Nov 9, 2015

PERADABAN DUNIA

PERADABAN DUNIA
(BELAJAR PERAN DAN FUNGSI DARI FILSAFAT)
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kedelapan,
Kamis, 05 November 2015
Direfleksikan oleh
Vivi Nurvitasari, 15701251012,
S2 Prodi PEP Kelas B Universitas Negeri Yogyakarta
Diperbaiki oleh
Marsigit


Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 05 November 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Sistem perkuliahan pada minggu ini berbeda dengan pertemuan sebelumnya karena pada pertemuan kali ini Pak Marsigit memberikan penjelasan tentang “Peran dan Fungsi Filsafat dari Awal Zaman sampai Akhir Zaman”.

Berikut adalah hasil refleksi dari materi yang telah disampaikan oleh Pak Marsigit pada pertemuan ke delapan :

Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar pun belum cukup untuk menyebutkannya karena sifat itu berstruktur dan berdimensi. Misalnya saja warna hitam mempunyai semilyar sifat hitam, yaitu hitam nomor 1 ini, hitam nomor 2 itu, dst. Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa  memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah.  Kalau hanya berubah itu hanya separuhnya dunia, separuhnya lagi bersifat tetap, buktinya sejak lahir sampai sekarang sampai mati pun manusia tetap ciptaan Tuhan.

Dunia jika hanya thesis saja baru separuhnya dunia dan itu tidak sehat dan juga tidak harmonis. Supaya sehat dan harmonis adanya interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Misalkan saja namanya Pak Marsigit, walapun ada tambahan Prof.; Dr.; M.A tetap saja namanya Pak Marsigit. Maka  sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Yang tetap itu tokohnya Permenides. Yang berubah itu tokohnya Heraclitus. Yang tetap itu bersifat idealis, dan yang berubah itu bersifat realis. Yang ideal tokohnya Plato. Yang realis tokohnya Aristoteles. Tetap-ideal itu ternyata salah satu sifat dari pikiran, sedangkan berubah-realis ternyata salah satu sifat dari pengalaman. Pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan.

Benarnya yang tetap, benarnya yang ideal, benarnya aksioma itu konsisten atau koheren, sedangkan benarnya yang berubah, benarnya kenyataan, benarnya pengalaman itu adalah korespodensi. Yang konsisten atau koheren tersebut merupakan matematika sebagai ilmu untuk orang dewasa sedangkan yang korespodensi adalah matematika untuk anak-anak yaitu matematika berupa aktivitas. Yang konsisten atau koheren tersebut bila dinaikkan menjadi transendentalisme, dinaikkan lagi menjadi spiritual dan semakin ke atas menjadi kebenaran tunggal yaitu mono dan menjadi aliran monisme. Sedangkan korespodensi bila diturunkan menjadi plural atau dualis yang menjadi dualisme.

Selagi kita itu berada di duniamaka kita masih mempunyai sifat yang plural, jangankan mahasiswa UNY, sedangkan diriku sendiri bersifat plural, karena bersifat plural maka pada yang tetap itu bersifat konsisten atau identitas yaitu A=A. A=A hanya terjadi dipikiran, maka matematika yang tertulis dibuku itu hanya matematika untuk orang dewasa, hanya benar ketika masih didalam pikiran, tapi ketika ditulis bisa saja salah. Sedangkan yang berubah itu bersifat kontradiksi yaitu A≠A, karena A yang pertama tidak sama dengan A yang kedua. Maka yang bersifat identitas itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sedangkan yang bersifat kontradiksi itu terikat oleh ruang dan waktu. Yang bersifat tetap dan identitas itu dikembangkan dan dipertajam dengan logika yang tokohnya adalah Sir Bentrand Russel, maka lahirlah aliran Logisism. Ilmu yang  bersifat formal dan lahirlah aliran Formalism, tokohnya Hilbert.

Jadi yang ada dan yang mungkin ada itu bisa saja sembarang benda. Kemudian dari adanya logika dari objek filsafat yang bersifat tetap, maka pera rasio menadi sangat penting, kemudian lahirlah aliran Rasionalisme tokohnya Rene Decartes. Sedangkan dalam objek filsafat yang bersifat berubah, sebagian besar terjadi pada pengalaman; maka lahirlah empirisme tokohnya David Hume yang menuju pada sekitar abad 15. Yang tetap itu kebenarannya bersifat absolut maka lahirlah Absolutisme, sedangkan yang berubah itu bersifat relatif, lahirlah aliran relatifisme. Jadi aliran filsafat itu tergantung pada obyeknya, dan ini terjadi pada diri kita masing-masing secara mikro, dan ketika kita membaca atau mempelajari buku, misalnya buku tentang Rene Decartes itu berarti makronya. Jadi hidup itu adalah interaksi antara mikro dan makro.

Yang namanya logika, pikiran itu konsisten didalam filsafat disebut analitik. Analitik berarti yang penting konsisten dalam satu hal menuju ke hal yang lain. Sehingga yang disebut analitik dan konsisten tersebut membutuhkan aturan atau postulat. Untuk yang mempunyai aksioma atau yang mempunyai postulat adalah subyeknya atau dewanya, misalnya seorang kakak membuat aturan untuk adiknya, ketua membuat aturan pada anggotanya, dosen membuat aturan untuk mahasiswanya. Sedangkan yang di bawah atau yang berubah itu bersifat sintetik punya sebab dan akibat. Yang diatas yang bersifat tetap atau konsisten itu bersifat analititk, dan juga bersifat a priori yaitu bisa dipikirkan walaupun belum melihat bendanya.

Yang dibawah berupa pengalaman itu adalah a posteriori, contohnya dokter hewan yang harus memegang sapi untuk bisa mengetahui mengetahui penyakit yang diderita si sapi tersebut, jadi a posteriori itu adalah paham setelah melihat bendanya. Sedangkan a priori, misalnya dokter yang membuka prakter pengobatan lewat radio, ketika menangani pasien, dokter tersebut mendengarkan keluhan-keluhan dari si pasien lewat radio, hanya dengan mendengarkan tanpa melihat, dokter tersebut sudah bisa membuat resep yang didasari oleh konsistensi antara teori satu dengan teori yang lain.

Maka Immanuel Kant mencoba mendamaikan perdebatan yang terjadi antara empirisme dan rasinalisme. Descartes dan pengikutnya berkata tiadalah ilmu jika tanpa pikiran, sedangkan David Hume berkata tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Lalu Immanuel Kant mengatakan bahwa antara Descartes dan David Hume itu keduanya benar dan juga keduanya salah. Dalam apa yang disebutkan oleh David Hume terdiri unsur kesombongan karena mendewa-dewakan pengalaman. Sedangkan dalam apa yang dikatakan Descartes itu terdapat kelemahan yaitu terlalu mendewa-dewakan pikiran dan mengabaikan pengalaman. Maka unsur daripada pikiran adalah analitik a priori, dan unsur daripada pengalaman adalah sintetik a posteriori. Ambil sintetiknya, ambil a priorinya, maka sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori, ya dipikirkan dan juga dicoba.

Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.

Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan  bukti.

Akhirnya filsafat dalam perjalanannya seperti yang disebutkan diatas, maka lahirlah dalam sifat yang tetap dan konsisten itu berupa ilmu-ilmu dasar dan murni, sedangkan dalam sifat yang berubah itu berupa sosial, budaya, ilmu humaniora. Maka sampai disitulah bertemu yang namanya bendungan Compte. Dari sinilah SEGALA MACAM PERSOALAN DUNIA sekarang ini muncul, yaitu dengan munculnya Fenomena Compte sekitar 2(dua) abad yang lalu. Fenomena Compte ditandai dengan lahirnya pemikiran August Compte seorang mahasiswa teknik (drop out) tapi pikirannya berisi tentang filsafat.

