Nov 4, 2015

Menembus Ruang dan Waktu


Direfleksikan oleh Fitriani, S.Pd, 15709251067
PPs Prodi Pendidikan Matematika A 2015, Sabtu, 31 Oktober 2015
Diperbaiki oleh Marsigit

Assalamualaikum wr.wb
Pada pertemuan ke-7 Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. di  hari Selasa tanggal 27 Oktober 2015 pukul 11.10 s.d. 12.50 di ruang 305B Gudung lama Pascasarjana. Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya Beliau memulai pertemuannya dengan berdoa bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan tes jawab singkat dengan topik “Membangun Filsafat dengan Menembus Dimensi Ruang dan Waktu” adapun bentuk-bentuk dari pertanyaan Beliau seperti berikut:

Pertanyaan 1 dari Azmi Yunianti

Setelah beberapa kali mengikuti ujian filsafat, nilai yang saya dapatkan memprihatinkan. Menjawab dengan berfikir saja salah, apalagi tidak? Sebenarnya apakah sih yang salah dari saya pak, apakah karena fikiran saya atau bagaimana?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mendapatkan nilai yang jelek itu adalah benar di dalam filsafat, karena engkau belum membacanya. Nilai yang jelek itu merupakan contoh dari Fallibilisme, singkatnya Salah itu Benar.

Fallibilisme adalah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Istilah ini diambil dari kata latin abad tengah Fallibilis. Konsep ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan, ini dikarenakan ilmu pengetahuan mencari validitas kebenaran. Karena itu mereka mengharapkan suatu pengetahuan menjadi seakurat mungkin.

 Dengan adanya paham tersebut memberikan pemaham kita sebagai pendidik ketika mendapatkan “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT” karena berdasarkan faham Fallibilisme tersebut Beliau Bapak Marsigit menyebutkan bahwa “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT” jadi janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya. Jika engkau belum membaca Elegi-elegi, maka adalah Benar jika nilai anda adalah nol. Maka sebenar-benar Fallibisme adalah aliran filsafat yang sangat berguna untuk melindungi objek dari ketersemena-menaan Subjekya; untuk melindungi siswa SD dari ketersemena-menaanya gurunya. Jikalau seorang guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka jangan berharap siswanya akan menjawab benar dari setiap pertanyaan-pertanyaannya.

Terkait dengan nilai yang belum meningkat, ini merupakan pertanda bahwa “Anda Masih perlu memperbanyak Bacaan” karena dalam tes yang saya buat ini,  bukan hanya mengukur kemampuan tetapi sebagai pembelajaran bahwa ternyata “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING”. Oleh karena itu agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir isomorfis dengan saya (Beliau Bapak Prof. Marsigit). Jika engkau ingin belajar filsafat kepada saya, maka pelajarilah pikiran-pikiran saya; dan pikiran-pikiran saya semuanya sudah saya tuangkan dalam Elegi-elegi.

Berfikir isomorfis merupakan pemikiran yang sepadan yang menggambarkan pemetaan satu-satu. Misalnya pemikiran seseorang mengatakan bahwa di Indonesia ada Jakarta, di benua Kutub ada beruang merupakan contoh pemikiran Isomorfis. Setiap orang dapat mengatakan apa yang difikirkannya kecuali orang yang mabuk, pikun dan gila. Maka pikiran dua orang bersifat Isomorpis, pikiran banyak orang juga bersifat Isomorpis, bahkan pikiranmu dengan Dunia ini juga Isomorpis. Pertanda bahwa pikiran kita saling berisomorpis adalah sama-sama adanya pengertian Jakarta misalnya, di dala pikiran kita. Aku punya konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst; maka pikiranmu juga mempunyai konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst. Itulah bahwa pikiran kita saling berisomorpis.

Yang menjadi persoalan adalah bahwa ternyata Isomorpisma itu mempunyai derajadnya atau kadarnya, jadi kita mempunyai isomorpisma umum, isomorpisma khusus. Maka diriku dan dirimua yang sedang belajar filsafat kepadaku selalu berusaha meningkatkan saling kesepahaman dengan mengingkatkan kadar isomrpisma masing-asing, sehingga yang ada dalam pikiranku juga ada dalam pikiranmu dan sebaliknya. Namun manusia, karena keterbatasannya, tidak dapat mencapai Isomorpisma absolut; kita hanya berusaha menggapainya. Sebanar-benar sifat Absolut adalah hanya milik Tuhan saja.

Dengan demikian, tujuan diadakannya tes filsafat adalah agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan. Namun, perlu diketahun bahwa rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah hati maksudnya adalah agar seseorang tidak merasa sombong dalam menuntut ilmu. Ketahuilah bahwa “DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT”. Di dalam tingkatan normatif pemikiran, ketika seseorang yang merasa sombong di dalam dirinya maka seseorang tersebut telah terkena MITOS. Kerena setinggi-tingginya pemikiran maka ancamannya adalah MITOS. Kerena dalam berpikir seseorang mempunyai batas yaitu Spiritual. Ada kalanya seseorang ketika berada dalam tingkatan spiritual maka pikiran seseorang harus  terhenti dan diturunkan ke hati, contohnya ketika proses ibadah. Proses ibadah yang dimaksud terkhususnya adalah do’a. Doa yang diteruskan dari pemikiran yang terhenti akan diteruskan ke hati sehingga akan diambil alih oleh Sang Maha Kuasa.

