Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


82 comments:

  1. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Kurikulum 2013 adalah sangat erat kaitannya dengan pendekatan saintifik atau kurikulum 2013 memiliki ciri khas yaitu menggunakan saintifik. Dalam bidang filsafat semua ilmu itu pasti ada ontologi, epistimologi dan aksiologi nya, ontologi adalah suatu kebenaran yang bersifat konkret. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    PPs. P.Mat C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Ontologi (Schuh & Barab) adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat yang ada dan kenyataan. Dengan kata lain, ontologi mendefinisikan apa yang ada di dunia, baik struktur fisik atau abstrak. Hal ini menarik pembelajaran dan instruksi menyatakan pilihan ontologi mereka dengan menspesifikasi apa saja yang dianggap kebenaran tentang pengetahuan, informasi dan dunia. Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat.

    Sumber: Schuh, K. L., & Barab, S. A. Philosophical Perspectives.

    ReplyDelete
  3. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan : apakah obyek ilmu yang akan ditelaah, bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan. Dapat kita katakan bahwa ontologi membahas hakekat dan objek dari suatu ilmu. Maka dari itu kali ini kita akan membahas tentang objek saintifik itu sendiri. Saya baru tahu asal muasal saintifik melalui bacaan yang ada pada blog Prof ini. Saintifik berdasar pada objek ilmu itu sendiri. Objek ilmu yaitu yang ada dan mungkin ada maka letak kedudukannya berada di dalam dan di luar pikiran manusia. Maka lahirlah aliran-aliran filsafat yang memandang hal yang berbeda tentang objek ilmu berdasarkan sudut pandang masing-masing. Aliran yang menganggap kebenaran objek yang ada di dalam pikiran yaitu idealis, rasionalis, dan skeptisis. Sedangkan aliran yang menganggap kebenaran berdadasarkan objek di luar pikiran yaitu realisme dan empirisme. Kemudian muncul ide supaya lebih baik mengapa tidak menggabungkan keduanya sehingga ada aliran Saintitisme. Jadi, objek saintifik yaitu logika dan pengalaman.

    ReplyDelete
  4. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Saintifik berdasarkan kedudukan objek ilmunya, maka saintifik ini dikategorikan sebagai realis saintifik karena berada di luar pikiran. Hal ini dikarenakan pada saat proses pembelajaran dengan langkah-langkah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan sesuai dengan konsel realis. Misalnya dalam proses mengasosiasi, maka sebenarnya siswa ini sedang mengumpulkan postulat-postulat atau teori-teori yang sesuai dengan pengalaman berpikir mereka yang akan mendukungnya dalam menemukan suatu pendapat baru. Dalam mengasosiasi tentunya siswa memiliki intuisi yang baik. Apapun dari setiap Konsep pembelajaran, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman.

    ReplyDelete
  5. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pendekatan saintifik juga tidak terlepas dari berbagai teori-teori pembelajaran yang tela digunakan seblumnya, bahkan memiliki dasar dari berbagai filsuf terkemuka. Dalam pendekatan saintifik yang sintaknya tercantum dalam kurikulum 2013 memiliki persoalan, yaitu pengamatan. Apa yang di amati? Bagaimana mengamatinya? Apa hasil pengamatannya? Semua mata pelajaran pun melakukannya tak terkecuali matematika. Pendekatan yang dianggap bisa memfasilitasi para siswa untuk mengambangkan dirinya menjadi lebih baik pada jaman saat ini.

    ReplyDelete
  6. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Keberadaan saintitisme adalah untuk menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh kare itu, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun matematikanya sendiri.

    ReplyDelete
  7. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca tulisan ini, saya lebih mengetahui tentang saintifik. Bahwa ternyata, pendekatan saintifik berawal dari adanya sikap skeptis. Dan dengan ontologi saintifik, menjelaskan bahwa pendekatan saintifik yang terdiri dari kegiatan 5M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, Menalar, dan Mengomunikasikan) memadukan antara logika pikir dan juga logika pengalaman. Sehingga, pembelajaran matematika yang didalamnya memuat hal-hal abstrak dapat dipahami oleh peserta didik, karena ilmu yang sesungguhnya memerlukan logika pikir dan logika pengalaman secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  8. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Postingan ini menambah pengetahuan saya tentang saintifik. Saya jadi tahu bahwa pendekatan saintifik ternyata didasarkan pada filsafat positivisme dan skeptisisme. Pendekatan saintifik terkait dengan logika pikir dan logika pengalaman.
    Saya juga terkesan dengan kata-kata penutup yang Prof Marsigit sampaikan bahwa secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus ruang dan waktu sehingga sebenar-benarnya orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam ruang dan waktu yang benar. Dengan kata lain, dapat bertindak secara sopan dan santun.

