Nov 4, 2015

Menembus Ruang dan Waktu


Direfleksikan oleh Fitriani, S.Pd, 15709251067
PPs Prodi Pendidikan Matematika A 2015, Sabtu, 31 Oktober 2015
Diperbaiki oleh Marsigit

Assalamualaikum wr.wb
Pada pertemuan ke-7 Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. di  hari Selasa tanggal 27 Oktober 2015 pukul 11.10 s.d. 12.50 di ruang 305B Gudung lama Pascasarjana. Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya Beliau memulai pertemuannya dengan berdoa bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan tes jawab singkat dengan topik “Membangun Filsafat dengan Menembus Dimensi Ruang dan Waktu” adapun bentuk-bentuk dari pertanyaan Beliau seperti berikut:

Pertanyaan 1 dari Azmi Yunianti

Setelah beberapa kali mengikuti ujian filsafat, nilai yang saya dapatkan memprihatinkan. Menjawab dengan berfikir saja salah, apalagi tidak? Sebenarnya apakah sih yang salah dari saya pak, apakah karena fikiran saya atau bagaimana?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mendapatkan nilai yang jelek itu adalah benar di dalam filsafat, karena engkau belum membacanya. Nilai yang jelek itu merupakan contoh dari Fallibilisme, singkatnya Salah itu Benar.

Fallibilisme adalah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Istilah ini diambil dari kata latin abad tengah Fallibilis. Konsep ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan, ini dikarenakan ilmu pengetahuan mencari validitas kebenaran. Karena itu mereka mengharapkan suatu pengetahuan menjadi seakurat mungkin.

 Dengan adanya paham tersebut memberikan pemaham kita sebagai pendidik ketika mendapatkan “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT” karena berdasarkan faham Fallibilisme tersebut Beliau Bapak Marsigit menyebutkan bahwa “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT” jadi janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya. Jika engkau belum membaca Elegi-elegi, maka adalah Benar jika nilai anda adalah nol. Maka sebenar-benar Fallibisme adalah aliran filsafat yang sangat berguna untuk melindungi objek dari ketersemena-menaan Subjekya; untuk melindungi siswa SD dari ketersemena-menaanya gurunya. Jikalau seorang guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka jangan berharap siswanya akan menjawab benar dari setiap pertanyaan-pertanyaannya.

Terkait dengan nilai yang belum meningkat, ini merupakan pertanda bahwa “Anda Masih perlu memperbanyak Bacaan” karena dalam tes yang saya buat ini,  bukan hanya mengukur kemampuan tetapi sebagai pembelajaran bahwa ternyata “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING”. Oleh karena itu agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir isomorfis dengan saya (Beliau Bapak Prof. Marsigit). Jika engkau ingin belajar filsafat kepada saya, maka pelajarilah pikiran-pikiran saya; dan pikiran-pikiran saya semuanya sudah saya tuangkan dalam Elegi-elegi.

Berfikir isomorfis merupakan pemikiran yang sepadan yang menggambarkan pemetaan satu-satu. Misalnya pemikiran seseorang mengatakan bahwa di Indonesia ada Jakarta, di benua Kutub ada beruang merupakan contoh pemikiran Isomorfis. Setiap orang dapat mengatakan apa yang difikirkannya kecuali orang yang mabuk, pikun dan gila. Maka pikiran dua orang bersifat Isomorpis, pikiran banyak orang juga bersifat Isomorpis, bahkan pikiranmu dengan Dunia ini juga Isomorpis. Pertanda bahwa pikiran kita saling berisomorpis adalah sama-sama adanya pengertian Jakarta misalnya, di dala pikiran kita. Aku punya konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst; maka pikiranmu juga mempunyai konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst. Itulah bahwa pikiran kita saling berisomorpis.

Yang menjadi persoalan adalah bahwa ternyata Isomorpisma itu mempunyai derajadnya atau kadarnya, jadi kita mempunyai isomorpisma umum, isomorpisma khusus. Maka diriku dan dirimua yang sedang belajar filsafat kepadaku selalu berusaha meningkatkan saling kesepahaman dengan mengingkatkan kadar isomrpisma masing-asing, sehingga yang ada dalam pikiranku juga ada dalam pikiranmu dan sebaliknya. Namun manusia, karena keterbatasannya, tidak dapat mencapai Isomorpisma absolut; kita hanya berusaha menggapainya. Sebanar-benar sifat Absolut adalah hanya milik Tuhan saja.

Dengan demikian, tujuan diadakannya tes filsafat adalah agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan. Namun, perlu diketahun bahwa rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah hati maksudnya adalah agar seseorang tidak merasa sombong dalam menuntut ilmu. Ketahuilah bahwa “DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT”. Di dalam tingkatan normatif pemikiran, ketika seseorang yang merasa sombong di dalam dirinya maka seseorang tersebut telah terkena MITOS. Kerena setinggi-tingginya pemikiran maka ancamannya adalah MITOS. Kerena dalam berpikir seseorang mempunyai batas yaitu Spiritual. Ada kalanya seseorang ketika berada dalam tingkatan spiritual maka pikiran seseorang harus  terhenti dan diturunkan ke hati, contohnya ketika proses ibadah. Proses ibadah yang dimaksud terkhususnya adalah do’a. Doa yang diteruskan dari pemikiran yang terhenti akan diteruskan ke hati sehingga akan diambil alih oleh Sang Maha Kuasa.

