Nov 2, 2015

Mengenal Filsafat Lebih Dalam

 Oleh Lia Agustina

http://justliy.blogspot.co.id/2015/10/mengenal-filsafat-lebih-dalam-bagian-2.html

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Prodi PEP
Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Kamis, 22 Oktober 2015
Pukul 07.30 – 09.10

Semakin lama aku semakin penasaran dengan filsafat, semakin lama semakin tinggi tingkat curiosity ku terhadap satu mata kuliah ini apalagi mata kuliah filsafat ilmu ini yang dibawakan oleh Prof. Marsigit secara unik dan dengan metode yang berbeda dari mata kuliah yang lain. Sekali lagi pada hari ini Kamis, 22 Oktober 2015 diadakan lagi tes jawab singkat yang menimbulkan kekesalan dan penyesalan yang mendalam setelah tes itu, banyak dari kami yang mendapatkan nilai Do Re Mi (1, 2, 3), dan nilai yang memalukan itu kami dapatkan karena ternyata kami belum bisa berpikir secara filsafat seperti Prof. Marsigit. Awal dari ilmu pengetahuan adalah pertanyaan.

Aku masih bingung tentang “Bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman? Dan pentingkah pengalaman itu?”. Aku ajukan pertanyaan ini terhadap Prof. Marsigit.

Dan seperti inilah jawabannya….

“Kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Pengalaman adalah separuh dunia.

Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan  bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contoh, dokter yang melayani dengan radio. Hanya dengan mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan. Sebaliknya seorang Dokter Hewan, yang ingin memeriksa seekor Sapi yang sakit, ia harus memeriksanya dan memberikan tindakan secara langsung barulah ia dapat memikirkan penyakit sapi tersebut, maka dokter itu menggunakan metode Sintetik a posteriori (kehidupan pengalaman).

Jadi, yang diatas, pikiran itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan). Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa, dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi, sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a priori.  Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.

Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides), rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya para dewa).  Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak kecil.

Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Mathematics is for mathematics, art is for art, science is for science, …dst itu adalah ilmunya orang dewasa (para dewa). Tapi untuk anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan, jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of mind  (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.”

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Tyas, yaitu “Bagaimana orang atheis berfilsafat? Bisakah? Seperti apa?”

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Filsafat adalah dirimu sendiri. Tidak usah jauh-jauh sampai Yunani, yang aku sebut tadi yang absolute, ketika aku berdoa, aku adalah seorang spiritualis, so, my behave is as spiritualist.  Tapi, begitu ada pencuri, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang atheis mau berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual. Semakin ke atas semakin mengerucut. Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak kerujung), maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup)  Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Ian Harum tentang Bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan.

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, kesigapan, wadahnya laki-laki, dll. Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.    


53 comments:

  1. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Teori dan praktik itu sangat penting dalam kehidupan. Sebuah a priori dan a posteriori dalam kehidupan sangat dibutuhkan. Dan sebenar-benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pada pertanyaan pertama membahas tentang filsafat terhadap pengalaman. Setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Dengan pengalaman kita belajar. Ilmu pengetahuan kita terima berdasarkan apa yang kita amati dan alami kemudian diolah dengan pikiran selanjutnya diterima oleh kita. Benar bahwa membangun pengetahuan adalah interaksi pengalaman dan logika. Manusia membutuhkan pengalaman untuk memperolah pengetahuan baru dimana pengetahuan tersebut juga diterima oleh pikirannya.

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Saat mempelajari filsafat pertama kalinya banyak sekali filosofi, filosofi yang terkait dengan kehidupn kita sebagai manusia. Seperti yang dikemukakan oleh Prof Marsigit, filsafat itu adalah dirimu sendiri, dan jika kita memperlajari filsafat dari sosok Prof Marsigit, maka kita sedang mempelajari beliau. Tidak perlu sampai Yunani untuk mempelajari semua itu, karena filsafat selalu ada di dalam diri kita masing-masing. Filsafat pun membuat kita untuk lebih mengagumi kekuasaan Tuhan, karena semua pasti berasal dari Tuhan dan akan selalu kembali pada Tuhan.

