Nov 2, 2015

Mengenal Filsafat Lebih Dalam

 Oleh Lia Agustina

http://justliy.blogspot.co.id/2015/10/mengenal-filsafat-lebih-dalam-bagian-2.html

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Prodi PEP
Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Kamis, 22 Oktober 2015
Pukul 07.30 – 09.10

Semakin lama aku semakin penasaran dengan filsafat, semakin lama semakin tinggi tingkat curiosity ku terhadap satu mata kuliah ini apalagi mata kuliah filsafat ilmu ini yang dibawakan oleh Prof. Marsigit secara unik dan dengan metode yang berbeda dari mata kuliah yang lain. Sekali lagi pada hari ini Kamis, 22 Oktober 2015 diadakan lagi tes jawab singkat yang menimbulkan kekesalan dan penyesalan yang mendalam setelah tes itu, banyak dari kami yang mendapatkan nilai Do Re Mi (1, 2, 3), dan nilai yang memalukan itu kami dapatkan karena ternyata kami belum bisa berpikir secara filsafat seperti Prof. Marsigit. Awal dari ilmu pengetahuan adalah pertanyaan.

Aku masih bingung tentang “Bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman? Dan pentingkah pengalaman itu?”. Aku ajukan pertanyaan ini terhadap Prof. Marsigit.

Dan seperti inilah jawabannya….

“Kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Pengalaman adalah separuh dunia.

Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan  bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contoh, dokter yang melayani dengan radio. Hanya dengan mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan. Sebaliknya seorang Dokter Hewan, yang ingin memeriksa seekor Sapi yang sakit, ia harus memeriksanya dan memberikan tindakan secara langsung barulah ia dapat memikirkan penyakit sapi tersebut, maka dokter itu menggunakan metode Sintetik a posteriori (kehidupan pengalaman).

Jadi, yang diatas, pikiran itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan). Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa, dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi, sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a priori.  Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.

Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides), rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya para dewa).  Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak kecil.

Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Mathematics is for mathematics, art is for art, science is for science, …dst itu adalah ilmunya orang dewasa (para dewa). Tapi untuk anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan, jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of mind  (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.”

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Tyas, yaitu “Bagaimana orang atheis berfilsafat? Bisakah? Seperti apa?”

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Filsafat adalah dirimu sendiri. Tidak usah jauh-jauh sampai Yunani, yang aku sebut tadi yang absolute, ketika aku berdoa, aku adalah seorang spiritualis, so, my behave is as spiritualist.  Tapi, begitu ada pencuri, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang atheis mau berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual. Semakin ke atas semakin mengerucut. Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak kerujung), maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup)  Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Ian Harum tentang Bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan.

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, kesigapan, wadahnya laki-laki, dll. Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.    


27 comments:

  1. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Filsafat adalah diri kita sendiri, apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan. Dalam kehidupan hendaknya pikiran dan pengalaman berjalan secara beriringan, sebagaimana disebutkan dalam tulisan ini bahwa dalam berfilsafat seseorang harus mempraktikkan pikiran sekaligus memikirkan pengalaman. Sebagus apapun pemikiran yang kita miliki apabila tidak dipraktikkan sama halnya dengan sesuatu yang kosong atau tidak ada artinya. Oleh sebab itu sebaik - baik pemikiran adalah yang dapat dipraktikkan untuk kebaikan. Sementara itu, untuk mempraktikkan sebuah pemikiran seseorang membutuhkan pengalaman mengenai apa yang akan dipraktikkan. pengalaman ini tentu tidak harus dari pelaku, namun bisa juga dari pengalaman orang lain.