Sebenar-benar do’a adalah ketika kita hijrah dari kesadaran doa menuju kesadaran hati, di mana pikiran kita tidak mampu lagi memikirkan doa-doa kita, tetapi harapannya doa kita sudah diambil alih oleh Allah SWT. Amin. Sebenar-benar filsafat adalah diri kita sendiri, maka kita menemukan terminologi Kesadaran Hati. Jika kita ekstensikan maka kita akan menemukan lagi Kecerdasan Hati, Ilmu Hati, Metode Hati, …dst. Itu hanya dapat dipahami dengan spiritualitas kita masing-masing. Sedangkan terminologi yang dihasilkan semata-mata menunjukkan keterbatasan bahasa atau ungkapan untuk menggambarkan Dunia Hati. Jangankan bahasa atau istilah, sedangkan pikiran kita juga tidak akan tuntas mampu mengetahui relung hati kita masing-masing.

Berdasarkan pengalaman Beliau Bapak Marsigit yang telah itikaf di mesjid dibimbing oleh para SUFI selama beberapa hari hanya untuk memperbaiki ibadah, tata cara sholat, doa dan sebagainya sehingga Beliau dapat mengetahui bahwa ada fase dimana pemikiran berhenti dan diteruskan ke hati. dan doa tersebut diambil alih oleh sang Maha Kuasa. “Doa kok hitung-hitungan” doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya.

Pertanyaan 2 dari Evvy Lusiana

Bagaimana pandangan filsafat tentang pemimpin yang sesuai ruang dan waktu?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mengenai pemimpin berarti ada pemimpin dan ada yang dipimpin termasuk struktur dunia yang lengkap berdimensi. Tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpin.  Pemimpin merupakan dewa bagi orang yang dipimpin. Sehingga Logika Para Dewa berarti Logika Para Pemimpin. Contohnya “KAMU MERUPAKAN DEWA BAGI ADIKMU DAN ADIKMU MERUPAKAN PREDIKAT (DAKSA) BAGI DIRIMU”. Sehingga divisualisasikan dalam bentuk perwayangan atau cerita sehingga berbicara yang berkaitan dengan Para Dewa pun sebenarnya juga berstruktur seperti ada Dewa Raja, ada Dewa Prajurit, ada Dewa Perdana Menteri, ada Dewa Lurah dan seterusnya. Oleh karena itu, masing-masing memiliki logika Para Dewa, kontradiksi Para Dewa, kesalahan Para Dewa dan seterusnya. 

Mengenai pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu yang baik berarti dapat dianalogikan sebagai hubungan antara subyek dan predikat yang mempunya dimensi yang lebih tinggi. Pemimpin adalah subyek, tugasnya sebagai pemimpin para predikat. Maka masing-masing dari kita adalah pemimpin dari sifat-sifat kita masing-masing. Menjadi pemimpin yang baik  harus memenuhi dimensi yang lebih tinggi maka pikiran lebih luas dan dalam serta pengalaman yang lebih luas dan mendalam. Baik secara fisik seorang pemimpin harus kuat. Secara formalnya, misalnya dengan melanjutkan pendidikan S2 bagi pemimpin merupakan peningkatan dimensi untuk menjadi pemimpin yang baik yang merupakan indikator titik point peningkatan dimensi.

Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik. Manusia hidup menuju dimensi yang lebih baik dalam fenomena garis lurus dalam siklik yang berputar. Pada perputaran siklik ada fase dimana manusia menjumpai peristiwa yang sama, misalnya selalu mengalami keadaan Hari Minggi tiap minggunya, manusia lupa ketika telah lanjut usia dan kembali ke sifat kekanak-kanakan. Hal ini berarti dalam hidup anda tidak berarti bahwa Anda akan semakin hebat melainkan ada fase dimana Anda lupa atau menjadi pikun. Fase siklik dari kehidupan yang terluar adalah adalah spiritual. Fase siklik ini bagi dunia timur atau spiritualisme, merupakan wadahnya bagi manusia untuk menyukuri hidup; maka orang bijaksana di timur adalah orang yang pandai bersyukur. Fase siklik inilah yang tidak dimiliki oleh negeri negeri Barat. Fase kehidupan negeri Barat merupakan diagram lurus (open ended) yang memiliki ended yang terbuka sehingga tidak mengerti hidupnya mau kemana ujungnya mau kemana dan tujuannya kemana; dengan filsafat hidup mencari terus dan terus mencari. Maka bijaksana menurut dunia barat adalah manusia yang sedang mencari.