    ReplyDelete
  4. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    “Jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup). Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.

    ReplyDelete
  5. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Keindahan filsafat terletak pada sirkularitasnya karena orang bisa memulai dari mana saja dan seringkali seiring dengan kemajuan yang terus dicapai, orang akan kembali ke titik awal lagi. Sementara itu dia melewati sirkuit yang terlihat dan yang tidak terlihat dan dia akan menemukan sebagian keindahan keduanya.

    ReplyDelete
  6. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam kehidupan, manusia harus mengenal filsafat agar hidup bisa lebih terarah dan tujuan hidup bisa tercapai dengan baik serta sempurna. Untuk mencapai itu semua manusia harus berusaha memahami dan mengerti apa konsep dari filsafat itu sebenanrnya. Tentunya itu semua harus melibatkan campur tangan tuhan.

    ReplyDelete
  7. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya sependapat bahwa membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Jangan sampai kita mengambil sebuah keputusan hanya berasal dari 'kata hati' tanpa rasionalitas. Namun, sebenar-benar pengetahuan adalah dirimu sendiri dan sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri. Setiap orang memiliki pemikiran dan pengetahuan yang berbeda yang menggambarkan filsafat yang berbeda pula.

    ReplyDelete
  8. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berfilsafat adalah mempertemukan antara pikiran dengan pengalaman. Karena jika hanya salah satu saja yang dipenuhi maka hanya separuh ilmu. Kita harus mempraktikkan pikiran kita dan memikirkan pengalaman kia agar hidup ini dinamis.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sebenar-benar hidup ialah interaksi antara pengetahuan terdiri atas pengalaman dan logika yang terbagi secara merata. Filsafat merupakan dirimu sendiri atau yang disebut juga dalam berfilsafat mengandung arti bahwa berfilsafat mengandung hukum identitas. Kehidupan didunia penuh dengan struktur yang berhubungan dengan kedudukan manusia pada suatu waktu dimana wadah dan isinya. Wadah melingkupi apa yang sedang dipikiran manusia dan selalu bergantung pada isinya yaitu apa yang ada dalam pikiran manusia ketika menggunakan indra dalam memahami sebuah fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  10. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    "Pengalaman adalah separuh dunia"
    Empat kata berjuta makna. Tidak salah bahwa pengalaman adalah guru paling baik. Dengan adanya guru dapat menambah wawasan ilmu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Dengan banyaknya ilmu dapat memperkaya pengetahuan dengan cara membangunnya sendiri agar tidak spontan terlupakan begitu saja, namun ada kesan berupa pengalaman yang selalu mengingatkannya. Oleh karena itu membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda.

    ReplyDelete
  11. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    “Filsafat adalah dirimu sendiri"
    Siapa pun kita, dimana pun kita, dan bagaimana pun kita, sesungguhnya saya adalah diriku sendiri. Bagaimana saya berpikir, seperti itulah praktisnya, seperti itulah adanya saya. Maka dapat dikatakan pikiranmu adalah dirimu. Begitu juga dengan filsafat, filsafat adalah ilmu pikiran, bagaimana caramu berpikir, dari sudut pandang mana yang kamu ambil. Apakah mengambil sudut pandang yang mayoritas, minoritas, sesuai dengan pribadimu, pengetahuanmu, logikamu, atau mingkin sesuai dengan hatimu..

