Nov 3, 2015

FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN


FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN
Refleksi pertemuan ketujuh (Kamis, 29 Oktober 2015)
Direfleksikan oleh: Vivi Nurvitasari, 15701251012
Diperbaiki oleh: Marsigit

http://vivinurvitasari.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-dalam-memandang-berbagai.html

Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit.

Sistem pertemuan pada minggu ini sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu adanya tes jawab cepat diawal kuliah, tema tes kali ini juga masih sama dengan tema pada pertemuan minggu sebelumnya yaitu tentang “Menembus Ruang dan Waktu”. Tes jawab cepat yang diberikan Pak Marsigit ini sudah ada dalam postingan-postingan Bapak diblog Pak Marsigit. Sehingga untuk bisa menjawab tes ini, mahasiswa diharapkan rajin membaca dan memperbanyak membaca postingan diblog Pak Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami :“Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami  isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”

Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut adalah: ”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja.

Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat saya ini fungsinya tidak semata-mata mengetahui pikiran anda, tapi untuk sarana mengadakan dari yang mungkin ada bagi dirimu masing-masing. Setidaknya dari bertanya tadi para mahasiswa sudah mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu, apa maksudnya? Jangankan manusia, sedangkan binatang, tumbuhan dan batu pun juga menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang.

Semua benda bisa saya katakan, didepannya diberi artikel waktu, misalkan pada hari Kamis ini kabut asap, pada hari Kamis ini Presiden Jokowi. Silahkan sebut 1 (satu) sifat saja dari bermilyar pangkat bermilyar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu yang bisa anda sebut, bahkan yang notabenenya terbebas oleh ruang dan waktu yang ada di pikiran anda, misalnya 2+2=4 itu karena terbebas oleh ruang dan waktu, tapi saya masih bisa mengatakan hari ini bahwa 2+2=4, pada hari Jumat besok juga 2+2=4, itu identitas karena terbebas oleh ruang dan waktu, ketika sudah terikat oleh ruang dan waktu serta merta menjadi kontradiktif, ada sifat-sifatnya dan sifat itu bersifat subordinat menjadi predikat daripada subyeknya.”

Pertanyaan kedua dari Sdri. Fajar:”Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia dan meningkatkan pendidikan di Indonesia?”

Jawaban dari Pak Marsigit Adalah: “Itu tema besar tapi itu bisa anda baca di postingan saya yang sudah ada dan sangat lengkap, tapi esensinya untuk mengetahui praksis pendidikan, alangkah baiknya juga mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Itu wadahnya tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan maka belajarlah filsafat. Semua terangkum di postingan saya termasuk ada unsur-unsurnya, pilar-pilarnya politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan konstekstual. Jadi tidak usah jauh-jauh ke Amerika karena di Indonesi pun ada politik pendidikan juga politik pemerintahan.”

Pertanyaan ketiga dari Sdra. Ndaru Asmara: ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praksisnya. Bagi seorang filsuf, dia berkeinginan untuk menjelaskan kenapa orang kesurupan, tapi filsuf sendiri tidak bisa kesurupan, sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya, jangan kemudian filsuf juga harus ikut-ikutan kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan tentang alasan mengapa orang kesurupan tersebut, karena filsafat itu olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada itu kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib secara filsafat naik spiritual, turun menjadi psikologi, filsafat itu lengkap ada spiritualnya juga ada psikologinya.

Orang awam akan menyebut ilham, spiritual petunjuk dari Tuhan, kalau seseorang mendapatkan pencerahan, tetapi tidak mengerti sebabnya dia memperoleh pencerahan tersebut, secara filsafat begitu saja, itu namanya ilham. Dan ternyata kalau kita mau meneliti setiap yang ada dan yang mungkin ada, setiap waktu saya selalu mendapatkan ilham, saya bisa menjawab pertanyaanmu karena saya mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham, semua pencerahan yang ada ini adalah ilham. Apakah anda bisa menjelaskan proses trjadinya ketika anda bisa menjawab dengan menggunakan yang ada didalam pikiranmu? Seberapa jauh anda bisa, dan tidak akan bisa sempurna, pada akhirnya itu adalah ilham juga.