Sebenar-benar do’a adalah ketika kita hijrah dari kesadaran doa menuju kesadaran hati, di mana pikiran kita tidak mampu lagi memikirkan doa-doa kita, tetapi harapannya doa kita sudah diambil alih oleh Allah SWT. Amin. Sebenar-benar filsafat adalah diri kita sendiri, maka kita menemukan terminologi Kesadaran Hati. Jika kita ekstensikan maka kita akan menemukan lagi Kecerdasan Hati, Ilmu Hati, Metode Hati, …dst. Itu hanya dapat dipahami dengan spiritualitas kita masing-masing. Sedangkan terminologi yang dihasilkan semata-mata menunjukkan keterbatasan bahasa atau ungkapan untuk menggambarkan Dunia Hati. Jangankan bahasa atau istilah, sedangkan pikiran kita juga tidak akan tuntas mampu mengetahui relung hati kita masing-masing.

Berdasarkan pengalaman Beliau Bapak Marsigit yang telah itikaf di mesjid dibimbing oleh para SUFI selama beberapa hari hanya untuk memperbaiki ibadah, tata cara sholat, doa dan sebagainya sehingga Beliau dapat mengetahui bahwa ada fase dimana pemikiran berhenti dan diteruskan ke hati. dan doa tersebut diambil alih oleh sang Maha Kuasa. “Doa kok hitung-hitungan” doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya.

Pertanyaan 2 dari Evvy Lusiana

Bagaimana pandangan filsafat tentang pemimpin yang sesuai ruang dan waktu?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mengenai pemimpin berarti ada pemimpin dan ada yang dipimpin termasuk struktur dunia yang lengkap berdimensi. Tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpin.  Pemimpin merupakan dewa bagi orang yang dipimpin. Sehingga Logika Para Dewa berarti Logika Para Pemimpin. Contohnya “KAMU MERUPAKAN DEWA BAGI ADIKMU DAN ADIKMU MERUPAKAN PREDIKAT (DAKSA) BAGI DIRIMU”. Sehingga divisualisasikan dalam bentuk perwayangan atau cerita sehingga berbicara yang berkaitan dengan Para Dewa pun sebenarnya juga berstruktur seperti ada Dewa Raja, ada Dewa Prajurit, ada Dewa Perdana Menteri, ada Dewa Lurah dan seterusnya. Oleh karena itu, masing-masing memiliki logika Para Dewa, kontradiksi Para Dewa, kesalahan Para Dewa dan seterusnya. 

Mengenai pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu yang baik berarti dapat dianalogikan sebagai hubungan antara subyek dan predikat yang mempunya dimensi yang lebih tinggi. Pemimpin adalah subyek, tugasnya sebagai pemimpin para predikat. Maka masing-masing dari kita adalah pemimpin dari sifat-sifat kita masing-masing. Menjadi pemimpin yang baik  harus memenuhi dimensi yang lebih tinggi maka pikiran lebih luas dan dalam serta pengalaman yang lebih luas dan mendalam. Baik secara fisik seorang pemimpin harus kuat. Secara formalnya, misalnya dengan melanjutkan pendidikan S2 bagi pemimpin merupakan peningkatan dimensi untuk menjadi pemimpin yang baik yang merupakan indikator titik point peningkatan dimensi.

Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik. Manusia hidup menuju dimensi yang lebih baik dalam fenomena garis lurus dalam siklik yang berputar. Pada perputaran siklik ada fase dimana manusia menjumpai peristiwa yang sama, misalnya selalu mengalami keadaan Hari Minggi tiap minggunya, manusia lupa ketika telah lanjut usia dan kembali ke sifat kekanak-kanakan. Hal ini berarti dalam hidup anda tidak berarti bahwa Anda akan semakin hebat melainkan ada fase dimana Anda lupa atau menjadi pikun. Fase siklik dari kehidupan yang terluar adalah adalah spiritual. Fase siklik ini bagi dunia timur atau spiritualisme, merupakan wadahnya bagi manusia untuk menyukuri hidup; maka orang bijaksana di timur adalah orang yang pandai bersyukur. Fase siklik inilah yang tidak dimiliki oleh negeri negeri Barat. Fase kehidupan negeri Barat merupakan diagram lurus (open ended) yang memiliki ended yang terbuka sehingga tidak mengerti hidupnya mau kemana ujungnya mau kemana dan tujuannya kemana; dengan filsafat hidup mencari terus dan terus mencari. Maka bijaksana menurut dunia barat adalah manusia yang sedang mencari.

Siklik terluar di negeri kita adalah Spriritualitasme yang berpengang teguh pada keyakian masing-masing dan berbasis serta dipayungi oleh spriritualisme masing-masing. Sehebat-hebat pikiran dan sepusing-pusing pikiran maka berhentilah dan mulai mengambil air wudhu kemudian sholat bagi umat muslim dan beribadah yang lain sesuai dengan keyakinan agama masing-masing. Siklikkanlah pikiran dan kegiatan anda sehingga mampu menghayati karunia dan kebesaran Tuhan.

