ada dan mungkin ada.

Interaksi dari yang tetap dan berubah, kalau dilihat dari kacamata filsafat, pandangan yang tetap itu seperti cintaku tetap padamu istriku, keyakinanku tetap kepadamu Engkau wahai Tuhanku sejak aku lahir sampai mati pun tetap begitu dan tidak akan mengalami perubahan, sebelum dan sesudah dunia kiamat tetap saja aku ciptaan Tuhan, tetap begitu. Jadi dalam diri ini ada dua unsur yaitu ada yang tetap dan ada yang berubah. Hal tersebut berkaitan dengan mengidentifikasi objek filsafat, objek filsafat yang terdiri dari ada dan yang mungkin ada yang jumlahnya tak berhingga pangkat tak berhingga aku belum bisa mengidentifikasi sifat-sifatnya. Sifat yang penting adalah, ia memiliki sifat tetap atau sifat berubah, ternyata hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Itu lah hidup dan kalau tidak hidup berarti tetap didalam ketetapan contohnya seperti walau aku jadi istrimu aku masih tetap ingat pada pacar lama saya. Terjadilah kerusakan dalam kehidupan. Itu lah mengapa pentingnya mengalami perubahan, makanya penting juga manusia memiliki sifat lupa.

Didalam filsafat itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, yang benar atau yang tepat itu adalah tidak sesuai dengan ruang dan waktu, dalam spiritual kebenaran bersifat absolut, agama itu dokma, suatu kebulatan yang harus dilaksanakan, kitab suci tidak bisa diotak-atik lagi, apakah ada amandemen Al Qur’an?, yang diamandemen itu  Undang-Undang Dasar, tidak ada amandemen al Qur’an, al Qur’an itu dokma yang sudah menjadi ketetapan (absolutely) dan harus laksanakan, serta percaya bahwa manusia memiliki nenek moyang yaitu Nabi Adam AS. Sekarang gunakanlah pikiran, orang silahkan saja membuat Teori, ambil contoh seekor tikus yang diberi radiasi nuklir, nanti pada suatu saat tikus yang diberi radiasi itu bisa menjadi mutan, bisa jadi kelinci dan bisa jadi yang lebih besar lagi seperti kelinci jumbo, karna mutan dipengaruhi radiasi nuklir. Coba dari jaman penciptaan sampai dengan sekarang itu radiasi nuklir dialam sebanyak apa sehingga bisa mempengaruhi jenis dan pola perilaku manusia, kita lihat saja nabi Adam AS. sebagai wadah memiliki banyak karakteristik, punya istri Hawa, dan punya anak-anak. Dari sisi agama dikatakan final, maka orang timur yang didominasi kehidupannya oleh agama biasanya pemikirannya final, sedangkan orang barat yang mengandalkan pikiran biasanya berpikir tebuka, terbuka di belakang atau open di bagian ended, maka ada metode pembelajaran open ended dengan metodenya adalah scientific. Jadi, timur dan barat memiliki beda kultur dan budaya. Secara agama, dogma dan ketentuannya harus diakui, kalau meyakini Tuhan harus lewat keyakinan hati, dan kalau hanya lewat pikiran untuk mencari Tuhan maka belum ada jaminan bisa menemukan Tuhan. Itulah kalau dunia barat menuju ketimur ketemu dengan imam Al-Ghazali, ‘jika engkau ingin bertemu Tuhanmu jangan kau pikirkan tapi kerjakanlah’, filsafat timur mengenalnya dengan ontology gerak, jadi jika ingin ketemukan Tuhan maka kerjakanlah, yang Kristen ke Gereja dan yang Islam ke Masjid, sholatlah kalau Tuhan mengijinkan insyaAllah pasti bisa bertemu Tuhan.

Dunia Barat dan Timur ada perbedaan nilai bijaksana. Bijaksananya dunia barat dalam keadaan masyarakat yang terbuka. Orang yang sedang mencari ilmulah yang bijaksana menurut versi barat, tetapi versi timur karna masyarakatnya sudah tertutup maka yang dikatakan bijaksana dalam versi timur adalah orang yang memberi ilmu. Maka tidak mudah jadi pejabat di Dunia Timur, karena harus bisa mensejahterakan rakyatnya kalau perlu memberi, jadi lurah kalau perlu berani tombok, kalau tidak manipulasilah yang terjadi, makanya korupsi tumbuh subur di dunia Timur, jadi nilai kebijakan di Dunia Timur itu harus mampu memberi. Bapak kembali memberi contoh “Umur 38 dulu saya kuliah di Inggris kemudian 47 saya kuliah filsafat di Gajah Mada, nah dikampung saya ditanyalah a: kok bapak tidak kekampus? Saya menjawab kalau saya kuliah, a: lah terus kalau bapak kuliah anak-anak bapak yang kecil-kecil mau di kasih apa pak ? diambil semua oleh bapak?” (dalam konteks bercanda). Orang tua kuliah itu di Timur canggung, sedangkan di dunia barat dikatakan bijaksana. Karna orang tua di Dunia Timur dianggap sudah saatnya memberi. Maka di Indonesia terjadi interaksi dan transisi budaya, yang pantas di pantas-pantaskan, bahkan yang kurang pantas di pantaskan juga.

