Nov 3, 2015

FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN


FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN
Refleksi pertemuan ketujuh (Kamis, 29 Oktober 2015)
Direfleksikan oleh: Vivi Nurvitasari, 15701251012
Diperbaiki oleh: Marsigit

http://vivinurvitasari.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-dalam-memandang-berbagai.html

Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit.

Sistem pertemuan pada minggu ini sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu adanya tes jawab cepat diawal kuliah, tema tes kali ini juga masih sama dengan tema pada pertemuan minggu sebelumnya yaitu tentang “Menembus Ruang dan Waktu”. Tes jawab cepat yang diberikan Pak Marsigit ini sudah ada dalam postingan-postingan Bapak diblog Pak Marsigit. Sehingga untuk bisa menjawab tes ini, mahasiswa diharapkan rajin membaca dan memperbanyak membaca postingan diblog Pak Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami :“Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami  isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”

Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut adalah: ”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja.

Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat saya ini fungsinya tidak semata-mata mengetahui pikiran anda, tapi untuk sarana mengadakan dari yang mungkin ada bagi dirimu masing-masing. Setidaknya dari bertanya tadi para mahasiswa sudah mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu, apa maksudnya? Jangankan manusia, sedangkan binatang, tumbuhan dan batu pun juga menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang.

Semua benda bisa saya katakan, didepannya diberi artikel waktu, misalkan pada hari Kamis ini kabut asap, pada hari Kamis ini Presiden Jokowi. Silahkan sebut 1 (satu) sifat saja dari bermilyar pangkat bermilyar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu yang bisa anda sebut, bahkan yang notabenenya terbebas oleh ruang dan waktu yang ada di pikiran anda, misalnya 2+2=4 itu karena terbebas oleh ruang dan waktu, tapi saya masih bisa mengatakan hari ini bahwa 2+2=4, pada hari Jumat besok juga 2+2=4, itu identitas karena terbebas oleh ruang dan waktu, ketika sudah terikat oleh ruang dan waktu serta merta menjadi kontradiktif, ada sifat-sifatnya dan sifat itu bersifat subordinat menjadi predikat daripada subyeknya.”

Pertanyaan kedua dari Sdri. Fajar:”Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia dan meningkatkan pendidikan di Indonesia?”

Jawaban dari Pak Marsigit Adalah: “Itu tema besar tapi itu bisa anda baca di postingan saya yang sudah ada dan sangat lengkap, tapi esensinya untuk mengetahui praksis pendidikan, alangkah baiknya juga mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Itu wadahnya tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan maka belajarlah filsafat. Semua terangkum di postingan saya termasuk ada unsur-unsurnya, pilar-pilarnya politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan konstekstual. Jadi tidak usah jauh-jauh ke Amerika karena di Indonesi pun ada politik pendidikan juga politik pemerintahan.”

Pertanyaan ketiga dari Sdra. Ndaru Asmara: ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praksisnya. Bagi seorang filsuf, dia berkeinginan untuk menjelaskan kenapa orang kesurupan, tapi filsuf sendiri tidak bisa kesurupan, sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya, jangan kemudian filsuf juga harus ikut-ikutan kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan tentang alasan mengapa orang kesurupan tersebut, karena filsafat itu olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada itu kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib secara filsafat naik spiritual, turun menjadi psikologi, filsafat itu lengkap ada spiritualnya juga ada psikologinya.

Orang awam akan menyebut ilham, spiritual petunjuk dari Tuhan, kalau seseorang mendapatkan pencerahan, tetapi tidak mengerti sebabnya dia memperoleh pencerahan tersebut, secara filsafat begitu saja, itu namanya ilham. Dan ternyata kalau kita mau meneliti setiap yang ada dan yang mungkin ada, setiap waktu saya selalu mendapatkan ilham, saya bisa menjawab pertanyaanmu karena saya mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham, semua pencerahan yang ada ini adalah ilham. Apakah anda bisa menjelaskan proses trjadinya ketika anda bisa menjawab dengan menggunakan yang ada didalam pikiranmu? Seberapa jauh anda bisa, dan tidak akan bisa sempurna, pada akhirnya itu adalah ilham juga.

Wahyu itu juga ilmu, makanya orang jaman dahulu dipersonifikasikan wahyu itu sebagai benda hidup, karena apa? Karena audiensnya itu  tradisional sekali maka ketika sang Arjuna (Pak Marsigit) mencari wahyu itu pergi ke hutan ke tempat yang sepi artinya itu engkau dikamar (untuk jaman sekarang) lalu membaca elegi saya. Itu sama saja ketika jaman dulu arjuna masuk ke hutan mencari wahyu atau menyepi, merenung, memahami, disitulah anda akan mendapatkan wahyu yang banyak sekali, pengetahuan yang mungkin ada menjadi ada.

Persis sama dengan yang dilakukan arjuna itu tadi, yang mungkin ada menjadi ada, wahyunya berupa manusia setengah dewa bisa berdialog dengan arjuna sehingga akan menjadi satu dengan diri Arjuna. Apa yang menjadi satu dengan dirimu? Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual, itu yang telah menjadi satu dengan dirimu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan dan jaaban-jawabanku, jadi anda tadi sudah mendapatkan banyak sekali wahyu ketika menjawab pertanyaan dan memperoleh jawaban dari saya, tapi engkau tidak menyadarinya.

Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib dsb itu diterangkan naik spiritual filsafat transenden, turun psikologi. Transendennya filsafat adalah noumena. Noumena itu diliuar dari fenomena. Yang dipegang yang dilihat semua yang difikirkan yang didengar itu semua fenomena, maka ruh dan arwah dianggap noumena.

Usaha manusia untuk mengetahui tentang arwah atu ruh, dilakukan dengan berbagai macam metode  memakai logika, memakai pengalaman, memakai teori ke spiritual berbagai macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada batasannya, batas-batas tertentu, maka bagi pikiran saya yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat potensi positif.

Di dalam dirimu ada potensi negatif ada potensi positif, neraka itu potensi negatif, surga itu potensi positif oleh karena itu raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia. Maka  orang-orang yang sudah masuk surga atau calon penghuni surga itu secara psikologi itu kelihatan, secara hukum juga kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum, jelas dia orang-orang yang masuk neraka secara hukum, secara spiritual lain lagi, itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihat pun berdimensi, dan yang dipikirkanpun berdimensi.

Maka bagi anak kecil pohon itu ada hantunya, padahal kata kakak saya itu hanya supaya anak kecil takut dan tidak merusak tanaman, jadi bagi orang dewasa itu hanya sebatas menakut-nakuti si anak kecil, itulah buahnya.