Siklik terluar di negeri kita adalah Spriritualitasme yang berpengang teguh pada keyakian masing-masing dan berbasis serta dipayungi oleh spriritualisme masing-masing. Sehebat-hebat pikiran dan sepusing-pusing pikiran maka berhentilah dan mulai mengambil air wudhu kemudian sholat bagi umat muslim dan beribadah yang lain sesuai dengan keyakinan agama masing-masing. Siklikkanlah pikiran dan kegiatan anda sehingga mampu menghayati karunia dan kebesaran Tuhan.

Jika fenomena siklik kita ditambah unsur linear maka itulah yang namanya fenomena hidup maju berkelanjutan, ituleh hermenitika hidup yaitu terjemah dan diterjemahkan. Sebenar-benar hermenitika hidup itulah metode hidup yang sesuai dengansunatullah atau kodrat tuhan; wujudnya dalam masyarakat adalah saling bersilaturakhim. Inilah harta karun dunia timur yang belum digali. Jika digali dan dikembangkan maka kita akan mempunyai metode pembelajaran dengan Metode Silaturakhim. Mengapa tidak? Renungkanlah

Sifat pemimpin dianalogikan sebagai hubungan subyek dan predikat. Bagaimana seorang pemimping megeloha sifat-sifatnya. Contohnya memiliki kulit sawo matang, berambut keriting, berbadan kurus, dan seterusnya yang berjumlah semilyar pangkat semilyar lebih sifat yang ada pada diri pemimpin, belum lagi sifat-sifat yang ada di luar diri pemimpin.

Maka sebenar-benar manusia adalah tidak ada yang lengkap dan sempurna memiliki sifat. Misalnya penglihatan manusia yang tidak lengkap merupakan sifat yang mesti disyukuri sebab jika manusia memiliki penglihatan yang lengkap maka   manusia tidak akan hidup dengan tenang bahkan salalu pingsan jika memandang sesama. Sehingga sebenar-benar manusia memiliki sifat determinis yaitu menjatuhkan sifat tertentu kepada suatu sifat tertentu pula. Sipemilik sifat diterminis adalah Subjek, yang dijatuhi sifat diterminis adalah objeknya.  Maka godaan yang paling besar dari seorang pemimpin (sebagai subjek) adalah menggunakan kuasanya terhadap objeknya. Godaan terbesar seorang guru adalah menjatuhkan sifat kepada murid-muridnya, dimana sifat yang dijatuhkan belum tentu cocok dengan keadannya. Itulah maka sebagian dosa-dosa kita adalah dikarenakan sifat diterminis kita.

Secara netral kita bisa determin dengan menyebutnya si A tinggi, si B jangkung dst; tetapi kategori tinggi di Indonesia belum tentu kategori tinggi di negara lain seperti pemain basket Amerika. Maka dalam menjalani hidup ini khususnya pemimpin haruslah berhati-hati tidak boleh semena-mena menjatuhkan sifat orang yang dipimpin, karena sifat yang dijatuhkan jika tidak tepat, maka dampaknya bisa sangat besar bagi objeknya. Jatuhnya sebuah sifat itu merupakan fenomena abstraksi, karena manusia tidak mungkin memikirkan semua sifat, melainkan hanya sedikit sifat sesuai yang mampu dipikirkan sesuai keadaan subjektif dirinya. Sehingga menjadi seorang pemimpin yang ideal perlu mengamalkan ayat-ayat Spiritualitas kepemimpinan yang ada.

Pertanyaan 3 dari Tri Rahma Silviani

Dalam mengolah pikir dalam menembus ruang dan waktu tentang olah pikir yang menembus dunia. Bagaimanakan agar dapat menembus ruang dan waktu itu dengan ikhlas? 

Jawaban Beliau Bapak Prof.Marsigit M.A

Caranya adalah sesuai dengan hukum Tuhan dan SunnatullahNya beserta kondratnya yang dimana ikhlas juga termasuk kodratNya. Maka definisi ikhlas menurut Beliau dimulai dari level bawah dari Spiritual dalam filsafat merupakan keikhlasan itu menembus ruang dan waktu. seperti ikhlasnya batu menembus ruang dan waktu, yang tidak satupun batu yang protes dalam menjalani kehidupannya. Maka sebenar-benar keikhlasan menembus ruang dan waktu adalah KEIKHLASAN ITU SENDIRI. Karena keihlasan merupakan salah satu kodrat Tuhan maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kodratnya. Ketika ada pemaksaan kehendak itulah yang disebut tidak ikhlas dimana keadaan yang salah dalam menembus ruang dan waktu. Misalnya ruangan menjadi gelap disebabkan ada bom merupakan contoh salah ruang dan waktu karena merupakan kejadian yang dipaksa agar gelap. Itulah contoh tidak ikhlas. Ikhlas adalah unsurnya surga dan tidak ikhlas adalah unsurnya neraka.

