Nov 3, 2015

FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN


FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN
Refleksi pertemuan ketujuh (Kamis, 29 Oktober 2015)
Direfleksikan oleh: Vivi Nurvitasari, 15701251012
Diperbaiki oleh: Marsigit

http://vivinurvitasari.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-dalam-memandang-berbagai.html

Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit.

Sistem pertemuan pada minggu ini sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu adanya tes jawab cepat diawal kuliah, tema tes kali ini juga masih sama dengan tema pada pertemuan minggu sebelumnya yaitu tentang “Menembus Ruang dan Waktu”. Tes jawab cepat yang diberikan Pak Marsigit ini sudah ada dalam postingan-postingan Bapak diblog Pak Marsigit. Sehingga untuk bisa menjawab tes ini, mahasiswa diharapkan rajin membaca dan memperbanyak membaca postingan diblog Pak Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami :“Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami  isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”

Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut adalah: ”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja.

Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat saya ini fungsinya tidak semata-mata mengetahui pikiran anda, tapi untuk sarana mengadakan dari yang mungkin ada bagi dirimu masing-masing. Setidaknya dari bertanya tadi para mahasiswa sudah mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu, apa maksudnya? Jangankan manusia, sedangkan binatang, tumbuhan dan batu pun juga menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang.

Semua benda bisa saya katakan, didepannya diberi artikel waktu, misalkan pada hari Kamis ini kabut asap, pada hari Kamis ini Presiden Jokowi. Silahkan sebut 1 (satu) sifat saja dari bermilyar pangkat bermilyar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu yang bisa anda sebut, bahkan yang notabenenya terbebas oleh ruang dan waktu yang ada di pikiran anda, misalnya 2+2=4 itu karena terbebas oleh ruang dan waktu, tapi saya masih bisa mengatakan hari ini bahwa 2+2=4, pada hari Jumat besok juga 2+2=4, itu identitas karena terbebas oleh ruang dan waktu, ketika sudah terikat oleh ruang dan waktu serta merta menjadi kontradiktif, ada sifat-sifatnya dan sifat itu bersifat subordinat menjadi predikat daripada subyeknya.”

Pertanyaan kedua dari Sdri. Fajar:”Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia dan meningkatkan pendidikan di Indonesia?”

Jawaban dari Pak Marsigit Adalah: “Itu tema besar tapi itu bisa anda baca di postingan saya yang sudah ada dan sangat lengkap, tapi esensinya untuk mengetahui praksis pendidikan, alangkah baiknya juga mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Itu wadahnya tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan maka belajarlah filsafat. Semua terangkum di postingan saya termasuk ada unsur-unsurnya, pilar-pilarnya politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan konstekstual. Jadi tidak usah jauh-jauh ke Amerika karena di Indonesi pun ada politik pendidikan juga politik pemerintahan.”

Pertanyaan ketiga dari Sdra. Ndaru Asmara: ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praksisnya. Bagi seorang filsuf, dia berkeinginan untuk menjelaskan kenapa orang kesurupan, tapi filsuf sendiri tidak bisa kesurupan, sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya, jangan kemudian filsuf juga harus ikut-ikutan kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan tentang alasan mengapa orang kesurupan tersebut, karena filsafat itu olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada itu kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib secara filsafat naik spiritual, turun menjadi psikologi, filsafat itu lengkap ada spiritualnya juga ada psikologinya.

Orang awam akan menyebut ilham, spiritual petunjuk dari Tuhan, kalau seseorang mendapatkan pencerahan, tetapi tidak mengerti sebabnya dia memperoleh pencerahan tersebut, secara filsafat begitu saja, itu namanya ilham. Dan ternyata kalau kita mau meneliti setiap yang ada dan yang mungkin ada, setiap waktu saya selalu mendapatkan ilham, saya bisa menjawab pertanyaanmu karena saya mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham, semua pencerahan yang ada ini adalah ilham. Apakah anda bisa menjelaskan proses trjadinya ketika anda bisa menjawab dengan menggunakan yang ada didalam pikiranmu? Seberapa jauh anda bisa, dan tidak akan bisa sempurna, pada akhirnya itu adalah ilham juga.

Wahyu itu juga ilmu, makanya orang jaman dahulu dipersonifikasikan wahyu itu sebagai benda hidup, karena apa? Karena audiensnya itu  tradisional sekali maka ketika sang Arjuna (Pak Marsigit) mencari wahyu itu pergi ke hutan ke tempat yang sepi artinya itu engkau dikamar (untuk jaman sekarang) lalu membaca elegi saya. Itu sama saja ketika jaman dulu arjuna masuk ke hutan mencari wahyu atau menyepi, merenung, memahami, disitulah anda akan mendapatkan wahyu yang banyak sekali, pengetahuan yang mungkin ada menjadi ada.

Persis sama dengan yang dilakukan arjuna itu tadi, yang mungkin ada menjadi ada, wahyunya berupa manusia setengah dewa bisa berdialog dengan arjuna sehingga akan menjadi satu dengan diri Arjuna. Apa yang menjadi satu dengan dirimu? Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual, itu yang telah menjadi satu dengan dirimu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan dan jaaban-jawabanku, jadi anda tadi sudah mendapatkan banyak sekali wahyu ketika menjawab pertanyaan dan memperoleh jawaban dari saya, tapi engkau tidak menyadarinya.

Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib dsb itu diterangkan naik spiritual filsafat transenden, turun psikologi. Transendennya filsafat adalah noumena. Noumena itu diliuar dari fenomena. Yang dipegang yang dilihat semua yang difikirkan yang didengar itu semua fenomena, maka ruh dan arwah dianggap noumena.

Usaha manusia untuk mengetahui tentang arwah atu ruh, dilakukan dengan berbagai macam metode  memakai logika, memakai pengalaman, memakai teori ke spiritual berbagai macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada batasannya, batas-batas tertentu, maka bagi pikiran saya yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat potensi positif.

Di dalam dirimu ada potensi negatif ada potensi positif, neraka itu potensi negatif, surga itu potensi positif oleh karena itu raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia. Maka  orang-orang yang sudah masuk surga atau calon penghuni surga itu secara psikologi itu kelihatan, secara hukum juga kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum, jelas dia orang-orang yang masuk neraka secara hukum, secara spiritual lain lagi, itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihat pun berdimensi, dan yang dipikirkanpun berdimensi.

Maka bagi anak kecil pohon itu ada hantunya, padahal kata kakak saya itu hanya supaya anak kecil takut dan tidak merusak tanaman, jadi bagi orang dewasa itu hanya sebatas menakut-nakuti si anak kecil, itulah buahnya.

Berbicara dengan hewan (saya pus-pus, kucingnya meong), akrab dengan kucing, apa definisi bicara?, itu saya sudah mengetahui bahasa kucing. Komunikasi dengan tumbuhan (aduh kamu tumbuhan sudah mulai layu maka aku siram), jadi elegi kalau diteruskan elegi tumbuhan membutuhkan air, dialog antara tumbuhan dengan yang menanamnya tadi itu munculnya elegi itu seperti itu. Jadi bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

Saya pernah mengalami pengalaman spiritual selama 10 hari tinggal dimasjid belajar bersama sufi, menertibkan tata cara berdoa beribadah, dsb. Ketika intensif berdoa disitu, alamnya seperti itu, saya pun rasanya enggan pulang, ingin saja berdoa terus, dan ketika itu sensitifitas rohani atau hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan-kemampuan metafisik itu muncul jangankan dengan apa yang dikatakan atau berdialog dengan itu, misalkan seseorang yang makan bakmi di pinggir jalan yang bakminya tidak didoakan ketika dibuat, dan orang yang memakannya tidak berdoa sebelum makan bakmi tsb, saya melihatnya seperti orang memakan cacing, itu ketika diriku sedang memiliki spiritual yang sangat tinggi.