Berbicara dengan hewan (saya pus-pus, kucingnya meong), akrab dengan kucing, apa definisi bicara?, itu saya sudah mengetahui bahasa kucing. Komunikasi dengan tumbuhan (aduh kamu tumbuhan sudah mulai layu maka aku siram), jadi elegi kalau diteruskan elegi tumbuhan membutuhkan air, dialog antara tumbuhan dengan yang menanamnya tadi itu munculnya elegi itu seperti itu. Jadi bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

Saya pernah mengalami pengalaman spiritual selama 10 hari tinggal dimasjid belajar bersama sufi, menertibkan tata cara berdoa beribadah, dsb. Ketika intensif berdoa disitu, alamnya seperti itu, saya pun rasanya enggan pulang, ingin saja berdoa terus, dan ketika itu sensitifitas rohani atau hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan-kemampuan metafisik itu muncul jangankan dengan apa yang dikatakan atau berdialog dengan itu, misalkan seseorang yang makan bakmi di pinggir jalan yang bakminya tidak didoakan ketika dibuat, dan orang yang memakannya tidak berdoa sebelum makan bakmi tsb, saya melihatnya seperti orang memakan cacing, itu ketika diriku sedang memiliki spiritual yang sangat tinggi.

Level tertentu pada suatu dimensi komunikasi (dengan yang gaib) mempunyai sifat da karakter tertentu bersiat subjektif yang hanya dapat diketahui atau dirasakan oleh yang bersangkutan. Pemahaman dalam pikirannya terkadang menggunakan pengalaman-pengalaman persepsi (pancaindra) untuk menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya dengan yang gaib. Sehingga ada jarak antara persepsi dan pikirannya. Jarak itulah sebagai penyebab tidak validnya pengalaman pribadi berkomunikasi dengan yang gaib, jika akan dituturkan kepada orang lain, Maka barang siapapun, tidak dapat mengatakan kepada siapapun perihal pengalaman spiritual (khusyuk) kecuali hanya dirasakannya sendiri, semata-mata untuk meningkatan kadar keimannnya. Begitu dituturkan kepada orang lain, serta merta akan menjadi tidak valid.

Pertanyaan keempat dari Sdra. Suhariyono:”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.”

Pertanyaan kelima dari Sdri. Ma’alifa Alina: ”Bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?”

Jawaban dari Pak Marsigit adalah: “Kalau menurut saya, spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Kalau saya daripada artinya sesuatu yang sangat diluar kemampuan saya secara alami mengalir, lihat diriku, diri orangtuaku, lihat diri keluargaku, lihat diri pikiranku, lihat diri pengalamanku, begitu saja bagi saya, mengalir saja. Tengoklah komunitasmu, tengoklah keluargamu, tengoklah pengalamanmu, seperti apa spiritual itu selama ini? Maka hidup yang baik adalah masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Spiritual itu adalah tugas kita sebagai manusia untuk berikhtiar mengetahui mana-mana saja yang soheh, dan yang kurang soheh, dst.

Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya adanya teknologi untuk menentukan tangaal 1 syawal, karena saya tidak bisa ya maka saya hanya bisa mengikuti aturan dari pemerintah saja, ketetapan pemerintah. Jadi segala macam spiritualitas bersifat postulat, postulat adalah yang kemudian menjadi model diterapkan didunia, manusia juga membuat postulat-postulat, maka subyek menentukan postulatnya bagi obyeknya. Engkau juga membuat postulat, membuat peraturan pada adik anda. Jadi seperti itu struktur per struktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur, struktur dirimu itu ternyata dinamik yang sedang menembus ruang dan waktu.”

Pertanyaan selanjutnya dari Sdra. Bayuk Nusantara: “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Sudah berkali-kali saya katakan,  jadi itu maksudnya karena pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.”
Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Kebenaran diriku itu subjektif, kebenaran kita itu objektif, kebenaran para dewa adalah paralogos, kebenaran para daksa adalah faktanya, kebenaran kapitalis adalah modalnya, kebenaran skeptis adalah keraguannya, kebenaran fallibis adalah kesalahannya, kebenaran dunia adalah plural, kebenaran spiritual adalah tunggal, kebenaran idealis adalah tetap, kebenaran realis adalah relatif, kebenaran langit adalah aksioma, kebenaran bumi adalah konkritnya, kebenaran subjek adalah predikatnya, kebenaran predikat adalah subjeknya, kebenaran normatif adalah ontologinya, kebenaran estetika adalah keindahannya, kebenaran matematika adalah koherensinya, kebenaran tindakan adalah tulisannya, kebenaran tulisan adalah ucapannya, kebenaran ucapan adalah pikirannya, dan kebenaran pikiran adalah spiritualnya, kebenaran statistika adalah validitasnya, kebenaran psikologi adalah gejala jiwanya, kebenaran wadah adalah isinya, kebenaran isi adalah wadahnya, kebenaran filsafat adalah intensi dan ekstensinya.

Pertanyaan terakhir dari Sdri. Tyas Kartiko: ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Ya kompleks ya sederhana, tapi bukan jawaban saya yang seperti ini yang merupakan filsafat. Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Anda mengerti bahwa anda sedang berpikir, itu filsafat, jadi sederhana sekali. Kalau ingin ditambahkan boleh pilarnya ada 3 Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kompleks karena intensif, dalam sedalamnya bersifat radik, maka ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu luas seluas-luasnya, melipiuti dunia dan akhirat. Yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu, setelah engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah, gunakan alat yang lain yaitu spiritualitas.

Dalam rangka menggapai kebenaran itu, Francis Bacon namanya, terkenal dengan kata-kata ‘knowledge is power’, pengetahuanmu itu adalah kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang itu mencapai kebenaran. Kendala pasar, misalnya di facebook orang bicara begini begitu, jadi kalau begini kesimpulannya begitu, juga kalau begitu kesimpulannya begini, dsb.  Kendala panggung, artis misalnya Syahrini mengatakan begitu, jadi ini itu begitu menurut Syahrini seorang artis terkenal. Pak marsigit berkata spiritualnya formal adalah spiritual, sampai akhir kuliah, sampai engkau meninggalkan dunia akan tetap seperti itu, itu berarti engkau  termakan atau terpengaruh oleh mitos-mitosnya pak Marsigit. Itu harus engkau cerna dan telaah, itulah mengapa saya heran kenapa tidak ada mahasiswa yang bertanya tentang pertanyaan soal tes saya tadi, berarti sudah ada kecenderungan  engkau itu terhipnotis oleh pernyataan saya dan itu menjadi kebenaran final bagi dirimu, padahal itu bukan kehendak daripada berfilsafat ini. Engkau harus membuat anti thesisnya.