    ReplyDelete
  2. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Mungkin saya ada Anomali apakah saya bisa menggapai elegi-elegi dalam bersifat atau tidak
    Setidaknya saya belajar mengejar ketinggalan saya dalam proses walaupun sulit untuk benar2 berfilsafat karena filsafat bisa ada berdasarkan Fisafat diri sendiri
    SemangArt membaca

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, filsafat pada intinya adalha berpikir secara mendalam dan luas agar dapat memahami sesuatu dan dibalik sesuatu. Tentusaja dalam memahami sesuatu dan dibalik sesuati diperlukan rasa keingintahuan. Rasa keingintahuan adalah sarana belajar yang sangat menarik. Hanya diri sendiri lah yang mampu mendorong seseorang untuk ingin tahu. Karena filsafat dan paradigma didalam dirinya membisikinya lah yang menjadi sebab seseorang memiliki rasa ingin tahun. Filsafat dalam diri seseorang membuat hidupnya akan penuh warna dan menyemangatinya dalam kehidupan dan mampu membuat orang tersebut lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak dan mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  4. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Terdapat dua hal yang berbeda di alam ini, baik itu objek secara nyata maupun objek pikiran. Dalam kuliah bersama Bapak Marsigit selalu menyampaikan bahwa ada dua kelompok yaitu langit dan bumi. Langit membahas hal-hal yang pasti, absolut, ideal, sama, dan lain-lain. Sedangkan bumi membahas tentang ketidakpastian, relatif, nyata, berbeda, dan lain-lain. Segala yang ada dipikiran kita menjadi sesuatu yang ideal dan itu adanya di langit. Dan praktik/ kenyataannya adalah dunia. Akan tetapi, terkadang yang ada di duniapun akan menjadi langit bagi yang lain. Begitu juga yang ada di langit bisa jadi dunia untuk langit yang lain.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebagai seorang calon guru kita harus memahami tugas seorang guru. Tugas seorang guru bukanlah menjadikan murdi- murid kita mengikuti kita dibelakang, tetapi membuka jalan untuk murid- murid kita. Karena mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Sebagai seorang guru, kita harus bisa membuat murid kita menemukan jalannya sendiri, bukan mengikuti kita. Jika kita berjalan, maka murid kita tidak harus berjalan, ia bisa jadi berlari kencang, ia bisa jadi berenang mengarungi lautan, ia bisa jadi terbang menembus awan. Karena setiap siswa itu unik dan memiliki karakteristik yang berbeda. Maka tugas seorang guru adalah memfasilitasi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  6. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "bagaimana proses filsafat? FIlsafat adalah dirimu sendiri."
    Saya meyakini bahwa filsafat adalah diri sendiri, hal ini selalu menjadi dasar bagi saya ketika mulai mengenal filsafat. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Tak ada proses yang benar-benar sama, walaupun memiliki pendapat yang sama dan saling mendukung. Proses itu akan terus berlangsung hingga akhir hayat.

    ReplyDelete
  7. Latifah Fitriasari
    17709251055


    Sesuatu abstraksi yang kita terjemahkan sebagai sesuatu yang sudah kita anggap jelas itu disebut dengan mitos. Sedangkan pengalaman – pengalaman dari kita terus menterjemahkan suatu abstraksi. Sebagai contoh jika kita menterjemahkan secara serta merta bahwa bunga mawar merah sebagai lambang percintaan anak muda maka itu adalah mitos. Itulah hubungan menterjemahkan dan diterjemahkan antara sebagian dunia dengan dunia lain yang ada dalam pikiran kita. Demikian sehingga jika kita ingin menggapai dunia seutuhnya maka kita perlu yang namanya abstraksi yang dapat kita terjemahkan secara sadar supaya kita dapat menggapai dunia seutuhnya

    ReplyDelete
  8. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Filsafat adalah dirimu sendiri. Bagaimana kamu menjelaskan sesuatu dan berfilsafat karena itu. Jika dikaji lebih mendalam, dengan filsafat memiliki manfaat bagi peradaban dunia. Karena filsafat adalah oleh pikir sehingga menghasilkan produk dari buah pemikirannya. Selain itu filsafat memiliki tujuan untuk mengenal struktur dunia. Seseorang yang dapat menempatkan dirinya sesuai dengan ruang dan waktunya menandakan bahwa ia mampu menjelaskan posisinya secara berstruktur dunia. Hal ini menandakan bahwa tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia dapat diresapi oleh mereka yang mengerti bahwa dunia itu berstruktur. Sehingga pada akhirnya keharmonisan dapat terjadi dalam hubungan masyarakat.