Wahyu itu juga ilmu, makanya orang jaman dahulu dipersonifikasikan wahyu itu sebagai benda hidup, karena apa? Karena audiensnya itu  tradisional sekali maka ketika sang Arjuna (Pak Marsigit) mencari wahyu itu pergi ke hutan ke tempat yang sepi artinya itu engkau dikamar (untuk jaman sekarang) lalu membaca elegi saya. Itu sama saja ketika jaman dulu arjuna masuk ke hutan mencari wahyu atau menyepi, merenung, memahami, disitulah anda akan mendapatkan wahyu yang banyak sekali, pengetahuan yang mungkin ada menjadi ada.

Persis sama dengan yang dilakukan arjuna itu tadi, yang mungkin ada menjadi ada, wahyunya berupa manusia setengah dewa bisa berdialog dengan arjuna sehingga akan menjadi satu dengan diri Arjuna. Apa yang menjadi satu dengan dirimu? Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual, itu yang telah menjadi satu dengan dirimu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan dan jaaban-jawabanku, jadi anda tadi sudah mendapatkan banyak sekali wahyu ketika menjawab pertanyaan dan memperoleh jawaban dari saya, tapi engkau tidak menyadarinya.

Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib dsb itu diterangkan naik spiritual filsafat transenden, turun psikologi. Transendennya filsafat adalah noumena. Noumena itu diliuar dari fenomena. Yang dipegang yang dilihat semua yang difikirkan yang didengar itu semua fenomena, maka ruh dan arwah dianggap noumena.

Usaha manusia untuk mengetahui tentang arwah atu ruh, dilakukan dengan berbagai macam metode  memakai logika, memakai pengalaman, memakai teori ke spiritual berbagai macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada batasannya, batas-batas tertentu, maka bagi pikiran saya yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat potensi positif.

Di dalam dirimu ada potensi negatif ada potensi positif, neraka itu potensi negatif, surga itu potensi positif oleh karena itu raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia. Maka  orang-orang yang sudah masuk surga atau calon penghuni surga itu secara psikologi itu kelihatan, secara hukum juga kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum, jelas dia orang-orang yang masuk neraka secara hukum, secara spiritual lain lagi, itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihat pun berdimensi, dan yang dipikirkanpun berdimensi.

Maka bagi anak kecil pohon itu ada hantunya, padahal kata kakak saya itu hanya supaya anak kecil takut dan tidak merusak tanaman, jadi bagi orang dewasa itu hanya sebatas menakut-nakuti si anak kecil, itulah buahnya.

Berbicara dengan hewan (saya pus-pus, kucingnya meong), akrab dengan kucing, apa definisi bicara?, itu saya sudah mengetahui bahasa kucing. Komunikasi dengan tumbuhan (aduh kamu tumbuhan sudah mulai layu maka aku siram), jadi elegi kalau diteruskan elegi tumbuhan membutuhkan air, dialog antara tumbuhan dengan yang menanamnya tadi itu munculnya elegi itu seperti itu. Jadi bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

Saya pernah mengalami pengalaman spiritual selama 10 hari tinggal dimasjid belajar bersama sufi, menertibkan tata cara berdoa beribadah, dsb. Ketika intensif berdoa disitu, alamnya seperti itu, saya pun rasanya enggan pulang, ingin saja berdoa terus, dan ketika itu sensitifitas rohani atau hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan-kemampuan metafisik itu muncul jangankan dengan apa yang dikatakan atau berdialog dengan itu, misalkan seseorang yang makan bakmi di pinggir jalan yang bakminya tidak didoakan ketika dibuat, dan orang yang memakannya tidak berdoa sebelum makan bakmi tsb, saya melihatnya seperti orang memakan cacing, itu ketika diriku sedang memiliki spiritual yang sangat tinggi.

Level tertentu pada suatu dimensi komunikasi (dengan yang gaib) mempunyai sifat da karakter tertentu bersiat subjektif yang hanya dapat diketahui atau dirasakan oleh yang bersangkutan. Pemahaman dalam pikirannya terkadang menggunakan pengalaman-pengalaman persepsi (pancaindra) untuk menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya dengan yang gaib. Sehingga ada jarak antara persepsi dan pikirannya. Jarak itulah sebagai penyebab tidak validnya pengalaman pribadi berkomunikasi dengan yang gaib, jika akan dituturkan kepada orang lain, Maka barang siapapun, tidak dapat mengatakan kepada siapapun perihal pengalaman spiritual (khusyuk) kecuali hanya dirasakannya sendiri, semata-mata untuk meningkatan kadar keimannnya. Begitu dituturkan kepada orang lain, serta merta akan menjadi tidak valid.