Compte berpendapat bahwa agama saja tidak bisa untuk membangun dunia, karena agama itu bersifat irrasional dan tidak logis. Maka diatasnya agama atau spiritual itu adalah filsafat, dan diatasnya filsafat itu ada metode Positive atau saintifik. Positive atau saintifik itulah yang digunakan untuk membangun dunia, maka lahirlah aliran positifisme. Jadi di Indonesia Kurikulum 2013 dengan metode Saintifiknya itu asal mulanya dari pikiran Compte yang berupa positivisme tadi. Jadi metode saintifik dalam kurikulum itu adalah ketidakberdayaan Indonesia bergaul dengan Power Now. Sumber persoalan/permasalahan segala macam kehidupan manusia di dunia sekarang ini adalah berawal mula dari dimarginalkannya Agama oleh Auguste Compte yang dianggap tidak mampu digunakan sebagai pijakan untuk membangun Dunia. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai Fenomena Compte.


Dari kesemua aspek Fenomena Compte, yang didukung oleh ilmu dasar sehingga menghasilkan teknologi, sehingga menjadi paradigma alternatif, kenapa? Fenomena Compte dengan didukung dengan pengembangan Ilmu-ilmu dasar dan teknologi, telah menghasilkan Peradaban Barat dengan era industrialisasinya. Hingga jaman sekarang kontemporer, dunia dikuasai oleh segala aspek industrialisasi dan teknologi. Itulah-sebenar-benar fenomena Kontemporer atau Power Now yang mengusasi setap jengkal dan setiap desah napas kehidupan kita tanpa kecuali di seluruh dunia mulai dari anak-anak, orang dewasa, laki-perempuan, …dst. Dunia Timur yang lebih mengandalkan metode Humaniora, ditengah pergulatan dari dalam dirinya sendiri, TIDAK MENYADARI BAHWA FENOMENA COMPTE TELAH MENJELMA MENJADI POWER NOW, yang disokong pilar-pilar Kapitalisme, Liberalisme, Hedonisme, Pragmatisme, Materialisme, Utilitarianisme, …dst.

Sementara itu Indonesia, di mana letak geografis dan perikehidupan berbangsa dan bermasyarakat berasal dari Dunia Timur yang lebih mengedepankan aspek-aspek humaniora dengan Strukturnya Dunia Timur yang terdiri dari/dimulai dari Material paling bawah, Formal di atasnya, Normatif diatasnya lagi, dan  Spiritual yang menjiwai, mendasari dan melingkupi seluruhnya. Itu merupakan cita-cita Indonesia sesuai dengan dasar negaranya yaitu Pancasila, dimana Pancasila itu filsafat negara yg bersifat Monodualis, mono karena Esa Tuhannya, dualis yaitu aku dengan masyarakatku, jadi vertikal dan horisontal, itulah cita-cita kita semua sebagai warga negara Indonesia. Dalam perjuangan membangun struktur kehidupan Indonesia yang demikian tadi, ternyata kita menjumpai fenomena ontologis yaitu Fenomena Compte.

Secara filsafat, Fenomena Compte dapat dipahamai dari 2(dua) sisi, yaitu secara macro dan micro. Secara macro, Fenomena Compte sesuai dengan yang ditulis oleh Auguste Compte dalam bukunya POSITIVESME. Secara micro, maka setiap hari kita sendiri-sendiri atau bersama-sama atau secara kelembagaan/negara selalu mengalami Fenomena Compte. Contoh micronya adalah jika seseorang memutuskan untuk membeli produk baru, misal Hand Phone canggih, tetapi kemudian timbul masalah dalam dirinya, atau keluarganya, atau mungkin keluarganya menjadi berantakan gara-gara produk baru, maka itulah yang disebut sebagai micronya Fenomena Compte. Seorang mahasiswa yang membeli komputer baru sehingga melupakan kewajiban ibadah Shalatnya maka dia sudah terkena Fenomena Compte.


Maka kita belajar filsafat itu bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian). Pada jaman Kontemporer ini sudah banyak ikan-ikan kecil di laut yang mati terkena limbahnya kehidupan Power Now. Banyak juga makhluk hidup yang mengalami perubahan genetika/mutasi gen, misal TKI muda yang pergi ke Luar Negeri, setelah kembali dia sudah berubah semuanya, dunia dan akhiratnya. Itulah salah satu dampak mikro fenomena Compte.

Belajar Filsafat bukanlah sembarang manusia yang mampu menjalaninya. Ibarat kita ini adalah ikan kecil di lautan, maka belaar filsafat bukanlah sembarang ikan. Tetapi adalah ikan yang mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Kita yang belajar filsafat untuk mengatahui struktur dunia dapat diibaratkan sebagai seorang Bima yang mencari Wahyu atau Banyu Penguripan Perwitasari di dasar samudra. Sang Bima dengan bersikap mengalir dengan kesadaran hidup baik buruk, ditipu dan difitnah, tetapi didasari aspek Fatal dengan berserah diri pada Yang Kuasa, akhirnya dapat bertemu Dewa Ruci sang Dewa dasar laut sebagai representasi Dewa atau yang Kuasa, untuk memberikan wahyu atau pencerahan atau ilmu. Sebagai mahasiswa, ilmu yang engkau dapat dari P Marsigit dan juga dengan cara membaca Elegi-elegi kejadiannya mirip dengan sang Bima menemupakan air kehidupan. Engkau akan mengerti setiap aliran air jernih atau air limbahnya Kapitalisme mulai dari hulu sampai ke hilirnya.

Untukmendapatkan sebenar-benar ilmu (wahyu) maka seseorang (Bima, Arjuna dan engkau si subjek belajar filsafat) harus mampu menatasi segala kontradiksi sesuai dengan batasan0batasannya. Jadi apakah anda paham apa itu kontradiksi? Karena sebenar-benarnya hidup ini adalah kontradiksi. Kontradiksi yang nyata dan yang kasat mata adalah ketika orang terjun ke air, muncul di atas sudah terlentang, maka berfilsafat itu mencari pengetahuan sehingga ketika terjun ke dalam air bisa muncul lagi dengan selamat. Jadi berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya. Maka adanya interaksi antara makro dan mikro. Jadi itulah gambarannya untuk mahasiswa sebagai bekal ketika membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit.

Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik).

Sehingga Indonesia telah menjadi obyek dari dunia Power Now, maka begini salah begitu salah, serba salah. Itulah kita bangsa yang lemah, para pemikirnya juga menjadi pemikir yang lemah, sehingga metode Saintifiknya juga menjadi tidak berkarakter, karena dalam setiap metode saintifik di dunia aslinya terdapat langkah yaitu Hipotesis. Tetapi di dalam Kurikulum 2013 tidak ada dan diganti dengan Menanya. Menanya apa, menanya untuk apa? Sebetulnya adalah untuk membuat Hipotesis sementara. Tetapi mendengan kata-kata Hipotesis tentu semua orang, guru dan murid akan ketakutan. Binatang macam apa Hipotesis itu. Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana.

Metode saintifik itu hanya salah satu aspek dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013 akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah metode Hermenitika.

Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menajam, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menejam atau menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode  saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive).  Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca. Ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis dari air agar bisa mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya. Jika engkau paham dan sadar mudah-mudahan keturunanmu juga nantinya akan mengerti dan sadar, juga orang didekatmu, keluargamu termasuk murid-muridmu. Amin.


Alhamdulillahirrobbil’alamin.

98 comments:

  1. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Objek filsafat yang biasa dikenal dengan ontologi berarti bahwa sesuatu yang ada. Baik filsafat secara umum maupun terkhusus pada matematika. Ontologi matematika mempelajari segala sesuatu yang ada pada matematika sehingga obyek-obyek matematika dapat dipahami atau dipelajari bahkan dikembangkan sesuai dengan hakekatnya. Objek filsafat matematika tergantung sudut pandang seseorang dalam melihatnya. Ada yang beranggapan bahwa objek dan struktur matematika mempunyai keberadaan yang riil yang tidak bergantung kepada manusia, dan bahwa mengerjakan matematika adalah suatu proses penemuan tentang hubungan keberadaan sebelumnya. Aliran yang menyebutkan hal ini adalah Platonisme.

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Banyak pendapat yang berbeda tentang objek filsafat matematika. Seperti, Falibilisme yang menganggap bahwa kebenaran matematika tidak mutlak melainkan mungkin terdapat kekeliruan. Sehingga selalu dilakukan revisi. Selain ini, ada aliran empirisme yang memandang hakekat matematika adalah pengambilan kesimpulan berdasarkan atas langkah-langkah empiris. Menurut saya, benar bahwa objek filsafat adalah antara yang tetap dan berubah. Sesuai dengan sudut pandang mana kita melihat dan memahaminya.