Pak marsigit kemudian menceritakan tentang pengalaman beliau, Ketika beliau mengajar di S1, beliau mengajak seorang professor matematika dari salah satu perguruan tinggi terkenal di Amerika untuk ikut ke kelas dimana beliau mengajar, setelah selesai dosen tersebut bertanya kepada pak marsigit, “Pak Marsigit kenapa pada saat mengajar Matematika anda memulainya dengan berdoa?, apa hubungannya antara matematika dengan doa”, pak Marsigit agak kaget dengan pertanyaan dosen tersebut, kemudian pak Marsigit bertanya kembali “Apakah anda tidak percaya dengan Tuhan?”, dia menjawab “belum, karna saya tidak tahu”. Padahal umurnya sudah 60 tahun tapi belum mengenal Tuhan sehingga dia belum percaya, kemudian dia menambahkan “saya berusaha melakukan kegiatan setelah saya memahaminya”. Dari situ bisa tertangkap ketidak konsistenannya. Pak Marsigit bertanya kembali “kamu datang kesini apa tahu akan bertemu saya?”, dia menjawab “tidak”, lanjut pak Marsigit “berarti anda ngomongnya tidak konsisten, kenapa anda datang kesini padahal anda tidak tahu akan ketemu saya”. Jadi berpikir itu mudah sekali kalau ingin tidak konsisten seperti itu. Beliau mengatakan “untuk mengetahui Tuhan tidak cukup hanya dengan pikiran saja, tapi dengan hati, karna itu adalah ranah hati, itu kasusnya mengenai feeling “.  Itu merupakan salah satu contoh. Jadi kalau kita masuk kedunia internasional, itu menjadi sangat plural. Orang yang pecaya dengan Tuhan dan tidak percaya dengan Tuhan sama-sama punya hak. Karena disana adalah Liberal yang absolut, sama-sama punya hak untuk mengiklankan di Televisi tergantung bisa membayar saja, sebenarnya kalau kita tidak kuat atau memperkokoh diri dari sini maka semua perasaan, pikiran dan kebiasaan kita bisa habis disana.

Pertanyaan selanjutnya yaitu dari saudara Ricky yang mengatakan bahwa : “Menanggapi pernyataan yang  ada tadi, agama merupakan suatu dokma yang kita terima secara utuh, seperti halnya juga terhadap fisika, ilmu fisika dapat dibuktikan. Dalam teori evolusi Darwin belum ada bukti yang bisa diterima tapi kenapa bisa dipublikasikan seperti itu, mohon penjelasannya?”

Jawaban dari pak Marsigit : Pertama Teori bisa dikenal itu karna ditulis dan ada buku yang menjadi rujukan, kedua dipublikasikan, ketiga ada sponsornya dan dihidup-hidupkan, dan yang keempat memang ada manfaat. Memang ada manfaat, misalnya orang mau ke Jakarta juga butuh kendaraan dan kenapa harus dibuang motornya, padahal motor juga bermanfaat untuk mengantar ke stasiun kereta atau kebandara. Sama juga kalau kita berpikir tentang teori Big Bang, bermanfaat juga tapi pada level tertentu saja, yang kemudian orang bisa berpikir liar dan berpikir tanpa batas menyimpulkan dengan teori big bang bahwa alam semesta itu terjadinya begitu saja tidak perlu campur tangan Tuhan, tentu dari sisi spiritualitas itu adalah kesombongan yang luar biasa. Akhirnya, ketinggian ilmu dipakai untuk menyombongkan diri, bagaimanapun juga kita tetap manusia, sehebat-hebat apapun dia tetap manusia. Agar kita belajar filsafat ini tetap dalam koridor, tetapkan hati kita kalau sudah menyentuh seperti itu yah sudah cukup untuk pengetahuan saja bukan sebagai sesuatu yang harus kita yakini. Karena itu sudah merubah dunia, begitu kita yakin dan percaya tentang hal itu yang lain akan tereliminasi. Sama saja kalau kita membuka tabir siang maka tabir malam akan tereliminasi.

Jadi, telah diterangkan pada pertemuan yang lalu tentang objek filsafat adalah yang ada dan mungkin ada, semua yang engkau pikirkan apapun itu adalah sebuah wadah, wadah apapun yang ada dan meliputi yang  mungkin ada, ternyata dia juga merupakan isi, rambut berwarna hitam, rambut itu wadahnya sedangkan hitam itu isinya, itulah sebenar-benar wadah adalah subjek dan isi adalah predikat,maka tidak akan pernah didunia ini predikat sama dengan subjeknya, tidak akan pernah warna hitam sama dengan rambut, karna rambut mempunyai sifat tidak hanya hitam, bisa hitam ringan, hitam lebat, panjang, pendek, semiliar pangkat semiliar aku belum bisa menyebutkan sifat-sifat rambut itu. Ternyata sifat-sifat rambut yang merupakan isi dari rambut merupakan wadah juga, hitam kelam, selamanya hitam tidak sama dengan kelam, dan kelam adalah salah satu sifat dari hitam.”Hitam kelam banget”, selamanya kelam tidak sama dengan banget, karna banget merupakan salah satu sifat dari kelam. Jadi, dunia itu berstruktur, salah satu struktur memiliki dua komponen, pengertian apapun komponennya dua yaitu wadah dan isi. Rambut itu isinya kepala, kemudian isinya kepala itu banyak ada kutu, belalang, kepala merupakan isi dari bagian tubuh, demikian seterusnya dan kalau dinaikkan kearah spiritual, wadah dan isi yang berpangkat tadi lama-lama terangkum menjadi satu yaitu kuasa Tuhan yang Esa.