    ReplyDelete
  9. Metia Novianti
    17709251021
    PPs PM A 2017

    Dalam berfilsafat, kita melakukan olah pikir tentang suatu objek yang ada dan yang mungkin ada secara menyeluruh. Kita sebaiknya mempelajari dan memahaminya dari berbagai aspek. Kita berfilsafat dengan mengimplementasikan pikiran dan pengalaman kita melalui tindakan-tindakan yang akan mencerminkan diri kita sendiri. Dalam berfilsafat juga kita harus bisa menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu, dengan begitu kita dapat menyadari peran kita.

    ReplyDelete
  10. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Tuhan memberi ketidaksempurnaan untuk manusia agar manusia dapat hidup. Sungguh sempurna ciptaan Allah itu. Misalkan saya memiliki pnglihatan yang sempurna, mungkin saya akan ketakutan dan tidak dapat hidup dengan nyaman. Karena saya dapat melihat wujud angin dan udara, misalnya. Atau bahkan saya melihat kuman-kuman yang berterbangan dan menempel pada benda-benda di sekitar. Sungguh Allah adalah pencipta yang paling baik.

    ReplyDelete
  11. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Di setiap perkuliahan saya selalu mendengar bahwa filsafat itu ruang pikirmu sendiri. Dulu saya beranggapan bahwa filsafat itu hanya milik tokoh-tokoh ilmuwan. Ternyata filsafat juga bersifat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi saya selalu ingat dengan pesan Prof. Marsigit yang selalu mengatakan pikiran boleh kacau, tetapi jangan kacaukan hatimu.

    ReplyDelete
  12. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs P.Mat C

    filsafat merupakan pikiran kita sendiri, semua yang ada dikehidupan dapat dihubungkan dengan filsafat, pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan dapat terjawab dengan menggunakan pemikiran filsafat. kita bebas mengekspresikan pemikiran kita mengenai suatu hal. menurut saya filsafat merupakan bapak dari semua ilmu, karena jika benar-benar memahami filsafat, semua permasalahan yang ada dapat terjawabkan dengan filsafat.

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Setelah membaca refleksi perkuliahan oleh Mbak Lia Agustina(Biasanya saya memanggil Mb Ling-ling), saya jadi sadar bahwa manusia memang ditakdirkan untuk memiliki banyak kekurangan dan lekat dengan ketidaksempurnaan. Dengan adanya ketidaksempurnaan ini seharusnya kita bersyukur karena, jika Tuhan menyempurnakan 1 sifat saja dari diri kita malah hidup kita tidak tenang, kita akan mengalami ketakutan-ketakutan karena kita bisa tahu semuanya. Terlebih lagi kita memiliki sifat satu milyar pangkat satu milyar banyaknya. Hal ini tentu tidak akan berdampak baik.

    ReplyDelete
  14. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Belajar filsafat membutuhkan pemahaman dan penalaran yang baik. Mengapa demikian?. Karena untuk memahami filsafat yang bahkan yang sederhana saja, harus dipahami dalam waktu yang lama. Apalagi memahami filsafat secara mendalam. Hal ini pasti akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan menguras tenaga yang banyak. Namun lebih dari itu semua, pasti bisa untuk dipahami, seperti yang telah Pak Marsigit lakukan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam berfilsafat masing-masing orang berbeda. Sesuatu yang menurut seseorang salah, belum tentu salah juga dalam pandangan orang lain. Pendapat seseorang itu bersifat relatif, bisa benar bisa juga salah tergantung dari mana sudut pandang kita melihatnya. Setelah mengikuti perkuliahan Prof Marsigit saya menjadi lebih memahami bahwa benar belum tentu dan salah juga belum tentu salah.