    ReplyDelete
  3. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Pengetahuan manusia sangat terbatas dan tidak dapat menerjemahka seluruh hal yang ada dalam dunia ini. Yand dapat dilalukan oleh manusia adalah mendefinisikan antara 2 hal yang kontradiksi untuk mewujudkan keharmonisannya. Semua hal tersebut dilakukan untuk membangun ilmu pengetahuan.

    Saya mengutip bagian, "Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menajam, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menejam atau menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive)."

    Dalam membangun filsafat dalam diri, memang kita tidak tahu bangunan seperti apa yang ingin kita buat. Oleh karena itu, kita perlu banyak membaca dan merefleksikan hal-hal yang ada di sekitar kita sebagai dasar memahami filsafat.

    ReplyDelete
  4. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Menanggapi pernyataan bapak, "Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu?". Kalau menurut saya adalah, karena indonesia itu mmasih bergantung pada negara lain, tidak bisa berdiri diatas kaki sendiri. Belum bisa memaksimalkan potensi diri yang ada dan juga pemimpin yang berkarakter belum ditemui.

    ReplyDelete
  5. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sudah menjadi kodrat bahwa pengetahuan manusia terbatas, artinya tidaklah lengkap. Jika kita meninjau fenomena kurikulum di Indonesia saat ini, yaitu kurikulum 2013, maka saintifik menjadi ciri khas nya. Akan tetapi, saintifik bukanlah satu-satunya menuju humaniora. Karena setiap yang terjadi di dunia ini adalah hermeneutika, yang menajam, mendatar, dan mengembang.

    ReplyDelete
  6. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya setuju bahwa ilmu berasal dari pikiran dan juga dari pengalaman. Sehingga, guru harus pandai untuk memadu-madankan pikiran dan pengalaman siswa dalam proses pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelejaran. Guru pun harus bertindak fleksibel, dimana ia yang kodratnya berpikiran dewasa, harus mampu menjelma menjadi seseorang yang berpikiran anak-anak. Sehingga, ilmu tinggi yang ia miliki dapat ditransfer dan diterima dengan baik oleh siswa. Namun, tetap memperhatikan kekonsistenan logika berpikirnya. Kurikulum 2013 dengan pendekatan Saintifik sangat cocok dengan pendapat ini. Sayangnya, pemikiran bangsa Indonesia masih lemah, akibatnya kurikulum 2013 tidak dapat diimplementasikan dengan baik dan tidak mencapai tujuan yang diinginkan. Sehingga pendekatan saintifik tersebut menjadi tidak berkarakter. Ditinjau dari pola berpikir, sudah lama tertanam di benak bangsa Indonesia bahwa hipotesis merupakan pernyataan yang harus bersifat benar, jika salah, hanya akan membuat malu. Sehingga, banyak warga Indonesia yang beranggapan bahwa menyatakan suatu hipotesis adalah hal yang sangat menyeramkan karena harus memikul tanggung jawab yang berat. Maka, di kurikulum 2013, langkah hipotesis dalam pendekatan saintifik diubah menjadi langkah menanya dengan tujuan untuk memancing siswa untuk mengeluarkan pendapat sementaranya tanpa adanya ketakutan, kemudian dsertai dengan percobaan yang sangat sederhana. Sehingga, siswa menjadi penasaran dan akan terbiasa untuk mendalami permasalahan yang ia hadapi dan mulai menemukan konsep dan rumus di dalam benaknya.

    ReplyDelete
  7. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari postingan ini saya belajar akan penjelmaan seorang guru ketika berhadapan dengan anak-anak. Guru harus menanggalkan baju dewanya dan memfasilitasi siswa sesuai dengan kemampuannya. Ketika guru memulai pembelajaran matematika dengan definisi kepada anak maka sebenarnya itu seperti lava hasil letusan gunung. Guru harus tahu bahwa definisi bagi anak-anak adalah contoh-contoh. Tak seperti orang dewasa yang sudah bisa memulai matematika dengan definisi.

    ReplyDelete
  8. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    objek kajian dari filsafat memang membahas apa yang ada dan yang tak mungkin ada, sehingga akan menghasilkan kajian yang sangat banyak jumlahnya. bisa dikatakan bahwa hal ini tidak terbatas. untuk mempelajari sebenar-benarnya ilmu, maka kita harus mampu menatasi segala kontradiksi sesuai dengan batasan-batasannya. berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya.

    ReplyDelete
  9. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Manusia tidak hanya dapat menggali atau menguasai satu hal saja secara mendalam hingga ke titik dasar. Pasti terdapat aspek-aspek lain yang perlu dipelajari walau tidak sedalam hal utama yang akan dikuasai mulanya. Dari suatu ilmu yang dipelajari secara mendetail akan berdampak munculnya teori baru dimana lambat laun akan menjadikan suatu aliran baru. Berkembanglah aliran satu dengan yang lainnya dan saling berkaitan. Contohnya pandangan absolut yang menghasilkan paham absolutisme. Kemudian muncul koreksi yang berakhir pada munculnya falibilisme yang tidak membenarkan keabsolutan dalam matematika khususnya. Itu merupakan salah contohnya.

    ReplyDelete
  10. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Objek filsafat yaitu yang ada dan yang mungkin ada yang ada dalam ruang dan waktu dalam interaksinya yang sifatnya yang tetap dan berubah. Yang tetap itu idealis yang berada dalam pikiran yang menghasilkan aksioma sedangkan dan yang bersifat berubah itu realis berasal dari pengalaman menghasilkan kenyataan. Pengalaman terdiri atas pengalaman apriori yaitu pengalaman yang belum dikenai oleh indra sedangkan aposteriori pengalaman dengan menggunakan indra.

    ReplyDelete
  11. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada dengan masing-masing sifatnya yang berstruktur dan berdimensi. Yang ada dan yang mungkin ada terdapat dalam pikiran dan diluar pikiran. Selanjutnya, terdapat objek dalam filsafat, obyek dari filsafat itu bersifat tetap dan berubah. Selain itu juga terdapat a priori dan aposteriori dalam berfilsafat, dimana apriori adalah pengetahuan yang ada sebelum bertemu dengan pengalaman, sedangkan aposteriori merupakan pengetahuan yang bergantung pada pengalaman.

    ReplyDelete
  12. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Saya merasa beruntung karena belajar filsafat dari pak Marsigit. Karena jika saya belajar filsafat dari Plato saja, mungkin saya beranggapan ilmu adalah yang ada di pikiran dan yang dapat dipikirkan saja. Jika saya berlajar filsafat dari Aristoteles saja, mungkin saya beranggapan ilmu adalah yang berasal dari pengalaman saja. Ketika saya belajar filsafat dari pak Marsigit yang mengaku mengajarkan filsafat yang holistik, saya senang. Karena tidak hanya mengasah kemampuan berpikir, namun juga mengasah kemampuan mengolah hati dan membikainya dengan semangat religius.

    ReplyDelete
  13. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Sebagai seorang guru memang bertugas memfasilitasi siswa. Janganlah menjadi guru yang otoriter yaitu dengan memaksakan kehendak. Ilmu yang diperoleh juga dapat berasal dari pengalaman manusia seperti kejadian kejadian sehari hari. Berdasarkan kejadian sehari hari tersebut, maka dapat ditemukan sebuah konsep dalam pembelajaran contohnya konsep matematika.

    ReplyDelete
  14. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Filsafat adalah dirimu masing-masing. Tetap berlaku hukum identitas, yang merupakan urusan langit. Identitas itu maksudnya A=A. Sedangkan berubah bersifat kontradiksi, inkonsisten, sebab akibat, korespondensi, yang merupakan urusan dunia. Kontradiksi itu maksudnya A tidak sama dengan A. Hidup hanya berprinsip pada identitas dan kontradiksi. Semua hal yang tetap dan yang berubah tersebut terus mengalir dari awal zaman sampai akhir jaman. Itulah filsafat.