Orang didunia yang sifatnya plural tapi bersikap tunggal dalam filsafat disebut fatal, itulah kaum fatal yang hidupnya seratus persen digantungkan pada takdir, misalnya ditanyakan a: kamu punya uang b?, b: kalau Tuhan mengijinkan akan datang dengan sendirinya, a: tadi motormu dicuri kamu nanti gak bisa pulang b: kalau Tuhan menghendaki nanti motornya kembali. Beliau mengatakan “saya pernah kethailand dengan pejabat, tapi pejabat ini agak sedikit fatal, a: pak laptopnya disimpan pak atau dibawa, b: kalau memang nasibnya hilang ya hilang kalau gak ya nggak, a: kalau orang yang pemikirannya beda dengan bapak gimana, nanti kalau hilang beneran gimana ? b: iya ya”. Urusan akhirat fatal, urusan dunia fital, ternyata susah untuk mendefinikan hidup, bahwa sebenar-benarnya hidup adalah interaksi dinamik antara fatal dan fital. Berikhtiarlah seakan-akan masih hidup seribu tahun lagi, berdoalah seakan-akan besok mau mati, itu sudah kodratnya berinteraksi seperti itu, sifat yang ada dan mungkin ada, kalau ada yang bersifat tunggal itu disebut monoisme disingkat monisme. Monisme itu urusan langit, seperti pertanyaan bu Retno tadi, satu sisi sibuk dengan urusan dunia. Indonesia ini negeri pancaroba (negeri peralihan), apapun ada di Indonesia yang Fatal maupun Vital. Teknologi mengefektifkan dan mengefisienkan urusan dunia, harapannya syukur-syukur bisa mensuport urusan akhirat. Di negri yang paling fatal seperti Birma negri para biksu, biksu tidak butuh apa-apa cukup makan dari pemberian orang-orang disekitarnya, tapi akhir-akhir ini ada hal lucu di Birma, para biksu demo minta listrik, disini dapat terlihat jebolnya tembok pertahanannya dan sudah mulai dipengaruhi capitalism.

Yang ada tadi didalam dan diluar pikiran, yang ada bersifat tetap dan berubah, dan yang ada bersifat satu dan banyak, dari sekian sifat itu mari kita identifikasi kaitannya dengan yang ada didalam dan diluar pikiran. Yang tetap berada didalam pikiran, karena lebih sering terjadi didalam pikiran. Yang tunggal ini ada didalam pikiran, tergantung levelnya, misalnya wanita, kalau didalam pikiran wanita hanya ada satu, kalau diturunkan kebawah wanita itu adalah istri. Istri yang satu itu didalam pikiran. Yang tadi malam ditemui, sekarang di kantor, yang dirumah juga merupakan istri. Contohnya banyak tapi dalam pikiran istri cuma ada satu, dari situlah lahir berbagai macam aliran filsafat.

Pertanyaan berikutnya dari saudari Ulin yang mengatakan “Berkaitan dengan takdir-takdir, ada takdir yang memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT., salah satunya kematian, cara kematian itu berbeda-beda pak ada yang dibunuh diri, ada yang dibunuh, ada yang kecelakaan dan lain-lainnya, yang ingin saya tanyakan mengenai bunuh diri pak, kalau orang bunuh diri itu apakah sudah ketetapan dari Tuhan, kalau memang sudah ketetapan dari Tuhan, dalam islam bunuh diri itu termasuk dosa pak, apakah amal-amalnya sia-sia pak?”

Cara pandang berdimensi yang dipandang pun berdimensi itulah filsafat kemudian di interaksikan dan dari sisi spiritual jelas tadi anda sudah katakan bahwa bunuh diri itu dosa, cara pandang kita bukan seperti itu kalau berfilsafat. Dalam filsafat takdir itu adalah sesuatu yang sudah terjadi, karna itu merupakan pikiran manusia. Kalau dinaikan sedikit ke spiritual, takdir itu bukan yang sudah terjadi saja tetapi yang akan terjadi pula, sekarang kata-katanya dibalik pasti benar bahwa yang terjadi itulah takdir, lebih baik saya katakan yang kedua dari pada yang pertama, yang kedua adalah yang terjadi sudah pasti takdirnya, maka yang belum terjadi masih bisa diikhtiarkan. Hubungannya dengan fatal dan fital yaitu fatal itu takdirnya dan fital itu ikhtiarnya, manusia bisa berikhtiar karna manusia punya potensi dan hidup manusia tidak bisa lepas dari takdir. Tidak bisa anda berikhtiar untuk menentukan hidup diri anda atau anak anda besok, misalnya anda membuat proposal anak anda besok lahir dengan berjenis kelamin laki-laki, tampang sekian, berat segini, dengan rambut seperti ini, mengajukan proposal kepada Tuhan, coba saja apakah akan sesuai dengan selera anda atau tidak. Yakinlah bahwa Tuhan akan membuat jalannya sendiri. Kalau bisa seperti itu “pasti saya sudah pesan sama Tuhan, dilahirkan dari Rahim ratu Elisabeth supaya mendapat warisan istana Backingham”, ternyata hidup itu pilihan tapi yang memilih itu Tuhan, kita tidak bisa memilih kita lahir dari Rahim siapa. Tiga hal yang pokok yaitu lahir jodoh dan kematian, itu sama beratnya, oleh karena itu jangan main-main tentang jodoh karna sama beratnya dengan lahir dan kematian, barang siapa yang bermain-main tentang jodoh, dia akan menderita kesedihan seperti setara dengan menghadapi kematian. Dari sisi agama itu adalah rasa bersyukur, karna yang terbaik seperti itulah. Pikiran ini bersifat parallel yang ingin diucapkan begitu bayak dan sudah menyundul-nyundul dikepala, tapi mulut bersifat seri jadi satu persatu kalimat saling bergantian dikeluarkan. Sehingga dikatakan bahwa manusia hidup karena tidak sempurna. Dalam berkata saja masih harus memilih kata-katanya. Maka sebenar-benarnya hidup itu adalah pilihan. Sungguh manusia itu tidak pernah adil, dia tidak bisa melihat kebelakang karena matanya hanya ada didepan. Manusia itu terpilih, dalam filsafat disebut sebagai aliran Reduksionisme. Manusia itu terpilih atau dipilih. Penglihatan, nafas, hidup semua dipilih. Jadi manusia hidup karna pilihan.