Secara materialnya, normatifnya, formalnya sampai kepada Spiritualnya dalam menembus ruang dan waktu itu, semua terjadi karena keikhlasan. Jadi saya mendefinisikan keikhlasan secara filsafat adalah keikhlasan perihal atau untuk semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam menembus ruang dan waktunya. Sehingga kejadian seperti hari kiamat pun merupakan keikhlasan jika itu sudah merupaka suratan takdir. Tetapi manusia bisa saja mengalami ketidakikhlasan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misal ketika sengaja minum obat overdosis, bisa saja dunia subjektifnya kemudian mempunyai 2(dua) matahari, matahari terbit dari selatan..dst. Itu adalah fenomena tidak ikhlas. Maka sebenar-benar tidak ikhlas adalah perbuatan unsur-unsurnya syaiton. Na’u dzubillah mindalik. Maka bangunlah hidup yang sebenar-benar sesuai dengan ruang dan waktu adalah dengan melakukan silaturahim, komunikasi, kemandirian dan hal lainnya dengan ikhlas agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. 

Pertanyaan 4 dari Fitriani

Apa bedanya Para Dewa dengan Power Now?

Jawaban Beliau Bapak Prof Marsigit, M.A  

Ayam itu Dewanya Cacing
Cacing itu Dewanya Tanah
Kakak Dewanya Adeknya
Engkau Dewa dari Kendaraamu
Mentri merupakan Dewanya Dosen
Pengulu merupakan Dewa pernikahan

Maka sebenar-benar yang dimaksud para Dewa adalah subjeknya. Sehingga di dunia ini Amerika itu merupakan negara Dewa. Sama halnya dengan Rusia dan Cina merupakan negara para DEWA karena memiliki senjata nuklir yang dimana bisa atau mampu menghancurkan sebuah negara dengan senjata nuklirnya. Sehingga kumpulan ilmu politik, sosio politik, dan seterusnya jadilah istilah  POWER NOW yang dibuat oleh negara-negara dewa tersebut. Tingkatannya dari dimensi yang rendah meliputi Archaic, Tribal, Tradisional, Feudal, Modern, Pos Modern dan Power Now. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tribal adalah dewanya para Archaic, Tradisional adalah dewanya para Tribal, Feudal adalah dewanya para Tradisional, Modern adalah dewanya para Feudal dan Pos Modern adalah dewanya para Modern ..demikian seterusnya.

Dimulai dengan peradaban Archaic yang merupakan kehidupan manusia pada zaman batu kemudian Tribal yang merupakan masyarakat pedalaman dilanjutkan tradisional, modern dan Power Now. Istilah modern yang sebenarnya telah ada pada masa 1700an pada masa Rene Decrates pada masa kontemporer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dewanya adalah Barat Obama sedangkan Power Now adalah kekuasaan dari negara Dewa tersebut. 

Pertanyaan 5 dari Nur Afni R N

Apa bedanya Power Now dengan Super Power?

Jawaban Beliau Bapak Marsigit M.A

Power Now itu digambarkan denga orang yang super maka tidak cukup kalau wajahnya cuma satu. Sehingga yang dilakukan oleh super power dalam perwayangan yaitu Prabu Arwana dengan banyak muka sehingga dikatakan Dasa Muka. Dasa muka meunjukkan hidup yang standar ganda. Jika mukanya satu maka standarnya satu kalau mukanya 10 maka standarnya 10 untuk memanipulasi ruang dan waktu. jangankan mukanya 10, orang yang mukanya 1 saja bisa punya banyak standar. Oleh karena itu, di daerah bergaul dengan negara-negara Super Power dan  sebagainya selalu menerapkan standar ganda. Dasa Muka sebagai lambang keburukan Prabu Rahwana; namun jangan dikira, hanya melalui kajian filsafatlah bahwa kita sebetulnya juga menemukan Prabu Ramawijawa (lambang kebaikan) akan mempunyai Dasa Muka dalam tanda petik. Dikarenakan khasanah kebaikan maka yang demikian tidak perlu diekspos supaya sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Jika Prabu Ramawijaya tidak mempunyai sifat Dasa Muka pula maka dia tidak akan mampu mengalahkan Prabu Rahwana. Maka sebenar-benar sifat Dasa Muka atau Multifacet adalah berdimensi dan berstruktur. Setiap manusia mempunyai fatal (takdir) dan potensi (ikhtiar) untuk bersifat multifacet. Maka multifacet adalah struktur dan dimensinya dunianya manusia masing-masing; tanpa itu maka manusia tidak akan mampu menembus ruang dan waktu.