Namanya orang menguji itu suka-suka, engkau bisa saja menguji saya supaya nilai saya mendapat nol. Nilai nol itu bukan berarti salah tapi itu membuktikan bahwa setiap dari dirimu itu mempunyai filsafatnya masing-masing, karena filsafat dari perkuliahan ini adalah untuk mengajarkan agar kita tidak sombong dengan mendapatkan nilai nol dari setiap tes, agar kita selalu rendah hati. Tetapi kalau itu kesimpulannya berarti engkau sudah berhenti berpikir, tetapi filsafat itu terus menerus memikirkannya, maka bacalah pertengkaran antara orang tua berambut putih karena itu proses mendapatkan ilmu. Jangan hanya membaca elegi Pak Marsigit di dalam mimpi, mimpi itu diukur konsistensinya jadi tidak koheren, tapi mimpi itu sebagian dari pengalaman tapi tidak sepenuhnya jadi tidak korespondensi. Jadi mimpi itu bukan persepsi. Mimpi bisa diterangkan dengan teori berpikir, tapi akan lain jika diterangkan oleh seorang paranormal.”

Alhamdulillahirrobil’alamin
Wasssalmu’alaikum, Wr. Wb.

63 comments:

  1. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat selalu erat kaitannya dalam kehidupan, berfilafat maka manusia berfikir. Namun bukan hanya ekedar berfikir, tetapi juga memahami setiap makna dan arti dari kehidupan dan seluruh dinamikanya.

    ReplyDelete
  2. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika sudah sampai pada tahap berfilsafat dan berfilsafat sesuai dengan kaidah maka orang tersebut telah sampai pada tahap yang tinggi yaitu mampu menentukan mampu berfikir yang dapat memberikan efek jangka pendek maupun panjang untuk kehidupannya maupun kehidupan orang banyak.

    ReplyDelete
  3. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat tidak ada yang salah dan benar dalam memahami setiap kontennya. Tergantung pikiran massing-masing orang yang tentunya memiliki pengalaman dan masa lalu kehidupannya.

    ReplyDelete
  4. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat tidak ada yang salah dan benar dalam memahami setiap kontennya. Tergantung pikiran massing-masing orang yang tentunya memiliki pengalaman dan masa lalu kehidupannya.

    ReplyDelete
  5. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat adalah dirimu sendiri, maka berfilsafat adalah metode hidup. Sepintar apapun orang jika diberikan pertanyaan berkaitan dengan filsafat juga bisa mendapat nilai nol, karena filsafat tergantung pada masing-masing pemahaman orang

    ReplyDelete
  6. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalan filsafat tidak ada benar dan salah, karena salah itu juga bisa berarti benar sesuai keadaan. Kebenaran dalam filsaat adalah kebenaran yang objektif, karena filsafat adalah tentang diri masing-masing

    ReplyDelete
  7. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat itu sederhana dan jua kompleks, karena filsafat adalah berpikir. Tingkat befpikir tiap orang pastilah berbeda-beda, maka dari itu filsafat tergantung dari cara berfikir masing-masing orang. Tetapi jika anda sudah menyimpulkan sesuatu dan berhenti berpikir, disitu anda sudah tidak lagi berfilsafat

    ReplyDelete
  8. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Urusan spiritual adalah urusan masing-masing kita dengan Tuhan, spiritualku ya dengan melihat diriku, lingkunganku, keluargaku, pola pikirku, pengalamanku. Karena itu berkaitan denga diri masing-masing, bukan antar manusia

    ReplyDelete
  9. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia itu terbatas, sesuai ruang dan waktunya. Keterbatasan kita mungkin pada orang lain tidak, begitu ppun sebaliknya. Manusia membuat postulat atau aturan-aturanya sendiri, sehingga terbentuklah struktur dalam dirinya yang berkaita dengan menembus ruang dan waktu

    ReplyDelete
  10. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Beragama dalam filsafat dimulai dari hati terlebih dahulu. Tetapkanlah dulu agamamu, keyakinanmu, dan mantapkan hatimu, baru setelah iitu kuatkan dengan pikiran-pikiran untuk memperkuat iman dan taqwa dengan belajar agama yang anda yakini dan mengamalkanya

    ReplyDelete
  11. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebagaimana telah disebutkan dalam refleksi ini, berfilsafat adalah menyadari bahwa saya belum tahu, menyadari dan mengegahui ketidaktahuanku, menyadari kapan mulai mengetahui dan mengetahui batas antara tahu dan tidak tahu.
    Namun manusia terkadang tidak mengetahui batasan antara tahu dan tidak tahu. Karena terkadang manusia tidak mau belajar lebih, untuk mengetahui ketidaktahuannya. Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, ketidaktahuan merupakan sebuah hal yang wajar, namun dengan semakin banyak ketidaktahuan, menandakan sejauh mana seorang manusia mencari pengetahuan. Karena manusia yang semakin banyak mencari ilmu dia akan merasa kecil karena mengetahui banyak hal yang dia tidak ketahui.

    ReplyDelete
  12. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Pendidikan sebuah hal yang terpenting dalam kehidupan dan dalam pendidkan pada umumnya mengajarkan sebuah arti dari kebenaran dan kebaikan. dan semua orang berhasrat untuk melakukan kebenaran, tapi apa itu kebenaran sendiri sebagaimana dijelaskan pada refleksi diatas kebenaran mempunyai sifat-sifat tertentu apabila dilihat dari segi kualitas pengetahuannya.

    ReplyDelete
  13. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Share dari refleksi perkuliahan ini. Setelah kami (saya) baca dan coba renungi dan coba pahami. Pemahaman saya saat ini (setelah membaca ini) adalah berfilsafat ketidaktahuan itu bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan. Filsafat adalah mengolah pikir dan mencari tentang kebenaran (yaitu yang sesuai dengan ruang dan waktu-nya). Dengan demikian saya teringat dengan filsafat Rene Descartes “Cogito Ergo Sum” di mana dalam filsafatnya “aku berpikir, maka aku ada” (Hardiman, Budi, 2007:37).

    Terima kasih banyak atas share refleksi yang sangat menginspirasi ini.

    ReplyDelete
  14. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postigannya Pak. Kembali saya mengingat salah Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an yang kurang lebih artinya adalah "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang berilmu beberapa derajat." Sebagaimana contoh yang Bapak sebutkan mengenai layang-layang pikiran yang diterbangkan jauh tanpa landasan agama bisa jadi berakhir di tempat yang tidak baik, ilmu dan agama adalah dua hal yang harus dijalankan secara beriringan. Orang beriman harus berilmu dan orang yang berilmu harus beriman.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Saya tertarik dengan penjelasan yang Prof berikan tentang filsafat dapat dikatakan kompleks dan juga sederhana. Dikatakan sederhana karena filsafat merupakan olah pikir, dan dikatakan kompleks jika pikiran tidak bisa lagi memikirkan apa yang dipikirkan. Akan tetapi pikiran saya masih memandang filsafat sebagi hal yang kompleks dan sulit untuk dicerna. Mengapa bisa demikian Prof? apakah dimensi yang saya gunakan masih salah Prof?
    Saya juga pernah membaca sebuah buku dimana Aristoteles pernah mengemukakan bahwa segala sesuatu dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. (1) Substansi, (2)aksidensia mutlak, (3) aksidensia relative, (4) tindakan, (5) derita, (6) ruang, (7) waktu, (8) keadaan, (9) kebiasaan. Apakah berbagai struktur kehidupan dapat digolongkan kedalam kelompok yang di kelompokkan Aristoleles Prof? mohon pencerahannya.