Level tertentu pada suatu dimensi komunikasi (dengan yang gaib) mempunyai sifat da karakter tertentu bersiat subjektif yang hanya dapat diketahui atau dirasakan oleh yang bersangkutan. Pemahaman dalam pikirannya terkadang menggunakan pengalaman-pengalaman persepsi (pancaindra) untuk menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya dengan yang gaib. Sehingga ada jarak antara persepsi dan pikirannya. Jarak itulah sebagai penyebab tidak validnya pengalaman pribadi berkomunikasi dengan yang gaib, jika akan dituturkan kepada orang lain, Maka barang siapapun, tidak dapat mengatakan kepada siapapun perihal pengalaman spiritual (khusyuk) kecuali hanya dirasakannya sendiri, semata-mata untuk meningkatan kadar keimannnya. Begitu dituturkan kepada orang lain, serta merta akan menjadi tidak valid.

Pertanyaan keempat dari Sdra. Suhariyono:”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.”

Pertanyaan kelima dari Sdri. Ma’alifa Alina: ”Bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?”

Jawaban dari Pak Marsigit adalah: “Kalau menurut saya, spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Kalau saya daripada artinya sesuatu yang sangat diluar kemampuan saya secara alami mengalir, lihat diriku, diri orangtuaku, lihat diri keluargaku, lihat diri pikiranku, lihat diri pengalamanku, begitu saja bagi saya, mengalir saja. Tengoklah komunitasmu, tengoklah keluargamu, tengoklah pengalamanmu, seperti apa spiritual itu selama ini? Maka hidup yang baik adalah masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Spiritual itu adalah tugas kita sebagai manusia untuk berikhtiar mengetahui mana-mana saja yang soheh, dan yang kurang soheh, dst.

Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya adanya teknologi untuk menentukan tangaal 1 syawal, karena saya tidak bisa ya maka saya hanya bisa mengikuti aturan dari pemerintah saja, ketetapan pemerintah. Jadi segala macam spiritualitas bersifat postulat, postulat adalah yang kemudian menjadi model diterapkan didunia, manusia juga membuat postulat-postulat, maka subyek menentukan postulatnya bagi obyeknya. Engkau juga membuat postulat, membuat peraturan pada adik anda. Jadi seperti itu struktur per struktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur, struktur dirimu itu ternyata dinamik yang sedang menembus ruang dan waktu.”

Pertanyaan selanjutnya dari Sdra. Bayuk Nusantara: “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Sudah berkali-kali saya katakan,  jadi itu maksudnya karena pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.”
Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Kebenaran diriku itu subjektif, kebenaran kita itu objektif, kebenaran para dewa adalah paralogos, kebenaran para daksa adalah faktanya, kebenaran kapitalis adalah modalnya, kebenaran skeptis adalah keraguannya, kebenaran fallibis adalah kesalahannya, kebenaran dunia adalah plural, kebenaran spiritual adalah tunggal, kebenaran idealis adalah tetap, kebenaran realis adalah relatif, kebenaran langit adalah aksioma, kebenaran bumi adalah konkritnya, kebenaran subjek adalah predikatnya, kebenaran predikat adalah subjeknya, kebenaran normatif adalah ontologinya, kebenaran estetika adalah keindahannya, kebenaran matematika adalah koherensinya, kebenaran tindakan adalah tulisannya, kebenaran tulisan adalah ucapannya, kebenaran ucapan adalah pikirannya, dan kebenaran pikiran adalah spiritualnya, kebenaran statistika adalah validitasnya, kebenaran psikologi adalah gejala jiwanya, kebenaran wadah adalah isinya, kebenaran isi adalah wadahnya, kebenaran filsafat adalah intensi dan ekstensinya.

Pertanyaan terakhir dari Sdri. Tyas Kartiko: ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Ya kompleks ya sederhana, tapi bukan jawaban saya yang seperti ini yang merupakan filsafat. Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Anda mengerti bahwa anda sedang berpikir, itu filsafat, jadi sederhana sekali. Kalau ingin ditambahkan boleh pilarnya ada 3 Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kompleks karena intensif, dalam sedalamnya bersifat radik, maka ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu luas seluas-luasnya, melipiuti dunia dan akhirat. Yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu, setelah engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah, gunakan alat yang lain yaitu spiritualitas.

Dalam rangka menggapai kebenaran itu, Francis Bacon namanya, terkenal dengan kata-kata ‘knowledge is power’, pengetahuanmu itu adalah kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang itu mencapai kebenaran. Kendala pasar, misalnya di facebook orang bicara begini begitu, jadi kalau begini kesimpulannya begitu, juga kalau begitu kesimpulannya begini, dsb.  Kendala panggung, artis misalnya Syahrini mengatakan begitu, jadi ini itu begitu menurut Syahrini seorang artis terkenal. Pak marsigit berkata spiritualnya formal adalah spiritual, sampai akhir kuliah, sampai engkau meninggalkan dunia akan tetap seperti itu, itu berarti engkau  termakan atau terpengaruh oleh mitos-mitosnya pak Marsigit. Itu harus engkau cerna dan telaah, itulah mengapa saya heran kenapa tidak ada mahasiswa yang bertanya tentang pertanyaan soal tes saya tadi, berarti sudah ada kecenderungan  engkau itu terhipnotis oleh pernyataan saya dan itu menjadi kebenaran final bagi dirimu, padahal itu bukan kehendak daripada berfilsafat ini. Engkau harus membuat anti thesisnya.

Namanya orang menguji itu suka-suka, engkau bisa saja menguji saya supaya nilai saya mendapat nol. Nilai nol itu bukan berarti salah tapi itu membuktikan bahwa setiap dari dirimu itu mempunyai filsafatnya masing-masing, karena filsafat dari perkuliahan ini adalah untuk mengajarkan agar kita tidak sombong dengan mendapatkan nilai nol dari setiap tes, agar kita selalu rendah hati. Tetapi kalau itu kesimpulannya berarti engkau sudah berhenti berpikir, tetapi filsafat itu terus menerus memikirkannya, maka bacalah pertengkaran antara orang tua berambut putih karena itu proses mendapatkan ilmu. Jangan hanya membaca elegi Pak Marsigit di dalam mimpi, mimpi itu diukur konsistensinya jadi tidak koheren, tapi mimpi itu sebagian dari pengalaman tapi tidak sepenuhnya jadi tidak korespondensi. Jadi mimpi itu bukan persepsi. Mimpi bisa diterangkan dengan teori berpikir, tapi akan lain jika diterangkan oleh seorang paranormal.”

Alhamdulillahirrobil’alamin
Wasssalmu’alaikum, Wr. Wb.

100 comments:

  1. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Belajar filsafat adalah belajar memaknai kehidupan. Benar dan salah itu dikondisikan dengan ruang dan waktu yang kita miliki. Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Yang mana spritual ini adlaah Dzat Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Berfilsafat juga berarti membuka pikiran dan cakrawala seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dan setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam menilai sesuatu.

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Filsafat itu tentang fenomena kehidupan dan pikiran manusia. Pikiran manusia itu menembus ruang dan waktu.Kita bisa berpikir dengan kritis memikirkan segala yang ada dan mungkin ada itulah yang dimanakan berfilsafat menurut saya. Di mana cara berfilsafat antara satu manusia dengan manusia lainnya sangatlah berbeda. Kemudian filsafat bisa memandang semua yang masih merupakan urusan dunia menjadi relatif karena itu semua adalah pikiran kita. Semua itu mungkin berbeda karena setiap orang cenderung akan memiliki sudut pandang yang berbeda-beda pula. Maka berfilsafat sangatlah tergantung pada manusianya masing-masing karena diriku berbeda dengan dirimu dan dirinya.

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam refleksi ini saya sependapat, filsafat adalah tentang dirimu sendiri. Seperti yang sering Prof Marsigit kemukakan, bahwa jika engkau belajar filsafat denganku, berarti engkau sedang mempelajariku. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan singkat filsafat yang terlontar pun kita tidak bisa mendapatkan nilai memuaskan, ya memang karena kita bukanlah orang yang memberikan pertanyaan. Semua yang mengetahui jawaban dengan benar adalah dirinya sendiri, karena hanya dia yang mengetahui benar-benar dirinya sendiri, bukan orang lain.