Standar ganda merupakan dua sisi yang berlainan seperti disisi lain ingin membantu namun di sisi lain ingin mengambil keuntungan. Sehingga sebenarnya menggambarkan standar ganda dengan menggunakan kata ganda pun tidak cukup sehingga diganti Multi Standar. Di dalam dunia perwayangan, Dunia jahat dikalahkan oleh kebaikan diibaratkan dengan Prabu Wijaya yang dibantu oleh Hanoman. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidk boleh hanya berperan satu atau dua saja dalam hidup ini. Misanya mulfaset mimik wajah yeng bisa sedih dan gembira, cemberut, sendara dan sebagainya. Maka sifat multifacet atau sifat ganda atau standar ganda atau standar multiple sekalipun itu dapat negatif dapat positif. Standar ganda yang negatif seperti sifat Prabu Rahwana atau negeri Superpower; standar ganda positif adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat. Sebenar-benar standar ganda adalah kontradiktifnya filsafat; itulah sifat dunia.

Pertanyaan 6 dari Retno Kusuma Dewi

Bagaimanakah filsafat memandang perbedaan agama? 

Jawaban Beliau Prof Marsigit M.A

Perbedaan agama merupakan suatu hal yang berdimensi dan berlevel. Sesuai dengan tingkatannya yaitu Material, Formal, Normatif dan Spiritual. Masing-masing mempunyai dimensi dan level yang sesuai dengan ruang dan waktu. Seperti halnya ibadah, seorang muslim tidak dapat mengajak seseorang yang beragama lain untuk mengikuti ibadah ke masjid, begitu juga sebaliknya. Ibadah jika diturunkan akan menjadi Ilmu-ilmu bidang seperti politik, tata negara. Dalam falsafah Pancasila terdapat monodualisme yaitu HABLUMMINALLAH yang merupakan hubungan antara makhluk denga makhluknya dan HABLUMMINANNAS meupakan hubungan dengan sesama manusia. Sehingga dalam Pancasila relevan mencerminkan bangsa Indonesia yaitu toleran yang meghargai perbedaan. 

Sebenar-benar manusia di bumi ini adalah tidak ada yang sama. Semua memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satudengan yang lainya baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ADA dan MUNGKIN ADA. Semua memiliki budaya tersendiri. Budaya dapat menambah pengetahuan. Budaya yang satu dengan budaya yang lain dapat membentuk chemistri, dapat dipikirkan, dapat diinginkan dan dapat dilakukan. Maka kontradiksi itu hanya dipikiran saja namun tetaplah damai dalam hati.

Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih.

Wassalamualaikum wr.wb
         



23 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING” dari kalimat itu saya menyadari bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran atau suatu nilai harus mengetahui seberapa besar usaha kita untuk bisa paham. Sering kali kita menuntut nilai yang bagus tetapi tidak sesuai dengan pemahaman yang kita punya. Dalam filsafat agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir seperti yang diinginkan dosen atau di sini beliau Bapak Prof. Marsigit M.A. kita harus bisa memahami pikiran-pikiran yang ada dalam pikiran beliau dengan banyak membaca elegy-elegi agar kita bisa memahami filsafat dengan benar.

    ReplyDelete
  2. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Setelah membaca tulisan ini, ada dua hal penting yang dapat saya ambil yaitu pertama, sebagai manusia yang secara lahiriah selalu belajar dan belajar baik itu di jenjang formal maupun di lingkungan sekitar. Kita harus banyak membaca, tingkatkan waktu untuk membaca. Jangan terpenjara dengan pikiran bahwa “AKU TIDAK SUKA MEMBACA”. Membaca dapat mengasah pola pikir dan menambah wawasan kita. Dan yang kedua, sebagai pendidik ketika mendapatkan anak menjawab pertanyaan dengan salah maka jangan tergesa-gesa menyalahkan jawaban tersebut. Karena berdasarkan faham fallibilisme, salah itu benar dalam filsafat. Jika anak belum belajar, maka jawabannya yang salah menjadi benar dalam keadaannya. Fallibilisme adalah aliran filsafat yang sangat berguna untuk melindungi objek dari ketersemena-menaan subjeknya. Jikalau seorang guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka jangan berharap siswa nya akan menjawab benar dari setiap pertanyaan-pertanyaannya.

    ReplyDelete
  3. Membangun Filsafat dengan dimensi menembus ruang dan waktu memang membutuhkan pemahaman yang setinggi-tingginya dalam rangka memahami makna yang tersembunyi dibalik ruang dan waktu. tak ada kebenaran yang haqiqi di dunia ini kecuali kebenaran itu hanya milik sang Kuasa. Oleh karenanya selalu ada keinginan utuk belajar dan belajar adalah hal yang mu tlak dimilki jika kita hendak memahami ruang dan waktu dari dimensi yang dipelajari. Belajar melihat Keatas itu penting belajar melihat kebawah itu harus selalu diingat. dalam arti kata bahwa mempelajari sesuatu yang belum tahu itu adalah kewajiaban kita dari berbagai jalan. dan memngingat yang sudah kita tahu itu juga menjadi sebuah keharusan dalam rangka refleksi dan introsp[eksi diri.