    ReplyDelete
  9. Dhian Arista Istikomah
    16703261016
    S3 Ilmu Pendidikan Konsentrasi Pendidikan Matematika 2016 (Mata Kuliah Kajian Kurikulum Matematika)

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Saintifik menjadi perbincangan hangat bagi kalangan guru maupun dosen LPTK sejak diberlakukannya kurikulum 2013. Bagaimana mengimplementasikannya, bagaimana mengevaluasi sepertinya masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab tuntas bagi kalangan guru. Kurikulum sejatinya memang harus berubah, karena zaman tidaklah statis, pendidikan harus mengikuti perkembangan tersebut. Berdasar yang saya alami ketika terlibat dalam suatu diskusi dengan kepala sekolah kaitannya dengan implementasi kurikulum, pemerintah dirasa telah berupaya maksimal dalam penerapan kurikulum 2013 yang membawa bendera saintifik ini. Namun entah di bagian mana yang belum memadai sehingga banyak terdapat kesulitan guru dalam mengimpelemntasikannya.
    Membaca tulisan di blog Bapak Prof Dr. Marsigit memberikan pengetahuan terhadap apa sejatinya saintifik. Bahwa saintifik adalah berawal dari pragmatism, bahwa adanya ketidakpercayaan terhadap sesuatu apabila belum ada buktinya. Dalam tulisan diatas disampaikan bahwa ada saintifik idealis dan saintifik realis. Tentang saintifik realis telah dijelaskan diatas, namun jika saintifik idealis, bagaimana?
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  10. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca postingan ini, saya menjadi tahu bahwa pendekatan saintifik ternyata diawali dari adanya sikap skeptis yang mana sikap ini mendasarkan pada adanya bukti yang kuat atau ilmiah tentang suatu klaim. Hal tersebut berarti bahwa percaya karena adanya bukti yang ilmiah dan bukan asal sekedar yakin atau percaya. Mengacu pada uraian di atas, dalam pendekatan saintifik yang diterapkan dalam pembelajaran kurikulum 2013 lebih kepada saintisme realis yaitu objek-objek yang dapat diamati. Dalam aplikasinya di kegiatan pembelajaran di kelas terutama pada mata pelajaran matematika kegiatan mengamati sering menjadi hal yang sulit diterapkan atau disajikan, hal ini dikarenakan objek matematika itu sendiri ada yang kongkrit (SD, SMP) dan abstrak (SMA).

    Pendekatan saintifik diharapkan akan mampu mengarahkan siswa menemukan pengetahuan dari kegiatan pada sintak-sintaknya (siswa menemukan,ada kegiatan ilmiah, bukan sekedar percaya), juga melalui pengalaman yang dilaluinya. Sebab ilmu pengetahuan selain berasal dari logika pikir juga berasal dari logika pengalaman.

    ReplyDelete
  11. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Kelompok Skeptis berpendapat bahwa, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah. Sehingga untuk mengetahui benar dan salah dar dari apa yang berada dikitar kita adalah dengan menggunakan Logika pikir. sehingga dalam menggunakan sintak pendekatan saintifik, Misalnya dalam proses mengasosiasi maka siswa akan mengumpulkan postulat-postulat atau teori-teori yang sesuai dengan pengalaman berpikir mereka yang akan mendukungnya dalam menemukan suatu pendapat baru.

    ReplyDelete
  12. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Keberadaan saintitisme adalah untuk menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh kare itu, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun matematikanya sendiri

    ReplyDelete
  13. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Yang dapat saya simpulkan adalah pendekatan saintifik yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 ini tidaklah mewakili saintifisme yang sebenarnya. Untuk menggapai pengetahuan, kita harus berpikir ekstensif dan intensif. Langkah-langkah dalam pembelajaran saintifik meliputi mengamati, menanya, mencoba, menalar kemudian mempresentasikan diharapkan mampu memperoleh dan membentuk pengetahuannya yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya. Ilmu yang diperoleh melalui tahapan mencoba juga berasal dari pengalamannya yangbersifat sintetik a posteriori.

    ReplyDelete
  14. Dheanisa Prachma Maharani
    1301241037
    Pend. Matematika A 2014

    Postingan ini sangat bermanfaat bagi calon guru untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Dengan membaca postingan ini saya menjadi tahu bahwa pendekatan Saintifik bermula dari Skeptifime Ilmiah yang akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti yang kuat. Filsafat Skeptifisme ini mendasari aliran Saintisme. Dimana aliran Saintisme merupakan penggabungan dari objek ilmu yang berada di dalam pikiran dan objek ilmu yang berada di luar pikiran.

    Terdapat 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifime Ideal dan Saintifisme Realis. Deangan membaca postingan ini, saya menjadi tahu bahwa ternyata Pendekatan Saintifik yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 adalah pendekata yang diturunkan dari Saintifisme Realis, yaitu objek-objek yang teramati (benda konkrit).

    Guru matematika merasa kesulitan dan bingung ketika menggunakan Pendekatan Saintifik, karena belum dibedakannya Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SD dan SMP , guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda konkrit.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  15. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Setelah membaca post Prof Marsigit tentang ontologi saintifik ini saya menjadi tau bahwa ternyata filsafat yang mendasari pendekatan saintifik adalah filsafat positivisme dan filsafat skeptisisme. Pendekatan saintifik ternyata juga memadukan logika pikir dan logika pengalaman dalam pelaksanaannya. Hal yaang juga baru saya tau dari membaca post ini adalah saintifisme dibedakan menjadi 2: yaitu saintifisme realis dan saintifisme idealis, yang mana pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 diturunkan dari saintifisme realis.

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  17. Aditya Raenda A
    143012241036
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Sikap skeptis adalah unsur dasar dari pendekatan saintifk karena sikap skeptis akan memposisikan seseorang untuk mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Dikenyataannya masih banyak guru Matematika yang mengalami kebingungan dalam menerapkan pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 merupakan pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati.