    ReplyDelete
  4. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Blog ini menjelaskan kepada saya bahwa filsafat itu adalah semua yang bisa kita capai dalam pikiran, diluar itu semua bukanlah filsafat lagi melainkan spiritual. Dan saya sangat tertarik dengan perumpamaan dari bapak yang menyamakan mahasiswa sebagai orang yang sedang bertapa dalam goa. Kesamaan nya adalah kita sama-sama mencari kebenaran, mencari informasi namun dengan alat yang berbeda. Jadi filsafat itu adalah apa yang kita peroleh dari proses berfikir, baik dengan alat maupun tanpa alat. Filsafat pun menjadi tidak sama bagi setiap orang karena pikiran orang pun berbeda-beda.

    ReplyDelete
  5. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Filsafat itu bersifat terbuka. Filsafat tidak memberikan jawaban mutlak yang berlaku sepanjang masa. Filsafat menggugat, mempertanyakan, dan mengubah dirinya sendiri. Ini semua sesuai dengan semangat pendidikan yang sejati. Jadi dalam mempelajari filsafat bukan mendapatkan benar atau salah, sebab yang benar hanya mutlak milik allah. Tetapi, belajar filsafat itu mempelajari semua yang bisa kita capai dalam pikiran.

    ReplyDelete
  6. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Filsafat mengajak anda untuk memahami dan mempertanyakan ide-ide tentang kehidupan, tentang nilai-nilai hidup, dan tentang pengalaman kita sebagai manusia. Berbagai konsep yang akrab dengan hidup kita, seperti tentang kebenaran, akal budi, dan keberadaan kita sebagai manusia, juga dibahas dengan kritis, rasional, serta mendalam.

    ReplyDelete
  7. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Seperti yang kita tahu bahwa filsafat memandang berbagai aspek dalam kehidupan manusia, bergantung pada pemikiran masing-masing individu. Memang benar bahwa filsafat adalah olah pikir. Mempertanyakan kebenaran menurut seseorang pun bukanlah jawaban mutlak. Karena untuk mencapai pengetahuan dan keputusan itu pun setiap individu harus membuat anti thesis nya. Meninjau setiap sendi kehidupan manusia sama hal nya dengan mempelajari filsafat.

    ReplyDelete
  8. Memandang berbagai struktur kehidupan itu sendiri sesungguhnya sedang belajar berfilsafat. Filsafat memandang segala sesuatu bergantung pada ruang dan waktu. tergantung bagaimana kita memaknai apa yang menjadi objek dari tujuan dan juga pikiran kita. Apa yang kita lihat belum tentu sama dengan apa yang ada dalam pikiran. begitu juga ketika kita memaknai kehidupan kita. jika seseorang mau mbelajar memaknai kehidupan ini, maka sesungguhnya dia sedang belajar menjadi orang yang bijak, agar pengetahuanya menjadi luas dan mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan hidup.

    ReplyDelete
  9. Nurul Faizah
    14301241022
    Pendidikan Matematika A 2014 (S1)

    Terjawab sudah pertanyaan yang selama ini saya pikirkan setelah membaca tulisan ini. Jadi yang dimaksud dengan benar salah itu hanyalah pikiran manusia. Filsafat memandang benar dan salah itu tergantung dengan sesuai ruang dan waktu atau tidak. Jadi ini bisa saya jadikan sebagai pengingat diri bahwa janganlah semata-mata menyalahkan suatu hal kalau tidak mengetahui ruang dan waktunya, bisa jadi hal salah tersebut adalah benar jika sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  10. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    karena filsafat itu adalah diri kita sendiri, maka dapat diartikan bahwa kebenaran dari nilai suatu filsafat akan relatif berdasarkan bagaimana cara kita dalam menyikapi filsafat itu sendiri. dan sebagaimana yang telah kita pelajari bahwa filsafat selalu dipengaruhi oleh ruang dan waktunya sendiri. sedangkan ruang dan waktu itu indikatornya akan berbeda - beda. maka dalam memahami filsafat kita harus memperhatikan ruang dan waktunya juga.

    ReplyDelete
  11. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dalam memandang filsafat dalam segala struktur kehidupan manusia ada batasannya dan ada dimensinya. Dalam dimensi komunikasinya pengalaman-pengalaman dalam persepsi pancaindra untuk dapat menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya. Orang yang cerdas adalah orang yang mampu untuk berpikir. Dalam berfilsafat terdapat tiga aspek yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi mengenai suatu realitas kenyataan menuju pada kebenaran, epistemologi mengenai kebenaran dari suatu pengetahuan, sedangkan aksiologi mengenai nilai. Dengan demikian ketiga aspek tersebut melingkupi kehidupan manusia dari manusia yang berawal melalui masalah yang berkaitan dengan realitas kenyataan kemudian manusia berpikir realitas tersebut benar atau salah lalu setelahnya manusia akan mengukur pernyataan tersebut berdasarkan nilai.

    ReplyDelete
  12. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam berbicara pendidikan dengan ahli pemikiran tentulah harus melihat akar pikiran dari pendidikan itu sendiri. Tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan yang menjadi fondasi untuk membangun, mempertahankan serta meningkatkan pendidikan. Oleh karena itu untuk melihat permukaan dalam dunia pendidikan, perhatikan dan kokohkan fondasinya terlebih dahulu. Setelah itu barulah perbaiki sistem yang ada.

    ReplyDelete
  13. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Lewat berpikir dan berefleksi, kita sebenarnya mengonfrontasikan diri dengan lingkungan dunia dan bagaimana kita memandang dan memahami diri kita. Kaitan erat antara filsafat sebagai pandangan hidup dan sebagai ilmu dapat kita lihat dalam biografi setiap filsuf dalam setiap era berpikir manusia. Saya hanya menyebut beberapa nama yang secara eksplisit berbicara tentang pokok ini, terutama kaitan erat antara ‘berpikir’ dengan kehidupan konkret – hidup dan estetika, kehidupan praktis-konkret. Di sini kita bisa melihat bagaimana filsafat langsung berhubungan dengan pembentukan sikap, kepribadian dan transendensi serta transformasi diri manusia.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Saya meragukan jika kehidupan itu berstruktur. Jika kehidupan berstruktur, maka kehidupan di masa depan sudah bisa diramalkan kejadiannya, dan sudah pasti sama persis. Jika kehidupan ini berstruktur, maka kehidupan ini berjalan sendiri tanpa adanya kuasa Tuhan. Namun berdasarkan pengalaman yang telah lampau, ternyata kehidupan di masa depan tidak bisa diprediksi. Bahkan kehidupan sebelum kita hidup tidak bisa kita prediksi tanpa berita dari langit yang disampaikan melalui Jibril kepada Muhammad Sholallahu Alaihi Wa sallam. Hal ini pula yang menjadi dasar keberadaan kuasa Tuhan. Tapi mungkin saja kehidupan itu berstruktur. Namun strukturnya adalah struktur yang tidak dapat kita pikirkan. Atau kita bisa memikirkannya, namun hanya sebagian saja. Karena struktur yang sebenar-benarnya struktur hanya diketahui oleh Allah SWT yang maha mengetahui. Karena Dia yang telah menciptakan alam semesta, yang mencakup ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  15. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya tertarik dengan apa yang ditanyakan dan apa yang dijawab oleh Prof. Marsigit mengenai ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”.
    Ternyata filsafat tersebut sangatlah sederhana dan juga sangatlah kompleks. tergantung bagaimana kita menanggapinya. karena berfikir saja itu sudah filsafat. sederhana kan.

    ReplyDelete
  16. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Apabila semua hal yang ada di hidup kita sudah dijalankan akan menjadi hermeneutika. Di setiap titik pada hermeneutika terdapat 3 elemen yaitu linier, mengembang, dan meruncing. Hidup ini menerjemahkan antara sadar dan tidak sadar. Jika belum dijalankan itu artinya belum hidup. Hidup jaman sekarang adalah linier maksudnya bisa maju tidak bisa kembali. Seperti anak panah yang berjalan linier ke depan. Manusia harus bersyukur, paling tidak bisa berhenti untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada manusia.