    ReplyDelete
  15. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070
    Dunia ini terdiri dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada bersifat tetap, sedangkan yang mungkin ada bersifat berubah. Yang tetap bersifat idealis dan yang berubah bersifat realis. Benarnya yang ideal adalah benarnya aksioma yang bersifat konsisten. Sedangkan benarnya yang realis adalah benarnya pengalaman yang bersifat korespondensi. Jika fokus kita hanya pada yang tetap saja, maka kita baru membangun separuh dunia, begitu pula sebaliknya. Agar dapat membangun dunia yang sehat dan harmonis, perlu adanya interaksi antara keduanya.

    ReplyDelete
  16. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya tertarik dengan kalimat yang Prof Marsigit beserta Sdri.Vivi tuliskan, yakni “pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan”. Setahu saya, aksioma merupakan suatu pernyataan yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya. Sementara itu, kenyataan adalah reality, here and now, segala hal yang terjadi di sini dan sekarang ini. Belajar dapat terjadi melalui kegiatan berpikir dan pengalaman. Pikiran menghadapkan kita pada gagasan akan keyakinan dan kebenaran. Sedangkan pengalaman menghadapkan kita pada kenyataan yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  17. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan ini begitu menarik untuk saya, "Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru." betapa mulianya seorang guru yang dapat memahami siswanya dan menjadi orang yang tidak ditakuti tetapi tetap dihormati. Semoga kita bisa menjadi guru yang baik dan bijak untuk siswa-siwa kita.

    ReplyDelete
  18. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Di Indonesia telah banyak sekolah yang menerapkan pendekatan Saintifik, namun sangat disayangkan langkah Hipotesis yang merupakan salah satu langkah pada metode Saintifik digantikan dengan langkah Menanya hanya karena tidak mengetahui apa itu dan untuk apakah hipotesis yang sesungguhnya. Padahal seperti yang telah dituliskan di atas, hipotesis itu pada hakekatnya adalah suatu pendapat sementara yang boleh salah maupun benar. Langkah yang seharusnya dapat mendorong siswa supaya aktif dan memiliki kepercayaan diri akan pendapatnya sendiri, kemudian dapat menemukan kebenaran dari pendapat sementaranya tadi dengan suatu percobaan. Namun pada kenyataannya, para siswa bahkan gurunya takut untuk membuktikannya. Semoga untuk kedepannya, Indonesia dapat menerapkan pendekatan Saintifik yang sebenarnya diharapkan sehingga untuk generasi mendatang dapat sadar dan memahaminya.

    ReplyDelete
  19. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Idealnya seorang guru adalah dia yang bisa menyesuaikan dengan murid-muridnya. Guru yang baik adalah guru yang dapat mengajarkan materi dengan mudah dipahami siswanya. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Marsigit bahwasanya "Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan bukti."

    Sebagai seorang calon guru, kita harus mengajarkan matematika kepada siswa sesuai perkembangan kemampuan berpikirnya. Karena jika tidak, maka siswa akan menjadi korban, bagaikan korban gunung meletus.

    Terimakasih.

    ReplyDelete
  20. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Ungkapan Prof Marsigit yang berbunyi “Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan bukti”, sejalan dengan teori Brunner.
    Dalam Teori Brunner, dijelaskan tentang tiga taraf perkembangan intelektual anak. Tiga taraf tersebut yaitu, Fase pra-operasional, fase operasi kongkrit, dan fase operasi formal. Kemampuan intelektual anak berkembang sesuai fasenya. Seorang guru selayaknya memahami hal tersebut agar siswa dapat memahami materi dengan baik. Sebab jika guru tidak memahami tersebut, maka siswa akan menjadi korban.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  21. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Dalam artikel ini salah satu hal yang membuat kita harus berhati-hati adalah pada bagian "Research on The Effect Of Epistemic Fidelity On Tea-ching Decimal Numeration With Physical Materials by Kaye Stacey et al (2001)". Disana ada kalimat yang menjelaskan bahwa beberapa bahan manipulatif dapat mengganggu dan memicu adanya salah tafsir; guru bisa melebih-lebihkan nilai bahan fisik karena mereka sudah akrab dengan konsep-konsep yang disajikan (Kaye, et al, 2001)
    Maka dari itu jika ingin memberikan pengertian kepada peserta didik, guru perlu berhati-hati agar tidak mengganggu konsep atau memicu adanya salah tafsir.

    ReplyDelete
  22. Nurrita Sabrina
    14301244010
    Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas bahwasannya sebagai guru dalam merancang kegiatan belajar mengajar kita harus berfikir seperti siswa. Kita memposisikan diri menjadi siswa untuk mengetahui pola pikir sehingga kita dapat menyusun perencanaan dengan seefektif mungkin.

    ReplyDelete
  23. Nurrita Sabrina
    14301244010
    Pendidikan Matematika I 2014

    Hakikat matematika anak-anak berbeda dengan matematika orang dewasa. Pemdelajaran matematika anak-anak biasanya didekati dengan pendekatan induktif yakni berupa contoh kongkret, sedangkan untuk orang dewasa pembelajaran matematika dapat didekati dengan pendekatan deduktif berupa definisi, teorema, lemma dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  24. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Menyingkapi perubahan peradaban yang ada, jika kita sudah menyadari dimana tempat kita, sudah selayaknya kita lebih mendekatkan diri dengan TUHAN. Karena Indonesia mengedepankan spiritualisme sebagai hal yang paling tinggi, sebagai seorang guru, meskipun pendekatan saintifik diterapkan di sekolah, kita pun harus berjuang menanamkan nilai spiritual kepada peserta didik kita agar mereka tidak melupakan TUHAN saat menghadapi dunia yang semakin beragam dan diterpa oleh power now.

    ReplyDelete
  25. Pengaruh positivisme Auguste Comte meminggirkan Spiritualitas. Poeotivis menganggap bahwa yang diperlukan untuk membangun peradaban adalah pengetahuan bukan agama. Karena agama terpinggirkan maka timbul efek negatif yaitu kriminalitas yang semakin meningkat, misalnya aborsi, perampokan, penggunaan narkoba, pencopetan, penculikan, pembunuhan, pemerkosaan, dan sebagainya. Pikiran manusia dipenuhi kecemasan dan kecurigaan satu sama lain mulai meningkat.

    ReplyDelete
  26. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Membaca postingan di atas, saya mempelajari sesuatu yang baru. Bahwa.. di dunia ini ada yang bersifat tetap dan ada yang berubah. Hidup merupakan interaksi antara yang tetap dan berubah. Jika yang bersifat tetap adalah pikiran, maka yang berubah adalah pegalaman. Dalam pendidikan matematika, teorema adalah tetap dan aktivitas adalah pengalaman.

    ReplyDelete
  27. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Peran dan fungsi filsafat dari zaman ke zaman telah memberikan kontribusi dari berbagai ilmu dari para tokoh-tokoh aliran filsafat. Tokoh aliran filsafat seperti Plato dan Aristoteles yang memiliki aliran yang berbeda. Dimana aliran tersebut mempunyai sudut pandang berbeda dari dimensi dunia, Plato memiliki aliran yang dikenal sebagai aliran Permenides yaitu faham yang menganggap ADA sesuatu di dalam pikiran sedangkan aliran Aristoteles berupa aliran yang disebut Heraclitos dimana mengaggap ADA sesuatu yang ada di luar pikiran. Namun dari kedua aliran tersebut dipersatukan oleh Imanuel khan yang kemudian menggabungan dari keduanya. Sehingga filsafat dari masa ke masa sampai kepada zaman kontemporer seperti sekarang ini sehingga bermunculan banyak aliran filsafat baru seperti idelisme, romanitisme, transenden dan sebagainya.

    ReplyDelete
  28. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Yang berubah itu cocok dengan kenyataan dan yang tetap itu konsisten. yang berubah itu terdiri dari kenyataan, fenomena (empiris), sintetik, bukti, A posteriori, bumi dan waktu. sedangkan yang tetap itu pikiran, analitik, ideal, abstrak, proposal, sempurna, rumus/resep, logika, A priori, langit.dan yang paling tinggi diantara keduanya adalah spiritual.