Jika fenomena siklik kita ditambah unsur linear maka itulah yang namanya fenomena hidup maju berkelanjutan, ituleh hermenitika hidup yaitu terjemah dan diterjemahkan. Sebenar-benar hermenitika hidup itulah metode hidup yang sesuai dengansunatullah atau kodrat tuhan; wujudnya dalam masyarakat adalah saling bersilaturakhim. Inilah harta karun dunia timur yang belum digali. Jika digali dan dikembangkan maka kita akan mempunyai metode pembelajaran dengan Metode Silaturakhim. Mengapa tidak? Renungkanlah

Sifat pemimpin dianalogikan sebagai hubungan subyek dan predikat. Bagaimana seorang pemimping megeloha sifat-sifatnya. Contohnya memiliki kulit sawo matang, berambut keriting, berbadan kurus, dan seterusnya yang berjumlah semilyar pangkat semilyar lebih sifat yang ada pada diri pemimpin, belum lagi sifat-sifat yang ada di luar diri pemimpin.

Maka sebenar-benar manusia adalah tidak ada yang lengkap dan sempurna memiliki sifat. Misalnya penglihatan manusia yang tidak lengkap merupakan sifat yang mesti disyukuri sebab jika manusia memiliki penglihatan yang lengkap maka   manusia tidak akan hidup dengan tenang bahkan salalu pingsan jika memandang sesama. Sehingga sebenar-benar manusia memiliki sifat determinis yaitu menjatuhkan sifat tertentu kepada suatu sifat tertentu pula. Sipemilik sifat diterminis adalah Subjek, yang dijatuhi sifat diterminis adalah objeknya.  Maka godaan yang paling besar dari seorang pemimpin (sebagai subjek) adalah menggunakan kuasanya terhadap objeknya. Godaan terbesar seorang guru adalah menjatuhkan sifat kepada murid-muridnya, dimana sifat yang dijatuhkan belum tentu cocok dengan keadannya. Itulah maka sebagian dosa-dosa kita adalah dikarenakan sifat diterminis kita.

Secara netral kita bisa determin dengan menyebutnya si A tinggi, si B jangkung dst; tetapi kategori tinggi di Indonesia belum tentu kategori tinggi di negara lain seperti pemain basket Amerika. Maka dalam menjalani hidup ini khususnya pemimpin haruslah berhati-hati tidak boleh semena-mena menjatuhkan sifat orang yang dipimpin, karena sifat yang dijatuhkan jika tidak tepat, maka dampaknya bisa sangat besar bagi objeknya. Jatuhnya sebuah sifat itu merupakan fenomena abstraksi, karena manusia tidak mungkin memikirkan semua sifat, melainkan hanya sedikit sifat sesuai yang mampu dipikirkan sesuai keadaan subjektif dirinya. Sehingga menjadi seorang pemimpin yang ideal perlu mengamalkan ayat-ayat Spiritualitas kepemimpinan yang ada.

Pertanyaan 3 dari Tri Rahma Silviani

Dalam mengolah pikir dalam menembus ruang dan waktu tentang olah pikir yang menembus dunia. Bagaimanakan agar dapat menembus ruang dan waktu itu dengan ikhlas? 

Jawaban Beliau Bapak Prof.Marsigit M.A

Caranya adalah sesuai dengan hukum Tuhan dan SunnatullahNya beserta kondratnya yang dimana ikhlas juga termasuk kodratNya. Maka definisi ikhlas menurut Beliau dimulai dari level bawah dari Spiritual dalam filsafat merupakan keikhlasan itu menembus ruang dan waktu. seperti ikhlasnya batu menembus ruang dan waktu, yang tidak satupun batu yang protes dalam menjalani kehidupannya. Maka sebenar-benar keikhlasan menembus ruang dan waktu adalah KEIKHLASAN ITU SENDIRI. Karena keihlasan merupakan salah satu kodrat Tuhan maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kodratnya. Ketika ada pemaksaan kehendak itulah yang disebut tidak ikhlas dimana keadaan yang salah dalam menembus ruang dan waktu. Misalnya ruangan menjadi gelap disebabkan ada bom merupakan contoh salah ruang dan waktu karena merupakan kejadian yang dipaksa agar gelap. Itulah contoh tidak ikhlas. Ikhlas adalah unsurnya surga dan tidak ikhlas adalah unsurnya neraka.

Secara materialnya, normatifnya, formalnya sampai kepada Spiritualnya dalam menembus ruang dan waktu itu, semua terjadi karena keikhlasan. Jadi saya mendefinisikan keikhlasan secara filsafat adalah keikhlasan perihal atau untuk semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam menembus ruang dan waktunya. Sehingga kejadian seperti hari kiamat pun merupakan keikhlasan jika itu sudah merupaka suratan takdir. Tetapi manusia bisa saja mengalami ketidakikhlasan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misal ketika sengaja minum obat overdosis, bisa saja dunia subjektifnya kemudian mempunyai 2(dua) matahari, matahari terbit dari selatan..dst. Itu adalah fenomena tidak ikhlas. Maka sebenar-benar tidak ikhlas adalah perbuatan unsur-unsurnya syaiton. Na’u dzubillah mindalik. Maka bangunlah hidup yang sebenar-benar sesuai dengan ruang dan waktu adalah dengan melakukan silaturahim, komunikasi, kemandirian dan hal lainnya dengan ikhlas agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. 