    ReplyDelete
  17. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Hal yang saya dapatkan dari postingan ini adalah ketika kita berfilsafat haruslah dulu mendasarinya dengan landasan spiritual yang kokoh agar tidak tersesat dalam kufar maupun majusi. Penting untuk mempersiapkan landasan spiritual dikarenakan berkaitan dengan hati. Menetapkan hati dilakukan untuk membatasi pikiran, agar pikiran tetap dalam koridornya.

    ReplyDelete
  18. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    "Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja." Terima kasih Prof. atas nasihat yang diberikan. Ini salah satu jadi pemicu kami untuk tidak lelah membaca dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  19. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Membaca postingan ini membuat saya tertarik pada kalimat yang diucapkan oleh Prof Marsigit yaitu, “berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu.” Berdasarkan kalimat tersebut, saya menangkap suatu makna bahwa filsafat adalah tentang kesadaran. Melalui refelksi dalam filsafat, manusia menyadari jikalau dirinya adalah makhluk yang penuh dengan ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan keterbatasan. Menyadari akan kekurangannya, sudah sepantasnya manusia senantiasa bersikap rendah hati seraya memohon pertolongan Tuhan YME.

    ReplyDelete
  20. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    berfilsafat adalah berpikir. namun bukan hanya berpikir, namun terus belajar dari setiap pengalaman dan ilmu pengetahuan. belajar juga tidak terlepas dengan membaca. maka dengan begitu, teruslah untuk baca baca dan baca.

    ReplyDelete
  21. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya tertarik pada jawaban dari pertanyaan ”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”. Disitu dikatakan bahwa kita harus menentukan keyakinan baru bisa menerbangkan layang-layang pikiran. Kita perlu berpegang teguh pada apa yang kita yakini. Dari kalimat itu saya mengambil pelajaran bahwa iman merupakan pondasi yang penting.

    ReplyDelete
  22. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika

    Filsafat adalah ilmu olah pikir, berfilsafat adalah memahami pikiran sendiri. Jika kita belajar filsafat dengan para filsuf maka kita belajar pikiran para filsuf dan seyogyanya kita akan kembali kepada pikiran kita sendiri. Oleh karena itu dalam filsafat kita harus kuat dengan pikiran sendiri.

    ReplyDelete
  23. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Filsafat memang erat kaitannya dengan kehidupan kita, namun itu bukan berarti dengan mempelajari filsafat kita bisa menjadi punya kemampuan untuk berbicara dengan makhluk selain manusia, misalnya tumbuhan, binatang, batu, dan lain-lain. Pada intinya, yang berbicara itu berdimensi, maka manusia memiliki kemampuan untuk berbicara dengan dimensinya sendiri. Filsafat dalam memandang kebenaran dan kesalahan juga tidak mematok yang ini benar dan yang itu salah. Sebenar-benarnya kebenaran filafat itu ya pikiranmu sendiri. Maka agar pikiranmu tidak tersesat bacalah, bacalah, dan bacalah filsafat. Landasilah dan payungilah belajar filsafatmu itu dengan agama, dengan Tuhan. Tetapkan dulu keyakinanmu. Setelah kamu menetapkan keyakinanmu, barulah kamu dapat beragama dengan baik menurut keyakinanmu itu. Maka dengan agamamu lah, dengan Tuhan mu lah kamu melandasi dan memayungi pikiranmu agar tidak kehilangan arah dalam berfilsafat. Karena sebenar-benarnya pikiran manusia tidak sebanding dengan Tuhan.

    ReplyDelete
  24. Struktur kehidupan akan berbeda-beda menurut pandangan sesorang atau filosofi yang dipahaminya. Menurut pandangan orang timur maka spiritual adalah segalanya kemudian dibawahnya normatif, formatif dan terakhir material. Tetapi di daerah lain maka material berada pada tingkat paling atas dan spiritual ditingkat bawah. Ada juga yang tidak berstruktur.

    ReplyDelete
  25. Struktur yang terkecil dalam filsafat adalah genus. Didalam genus mengandung wadah dan isi, forma dan subtansi. Bila telah memahami genus maka kita sedang berfilsafat. Gelas adalah wadah, isinya adalah air, air adalah wadah isinya adalah oksigen. Gelas adalah isi wadahnya adalah kardus. Segala yang ada dan mungkin ada dapat diterjemahkan dan menterjemahkan itulah hermenetika. Kehidupan yang dajalani didunia tidak lepas dari menerjemahkan dan diterjemahkan.
    Ketika siswa sedang belajar maka kesalahan siswa adalah benar, siswa akan belajar dari kesalahan tidak langsung memperoleh kebenaran dalam filsafat fallibilis. Berapa banyak peneliti melakukan percobaan samapai berhasil, berapa banyak penelitian yang dilakukan oleh perusahaan sampai berhasil. Kesalahan-kesalahan akan memperoleh kebenaran yang berguna.

    ReplyDelete
  26. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pada dasarnya tes jawab singkat bukan hanya untuk mengetahui kemampuan kita, namun sisi lain yang menjadi tujuan terselubung dari tes jawab singkat adalah melatih kita atau menyadarkan kembali kepada kita bahwa sebenarnya ilmu kita masih perlu untuk ditambah, masih perlu untuk belajar. Janganlah pernah merasa bahwa ilmu kita telah tinggi dengan apa yang telah kita dapat karena sebenar-benarnya ilmu sangatlah luas. Sebagaimanapun kita belajar pasti tetaplah masih ada yang belum diketahui. Karena ilmu filsafat merupakan ilmu olah berpikir, maka dalam memandang struktur kehidupan pasti menggunakan pikiran tertentu. Bahwasanya setiap orang mempunyai alasan dan masalah tertentu dalam menjalani kehidupan dalam struktur tertentu. Menurut A mungkin berbeda cara pandangnya menurut B, dan seterusnya. Baik A maupun B, maupun yang lainnya punya alasan khusus kenapa melakukan hal ini, hal itu sesuai pemikirannya. Satu hal yang perlu diperhatikan bagaimana menjaga keharmonisan itu semua sehingga bermanfaat, menjadi vital.

    ReplyDelete
  27. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    memang tidak mudah belajar filsafat tetapi ingatlah bahwa harus secara rutin membaca tulisan seorang filsafat agar kita dapat memahami pikiran seorang filusuf tersebut. jika kita dapat memahami pikiran filusuf tersebut tentunya kita akan semakin paham dengan apa yang ditulisnya dan kita akan menjadi sedkit demi sedikit paham dengan filsafat. sehingga jika kita diberikan soal pada saat ujian sisipan mengenai filsafat nilai kita tidak 0 kembali. itulah salah satu motivasi belajar filsafat yaitu agar kita memahami apa yang dituliskan seorang filusuf tersebut.

    ReplyDelete
  28. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan Prof. Marsigit M.A dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Oleh karena itu Sebagai mahasiswa untuk memahami filsafat kita harus baca, baca, dan baca. Seseorang, apalagi mahasiswa untuk memahami filsafat harus bisa memposisikan diri sebagai orang yang harus membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat itu semua harus dilakukan terus menerus sampai bisa memahami apa itu filsafat.

    ReplyDelete
  29. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    terima kasih bapak telah memposting refleksi perkuliahan ini. sedikit banyak pertanyaan saya selama ini, juga disebutkan dan dibahas pada beberapa postingan tanya jawab. pertanyaan yang sama diantaranya adalah bagaimana beragama dalam filsafat? saya telah menemukan jawabannya, yaitu kita harus menetapkan dulu, hati, pikiran dan keyakinan pada agama kita (islam). baru lah setelah itu, kita bisa bebas berpikir dan mencari pengalaman, asalkan masih sesuai dengan isi dan koridor agama kita (islam).