    ReplyDelete
  16. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs P.Mat A 2017

    Pada refleksi kali ini, ketidaktahuan sebenarnya hal yang wajar, bisa dikatakan ketidaktahuan merupakan bagian dari pengetahuan karena dari ketidaktahuan akan lahir pengetahuan-pengetahuan baru yang nantinya akan memunculkan suatu pencerahan. Pencerahan akan datang dari ketidaktahuan. Asalkan diri kita sadar dengan ketidaktahuan kita. Sehingga nantinya kta dapat mencari pengetahuan-pengetahuan untuk mengatasi ketidaktahuan tersebut. Semakin banyak yang ingin kita ketahui akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan ketidaktahuan yang akan muncul. Sehingga kita mempunyai sifat rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu muncul karena kita yang selalu berpikir. Dari rasa ingin tahu akan dapat memecahkan setiap permasalahan yang ada. Dengan bekal rasa ingin tahu juga kita dapat mengerti tentang diri sendiri dan mengetahui tentang suatu kebenaran. Karena sesorang yang selalu ingin tahu akan menggunakan pikirannya untuk mencari kebeneran kebeneran sesuatu yang mereka pertanyakan.

    ReplyDelete
  17. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Filsafat mengajarkan kita untuk rendah hati. Selalu merasa tidak tahu adalah kunci dari aktivitas berfikir manusia. Ketidaktahuan kita menggiring kita untuk lebih menggerakkan otak kita untuk mencari tahu. Orang yang merasa paling tahu itulah justru memiliki kecenderungan berhenti berfikir lebih tinggi. Sehingga orang yang merasa paling tahu dan paling pintar akan mendekatkan diri pada kesombongan yang berimplikasi pada sulitnya menerima ilmu baru.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika boleh saya memilih, saya lebih memilih menjadi orang yang tidak tahu ap-apa. Namun, apakah kita hidup itu untuk memilih? Bukannya kita hidup itu untuk bersyukur dan cara bersyukur kita dengan cara melakukan ibadah terhadap Tuhan? Sebagaimana yang di Nash kan di dalah Al-Qur’an pada surat ke 51 ayat 56 yaitu “wa maa kholaqtu al jinna wa al insa illa liya’buduun” yang memiliki arti --tidaklah Aku (Alloh) menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah—Ibadah tersebut merupakah refleksi dari sikap syukur kita kepada Alloh SWT yang telah memberikan banyak sekali kenikmatan salah satunya adalah kenikmatan memiliki ilmu. Penyakit atau cobaan bagi orang yang berilmu adalah sifat takabbur yaitu sifat tinggi hati yang mengganggap “aku adalah segalanya”. Hal tersebut yang jika saya cermati dalam artikel ini menjadi penyebab tidak bisanya kita berfilsafat karena masih selalu puas akan yang kita miliki. Karena memang benar adanya, orang yang selalu haus akan ilmu adalah mereka yang sedang mencari jati diri mereka sendiri agar menjadi jari diri yang memang sesuai dengan ruang dan waktu kita masing-masing.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  19. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Dari refleksi ini, saya mengetahui bahwa dalam belajar filsafat tidak perlu takut salah, bahkan kesalahan tersebut mengajarkan kita untuk selalu mau belajar dan membaca lebih banyak lagi. Selain itu, berfilsafat mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dalam menuntut ilmu, menyadari bahwa kemampuan kita sebagai manusia sangatlah terbatas, sehingga jangan pernah ingin menjadi manusia yang ahli dalam semua bidang di kehidupan ini, karena itu di luar kemampuan kita sebagai manusia. Berfilsafat juga mengajarkan kita untuk mempunyai pedoman atau pegangan yakni agama, dengan adanya agama kita mempunyai pijakan, mempunyai tujuan, kita akan mengetahui bagaimana dan untuk apa ilmu-ilmu dunia yang selama ini sudah kita peroleh.

    ReplyDelete
  20. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Mengenai padangan filsafat terhadap agama, saya sangat tertarik dengan jawaban Bapak. Banyak orang yang ilmunya sudah tinggi tapi masih tidak dapat mempercayai Tuhan, mereka tenggelam di dalam ilmunya namun tidak memiliki dasar keimanan yang kuat. Maka benar bahwa tetapkan agamamu, pelajari dulu agamamu, dan baru dikaji lebih dalam sehingga tidak gampang digoda setan dan paham2 sesat.

    ReplyDelete
  21. Insan A N/S2 Pmat C
    Bismillah, sedikit saya tergertak bahwa sebelum berfilsafat, maka kuatkanlah patoknya, kuatkanlah ikatannya, yang dalam tulisan ini dimaksud dengan agama. dengan keyakinan agama yang sudah kuat, maka kita tidak akan terombang-ambing karena kita punya patokan sebagai pengikat agar tidak lepas dan jatuh,

    ReplyDelete
  22. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Benar dan salah mengikuti ruang dan waktu. Adakalanya suatu hal benar di waktu A dan tempat B tetapi menjadi salah ketika di waktu D dan tempat C. Meskipun begitu sebagai seorang manusia kita harus memiliki pegangan yang kuat agar tidak terombang ambing dengan benar salah dalam ruang dan wkatu, karena ada kalanya benar dan salah itu mengikuti ruang dan waktu, tetapi ada kalanya pula benar dan salah adalah mutlak tetap. Maka sebaik-baik pegangan adalah agama kita. Katika kita telah memiliki keyakinan yang kuat, maka kita akan percaya dan yakin bahwa ada kalanya sesuatu itu hitam, ada kalanya sesuatu itu putih, tetapi ada kalanya pula sesuatu itu abu-abu, bahkan ada kalanya pula sesuatu itu ada pada batas antara hitam dan putih, antara hitam dan abu-abu, antara abu-abu dan putih. Semoga kita senantiasa diberikan hidayah dan petunjuk oleh Allah Swt agar tidak tersesat dari jalan Nya. Amin.