    ReplyDelete
  12. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menurut saya mengenal filsafat lebih dalam dapat menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Pencipta, karena sifat filsafat yang merupakan olah pikir yang reflektif maka kita dituntut untuk merefleksikan filsafat yang di pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan meletakkan aspek spritual diatas segala-galanya maka filsafat yang mendalam melahirkan keimanan yang mendalam juga, semakin kita mengulik filsafat sampai keakar akarnya maka seiring hal tersebut akan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  13. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Manusia yang dewasa sangat haus intelektual tentang apa yang diinderanya. Rasa penasarannya tersebut dituangkan ke dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Akibat dari keingintahuan terhadap objek yang terindera tadi muncul lah hasil pikiran-pikiran yang berupa konsep kehidupan, konsep yang ada dan yang mungkin ada, konsep ruang dan waktu, konsep Tuhan. Sebenarnya setiap manusia baik yang dewasa maupun yang belum dewasa memiliki rasa keingintahuan. Karena itu adalah bukti dia hidup. Sehingga, apabila dia hidup, maka dia penasaran tentang yang belum diketahui. Ketika dia penasaran, dia mencoba-coba, mengira-ngira dengan pikirannya untuk menterjemahkan apa yang menjadi jawabannya. Dalam pandangan saya, indera manusia yang paling utama adalah pikiran dan hatinya. Sehingga dengan indera tersebut lah manusia mendapatkan pengetahuannya. Cara manusia mendapatkan pengetahuannya bermacam-macam, jika digabungkan menjadi metode yang umum dan universal, maka cara tersebut disebut dengan berfilsafat.

    ReplyDelete
  14. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pengalaman sangat berpengaruh dalam membangun sebuah pengetahuan. Karena pengalaman menjadi separuh dasar dalam mebangun pengetahuan. oleh karenanya menggunakan pengalaman sangatlah penting. karena seperti pepatah yang pernah dikatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Hal ini benar.

    ReplyDelete
  15. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Tetap mempunyai sifat analitik, a priori yaitu sudah paham tapi belum pernah bertemu. Berubah mempunyai sifat sintetik, a posteriori yaitu bertemu terlebih dahulu lalu paham. Kant telah membuat jembatan di antara analitik dan sintetik ini, dia berusaha menggabungkan keduanya, yang dikenal sebagai sintektik apriori yaitu kita harus mempunyai pengalaman dan teori yang berasal dari akal sehingga hasil yang dihasilkan lebih valid kebenarannya.

    ReplyDelete
  16. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat dengan Bapak bahwa “Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika”. Tanpa adanya pengalaman, sebuah pengetahuan tidak bisa dibangun dengan baik. Kesalahan-kesalahan masa lalu diperbaiki untuk membentuk pengetahuan yang lebih maju dari sebelumnya dengan memanfaatkan logika yang ada pada setiap zamannya.

    ReplyDelete
  17. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kalimat terakhir postingan ini menyatakan bahwa tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia. Untuk menyadari betapa beragam dan kompleks, kita berfilsafat. Berfilsafat adalah mempraktikan pikiran dan memikirkan pengalaman. Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Dan berfilsafat merupakan suatu kegiatan membangun pengetahuan dalam rangka menyadari struktur dunia.

    ReplyDelete
  18. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya tertarik pada kalimat "Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir."
    Namun dalam berfilsafat kita harus menentukan pola pikir kita ingin berpegang teguh kepada yang mana agar tidak terombang-ambing.

    ReplyDelete
  19. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Filsafat itu berbicara tentang olah pikir, memunculkan apa yang mungkin ada menjadi ada. mencari struktur suatu dunia, memahami dirimu sendiri. Untuk dapat melakukan itu, membaca itu harus dilakukan, agar kita dapat memahami struktur ruang dan waktu dalam filsafat. Selain itu, memiliki pikiran yang terbuka juga perlu karena sebaik-baiknya kita saat ini, masih ada yang lebih tinggi dari kita. Dan seperti yang selalu ditekankan oleh pak marsigit,berfilsafat itu adalah lahan dari bersyukur.

    ReplyDelete
  20. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dalam mengenal filsafat lebih dalam diperlukan pengkajian antara pemikiran dan pengalaman. pemikiran dan pengalaman dalam filsafat di gambarkan dalam 2 aliran filsafat yakni A priori dan A posteriori. A priori merupakan kemampuan memikirkan sesuatu walaupun belum melihat objek yang dipikirkan walaupunyang di pikirkan itu belum diketahui pastinya. Sedangkan a posteriori adalah kemampuan manusia memikirkan setelah sesuatu objek tersebut telah dialaminya diinilah kenapa aposteriori disebut sebagai pengalaman. misalnya batu sandung muncul ketika kita tersandung. Maka dari itu dalam memaknai filsafat lebih dalam diperlukan interaksi antara a priori dan a posteriori.