Pertanyaan 4 dari Fitriani

Apa bedanya Para Dewa dengan Power Now?

Jawaban Beliau Bapak Prof Marsigit, M.A  

Ayam itu Dewanya Cacing
Cacing itu Dewanya Tanah
Kakak Dewanya Adeknya
Engkau Dewa dari Kendaraamu
Mentri merupakan Dewanya Dosen
Pengulu merupakan Dewa pernikahan

Maka sebenar-benar yang dimaksud para Dewa adalah subjeknya. Sehingga di dunia ini Amerika itu merupakan negara Dewa. Sama halnya dengan Rusia dan Cina merupakan negara para DEWA karena memiliki senjata nuklir yang dimana bisa atau mampu menghancurkan sebuah negara dengan senjata nuklirnya. Sehingga kumpulan ilmu politik, sosio politik, dan seterusnya jadilah istilah  POWER NOW yang dibuat oleh negara-negara dewa tersebut. Tingkatannya dari dimensi yang rendah meliputi Archaic, Tribal, Tradisional, Feudal, Modern, Pos Modern dan Power Now. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tribal adalah dewanya para Archaic, Tradisional adalah dewanya para Tribal, Feudal adalah dewanya para Tradisional, Modern adalah dewanya para Feudal dan Pos Modern adalah dewanya para Modern ..demikian seterusnya.

Dimulai dengan peradaban Archaic yang merupakan kehidupan manusia pada zaman batu kemudian Tribal yang merupakan masyarakat pedalaman dilanjutkan tradisional, modern dan Power Now. Istilah modern yang sebenarnya telah ada pada masa 1700an pada masa Rene Decrates pada masa kontemporer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dewanya adalah Barat Obama sedangkan Power Now adalah kekuasaan dari negara Dewa tersebut. 

Pertanyaan 5 dari Nur Afni R N

Apa bedanya Power Now dengan Super Power?

Jawaban Beliau Bapak Marsigit M.A

Power Now itu digambarkan denga orang yang super maka tidak cukup kalau wajahnya cuma satu. Sehingga yang dilakukan oleh super power dalam perwayangan yaitu Prabu Arwana dengan banyak muka sehingga dikatakan Dasa Muka. Dasa muka meunjukkan hidup yang standar ganda. Jika mukanya satu maka standarnya satu kalau mukanya 10 maka standarnya 10 untuk memanipulasi ruang dan waktu. jangankan mukanya 10, orang yang mukanya 1 saja bisa punya banyak standar. Oleh karena itu, di daerah bergaul dengan negara-negara Super Power dan  sebagainya selalu menerapkan standar ganda. Dasa Muka sebagai lambang keburukan Prabu Rahwana; namun jangan dikira, hanya melalui kajian filsafatlah bahwa kita sebetulnya juga menemukan Prabu Ramawijawa (lambang kebaikan) akan mempunyai Dasa Muka dalam tanda petik. Dikarenakan khasanah kebaikan maka yang demikian tidak perlu diekspos supaya sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Jika Prabu Ramawijaya tidak mempunyai sifat Dasa Muka pula maka dia tidak akan mampu mengalahkan Prabu Rahwana. Maka sebenar-benar sifat Dasa Muka atau Multifacet adalah berdimensi dan berstruktur. Setiap manusia mempunyai fatal (takdir) dan potensi (ikhtiar) untuk bersifat multifacet. Maka multifacet adalah struktur dan dimensinya dunianya manusia masing-masing; tanpa itu maka manusia tidak akan mampu menembus ruang dan waktu.

Standar ganda merupakan dua sisi yang berlainan seperti disisi lain ingin membantu namun di sisi lain ingin mengambil keuntungan. Sehingga sebenarnya menggambarkan standar ganda dengan menggunakan kata ganda pun tidak cukup sehingga diganti Multi Standar. Di dalam dunia perwayangan, Dunia jahat dikalahkan oleh kebaikan diibaratkan dengan Prabu Wijaya yang dibantu oleh Hanoman. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidk boleh hanya berperan satu atau dua saja dalam hidup ini. Misanya mulfaset mimik wajah yeng bisa sedih dan gembira, cemberut, sendara dan sebagainya. Maka sifat multifacet atau sifat ganda atau standar ganda atau standar multiple sekalipun itu dapat negatif dapat positif. Standar ganda yang negatif seperti sifat Prabu Rahwana atau negeri Superpower; standar ganda positif adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat. Sebenar-benar standar ganda adalah kontradiktifnya filsafat; itulah sifat dunia.

Pertanyaan 6 dari Retno Kusuma Dewi

Bagaimanakah filsafat memandang perbedaan agama? 