Pertanyaan berikutnya di sampaikan oleh Ricky, “Tadi bapak mengatakan bahwa istri bapak cuma satu dipikiran bapak, bagaimana dengan yang berpoligami? Apakah istrinya cuma satu saja dipikirannya dan yang lain menjadi contoh atau sudah berganti lebih banyak lagi pak?”

Dari sisi filsafat itu level pemahaman tadi, dari mana aku mau mengklaim yang satu itu, kalau aku naikan bahwa yang satu itu istri dan turunkan bahwa empat istri itu adalah contoh, tapi tetap saja dalam pikiran saya istri cuma satu sebagai wadah, sedangkan empat tadi adalah isinya. Yang empat tadi memiliki contoh-contoh yang lainnya. Itulah level pemahaman, dimensi berpikir dan dimensi hidupnya. Hidup ini memang berlevel, tapi kalau sudah sampai kebawah (istri yang ke satu, dua, tiga dan empat) itu sudah temasuk kedalam aspek psikologis, tergantung pada psikologi orang yang mengalaminya.

Pertanyaan selanjutnya ditanyakan oleh saudari Azmi, “pak apakah filsafat itu bertentangan dengan motivator?, tadikan kata bapak kalau segala sesuatu yang terjadi sudah ditetapkan oleh Tuhan, sedangkan motivator itu punya target untuk berubah dan menuju kesempurnaan.”

Segala sesuatu itu berpasang-pasangan dan selalu mencari jodohnya, setiap yang ada dan mungkin ada itu adalah tesis, dan selain yang ada satu itu merupakan anti tesisnya, diriku merupakan tesis, maka semua selain diriku merupakan anti tesisnya. Dalam agama semua ketetapan yang telah diatur merupakan tesis sedangkan anti tesisnya merupakan ikhtiar. Tesisnya takdir maka anti tesisnya fital, tesisnya fatal maka anti tesisnya potensi, sehingga motivator itu mengembangkan potensi supaya manusia itu punya potensi, dan sebenar-benarnya hidup adalah berkembang menjadi suatu potensi dari ada menjadi pengada melalui mengada. Maka segala sesuatu yang berubah diikhtiarkan semua keatas, disitulah duduk yang namanya keikhlasan. Tiadalah perubahan terjadi kalau tanpa keikhlasan. Kalau kita lihat diruangan ini terdapat bermilyar-milyar keikhlasan, terjadinya kaca dan tembok yang sempurna  berasal dari bahan mentah hingga proses pembuatannya itu adalah keikhlasan. Jadi namanya keikhlasan adalah terwujudnya pengada (wadah) dari yang ada melalui mengada (ikhtiar). Selaras dan terangkum yang namanya motivator itu. Apa bedanya motivator dan filosofer? Kalau motivator itu sudah turun sedikit kemudian datar untuk kontrol dan kendali, apa bedanya Filosofer dan Psykologi ? sama. Seorang filosofer itu duduk di lobi dan melakukan refleksi, dia tidak masuk gang-gang sempit yang didalamnya ada psykologi, matematika, dan ilmu-ilmu lainnya.

Kemudian pertanyaan terakhir berasal dari saudari Fitri, “Saya ingin bertanya pak, bagaimana cara mensinergikan apa yang ada dihati dan pikiran sehingga tidak menimbulkan penyesalan dan kontradiksi-kontradiksi terhadap apa yang telah kita lakukan?”