    ReplyDelete
  21. Suatu pengetahuan dibentuk atau dibangun dengan menngunakan perpaduan antara pengalaman dan rasio/logika. Sesuai dengan pikiran Immanuel Kant. Segala sesuatu yang ada bukan berasal dari rasio/logika saja atau pengalaman saja. Namun dari keduanya. Immanuel Kant mencoba menjadi penengah antara Descartes dan Hume atau antara rasionalisme dan empirisme. Kant mengenalkan sintetik apriori.

    ReplyDelete
  22. Empirisme ketika mengolah hasil pengamatan dilakukan secara analisis dan itu berarti menggunakan rasio atau logika. Kemudian rasionalisme ketika pengetahuannya dihasilkan tentu memerlukan bukti-bukti secara empiris. Ini menunjukkan bahwa empirisme dan rasionalisme sebenarnya saling terkait atau terhubung.

    ReplyDelete
  23. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Berfilsafat adalah mempraktikkan pikiran dan pikirkanlah pengalaman anda.hal ini berubah setiap harinya . Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Kita harus bisa menyeimbangkan antara keduanya agar tidak terjadi kesenjangan. Antara teori atau pikiran dan pengalaman sanma-sama hal yang dibutuhkan dalam filsafat dan hal yang harus ada dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  24. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya tertarik dengan pernyataan Bapak bahwa “Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika” ketika pengetahuan tanpa adanya pengalaman maka pengetahuan tersebut hanya numpang lewat dan tidak bertahan lama ketika pengetahuan itu tanpa adanya logika hanya ada pengalaman maka bsa jadi kita tidak dapat memilah pengetahuan yang masuk dan hanya pengetahuan itu itu saja yang kita tahu. Oleh karena itu dalam membangun pengetahuan diperlukan pengalaman dan logika.

    ReplyDelete
  25. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Jika kita ingin memahami filsafat maka memang benar kita harus memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi. Dengan rasa keingintahuan yang tinggi maka kita akan tertarik untuk membaca membaca dan membaca sehingga kita akan memahami tentang filsafat dan dapat juga sedikit memahami pemikiran seorang filsuf. sehingga kita paham akan alur berfikir seorang filsuf.

    ReplyDelete
  26. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Pandangan filsafat terhadap pengalaman. Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah mempraktikkan pikiran dan memikirkan pengalaman. Sebenar-benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Pikiran ada dalam analitik apriori sedangkan pengalaman ada dalam sintetik a posteriori. Dua hal yang sangat harmonis dalam hidup jika digunakan secara beriringan. Begitu dinamik irama yang terjadi setiap hari.

    ReplyDelete
  27. Ika AGustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Satu pertanyaan yang menarik perhatian saya adalah "Pentingkah sebuah pengalaman?". Menurut saya, pengalaman adalah guru yang efektif, karena dengan mempelajari pengalaman yang kita alami maupun orang lain alami, kita akan berfikir dua kali untuk melakukan hal yang sama dengan hal yang pernah dilakukan sebelumnya.

    ReplyDelete
  28. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Saya pertama kali mengenal apa itu filsafat ketika mengikuti perkuliahan filsafat. Filsafat mengajarkan kita untuk memilah segala sesuatu tidak hanya dari satu sisi saja. Kit aharus melihat dari berbagai sudut pandang, sehingga kita tidak akan menjadi orang yang pici. Dengan belajar filsafat, saya mengetahui banyak sekali istilah yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Karena saya menyukai sastra, maka ketika saya membaca tulisan-tulisan dalam blog ini yang berisi elegi-elegi, saya sangat kagum. Saya sangat berterimakasih kepada Bapak, atas ilmu yang sangat bermanfaat bagi saya dan membuka pikiran saya.

