Nov 2, 2015

Mengenal Filsafat Lebih Dalam

 Oleh Lia Agustina

http://justliy.blogspot.co.id/2015/10/mengenal-filsafat-lebih-dalam-bagian-2.html

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Prodi PEP
Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Kamis, 22 Oktober 2015
Pukul 07.30 – 09.10

Semakin lama aku semakin penasaran dengan filsafat, semakin lama semakin tinggi tingkat curiosity ku terhadap satu mata kuliah ini apalagi mata kuliah filsafat ilmu ini yang dibawakan oleh Prof. Marsigit secara unik dan dengan metode yang berbeda dari mata kuliah yang lain. Sekali lagi pada hari ini Kamis, 22 Oktober 2015 diadakan lagi tes jawab singkat yang menimbulkan kekesalan dan penyesalan yang mendalam setelah tes itu, banyak dari kami yang mendapatkan nilai Do Re Mi (1, 2, 3), dan nilai yang memalukan itu kami dapatkan karena ternyata kami belum bisa berpikir secara filsafat seperti Prof. Marsigit. Awal dari ilmu pengetahuan adalah pertanyaan.

Aku masih bingung tentang “Bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman? Dan pentingkah pengalaman itu?”. Aku ajukan pertanyaan ini terhadap Prof. Marsigit.

Dan seperti inilah jawabannya….

“Kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Pengalaman adalah separuh dunia.

Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan  bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contoh, dokter yang melayani dengan radio. Hanya dengan mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan. Sebaliknya seorang Dokter Hewan, yang ingin memeriksa seekor Sapi yang sakit, ia harus memeriksanya dan memberikan tindakan secara langsung barulah ia dapat memikirkan penyakit sapi tersebut, maka dokter itu menggunakan metode Sintetik a posteriori (kehidupan pengalaman).

Jadi, yang diatas, pikiran itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan). Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa, dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi, sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a priori.  Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.

Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides), rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya para dewa).  Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak kecil.

Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Mathematics is for mathematics, art is for art, science is for science, …dst itu adalah ilmunya orang dewasa (para dewa). Tapi untuk anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan, jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of mind  (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.”

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Tyas, yaitu “Bagaimana orang atheis berfilsafat? Bisakah? Seperti apa?”

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Filsafat adalah dirimu sendiri. Tidak usah jauh-jauh sampai Yunani, yang aku sebut tadi yang absolute, ketika aku berdoa, aku adalah seorang spiritualis, so, my behave is as spiritualist.  Tapi, begitu ada pencuri, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang atheis mau berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual. Semakin ke atas semakin mengerucut. Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak kerujung), maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup)  Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Ian Harum tentang Bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan.

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, kesigapan, wadahnya laki-laki, dll. Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.    


20 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Berfilsafat adalah mempraktikkan pikiran dan pikirkanlah pengalaman anda.hal ini berubah setiap harinya . Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Kita harus bisa menyeimbangkan antara keduanya agar tidak terjadi kesenjangan. Antara teori atau pikiran dan pengalaman sanma-sama hal yang dibutuhkan dalam filsafat dan hal yang harus ada dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  2. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Belajar filsafat itu belajar tentang struktur dunia. Dalam matematika model, aksioma merupakan prinsip yang merupakan objek yang tidak dapat dilihat dan contoh dari aksioma merupakan bayangan yang dapat kita lihat. Jadi matematika model itu struktur dunia. Dalam perkuliahan matematika model, setidaknya kita perlu memiliki struktur dunia yang dapat dibangun yakni prinsip dan konsisten pada prinsip tersebut.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Selain itu, manusia kodratnya tidak sempurna. Ketidaksempurnaan manusia ini lah yang menyebabkan kita bisa merasakan hidup ini. Jika kita diberi satu saja kesempurnaan, maka kita langsung saja tidak bisa hidup. Misal kita diberi kesempurnaan bisa melihat apapun yang ada dan yang mungkin ada, langsung saja kita tidak bisa hidup. Kenapa ?. Karena kita bisa melihat siksa neraka, hari kematian kita, orang tua atau pun orang terdekat, atau tindakan kriminal yang sedang terjadi dimana pun itu. Itu baru satu sifat saja, bagaimana jika manusia juga bisa mendengar apapun dan bermilyar-milyar sifat tanpa batas lainnya. Itu lah karunia yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia, memberikan ketidaksempurnaan untuk hidup.