    ReplyDelete
  18. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan postingan tersebut, terdapat dua macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Sedangkan, untuk pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013 sebenarnya diturunkan dari Saintifisme Realis, yaitu untuk objek-objek yang berada di luar pikiran (benda konkrit). Namun, (mungkin) karena belum memadainya pengetahuan tentang pendekatan saintifik, masih banyak guru yang merasa kesulitan untuk mengimplementasikannya pada pembelajaran, khususnya guru Matematika. Berbeda dengan guru SD atau awal SMP yang sudah jelas objek observasinya adalah benda konkrit.
    Lalu bagaimana? Dengan ontologi saintifik yang dijelaskan di atas pula, pendekatan saintifik memadukan antara logika pikir dan pengalaman. Sehingga, Matematika dengan objek abstrak dapat lebih mudah dipahami jika memadukan dua logika tersebut. Yaitu, pada proses observasi siswa mampu menghubungkan teori yang diamati dengan pengalaman berpikir atau pengetahuan yang dimiliki sehingga tercipta konsep baru.

    ReplyDelete
  19. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Postingan di atas membuat saya lebih tahu akan banyak hal. Ternyata saintifisme didasari oleh filsafat positivisme dan skeptisisme. Selain itu selama ini yang saya kira objek ilmu itu hanyalah apa yang ada diluar kita. Akan tetapi setelah membaca postingan ini saya sadar bahwa objek ilmu itu dapat berada di dalam pikiran kita maupun di luar pikiran kita. Sehingga muncullah saintifisme ideal dan santifisme realis. Namun selama ini dalam pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 hanya diturunkan dari santifisme realis saja, yaitu pada objek-objek yang teramati.

    ReplyDelete
  20. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tulisan ini menambah wawasan khususnya bagi saya pribadi mengenai pendekatan saintifik yang sudah familiar di ranah pendidikan belakangan ini. Namun kali ini berbeda, tulisan ini bukan hanya mengkaji tentang saintifik dan 5M-nya melainkan juga tentang akar dan basis dari saintifik, yakni sikap skeptis sebagai unsur dasar skeptisisme ilmiah (pendekatan saintifik) yang akan membuat seseorang selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat dan filsafat positivisme.
    Pembentukan pengetahuan ialah mengaitkan logika pikir dan logika pengalaman, dimana sebenar-benarnya ilmu bersifat sintetik a priori. Unsur dasar titik temu antara logika pikir dan logika pengalaman yakni potensi pikir pengalaman atau intuisi; intuisi pikir dan intuisi empirik (pengalaman), yang sudah terbawa sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi. Itulah mengapa secara filosofis dimungkinankan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sedangkan pendekatan saintifik diturunkan dari saintifisme realis, yakni untuk objek-objek yang teramati.
    Belum adanya pembeda antara saintifik ideal dengan saintifik realis memang dapat membuat guru matematika sekolah khususnya SMA merasa gamang karena objek observasinya bukan lagi benda kongkrit seperti pada SMP atau SD. Sehingga pada pendekatan saintifik yang sintaknya sesuai Kurikulum 2013, komponen utama dalam ontologi observasi yaitu abstraksi dan idealisasi.

    ReplyDelete
  21. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Menurut Immanuel Kant pengetahuan berasal dari tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis. Objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Objek pengalaman bersifat kontradiksi ontologi yaitu berada dalam ruang dan waktu, saling berhubungan dan berlaku hukum sebab akibat. Pendekatan saintifik atau dapat disebut sebagai saintigik realis menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda yang ada disekitar siswa dengan harapan agar anak-anak dapat menggunakan logika penalaran sesuai apa yang biasa mereka lakukan dalam kehidupan sehari-harinya.

    ReplyDelete
  22. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ontology saintifik berada pada aliran saintisisme. Dimana pada aliran saintisisme terdiri dari dua aliran besar yaitu aliran positivisme dan skeptisisme. Kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual. Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  23. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ontologi saintifik melalui mengamati, menanya, mengasosiasi/menalar, menyampaikan dan berbagi adalah kesesuaian antara aksioma atau pastulat pikir dan dikatakan sensasi pengalaman jika memenuhi untuk hukum sebab-akbiat. Selain itu ontologi saintifik juga dapat dikatakan sebagai kegiatan belajar seseorang yang dalam dimensinya berusaha menembus ruang dan waktu untuk mencapai logos.

    ReplyDelete
  24. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Ontologi merupakan cabang dari studi filsafat yang berusaha menanyakan dan menjawab mengenai hakikat segala sesuatu. Sehingga judul tulisan ini berusaha untuk mengungkap hakikat dari saintifik. Dari tulisan ini saya memahami pandangan pak Marsigit mengenai hakikat saintifik, yaitu sebagai skeptisme ilmiah terhadap sebuah gejala atau fenomena. Hasil dari skeptisme tersebut diharapkan menghasilkan ilmu sains, dan yang mengalami dan melakukannya diharapkan mendapatkan pengalaman ilmu sains. Namun dalam praktiknya yaitu dalam kurikulum 2013, pendekatan saintifik diturunkan dari saintifis relais karena mengamati objek-objek yang berada di luar pikiran. Jika demikian, pendekatan saintifik yang ada saat ini cenderung ke filsafat Aristoteles. Hal ini baru setengah dari idealnya pendekatan saintifik secara ontologis.