    ReplyDelete
  29. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dalam mengenal filsafat lebih dalam diperlukan pengkajian antara pemikiran dan pengalaman. pemikiran dan pengalaman dalam filsafat di gambarkan dalam 2 aliran filsafat yakni A priori dan A posteriori. A priori merupakan kemampuan memikirkan sesuatu walaupun belum melihat objek yang dipikirkan walaupunyang di pikirkan itu belum diketahui pastinya. Sedangkan a posteriori adalah kemampuan manusia memikirkan setelah sesuatu objek tersebut telah dialaminya diinilah kenapa aposteriori disebut sebagai pengalaman. misalnya batu sandung muncul ketika kita tersandung. Maka dari itu dalam memaknai filsafat lebih dalam diperlukan interaksi antara a priori dan a posteriori.

    ReplyDelete
  30. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebenar-benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Begitu juga dengan membangun pengetahuan. Jika hanya separuh logika tanpa pengalaman maka belum seutuhnya pengetahuan. Oleh karena itu, mendidik harus sejalan antara pikiran dan pengalaman, harus memfasilitasi antara pikiran dan kegiatan, agar bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan.

    ReplyDelete
  31. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    postingan ini mengingatkan saya pada saat pertama kali mengikuti kelas etnomatematika, bukan nilai doremi yang dominan didapatkan melainkan nilai 0. kejadian itu juga yang menyadarkan kami bahwa kami juga belum bisa berfilsafat pada saat itu

    ReplyDelete
  32. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    dari jawaban Pak Marsigit mengena pertanyaan bagaimana filsafat memandang sebuah pengalaman, saya setuju bahwa manusia kadang hanya memandang dari satu sisi, dan kebanyakan dari manusia hanya bergantung pada satu kesempatan saja, apabila kesempatan itu gagal dijalaninya, manusia langsung berputus asa. padahal, seharusnya manusia tidak mudah menyerah karena dengan begitu manusia akan mendapatkan lebih banyak pengalaman, karena pengalaman adlaah separuh dunia

    ReplyDelete
  33. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    berfilsafat adalah mempraktikkan pikiran dana memikirkan pengalaman. sehingga untuk membangun pengetahuan, diperlukan separuh pengalaman dan separuh logika. pengetahuan dapat membangun peradaban, sesuai dengan pendapat Francis Bacon yang mengemukakan bahwa the power of mind dapat merekayasa pikiran yang bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. jadi, peradaban adalah hasil dari the power of mind

    ReplyDelete
  34. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    setelah membaca jawaban Pak Marsigit mengenai pertanyaan terakhir yang berbunyi "bgaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan?", saya menjadi mengerti bahwa untuk menjawab pertanyaan secara filsafat, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaan itu jelas kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. karena segala sesuatu yang dapat disebut pasti memiliki sifat, sehingga dapat diketahui strukturnya. makan sebenar-benarnya dunia adalah penuh sifat. dengan demikian, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada, karena tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.

    ReplyDelete
  35. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Refleksi di atas menjadi pengetahuan tambahan bagi saya. Dunia pikir dan dunia pengalaman menjadi sangat penting bahkan Bapak juga menegaskan bahwa pengalaman adalah separuh dunia. Karena pikiran saja tidak bisa membawa kita mengenal dunia lebih jauh, tidak bisa membuat kita menguasai suatu ilmu, harus ada pengalaman dan praktik yang membuat kita bisa memahami. Dan pendidikan ada sebagai bahan pikir serta bahan pengalaman bagi pelaku yang terlibat di dalamnya. Memang kita harus bisa menyaring, pendidikan seperti apa yang harus diterapkan dalam dunia dewasa dan pendidikan yang bagaimana yang harus diterapkan dalam dunia anak-anak. Karena kita tidak bisa memaksakan anak-anak berpikir dewasa, dan begitupun kita sudah tidak semestinya berpikir layaknya anak-anak.