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar-benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Kombinasi pikiran dan pengalaman, itu lah arti hidup. Manusia sudah kodratnya untuk selalu belajar. Ia akan belajar dari pengalaman. Jika pada pengalamannya adalah sesuatu yang salah, maka ia akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Disitulah salah satu bentuk interaksi antara pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  5. Belajar mendalami filsafat memang membutuhkan fokus tingkat tinggi. Karena setiap manusia mempunyai hak untuk bertanya. Sebagaiman dikatakan dalam buku Sukarjono(2007:13) bawa saya adalah mahluk yang bertanya. Artinya manusia itu tidak mau menerima sesuatu bgtu saja,baik dirinya maupun lingkunganya. Ia ingin tahu segala sesuatu, filsafat merupakan sahabat pengetahuan dan erat hubunganya menuju kearifan. Jadi wajar saja jika untuk mendalami filsafat dibutuhkan pengetahuan yang setinģgi-tingginya.

    ReplyDelete
  6. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Assalamualaikum wr..wb...
    Filsafat itu suatu yang tiada, ada dan mungkin ada. Fisafat adalah mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pikiran manusia secara kritis dan dituangkan dalam kosep yang mendasar. Fisafat tidak di dalami dengan eksperimen-eksperimen, percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah-masalah secara percis dan mirip, kemudian mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi, dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukan dan dituangkan kedalam sebuah proses dialektika dan dialog-dialog. Untuk berfilsafat dibutuhkan logika berfikir dan logika bahasa yang kuat. Logika sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat, sehingga filsafat pada sisi tertentu adalah suatu ilmu yang eksak. Namun filsafat memiliki ciri khas tersendiri, nuansa tersendiri yaitu spekulatif, keraguan, rasa penasaran, dan ketertarikan. Sehingga wajar ketika penulis artikel diatas memiliki rasa penasaran dan ketertarikan yang semakin kuat ketika mempelajari filsafat. Filsafat juga sebuah perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sisi spiritual yang biasanya tidak bisa tersentuh oleh disiplin ilmu lain yang dengan skeptis mempertanyakan segala hal. Orang yang senang berfilsafat adalah orang yang senang dengan kebijaksanaan atau pencinta kebijaksanaan.
    Demikian sekiranya tanggapan kami, wassalam... terimakasih.

    ReplyDelete
  7. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Mengenal filsafat berarti mencintai kebijakan. Filsafat sebagai dirimu sendiri berarti filsafat yang mencakup aktivitas (kegiatan diri), serangkaian sikap, dan sebuah keterpaduan isi. Sepengetahuan saya, isi dari filsafat itu sendiri mengkaji tentang pertanyaan - pertanyaan yang berkenaan dengan hakikat realitas, mengkaji tentang hakikat kebenaran dan pengetetahuan yang berlaku pada kehidupan.

    ReplyDelete
  8. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dalam buku Filsafat Matematika oleh THE LIANG GIE menyebutkan bahwa filsafat matematika merupakan salah satu filsafat ilmu khusus dalam ruang lingkup filsafat ilmu-seumumnya. Pada kelanjutannya filsafat ilmu merupakan suatu bagian dari filsafat. Dengan demikian pembehasan mengenai lingkungan filsafat matematika tidak dapat terlepas dari kaitan dengan pertama-tama persoalan-persoalan dalam filsafat ilmu dan kedua problim-problim filsafat pada umumnya. Filusuf terkemuka Clarence Irving Lewis juga mengemukakan adanya 2 gugus persoalan, yakni problim-problim reflektif dalam sesuatu ilmu khusus (reflective problems within any special science) yang dapat dikatakan membentuk filsafat dari ilmu tersebut dan problim-problim mengenai asas permulaan dan ukuran-ukuran (problems of initial principle and criteria) yang berlaku bagi semua ilmu maupun aktivitas kehidupan seumumnya.