Pertanyaan keempat dari Sdra. Suhariyono:”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.”

Pertanyaan kelima dari Sdri. Ma’alifa Alina: ”Bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?”

Jawaban dari Pak Marsigit adalah: “Kalau menurut saya, spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Kalau saya daripada artinya sesuatu yang sangat diluar kemampuan saya secara alami mengalir, lihat diriku, diri orangtuaku, lihat diri keluargaku, lihat diri pikiranku, lihat diri pengalamanku, begitu saja bagi saya, mengalir saja. Tengoklah komunitasmu, tengoklah keluargamu, tengoklah pengalamanmu, seperti apa spiritual itu selama ini? Maka hidup yang baik adalah masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Spiritual itu adalah tugas kita sebagai manusia untuk berikhtiar mengetahui mana-mana saja yang soheh, dan yang kurang soheh, dst.

Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya adanya teknologi untuk menentukan tangaal 1 syawal, karena saya tidak bisa ya maka saya hanya bisa mengikuti aturan dari pemerintah saja, ketetapan pemerintah. Jadi segala macam spiritualitas bersifat postulat, postulat adalah yang kemudian menjadi model diterapkan didunia, manusia juga membuat postulat-postulat, maka subyek menentukan postulatnya bagi obyeknya. Engkau juga membuat postulat, membuat peraturan pada adik anda. Jadi seperti itu struktur per struktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur, struktur dirimu itu ternyata dinamik yang sedang menembus ruang dan waktu.”

Pertanyaan selanjutnya dari Sdra. Bayuk Nusantara: “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Sudah berkali-kali saya katakan,  jadi itu maksudnya karena pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.”
Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Kebenaran diriku itu subjektif, kebenaran kita itu objektif, kebenaran para dewa adalah paralogos, kebenaran para daksa adalah faktanya, kebenaran kapitalis adalah modalnya, kebenaran skeptis adalah keraguannya, kebenaran fallibis adalah kesalahannya, kebenaran dunia adalah plural, kebenaran spiritual adalah tunggal, kebenaran idealis adalah tetap, kebenaran realis adalah relatif, kebenaran langit adalah aksioma, kebenaran bumi adalah konkritnya, kebenaran subjek adalah predikatnya, kebenaran predikat adalah subjeknya, kebenaran normatif adalah ontologinya, kebenaran estetika adalah keindahannya, kebenaran matematika adalah koherensinya, kebenaran tindakan adalah tulisannya, kebenaran tulisan adalah ucapannya, kebenaran ucapan adalah pikirannya, dan kebenaran pikiran adalah spiritualnya, kebenaran statistika adalah validitasnya, kebenaran psikologi adalah gejala jiwanya, kebenaran wadah adalah isinya, kebenaran isi adalah wadahnya, kebenaran filsafat adalah intensi dan ekstensinya.

Pertanyaan terakhir dari Sdri. Tyas Kartiko: ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Ya kompleks ya sederhana, tapi bukan jawaban saya yang seperti ini yang merupakan filsafat. Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Anda mengerti bahwa anda sedang berpikir, itu filsafat, jadi sederhana sekali. Kalau ingin ditambahkan boleh pilarnya ada 3 Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kompleks karena intensif, dalam sedalamnya bersifat radik, maka ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu luas seluas-luasnya, melipiuti dunia dan akhirat. Yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu, setelah engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah, gunakan alat yang lain yaitu spiritualitas.