Yang ditemukan Immanuel Kant, isi bisa sekaligus menjadi wadah, tapi isi tidak sama dengan wadahnya. Contohnya tadi rambutnya berwarna hitam, itu yang disebut sebagai kontradiksi dalam filsafat , hidup itu penuh dengan kontradiksi. Prinsip yang kedua adalah prinsip identitas, A sama dengan A itu hanya terjadi didalam pikiran, karna pikiran sudah terbebas dari ruang dan waktu, jadi selagi dia diucapkan maka A yang aku ucapkan pertama dan A yang aku ucapkan kedua, A yang kurus dan A yang gemuk, jadi dalam kehidupan tidak ada A sama dengan A, matematika yang kamu pelajari itu hanya ada sebatas didalam pikiran semata. Padahal Dunia Anak adalah dunia di luar pikiran. Oleh karena itu manusia selalu diwarnai dengan kontradiksi-kontradiksi, saya bisa makan, minum dan bernapas itu semua karna hasil kontradiksi antara oksigen dan darah merah. Dengan kontradiksi itulah maka kita bisa hidup, maka manusia tidak bisa terhindar dari kontradiksi, yang jadi persoalan sekarang adalah bagaimana cara kita mengidentifikasi kontradiksi seperti apa, mana yang produktif dan mana yang kontraproduktif. Selanjutnya, kedudukan kontradiksi itu ada dimana? Isi atau wadah bagian mana yang mengalami kontradiksi ? semakin rendah posisi semakin dia ada didalam predikat semakin tinggi dia mengalami kontradiksinya, semakin tinggi posisinya maka semakin kecil kontradiksinya, paling tinggi dirangkum kedalam kekuasaan Tuhan yang absolut dan tidak ada kontradiksi didalamnya. Tuhan tidak mengenal kontradiksi yang mengenal kontradiksi hanyalah manusia. Manusia siapa? Bagi adikmu kamu sama sekali tidak mempunyai kontradiksi sedangkan bagi dirimu adikmu itu penuh dengan kontradiksi, karna dia adalah keseluruhan penggambaran dari sifat-sifatmu, karna wadah memiliki banyak sifat dan adikmu itu adalah salah satu isinya. Semilyar kali kamu belum bisa menjawab kontradiksi dari adikmu itu. Orang jawa punya solusi, solusinya adalah “ngono yo ngono, neng ojo ngono”, yang artinya “begitu ya begitu, tetapi jangan begitu”, yang satu wadah dan yang satu isi. Minum ya minum (wadahnya) tetapi jangan sambil berdiri (isinya). Ngomong ya ngomong tapi ya jangan sambil marah.(Terkadang belajar filsafat itu harus dipikir dulu baru lucu). Itu kejadiannya, sekarang bagaimana didalam hati kita, perasaan menyesal tadi psikologi. Sekali lagi pengetahuan itu bersifat kontradiksi, bersifat pertarungan antara tesis dan antithesis yang bersintesis menghasilkan pengetahuan baru. Anda sebagai peneliti harus siap untuk mensintesis pengetahuan-pengetahuan lama menjadi pengetahuan baru. Silahkan perbesar kontradiksi anda tapi jangan sampai turun kedalam hati karna kalau sampai turun keranah hati itu adalah syaitan, dan cara agar tidak ada kontradiksi dihati (seperti menyesal, dan lainnya) itu adalah dengan doa kepada Sang Pemilik hati, setinggi-tingginya doa adalah menyebut namaNya. Cuma kalau orang awam seperti kita ini bermilyar-milyar memanggil namaNya belum tentu didengar. Mustajabnya suatu doa karna dijalankan. “Pengalaman spiritual saya yaitu diam didalam masjid yang saya tuangkan dalam ritual ikhlas.” Agar kita terbebas dari godaan syaitan jangan diberi peluang. Syaitan sekarang sudah canggih, syaitan sekarang sudah menempel di diri manusia, syaitan sekarang sudah berwujud manusia, yang koruptor, para preman dan lainnya. Cara menghindarinya yaitu disetiap menit walaupun kau sadar dan tidak sadar penuhilah dengan doa dan doa yang paling tinggi yaitu memanggil namaNya. Apabila engkau merefleksikan terjaminlah di dunia dan diakhirat.

Dari jawaban-jawaban diatas dapat dikatakan bahwa hidup merupakan suatu interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Didalam hidup manusia memiliki objek filsafat yang ada dan mungkin ada. Yang ada berada didalam dan diluar pikiran, yang bersifat tetap dan berubah, dan yang bersifat satu dan banyak. Yang tetap dan satu  berada didalam pikiran, karena lebih sering terjadi didalam pikiran. Semua yang dipikirkan merupakan suatu wadah dan memiliki isi. Isi dapat menjadi wadah, tetapi isi selamanya tidak akan sama dengan wadahnya. Hidup manusia merupakan pilihan dan hidup manusia dipenuhi dengan kontradiksi, itulah mengapa manusia dikatakan tidak sempurna dan jika manusia sempurna maka ia tidak akan hidup didunia ini. Begitu pentingnya filsafat untuk memahami semua hal tentang kehidupan ini, semakin banyak engkau belajar berfilsafat maka semakin banyak engkau dapat mengetahui tentang arti kehidupan. Marilah kita bersama-sama belajar berfilsafat dengan cara membaca, membaca dan membaca. Semoga bermanfaat.


Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatu

25 comments:

  1. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari Elegi ini, saya sangat tertarik dengan istilah "budaya instant". Budaya instant kini memang telah menjamur di berbagai sendi kehidupan di Indonesia, bahkan hampir disemua sendi, termasuk di dunia pendidikan. Sesuatu yang instant memang terkesan praktis, mudah, dan cepat, inilah salah satu alasan mengapa banyak orang suka yang "instan - instant". Namun apakah sesuatu yang instan itu selamanya baik? Tentunya tidak. Sesuatu yang dipelajari dan dilakukan secara instant hanya akan menyentuh atau sampai pada permukaannya saja, tidak mendalam, tidak sampai pada inti dan esnsinya. Dengan kata lain kita tidak akan sampai pada akar atau dasarnya, sehingga berpotensi membuat kita rapuh atau tidak kokoh. Dalam belajar, hal seperti ini akan membuat pemahaman yang dangkal, bahkan dapat menyebabkan pemahaman yang salah, karena hanya sebagian-sebagian, bukan pemahanan secara utuh dan keseluruhan.

    ReplyDelete
  2. efi septianingsih
    pep
    kelas b
    17701251013

    berdasarkan postingan yang telah dibaca dan judul diatas arti hidup dalam filsafat
    indonesia, merupakan negara yang ingin menjadikan kesama rataan namun memiliki kendala
    sama seperti postingan lama tentang elegi keliru, begitu pula pola pikir masyarakat
    karena semua memiliki peran masing2 sesuai tingkatannya, para logos dan anomali menggambil alih paling nampak
    berkata tanpa melihat secara keseluruan, sedangkan manusia sendiri banyak keliri apa yang dilihat, dirasa, yang didengar menggunakan panca indra mereka
    karena tak ada kebenaran dan kesalahan yang absolute dibumi
    oleh karena itu baca, baca, dan baca lebih baik karena semkin banyak pengetahuan semakin tahu pula apa yang akan dihadapi dan bagaimana mencari solusinya.

    ReplyDelete
  3. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menarik pertanyaan terakhir mengenai kontradiksi-kontradiksi dalam kehidupan. Manusia di dunia senantiasa mengalami kontradiksi, karena apa yang ada diluar pikiran atau berada di dunia itu tidak akan pernah sama, pasti akan berbeda meskipun di dalam pikiran kita menganggapnya sama. Dengan adanya kontradiksi inilah tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Dengan tidak sempurnanya manusia, maka jangan sampai manusia itu menyombongkan dirinya karena memang tidak sempurna.