Jawaban Beliau Prof Marsigit M.A

Perbedaan agama merupakan suatu hal yang berdimensi dan berlevel. Sesuai dengan tingkatannya yaitu Material, Formal, Normatif dan Spiritual. Masing-masing mempunyai dimensi dan level yang sesuai dengan ruang dan waktu. Seperti halnya ibadah, seorang muslim tidak dapat mengajak seseorang yang beragama lain untuk mengikuti ibadah ke masjid, begitu juga sebaliknya. Ibadah jika diturunkan akan menjadi Ilmu-ilmu bidang seperti politik, tata negara. Dalam falsafah Pancasila terdapat monodualisme yaitu HABLUMMINALLAH yang merupakan hubungan antara makhluk denga makhluknya dan HABLUMMINANNAS meupakan hubungan dengan sesama manusia. Sehingga dalam Pancasila relevan mencerminkan bangsa Indonesia yaitu toleran yang meghargai perbedaan. 

Sebenar-benar manusia di bumi ini adalah tidak ada yang sama. Semua memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satudengan yang lainya baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ADA dan MUNGKIN ADA. Semua memiliki budaya tersendiri. Budaya dapat menambah pengetahuan. Budaya yang satu dengan budaya yang lain dapat membentuk chemistri, dapat dipikirkan, dapat diinginkan dan dapat dilakukan. Maka kontradiksi itu hanya dipikiran saja namun tetaplah damai dalam hati.

Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih.

Wassalamualaikum wr.wb
         



28 comments:

  1. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Pada pertanyaan ke 2 dei evy
    Tentang pandangan filsafat dalam pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu
    Ketika pemimpin harus mengembangkan sifat-sifat dan godaan subject pada object saya pernah membaca buku tentang leadership tapi lupa judulnya soalnya buku kaka sepupu saya yang sedang lanjut s2 di uii jogja jurusan sdm dan sifat tersebut memang ada disebutkan dibuku tersebut
    Banyak hal didalam kepemimpinan yang jika mencoba mengapai elegi-elegi akan menjadi semakin baik
    Apalagi jika memahami fungsi dari keberdaan manusia dibumi ini

    ReplyDelete
  2. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari membaca beberapa pertanyaan serta jawaban di atas. Saya tertarik dengan pertanyaan kedua oleh Evvy Lusiana yang menanyakan bagaimana seorang pemimpin yang sesuai ruang dan waktu. Saya ingin mencoba merefleksikan apa yang ada di pikiran saya. Setiap manusia ditakdirkan menjadi pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Di rumah, seorang kepala keluarga memimpin istri dan anak-anaknya. Di masyarakat, seorang Ketua RT memimpin warga satu RT nya, lurah memimpin para dukuh, gubernur memimpin para bupatinya, presiden memimpin menterinya, dan seterusnya. Di sekolah, kepala sekolah memimpin para guru, guru memimpin muridnya dan sebagainya. Oleh karena itu setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk menjadi seorang pemimpin.
    Namun, menjadi seorang pemimpin itu harus mampu melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan bijaksana. Contohnya seorang ayah harus bisa adil dalam memperlaukan anak-anaknya. Adil berbeda dengan sama. Anak yang paling tua SMA dengan adiknya yang masih SD uang sakunya lebih banyak yang SMA. Hal tersebut tidak sama tetapi adil. Jadi, seorang pemimpin harus tahu kebutuhan dari yang dipimpinnya. Selain itu, seorang pemimpin tidak boleh merebut hak dari yang dipimpinnya. Contohnya seorang DPR yang mengambil uang rakyat demi kepentingan pribadi merupakan perilaku mengambil hak dari yang dipimpinnya. Seorang guru yang memaksakan dan membetasi cara berpikir muridnya juga merupakan perilau mengambil hak dari yang dipimpinnya. Oleh karena itu, kita sebagai calon pemimpin marilah berusaha agar tindakan kepemimpinan kita sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  3. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Belajar filsafat akan akan bisa membuat kita mampu memposisikan diri. Tahu tentang apa yang harus kita lakukan. Menembus ruang dan waktu akan dialami oleh semua benda yang ada di dunia ini, karena setiap benda dapat berfilsafat bahkan benda mati sekalipun. Batu dapat berfilsafat dengan menembus ruang dan waktu. Batu yang berasal dari kawah merapi akan menembus ruang saat terjadi letusan dan terlempar ke tempat lain dan batu tersebut juga akan membus watu saat mengalami pelapukan dan menjadi pasir akibat berjalannya waktu. Maka, dengan belajar filsafat akan mampu memahami segala sesuatu berdasarkan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  4. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum.. ‘Menyadari bahwa aku belum paham itu penting’ dengan begitu kita tidak akan sombong dengan apa yang kita ketahui. Dengan merasa bahwa diri sendiri belum tahu maka seseorang akan senantiasa belajar. Hakekat manusia itu belajar, ketika lahir belajar bernafas sampai nanti ketika ajal menjemput. Ilmu itu selalu berkembang dan pasti akan ada hal baru yang bisa dipelajari, maka sebagai manusia tidak boleh sombong. Manusia tidak tahu apa yang terjadi dibelahan bumi lain sampai ia mempelajarinya.
    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    ReplyDelete
  5. Latifah Fitriasari
    17709251055
    S2 Pend. Matematika C

    Kesadaran mengenai ruang dan waktu cenderung membagi relasi ini ke dalam bagian-bagian menurut kategori ruang, yakni besaran, batas-batas, sisi dalam, sisi luar; dan kategori waktu, yakni masa lampau, masa kini, dan masa depan. Pemimpin tempo dulu tentu harus memimpin masyarakat sesuai dinamika saat itu, demikian pula pemimpin masa kini harus menerapkan metode kepemimpinan yang cocok dengan dinamika saat ini.