    ReplyDelete
  36. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Immanuel kant membahas tentang suatu kekonsistenan. Di mana pengalaman cenderung bersifat nyata, konkret, dan kontradiksi. Setiap orang mempunyai pengalamannya masing – masing. Apa yang dialami setiap orang tentunya berbeda – beda. Filsafat dalam memandang suatu hal mengajarkan untuk dapat berpikir lebih luas lagi. Apa yang para filsuf ajarkan tentunya akan dapat menambah referensi kita dalam mempelajari suatu hal dan keingintahuan kita terhadap suatu hal.

    ReplyDelete
  37. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Filsafat memang terkadang sulit untuk dipahami, karena object yang abstrak sehingga sulit unttuk memahaminya.sesungguhnya teroi dan praktik itu sangat terkait dan sangat penting. Dan sebenar benarnya hidup adalah praktik dan pengalaman. Mempraktikan apa yang ada dalam pikiran kita dan dapatkan pengalamannya atau belajar dari pengalaman yang telah dilalui,

    ReplyDelete
  38. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Belajar filsafat dengan lebih mendalam adalah hal yang perlu dilakukan ketika kita tidak puas dengan jawaban dari agama, ataupun dari tradisi kita.Setidaknya dengan mempelajari filsafat, anda bisa menemukan metode yang lebih tepat untuk memahami dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut.

    ReplyDelete
  39. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Filsafat, bukan sekedar merupakan mata kuliah. Filsafat adalah suatu tindakan, suatu aktivitas. Filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia (apa tujuan hidup, apakah Tuhan ada, bagaimana menata organisasi dan masyarakat, serta bagaimana hidup yang baik), dan mencoba menjawabnya secara rasional, kritis, dan sistematis.

    ReplyDelete
  40. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk mengenal filsafat lebih dalam, sama saja dengan mengenal kehidupan kita sendiri. Kehidupan tak lepas dari pengalaman, karena dalam hidup ini pasti menemui begitu banyak pengalaman, yang kadang menyenangkan maupun menyedihkan. Filsafat memandang pengalaman sebagai separuh dari dunia, karena begitu banyak hal yang dapat kita petik melalui setiap pengalaman yang kita lalui. Kemudian, secara filsafat kita seharusnya memandang kehidupan atau pengalaman itu tidak hanya dari satu sisi tetapi dari banyak sisi agar mendapat lebih banyak pelajaran.

    ReplyDelete
  41. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan dan pengalaman adalah dua buah hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan pengalaman seseorang akan dapat menemukan pengetahuan baru, dengan pengetahuan yang didapatkan seseorang dapat memunculkan sebuah pengalaman. Pengetahuan dapat muncul ketika sesorang menggunakan akal pikirannya untuk mendeteksi benda atau kejadian yang belum pernah dilihat ataupun dialami sebelumnya. Pengalaman akan memunculkan sebuah kebenaran baru yang disebut sebagai pengetahuan.

    ReplyDelete
  42. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  43. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keterbatasan manusia inilah yang harusnya kita syukuri sejak awal. Karena keterbatasan-keterbatasan dalam hidup kita, kita mampu menikmati hidup. Dengan adanya keterbatasan ini pula kita mampu menjalin kerje sama, karena setiap manusia tidak mampu memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Maka indahnya sebuah kekurangan dapat kita nikmati dalam berbagai cara berbeda.

    ReplyDelete
  44. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sesungguhnya sesuatu yang ideal itu itu tidak ada, hal ini pernah Pak Marsigit sampaikan dalam perkuliahan etnomatematika. Sepertinya suatu gelap, terang, dingin, panas, sejatinya itu tidak ada. Hal itu bukanlah sesuatu yang dapat kita pahami atau rasakan. Setiap individu memiliki pandangan tersendiri mengenai objek-objek disekitarnya. Namun ketika ada kesamaan dalam suatu konsep maka disitulah kita mendapati suatu isomorpisme.

