Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


14 comments:

  1. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pengetahuan yang bersifat perpaduan antara rosionalis dan empiris merupakan ilmu pengetahun yang dikenal dengan pendekatan ilmiah (scientific) . Penerapannya pada kurikulum 2013 yang mana sangat popular dengan scientific approach dimana peran rasionalisme memberi sistematika pemikiran yang logis dan koheren, sedangkan empirisme dalam memastikan kebenarannya memberikan sistematika pengujiannya. Hasilnya adalah pengetahuan yang didapat ialah pengetahuan yang konsisten dan sistematis serta dapat diandalkan, karena telah diuji secara empiris.

    ReplyDelete
  2. irma ayuwanti
    IP kons p. Mat (2016)
    Assalamualaikum, Wr. Wb
    Sebelum membaca ini kemaren saya telah mendapat pengatar dari pak marsigit tentang sematik dan sintak yaitu wadah dan isi dalam skema penyusunan program kurikulum dalam mata kuliah kurikulum pendidikan matematika. Jika dilihat dari penjelasan di dalam artikel ontologi saintifik ini secara umum kurikulum 2013 merupakan penurunan Saintifisme Realis, yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran) sehingga didalamnya banyak kegiatan-kegiatan untuk memperoleh pengalaman yang mendalam. Kurikulum 2013 dalam kegiatannya sudah memiliki konsep yang lengkap karena merupakan gabungan dari kegiatan berpikir dan pengalaman yaitu kegiatan berpikir sebagai wadah dan sensasi pengalaman sebagai isi. Ontologi saintifik sudah sangat jelas digambarkan dan akan sangat baik jika hal tersebut bisa disampaikan pada para pendidik yang terjun langsung mengaplikasikan kurikulum 2013 tersebut. karena dengan memahami bagaimana ontologi saintifik ini guru bisa menerapkan praktifkpraktik pembelajaran yang dapat memaksimalkan kurikulum 2013.
    Trimakasih prof artikel ini sangat bermanfaat.
    Wassalamualaikum, Wr. Wb

    ReplyDelete
  3. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Apapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya banyak pertanyaan yang muncul. Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Objek dalam pendekatan saintifik sangat banyak sampai-sampai seorang guru bisa bingung karena belum ada pembagiannya. Jadi sebagai guru bisa menempatkan mana yang bisa dibagi atau dikelompokkan agar siswa mudah memahaminya.

    ReplyDelete
  4. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam penerapannya pembelajaran saintifik harus menumbuhkan sikap skeptis pada diri siswa sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah. Sikap skpetis akan memposisikan seorang siswa untuk berpikir dan selalu mempertanyakan sesuatu yang ia pelajari khususnya matematika. Dengan sikap ini maka siswa tersebut memiliki rasa ingin tahu dan guru dapat menanggapinya sehingga terciptalah pembelajaran saintifik didalam kelas.

    ReplyDelete
  5. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Untuk membangun pengetahuan pada dasarnya melibatkan dua unsur yaitu sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari logika pikir dan yang berasal dari logika pengalaman. Belajar pada hakikatnya melibatkan interaksi logika pikir dan logika pengalaman. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh I Kant yaitu sebenar-benar ilmu adalah bersifat sintetik a priori. Pengetahuan yang diperoleh hanya berdasarkan logika pikir dianggap belum sempurna, begitu juga pengetahuan yang diperoleh hanya berdasarkan logika pengalaman dianggap juga belum sempurna. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik juga melibatkan logika pikir dan logika pengalaman. Selain itu, dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik bertujuan untuk menumbuhkan sikap skeptis peserta didik. Sikap skeptis ini berupa sikap yang selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Artinya, dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik, misalnya pada tahap mengamati, yang paling diharapkan adalah munculnya rasa ingin tahu yang tinggi sebagai modal belajar siswa dan menimbulkan pertanyaan dari siswa.

    ReplyDelete
  6. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Ontologi membahas realitas apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir.

    ReplyDelete
  7. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Assalamualaikum wr..wb...
    Jika secara ontologi, kegiatan belajar adalah proses menembus ruang dan waktu. Kami pribadi berpendapat bahwa secara ontologi saintifik jika dikaitkan dengan pembelajaran matematika, maka pelajaran matematika pada hakikatnya ontologi matematika berusaha memahami keseluruhan dan kenyataan matematika, yaitu segala matematika yang mengada. Dalam kaitannya dengan matematika, pendekatan ontologis pada matematika adalah dengan mencari pengertian menurut akar dan dasar terdalam dari kenyataan matematika. Pendekatan ontologis digunakan untuk menerima kenyataan dalam matematika. Pendekatan ini berusaha untuk mengkaji bagaimana mencari inti dari setiap kenyataan yang ditemukan terkait matematika, membahas apa yang kita ingin ketahui tentang matematika, seberapa jauh kita ingin tahu, serta menyelidiki sifat dasar dari apa yang ada secara fundamental.
    Objek yang ditelaah dalam pendidikan matematika yang dipahami keseluruhan isinya secara konkret dan mengada dari pengalaman hidup manusia itulah Ontologi Saintifik. Sehingga konsep diri guru, konsep diri siswa, hubungan komunikasi guru ke siswa atau siswa ke guru baik secara material, formal, normatif, maupun transenden dalam proses pembelajaran dapat membentuk dan menghasilkan insan yang cerdas sesuai dengan Ruang dan Waktunya.
    Demikian sekiranya tanggapan kami, wassalam... terimakasih.