    ReplyDelete
  29. PUTRI RAHAYU S
    S2 Pendidikan Matematika_D 2016
    16709251070

    Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar.Dalam hal ini menyebabkan manusia mempunyai sifat terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga hanya bersifat untuk tujuan tertentu yaitu membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah. Jadi untuk mempelajari filsafat atau memahaminya perlu dengan menggunakan sifat-sifat yang dimiliki dengan pengalaman ataupun menggunakan teori. Sebagai seorang mahasiswa kita harus bias menyeimbangkan antara pengalaman dan teori agar bisa beradaptasi dengan dunia atau kehidupan ini.

    ReplyDelete
  30. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    elegi diatas menceritakan peradaban dunia yang dipandang dari segi filsafat. saya menyadari, bahwa hendaknya kita bisa bersikap dan memaknai peradaban dan perubahan dunia ini secara keseluruhan. sehingga kita bisa mengambil inti sari dari kejadian tersebut. kita dapat menyesuaikan dengan lingkungan kita, mengambil manfaatnya dan meninggalkan kelemahannya. seperti berbagai pandangan yang telah diungkapkan para filsuf, tidak selamanya dan semuanya mereka benar. maka, hendaknya kita dapat men.sari.kan semua inti yang beliau-beliau sampaikan, dan kemudian menerapkannya dalam hidup dan diri kita.

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dijelaskan bahwa sifat manusia itu terbatas dalam artian dalam kehidupan manusia tidak mampu melakukan sesuatu secara keseluruhan dan simultan. Misal saja dalam menarik nafas dan membuang nafas manusia tidak mampu melakukan kedua hal tersebut secara simultan itulah mengapa dikatan sifat manusia itu terbatas.

    ReplyDelete
  32. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pak prof. Marsigit juga pernah mengatakan dalam perkuliahan bahwa sifat manusia juga tidak sempurna sama halnya dengan di artikel ini. Ketidaksempurnaan ini merupakan suatu akibat dari keterbatasan yang dimiliki manusia.

    ReplyDelete
  33. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam artikel ini dijelaskan bahwa sebenar-benarnya hidup adalah mengenai hubungan interaksi antara yang tetap dan berubah. Dimana yang dimaksud tetap ini berupa sifat idealis (pikiran) serta yang dimaksud dengan berubah disini yaitu sifat realis (berubah).

    ReplyDelete
  34. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Aliran filsafat lahir berdasarkan obyek filsafat itu sendiri. Proses lahirnya filsafat disini digambarkan secara mikro pada diri kita sendiri. Dalam artikel ini misalnya digambarkan ketika kita membaca ataupun mempelajari buku, sedangkan makronya adalah objek itu sendiri (buku).Sehingga disimpulkan disini bahwa hidup itu juga merupakan suatu interaksi antara mikro dan makro.

    ReplyDelete
  35. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Analitik dalam filsafat artinya kekonsistenan dalam satu hal ke hal lainnya. Kekonsistenan ini membutuhkan suatu aturan untuk subjek dalam filsafat subjek dapat diinterpretasikan sebagai dewanya (yang lebih superior). Dalam hal ini yang dicontohkan sebagai subjek oleh pak Prof. Marsigit adalah kakak yang membuat aturan untuk adiknya. Sifat kakak konsisten dan kedudukan kakak superior dibanding dengan adik sehingga kakak merupakan subjek disini.

    ReplyDelete
  36. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya setuju dengan tulisan pak Prof. Marsigit yang mengatakan bahwa hakikat ilmu merupakan sesuatu yang dipikirkan dan juga di coba. Jadi seseorang dikatakan berilmu ketika mampu mensingkronkan apa yang dipikirkan (teor-teori) melalui tindakan real yang pasti.

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari setiap tulisan maupun kuliahnya pak Prof. Marsigit selalu menekankan ketika mengajarkan matematika kepada anak-anak maka pola pikir kita juga harus dijadikan menjadi seperti anak-anak. Seperti yang diketahui bahwa definisi dan bentu matematika bagi anak SD berupa suatu definisi yang berbeda dengan orang dewasa bahwa definisi dan bentuk matematika bagi orang dewasa adalah teorema dan bukti.

    ReplyDelete
  38. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pak Prof. Marsigit juga menjelaskan dalam kuliahnya bahwa ilmu bagi anak kecil (usia TK, SD maupun SMP) merupakan suatu aktivitas. Artinya untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran maka dalam proses pembelajaran anak-anak harus melakukan suatu aktivitas tertentu

    ReplyDelete
  39. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Aktivitas pembelajaran bagi anak-anak (TK, SD ataupun SMP) dapat berupa suatu investigasi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar (kontekstual). Aktivitas pembelajaran juga tidak hanya selalu di dalam kelas. Guru juga mampu menghadirkan kelas di luar kelas.

    ReplyDelete
  40. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang dijelaskan pada tulisan ini fenomena agus compte dapat dipahami secara makro dan mikro. Melihat penjealsan yang telah dijabarkan saya juga sering melihat fenomena compte khususnya dalam konteks mikro. Hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi yang pada awalnya bertujuan untuk membantu manusia akan tetapi sekarang ini justruu terlena dengan teknologi itu sendiri sehingga melupakan apa yang memang menjadi kewajibannya.

    ReplyDelete
  41. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pak Prof. Marsigit menekankan pada tulisan ini bahwa tidak sembarang orang mampu mempelajari filsafat. Ketika seseorang belajar filsafat mereka harus sadar dan mampu mengurai mana yang memang baik ataupun buruk.

    ReplyDelete
  42. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di Indonesia sendiri sudah mulai mengimplemenatsikan pendekatan saintifik yakni tertuang dalam kurikulum 2013. Akan tetapi pengimplementasiannya di Indonesia sedikit berbeda dimana pada sintaks nya kegiatan hipotesis diganti dengan menanya. Dan disini bagi guru-guru sintaks menanya ini adalah salah satu yang sulit diimplementasikan karena kebanyakan guru masih bingung hakikat menanya ini apa.

    ReplyDelete
  43. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hakikat menanya dalam artikel ini dijelaskan merupakan proses mengemukakan hipotesis (pendapat sementara). Dijelaskan bahwa hipotesis ini dapat bernilai benar ataupun salah. Maka dalam proses menetukan hipotesis tersebut benar atau salah membutuhkan suatu percobaan.

    ReplyDelete
  44. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam artikel ini pak Prof. Marsigit menekankan bahwa ketika mempelajari sesuatu ibarat akan membangun suatu hal sehingga perlu mengetahui tujuan ataupun kejelasan bangun tersebut. Dalam proses belajar untuk mengetahui gambaran bangunnya manusia perlu banyak membaca untuk membangun intuisi mereka.

    ReplyDelete
  45. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Proses membangun itu sendiri tidak terkotak hanya untuk diri sendiri, akan tetapi membangun suatu hal itu seperti mata rantai dimana nanti akan berpengaruh ke mata rantai lainnya. Jadi ketika kita membangun suatu hal yang baik itu sama artinya kita juga tengah mempersiapkan generasi kita berikutnya menjadi baik.

    ReplyDelete
  46. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai seorang pendidik yang nantinya menjadi panutan bagi siswa-siswinya maka kita harus memberikan terbaik dan menanamkan akhlak,nilai dan moral dalam diri kita sendiri. Sama halnya orang tua yang merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya kita juga harus mampu memberikan contoh yang baik kepada anak kita, karena kelak sifat anak dapat mencerminkan perilaku orang tuanya.

    ReplyDelete
  47. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Didunia ini terdapat yang tetap dan terdapat yang berubah. yang tetap seperti yang telah disebutkan yaitu manusia, walaupun manusia berubah tetapi tetap saja ia adalah tetap makhluk ciptaan Tuhan YME. yang dapat berubah menurut saya adalah sifatnya, dan semoga saja sifat yang berubah itu mengarah kepada sifat yang baik dan bukan mengarah pada sifat yang huruk.