    ReplyDelete
  25. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Saintifik juga berperan menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang tingkat pendidikannya belum bisa mengkonstruk suatu hal yang abstrak. Oleh karenanya, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  26. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan aliran Idealis-Rasionalis-Skeptisism dan aliran realism-empirirsisme. Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

    ReplyDelete
  27. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca postingan dari Bapak, saya menjadi lebih tahu mengenai saintifik. Yang pertama saya jadi tahu bahwa pendekatan saintifik didasarkan pada filsafat positivisme dan skeptisisme. Selain itu, pendidikan saintifik yang diterapkan dalam kurikulum 2013 mengombinasikan antara logika berpikir dan logika pengalaman siswa dalam menemukan suatu konsep.

    ReplyDelete
  28. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti yang tertulis di atas saintifik dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Hal ini mengindikasikan bahwa kita sebagai seorang yang beragama harus menempatkan saintifik pada tempatnya ( dalam bahasa jawa disebut empan papan). Hal ini dikarenakan jangan sampai saintifik mengalahkan benteng religi kita sebagai umat beragama. Terdapat hal-hal yang tidak dapat disaintifikkan dan cukup iman dan hati kita yang menembusnya.

    ReplyDelete
  29. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tulisan Bapak, saya menjadi tahu bahwa pendekatan saintifik menggunakan logika pikir dan logika pengalaman. Kemdudian Pendekatan Saintifik mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme.

    ReplyDelete
  30. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Dasar saintifik adalah penggunaan logika. Perlu digarisbawahi, tidak selalu kita harus menggunakan logika. Apabila kita menggunakan logika secara berlebihan, maka kita akan menjadi sosok yang egois, hati nurani kita akan tertutup, atau bahkan tidak percaya akan adanya Tuhan. Karenanya penting sekali menyeimbangkan logika dan perasaan.

    ReplyDelete
  31. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Pendidikan Matematika 2013

    Artikel ini banyak memberikan saya informasi mengenai pendekatan saintifik. Dalam akhir artikel ini juga terdapat kalimat yang sangat penting mengenai orang cerdas yang juga memiliki sopan santun.
    "Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun)."

    ReplyDelete
  32. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik sedang di sosialisikan pada berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. pendekatan saintifik ini merupakan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat dengan aktif mengkonstruk pengetahuannya sendiri. pada pendekatan saintifik menggunakan logika berpikir dan pengalaman

    ReplyDelete
  33. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Ontology merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas tentang hakekat suatu ilmu. Dalam postingan ini dibahas onlotogi saintifik yang merupakan pendekatan kurikulum saat ini. meskipun saintifik ada 2 macam, saintifik realis dan saintifik idealis, pendekatan saintifik yang ada dalam kurikulum 2013 adalah saintifik realis. Itulah mengapa pembelajaran di sekolah menuntut adanya 5 m karena siswa harus mengamati, merasakan sendiri mengkonstruk ilmu sehingga ilmu tersebut lebih bermakna dan maknanya tertanam dalam pikiran mereka.

    ReplyDelete
  34. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Objek pengalaman memiliki 3 sifat: berada dalam ruang dan waktu, saling berhubungan dan memilki hubungan sebab akibat. Saat dilakukan kegiatan 5 m dalam pendekatan saintifik diharapkan seseorang mampu mengambil keputusan yang benar sesuai dengan ilmu yang telah diperolehnya. Dengan demikian, murid diperlengkapi untuk menghadapi masa depannya dan tidak mudah terombang-ambing saat menghadapi masalah saat berbaur dengan masyarakat sekitarnya.

    ReplyDelete
  35. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari paparan di atas, kita mengetahui bahwa saintifisme ada 2 macam, yaitu saintifisme realis dan saintifisme ideal. Pendekatan saintifik yang sedang dikembangkan pada kurikulum 2013 termasuk saintifisme realis, yang berarti semua kegiatan saintifik didalamnya berhubungan dengan hal yang dapat diamati; apa yang diamati, bagaimana cara mengamati, dan apa yang diperoleh dari kegiatan mengamati tersebut. Hal ini akhirnya pun menimbulkan sensasi pengalaman kepada siswa, sebagai bekal dalam mengasosiasi, sehingga terbentuklah ilmu pengetahuan

    ReplyDelete
  36. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ilmu pengetahuan merupakan hasil berkembangnya konsep, dimana konsep terdiri dari Forma (wadah) dan Substansi (isi). Forma sebagai kegiatan berpikir, sedangkan Substansi sebagai sensasi pengalaman. Seseorang yang telah mendapat ilmu pengetahuan menggunakannya untuk menilai kebijakan yang akan ditempuh, dapat mengevaluasi perbuatannya sendiri. Akan lebih bijaksana apabila orang tidak hanya punya ilmu saja, melainkan masuk ke dalam tahap cerdas, dimana seseorang belajar menembus ruang dan waktu

    ReplyDelete
  37. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Kesimpulan saya dari bacaan ini adalah, pada hakikatnya pendekatan saintifik terbentuk dari saintifik ideal dan saintifik realist. Pada penerapan kurikulum 2013 yang diterapkan adalah saintifik realist yaitu saintifik yang obyeknya hanya ada diluar pikiran tidak mencakup didalam pikiran atau ideal. Menurut Immanuel Kant bahwa manusia dikatakan menyadari sesuatu jika memiliki dua unsur yaitu intuisi pikir dan intuisi pengalaman. Jadi dalam mebentuk suatu pendekatan pembelajaran diharapkan mampu mengembangkan kedua unsur tersebut. Segala sesuatu dudunia ini tidak ada yang sempurna, untuk mencapai kesempurnaan itu diharapkan pelaku pendidikan dapat mencari solusi bersama-sama dalam rangka penyempurnaan metode pembelajaran. Misalnya pendekatan saintifik pada kurikulum 2013. harapan saya, semoga para pendidik mampu menganalisa pendekatan-pendekatan pembelajaran yang digunakan atau diterapkan pada suatu kurikulum sehingga pembelajaran di abad 21 ini mampu berkembang sesuai dengan harapan bangsa.