    ReplyDelete
  4. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Kesalahan pertama yang dilakukan manusia adalah kesalahan memakan buah yang dilarang oleh Tuha. Dan kesalahan ini dilakukan oleh ciptaan pertamaNya yakni Adam dan Hawa. Jadi sudah dari awal penciptaan dikatakan bahwa manusia itu pada sebuah kondisi tertentu akan melakukan sebuah kesalahan. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia, manusia perlu mencari kebenaran dalam ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja agar dimana saja dan kapan saja manusia itu berada, ia dapat memperkecil segala kemungkinan untuk melakukan sebuah kesalahan.

    ReplyDelete
  5. Maria Emanuela Ewo
    16706261003
    Pendidikan Dasar
    bagaimana memahami filosofi matematik?

    ReplyDelete
  6. Kusuma Wardani Dyah S
    14301241027
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Saya mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga seperti yang disampaikan oleh Bapak Prof.Marsigit M.A bahwa “agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuwan”. Kita tidak boleh menyombongkan diri dalam menuntut ilmu, menganggap bahwa diri kita lebih banyak dalam hal ilmu itu justru akan membuat kita menjadi lupa diri dan meremehkan orang lain padahal sebenernya masih ada yang lebih dari pada kita, karena diatas langit masih ada langit. Maka dari itu kita tidak boleh berpuas diri dengan ilmu yang kita miliki melainkan selalu haus akan ilmu dan selalu belajar dari siapun, sumber apapun, kapanpun dan dimanapun.

    ReplyDelete
  7. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Assalamualaikum wr..wb...
    Kesalahan, Para Dewa, Power Now, Amerika, Keikhlasan, dan Toleransi Perbedaan Agama itu adalah menembus ruang dan waktu. Menembus ruang dan waktu adalah sebuah keadaan yang ada dan mungkin ada. Keikhlasan adalah keadaan yang ada dan mungkin ada yang sangat sulit untuk dilaksanakan. Kesalahan adalah suatu yang lumrah, jadi keihklasan lah kuncinya untuk bisa menerima kesalahan. Untuk mencapai keihklasan yang matang, kita harus melewati jalan setapak demi setapak secara perlahan-lahan dan tidak bisa dipaksakan dengan sim salabim langsung matang. Tentu harus melewati proses yang sangat panjang. Dalam menembus ruang dan waktu perlu di tuntun dengan spiritual yang kuat untuk mencapainya. Dibutuhkan norma-norma ajaran yang sifanya normatif yang diyakini yang bisa mengantarkan kita kepada yang ada dan mungkin ada. Untuk menerima kesalahan, menjadi para dewa, power now, menjadi seperti Amerika, dan dapat melaksanakan Toleransi antar Umat beragama harus di tuntun oleh ajaran-ajaran Tuhan, sehingga lambat laun akan sampai pada suatu titik yaitu tujuan tersebut.
    Demikian sekiranya tanggapan kami, wassalam... terimakasih.

    ReplyDelete
  8. Supriadi, kelas C 2016 Pmat Pascasarjana

    “sebenar-benar manusia adalah tidak ada yang lengkap dan sempurna”.
    Memang kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT yang Maha kuat dan Maha perkasa. Mengapa manusia tidak memiliki sifat sempurna karena manusia itu lemah. Sebagaimana dalam firmanNya:
    “Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS.An-Nisa’:28)
    “Allah-lah yang Menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia Menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia Menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS.Ar-Rum:54)
    Hal ini menandakan bahwa manusia itu lemah. Bila Allah menganugrahi kesempunaan kedalam diri manusia maka sungguh manusia tak sanggup untuk menerimanya. Contohnya kesempurnaan pendengaran, semua suara bisa ia dengarkan (bisikan semut, obrolan ikan-ikan di kedalaman lautan, suara yang jauh dan dekat, suara kesengsaraan, suara kebahagian dst) maka manusia takkan sanggup dengan semua itu.
    Maka tidak ada yang bisa kita lakukan selain bersyukur kepadaNya atas semua keterbatasan yang kita miliki. Dan untuk itu kita sebagai manusia perlu berusaha untuk menjadi lebih baik (Habbunmillah wa habbun minannas), menjanlankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

    ReplyDelete
  9. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga setelah membaca tulisan Bapak Prof. Marsigit di atas, salah satunya kita ketahui bahwa di atas langit masih ada langit jadi janganlah sedikitpun kita merasa sombong dalam hal apapun. Salah dalam melakukan sesuatu juga bukan berarti itu salah yang sebenarnya, tergantung dilihat dari sisi mana.

    ReplyDelete
  10. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Setelah saya baca jawaban-jawaban diatas, saya sangat tertarik dengan kalimat yang diakhir artikel tersebut bahwa "Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih". kalimat diatas menunjukkan bahwa manusia juga bisa menjadi dewa, namun dewa bagi dirinya yang mana manusia harus mengendalikan dirinya sendiri dalam berbagai tindakan baik itu tindakan yang baik maupun tindakan yang buruk, baik itu pemikiran yang baik maupun pemikiran yang buruk, baik itu niat yang baik maupun niat yang jelek. semua itu manusia harus dikendalikan oleh manusia itu sendiri, terkadang kekutan akan menjadi sebuah kereasi dan terkadang kekuatan akan menjadikan kita sombong, dan sebaliknya terkadang kelemahan akan menjadi sebuah keburukan dalam manusia tersebut dan terkadang kelemahan akan menjadikan manusia tunduk atau patuh dalam melakukan hal-hal yang baik. dalam movie AFTER EARTH menyatakn bahwa "RECOGNIZE YOUR POWER, 'COZ IT WILL BE YOUR CREATION".