Dalam rangka menggapai kebenaran itu, Francis Bacon namanya, terkenal dengan kata-kata ‘knowledge is power’, pengetahuanmu itu adalah kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang itu mencapai kebenaran. Kendala pasar, misalnya di facebook orang bicara begini begitu, jadi kalau begini kesimpulannya begitu, juga kalau begitu kesimpulannya begini, dsb.  Kendala panggung, artis misalnya Syahrini mengatakan begitu, jadi ini itu begitu menurut Syahrini seorang artis terkenal. Pak marsigit berkata spiritualnya formal adalah spiritual, sampai akhir kuliah, sampai engkau meninggalkan dunia akan tetap seperti itu, itu berarti engkau  termakan atau terpengaruh oleh mitos-mitosnya pak Marsigit. Itu harus engkau cerna dan telaah, itulah mengapa saya heran kenapa tidak ada mahasiswa yang bertanya tentang pertanyaan soal tes saya tadi, berarti sudah ada kecenderungan  engkau itu terhipnotis oleh pernyataan saya dan itu menjadi kebenaran final bagi dirimu, padahal itu bukan kehendak daripada berfilsafat ini. Engkau harus membuat anti thesisnya.

Namanya orang menguji itu suka-suka, engkau bisa saja menguji saya supaya nilai saya mendapat nol. Nilai nol itu bukan berarti salah tapi itu membuktikan bahwa setiap dari dirimu itu mempunyai filsafatnya masing-masing, karena filsafat dari perkuliahan ini adalah untuk mengajarkan agar kita tidak sombong dengan mendapatkan nilai nol dari setiap tes, agar kita selalu rendah hati. Tetapi kalau itu kesimpulannya berarti engkau sudah berhenti berpikir, tetapi filsafat itu terus menerus memikirkannya, maka bacalah pertengkaran antara orang tua berambut putih karena itu proses mendapatkan ilmu. Jangan hanya membaca elegi Pak Marsigit di dalam mimpi, mimpi itu diukur konsistensinya jadi tidak koheren, tapi mimpi itu sebagian dari pengalaman tapi tidak sepenuhnya jadi tidak korespondensi. Jadi mimpi itu bukan persepsi. Mimpi bisa diterangkan dengan teori berpikir, tapi akan lain jika diterangkan oleh seorang paranormal.”

Alhamdulillahirrobil’alamin
Wasssalmu’alaikum, Wr. Wb.

19 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan Prof. Marsigit M.A dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Oleh karena itu Sebagai mahasiswa untuk memahami filsafat kita harus baca, baca, dan baca. Seseorang, apalagi mahasiswa untuk memahami filsafat harus bisa memposisikan diri sebagai orang yang harus membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat itu semua harus dilakukan terus menerus sampai bisa memahami apa itu filsafat.

    ReplyDelete
  2. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Belajar filsafat membuat seseorang berpikir apa yang ada dipikirannya adalah pikiran yang benar. Sehingga yang menentukan benar atau salahnya seseorang ya pikirannya sendiri. Filsafat juga mengajarkan saya tentang konsep ruang dan waktu. Mengutip sepenggal kalimat dari Profesor bahwa Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang. Sehingga selama kita berada didunia kita tetap berada dalam sebuah ruang dan waktu. Selama kita dibatasi oleh ruang dan waktu maka kita perlu membuat orang-orang berpikir bahwa kita ada bersama mereka dalam sebuah ruang dan waktu yang sama.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Belajar filsafat adalah belajar olah pikir, belajar berpikir reflektif. Benar atau salah dalam filsafat ditentukan oleh pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan waktu atau tidak. 2≠2, kenapa ?. Karena dua yang pertama bisa saja lebih cantik dari dua yang kedua atau dua yang pertama lebih tebal dari dua yang kedua. Matematika benar jika hanya dalam pikiran manusia. Jika matematika itu sudah ditulis, maka tidak ada objek matematika pun yang sama. Hal ini dikarenakan tidak ada satu benda pun yang kembar di dunia ini, segala benda konkret terikat dengan ruang dan waktu. Maka 2=2, jika masih ada di pikiran kita yang tidak terikat ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  4. Belajar berfilsafat itu menakjubkan. Betapa tidak, ilmu itu bersifat reflektif. Wawasan bisa saja berubah menjadi sempit ketika terbatas pada pengerahuan yang minim. Maka betul sekali jika pengetahuan itu terbatas ruang dan waktu, tergantung dari sudut pandang mana kita merujuknya.