    ReplyDelete
  38. Saitifik lebih menekankan pada objek pembelajaran yang dapat teramati olah indra. Hal ini karena pada usia sekolah menurut piaget siswa berada pada taraf operasional kongkrit. Sedang untuk objek yang berada dialam pikir diteruskan dari objek yang teramati oleh indra. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika peralihan objek yang dari luar pikiran atau yang teramati oleh indra menjadi objek pikiran. Siswa tidak bisa memikirkan objek pikir tetapi dapat memahami objek diluar pikir. Ketika abstraksi maka harus ditekankan bahwa siswa dapat memahaminya.

    ReplyDelete
  39. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    sebenarnya saya juga msih bingung dengan maksud dari mengasosiasi, apakah mengasosiasi merupakan penerapan dari apa yang telah kita temukan di awal kemudian kita mengerjakan sejenis latihan soal untuk menambah pemahamn kita tentang konsep yang telah kita temukan di awal. tetapi apakah mengasosiasi sebatas menjawab pertanyaan mengenai konsep yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete
  40. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Ontologi adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang memperlajari tentang objek-objek ilmu. Ontologi saintifik berarti ilmu yang mempelajari objek-objek ilmu saintifik, sehingga banyak yang dibahas dalam tulisan tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  41. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Objek ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang ada atau sesuatu yang mungkin ada. Dalam ilmu saintifik sendiri lebih digunakan objek yang dapat diamati dan dieksplorasi langsung ole siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  42. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Dalam tulisan tersebut saya tertarik dengan aliran aliran yang ada. Aliran yang bisa dibilang bertolak belakang namun tetap memiliki objek ilmu yang sama, yaitu ilmu pengetahuan. Aliran tersebut akan membantu seseorang dalam memahami orang lain dan memahami dirinya sendiri dalam melihat suatu ilmu pengetahuan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  43. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ontologi saintifik adalah hakekat dari metode saintifik sendiri. Saintifik dibedakan menjadi dua yaitu saintifik realis dan saintifik idealis, pendekatan saintifik yang ada dalam kurikulum 2013 adalah saintifik realis. Saintifik realis ini lebih menekankan kehidupan nyata dan kebermaknaan pembelajaran.

    ReplyDelete
  44. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    inti dari pendekatan saintifik yang kita kenal pada kurikulum 2013 memiliki lima sintak dalam proses pembelajarannya, yaitu mengamati/observasi, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, menyimpulkan. Pada hakikatnya sintak-sintak dari pendekatan saintifik tersebut ingin menjadikan subjek belajar mampu menemukan sendiri dan memahami konsep yang mereka pelajari. Dan juga agar subjek belajar mampu menembus dan berada pada ruang dan waktu yang benar. dengan menggunakan pendekatan saintifik, maka usaha untuk mewujudkan pendidikan yang berasakan kompetensi sedikit banya akan terwujud.

    ReplyDelete
  45. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ilmu adalah keseluruhan objek baik dalam pikiran ataupun tidak serta baik yang ada maupun tidak ada. Kebenaran ilmu yang berasal dari dalam pikiran akan menciptakan filsafat idealis, Rasionalis dan Skeptism. Sedangkan kebenaran yang berasal dari luar akan mencipta filsafat Realisme dan Empirism

    ReplyDelete
  46. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendekatan saintifik menggabungkan dua aliran yakni berdasrkan aliran Positivisme dan Skeptisme. Dimana aliran tersebut menolak aspek non-ilmiah khususnya religiusitas dan humaniora. Padahal dalam praktiknya sendiri aspek non-ilmiah akan selalu muncul.

    ReplyDelete
  47. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Persepsi mengenai suatu hal itu benar dan salah dahulu pernah disinggung dalam mata kuliah sosiologi dan antropologi serta ilmu sosial budaya. Pada umumnya suatu hal itu dikatakan benar dalam suatu kelompok masyarakat ketika pada umumnya hal tersebut melekat dalam sosial masyarakat, begitupun sebaliknya.

    ReplyDelete
  48. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Aliran skeptisme percaya bahwa manusia tidak benar-benar mengetahui mengenai suatu hal itu benar ataupun salah. Manusia hanya mampu berpersepsi mengenai suatu yang benar dan salah.