    ReplyDelete
  11. Sumandri
    16709251072
    S2 Penddidikan Matematika 2016

    Belajar filsafat mengajarkan kita bagaimana menghargai orang lain, karena dalam filsafat tidak ada istilah ini benar dan itu salah. Benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Makanya ketika memberikan ide/pendapat kita kepada orang lain walaupun menurut kita benar belum tentu bisa diterima orang lain. Karena dalam dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang sama (A=A) walaupun dia itu kembar namun pasti memiliki perbedaan. Sehingga dalam filsafat bagaimana kita menghilangkan ego kita dan kita berusaha menghargai orang lain.

    Dalam wacana di atas dikatakan bahwa Filsafat adalah dirimu sendiri, menurut saya bagaimana kita mengenal diri kita yang sebenarnya, tidak mengenal secara lahir saja namun harus dikenal secara bathin. Dengan kita mengenal diri kita tentu akan menjembatani akan mengenal siapa yang menciptakan kita. (Man arofa nafsah fakod arofa Robbah)

    ReplyDelete
  12. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Belajar filsafat akan akan bisa membuat kita mampu memposisikan diri. Tahu tentang apa yang harus kita lakukan. Tahu kapan kita memimpin, dan kapan kita dipimpin. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, pemimpin bagi tangannya, kakinya, mulutnya, dan semua anggota badannya. Dan setiap orang adalah predikat (dipimpin) orang lain. Maka, dengan belajar filsafat akan mampu memahami segala sesuatu berdasarkan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  13. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Mengenai Kesalahan Itu Adalah Benar Dalam Filsafat, itu sama seperti memotivasi sang anak untuk “tidak takut gagal” bukan berarti kita memaklumi tapi paling tidak sifat manusia yang kadang berbuat salah dan menjadi gagal merupakan belajar untuk benar. karena salah adalah awal yang baik untuk menjadi benar dan berhasil. Sedangkan “bertanggung jawab” untuk terus mencoba, untuk tidak lari dari kesalahan dan takut gagal. karena dengan salah kita belajar untuk berbesar hati dan merasakan kebenaran yang sesungguhnya..

    ReplyDelete
  14. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Menembus ruang dan waktu artinya mengalami atau melakukan perubahan. dalam belajar filsafat seharusnya intensif sedalam-dalamnya dan ekstensif seluas-luasnya. Serta seperti yang di jelaskan di atas, Filsafat adalah dirimu sendiri, maka membangun dirimu sendiri perlu dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih. Dengan terus membaca, maka juga membuka jendela fikiran dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Perlu diketahui pula bahwa upaya untuk menembus ruang dan waktu itu berdimensi. ruang itu adalah pikiranmu. Ruang meliputi yang ada dan yang mungkin ada dan yang ada dan yang mungkin ada itu mempunyai ruangnya masing-masing. Ruang terdiri dari wadah dan isi dan ruang dan waktu akan selalu berkaitan. Untuk bisa mengetahui ruang, maka harus mengetahui waktu, begitu juga sebaliknya. Untuk mengetahui waktu maka kita harus menggunakan waktu. Kita dapat memahami ruang karena kita mempunyai intuisi.

    ReplyDelete
  16. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 P. Matematika A 2014

    Assalamu'alaykum Wr. Wb
    Terimakasih atas ilmu yang bapak berikan dalam pembahasan kali ini. Sering menjadi pertanyaan saya ketika membahas dalam lingkup filsafat. Bagaimana ilmu filsafat memandang ilmu agama di negeri ini?
    Pertanyaan saya tersebut terjawab sudah dalam pembahasan bapak di bagian terakhir. Melihat bahwa segala sesuatu memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satu dengan yang lainya baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ada dan mungkin ada, sejatinya filsafat adalah tentang diri kita sendiri. Seberapa ilmu kita, seberapa bacaan yang sudah kita kuasai, hal itu menentukan bagagimana pandangan kita terhadap sesuatu.

    Wassalamu'alaykum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  17. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 P. Matematika A 2014

    Assalamu'alaykum Wr. Wb
    Terimakasih atas ilmu yang bapak berikan dalam pembahasan kali ini. Sering menjadi pertanyaan saya ketika membahas dalam lingkup filsafat. Bagaimana ilmu filsafat memandang ilmu agama di negeri ini?
    Pertanyaan saya tersebut terjawab sudah dalam pembahasan bapak di bagian terakhir. Melihat bahwa segala sesuatu memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satu dengan yang lainya baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ada dan mungkin ada, sejatinya filsafat adalah tentang diri kita sendiri. Seberapa ilmu kita, seberapa bacaan yang sudah kita kuasai, hal itu menentukan bagagimana pandangan kita terhadap sesuatu.