    ReplyDelete
  45. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Hal ini memang benar adanya. Suatu pengetahuan tak dapat berdiri sendiri hanya berdasar sebuah pengalaman. Ataupun hanya berdasar logika saja. Sebuah pengetahuan memerlukan keduanya. Pengetahuan tanpa pengalaman hanya akan menjadi angan-angan saja tanpa ada bukti realnya. Dan ketika suatu pengalaman tanpa pengetahuan, hal ini akan berbeda dari dengan keutuhan dari pengetahuan yang terdiri dari pengalaman dan logika.

    ReplyDelete
  46. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika orang yang beragama dan orang ateis berfilsafat keduanya pasti lah akan berbeda. Namun hal ini tidak membatasi orang ateis untuk berfilsafat. Orang beragama kan meandang kan berfilsafat dengan dasar dirinya sendiri, dirinya yang meyakini bahwa Tuhan itu ada, dan kontribusi Tuhan dalam hidup itu nyata.

    ReplyDelete
  47. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berbeda dengan filsafat dari yang disampaikan orang beragama. Maka filsafat yang dilakui oleh orang ateis, akan lebih menggambarkan tentang bagaimana orang itu hidup. Bagaimana semua yang ada di dunia ini tidak ada kontribusi dari zat-zat spiritual. Hal ini menggambarkan filsafat dari diri seorang ateis.

    ReplyDelete
  48. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengalaman adalah separuh dunia, membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Berfilsafatpun mempraktikan pengalaman dan memikirkan pengalaman, yang keduanya tidak bisa terlapas satu sama lainnya karena ini kita alami setiap harinya. Pengetahuan dengan logika saja tanpa pengalaman akan menjadi angan-angan saja buat kita, begitupun sebaliknya. Jadi dengan adanya unsur pengalaman dan unsur logika akan menjadikan sebuah pengetahuan baru yang muncul dari pengalaman-pengalaman yang sudah kita alami dan juga dari pemikiran terhadap pengalaman tersebut.

    ReplyDelete
  49. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia memang tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Tetapi dengan ketidak sempurnaan itu, manusia bisa menikmati dan menjalani hidupnya. Keterbatasan melihat membuat kita bisa menikmati hidup, kita tidak akan bisa menikmati jika kita bisa melihat hal-hal yang menurut kita itu mengerikan

    ReplyDelete
  50. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Sebagai seorang guru kita juga harus mengetahui posisi anak yaitu di dunia bawah, dunia konkret, dunia pengalaman. Tetapi terkadang kita secara tidak sadar pernah memaksakan anak untuk memahami matematika layaknya seperti individu yang sudah dewasa. Banyak anak yang hanya menghafal rumus matematika tetapi tidak tahu penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka enggan/malas untuk belajar matematika.

    ReplyDelete
  51. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Tujuan filsafat seperti yang dijelaskan dalam refleksi saudari Lia adalah menyadari stuktur dunia. Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Contoh yang mungkin sudah pembaca tahu, 4 x 6 = 24, akan tetapi 4 x 6 bisa menjadi 2.500 ketika seseorang akan mencetak foto. Jadi dalam menjawab pertanyaan haruslah memperhatikan dari struktur mana yang digunakan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  52. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pengetahuan yang kita perolah adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka dalam berfilsafat adalah dengan memikirkan pengalaman dan mempraktekkan pikiran, pengalama akan mendukung kita dalam masalah yang terlihat, sedang sesuatu yang ada di pikiran akan membantu mengatasi masalah yang tidak secara langsung kita hadapi

    ReplyDelete
  53. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Mendidik bukan untuk menjadikan murid bisa seperti guru, tetapi agar murid bisa mengalami pengalamam yang seharusnya didapat sesuai umur mereka dengan dibantu atau difasilitasi oleh guru. Anak tidak hanya bisa mengamati dan dijelaskan, tetapi juga diberi pengalaman secara langsung atau dapat menyentuh contooh benda nyatanya

    ReplyDelete