    ReplyDelete
  23. Muhammad sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    pelajaran yang dapat saya ambil dari tulisan diatas adalah bahwa dalam mencari ilmu atau mengolah pikir (berfilsafat) harus IKHLAS berusaha dan berikhtiar, SABAR dan tidak patah semangat, berSYUKUR atas semua yang dialami dan didapatkan karena semua itu adalah ilham.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Tulisan yang sangat apik dalam pemahaman antara filsafat yang dikaitkan dengan struktur kehidupan. Pada tulisan ini terlihat dalam berbagai konteks. Saya juga banyak belajar dari para dosen yang telah lebih dahulu belajar dan beliau selalu berpesan kepada saya agar selalu rendah hati. Ketika ada perasaan rendah hati di dalam diri, maka kita akan sadar dan menganggap bahwa banyak hal yang belum kita ketahui. Oleh karena itu, saya selalu menyempatkan waktu untuk membaca agar pikiran saya dapat terus bekerja secara optimal. Selain itu, satu pernyataan dari Rene Descartes yang selalu memotivasi diri saya, yaitu cogito ergo sum, "aku berpikir maka dari itu aku ada". Ini berarti bahwa eksistensi manusia dapat tercermin dari pola pikirnya.

    ReplyDelete
  25. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017

    Tulisan yang sangat mendalam untuk memahami nilai kebenaran dari filsafat itu sendiri. Karena pada dasarnya kebenaran filsafat itu sendiri adalah relatif. Dan kebenaran itu juga selalu mengalami perkembangan zaman atau waktu dan peradaban manusia. Penilaian tentang suatu kebenaran itu juga bergantung pada ruang dan waktu, walaupun kebenaran yang diinginkan oleh filsafat adalah kebenaran yang tetap atau hakiki sehingga nilai kebenaran tersebut dapat dijadikan sandaran atau pandangan hidup manusia. Pada dasarnya sifat manusia itu tidak pernah merasa puas, karena itu kita selalu mencari kebenaran dari sebuah filsafat agar kita puas akan nilai kebenaran yang kita inginkan. Akan tetapi kita adalah umat beragama islam yang mempunyai Al-quran dan Al-hadis sebagai sandaran hidup.

    ReplyDelete
  26. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B / 2017

    Setiap kali saya membaca postingan tentang refleksi perkuliahan, saya semakin menayadari bahwa saya belum bisa menyimpulkan apa apa terkait beberapa postingan bapak yang sudah saya baca sebelumnya. Karena ketika saya membaca refleksi perkuliahan sebuah kelas yang dituliskan oleh seorang mahasiswa sebelumnya, kemudian membaca refleksi perkuliahan lainnya, saya semakin menemukan banyak kajian yang dimunculkan, tetapi saya belum mengetahui karena memang belum membaca.
    Terlepas dari hal tersebut, saya selalu mengutip kalimat-kalimat yang dapat memotivasi saya, contohnya pada postingan di atas kurang lebih saya membaca bahwa kita tidak boleh sombong dengan ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  27. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Filsafat merupakan ilmu yang kita pelajari untuk memahami, lebih memahami tentang hal-hal yang terjadi di sekitar kita dengan lebih mendalam dan dilihat dari sisi yang berbeda dengan yang umumnya hal-hal tersebut kita pandang, dan semakin kita mempelajari hal tersebut semakin juga kita memahami esensi diri dan esensi dari pikiran kita sendiri.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  28. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Filsafat merupakan ilmu dasar yang mendasari segala pengetahuan. Ketika mempelajari filsafat, sudah dapat dipastikan kita juga mempelajari 3 ilmu ini, yaitu ontologi atau hakikat hidup, kita mempelajari kenyataan konkret secara ikhlas, epistemologi atau dasar-dasar serta batasan-batasan ilmu pengetahuan, setelahnya kita mempelajari aksiologi, kita memahami teori tentang nilai, untuk apa pengetahuan yang telah kita dapatkan itu kita gunakan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  29. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya menggaris bawahi pernyataan Bapak bahwa filsafat itu adalah diri kita sendiri. Jadi, filsafat masing-masing orang terkadang berbeda sesuai yang dipelajari dan diyakini masing-masing orang. Begitu juga dengan konsep benar dan salah yang Bapak sampaikan. Saya sepakat bahwa ketika ujian kita mendapat nilai 0 bukan berarti bodoh tetapi karena kurang membaca dan belajar. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk terus belajar dan tidak merasa pintar karena di atas langit masih ada langit. Begitu pula dengan siswa, ketika mereka belum bisa mengerjakan soal ujian, maka sebagai guru sebaiknya tidak menghakimi bahwa siswa tersebut bodoh.

    ReplyDelete
  30. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PMat C

    Membaca refleksi perkuliahan di atas, beberapa kali disebutkan bahwa "filsafat ialah dirimu sendiri". dari pernyataan tersebut, timbuh suatu pertanyaan besar, lantas bagaimana tolok ukur dalam berfilsafat itu? apakah bisa seluas-luasnya, atau berbatas spiritual dan sebagainya?
    Namun sedikit pencerahan dari konsep fallibilisme yang pernah dijabarkan Bapak sebelumnya, yang pada intinya salah juga merupakan suatu kebenaran, bergantung pada semesta dan kondisinya juga.
    semakin kita belajar semakin kita menyadari bahwa "what we know is nothing", semoga dengan mempelajari filsafat ini semakin memompa semangat untuk terus belajar tanpa menanggalkan identitas kita dan tetap "down to earth"
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  31. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan para mahasiswa pada perkuliahan Filsafat Ilmu prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B, saya tertarik dengan pertanyaan yang menanyakan apakah sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana. Jawabannya adalah filsafat adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat.
    Dan lagi, saya dibuat merenung atas jawaban ini. Karena, selama ini saya berpikir bahwa filsafat itu bahasan yang sangat kompleks dan luas. Namun nyatanya, filsafat adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita memikirkannya, bagaimana kita menerangkannya, itulah filsafat. Hingga sampai dimana kita tidak lagi mampu untuk memikirkannya, maka gunakanlah spiritual.
    Terima kasih Pak, semoga dengan membaca dan mempelajari setiap postingan Bapak, kami para mahasiswa semakin memahami filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  32. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Berfilsafat adalah menyadari kalau kita tidak tahu. Karena menyadari maka kita akan mencari tahu dan terus mencari tahu, membaca dan terus membca fenomena yang ada di sekitar diri kita. Filsafat adalah diri kita. Maka pemikiran orang yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda, maka ada banyak aliran ilmu yang berbeda juga di dunia ini.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  33. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sepakat dengan pernyataan Bapak Marsigit mengenai konsep benar dan salah. Bahwa benar itu sesuai ruang dan waktu atau tidak. Kebenaran yang mutlak adalah kebenaran dari ranah spiritual (absolut). Kebenaran ini berlaku kapanpun, dimanapun, menembus ruang dan waktu. Kebenaran ini berkaitan dengan ketetapan Tuhan yang merupakan hubungan antara diri pribadi dengan Tuhan (habluminallah) serta tuntutan hubungan manusia dengan manusia sebagai sesama makhluk Tuhan (habluminannas).

    ReplyDelete
  34. Shelly Lubis
    17709251040
    Pend. Matematika B

    Saya setuju bahwa berfilsafat itu adalah diri kita sendiri. Tidak perlu kuatir dengan nilai 0 untuk setiap tes filsafat asal kita telah menuangkan pemikiran kita, yang tentunya juga telah terisi, dengan cara memperbanyak bacaan.