    ReplyDelete
  49. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dari artikel di atas didapat bahwa pengetahuan itu berasal dari tesis dan anti-tesis yang berasal dari logika pemikiran serta pengalaman. Ini dapat diartika bahwa dalam proses pembetukan pengetahuan dalam diri seseorang harus mempertimbangkan logika pikir dan pengalaman. Ibaratnya logika berpikir dapat diartikan sebagai suatu hipotesis pengetahuan dan pengalaman merupakan proses praktik (mengumpulkan informasi). Ketika logika berpikir dan pengalaman bersinergi (mengasosiasi) maka terciptalah suatu pengetahuan baru dalam diri seseorang

    ReplyDelete
  50. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Pendekatan Saintifik merupakan suatu aliran Skeptisme Ilmiah. Skeptisme Ilmiah ini terhadap suatu yang memiliki bukti yang tidak menguatkan akan selalu dipertanyakan kebenarannya. Hal ini sejalan dengan proses sintaks Saintifik, dimana kegiatan menanya disini sebagai hipotesis sementara untuk kemudian mengumpulkan informasi dilanjutkan mengasosiasi dan kemudian mengomunikasikannya.

    ReplyDelete
  51. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Saya setuju dengan pendapat bapak Prof . Marsigit bahwa logika pikir dan logika pengalaman memiliki hubungan yang linear. Seperti interpretasi saya sebelumnya terhadap terbentuknya pengetahuan dimana logika pikiran diibaratkan sebagai suatu proses pembentukan hipotesis pengetahuan dan logika pengalaman sebagai proses mengumpulkan informasi. Jadi ketika proses pembetukan pengetahuan hanya mengandalkan logika berpikir ataupun logika pengalaman saja itu belum memenuhi syarat untuk mengasosiasinya menjadi suatu pengetahuan. Sehingga logika berpikir dan pengalaman ini harus tercapai ketika proes pembentukan pengetahuan.

    ReplyDelete
  52. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Intuisi berpikir dan empirik mulai berkembang sejak manusai lahir. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangannya adalah kondisi lingkungan sosial dimana manusia itu tumbuh . Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat bapak Prof. Marsigit pada artikel ini bahwasannya sebagai calon edukatonis (guru) mampu mempengaruhi siswa-siswa dalam membentuk intuisi mereka dengan mempraktikan berbagai macam teori belajar

    ReplyDelete
  53. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Matematika murni digolongkan sebagai matematika orang dewasa (matematika kongkret) dan bersifat konsisten. Dan matematika murni ini tidak cocok untuk diberikan kepada anak-anak. Adapun seperti yang pernah disampaikan pak Prof. Marsigit dalam kuliahnya bahwa pembelajaran matematika yang ada di sekolah SD masih berupa contoh-contoh baru pada tahapan SMP mulai bergeser sedikit demi sedikit begitupun pada jenjang berikutnya. Subtansi yang diajarkan disetiap jenjang sama yang membedakan hanya kedalaman dan keluasan materi serta pendekatan yang digunakan.

    ReplyDelete
  54. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dalam artikel ini dibahas mengenai Saintifism Realis dan Saintifis Ideal. Dimana Saintifis Realis ini menggunakan benda-benda kongkrit sebagai objek pengalamannya dan pendekatan saintifis realis ini sangat cocok diterapkan untuk kelas dasar seperti SD dan SMP

    ReplyDelete
  55. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Artikel ini juga menekankan bahwa dalam kegiatan mengamati harus disesuaikan dengan materi serta konteks matematika. Jadi guru juga berperan penting dalam kegiatan mengamati ini bagaimana mengarahkan agar siswa dapat mengamati hal-hal yang esensial sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika itu sendiri

    ReplyDelete
  56. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Artikel ini membahas mengenai definisi kegiatan mengasosiasi secara ontologis pada pendekatan saintifik yakni singkronisasi atau penyesuaian antara postulat pikir (teori) dengan pengalaman .

    ReplyDelete
  57. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Salah satu kesulitan yang dibahas pada pendekatan saintifik di artikel ini adalah mengenai kegaitan mengasosiasi. Secara umum ketika seseorang telah melalui tahap mengamati kemudian menanya lalu mengumpulkan informasi tahap selanjutnya adalah mengasosiasi. Kesulitan yang biasa dihadapi oleh observer dalam tulisan ini adalah menyesuasikan tentang apa yang diamati (pengalaman) dengan hipotesis ( postulat pemikiran).

    ReplyDelete
  58. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Yang saya sukai dalam artikel ini adalah pesan terakhir yang bapak Prof. Marsigit sampaikan di akhir artikel. Beliau berpesan bahwa sebaik-baiknya orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Sopan santun). Saya mengambil simpulan bahwa menjadi orang cerdas tidak hanya mengenai intelektual saja akan tetapi orang cerdas haruslah tahu nilai attitude dan tata krama yang sopan dan santun.

    ReplyDelete
  59. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ontologi adalah cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang hakikat ilmu pengetahuan. Pendekatan Sanitifik yang saat ini sudah tidak asing di Kurikulum 2013 merupakan pendekatan yang diturunkan dari ilmu Saintifisme Realis. Dimana objeknya berada di luar pikir atau dapat diamati. Sehingga dalam pembelajaran kurikulum 2013 dengan pendekatan Saintifik ini dituntut untuk banyak mengamati objek-objek yang berkaitan dengan pembelajaran. Pada pembelajaran matematika, para siswa dituntut untuk dapat mengamati fenomena matematika yang ada disekitarnya untuk menurunkan suatu konsep pembelajaran.