    ReplyDelete
  4. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit

    Kami merasa ragu terhadap pernyataan “Jalani kehidupan seperti air yang megalir”, apakah relevan dengan kondisi dan era generasi saat ini, pada dasarnya air pasti akan bermuara ke lautan luas, namun prosesnya mungkin sangat lama melewati berbagai macam hal dan kejadian, sebagai contoh misalnya saat mengalir diambil seseorang untuk dimanfaatkan untuk menjadi pengairan pada area persawahan, atau mungkin juga dibawa pulang oleh seseorang untuk cadangan air dirumahnya. Kami menyadari bahwa kehidupan seseorang merupakan diri orang itu sendiri lah yang menentukan arahnya, manusia tidak seperti air yang ikut arus kemana alur sungai akan membawanya, seseorang sebagai manusia dengan segala kelebihannya dan pastinya dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri.

    ReplyDelete
  5. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Pertanyaan pertama.
    Arti hidup setiap orang pasti berbeda dengan yang lainnya. Meskipun tidak mutlak berbeda, karena pasti ada beberapa titik poin yang sama. Tidak dipungkiri ada orang yang lebih suka mengerjakan sesuatu yang lebih mudah dan tidak menyukai tantangan, tetapi ada juga yang suka tantangan dan tertarik untuk mengembangkan dirinya. Sebagai seorang pendidik, guru harus mampu mengubah pemikiran siswa yang tidak menyukai tantangan dengan memberi motivasi yang dapat meningkatkan pemikiran siswa agar menyukai tantangan sehingga kreativitas siswa dapat meningkat. Sehingga terjadi interaksi perubahan yang lebih baik dari yang tidak kreatif menjadi kreatif, tidak cerdas menjadi cerdas, bodoh menjadi pintar, dsb.
    Wassalamu'alaikum wr. Wb.

    ReplyDelete
  6. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Pertanyaan kedua.
    Membaca cerita Prof. Marsigit, M.A. yang mengajak professor dari Amerika untuk ikut masuk ke kelas saat Prof. Marsigit mengajar. Berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami, beberapa ada yang kurang yakin dengan adanya Tuhan. Ia mengabaikan segala aturan Tuhan. Sehingga dalam menjalani hidup lebih berorientasi untuk melakukan hal-hal yang dilarang Tuhan dan tidak melaksanakan apa yang diperintahkan. Dengan membaca cerita ini saya menjadi terinspirasi karena sudah memiliki senjata untuk mengubah pemikiran orang tersebut agar yakin kepada Tuhan dengan segala aturanNya yang sebenarnya membuat hidup menjadi lebih baik. Meskipun hal tersebut bukan suatu hal yang mudah.
    Wassalamu'alaikum wr. Wb.

    ReplyDelete
  7. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    “Saya ingin bertanya pak, bagaimana cara mensinergikan apa yang ada dihati dan pikiran sehingga tidak menimbulkan penyesalan dan kontradiksi-kontradiksi terhadap apa yang telah kita lakukan?”
    wah pertanyaan ini merupakan pertanyaan saya juga yang telah memendam dalam pikiran sejak lama. Saat membaca saya turut merenungkan jawaban Prof. untuk menjawab pertanyaan saya sendiri. Ikhlas. Itu jawabannya. Singkat, padat, jelas dan bermakna. Memang sulit untuk ikhlas, bahkan pasti sebagai manusia beberapa kali kita gagal ikhlas. namun, terus berusaha akan membantuk kita untuk terus belajar. Agar tak menyesal, pertama-tama harus sadar bahwa memang kita hidup di dunia yang penuh dengan kontradiksi. Ikhlas akan kehidupan memang sulit tapi itulah proses hidup. Terimakasih atas jawabannya yang sangat menginspirasi, Prof.

    ReplyDelete
  8. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Terkait tentang pertanyaan tentang "kalau orang bunuh diri itu apakah sudah ketetapan dari Tuhan, kalau memang sudah ketetapan dari Tuhan, dalam islam bunuh diri itu termasuk dosa pak, apakah amal-amalnya sia-sia pak?”, saya setuju dengan jawaban dari bapak. Dari sisi agama, jelas itu adalah perbuatan dosa dan masalah apakah amal-amalnya sia-sia, Wallahu A'lam. Fenomena bunuh diri ini memang paling banyak terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan dan sebagainya. Ada berbagai hal yang membuat seseorang memutuskan untuk melakukan suicide, dan sebagian besar karena depresi atau mungkin mental illness. Depresi ini dapat terjadi karena berbagai macam hal pula, seperti karena bullying, tingkat pressure yang sangat tinggi dan lain-lain. Saya rasa hal ini dapat dibantu dengan iman dan berbicara kepada orang lain, entah itu orang tua, keluarga, teman atau bahkan ke psikiater. Karena selain iman yang menjadi pegangan, kita juga perlu menceritakan atau berbagi permasalahan dengan orang lain, meskipun mungkin respon yang diberikan tidak bisa membantu banyak, setidaknya kita berusaha untuk mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hati kita sehingga nantinya tidak akan menjadi gunung api yang tiba-tiba meletus.

    ReplyDelete
  9. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Pembicaraan mengenai takdir selalu menarik bagi saya pribadi. Saya sangat setuju dengan pernyataan Bapak bahwa manusia mempunyai potensi untuk memilih dan memiliki potensi untuk berikhtiar. Sebenar-benarnya hidup manusia adalah pilihan. Saya hari ini adalah hasil dari pilihan saya hari kemarin. Saya saat ini adalah buah dari pilihan saya saat yang lalu.