    ReplyDelete
  35. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Membaca berbagai ulasan di atas saya memandang bahwa filsafat itu adalah bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu penyataan atau jawaban dengan disertai alasan yang datang dari dalam diri kita sendiri karena filsafat itu adalah sudut pandang kita dalam mengungkapkan dan menyikapi suatu masalah kehidupan, dan yang terpenting adalah kita harus selalu bersyukur terhadap anugrah yang tuhan berikan kepada kita dengan selalu belajar tanpa adanya rasa puas.

    ReplyDelete
  36. Nama : Latifah Fitriasari
    NIM : 17709251055
    Kelas : PM C (S2)

    Nilai nol bukan berarti salah. Nilai nol dimaksudkan masih rendahnya pengetahuan yang dimiliki.Karena pengetahuan itu tak terbatas. Dengan belajar pada saat duduk di bangku perkuliahan itu rasanya masih belum cukup. Masih banyak yang perlu dipelajari. Tetapi tetap mempertahankan sikap rendah hati. Seperti ungkapan jika padi semakin berisi, maka ia akan semakin merunduk.

    ReplyDelete
  37. Nama : Latifah Pertamawati
    NIM : 17709251026
    Kelas : PM B (S2)

    Bismillaah.
    Saya setuju dengan jawaban bapak yang mengemukakan bahwa tetapkan dulu agamamu sebelum berfilsafat. Berfilsafat adalah aktivitas yang membutuhkan pikiran yang bebas. Ibarat melakukan perjalanan, diperlukan pegangan supaya kita tidak jatuh dan sempoyongan saat berusaha menelusuri jejak-jejak pikiran kita dalam berfilsafat. Tentu saja sebelum kita memulai perjalanan, kita harus memilih tongkat yang kuat dan tidak mudah rusak oleh benturan dan hantaman saat kita melaksanakan perjalanan tersebut.

    Semoga kita termasuk golongan orang yang beruntung mendapatkan manfaat berfilsafat untuk memahami diri sendiri, orang lain, lingkungan tempat kita berada saat ini.

    ReplyDelete
  38. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Beragama dari sisi filsafat, saya setuju dengan pernyataan bahwa kokoh kan dulu fondasi iman sebelum lepas landas pergi kemana entah mau perginya. Karena ketika iman sudah tertanam kuat dalam diri seseorang, badai cobaan apapun yang datang ke orang beriman tersebut akan diterimanya dengan sabar dan selalu dilihat sisi positif dari setiap kejadian. Yang mana kejadian tersebut dapat menjadikan dirinya menjadi semakin dekat kepada tuhannya.

    ReplyDelete
  39. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Beragama dari sisi filsafat. Dikatakan bahwa diatas “tetapkanlah dulu keyakinanmu”. Bagaimana pendapat bapak dengan beragamanya Mohammad Ali ? sebelum meneguhkan keyakinanya dalam islam, beliau belum yakin akan islam itu sendiri. Namun beliau telah “menerbangkan layang-layang pikirannya” ke islam sehingga membuatnya meneguhkan hatinya untuk memeluk islam sebagai agamanya hingga akhir hayatnya?

    ReplyDelete
  40. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017


    Berdasarkan artikel refleksi yang ditulis dari perkuliahan ini membuka pandangan saya bahwa filsafat sebagai sebuah ilmu yang mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari hal yang sederhana sampai yang kompleks. Sebuah ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari.

    ReplyDelete
  41. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Setelah membaca beberapa artikel dalam blog ini, saya jadi mengerti bahwa filsafat masing-masing orang berbeda. Sesuatu yang menurut seseorang salah, belum tentu salah juga dalam pandangan orang lain. Pendapat seseorang itu bersifat relatif, bisa benar bisa juga salah tergantung dari mana sudut pandang kita melihatnya.

    ReplyDelete
  42. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dikatakan diatas bahwa melalui pertanyaan jawaban singkat dapat mengatahui pikiran dan mengadakan dari yang mungkin ada bagi diri sendiri. Menurut saya pernyataan tersebut sangat logis karena melalui pertanyaan apapun dan dengan mengetahui respon orang yang ditanyai dapat diketahui bagaimana cara pikir orng yang ditanyai tersebut serta dapat menjadikan sarana untuk feedback ke diri sendiri sejauh mana pengetahuan diri untuk menjawab pertanyaan yang ditanyakan.

    ReplyDelete
  43. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Saya tertarik dengan pernyataan bapak. Filsafat ya komplek ya sederhana. Filsafat adalah penjelasanku. Dari pernyataan itu, saya mengambil inti bahwa dalam berfilsafat kita perlu melihat diri kita sendiri. Perlu untuk bercermin sejauh mana ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Dalam hal ini, maka masih perlu untuk sering membaca untuk mempertajam ilmu tentang filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  44. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Satu hal yang membuat filsafat ilmu dari Bapak berbeda dengan buku-buku filsafat lain yang pernah saya baca yaitu berfilsafat menggunakan spiritual. "Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst."
    Pernyataan diatas membuat saya memiliki niat belajar filsafat. Karena dari beberapa buku filsafat yang pernah saya baca isinya hanya dikaitkan dengan logika dan kerasionalan manusia, bukankah rasional manusia itu sifatnya terbatas karena ada hal yang tak bisa dilampaui dengan akal. Lalu, bagaimana seorang ahli filsafat atau filsuf yang tidak mempercayai agama atau tidak memiliki keyakinan beragama, apakah ia boleh dikatakan ahli filsafat atau apakah akhirnya ia akan jatuh ke negeri kufar?

    ReplyDelete
  45. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    S2 PEP Kelas B

    beragama dan berfilsafat adalah wujud keseriusan manusia di dunia dan setelahnya. Dalam berfilsafat selain argumentasi ilmiah kita perlu memiliki kesadaran mengenai diri terdalam manusia, kebenaran dan kebebasan. Misal, dalam pandangan filsafat lebih dimotivasi oleh kenyataan bahwa hidup adalah keterikatan yang menyebabkan penderitaan; dan penderitaan itu harus dilenyapkan; tujuannya adalah untuk mencapai kebebasan, realisasi diri yang terdalam, dan kesempurnaan. Sebagaimana halnya filsafat, pusat pemikiran filosofis agama, juga diawali dengan mendalami hakikat alam semesta, prinsip segala sesuatu, hakikat hidup dan kehidupan, atman dan brahman, hakikat manusia sebagai prinsip hidup, dengan tujuan individu dapat bebas dilandasi dengan kesadarannya. Apalah artinya kebebasan politis tanpa adanya kebebasan personal?