    ReplyDelete
  48. Ika AGgustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ada pertanyaan menarik yang ada dalam tulisan tersebut, "Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu?". Menurut saya, hal tersebut terjadi karena Indonesia masih sangat tergantung dengan negara lain dan mudah diprovokatori oleh negara lain. Ini yang menjadi PR pemimpin negeri pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

    ReplyDelete
  49. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052
    Bismillaah...
    Era yang sedang berlangung di masa sekarang adalah power now. Di era sekarang peradaban di dunia, menurut saya sedang mengalami krisis. Krisis karakter dan krisi kemanusiaan. Krisis karakter karena orang-orang sudah tidak mempertahankan lagi karakter bangsa mereka yang luhur, karena terpengaruh oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat dan membuat semuanya menjadi goyah. Termasuk prinsip bangsa. Krisis kemanusian, karena terjadi teror di berbagai belahan dunia. dan terjadi penjajahan di beberapa negara. Mereka seakan-akan tidak memiliki hati dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Padahal di dalam agama mengajarkan kita untuk saling berhubungan baik antar sesama manusia.

    ReplyDelete
  50. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari postingan yang dibagikan Prof Marsigit tersebut, saya belajar bahwa pengetahuan didapatkan dari interaksi antara yang tetap dan berubah, antara a priori dan a posteriori. Guru sebagai a priori atau dewanya pengetahuan sedangkan siswa adalah a posteriori dari pengalaman. Maka, pembelajaran yang sesungguhnya adalah interaksi antara guru dan siswa dengan jalan guru sebagai fasilitator dan siswa yang beraktivitas. Karena guru adalah dewanya yang di atas dan mengetahui yang di bawah (yaitu siswa) maka guru harus mampu menjelma, membaur dan menjadi seorang siswa itu agar mampu berdamai antara pikiran (a priori) dan pengalaman(a posteriori) yang siswa miliki.

    ReplyDelete
  51. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Sebagai bahasan awalan dalam filsafat yaitu objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Objek filsafat memiliki sifat bermilyar-milyar pangkat milyar. Sehingga manusia tidak dapat menghafalkan semua. Manusia memiliki sifat terbatas dan tidak sempurna, lantas hanya dapat memikirkan sebagian sifatnya saja. Dalam pernyataan awal tersebut sudah dituliskan sifat dari manusia terbatas dan tidak sempurna. Sehingga janganlah diantara kita semua berbuat kesombongan.

    ReplyDelete
  52. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Filsafat, pola pikir adalah objek. Objek filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada bisa bersifat tetap, sedangkan yang mungkin ada bisa bersifat berubah. Tokoh dari yang tetap adalah Permenides sedangkan tokoh yang berubah adalah Heraclites. Yang tetap sifatnya idealis dan yang berubah sifatnya realis. Tokoh dari idealis adalah Plato sedangkan realis tokohnya Aristoteles. Tetap-idealis salah satu sifat dari pikiran sedangkan berubah-realis salah satu sifat pengalaman. Pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan. Benarnya yang tetap, idealis, aksioma itu konsisten/koheren, sedangkan benarnya yang berubah, realis, kenyataan adalah korespondensi. Yang konsisten/koheren jika dinaikkan menjadi transendentalisme, dinaikkan lagi menjadi spiritual, dan semakin ke atas menjadi kebenaran tunggal yaitu mono dab menjadi aliran monoisme. Sedangkan, korespondensi bila diturunkan menjadi plural atau dualis yang menjadi dualisme.

    ReplyDelete
  53. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Sifat yang plural pada yang tetap bersifat konsisten/identitas, sedangkan yang berubah itu kontradiksi. Yang bersifat identitas itu tidak terikat ruang dan waktu, sedangkan yang bersifat kontradiksi terikat ruang dan waktu. Yang bersifat tetap dan identitas dikembangkan dan dipertajam dengan logika tokohnya adalah Sir Bentrand Russel maka lahirlah aliran Logisism. Ilmu yang bersifat formal dan lahirlah aliran Formalism, tokohnya Hilbert.

    ReplyDelete
  54. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Dari adanya logika yang bersiat tetap, maka peran rasio menjadi ada, kemudian lahir aliran Rasionalisme tokohnya Rene Decartes. Sedangkan yang bersfifat berubah, dan yang terjadi pada pengalaman maka melahirkan Empirisme tokohnya David Hume. Yang tetap memiliki sifat absolut maka lahirlah aliran Absolutisme, sedangkan yang berubah bersifat relatif, lahirlah aliran Relatifisme. Jadi aliran pada filsafat tergantung pada objeknya.

    ReplyDelete
  55. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Peran dan fungsi filsafat dari zaman ke zaman telah memberikan kontribusi dari berbagai ilmu dari para tokoh-tokoh aliran filsafat. Tokoh aliran filsafat seperti Plato dan Aristoteles yang memiliki aliran yang berbeda. Dimana aliran tersebut mempunyai sudut pandang berbeda dari dimensi dunia, Plato memiliki aliran yang dikenal sebagai aliran Permenides yaitu faham yang menganggap ADA sesuatu di dalam pikiran sedangkan aliran Aristoteles berupa aliran yang disebut Heraclitos dimana mengaggap ADA sesuatu yang ada di luar pikiran. Namun dari kedua aliran tersebut dipersatukan oleh Imanuel khan yang kemudian menggabungan dari keduanya. Sehingga filsafat dari masa ke masa sampai kepada zaman kontemporer seperti sekarang ini sehingga bermunculan banyak aliran filsafat baru seperti idelisme, romanitisme, transenden dan sebagainya.

    ReplyDelete
  56. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru sebaga dewa bagi para siswa, sehingga saat mengajar di dalam kelas, guru perlu menjelma menajadi manusia biasa dengan melepaskan baju dewanya Pikiran guru pun perlu menyesuaikan dengan pikiran anak-anak. Seperti yang pernah Prof Marsigit sampaikan saat perkuliahan etnomatematika, bahwa jika siswa tidak siap dengan suatu pembelajaran, dan guru cenderung menyampaikan materi sesuai dengan pola pikirnya, bagi para siswa hal itu layaknya gunung meletus yang mengeluarkan lava panas. Maka saat mengajarkan matematika pada siswa, guru semestinya mengajarkan math school, yakni berikan definisi sebagai contoh, kaitkan dengan pengalaman siswa, dan libatkan peran siswa secara aktif.

    ReplyDelete
  57. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Telah banyak tesis atau anggapan mengenai suatu filsafat, semuanya tergantung bagaimana cara kita memandang atau memahaminya. Faktor yang mendukung suatu anggapan yaitu lingkungan sekitar kita hidup.

    ReplyDelete
  58. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Compte berpendapat bahwa agama saja tidak bisa untuk membangun dunia, karena agama itu bersifat irrasional dan tidak logis. Maka diatasnya agama atau spiritual itu adalah filsafat, dan diatasnya filsafat itu ada metode positive atau saintifik. Maka dari hal itu baiklah jika manusia senantiasa menyeimbangkan dalam kehidupan ini antara spiritual dan berpikir. Segala hal yang logis dan tidak logis akan iku serta dalam membangun dunia. Sebagai manusia maka perlu untuk mengembangkan dirinya agar dapat turut serta dalam mengembangkan dunia.

    ReplyDelete
  59. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Objek filsafat itu yang ada dan mungkin ada, dan memiliki sifat tak terhingga, manusia tidak dapat menjangkau semuanya, maka dari itu manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, sehingga manusia hanya dapat memikirkan sebagian saja , tujuannya adalah untuk membangun dunia, dunia pengetahuan. Manusia hidup didunia ini sudah semestinya menjaga dan mengembangkan apa yang ada, termasuk pengetahuan juga manusia yang mengembangkan dan manusia juga yang menggunakan

    ReplyDelete
  60. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Yunani (Greek) pada zaman klasik hingga abad pertengahan dikenal sebagai pusat peradaban, karena banyak melahirkan para filosof dunia. Dimulai dari Thales hingga Socrates, Plato, Aristoteles, dan banyak lagi filosof dunia lahir di Yunani.

    ReplyDelete
  61. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Meski pernah menjadi pusat peradaban, tetapi kenapa saat ini Yunani terpuruk. Ekonominya jatuh hingga titik nadir. Yunani berada di ambang kebangkrutan. Itu karena setelah abad pertengahan hingga saat ini filsafat mati di Yunani. Tidak ada lagi filosof yang lahir dari Yunani. Peninggalan peradaban Yunani hanya dijadikan tempat wisata. Sementara pemikirannya ditinggalkan.