    ReplyDelete
  5. Belajar berfilsafat itu menakjubkan. Betapa tidak, ilmu itu bersifat reflektif. Wawasan bisa saja berubah menjadi sempit ketika terbatas pada pengerahuan yang minim. Maka betul sekali jika pengetahuan itu terbatas ruang dan waktu, tergantung dari sudut pandang mana kita merujuknya.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_C 2016
    16709251045
    Dari refleksi perkuliahan tersebut diatas bahwa filsafat adalah dirimu sendiri dan metode berfilsafat adalah metode hidup. Segala macam spiritualitas dalam kehidupan bersifat postulat. Serta segala sesuatu yang benar haruslah sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Dirimu itu adalah filsafat, alasannya karena untuk memahami diri kita maka semuanya ada. Karena Kompleks dan sederhana diri kita juga mencermikan diri kita sendiri. Ada rasa sulit dalam hidup, rasa senang dalam hidup, tantangan, sikap putus asa, sikap percaya diri, dan itu semua yang dipelajari dalam filsafat. Filsafat menurut sepemahaman saya menghantarkan kita untuk lebih bersikap spiritual dalam menyikapi semua kehidupan. Apa yang kita ucapkan, dari pikiran dalam otak kita, hingga tertuang menjadi kepribadian atau keunikan dari tiap individu merupakan bentuk dari filsafat.

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Filsafat disebut pula sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat eksistensial, artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan filsafat menjadi dasar bagi motor penggerak kehidupan, baik sebagai makhluk individu atau pribadi maupun makhluk kolektif dalam masyarakat. Oleh karena itu kita perlu mempelajari filsafat hingga keakar-akarnya. Khususnya pada ontologi, epistemologi dan aksiologi, sebab dengan mempelajari hal tersebut manusia hidup dapat mengembangkan berbagai aspek kehidupan dengan berlandaskan filsafat sebagai dasar berfikir sehingga terbuka wawasan pemikiran yang filosofis.

    ReplyDelete
  9. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika
    Pascasarjana

    Terkait dengan pertanyaan yang ketiga yaitu “apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lai, misalkan saja heawan atau tumbuhan?’

    Untuk bisa memahami dunia luar dari diri kita (lingkungan), maka perlu melihat kedalam diri (berfikir, merasakan, menkomunikasikan antara hati dan pikiran). Sehingga rasa simpati dan empati akan muncul ketika melihat kejadian di luar diri kita lalu mengembalikannya kedalam diri masing-masing mencoba merasakan dan memikirkan. Dan inilah yang mungkin bisa kita katakan berinteraksi dengan makhluk lain.

    Misalnya ada seorang wanita yang kehausan dalam perjalanannya kemudian singgah di salah satu sumur untuk minum, seusai minum ia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya sambil mengitari sumur itu. Maka si wanita tadi ini berfikir dan merasakan bahwa anjing ini juga merasakan kehausan sehingga si wanita mengambilkan air dari dalam sumur menggunakan sepatunya lalu diberikannya kepada anjing tesebut. Disini anjing yang mengitari sumur dan menjulurkan lidahnya merupakan cara untuk mencoba berkomunikasi dengan si wanita bahwa ia butuh minum. Sehingga si wanita tadi mendapatkan pengampunan dari Tuhannya.

    ReplyDelete
  10. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Filsafat adalah pikiran manusia. Lalu bagaimana filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa? Karena filsafat adalah olah pikir manusia maka spiritual akan kembali pada diri masing-masing, spiritual adalah urusan antara diri seseorang dengan penciptanya (Tuhan) dan urusan antara diri seseorang dengan orang lain. Maka kita hendaklah bertindak sesuai dengan ruang dan waktu. Ketetapan Tuhan itu sama halnya dengan ketetapan yang ditetapkan oleh pemerintah, peraturan yang sudah ada konsekuensinya. Ketetapan Tuhan itu adalah perintah dan larangannya.