    ReplyDelete
  8. Sumandri
    16709250172
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang sarat dengan saintifik, dimana dalam kurikulum 2013 dikolaborasikan antara empiris dengan rasionalis sehingga menjadi guru-guru harus lebih keras untuk memahami pemebelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013. Dengan adanya kurikulum 2013 diharapkan nantinya guru hanya sebagai fasilitator sehingga yang aktif adalah siswa, dengan demikian siswa terlibat lansung dengan permaslahan. Seorang Filosof kenamaan dari Cina, Confucius (dalam Silberman, 2001:1) menyatakan, sebagai berikut (1) Apa yang saya dengar, saya lupa. (2) Apa yang saya lihat, saya ingat. (3) Apa yang saya kerjakan, saya pahami. Tiga pernyataan sederhana ini berbicara tentang perlunya pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered Learning), yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam semua proses pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  9. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Sebelum saya berpendapat/mengomentari mengenai ontologi saintifik, saya ingin berbagi mengenai apa itu ontologi. Menurut buku Filsafat Ilmu ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang tertua diantara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales. Atas perenungan terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu. kata ontologi berasal dari perkataan Yunani: On=being, dan Logos=logic. Jadi ontologi adalah The theory of being qua being(teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Noeng Muhadjir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan, ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan semesta pemikiran universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan.

    ReplyDelete
  10. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret serta realitas yang apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi membahas kebenaran suatu fakta. Dan Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas. Dari penjelasan di atas sudah di jelaskan bahwa secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya). Pada Kurikulum 2013, apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Dan semua memerlukan dasar pola berfikir pembahasan yang realistis.

    ReplyDelete
  11. Sebagaimana penjelasan elegi Ontologi saintifik, disini erat kaitanya dengan bagaiman kemudikan kurikulum 13 yang dikenal dengan pendekatan saintifik itu dikembangkan. Jika dilihat dari riwayat perkembanganya, pengetahuan merupakan kegiatan yang bersifat mengembangkan dan menyempurnakan. Berbekal pengetahuan, subyek yang tadinya ditak tahu menjadi tahu. Dan adanya suatu objek yang sebelumnya tidak diketahui menjadi diketahui. Pengetahuan manusis sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karenanya perlu adanya pengembangan.
    Adanya berbagai aliran filsafat yang berdasarkan pada logika pikir dan logika pengalaman maka diharapkan keduanya bisa saling melengkapi. Sehingga terbentuklah wadah (forma) dan isi (substansi) yang mendekati sempurna. Mengapa demikian? Mustahil ilmu akan berkembang hanya dengan berdasarkan pada fakta, data empiris. Semua belumlah cukup untuk menyususn pernyataan-pernyataan umum yang berlaku secara mutlak. Oleh karenanya, Empirisme dan Positivisme memberikan kelonggaran lebih luas pada masukan data empiris.

    ReplyDelete
  12. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 P.Matematika_D


    Keberadaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun matematikanya sendiri. Proses pembelajaran dalam pendekatan saintifik dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Dengan pendekatan saintifik maka siswa dapat mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilannya. Alangkah baiknya guru mengetahui ontologi saintifik sebagai jembatan untuk dapat mengaplikasikan pendekatan saintifik dalam pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete
  13. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2
    Ilmu pengetahuan adalah apa yang kita ketahui baik sifatnya abstrak dari apa yang kita pikirkan maupun yang nyata dari apa yang kita inderai (melihat, mendengar, maerasa dsb). Artinya bahwa objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Sebagaimana yang di jelaskan di atas bahwa “Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.”
    Dan saya setuju kepada pendapat Immanuel Kant yang mempertemukan antara logika berpikir dan logika pengalaman. Karena Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya. Serta pendekatan saintifik ini mencoba untuk mencari kesesuain antara logika berpikir dan sensasi pengalaman.

    ReplyDelete
  14. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari tulisan blog ini, Pembahasan mengenai ontologi membahas dari mana mendapatkan kebenaran. Sehingga ontologi memerlukan proses bagaimana realitas suatu objek tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas. hal ini sejalan dengan pendekatan saintifik yang di terapkan pada kurikulum 2013. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik juga melibatkan logika pikir dan logika pengalaman. logika Pikir dan logika Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan.

    ReplyDelete