    ReplyDelete
  6. Metia Novianti
    17709251021
    P.Mat A S2 2017

    Mengenai pertanyaan pertama yang diajukan Azmi Yunianti dan jawaban yang diberikan bapak, saya sangat setuju. Sebagai calon pendidik, ketika anak atau siswa melakukan kesalahan, kita jangan langsung menjudge. Sebaiknya kita berikan feedback kenapa ia salah sehingga ia tidak lansung down dan masih memiliki motivasi untuk belajar. Saya juga merasa bahwa apa yang bapak tuliskan bahwa tujuan diadakannya tes filsafat adalah agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan itu menjadikan saya tidak sombong karena sungguh, saya hanya memiliki ilmu yang sedikit dan masih banyak ilmu-ilmu dan hal-hal yang tidak saya ketahui.

    ReplyDelete
  7. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    P Mat A

    Pemimpin yang sesuai ruang dan waktu adalah pemimpin yang dapat menempatkan diri kapan dan dimana ia harus berbicara, harus bersikap, harus bertindak, harus mendengar, harus melihat, dst. Apabila seorang pemimpin mampu berperilaku sebagaimana ia bersikap sesuai situasi dan kondisi rakyat maka ia dapat disebut pemimpin yang sesuai ruang dan waktu. Sesuai ruang artinya ia mampu menempatkan diri, dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Sesuai waktu artinya ia update dengan informasi saat ini, sehingga dapat berkomunikasi dengan mudah kepada rakyatnya. Istilah kerennya pemimpin zaman now. Ia dinamis dan tetap memegang prinsip, sehingga tidak mudah goyah dan ikut arus.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berdasarkan jawaban Bapak Marsigit dari pertanyaan nomor satu terkait dengan kesalahan. Kesalahan merupakan hal yang wajar, apalagi jika kita belum belajar, maka sebenar-benarnya salah yang demikian itu benar dalam filsafat. Kita sebagai guru ketika memberikan suatu pertanyaan kepada siswa namun jawaban mereka tidak sesuai dengan keinginan kita, maka hendaknya seorang guru tidak mengatakan salah kepada siswa tersebut namun berilah pengertian terlebih dahulu, diberi kesempatan untuk belajar hingga akhirnya mereka sendirilah yang mengetahui kesalahan mereka setelah mereka belajar.

    ReplyDelete
  9. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Fallibilisme merupakan sebuah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Kesalahan yang dilakukan manusia sesungguhnya dapat menjadi sarana untuk mengintropeksi diri sendiri. Ketika seorang anak salah dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan gurunya bisa jadi karena anak belum belajar, bisa jadi karena anak tidak paham. Tetapi bisa jadi juga guru yang belum dapat memfasilitasi anak mempelajari materi tersebut dengan baik. Karena itulah seorang guru juga harus melakukan instropeksi dan refleksi dalam pemeblajaran.

    ReplyDelete
  10. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs Pmat C

    sesungguhnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. kesalahan yang dilakukan merupakan salah satu cara manusia untuk mengintropeksi dan memperbaiki diri. kita dianjurkan untuk dapat menempatkan diri pada dimensi ruang dan waktu, harus bisa menyesuaikan dengan keadaan di sekitar kita tanpa merubah prinsip.

    ReplyDelete
  11. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ruang dan waktu berarti sesuatu yang sesuai tempat dan sesuai waktu. Jika kita melakukan sesuatu hal tidak sesuai dengan tempatnya. Maka berarti kita telah menyalahi ruang dan waktu. Seseorang yang menyalahi ruang dan waktu berarti seseorang yang telah menyalahi aturan. Agar hidup tetap aman dan damai, maka letakkan sesuatu pada tempatnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pertanyaan-pertanyaan yang baik, dan ditujukan pada orang yang tepat sehingga semua pertanyaan dapat dijawab dan dijelaskan dengan detail.
    Saya tertarik dengan pertanyaan 1, dari segi filsafat dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada anak yang bodoh. Bahkan anak yang salah pun itu benar dalam filsafat, mungkin ia salah karena belum belajar dan kurang membaca. Atau ketika anak tersebut sudah belajar akan tetapi tidak mengalami peningkatan maka tugas guru adalah melakukan refleksi apakah sudah memberikan fasilitas belajar, memberi pengalaman belajar, memberi kesempatan bekerjasama, jika semua itu belum diberikan jangan berharap siswa akan menjawab benar.
    Dari sini, saya belajar pentingnya apersepsi pada pembelajaran di kelas. Ketika mereka mengulang kembali materi prasyarat, kemudian mereka paham, maka akan memudahkan mereka untuk menjawab benar di materi-materi yang selanjutnya. Banyak belajar sebelum belajar yang lain itu penting.