    ReplyDelete
  62. ‘Aynun Fitri
    14301241016
    Pendidikan Matematika 2014 A

    Filsafat merupakan sumber dari peradaban. Beberapa buktinya adalah sebagai berikut :
    - Yunani (Greek) pada zaman klasik hingga abad pertengahan dikenal sebagai pusat peradaban, karena banyak melahirkan para filosof dunia.
    - Di Yunani pada abad klasik ada Aristoteles, filosof yang dikenal dengan gelar “Guru Pertama”.
    - Barat maju dalam ilmu pengetahuan hingga merajai setiap ranah ilmu karena sampai saat ini masih melestarikan filsafat.
    - Di Jepang filsafat pun berkembang luas sampai saat ini. Confusianisme, Buddhisme, Neo-Confusianisme, dan empirisme dari filsafat Barat masih terus dipelajari.

    ReplyDelete
  63. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. sungguh menarik bukan. Mungkin teman-teman yang ingin membaca filsafat ilmu lebih dalam bisa mengunjungi perpustakaan salah satunya. dikarenakan disana tersedia begitu ragam mengenai filsafat ilmu.

    ReplyDelete
  64. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Setiap obyek filsafat memiliki sifat yang sangat banyak bahkan sampai bermilyar-milyar sifat. Karena adanya sifat yang bermilyar-milyar itu maka lahirlah berbagai tokoh filsafat yang memiliki fokusnya sendiri-sendiri dan lahirlah berbagai aliran filsafat. Sebagai contohnya, tokoh yang fokus pada hal yang tetap adalah Permenides, dan lawannya yaitu yang berubah tokohnya adalah Heraclitus, tokoh yang membahas tentang hal yang bersifat ideal adalah Plato, dan yang bersifat realis tokohnya adalah Aristoteles, dan masih banyak lagi aliran beserta tokoh filsafatnya.

    ReplyDelete
  65. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Postingan Bapak Marsigit di atas membahas tentang a posteriori dan a priori, istilah baru bagi saya sebelum saya mengikuti perkuliahan etnomatematika. A posteriori adalah paham setelah melihat bendanya, sedangkan a priori adalah dapat memahami tanpa melihat bendanya atau hanya berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan. Dalam pendidikan matematika, a priori itu adalaha dunianya orang dewasa atau matematika untuk dewasa karena tanpa adanya benda nyata, sedangkan matematika untuk anak itu haruslah a posteriori yaitu anak hanya dapat paham ketika telah melihat bendanya, sehingga janganlah menganggap bahwa anak-anak dapat seperti orang dewasa yang bersifat a priori.

    ReplyDelete
  66. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan terbatasnya sifat manusia, begitu pula berbagai pikiran yang ada pada manusia. Semua itu terbatas oleh suatu hal, berbeda dengan benda-benda yang ada didunia ini yang merupakan ciptaan Tuhan. Untuk itulah manusia membutuhkan Tuhan agar dirinya tidak tenggelam dalam banyaknya sifat-sifat dunia.

    ReplyDelete
  67. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keharmonisan dunia memang perlu adanya interaksi dari suatu yang tetap dan yang berubah/dinamis. Seperti halnya manusia, bentuk tubuh manusia ukuran akan berubah seiring dengan berjalannya waktu, namun jiwa dari manusia itu akan selalu tetap akan berada pada tubuh yang sama walau waktu terus berjalan.

    ReplyDelete
  68. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam perkembangan manusia mengerti akan sebuah matematika pasti berbeda ketika ia masih kecil dan setelah ia dewasa. Ketika kecil hal dalam matematika yang ia pelajari masih dapat dibayangkan, seperti bagaimana menghitung jumlah permen yang ada ditangan. Namun ketika ia dewasa maka matematika yang ia pelajari akan lebih rumit dan kompleks untuk dimengerti

    ReplyDelete
  69. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan adanya sifat plural dalam dirikita sebagai manusia yang masih hidup, akan selalu ada hal yang konsisten dalam diri kita sperti yang bapak misalkan tentang A=A. Dan itu hanya terjadi dalam pikiran kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  70. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika kita belajara mengenai filsafat, antara filsafat satu dengan yang lain pasti akan berbeda. Tergantung dari apayang akan kita bahas. Dan walaupun dari apa yang manusia itu bahas asdalah sama, hal itu juga akan berbeda pada tiap individu yang membahasnya.

    ReplyDelete
  71. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pikiran yang konsisten dalam analitik memang membutuhkan suatu aturan agar dapat berjalan dengan baik. Seperti halnya manusia , manusia agar hidupnya berjalan dengan baik harus dibatasi oleh aturan-aturan. Kalau tidak itu akan membahayakan entah untuk dirinya sendiri maupun orang lain

    ReplyDelete
  72. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam dirinya setiap manusia juga memiliki aposteriori dan apriori. Contoh lain untuk aposteriori adalah ketika seorang melihat benda barulah ia mengerti benda apa itu. Disisi lain dengan priori, ketika tanpa dia melihat langusng namun diberikan contoh dari sifat-sifat benda yang disebut, maka orang itu juga bisa mengenali benda tersebut.

    ReplyDelete
  73. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tepat apa yang telah disampaikan Immanuel Kant. Sebuah ilmu tak akan berdiri hanya berdasar pengalaman saja, maupun berdasarkan pikiran saja. Keduanya dibutuhkan dalam segala keilmuan.

    ReplyDelete
  74. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    “Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru”
    Contoh inilah yang membuat saya selaku mahasiswa nyaman ketika membaca tulisan-tulisan pak prof. banyak hal yang dapat dipelajari dan pengertian yang harus saya pahami. Guru haruslah berperilaku selayaknya yang pak Marsigit sampaikan.

    ReplyDelete
  75. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika guru saat mengajar hanya menampakan semua hal yang membuatnya terlihat besar, maka akan sulit bagi siswanya untuk dapat menerima atau membangun ilmu yang telah guru sampaikan. Mereka hanya akan merasakan beban dalam proses belajarnya.

    ReplyDelete
  76. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan guru memahami bagaimana cara siswa belajar, hal ini akan membuat interaksi diantara keduanya menjadi lebih mudah dan proses belajar akan lebih berjalan dengan baik. Saat guru mampu memahami pa yang siswanya rasakan, maka siswa akan merasa nyaman dengan keadaaan tersebut dan pembelajaran berjalan lebih baik.

    ReplyDelete
  77. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Membelajarkan matematika pada anak kecil dan orang dewasa memang harusnya berbeda. Karena dengan contoh, maka anak kecil akan lebih mudah dalam memahami yang disampaikan. Sedangkan membelajarkan definisi pada orang dewasa, maka orang tersebut akan lebih mudah membangun pengetahuan yang ia perlukan.

    ReplyDelete
  78. Isnan Noor Wahid R
    14301241057
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang disampaikan Compte bahwasannya agama saja tidak cukup untuk membangun dunia. Namun harus kita ingat, bahwa agama mendasari ini semua. Bukan karena tidak cukup lalu kita mengabaikan aspek agama. Namun karena tidak cukup maka perlulah kita kembangkan sebuah ilmu untuk menjalankannya, dan tetap masih menggunakan agama.

    ReplyDelete
  79. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya memang benar bahwa pembelajaran matematika untuk anak-anak dan orang dewasa harus dibedakan. Hal ini dikarenakan kemampuan pola pikir dari keduanya yang berbeda. Kemampuan pola pikir anak lebih terbatas bila dibandingkan dengan pola pikir orang dewasa yang sudah dapat memikirkan segala hal dari berbagai sudut pandang. Pembelajaran matematika yang cocok dengan anak-anak adalah pembelajaran dengan benda-benda konkrit serta ada dilingkungan sekitar anak, sementara itu pembelajaran matematika untuk orang dewasa lebih kepada pembuktian, rumus-rumus, teorema dan aksioma yang membutuhkan pemikiran yang lebih luas dalam proses pemahamannya.