    ReplyDelete
  11. Mempelajari filsafat membutuhkan pengalaman belajar (pengetahuan) juga pengalaman spiritual. Benar seperti yang dikatakan Prof, bahwa mempelajari filsafat harus kuat dulu pondasi keimanannya. Bahkan bukan cuma kuat, namun harus selalu semendhe, selalu mengingat Tuhan menembus ruang waktu. Ini karena, Berfilsafat pada prinsipnya membebaskan manusia untuk berpikir, tentang Apa, siapa, tentang bagaimana, dsb yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan manusia terkait dengan hidup, kehidupan (dunia), serta kehidupan laian sesudah kehidupan itu sendiri. Jika manusia tidak memiliki landasan yang kokoh maka benar manusia akan membenarkan persepsinya, teorinya, pendapatnya dan bahkan bisa menjadi manusia yang tidak lagi memperayai penciptanya. Karena itu, mempelajari filsafat dibutuhkan guru. Hakekat Guru Sejati adalah Tuhan itu sendiri, sedangkan guru dalam perspektif duniawi adaah orang yang dipandang sudah cukup, layak digugu karena memiliki pengetahuan, teladan sikap dan perbuatan sesuai dengan keilmuannya.
    Dengan mempelajari filsafat lebih dalam maka manusia akan semakin MENYADARI hakikat dirinya, mencintai kearifan dalam segala aspek kehidupan.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Dari penjelasan atau jawaban yang diberikan Pak Marsigit di atas. Pikiran ini semakin terbuka, dan terbukaya pikiran ini merupakan penjelasan filsafat dan kesimpulan yang saya buat sendiri dalam pikiran saya pun ini bisa disebut sebagai filsafat. Dan benar bahwa filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Dan disini jelas sekali bahwasanya filsafat yang ada di dalam setiap diri manusia itu harus terus menerus dipikirkannya.Dan Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu.

    ReplyDelete
  13. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Belajar filsafat artinya belajar tentang hakikat tentang sesuatu. Dengan belajar filsafat berarti kita akan mengkaji hal-hal yang sangat dasar dan krusial, sehingga untuk mempelajarinya tentu harus mempunyai pondasi yang kokoh karena kalau tidak punya pondasi yang kokoh bisa menjadikan manusia sebagai dewa. Sehingga untuk berfilsafat tentu harus ada yang menuntunnya yakni seorang guru, dan guru yang paling utama tentu Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan guru selain Allah dan Nabinya tentu orang tersebut sudah dianggap mampu untuk memberikan ilmu yang sesuai dengan apa yang ingin dicari.

    Berfilsafat artinya membuka pikiran dan cakrawala seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dan setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam menilai sesuatu, disitulah kehabatan filsafat dia akan memberikan pemikiran seluas-luasnya tanpa mengclaim sesuatu itu benar atau salah. Sehingga dalam filsafta tiada istilah bahwa pendapat A benar dan pendapat B salah. Semua orang bebas beropini. Sehingga dalam berfilsafat ditumbuhkannya rasa saling menghargai dan menghormati dan menghilangkan ego yang ada dalam diri kita.

    ReplyDelete
  14. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Belajar filsafat akan membuat kita semakin paham jika hati kita mampu memahaminya. Akan menjadi kebalikannya jika kita hanya mengumbar pikiran kita, mengikuti alur pikiran kita. Karena tanpa modal hati yang bersih dan spiritual yang kuat akan mengarahkan kita pada kebenaran.

    ReplyDelete
  15. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 P. Matematika A 2014

    Bukan perkara mudah belajar filsafat. Dengan pembahasan bapak, dengan jawaban-jawaban bapak yang disampaikan dengan bahasa yang "enteng", membuka pemikiran saya tentang arti filsafat dalam memandang berbagai hal selain agama. Filsafatnya adalah penjelasanku tetang sesuatu, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sesuatu tersebut, itulah filsafat. Jadi setiap manusia bisa menerangkan, itulah filsafat, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif.
    Sungguh menyadarkan bahwa filsafat adalah ilmu yang menjawab berbagai pertanyaan terkait hakikat ilmu Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Untuk itulah, ilmu harus dipelajari Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Dengan baca, baca dan baca Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Dengan begini, semakin kaya ilmu yang ada dan semakin dapat berfikir dengan teori filsafat.