    ReplyDelete
  30. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya disini jugan ingin sedikit bercerita tentang kuis jawab singkat yang diberikan Prof. Marsigit sewaktu perkuliahan Etnomatematika. saya kurang ingat berapa soal yang diberikan. tetapi saya sangat terkesan dengan soal yang hanya dijawab singkat tetapi masih saja banyak mahasiswa yang mendpat nilai nol. waktu itu dikelas kami nilainya berkisar dari 0 sampai 4 sehingga cukup mengherankan bagi kami, padahal soal tersebut tidaklah susah tetapi jawaban kami memang belum tepat.

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pertanyaan pertama ini sama denan pernyataan saya yang muncul ketika tes jawab cepat dengan mata kuliah etnomatika. Hal ini pernah dibahas di salah satu tulisan pak Prof. Marsigit juga bahwasannya untuk menjawab pertanyaan dengan tepat dan sesuai dengan pola pikir Prof. Marsigit kita haruslah membaca tulisan-tulisan beliau untuk meng-isomorpiskan pikiran kita dengan beliau.

    ReplyDelete
  32. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Istilah menembus ruang dan waktu yang dijawab oleh pak prof. Marsigit sama halnya dengan istilah isomorpis yang telah dibahas di salah satu tulisan beliau di awal. Disini dijealskan bahwa filsafat merupakan diri kita sendiri sehingga cara terbaik untuk belajar filsafat pak Prof. Marsigit adalah dengan membaca tulisan dan karya beliau sehingga kita mengerti dan paham pola pemikiran beliau.

    ReplyDelete
  33. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut artikel diatas saya dapat menarik simpulan bahwa setiap mata kuliah yang diampu belaiu akan selalu ada tes jawab cepat. Seperti yang telah dituliskan dalam jawaban beliau bahwasannya hal ini bertujuan untuk mengadakan yang mungkin ada pada diri mahasiswa tersebut masing-masing.

    ReplyDelete
  34. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam mempelajari mengenai pendidikan pak Prof. Marsigit menyatakan bahwa kita harus mengetahui mengenai latar belakang pendidikian, landasan pendidikan serta masa depan pendidikan itu sendiri. Ketiga hal tersebut telah terangkum dalam filsafat pendidian.

    ReplyDelete
  35. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam filsafat segala sesuatu yang kita ketahui namun tidak dapat menjelaskan bagaimana dia memperoleh hal tersebut dapat diartikan sebagai ilham. Berbeda dengan wahyu yang memiliki proses untuk mengetahuinya. Proses wahyu yang dijelaskan Prof. Marsigit dalam tulisan ini menurut saya dapat dianalogikan sebagai proses mengasosiasi dalam pendekatan pembelajaran saintifik.

    ReplyDelete
  36. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Sebelumnya ditulisan Prof. Marsigit berfilsafat artinya memahami dirimu sendiri. Sedangkan dari jawaban pertanyaan kedua saya paham bahwa konteks memahami diri sendiri itu didefinisikan sebagai kesadaran kita dalam menyikapi ketidaktahuan.

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi menjadi baik ataupun buruk. Saya menyukai pernyataan Prof. Marsigit “raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia” . Hal ini linear dengan tujuan penciptaan manusia yakni untuk beeribadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  38. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pernyataan Prof. Marsigit mengenai “raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia” juga selalu ditekankan dalam setiap perkuliahan beliau. Sehingga dalam praktik perkuliahannya pun selalu dikaitkan dengan dimensi spiritual yakni dalam pembelajaran selalu diawali dan diakhiri dengan doa.

    ReplyDelete
  39. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam jawaban pertanyaan ke-3 mengenai bagaimana beragama dalam filsafat Pak Prof. Marsiit menekankan sebelumnya sebelum memasuki ranah filsafat itu sendiri kita harus menentukan agama kita. Artinya perkuat keyakinan dan tanamkan nilai agama tersebut dalam hati agar nanti dalam prosesnya tidak goyah dan melenceng dari nilai agama itu sendiri.

    ReplyDelete
  40. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dari jawaban pak Prof. Marsigit saya dapat menyimpulkan bawa mencadi cerdas itu perlu sebagai suatu usaha ritual untuk memperkuat keyakinan apa yang tengah kita percayai. Menjadi cerdas menjadikan kita tau mana kala hal tersebut baik ataupun buruk mana yan lebih banyak manfaatnya ataupun mudaratnya.

    ReplyDelete
  41. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut beliau ketika menyikapi pertanyaan ke-5 bahwasannya spiritual merupakan masala individu dengan Tuhannya. Spiritual seseorang ini dapat dilihat dari orang itu sendiri, keluarganya, pola pikir, serta lingkungannya. Beliau menegaskan bahwa dalam masalah spiritual merupakan suatu proses seseorang dalam berikhtiar mengetahui mana yang benar dan kurang benar.

    ReplyDelete
  42. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam filsafat benar dan salah dipandang sebagai kesesuaian dengan ruang dan waktu. Pada dimensi spiritualisme kebenaran bersifat absolute artinya segala sesuatu yang telah ditetapkan dalam konteks agama ini benar. Misal saja segala sesuatu yang diperintahkan Allah melalui Al-Qur’an bersifat absolut wajib. Sama halnya dengan shalat 5 waktu merupakan suatu perkara wajib jika tidak dikerjakan maka berdosa.

    ReplyDelete
  43. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Jika kebenaran dimensi spiritual merupakan suatu yang absolute maka kebenarann menurut seseorang itu bersifat subjektif. Hal ini telah dijelaskan juga pada mata kuliah sosial budaya. Dimana sekarang tengah terjadi pergeseran nilai. Contoh saja dahulu bahasa inggris di beberapa daerah dikatakan sebagai bahasa setan akan tetapi sekarang ini bahasa inggris merupakan salah satu bahasa yang diajarkan dalam sekolah begitu juga LGBT merupakan suatu penyakit akan tetapi di beberapa negara itu dipandang sebagai suatu hak asasi manusia.

    ReplyDelete
  44. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Terkait pertanyaan mengenai filsafat itu kompleks atau sederhana saya menyimpulkan jawaban pak Prof. Marsigit bahwasannya filsafat dapat dipandang kompleks dan juga sederhana. Semua tergantung dari pandangan kita sendiri memandang filsafat itu komples ataupun sederhana.

    ReplyDelete
  45. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut Prof. Marsigit filsafat itu tergantung dari olah pikir, reflektif serta cara pandang kita terhadap filsafat. Seperti yang pernah dibahas pada tulisan beliau yang lainnya hakikat filsafat ada pada diri kita sendiri. Akibatnya filsafat diri dari tiap orang akan berbeda tergantung dengan pribadi individu tersebut.

    ReplyDelete
  46. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Istilah “Knowledge is Power” dari Francis Bacon merupakan hal saya garis bawahi pada jawaban pertanyaan terakhir yang ditujukan kepada Prof. Marsigit. Hal ini juga dikatakan beberapa malam oleh penceramah khutbah tarawih bahwasannya orang yang berilmu itu memiliki derajatnya lebih tinggi.

    ReplyDelete
  47. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Tentunya kita juga tidak asing dengan istilah “tuntulah ilmu hingga ke negeri China”. Ibarat tersebut menandakan betapa pentingnya menuntut ilmu itu sendiri. Berguru pada pengalaman negeri Matahari Jepang ketika tengah dalam krisis setelah di bom nuklir oleh sekutu pemimpinnya kala itu tidak memikirkan bagaimana memulihkan keadaan akan tetapi lebih menekankan kepada pengembangan pendidikan untuk generasinya. Alhasil sekarang Jepang berhasil bangkit dan menjadi salah satu negeri yang maju.

    ReplyDelete
  48. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    “Knowledge is power” interpretasi istilah tersebut telah saya temukan ketika berada pada jenjang sekolah dasar. Dulu guru SD saya berpesan bahwa Ilmu itu berharga dibandingkan harta apapun. Ilmumu menjagamu berbeda dengan harta kamu yang menjaga hartamu.