    ReplyDelete
  80. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Belajar adalah suatu cara mengetahui hal baru. Manusia hidup dan berkembang tidak lepas dari yang namanya belajar. ketika dalam kandungan pun manusia telah belajar. belajar adalah melakukan sesuatu, dengan melakukan sesuatu kita dapat belajar. Belajarlah dimanapun dan kapanpun. jangan pilih-pilih dalam belajar, dengan siapa dan dimana selalu belajar dan belajar agar kita dapat berkembang.

    ReplyDelete
  81. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi diatas terdapat pernyataan menarik bagi saya mengenai kedudukan guru. "...mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru." Berdasarkan pernyataan tersebut, saya menyimpulkan bahwa menjadi guru tidak lah mudah. Guru harus mampu menyesuaikan dalam situasi apapun. Diibaratkan guru adalah seorang koki. Bagaimanapun keadaan bahan yang akan diolah, koki harus berusaha mengolahnya semaksimal mungkin dengan berbagai media, teknik, metode, dan pendekatan agar diperoleh hasil masakan yang lezat. Dalam hal ini, guru harus memahami berbagai karakteristik siswa dalam berbagai keadaan. Istilah 'Dewa' di atas dimaksudkan bahwa guru harus mampu menyesuaikan diri. Semoga kelak calon guru dapat menerapkan ilmu dari elegi ini dengan penuh tanggung jawab dalam mengemban amanah. Aamiin.

    ReplyDelete
  82. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dapat kita ilustrasikan bahwa perumpamaan bayi kembar identik merupakan bayi dengan bayi yang lain adalah sama walaupun berbeda, ataupun bayi dengan bayi yang lain adalah berbeda walaupun sama. Hal tersebut tergantung cara kita memandangnya. Sebab KESEMPURNAAN yang hakiki hanya milik Tuhan Yang Maha Esa

    ReplyDelete
  83. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan dalam suatu hal tidaklah salah. Itu semua tergantung dimana kita memposisikan diri kita dalam memandang suatu hal tersebut. Misalkan angka 9, jika kita lihat dari posisi normal angka membentuk angka Sembilan tetapi jika kita melihat angka 9 dari atas maka akan membentuk angka Enam.

    ReplyDelete
  84. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya sepakat bahwa ilmu itu berasal dari ide/pikiran dan pengalaman. sebagai guru hendaknya dapat mengkolaborasikan dari pikiran dan pengalaman dan diterapkan ke dalam pembelajaran di kelas sehingga dapat menciptakan tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    ReplyDelete
  85. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    “Manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna” karena manusia walaupun diciptakan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna ia pun juga tetap tidak sempurna. Karena suatu kepastian yang bersifat pasti adalah sebagian dari kehidupan dan sisanya adalah suatu hal yang tidak pasti. Sejatinya suatu hal yang pasti adalah suatu hal yang tidak pasti.

    ReplyDelete
  86. Nurul Faizah
    14301241022
    Pendidikan Matematika A 2014 (S1)

    "Sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah". Saya setuju dengan hal ini. Dalam hidup ini tidak ada yang tetap saja ataupun berubah terus. Semua memiliki sudut pandang masing-masing, tergantung dari mana kita akan memandang sesuatu tersebut. Filsafat pun juga mengajarkan begitu, sehingga dijelaskan bahwa sifat yang tetap dan konsisten itu berupa ilmu-ilmu dasar dan murni, sedangkan dalam sifat yang berubah itu berupa sosial, budaya, ilmu humaniora.

    ReplyDelete
  87. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada hakekatnya manusia itu mempunyai batasanan dalam dirinya. Mislakan saja manusia yhanya dapap memikirkan yang ada. Karena jika memikirkan yang munkin ada maka objek terebut menjadi yang ada dlam pikiran manusia. Sehingga dalam belajar manusia mempunyai keterbatasan dalam mempelajari yang ada dan ynag mungkin ada. Dengan berkembangnya pikiran manusia pun tak akan mencapai banyakny yang dan dan yang mungkin ada. Sehingg dalam perbuatannya manusia hendaklah selalu berdoa karena semua kegiatan tidak ada yang pasti yang pasti adalah perlindungan Allah.

    ReplyDelete
  88. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kehidupan ini terdapat suatu yang identitas dan yang kontradiksi. Bisa jadi ketika A=A berupa suatu identitas, namun pada kondisi lain A≠A maka hal tersebut merupakan kontradiksi. Cara berpikir orang dewasa dan anak kecil sangatlah berbeda. Terkadang kebenaran ada di saat kita masih berpikir atau ada dalam pikiran kita. Akan tetapi mungkin bisa salah ketika kita ucapkan.


    ReplyDelete
  89. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Belajar filsafat tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Ibarat ikan yang berenang di lautan harus mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Jadi berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya.

    ReplyDelete
  90. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Setelah membaca artikel di atas, barulah saya tahu dari pertanyaan saya selama ini. Kenapa Indonesia sangat jauh tertinggal dengan negara2 eropa. Bahkan menjadi objek dari power now. Tidak perlu menyalahkan keadaan, cukup perbaiki diri kita terlebih dahulu. Karena bagaimana mungkin kita akan menjadikan Bangsa ini menjadi bangsa yang maju, sedangkan diri sendiri saja masih belum bisa memanage diri kita.

    ReplyDelete
  91. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Menjelaskan matematika bagi anak kecil atau anak sekolah dan orang dewasa sepert mahasiswa itu berbeda. Anak akan lebih paham jika diberkan contoh nyatanya bukan diberikan penjelasan definisi. Sedangkan orang dewasa hanya dengan defnisi bisa memikirkan dan akan paham

    ReplyDelete
  92. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pikiran manusia pada dasarnya terbatas karena manusia tidak mungkin bsia memikirkan semua sifat-sifat yang ada. Maka manusia hanya memikirkan sifat yang memiliki tujuan, membangun peradaban

    ReplyDelete
  93. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sebagai guru, harus bisa menposisikan diri sebagai siswa, bagaimana siswa berpikir guru haruslah paham. Karena pengalaman atau cara berpikir antara guru dan siswa papstilah berbeda. Maka dalam menyampaikan sesuatu kepada siswanya haruslah sesuai dengan cara berpikir siswanya

    ReplyDelete
  94. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Apa? (dalam pikiran) dibedakan menjadi spiritual, material dan yang terletak di antara keduanya adalah normatif. Normatif yang selayaknya dan pada umumnya dilakukan. Dimana terdapat langit dan dunia yang memiliki awal dan akhir yang selalu memiliki kontradiksi. Langit yang bersifat formal dan tetap, yang semakin ke atas adalah ideal, abolut dan jika dinaikkan lagi akan sampai pada sabda bahkan Firman Tuhan yang memang mutlak dan tidak akan berubah-ubah lagi. Sebaliknya yang terdapat di Dunia itu bersifat perubah, relatif bahkan semakin kebawah bersifat nyata selanjutnya bayangan. Sebagai manusia akan lebih baik jika dapat menyeimbangkan antara langit dan bumi, dan menjadikan keteratasan langit (firman Tuhan) menjadi landasan dunia.

    ReplyDelete
  95. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tidak ada didunia ini yang sempurna karena hanya 1 yang sempurna yaitu Tuhan yang menciptakan semesta. manusia pun tidaklah sempurna tidak akan pernah lepas dari kesalahan.

    ReplyDelete
  96. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pikiran manusia sekarang sangatlah terbatas pada tujuan hidupnya saja. sehingga hanya memikirkan segala sesuatu hanyua akan menguntungkan dirinya dan kelompoknya saja.

    ReplyDelete
  97. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    dalam mengajar. guru harus mampu memposisikan diri seperti teman si siswa. mampu memahami konsep dan pola pikir siswa. sehingga ketika metode belajar yang diberikan tepat. siswa juga mampu memahami materi dengan cepat dan tepat

    ReplyDelete
  98. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam memfasilitasi siswa guru harus tahu betul kondisi dan perkembangan siswa. Misalnya guru SD siswa harus dapat menjelma dan merasakan bagaimana siswa belajar dan mengikuti pembelajaran. Dengan begini Siswa akan terfasilitasi dikarenakan Pembelajaran sudah sesuai dengan tahap perkembangan kognitif nya.

    ReplyDelete