    ReplyDelete
  16. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kita terkadang memang hanya memandang sesuatu dari satu sisi saja karena ketidakmampuan dan ketidaksempurnaan merupakan kodrat kita sebagai manusia. Dengan segala kekurangan yang kita miliki membuat kita menjadi bisa merasakan apa arti hidup. Kita hidup hanya dengan pengalaman saja, atau bahkan sengan pikiran saja namun sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  17. Junianto
    PM C
    17709251065

    Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Logika dalam hal ini bisa dimaknai sebagai proses berpikir. Manusia diberi bekal akal oleh Tuhan agar mampu berpikir dan memperoleh ilmu dari pemikirannya. Kemudian manusia juga dikarunia panca indera yang sempurna agar ia bisa melakukan aktivitas dan memperoleh pengalaman hidup. Berpikir dan pengalaman manusia ini merupakan cara agar bisa membangun pengetahuan.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C
    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika dalam hidup seseorang selalu belajar bagaimana melakukan hermeneutika hidup, maka sesungguhnya mereka sedang mencoba sedikit demi sedikit memahami filsafat hidup yang memberikan banyak sekali pengaruh terhadap kehidupan mereka. Filsafat sesungguhnya tidak hanya mengenai kehidupan saja, namun mencakup segala hal yang ada di dunia itu memang akan kita pahami jika filsafat itu juga dapat kita fahami dengan baik. Contohnya seorang guru akan mengetahui bagaimana peserta didik dapat mengerti apa yang mereka butuhkan jika sang guru mengetahui filsafat pembelajaran dengan baik. Oleh karenanya, jangan sekali meremehkan filsafat, karena filsafat memberikan dampak positif juika kita benar-benar memahaminya dengan baik secara keseluruhan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Filsafat bisa tentang apapun, salah satunya adalah filsafat pendidikan matematika. Filsafat dapat berisi tentang syntax-syntax dalam melakukan sesuatu. Objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Yang saya alami selama belajar filsafat adalah bahwa membaca tentang filsafat harus berulang-ulang dilakukan, agar mengerti isi bacaan tersebut. Apa yang tertulis dalam bacaan filsafat tidak selalu mewakili maksud si penulis. Itulah yang dinamakan bahasa analogi. Filsafat memaksa saya untuk memiliki hobi membaca

    ReplyDelete
  20. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Terkadang saat menemukan sebuah pertanyaan, kita menemukan kebingungan-kebingungan, padahal bisa jadi dari pertanyaan tersebut, kita dapat mengetahui kedudukan terhadap kedudukan strukturnya. Keterbatasan manusia terkadang membuat kita tidak mengetahui tentang kedudukan sebuah pertanyaan sehingga menimbulkan kebingungan. Manusia bingung dalam keterbatasannya namun kebingungan ini harusnya kita berusaha menggali lebih mengenai apa yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  21. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Sebuah refleksi yang menarik dari Sdri. Lia Agustina. Belajar filsafat artinya mempelajari pemikiran para filsuf. Terdapat suatu subyektifitas, obyektifitas, relativisme, dan sebagainya. Sebagai suatu olah pikir, filsafat secara tidak langsung mmempengaruhi perkembangan ilmu di dunia. Tidak sedikit peradaban dunia yang berkembang dipengaruhi oleh pemikiran para filsuf. Oleh karena itu, bukan merupakan suatu kesalahan dan penyesalan untuk terus belajar filsafat.