    ReplyDelete
  10. Latifah Fitriasari
    PM C

    Pandangan orang saat ini merasa benar bahwa orang-orang yang hidup saat ini sebagian ada yang memilih jalan instan. Keputusannya ada pada diri masing-masing individu yang memilih tujuan hidup karena mereka yang menjalani kehidupan mereka masing-masing. Oleh karena itu, sebagai pandangan hidup merupakan suatu hal yang dijadikan dasar setiap tindakan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari, juga dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam kehidupan. Untuk itu jika mencapai kebahagiaan, atau kepenuhan hidup merupakan tujuan tertinggi dalam arti ini merupakan tujuan terakhir manusia karena tidak ada lagi selain ini.

    ReplyDelete
  11. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Mengutip pernyataan ini "hidup merupakan suatu interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan." Inilah mengapa kita diminta untuk tidak menggantungkan harapan kita pada dunia. Karena dunia hanyalah sementara, kita cukup menggantungkan harapan pada Allah SWT, pencipta langit dan bumi dan tempat kita kembali.

    ReplyDelete
  12. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Ketika kita berbicara tentang istilah instan, maka konotasi makna yang muncul dalam benak sesuatu yang langsung dan cepat. Budaya instan apabila kita lihat dari sisi teknologi bernilai positif karena memudahkan manusia untuk menjalankan aktifitasnya, akan tetapi budaya instan yang saat ini merajalela adalah keinginan untuk sukses instan. Mencari uang secara instan, tak berlama-lama kerja langsung dapat uang banyak, meskipun harus mengambil uang orang lain. Siswa yang mengerjakan tugas dari gurunya juga mengerjakannya secara instan, mereka tinggal melihat pekerjaan temannya, mengerjakan ujian nasional dengan membeli kunci jawaban, masuk perguruan tinggi dengan bayar joki atau melakukan nepotisme. Semua hal yang instan tersebut seolah merajalela, kita sebagai guru hendaknya memberikan pengarahan kepada siswa sejak dini untuk menghindari hal-hal tersebut.

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Saya tertarik dengan pertanyaan Ulin, karena saya juga pernah berpikir seperti itu dan belum mendapat jawaban. Setelah membaca tanggapan Prof Marsigit, saya jadi tahu bahwa menurut filsafat takdir itu adalah sesuatu yang sudah terjadi, karna itu merupakan pikiran manusia. Akan tetapi pada ranah spiritual, takdir itu tidak hanya yang sudah terjadi saja tetapi juga mengenai yang akan terjadi. Maka sebenar-benarnya hidup itu adalah pilihan.

    ReplyDelete
  14. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Kehidupan ini memang memiliki alur yang berbeda-beda bagi setiap manusia, namun tujuan hidup itu sama bagi setiap orang. Banyak orang yang lebih memilih jalan yang mudah, dari pada menempuh jalan yang susah. Itu logis dan wajar. Karena sebenarnya hidup ini tentang pilihan yang kita lakukan. Maka kita akan menjalani hidup sesuai dengan pilihan kita. Namun juga harus dipahami bahwa takdir, ataupun ketentuan Tuhan juga memegang kuasa atas setiap hambanya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  15. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    dalam mengartikan hidup tentu banyak sekali versi, tergantung sudut pandang orang tersebut. banyak sekali orang yang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dicapai dengan menempuh cara yang instan tanpa melihat efek samping dari langkah yang dia ambil. kita sebagai manusia diwajibkan untuk ikhtiar dan berdo'a, jangan hanya pasrah dengan apa yang akan dan sedang terjadi. untuk hasil dari apa yang kita ikhtiarkan, apakah itu sesuai dengan yang kita inginkan atau tidak, kita harus percaya bahwa itu taqdir dan itulah yang terbaik menurut Allah bagi kita.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa filsafat itu masih di bawah ranah spiritual, oleh karenanya, filsafat tidak merujuk ke hal yang terlalu agamis untuk menerangkan masalah arti hidup. Dari yang saya pahami, arti hidup di dunia ini menurut filsafat adalah dengan melakukan hermeneutika antara sesama manusia di dunia ini. Karena hidup tidak akan berarti jika tidak melakukan hermeneutika antar sesama.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Filsafat bukan semata-mata suatu pikiran yang hanya untuk memenuhi keingintahuan manusia, tetapi filsafat mempunyai fungsi penting untuk mengetahui arti kehidupan manusia. Semakin banyak kita belajar filsafat, semakin dapat kita mengetahui arti kehidupan. Oleh karena itu belajar filsafat adalah suatu hal yang penting. Ketika kita telah mengetahui arti kehidupan, kita akan berpikir tentang untuk apa hidup itu sebenarnya. Sehingga, kita dapat tegar dan mempunyai pedoman dalam menghadapi masalah dalam kehidupan.
    Maka, sempatkanlah diri untuk terus membaca dan mencari referensi untuk belajar filsafat.

    ReplyDelete
  18. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Saya tertarik dengan kisah dosen yang tidak mempercayai Tuhan. Seperti kata bapak "Untuk mengetahui Tuhan tidak cukup hanya dengan pikiran saja, tapi dengan hati, karna itu adalah ranah hati, itu kasusnya mengenai feeling." Disini saya fokus kepada keseimbangan hati dan pikiran dalam menjalani hidup. Dimana saat ini mungkin banyak orang lebih mengutamakan pikiran dan tidak menggunakan hati mereka dengan semestinya. berhubungan dengan bidang pendidikan, perlunya seorang pendidik menggunakan hati dalam proses pembelajaran. Misalnya guru menemui kesulitan dalam mengajar beberapa siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang tentu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan dalam mengajar.