    ReplyDelete
  13. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari artikel ini bisa saya pahami bahwa dalam belajar filsafat itu membutuhkan waktu yang panjang. Dari perkuliahan saja nampaknya belum cukup. Dikatakan bahwa banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai 0 meskipun sudah beberapa kali tes jawab singkat. Ini bukanlah hal yang salah, tetapi sebuah proses menuju pemahaman filsafat. Itu berarti bahwa kita memang perlu terus membaca referensi filsafat. Belajar filsafat memang seperti halnya memahami pikiran para filsuf.

    ReplyDelete
  14. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Segala sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu merupakan bayangan dari apa yang ada di dalam pikiran. Jadi, jika kita ingin menembus ruang dan waktu, maka seharusnya kita menggunakan akal pikiran kita guna mencapai atau menembus ruang dan waktu. Menembus raung dan waktu memang sangat diperlukan bagi setiap manusia yang hidup di dunnia ini. Karena ketika mereka hanya berkutat di ruang dan waktu, maka mereka akan sulit untuk memahami hal-hal yang abstrak.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  15. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berdasarkan jawaban Bapak Marsigit pada pertanyaan no. 2 terkait dengan pemimpin yang sesuai ruang dan waktu. Setiap manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin, yang paling utama adalah memimpin diri sendiri. Belajarlah untuk bisa memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Dan untuk menjadi pemimpin yang baik, hendaknya kita memenuhi dimensi yang lebih tinggi dengan berpikir lebih luas dan memiliki pengalaman yang lebih luas dan lebih mendalam. Karena sebenar-benarnya hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  16. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Ketika pertama kali belajar filsafat dan mendapat nilai nol, pertanyaan yang ada dalam benak saya kurang lebih sama seperti Saudari Azmi Yunianti namun ketika mendengar penjelasan dari Bapak saya sadar bahwa memang benar menyadari bahwa saya belum paham dan masih harus banyak belajar itu penting. Dengan merasa saya belum bisa dan saya masih belum pandai akan mendorong untuk belajar lebih banyak dan lebih keras.

    ReplyDelete
  17. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Menjawab pertanyaan nomer 1 terkait kesalahan menjawab suatu tes. Sebagai seorang guru selain tugas mendidik, membimbing, mengajarkan tak kalah penting adalah tugas mengevaluasi dan menilai. Evaluasi yang dilakukan bisa melalui penilain tertulis, penilaian proyek, penilaian portofolio, penilain praktik dsb. Yang paling sering dilakukan yaitu penilaian tertulis atau tes siswa mengerjakan soal yang d siapkan guru. Dalam menjawab terkadang siswa menjawab dengan jawaban yang salah, namun sebagai guru tak seharusnya menjudgement bahwa siswa bodoh atau tidak bisa menjawab. Namun guru perlu refleksi diri apakah tes yang ia berikan sudah diajarkan pada siswa ?

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Belajar secara filsafat adalah mengadakan segalah yang mungkin ada. Untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan kesunggahan hati, kesadaran, dan keikhlasan. Oleh karena itu belajar filsafat harus dijalankan dengan tujuan menggapai ridho Allah, agar belajar filsafat dapat dijalani dengan serius dan penuh motivasi.

    ReplyDelete
  19. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Salah-satu hal yang paling saya kagumi dari pak Marsigit adalah membuka ruang yang seluas-luasnya kepada kami untuk mengungkapkan argumentasi atau mempertanyakan hal-hal yang kami tidak pahami tentang filsafat. Dan yang paling mengesankan adalah ruang untuk menuangkan ide-ide melalui tulisan seperti tulisan dari Fitriani di atas yang telah bapak edit dan cantumkan sebagai bahan ajar untuk kita semua. Semoga kita menjadi generasi yang gemar membaca dan menulis. Aamiin!!

    ReplyDelete
  20. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berfilsafat itu membagi menjadi dua macam yaitu obyek yang dalam pikiran dan obyek di luar pikiran. Obyek yang di luar pikiran itu merupakan hal yang dapat dilihat, didengar ataupun diraba. Sedangkan obyek yang di dalam pikiran juga memiliki sifat-sifat tersendiri.

    ReplyDelete
  21. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Salah dalam filsafat itu dapat berarti benar. Itu merupakan fallibilisme. Fallibilisme adalah prinsip filosofis yang dapat menghindarkan manusia dari judge manusia lainnya. Seringkali kita memandang sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasi kita merupakan hal yang salah. Dan seringkali manusia memukul rata bahwa kesalahan merupakan suatu keburukan. Padahal jika kita ingin lebih meluaskan pandangan. Suatu kesalahan kadangkala merupakan sarana bagi seseorang untuk menginstropeksi dirinya. Hal itu karena, sebuah kesalahan kadangkala disebabkan karena ketidak tahuan dan melalui kesalahan dapat dijadikan pintu menuju kebenaran. Terimakasih

    ReplyDelete
  22. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Kajian filsafat itu sangat luas, meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Sebenar-benarnya musuh filsafat adalah ketidaksesuaian dengan ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang di maksud adalah temppat dan waktu yang bersesuaian dengan filsafat. Maka dari itu jika berpendapat atau berfilsafat akan sesuatu hal, harus melihat dari segala pandangan, bukan hanya pandangan yang bersifat subjektif.