    Wassalamu'alaykum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  18. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C
    Assalamu'alaikum.. ‘Menyadari bahwa aku belum paham itu penting’ dengan begitu kita tidak akan sombong dengan apa yang kita ketahui. Dengan merasa bahwa diri sendiri belum tahu maka seseorang akan senantiasa belajar. Hakekat manusia itu belajar, ketika lahir belajar bernafas sampai nanti ketika ajal menjemput. Ilmu itu selalu berkembang dan pasti akan ada hal baru yang bisa dipelajari, maka sebagai manusia tidak boleh sombong. Manusia tidak tahu apa yang terjadi dibelahan bumi lain sampai ia mempelajarinya.
    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    ReplyDelete
  19. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 Pend.MTK D
    Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik. saya setuju dengan pendapat bapak, sebab manusia yang beruntung adalah manusia yang hari ini lebih baik dari hari kemaren sebagaimana dalam firman allah dalam surat al-Ashr. oleh karena itu, kita sebagai hamba allah harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktunya

    ReplyDelete
  20. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 P.Matematika_D 2016


    Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh bapak tentang menembus ruang dan waktu karena hal menembus ruang dan waktu dalam filsafat menurut saya berkaitan dengan objek yang ada dalam pikiran dan objek yang ada di luar pikiran. Objek yang dimaksudkan adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Jadi segala hal yang mungkin ada dan yang ada sebenarnya membawa rahmat kepada kita jika mampu menggalinya dengan baik.

    ReplyDelete
  21. Mempelajari filsafat membutuhkan pengalaman belajar (pengetahuan) juga pengalaman spiritual. Mempelajari filsafat harus kuat dulu pondasi keimanannya. Bahkan bukan cuma kuat, namun harus selalu semendhe, selalu mengingat Tuhan menembus ruang waktu. Ini karena, Berfilsafat pada prinsipnya membebaskan manusia untuk berpikir, tentang Apa, siapa, tentang bagaimana, dsb yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan manusia terkait dengan hidup, kehidupan (dunia), serta kehidupan laian sesudah kehidupan itu sendiri. Jika manusia tidak memiliki landasan yang kokoh maka manusia akan membenarkan persepsinya, teorinya, pendapatnya dan bahkan bisa menjadi manusia yang tidak lagi mempercayai penciptanya. Karena itu, mempelajari filsafat dibutuhkan guru. Hakekat Guru Sejati adalah Tuhan itu sendiri, sedangkan guru dalam perspektif duniawi adaah orang yang dipandang sudah cukup, layak digugu karena memiliki pengetahuan, teladan sikap dan perbuatan sesuai dengan keilmuannya.
    Dengan mempelajari filsafat lebih dalam maka manusia akan semakin MENYADARI hakikat dirinya, mencintai kearifan-kesantunan dalam segala aspek kehidupan. Pengalaman-pengalaman manusia selama nyawa masih melekat akan membawa manusia memasuki dimensi-dimensi kehidupan yang luas. Bahkan setelah mati pun manusia terus berada pada pengalamannya karena sesungguhnya kehidupan terus ada hanya berbeda wujudnya. Dengan demikian sebenar-benarnya hidup adalah yang mau dengan sadar, ikhlas mencari, mengenal, mendekati, mengingat, melihat, pemilik kehidupan.

    ReplyDelete
  22. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Orang yang cerdas adalah orang yang dapat bersopan santun terhadap ruang dan waktu dimana dia berada. Filsafat mengajarkan kita untuk bisa menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu dimana kita berada. Dalam hal ini filsafat mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan tidak sombong. Karena pada dasarnya ilmu kita sangatlah terbatas. Di suatu ruang mungkin kita menjadi hebat namun di ruang yang lain kita bisa menjadi lemah. Ruang dan waktu selalu berubah, dan kita dituntut untuk bisa mengikutinya. Pada dasarnya semua komponen bisa menembus ruang dan waktu, baik itu tumbuhan, hewan maupun manusia.

    ReplyDelete
  23. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D
    Mengutip dari kalimat ini, “KAMU MERUPAKAN DEWA BAGI ADIKMU DAN ADIKMU MERUPAKAN PREDIKAT (DAKSA) BAGI DIRIMU”, saya menyimpulkan bahwa Kamu merupakan contoh bagi adikmu, jika kamu tidak bisa mejalankan tugas sebagai dewa dengan baik bagi adikmu, maka predikat bagi dirimu jelek. Jadi, prediket akan sangat bagus apabila apa yang kamu ajarkan, apa yang kamu berikan, dan apa yang kamu contohkan bisa diterapkan dengan baik oleh adikmu. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang banyak termasuk untuk keluargamu.

    ReplyDelete