    ReplyDelete
  19. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Mereka yang hidup pasti memiliki tujuan hidup. Dan setiap orang memiliki tujuan hidup yang intinya tetap sama yakni mencapai kesempurnaan walau kesempurnaan itu tidak akan tercapai. Jika kesempurnaan itu mampu tercapai lalu tujuan hidup seperti apa lagi yang ingin dicapai seseorang. Ketika tidak ada tujuan hidup maka apa arti hidup bagi seseoranga. Tujuan hidup seseorang memang berusaha menuju sempurna, artinya semua sama, namun secara real dipandang berbeda oleh orang lain, karena arti hidup bagi setiap orang berbeda. Benar seperti yang tersebut dalam elegi diatas, bahwa sangat penting kita mempelajari filsafat, karena semakin kita memahami arti hidup dengan filsafat maka akan semakin kita tahu apa arti hidup untuk mencapai tujuan hidup kita.

    ReplyDelete
  20. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Hakikat hidup itu sesungguhnya memilih dan dipilih, kita dilahirkan melalui rahim ibu kita itu adalah ketika kita dipilih untuk lahir dari rahim ibu kita masing-masing, lalu ketika kita kuliah di UNY adalah ketika kita memilih. Lalu bagaimana kita berkembang itu merupakan suatu pilihan bagi kita, bagaimana karakter kita itu juga kita yang menentukan. Jadi, kamu sendiri yang akan mengatur hidupmu, tetapi jangan lupa untuk selalu menghormati oranglain. Selain itu, penting bagi kita ketika akan memulai sesuatu hal apapun diawali dengan berdoa, begitu juga saat akan menuntu ilmu. Karena menuntut ilmu sendiri pada dasarnya belajar mengenai hal lain yang belum diketahui, maka dengan berdoa itulah kita meminta perlindungan dari Tuhan untuk diteguhkan hatinya dan terhindar dari hal-hal yang buruk.

    ReplyDelete
  21. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Hidup itu penuh dengan pilihan, hidup itu penuh dengan dimensi. Maka hidup itu adalah bagaimana cara mengembangkan akan potensi yang telah diberikan Allah. karena hidup adalah pilihan, maka pilihlah aturan yang lebih mendekatkan kepada Allah, karena sebaik-baik aturan adalah aturan dari Allah.

    ReplyDelete
  22. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC


    Hidup itu adalah fatal dan vital. Hidup itu adalah tentang ikhtiar dan takdir. Hidup adalah tentang memilih dan terpilih. Setiap manusia diberi kesempatan untuk memilih artinya manusia diberi kesempatan untuk berikhtiar sebaik mungkin. Jika ingin pintar maka harus belajar, jika ingin sukses maka harus bekerja keras. Tetapi manusia juga tidak boleh lupa akan takdir. Bahwa manusia itu terpilih. Maka setelah berusaha dengan sebaik mungkin, manusia harus berdoa kepada Allah SWT agar Allah memilihkan yang terbaik. Setelah berikhtiar dan berdoa maka kita harus pasrah akan ketentuan yang Allah SWT pilihkan kepada kita. Yakinlah bahwa setiap skenario yang Allah SWT siapkan untuk kita adalah yang terbaik.

    ReplyDelete
  23. Assalamualaikum Wr. Wb. Hidup dalam kacamata filsafat adalah erat kaitannya dengan menggapai diri dan menggapai ada, dalam arti tidak hanya sekedar hidup tetapi juga mengada. Mengada dalam arti, menjadi insan kamil, menjadi khalifatullah, perawat alam semesta. Oleh karena itu, filsafat tidak akan bisa dilepaskan dari kehidupan. Mencari arti kehidupan adalah bagian dari berfilsafat.

    ReplyDelete
  24. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Refleksi di atas adalah refleksi yang sangat menginspirasi dan memberikan banyak pencerahan. Menurut saya, semua yang tertulis dalam refleksi tersebut adalah hal yang penting untuk kita ketahui karena banyak memberikan pemahaman tentang filsafat dan kehidupan.
    Berbicara mengenai takdir. Disebutkan dalam refleksi di atas, bahwa dalam filsafat takdir adalah sesuatu yang sudah terjadi, sedangkan dalam spiritual, takdir bukan saja sesuatu yang sudah terjadi tetapi juga yang belum terjadi. Sebagai seorang Muslim, tentu saya meyakini bahwa apa yang terjadi sudah lebih dahulu ditentukan dan telah tercatat dalam Lauh Mahfudz. Hanya saja, takdir yang belum terjadi masih menjadi sebuah misteri. Itulah indahnya. Alloh sudah menentukan bagaimana kehidupan kita, tapi Ia juga memberikan pilihan-pilihan bagi kita. Apakah kita mau memberikan ikhtiar terbaik kita untuk menjemput takdir terbaik kita atau tidak.
    Takdir memang sudah Alloh tentukan, tapi Alloh juga Maha Kuasa untuk merubah takdir hambaNya selama ia mau berdoa dan berusaha.

    ReplyDelete
  25. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Hidup berbentuk seperti garis yang terkadang lurus, terkadang bergelombang naik turun, bahkan terkadang seperti lingkaran yang berputar terkadang bisa berada di atas dan terkadang bisa berada dibawah. Hidup merupakan perjalan yang harus kita tempuh dan setiap tantangan ataupun hambatan yang ada harus dilewati. Menurut pandangan filsafat jika hidup hanya berbentuk menoton maka kita tidak akan mampu menjadi pribadi yang kuat dan kokoh serta menjadi pribadi yang tangguh.

    ReplyDelete