    ReplyDelete
  60. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Ontologi adalah salah satu kajian dari filsafat. Pembahasan mengenai ontologi menandung makna yang berkaitan dengan kebenaran suatu fakta. Ontologi saintifik adalah salah satu ontologi yang menerapkan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan langkah-langkah pembelajaran yang baru diterapkan dalam kurikulum 2013. Langkah pembelajaran dalam pendekatan saintifik dimulai dengan mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi/mengolah informasi dan mengkomunikasikan. Mempelajari ontologi sangat bermanfaat, karena dapat menambah pengetahuan guru mengenai bagaimana harus bersikap terhadap siswanya serta bagaimana harus bersikap terhadap masyarakat yang memiliki sifat dan sudut pandang berbeda.

    ReplyDelete
  61. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pembelajaran matematika kini mengacu pada kurikulum 2013. Secara khusus pembelajaran berbasis kompetensi dalam kurikulum 2013 harus memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah pembelajaran perlu ditekankan pada masalah-masalah aktual yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada (Mulyasa, 2014:109).salah satu pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan nyata adalah pendekatan matematika realistik. Pendidikan matematika realistik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang berasal dari Belanda (Wijaya, 2012:20). Menurut Karunia Eka Lestari (2015) pendidikan matematika realistik adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa terlebih dahulu sebagai titik awal pembelajaran.

    ReplyDelete
  62. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Karakteristik pendidikan matematika realistik:
    • Penggunaan konteks
    • Penggunaan model untuk matematisasi progresif
    • Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
    • Interaktivitas
    • Keterkaitan
    Treffers (Wijaya, 2012: 21-22).

    ReplyDelete
  63. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Seperti yang telah diungkapkan bahwa dalam pembelajaran dengan kurikulum 2013 dengan saintifik maka diutamakan menggunakan kehidupan nyata sebagai dasar pembelajarannya. salah satunya dengan matematika realistik.
    berikut prinsip prinsip pembelajaran realistik menurut Suherman (2003):
    a. didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks
    b. perhatian diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema dan sebuah simbol
    c. siswa aktif
    d. interaksi sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika
    e. membuat jalinan antar topik atau antar pokok bahasan.

    ReplyDelete
  64. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Saintitisme merupakan penyelarasan antara objek yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh karena itu, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun konsep matematikanya sendiri.

    ReplyDelete
  65. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu kalimat yang menarik perhatian saya adalah "Kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun)". Inilah yang harus kita cermati dan resapi dengan baik, bahwasannya kita harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kita berada, baik untuk menuntut ilmu ataupun kegiatan lainnya.

    ReplyDelete
  66. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, pendekatan saintifik didasarkan pada sikap skeptis, kemudian pendekatan saintifik ini merupakan pendekatan ilmiah yang realis, dalam pembelajarannya menggunakan logka berpikir siswa serta pengalaman siswa.

    ReplyDelete
  67. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Ontologi berarti hakikat. Apa hakikat saintifik? Saintifik sebenarnya merupakan sebuah paham yang berpandangan bahwa ilmu itu harus dibuktikan kebenarannya secara empiris atau secara nyata dengan metode ilmiah. Jika fanatik dengan hakikat saintifik, akan sangat berbahaya bagi Indonesia yang menjunjung tinggi asas ketuhanan, karena tidak semua ilmu Tuhan itu dapat dibuktikan secara ilmiah, terkadang kita hanya harus menerimanya. Namun, di Indonesia, saintifk merupakan sebuah pendekatan baru dalam bidang pendidikan yang terkenal dengan 5M nya.

    ReplyDelete
  68. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Prof. Marsigit dalam perkuliahannya maupun dalam postingan di blog ini selalu mengatakan bahwa objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Jauh sebelumnya saat pertama kali mendengar hal itu, jujur saya bingung dan tidak tau apa maksudnya. Namun, setelah sampai saat ini saya mulai memahami dan menafsirkan bahwa objek yang ada dan yang mungkin ada inilah berupa pikiran atau logika berpikir dan pengalaman. Oleh karena itu, memang benar jika dalam mengkonstruksi pengetahuan atau ilmu, siswa harus secara aktif dan mengalami sensasi dari dua hal itu. Secara aktif berpikir dan secara aktif mengalami kegiatan pembelajaran. Itulah sebenar-benar guru yang memfasilitasi siswa, bukan menggurui atau mendewai.

    ReplyDelete
  69. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika mempunyai banyak pengertian sesuai dengan pandangan seseorang terhadapnya. Ada matematika murni yang bersifat tautologis yaitu nilai kebenaran yang konsisten. Objek kajian dalam matematika murni bersifat formal dan ditujukan untuk orang dewasa. Berbeda dengan matematika sekolah yang menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda konkrit sebagai objek kajiannya dan ditujukan untuk anak-anak. Inilah yang seharusnya ada disekolah, yaitu matematika sekolah. Oleh karena itu, guru harus dapat memfasilitasi siswa secara logika dan pengalaman, salah satunya dengan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  70. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pendekatan saintifik, memfasilitasi pengalaman tidak cukup hanya dengan mengamati fenomena yang ada di dalam buku teks. Oleh karena itu, guru juga harus dapat membedakan yang mana saintifik ideal dan saintifik realis. Mengobservasi objek pengalaman pun disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa, baik SD, SMP, maupun SMA.