    ReplyDelete
  49. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dari tulisan beliau ini dapat disimpulkan bahwa kedudukan ilmu begitu mulia. Ini menjadi cambuk bagi saya sendiri sebagai calon guru agar sebaik-baiknya dalam proses pembelajaran selain sebagai fasilitator saya juga harus mampu menjadi motivator bagi calon siswa saya kelak sehingga mereka termotivasi untuk belajar lebih dalam sendiri.

    ReplyDelete
  50. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam jawaban yang dikemukan pak Prof. Marsigit salah satu tujuan beliau melakukan tes adalah untuk menyadarkan mahasiswa untuuk tidak sombong dalam segala hal. Bahwa untuk mempelajari matakuliah beliau kita perlu membaca ulisan-tulisan beliau sehingga pemikiran kita dan beliau dapat isomorpis.

    ReplyDelete
  51. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Ketika membaca judulnya, saya sudah berpikiran bahwa filsafat akan memandang struktur kehidupan dari berbagai sudut pandang. Sejatinya filsafat adalah bukan darimana dia memandang sesuatu, tetapi penjelasan tentang mengapa dia berpandangan demikian. Dari semua proses perkualiahan, Bapak selalu membuat model atau hierarkhie atau struktur. Begitulah filsafat. Maka struktur antara satu orang dengan yang lainnya juga kan berbeda, tergantung dari bagaimana cara dia memandang. Yang jelas, struktur kehidupan dibangun menggunakan pondasi spiritual, jadi spiritual itu merupakan dasar. Kokoh tidaknya sebuah kehidupan itu tergantung pondasi yang dibuatnya.

    ReplyDelete
  52. Filsafat merupakan olah pikir. Berfilsafat merupakan suatu proses berpikir, berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Obyek dari filsafat itu sendiri mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Dalam berfilsafat, tidak ada yang salah dan benar, semuanya tergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  53. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Filsafat merupakan olah pikir. Berfilsafat merupakan suatu proses berpikir, berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Obyek dari filsafat itu sendiri mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Dalam berfilsafat, tidak ada yang salah dan benar, semuanya tergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  54. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dengan melihat jawaban bapak dari pertanyaan pertama saya menyadari bahwa untuk bisa memahami filsafat, kita harus memahami diri sendiri. Hal itu dikarenakan filsafat hanya ada di dalam diri manusia masing-masing. Filsafat setiap orang hanya bisa dipahai dengan bertanya. Sebagai mahasiswa, baiknya kita terus membaca dan terus membaca agar memahami filsafat itu sendiri. Sebenarnya dari kesalahan yang terjadi itulah kita menyadari bahwa diri ini masih kurang dan harus terus berusaha untuk berkembang.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  55. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Menurut sumber yang saya baca, Filsafat Pendidikan memiliki peranan yang penting karena filsafat pendidikan menjadi landasan filosofis dan pemberi arah untuk usaha-usaha perbaikan, kemajuan dan tetap eksisnya pendidikan. Tanpa landasan dan arahan, penyelenggaraan pendidikan sangat sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang direncanakan. Landasan yang kuat sangat dperlukan bagi para pembangun bangunan pendidikan selanjutnya agar bangunannya menjadi kokoh dan eksis selamanya.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  56. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dalam postingan ini, saya menyukai salah satu ungkapan yaitu bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  57. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014
    Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Pandangan ini sangatlah membuat saya terkagum akan filsafat. dari sini saya menyadari bahwasanya filsafat mengajarkan kita untuk berpikir untuk memperkokoh iman dan agama masing-masing

    Terimakasih

    ReplyDelete
  58. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan diri kita dengan Tuhan (habluminAllah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Spiritual merupakan tanggung jawab setiap insan masing-masing kepada Tuhannya (hambluminAllah). Kita sesama makhluk hanya bisa saling mengingatkan, saling mengasihi satu sama lain (hambluminannas).

    Terimakasih

    ReplyDelete
  59. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Jika dipandang dalam pandangan falibilisme, semua bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Karena filsafat hanya ada dalam pikiran masing-masing orang. Filsafat ada di dalam diri masing-masing orang. Semua yang pasti hanya milik Ilahi.yang benar adalah suatu kebenaran yang sesuai dengan ruang dan waktu. Sesuatu itu tidak boleh menentang ruang dan waktu.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  60. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dari postingan ini, saya membaca satu hal yang saya garis bawahi. Ketika tes telah usai dinilai, dulu saya berpikir bahwa kenapa nilai saya begitu jelek. Ternyata dengan membaca postingan ini pertanyaan saya terjawab. Bahwasanya setiap orang memiliki filsafat masing-masing d dalam diri mereka. Dengan mendapatkan nilai nol, kita bisa rendah hati dengan terus belajar karena menyadari diri ini masih jauh dari kata baik.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  61. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Salah satu pertanyaan dalam postingan tersebut yang juga menjadi pertanyaan saya adalah yang telah disampaikan oleh Sdri. Rizky Umami. Yang dapat saya simpulkan dari jawaban Prof. Marsigit yakni bahwa filsafat adalah diri kita sendiri. Karena kita diberikan pertanyaan filsafat oleh Prof. Marsigit maka jawabannya adalah diri beliau, ketika jawaban kita berbeda maka antara diri kita dengan belliau belum menemui ruang dan waktu yang sama, atau kita belum memahami beliau. Untuk dapat memahaminya adalah dengan cara membaca, baca, dan baca postingan dari beliau. Tugas mahasiswa adalah terus membaca, berusaha, dan berikhtiar, jangan patah semangat.

    ReplyDelete
  62. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Kesimpulan yang saya ambil yaitu salah dalam filsafat adalah benar jika engkau memang belum mengetahui ilmunya. Nilai yang rendah adalah untuk introspeksi diri dan memunculkan rasa rendah hati. Namun bukan benar seperti itu yang diharapkan. Benar yang bagus menurut saya adalah benar ketika kita sudah tahu ilmunya. Artinya dapat menjawab pertanyaan dengan lebih baik lagi. Oleh karena itu membaca sangat diperlukan dalam rangka memperkaya informasi dan ilmu yang kita miliki. Karena membaca adalah salah satu cara kita belajar dan belajar adalah wajib bagi siapapun yang sehat akalnya.

    ReplyDelete
  63. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    kesimpulan yang dapat saya ambil dari artikel ini adalah bahawa berfilsafat itu adalah menyadari ketidaktahuan kita. filsafat adalah olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena. kita bisa berbicara dengan hewan ataupun tumbuhan. karena bahasa itu berdimensi, dan yang berbahasa juga berdimensi. maka hal ini disebut fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi

    ReplyDelete
  64. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    dari pertanyaan keempat, saya dapat mengetahui bahwa beragama dari sisi filsafat ialah menetapkan agama terlebih dahulu, tetapkan keyakinan, tetapkan hati, yakin, baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran. karena jika kita belum menetapkan patokan agama, tetapi sudah menerbangkan layang-layang pikiran, maka kita akan terlepas dan terbang kemana-mana. hal ini sebenarnya sangat bertolak belakang dari pikiran saya sebelum mengetahui apa itu filsafat secara jelas, dimana saya menganggap filsafat akan membuat dilemma dalam berkeyakinan. setelah membaca artikel ini, akhirnya saya mengetahui bahwa pikiran saya yang dulu mengenai filsafat adalah salah

    ReplyDelete
  65. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    setelah membaca artikel ini, saysa setuju dengan pendapat Pak Marsigitpada pertanyaan kelima, yaitu bahwa spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan diri sendiri dengan Tuhan. spiritual adalah tugas kita sebagai manusia untuk beikhtiar mengetahui mana saja yang baik dan yang kurang baik

    ReplyDelete
  66. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Sudut pandang filsafat mengenai suatu hal sangat luas dan tak terbatas. Filsafat memandang kehidupan secara luas dan dalam. Dalam ilmu – ilmu eksak maupun tidak, dan dalam memandang bagian – bagian kehidupan ini sangat luas. Dan keluasan berpikir itu yang menjadikan filsafat sebagai tolak ukur perkembangan ilmu yang ingin dipelajari. Semoga dengan filsafat kita pun semakin terbuka pikirannya dalam memandang berbagai aspek dalam kehidupan ini secara lebih luas lagi.