    ReplyDelete
  46. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada kitab suci disebutkan betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst. Benar sekali bahwa orang yang tidak cerdas bisa menyesatkan seperti setan, karena kurangnya ilmu, maka yang disampaikan bisa tidak sesuai dengan kenyataan ataupun yang seharusnya. Sedangkan orang yang cerdas dan berilmu maka bisa menjadi panutan dalam bertindak dan berperilaku.

    ReplyDelete
  47. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    S2 Pendidikan Matematika Kelas B

    “Filsafat ialah dirimu sendiri”
    Fisafat adalah penjelasanku. Filsafat masing-masing orang adalah berbeda, tergantung dari apa yang dia yakini. Sesuatu yang menurut orang benar, belum tentu benar menurut yang lain. Dalam berfilsafat perlu landasan keyakinan dan agama.
    Sehingga dapat sedikit disimpulkan bahwa semakin seseorang berilmu, semakin banyak godaan/rintangan, semakin dibutuhkan landasan spiritual yang kokoh agar tidak terjerumus, disini sangat diperlukan keikhlasan.

    ReplyDelete
  48. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof Marsigit atas postingan di atas. Kali ini kita berbicara mengenai filfasat dalam memandang struktur kehidupan. Pemahaman filsafat bagi sebagian orang mungkin tidak semudah para filsuf-filsuf terdahulu atau bahkan para dosen dan pengajar mata kuliah filsafat. Karena sejati nya filsafat adalah dirimu sendiri. Ketika seseorang tidak paham dan dia menyadari mengapa dia tidak paham, itulah filsafat. Kehidupan itu kompleks, korelasi dari berbagai unsur yang terdapat didalamnya, termasuk filfasat diri. Sedangkan filsafat itu bisa kompleks dan bisa sederhana. Filsafat itu bisa sempit bisa luas, bisa konkret bisa juga abstrak. Dalam memandang struktur kehidupan, filsafat diri seseorang amatlah penting untuk dimilikinya. Dewasa ini, di dalam kehidupan yang mulai penuh gejolak dan kekompleksan permasalahan, filsafat hadir dan penting untuk dipahami sebagai alat penguat diri dan pengarah hidup. Bukan pedoman hidup, namun sebagai senjata yang secara sadar maupun tidak, seseorang dalam menjalani kehidupannya akan bergerak sesuai filsafat diri yang ia miliki. Filsafat setiap orang pastilah berbeda beda, tergantung pengetahuan, pengalaman dan cerita hidup masing-masing yang ia rasakan sejak kecil. Pentingnya filsafat tidak akan dirasakan oleh anak-anak namun akan disadari ketika ia sudah beranjak dewasa. Filsafat sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia, untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia. Sehingga luas sekali makna dam hikmah nya, bagaimana filsafat memandang struktur kehidupan di dunia ini.
    Wassalamu’alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  49. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb,,,Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari refleksi materi tentang” filsafat dalam memandang berbagai struktur kehidupan”.Berbagai macam lontaran pertanyaan dari teman-teman mahasiswa diikuti oleh jawaban dari bapak, dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami.Seperti yang dituturkan,fondasi utama filsafat adalah agama atau keyakinan agar kita tak lepas landas akibat dari tak mampu membendung pikiran.Untuk meminimalisir hal tersebut dibutuhkan agama, sejalan dengan ungkapan yang sering kita dengar “ilmu tanpa agama akan sesat, agama tanpa ilmu akan pincang.Berfilsafat adalah berangkat dari yang tidak diketahui menjadi ingin tahu.Dalam diri manusia mempunyai dua sisi, sebagaimana yang telah dikemukakan yaitu sisi takwa dan sisi nafsu.Ketika manusia cenderung ingin melakukan keburukan itu disebut sisi takwa dan ketika manusia cenderung pada keburukan itu di sebut sisi nafsu.

    ReplyDelete
  50. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum wr.wb.

    Terima kasih bapak atas pembelajaran yang diberikan melalui postingan ini. Filsafat itu olah pikir dan terjadi dalam diri kita masing-masing. Filsafat itu terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya agama, spiritual, pendidikan, psikologi dan lain-lain. Karena itu filsafat setiap orang terhadap kehidupan berbeda-beda dan untuk mampu berfilsafat kita harus dengan rendah hati menyadari bahwa masih ada yang belum diketahui dan dengan tanpa putus asa rajin membaca dan terus membaca sehingga tidak akan terpengaruh atau ikut-ikutan perkataan orang lain tanpa memikirkannya atau memahaminya lebih lanjut. Sekian dan terima kasih, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Selamat Malam, dan
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  51. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Belajar filsafat adalah belajar tentang yang ada dan yang mungkin ada sehingga kajiannya sangatlah luas. Belajar filsafat berarti proses berpikir. Dalam kehidupan ini dapat dilihat dari sudut pandang filsafat. Namun dalam belajar filsafat harus dengan landasan spiritual yang kokoh. Tujuan dari belajar filsafat adalah agar diri menyadari akan keterbatasannya sebagai makhluk Allah dan juga merasa bahwa diri ini harus terus menerus belajar. Selain itu menjadikan manusia merasa rendah hati.

    ReplyDelete
  52. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Kisah pengalaman spiritual selama 10 hari yang tertulis sungguh menarik. Mengingatkan untuk kita agar selalu berdoa dalam setiap melakukan aktivitas sehari-hari serta menjaga keimanan agar selalu meningkatkan aspek spiritual kita yang terkadang naik terkadang turun.

    ReplyDelete
  53. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Filsafat memandang tentang kebenaran dan kesalahan merupakan sebuah falibilisme dimana keduanya memiliki unsur kebenaran. Kebenaran bersifat benar begitu juga dengan kesalahan bersifat benar, keduanya berinteraksi dalam hidup ini yang saling terkait. Oleh karena itu diperlukan saling ketergangan dari kedunya dalam hidup ini. Kesalahan tidak dapat dipungkiri adanya namun disisi lain dengan adanya kesalahan kita menjadi tahu makna dari sebuah kebenaran, kita menjadi tahu hakekat dari sebuah kebenaran. Karena berfilsafat itu menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuan, menyadari kapan saya mulai mengetahui, dan menyadari batas antara tahu dan tidak tahu.