    ReplyDelete
  71. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik merupakan sebuah inovasi yang beberapa tahun ini sedang dicanangkan pemerintah Indonesia. Dengan adanya ontologi saintifik ini sangat bermanfaat dan membantu saya sebagai calon guru untuk memahami seluk beluk pendekatan saintifik. Terimakasih kepada Prof. Marsigit yang telah memberikan ilmunya kepada kami para mahasiswa. Semoga kami dapat menggunakan ilmu ini dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  72. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Ontologi memandang suatu hal dari hakekatnya. Ontologi dalam saintifik juga menkaji tentang dasar atau hakekat dari saintifik. Dalam artikel diatas dijelaskan tentang metode positive sebagai salah satu akar dan basis saintifisme dan saintifik. Maka bagaimana pandangan setiap orang mengenai suatu hal tentu juga berbeda – beda tergantung dari sudut pandang masing – masing. Metode yang digunakan dalam pendekatan saintifik disesuaikan dengan materi yang diajarkan dan karakteristik siswa agar siswa dapat mengoptimalkan pengetahuannya dalam belajar.

    ReplyDelete
  73. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Adanya pendekatan saintifik juga dikarenakan adanya landasan dan dasar pemikiran sebelum sebelumnya. Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada.adanya pendekatan saintifik dikarenakan adanya sikap skeptic, dan dijelaskan bahwa pendekatan saintifik terdapat 5 aspek , yaitu mengamati, menanya, mencoba, mengassiasi dan mengkomunikasikan. Dari hal itu maka siswa akan menggunakan logika pikiran dan logika pengalamannya.

    ReplyDelete
  74. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Ontologi sains membahas tentang hakekat dan struktur sains. Dan hakikat sains menjawab pertanyaan apa sains itu sebenarnya, dan struktur sains menjelaskan tentang cabang-cabang sains.

    ReplyDelete
  75. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Pada pembelajaran hakikat sains ini ada dua pengetahuan yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan empiris. Yang pertama masalah rasional. Jika kita meneliti suatu kejadian dan memberikan suatu kesimpulan sementara atau hipotesis dan hipotesis itu harus berdasarkan rasional dan penelitian itu harus berdasarkan rasional dan penelitian ini berdasarkan sebab akibat. Pembelajaran diharapkan berhasil dan mencapai tujuan dengan menggunakan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  76. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Berarti ontologi saintifik membahas tentang keberadaan pendekatan saintifik karena pendekatan saintifik telah konkret adanya menjadi pendekatan yang disarankan oleh pemerintah untuk dilaksanakan pada pembelajaran di kelas. Dari tulisan di atas, didapay bahwa terdapat dua macam Saintifisme yang dikemukakan oleh para ahli yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Kedua macam Saintifisme tersebut harus dipahami dengan baik oleh guru matematika. Guru matematika di sekolah jangan sampai menganggap siswa dapat memahami Saintifisme Ideal yaitu dengan meminta siswa mengamati apa yang tertulis di buku teks, untuk siswa SD dan SMP yang seharusnya dilakukan adalah mengamati dari benda-benda konkrit yang ada di sekitar, dan ini yang disebut Saintifisme Realis. Jadi, setiap guru matematika haruslah dapat menempatkan kedua macam Saintifisme tersebut dalam tempat yang tepat.

    ReplyDelete
  77. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    secara umum, pendekatan saintifik juga tidak terlepas dari letak kedudukan objek ilmu yang berada didalam dasa dasar teori pembelajaran antara objek benda pikir yang berada didalam pikiran kita dan yang ada diluar pemikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima oleh siswa.

    ReplyDelete
  78. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Keberadaan pendekatan saintifik digunakan untuk menyelaraskan pemikiran antara objek benda pikir yang sebenarnya untuk menggapai pengetahuan, kita harus berpikir secara ekstensif dan intensif dalam mengambil langkh langkah saintifik yang meliputi mengamati, menanya dan mencoba agar bisa diakui kebenarannya.

    ReplyDelete
  79. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Sikap skeptis bahwa manusia tak dapat mengetahui dengan pasti kebenarannya akan memposisikan seseorang untuk mempertanyakan klaim yang kurang secara empiris sehingga akan susah mendapatkan suatu pendapat yang baru.

    ReplyDelete
  80. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dasar saintifik adalah penggunaan logika dan secara ontologis kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus ruang dan waktu tapi itupun tidak bisa dilogika secara berlebihan yang kita akan bisa menjadi sosok yang egois tanpa menyeimbangkan logika dan perasaan.

    ReplyDelete
  81. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ontologi membahas mengenai realitas atau entitas dengan apa adanya yang artinya ontologi membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran suatu fakta tersebut maka digunakannlah pola pikir dan akal budi manusia. Ontologi saintifik berarti membahas mengenai kebenaran dari pembelajaran saintifik., hakikat serta stuktur dari pendekatan saintifik. Hakikat yang dijelaskan bisa berupa definisi, pengertian ataupun konsep dari pembelajaran saintifik. Struktur yang dijelaskan bisa berupa bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan agar tercipta proses pembelajaran saintifik.

    ReplyDelete
  82. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Masih dijumpai guru yang belum mahir menggunakan pendekatan saintifik. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai perbedaan saintifik ideal dan saintifik realis. Guru belum menyadari bahwa siswa SD dan SMP awal memerlukan benda kongkret sebagai objek pengalamannya. Maka dari itu dibutuhkan guru yang terampil menyusun pembelajarannya dengan mempertimbangkan perkembangan kognitif siswa itu sendiri.

    ReplyDelete