    ReplyDelete
  22. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Filsafat itu adalah dirimu sendiri, filsafat itu adalah berolah pikir, Pikiran kita itu tak terbatas, kita bisa berpikir apa saja yang kita inginkan. Tetapi kemampuan manusia itu yang terbtas. Dengan berfilsafat menjadi semakin tahu bahwa sesungguhnya masih banyak sekali hal yang tidak kita ketahui karena kamampuan kita yang memang terbatas. Tetapi pada dasarnya apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, karena memang objek dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada tergantung dari ruang dan waktu. Dimana kita dapat menjadikan sesuatu yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran.

    ReplyDelete
  23. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Mempelajari filsafat tentunya harus dimulai dari pertanyaan-pertanyaan mendasar. Mengungkap suatu hakikat dimulai dari skpetisme yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Melalui jawaban pak Marsigit yang sangat bernas di atas saya dapat memahami bahwa filsafat adalah disiplin yang benar-benar kompleks dan membutuhkan tingkat curuousity yang kuat. Terima kasih atas jawabn-jawaban bapak yang selalu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru di benak kami. Semoga kita semakin terpacu dalam mendalami filsafat

    ReplyDelete
  24. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya setuju bahwa “membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika.” Begitu juga dengan matematika. Matematika adalah separuh logika (abstrak) dan separuh lagi pengalaman (kenyataan). Namun hal itu bukan berarti terpisah-pisah antara logika dan pengalaman. Separuh logika (abstrak) dan separuh lagi pengalaman (kenyataan) dalam matematika saling berhubungan membentuk membangun pengetahuan matematika.

    ReplyDelete
  25. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    menanggapi pertanyaan 1 dari saudari Lia tentang bagaiamana filsafat memandang pengalaman, menurut saya semua pengalaman itu penting. pengalaman baik mengajarkan kita untuk melangkah maju, menyemangati/memotivasi diri kita untuk berbuat lebih besar. sedangkan pengalaman buruk menjadi cambukan atau pelajaran bagi kita agar tidak terulang, mampu bangkin dan mengambil hikmah. sehingga keduanya itu bermanfaat bagi orang-orang yang mau belajar. jika pengalaman dikaitkan dengan filsafat, maka seperti tanggapan pak Marsigit bahwa pengalaman adalah separuh dunia. dikatakan separuh dunia karena pengalaman yang bisa kita dapatkan sifatnya terbatas. ada hal-hal yang tidak bisa kita jangkau tanpa izin Allah SWT. pointnya yang dapat saya ambil untuk menjadi manusia yang berilmu kita harus memiliki banyak pengalaman.

    ReplyDelete
  26. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    saya tertarik untuk menanggapi pertanyaan 2 dari saudari Tyas tentang bagaimana orang atheis berfilsafat. pertanyaan ini mengingatkan saya pada perkuliahan filsafat yang lalu. Prof Marsigit pernah mengatakan bahwa filsafat itu adalah dirimu sendiri, jika engkau menganggap filsafat itu sesat maka yang sesat itu adalah dirimu sendiri. orang sesat belajar filsafat maka filsafatnya juga akan sesat. tapi sebaliknya, jika orang yang religius belajar filsafat maka insya allah filsafatnya juga baik. pointnya adalah baik, buruk, benar, salah, sesat atau tidak sesatnya filsafat tergantung pada orang yang belajar filsafat itu sendiri. belajar apapun harus selalu memohon ridho Allah SWT agar apa yang kita pelajari menjadi berkah dan memperoleh petunjuk agar dijauhi dari kesesatan. inilah yang diterapkan Prof Marsigit dalam pembelajaran filsafat, selalu dimulai dan diakhiri dengan doa.

    ReplyDelete
  27. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Filsafat adalah sesuatu pengajaran yang unik di dalam dunia perkuliahan. Karena melalui filsafat kita dapat melatih cara berfikir, bernalar dan berbahasa yang sesuai dengan forsinya masing-masing. Filsafat juga mengajarkan kita tentang sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Dengan filsafat kita juga dapat melakukan kotrol diri karena dapat memahami suatu tujuan perbuatan baik secara tersirat maupun tersurat.

    ReplyDelete