    ReplyDelete
  54. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Mempelajari filsafat mempunyai esensi yang sangat besar dalam kehidupan kita. Belajar filsafat mengajarkan kita kesadaran akan diri, bahwa kita belum tau, mengetahui kita belum tau serta kapan kita mulai tau. Sehingga dengan demikian kita sadar bahwa kita sangat kecil dari ilmu pengetahuan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  55. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Ketika Bapak mengajar dikelas sering mengatakan bahwa sebenar-benarnya orang berfilsafat adalah berfikir. Jadi ketika kita sudah tidak berfikir maka kita sudah tidak berfilsafat. Sebab sebenarnya apapun yang kita katakan itu benar tergantung bagaimana argumen kita untuk memperkuatnya. Belajar filsafat dengan Bapak merupakan belajar untuk rendah hati dan tidaka sombong. Bapak memberikan nilai nol bukan berarti kita bodoh. Nilai di dalam filsafat bukan sebagai kuantitatif, namun untuk menyadarkan diri kita untuk mau belajar dan selalu ikhlas serta pasrah diri kepada Tuhan. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  56. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Selain definisi yang telah Bapak sampaikan diatas, istilah radikal dalam pengertian lebih luas mengacu pada hal-hal mendasar, dan esensial. Berdasarkan konotasinya yang luas, kata itu mendapatkan pengertian teknis dalam berbagai hal, seperti politik, ilmu sosial, bahkan dalam ilmu kimia dikenal istilah radikal bebas. Istilah radikal sebenarnya netral, bisa bermakna positif dan negatif. Namun sangat disayangkan, makna istilah radikal yang tersebar di masyarakat luas justru lebih mengarah ke makna negatif dan tindakan yang ekstrimis.Sedangkan istilah radikalisme di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, cet. th. 1995, Balai Pustaka mendefinisikan sebagai faham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Berdasarkan definisi tersebut jika ada sekelompok orang yang menginginkan perubahan pada UUD 45 dan menolak ideologi pancasila maka kelompok tersebut dapat dikatakan sebagai kelompok radikalisme. Karena UUD 45 dan pancasila merupakan akar atau bonggol berdiri/tegaknya bangsa dan negara ini. jadi memang betul jika faham radikalisme ini memang menakutkan karena dapat merusak dasar/pondasi dalam bernegara.

    ReplyDelete
  57. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Filsafat adalah dirimu sendiri, maka filsafat itu sendiri sebenarnya adalah penjelasan diri tentang proses seusatu yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat dapat digunakan untuk memandang apapun, termasuk dalam mendalami spiritual masing-masing, namun tentunya sebelumnya kita harus memiliki suatu pegangan agama terlebih dahulu karena berfilsafat tentang ilmu ketuhanan itu seperti bermain layang-layang yang akan terus terbang namun akan terbang tak terkendali jika tidak ada pegangan. Berfilsafat sendiri merupakan ilmu pikir, sehingga seharusnya ketika dalam menjawab soal tes jawab singkat pun seharusnya kita mampu memikirkan anti tesisnya, kenapa kita menganggap hal itu benar, jangan-jangna kita hanya termakan sebuah mitos saja. Oleh karena itu belajar filsafat sebenarnya belajar mengolah pikir dan membiasakan berpikir kritis, sehingga dalam mendalami ilmu papun kita mampu mencari anti tesisnya dan tidak memakan mentah-mentah dan termakan mitosnya saja.

    ReplyDelete
  58. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Filsafat adalah dirimu sendiri. Sedangkan metode berfilsafat adalah metode hidup yakni saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Oleh sebab itu, sebaik - baik belajar filsafat adalah dengan berusaha menerjemahkan apa yang ada dan mungkin ada, baik dalam diri kita maupun apapun yang terdapat disekitar kita. Selain itu kitapun harus bersedia diterjemahkan oleh yang lain. Sementara itu untuk dapat saling menerjemahkan dan diterjemahkan sehingga pada akhirnya dapat berfilsafat dengan baik, kita harus banyak belajar dari para filsuf dengan membaca, membaca, dan membaca, berpikir kritis, berikhtiar pantang menyerah.

    ReplyDelete
  59. Devi Nofriyanti
    17709251041
    Pps UNY P.Mat B 2017

    Awalnya saya kaget saat mengikuti tes jawab singkat yang diberikan oleh pak marsigit. pertanyaan yang diberikan itu terasa aneh di benak saya, contohnya : "dimana ruangnya?, kapan waktunya?, jam berapa?", saya tau karena ini pelajaran filsafat tentu saja jawaban yang benar adalah jawaban secara filsafat (bukan jawaban umum). Pada tes pertama saya mendapat nilai 0, begitupun dengan tes yang kedua. awalnya saya mau protes kenapa jawaban saya selalu salah, bukankah bapak pernah mengatakan bahwa semua jawaban itu adalah benar asalkan ada penjelasannya?. baiklah, setelah saya mengikuti tes jawab singkat yang kedua, saya baru paham bahwa tujuan tes tersebut bukanlah untuk mendapat skor yang besar tapi pemahaman tentang filsafat. benar ataupun salah keduanya memiliki arti benar. sampai pada saatnya saya berpikir skor dalam tes jawab singkat itu tidaklah penting, yang terpenting adalah seberapa besar pemahaman saya tentang pemikiran yang bapak tuangkan di blog ini. sebenar-benarnya filsafat adalah diri sendiri, salah satunya bagaimana saya berpikir tentang belajar filsafat.

    ReplyDelete
  60. Dari refleksi ini saya bisa menyimpulkan bahwa
    1. Filsafat adalah diriku sendiri. Metode filsafat adalah metode hidup diri kita sendiri.
    2. Berfilsafat artinya menyadari batas antara tahu dan ketidaktahuan.
    3. Setiap diri memiliki potensi positif dan negative.
    4. Agama adalah dasar sebelum berfilsafat.
    5. Manusia harus bertindak sesuai dengan ruang dan waktu.
    6. Filsafat bisa kompleks atau sederhana sesuai dengan penjelasannya sendiri.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  61. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Filsafat itu dirimu sendiri dan belajar filsafat itu dari nol, sehingga kita tetap rendah hati dalam belajar filsafat. kalimat ini lah yang Pak Marsigit katakan sewaktu dalam perkuliahan. Sewaktu mengisi jawaban tes singkat yg diberikan pak marsigit saya mendapatkan nilai nol. Dan dari nilai nol ini saya menjadi berfikir bahwa saya memang harus lebih banyak lagi membaca agar saya lebih paham mengenai filsafat. Meskipun nantinya setlah kita banyak membaca tetapi ketika jawab tes singkat masih mendaptkan nilai nol itu lah yang dimaksud dengn filsafat itu adalah dirimu sendiri dan dengan mendapatkan nilai nol lagi itu berarti kita harus tetap baca, baca dan baca lagi.

    ReplyDelete
  62. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Filsafat merupakan pikiran seseorang yang dapat menjelasakan sesuatu dengan logika dan dapat diterima oleh orang lain. Oleh karena itu, belajar filsafat bukan untuk menentukan pendapat A lebih benar atau pendapat si B lebih benar. Sehingga tidak ada pendapat yang salah dalam berfilsafat asalkan pendapat tersebut dapat dijelaskan secara logika dan dapat diterima dalam ruang dan waktu yang sesuai. Filsafat yang sering disampaikan oleh pak marsigit yaitu tentang dirinya sendiri, tentang apa yang dia pikirkan. Bukan berarti untuk menyombongkan diri, karena sebenar-benarnya pikiran adalah pikiran yang absolute yaitu dari yang Maha Esa.

    ReplyDelete