    ReplyDelete
  67. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Filsafat adalah diri kita sendiri, terkadang kita kesulitan dalam memahami filsafat karena memang ini hal yang baru buat saya, tanpa disadari ternyata filsafat itu ada dsekitar kita, dekat dengan kita bahkan ada dalam diri kita sendiri. Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari ketidaktahuan menyadari antara tahu dan tidak tahu.pikiran kita untuk memperkokoh dan memperkuat iman masing masing dan tidak lupa saling mengingatkan sesuai dengan agama nya masing masing.

    ReplyDelete
  68. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Filsafat bisa memandang berbagai hal, salah satunya yaitu negara.Filsafat Indonesia adalah sebutan umum untuk tradisi kefilsafatan yang dilakukan oleh penduduk yang mendiami wilayah yang belakangan disebut Indonesia. Filsafat Indonesia diungkap dalam pelbagai bahasa yang hidup dan masih dituturkan di Indonesia (sekitar 587 bahasa) dan 'bahasa persatuan' Bahasa Indonesia, meliputi aneka mazhab pemikiran yang menerima pengaruh Timur dan Barat, disamping tema-tema filosofisnya yang asli.

    ReplyDelete
  69. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Istilah Filsafat Indonesia berasal dari judul sebuah buku yang ditulis oleh M. Nasroen, seorang Guru Besar Luar-biasa bidang Filsafat di Universitas Indonesia, yang di dalamnya ia menelusuri unsur-unsur filosofis dalam kebudayaan Indonesia. Semenjak itu, istilah tersebut kian populer dan mengilhami banyak penulis sesudahnya seperti Sunoto, R. Parmono, Jakob Sumardjo, dan Ferry Hidayat.

    ReplyDelete
  70. ‘Aynun Fitri
    14301241016
    Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya tertarik dengan jawaban Prof Marsigit mengenai Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami yaitu "Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir." Dari sini saya bisa tahu bahwa filsafat itu sejatinya dari diri sendiri dan bergantung pada apa yang diri kita lakukan.

    ReplyDelete
  71. ‘Aynun Fitri
    14301241016
    Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya juga tertarik dengan jawaban Prof Marsigit dari pertanyaan keempat bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu. Ini menjelaskan bahwa sejatinya untuk dijadikan suatu dasar dan landasan yang kuat kita harus yakin dulu, kita harus memiliki keyakinan dahulu terhadap apa yang akan kita anut dan lakukan.

    ReplyDelete
  72. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Perkuliahan bersama Prof. Marsigit memang sangat menyenangkan. Hampir kami dibuat terkesima dan tertawa karena perkuliahan dengan Prof. Marsigit tidak tegang. Beliau menceritakan berbagai pengalaman menariknya selama di luar negeri dan itu membuat kami termotivasi untuk bisa kesana dan melihat secara langsung pembelajaran di luar negeri.

    ReplyDelete
  73. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat dalam Memandang Struktur Kehidupan, dimulai dari pertanyaan pertama yang tertulis yaitu kehidupan diri sendiri atau yang juga saya rasakan. Dari pertanyaan pertama tersebut berisi tentang keluhan mahasiswa bahwa walaupun telah banyak membaca postingan dalam blog ini tetapi masih belum bisa menjawab pertanyaan Bapak Marsigit pada saat tes jawab cepat. Dan jawaban Bapak Marsigit adalah bahwa tes jawab cepat yang dilakukan Bapak Marsigit bukanlah untuk menguji pemahaman atau kemampuan mahasiswa, tetapi justru untuk membuka wawasan mahasiswa, jika mahasiswa mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, maka harus lebih banyak membaca lagi. Dan setiap aliran filsafat memanglah berbeda-beda karena filsafat adalah diri kita sendiri, jadi jangan khawatir jika tidak bisa memahami filsafat yang diajarkan oleh Bapak Marsigit karena bisa jadi kita memiliki aliran yang sedikit berbeda, metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, dengan banyak membaca, bertanya, dan terus berusaha.

    ReplyDelete
  74. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam kehidupan tentulah memiliki dasar dan bagaimana semua ini bermula, apa tujuannya, apa saja yang ada di dalam dan bagaimana cara mendapatkan apa yang ada di dalamnya. Tentulah ini akan dikupas di dalam filsafat. Fondasi utama dari keseluruhan kehidupan adalah keimanan terhadap Tuhan Semesta Alam. Tanpa Nya alam ini takkan ada. Jadi isikan hati dan pikiran secara mantap dengan keimanan, kemudian barulah beranjak dalam pengaplikasian hal – hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  75. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat adalah proses menerjemahkan diri sendiri bukan aksesorisnya, menerjemahkan apa yang dipikirkan oleh orang tersebut. Filsafat dalam diri setiap orang berbeda-beda tergantung bagaimana pola pikir masing-masing individu. Dalam filsafat ketika sesorang mendapatkan sebuah pencerahan tanpa mengerti apa sebabnya itulah yang dinamakan dengan ilham. Berfilsafat harus menyadari bahwa terdapat ketidaktahuan mengenai pengetahuan tertentu dalam diri seseorang, menyadari kapan pengetahuan tersebut diketahui dan mengetahui bagaimana saya dapat menembus batas ruang dan waktu sehingga pengetahuan yang sbelumnya tidak dapat saya pahami menjadi dapat saya pahami.

    ReplyDelete
  76. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Struktur kehidupan tersusun dengan begitu adanya. Yang telah terstrukturpun kadang menjadi tidak terstruktur karena adanya beberapa golongan manusia yang berusaha merusak kesetrukturan yang ada. tetapi tentunya masih banyak golongan manusia yang masih terustruktur pikirannya dan kehidupannya.

    ReplyDelete
  77. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika 2014 I

    Dengan membaca postingan ini saya menjadi lebih mengerti cara bagaimana kita bisa lebih memahami seseorang. Semisal dengan Pak Marsigit, dengan membaca apa yang bapak sampaikan selama ini dimulai dari saat perkuliahan maupun apa yang bapak tuangkan dalam blog ini saya lebih bisa mengerti bagaimana pola pikir dari Pak Marsigit. Begitupun untuk lebih mengerti orang lain, bukan hanya aksesoris seperti pakaian, namun lebih kepada tulisan maupun ucapkan yang disampaikan oleh pribadi yang bersangkutan.

    ReplyDelete
  78. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Sungguh memotivasi bagi pembacanya terutama kami sebagai mahasiswa yang diajar oleh Pak Marsigit. Mahasiswa sebainya teruslah untuk selalu membaca, berusaha, berikhtiar dan selama proses berlangsung jangan lah untuk patah semangat dan terus lanjutkan saja perjuangan yangg sedang dihadapi

    ReplyDelete
  79. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Dengan filsafat seseorang akan lebih mengerti tentang dirinya dan tentang cara dia hidup. Bukan tentang orang lain, melainkan tentang dirinya. Bukanlah sebuah keegoisan, namun bagaimana ia mampu mengekspresikan dirinya terhadap dunia, dan bagaimana dirinya mengartikan tentang yang ada di dunia.

    ReplyDelete
  80. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Dalam meningkatkan pendidikan di Indonesia kita tidak seharusnya hanya memandang pada tujuan. Namun kita juga harus memandang tentang dasar-dasarnya. Tentang bagaimana latar belakang pendidikan itu, bagaimana landasan pendidikan dan masa depan pendidikan yang ingin dicapai di Indonesia.

    ReplyDelete
  81. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Dalam melihat agama melalui cara/ sudut pandang yang berbeda seperti pada filsafat, memang haruslah kita mempercayai satu agama yang dipilih. Agar kita tidak terombang ambing berikutnya, ketika kita menemukan suatu hal yang berada diluar nalar kita (perihal spiritual). Karena pemahaman kita yang belum cukupuntuk menembus sebuah dinding spiritual. Jika kita sampai lepas kendali, maka hilanglah keyakinan kita terhadap agama, lepaslah keyakinan kita terhadap Tuhan.