    ReplyDelete
  9. Dengan filsafat kita bisa mengetahui bagaimana menempatkan diri ketika memandang ilmu yang semakin ke atas dan kita bisa bersikap bagaimana menghadapi ilmu ketika dipandang semakin kebawah. filsafat kembali lagi menghantarkan kita agar kita selalu tau siapa, apa, dimana dan untuk apa kita ada.. karena filsafat ada dalam diri kita.

    ReplyDelete
  10. Wahyu Lesari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Dan berfilsafat adalah mempraktikan pikiran dan memikirkan pengalaman. Dan penjelasan di atas yang perlu untuk selalu diingat adalah sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Dan belajar dari sebuah pengalaman serta terus memikirkannya, maksudnya adalah sebagai manusia terus berpikir dan memperbaiki diri, jika dari pengalamannya melakukan sesuatu kesaahan maka kedepannya untuk tidak mengulang lagi.

    ReplyDelete
  11. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Filsafat berasal dari filo dan shopia artinya cinta pada ilmu pengetahu, kalau sudah cinta tentu akan mendalami segala sesuatu tentang apa yang dicintai itu. Cinta dengan ilmu berarti menddalami sedalam-dalamnya ilmu itu, mencari sampai ke akar-akarnya tentang sesuatu. Jadi dengan filsafat membuat orang yang mendalaminya akan merasa senang, nyaman dan betah untuk menghadapinya dikarenakan sudah cinta.

    Ilmu bisa didapatkan dari pengalaman, semakin banyak pengalaman tentu akan semakin banyak ilmu yang diperolehnya dan dengan pemgalaman itu dipikirkannya tentang manfaat yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman itu, jika baik maka dijadikan pedoman dan jika itu buruk maka itu sebagai bahan intropeksi bagi diri untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi. Sehigga bisa membangun pengetahuan dari pengalaman-pengalaman dan menjadikannya sebagai guru dimasa yang akan datang, karena hidup didunia ini siklik artinya bisa saja yang pernah terjadi suatu waktu akan terjadi juga dimasa yang akan datang. Kita lihat kemaren subuh datang tentu besok subuh juga akan datang, itu siklik yang sudah menjadi sunnattullah di kehidupan dunia ini.

    ReplyDelete
  12. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Terdapat dua hal yang berbeda di alam ini, baik itu objek secara nyata maupun objek pikiran. Dalam kuliah bersama Bapak Marsigit selalu menyampaikan bahwa ada dua kelompok yaitu langit dan bumi. Langit membahas hal-hal yang pasti, absolut, ideal, sama, dan lain-lain. Sedangkan bumi membahas tentang ketidakpastian, relatif, nyata, berbeda, dan lain-lain. Segala yang ada dipikiran kita menjadi sesuatu yang ideal dan itu adanya di langit. Dan praktik/ kenyataannya adalah dunia. Akan tetapi, terkadang yang ada di duniapun akan menjadi langit bagi yang lain. Begitu juga yang ada di langit bisa jadi dunia untuk langit yang lain.

    ReplyDelete
  13. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2
    Filsafat dalam bahasannya tidak lepas dari dua aspek yaitu langit-bumi. Yang membahas tentang kebenaran mutlak/ absolut dari langit yang bersifat analitil a priori, kemudian yang membahas tentang dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Jadi berbicara masalah pengalaman berarti membahas ranah dunia yang merupakan bagian dari pembahasan filsafat. Benar bahwa apa yang kita ketahui merupakan hasil pengalaman indera yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan otak sebagai wadah penampung pengalaman dari apa yang kita ketahui.

    ReplyDelete
  14. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Di dalam filsafat pengetahuan, semuanya tergantung pada titik tolaknya” Sedangkan andasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.

    ReplyDelete
  15. Kusuma Wardani D.S
    14301241027
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Filsafat menurut Hosein (dalam buku Filsafat Ilmu karya dari Drs. H. Mohammad Adib, M.A) objek material filsafat adalah segala bentuk pemikiran manusia tentang sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sedangkan menurut Mulder (dalam buku Filsafat Ilmu karya dari Drs. H. Mohammad Adib, M.A), objek material filsafat adalah segala persoalan pokok yang dihadapi manusia saat dia berpikir tentang dirinya dan tempatnya di dunia. Dengan filsafat manusia dimungkinkan dapat melihat kebenaran tentang sesuatu diantara kebenaran lainnya, yaitu dengan mencoba mengambil pilihan diantara alternatif yang tersedia sehingga manusia bisa menghadapi masalah dan belajar bijaksana. Selain itu juga filsafat juga memberikan petunjuk dengan metode pemikiran yang reflektif dalam menyerasikan antara logika, rasa, rasio, pengalaman dan spiritual.