    ReplyDelete
  16. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    dari tulisan ini mungkin saya bisa menyambungkan ke pendidikan matematika. Kecerdasan reflektif merupakan hal yang penting dalam pembelajaran metamatika, dimana ketika siswa mempelajari suatu materi, mungkin saja siswa yang hanya memiliki kecerdasan intuitif akan menyeleksi pengetahuan yang telah mereka miliki untuk merespon stimulus atau materi tersebut. Namun disini hal tersebut mungkin saja belum benar, tugas guru adalah ketika siswa mengalami kesalahan guru harus meyakinkan diri siswa bahwa yang mereka pahami sebelumnya belum tepat dan guru mengajarkan materi/konsep yang tepat. Sedangakan ketika siswa sudah benar maka tugas guru adalah menguatkan pemahaman konsep mereka, sehingga siswa semakin yakin dan paham dengan intuisi mereka tersebut. Ketika intuisi itu sudah semakin kuat dan tepat maka hal tersebut akan berubah menjadi kecerdasan reflektif, dimana ketika siswa menerima permasalahn yang berkaitan dengan materi itu maka siswa dapat menyeleksi pengatahuan telah miliki dengan otomatis dan tepat

    ReplyDelete
  17. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 P.Matematika_D 2016


    Saya sependapat dengan yang disampaikan oleh bapak mengenai filsafat itu kompleks atau sederhana, bahwa filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana karena sejak dahulu sampai sekarang manusia tidak pernah ada habisnya memikirkan tentang apa, mengapa, dan bagaimana hakikat tujuan hidupnya. Hal ini bisa saja menjadi rumit, atau bahkan menjadi suatu hal yang sederhana. Semakin dalam mencari tahu maka akan semakin sering tidak tahu. Apapun dan seberapa banyakpun yang berhasil kita temukan, kita akan semakin sadar bahwa kita semakin banyak mendapat pertanyaan – pertanyaan baru untuk dijawab.

    ReplyDelete
  18. Elli Susilawati
    16709251073
    S2 P.Mat D 2016

    Seorang Filsuf asal Inggris bernama Sir Francis Bacon berpendapat “knowledge is power”. Pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuatan manusia. Human Knowledge adalah Human Power. Manusia adalah mahkluk sosial yang di anugrahi akal dan pikiran dari sang pencipta, oleh karena itu sudah jelas pemikiran manusia sangat ingin mencari tahu apa yang belum dia ketahui. Karena dengan kita tahu akan sesuatu hal maka hasilnya kita mampu membuat karya-karya besar yang menjadikan hidup menjadi lebih hidup artinya Peranan knowledge/ilmu pengetahuan menjadi semakin menonjol sehubungan dengan hal tersebut. Sebab hanya dengan pengetahuanlah segala perubahan yang terjadi dapat disikapi secara tepat. Tentunya dalam hal ini adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, bukan sebaliknya.

    ReplyDelete
  19. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Salah satu hal yang saya garis bawahi ialah bahwa jawaban tidak mencerminkan suatu filsafat. Namun, filsafatya ialah penjelasan kita mengapa memilih suatu jawaban tersebut. Jika dikaitkan dengan pembelajaran di dalam kelas, maka kesimpulan dan pengetahuan baru yang saya peroleh ialah bahwa jawaban siswa tidaklah sepenuhnya mengukur tingkat pemahaman dan kecerdasannya, namun alasan mereka memilih jawaban itulah yang perlu dicermati oleh seorang guru. Apakah sudah sesuai atau masih terdapat miskonsepsi? Sehingga, proses adalah bagian yang penting di dalam suatu pembelajaran.
    Di samping itu, berdasarkan dua paragraf terakhir, jika saya tarik kesimpulan maka yang saya peroleh ialah bahwa di dalam kelas, seringkali menurut pandangan siswa apa yang diutarakan guru ialah hal yang mutlak benar. Dengan begitu, siswa seolah terhipnotis dengan semua perkataan guru. Bahkan, ketika siswa memiliki pendapat/ cara yang berbeda dengan guru ketika memecahkan suatu permasalahan, mereka seringkali menjudge bahwa cara mereka salah. Padahal, mereka memiliki alasan yang belum tentu alasan tersebut salah. Maka dari itu, fungsi guru memang sebaiknya menjadi fasilitator (meski susah), sebatas mengarahkan siswa agar tidak keluar dari jalur pembelajaran. Dengan begitu, siswa tidak berhenti berpikir.

    ReplyDelete