    ReplyDelete
  23. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Ada pepatah mengatakan bahwa padi semakin berisi semakin menunduk. Maka manusia pun mengikuti padi. Semakin banyak pemahaman yang dimiliki oleh seseorang maka semakin paham pula bahwa ia belum memahami apapun. Karena dengan ilmu yang dimiliki seseorang seharusnya ia dapat melihat bahwa ternyata masih banyak ilmu lain yang belum ia ketahui. Semakin ia membaca makas seharusnya semakin banyak pula pertanyaan yang ia miliki.

    ReplyDelete
  24. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Saya tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh Retno Kusuma Dewi. Bapak telah menjawab menurut pandangan filsafat mengenai perbedaan agama. Saya ingin memberikan pendapat saya mengenai perbedaan agama. Menurut saya, sesungguhnya manusia memiliki fitrah dan mengikuti fitrah yang telah Allah tetapkan untuknya. Begitu pula pun dengan agama, Allah telah memberikan agama fitrah untuk manusia. Perbedaan agama yang ada ini karena fitrah telah dicampuri oleh nafsu manusia. Jangankan perbedaan agama yang sesungguhnya berbeda, bahkan dalam suatu agama saja dapat memiliki berpuluh-puluhan golongan. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam, dari Sahabat ‘Auf bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ummat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk neraka. Ummat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasûlullâh, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘al-Jamâ’ah.’”

    ReplyDelete
  25. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 1 dari saudari Azmi. dari apa yang telah saya pelajari selama satu semester kuliah filsafat, saya jadi mengetahui bahwa tes jawab singkat merupakan tes yang sebenarnya bukan untuk menguji seperti halnya tes lain pada umumnya. tes ini diberikan oleh prof Marsigit dengan berbagai tujuan : 1) sebagai pesan yang tersirat bahwasanya ilmu yang mahasiswa miliki tentang filsafat masih sangat sedikit sehingga mahasiswa perlu banyak membaca, baik bacaan dari blog, buku, internet dan sebagainya (bacaan yang ada dan yang mungkin ada). 2) bahwa ketika menjadi guru/dosen jangan semena-mena dalam memberikan ujian/tugas. 3) salah dalam belajar itu adalah hal yang lumrah, atau bisa dikatakan salah itu benar. benar jika kita mengetahui letak kesalahan kita dan sigap memperbaikinya. 4) Nilai yang berupa angka bukanlah tujuan utama dari pembelajaraan, karena yang terpenting adalah pemahaman. demikianlah yang dapat saya pahami tentang makna dibalik tes jawab singkat.

    ReplyDelete
  26. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    menanggapi pertanyaan 2 dari saudari Evy tentang pandangan filsafat mengenai pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu. dapat kita pahami bahwa pemimpin adalah orang yang memiliki kuasa terhadap orang yang dipimpin. contoh sederhananya adalah guru dan murid. guru memiliki kuasa terhadap siswanya saat mengajar di kelas. pemimpin yang sesuai ruang danwaktu akan selalu memperhatikan keadaan orang yang dipimpin. artinya ia tidak akan memaksakan kehendak dan bersikap semena-mena. dari tulisan tersebut juga dicontohkan bahwa guru tidak sepantasnya menjatuhkan sifat siswa, misal menjudge seorang siswa malas, bodoh, dsb, sehingga mereduksi sifat-sifat siswa yang lainnya. tugas pemimpin teramat berat, namun seorang pemimpin yang baik pasti mampu memposisikan dirinya dalam berpikir, berucap ataupun bertindak sesuai dengan ruang dan waktu sehingga orang yang dipimpin merasa nyaman.

    ReplyDelete
  27. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 3 dari saudari Tri terkait bagaimana agar dapat menembus ruang dan waktu dengan ikhlas. jika berbicara tentang keikhlasan maka ini telah memasuki ranah spiritual. sebenar-benarnya keikhlasan itu hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri lewat hati. seseornag mungkin dapat menilai keikhlasan orang lain, namun pada dasarnya penilaian tersebut belum tentu tepat. agar bisa ikhlas maka kita harus menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, jangan mengharapkan penilaian makhluk. manusia bisa beerikhtiar dengan ikhlas kemudian berserah diri dengan segala ketetapan Allah. jika usaha kita telah maksimal, namun hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan maka yakinlah bahwa ketetpan Allah itu pasti baik. mungkin kita diminta untuk berusaha lebih giat lagi atau mungkin juga hal yang kita inginkan justru buruk untuk diri kita. tugas kita berikhtiar dengan ikhlas dan memasrahkan hasil kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  28. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 4 dari saudari Fitriani tentang perbedaan dewa dan power now. secara filsafat dewa dapat diartikan seseorang/sesuatu yang kedudukannya lebih tinggi. jika dikaitkan dengan kehidupan sosial bermasyarakat dewa juga dapat diartikan sebagai pimpinan. dari tulisan ini dapat kita ketahui perbedaan antara dewa dan power now. power now merupakan kekuasaan para dewa yang saat ini turut kita rasakan. misalnya kekuatan persenjataan Amerika, Rusia, kemudian Teknologi yang diciptakan oleh mereka. begitu besarnya pengaruh power now tentu harus kita sikapi dengan hati-hati jangan sampai menggerus nilai-nilai kebangsaan dan spiritual kita.

    ReplyDelete