    ReplyDelete
  16. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    Pendidikan Matematika A 2014
    berfilsafat adalah mempraktikkan pikiran dan memikirkan pengalaman. praktiknya filsafat adalah misalnya bertanya dan memikirkan bagaimana atau apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja.
    sifat pengetahuan pengalaman adalah sintetik dan kontradiksi, dimana kontradiksi menciptakan produk baru. filsafat adalah dirimu sendiri, jadi siapapun dapat bebas berfilsafat. filsafat itu peduli dengan ruang dan waktu agar memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.

    ReplyDelete
  17. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 P.Matematika_D 2016


    Setelah membaca tulisan diatas, saya menemukan bahwa filsafat itu dimulai dengan rasa ingin tahu, bahkan karena suatu keragu – raguan. Berfilsafat itu juga didorong untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Sehingga tidak puas apabila hanya mengenal ilmu dari sudut pandang ilmu itu sendiri, tetapi ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya.

    ReplyDelete
  18. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terimakasih untuk ilmu yang telah diberikan pada postingan kali ini.
    Salah satu poin yang saya garis bawahi ialah bahwa ilmu akan lengkap dan kokoh jika dilakukan dengan mencoba/mengalaminya langsung, dari sini orang akan mendapatkan pengalaman hingga pada akhirnya dapat menciptakan kesimpulannya sendiri. Dan hal ini lah yang ternyata menjadi tujuan dalam metode saintifik. Jadi, antara pengalaman dan logika sebisa mungkin tidak dipisahkan.
    Di samping itu, fungsi guru memang ditekankan untuk memfasilitasi, bagaimana agar anak dapat ‘menyentuh’ apa yang dipelajarinya. Hingga pada akhirnya, pembelajaran diharapkan bermakna di benak anak.

    ReplyDelete
  19. Elli Susilawati
    16709251073
    S2 P.Mat D 2016

    Dengan belajar filsafat, akan mendapatkan beberapa keterampilan seperti memikirkan suatu masalah secara mendalam dan kritis, membentuk argumen dalam bentuk lisan maupun tulisan secara sistematis dan kritis, mengkomunikasikan ide secara efektif, dan mampu berpikir secara logis dalam menangani masalah-masalah kehidupan yang selalu tak terduga.

    ReplyDelete
  20. Anwar Novianto
    16706261005
    S3 Pendidikan Dasar 2016

    Berfilsafat memang sebuah pemikiran yang unik..kenapa unik?karena dengan bertanya seperti itu saja kita sudah berfilsafat..mengutip pernyataan dari Prof Marsigit "jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup". Manusia tidak ada yang sempurna, oleh karena itu kita hidup di dunia ini untuk mendapatkan pengalaman. Berbekal pengalaman yang kita peroleh seiring perjalanan hidup kita, lama-kelamaan kita akan mengerti apa itu BERSYUKUR. Sebagai orang jawa, saya sangat menjunjung tinggi rasa syukur. Suatu saat saya berjalan, tiba-tiba kaki saya tersandung batu dan tubuh saya sempoyongan hampir terjatuh. Akan tetapi saya tetap bersyukur "Alhamdulillah untung kaki saya tidak lecet, Alhamdulillah untung saya tidak jatuh"
    Hal-hal sepele seperti itu mungkin dianggap biasa saja. Namun jangan remehkan hal-hal yang kecil. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada Bapak saya "Pak..saya belajar dari dulu sampai sekarang kenapa merasa tidak mendaptkan apa-apa?" Dengan santai Beliau menjawab "hargailah hal-hal kecil, jangan sepelekan apapun itu. Tidak usah berangan-angan tentang hal yang besar, cukup kamu kumpulkan ha-hal yang kecil itu lama kelamaan akan menjadi besar dengan sendirinya"

    ReplyDelete