    ReplyDelete
  82. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Kisah seseorang yang dengan keterbatasan ilmunya dalam mencari Tuhan pun sudah disampaikan dari zaman dahulu melalui kitab suci. Bagi yang beragama Islam tentulah kita tahu bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam mencari siapa Tuhannya, dari Bintang, Bulan, dan Matahari pun pernah ia pertanyakan, apakah hal teresbut adalah Tuhan. Bahkan sampai ia menjadi korban dari Rajanya karena ia menolak untuk menyembah sebuah batu, yang jika dihancurkan olehnya tak akan membalas.

    ReplyDelete
  83. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Sebagaimana kita mempelajari tentang diri kita, keluarga kita, komunitas kita, orang tua, pikiran dan pengalaman. Kita akan mengerti bagaimana ketetapan Tuhan itu berlaku, dan alasan mendasar kenapa Tuhan memerintahkan kita untuk melakukannya. Ketetapan yang jika memang berasal dari Tuhan maka itu tidak akan mempersulit manusia, justru dibalik semua ketetapan itu akan ada hal positif yang bisa kita peroleh

    ReplyDelete
  84. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Filsafat akan menjadi kompleks dan sederhana semua itu tergantung pada siapa pelakunya. Bagi si A mungkin sebuah filsafat tentang Ketuhanan akan menjadi sesuatu yang sederhana. Namun bisa menjadi sesuatu yang kompleks bagi si B. Begitu pula sebaliknya. Hal ini tergantung bagaimana tentang cara kita memandang suatu benda oleh kacamata filsafat.

    ReplyDelete
  85. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    s1 pendidikan matematika I 2014

    Benar dan salah akan berbeda maupun sama tergantung dari ruang dan waktu. Akankah suatu kebenaran akan terus benar sejalan dengan waktu? Ataukah kebenaran akan menjadi sesuatu yang salah jika melihat dari ruang dan waktu. Hal ini akan tergantung pada penilaian pada diri kita masing-masing.

    ReplyDelete
  86. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pertanyaan-pertanyaan beserta jawaban di atas menjadikan saya semakin berusaha memahami filsafat. Dari pertanyaan tersebut saya tertarik pada pembahasan bagaimana beragama dalam filsafat. Poin menarik bagi saya adalah "...beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya..." Di sini saya meyakini bahwa dalam mempelajari ilmu apapun harus tetap berpegang teguh pada keyakinan. Jangan sampai pemikiran dapat menjerumuskan hati. Agama haruslah menjadi pegangan yang kuat ketika akan mempelajari ilmu yang lain.

    ReplyDelete
  87. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Sesuatu yang instan tidak akan baik hasilnya, perlu adanya perjuangan untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai harapan. Nilai atau hasil akhir tidak menjadi ukuran kesukesan. Oleh karena itu kesuksesan sebenarnya telah kita dapatkan ketika banyak pengalaman yang telah kita dapatkan.

    ReplyDelete
  88. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat itu sederhana dan kompleks, sederhana karena kita berpikir pun itu seperti berfilsafat, kita menjawab filsafat itu sederhana dan kompleks pun itu merupakan filsafat. Sedangkan Filsafat itu kompleks karena intensif sedalam-dalamnya meliputi kehidupan di dunia dan di akhirat, yang pemikirannya masih kita jangkau sedalam-dalamnya, dan jika kita sudah tidak mampu untuk menjangkaunya bisa menggunakan alat lain yaitu spiritualitas. Alat spiritualitas setiap orang yang beda-beda, jadi menurut saya benar jika filsafat itu sederhana dan kompleks, serta kompleksifitas filsafat itu berbeda-beda setiap orang tergantung dengan pemikiran orang tersebut.

    ReplyDelete
  89. Nurul Faizah
    14301241022
    Pendidikan Matematika A 2014 (S1)

    Dari tulisan ini saya menjadi tahu bahwa ternyata yang dimaksud filsafat itu adalah tentang dirimu sendiri. Metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Kita dapat menerjemahkan diri kita dengun terus membaca, belajar,berikhtiar. Dan dapat menerjemahkan orang lain dengan cara bertanya.

    ReplyDelete
  90. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dalam kehidupan manusia hanya memandang hasil saja maka dalam setiap detiknya manusia merasakan kecemasan. Karena hasil itu belum tentu sesuai perkiraan. Dalam belajarpun demikian. Sehingga dalam menyikap hal demikian maka lakukan kegiatan dengan niat ikhlas dan carilah motivasi untuk melakukan kegiatan itu agar kegiatan itu lebih menyenangkan. Salah satu motivasi yang terpenting yaitu motivasi mencari ridha Allah. Maka dalam setiap kegiatanya hati akan tentram, tanpa memedilikan hasil, karena hasil yang menilai bukan kita namun orang lain, mereka tidak tau proses yang dilakukan oleh kita.

    ReplyDelete
  91. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat selalu erat kaitannya dalam kehidupan, berfilafat maka manusia berfikir. Namun bukan hanya ekedar berfikir, tetapi juga memahami setiap makna dan arti dari kehidupan dan seluruh dinamikanya.

    ReplyDelete
  92. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika sudah sampai pada tahap berfilsafat dan berfilsafat sesuai dengan kaidah maka orang tersebut telah sampai pada tahap yang tinggi yaitu mampu menentukan mampu berfikir yang dapat memberikan efek jangka pendek maupun panjang untuk kehidupannya maupun kehidupan orang banyak.

    ReplyDelete
  93. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat tidak ada yang salah dan benar dalam memahami setiap kontennya. Tergantung pikiran massing-masing orang yang tentunya memiliki pengalaman dan masa lalu kehidupannya.

    ReplyDelete
  94. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat tidak ada yang salah dan benar dalam memahami setiap kontennya. Tergantung pikiran massing-masing orang yang tentunya memiliki pengalaman dan masa lalu kehidupannya.

    ReplyDelete
  95. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat adalah dirimu sendiri, maka berfilsafat adalah metode hidup. Sepintar apapun orang jika diberikan pertanyaan berkaitan dengan filsafat juga bisa mendapat nilai nol, karena filsafat tergantung pada masing-masing pemahaman orang

    ReplyDelete
  96. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalan filsafat tidak ada benar dan salah, karena salah itu juga bisa berarti benar sesuai keadaan. Kebenaran dalam filsaat adalah kebenaran yang objektif, karena filsafat adalah tentang diri masing-masing

    ReplyDelete
  97. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat itu sederhana dan jua kompleks, karena filsafat adalah berpikir. Tingkat befpikir tiap orang pastilah berbeda-beda, maka dari itu filsafat tergantung dari cara berfikir masing-masing orang. Tetapi jika anda sudah menyimpulkan sesuatu dan berhenti berpikir, disitu anda sudah tidak lagi berfilsafat

    ReplyDelete
  98. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Urusan spiritual adalah urusan masing-masing kita dengan Tuhan, spiritualku ya dengan melihat diriku, lingkunganku, keluargaku, pola pikirku, pengalamanku. Karena itu berkaitan denga diri masing-masing, bukan antar manusia

    ReplyDelete
  99. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia itu terbatas, sesuai ruang dan waktunya. Keterbatasan kita mungkin pada orang lain tidak, begitu ppun sebaliknya. Manusia membuat postulat atau aturan-aturanya sendiri, sehingga terbentuklah struktur dalam dirinya yang berkaita dengan menembus ruang dan waktu

    ReplyDelete
  100. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Beragama dalam filsafat dimulai dari hati terlebih dahulu. Tetapkanlah dulu agamamu, keyakinanmu, dan mantapkan hatimu, baru setelah iitu kuatkan dengan pikiran-pikiran untuk memperkuat iman dan taqwa dengan belajar agama yang anda yakini dan mengamalkanya

    ReplyDelete