Nov 9, 2015

PERADABAN DUNIA

PERADABAN DUNIA
(BELAJAR PERAN DAN FUNGSI DARI FILSAFAT)
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kedelapan,
Kamis, 05 November 2015
Direfleksikan oleh
Vivi Nurvitasari, 15701251012,
S2 Prodi PEP Kelas B Universitas Negeri Yogyakarta
Diperbaiki oleh
Marsigit


Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 05 November 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Sistem perkuliahan pada minggu ini berbeda dengan pertemuan sebelumnya karena pada pertemuan kali ini Pak Marsigit memberikan penjelasan tentang “Peran dan Fungsi Filsafat dari Awal Zaman sampai Akhir Zaman”.

Berikut adalah hasil refleksi dari materi yang telah disampaikan oleh Pak Marsigit pada pertemuan ke delapan :

Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar pun belum cukup untuk menyebutkannya karena sifat itu berstruktur dan berdimensi. Misalnya saja warna hitam mempunyai semilyar sifat hitam, yaitu hitam nomor 1 ini, hitam nomor 2 itu, dst. Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa  memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah.  Kalau hanya berubah itu hanya separuhnya dunia, separuhnya lagi bersifat tetap, buktinya sejak lahir sampai sekarang sampai mati pun manusia tetap ciptaan Tuhan.

Dunia jika hanya thesis saja baru separuhnya dunia dan itu tidak sehat dan juga tidak harmonis. Supaya sehat dan harmonis adanya interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Misalkan saja namanya Pak Marsigit, walapun ada tambahan Prof.; Dr.; M.A tetap saja namanya Pak Marsigit. Maka  sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Yang tetap itu tokohnya Permenides. Yang berubah itu tokohnya Heraclitus. Yang tetap itu bersifat idealis, dan yang berubah itu bersifat realis. Yang ideal tokohnya Plato. Yang realis tokohnya Aristoteles. Tetap-ideal itu ternyata salah satu sifat dari pikiran, sedangkan berubah-realis ternyata salah satu sifat dari pengalaman. Pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan.

Benarnya yang tetap, benarnya yang ideal, benarnya aksioma itu konsisten atau koheren, sedangkan benarnya yang berubah, benarnya kenyataan, benarnya pengalaman itu adalah korespodensi. Yang konsisten atau koheren tersebut merupakan matematika sebagai ilmu untuk orang dewasa sedangkan yang korespodensi adalah matematika untuk anak-anak yaitu matematika berupa aktivitas. Yang konsisten atau koheren tersebut bila dinaikkan menjadi transendentalisme, dinaikkan lagi menjadi spiritual dan semakin ke atas menjadi kebenaran tunggal yaitu mono dan menjadi aliran monisme. Sedangkan korespodensi bila diturunkan menjadi plural atau dualis yang menjadi dualisme.

Selagi kita itu berada di duniamaka kita masih mempunyai sifat yang plural, jangankan mahasiswa UNY, sedangkan diriku sendiri bersifat plural, karena bersifat plural maka pada yang tetap itu bersifat konsisten atau identitas yaitu A=A. A=A hanya terjadi dipikiran, maka matematika yang tertulis dibuku itu hanya matematika untuk orang dewasa, hanya benar ketika masih didalam pikiran, tapi ketika ditulis bisa saja salah. Sedangkan yang berubah itu bersifat kontradiksi yaitu A≠A, karena A yang pertama tidak sama dengan A yang kedua. Maka yang bersifat identitas itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sedangkan yang bersifat kontradiksi itu terikat oleh ruang dan waktu. Yang bersifat tetap dan identitas itu dikembangkan dan dipertajam dengan logika yang tokohnya adalah Sir Bentrand Russel, maka lahirlah aliran Logisism. Ilmu yang  bersifat formal dan lahirlah aliran Formalism, tokohnya Hilbert.

Jadi yang ada dan yang mungkin ada itu bisa saja sembarang benda. Kemudian dari adanya logika dari objek filsafat yang bersifat tetap, maka pera rasio menadi sangat penting, kemudian lahirlah aliran Rasionalisme tokohnya Rene Decartes. Sedangkan dalam objek filsafat yang bersifat berubah, sebagian besar terjadi pada pengalaman; maka lahirlah empirisme tokohnya David Hume yang menuju pada sekitar abad 15. Yang tetap itu kebenarannya bersifat absolut maka lahirlah Absolutisme, sedangkan yang berubah itu bersifat relatif, lahirlah aliran relatifisme. Jadi aliran filsafat itu tergantung pada obyeknya, dan ini terjadi pada diri kita masing-masing secara mikro, dan ketika kita membaca atau mempelajari buku, misalnya buku tentang Rene Decartes itu berarti makronya. Jadi hidup itu adalah interaksi antara mikro dan makro.

Yang namanya logika, pikiran itu konsisten didalam filsafat disebut analitik. Analitik berarti yang penting konsisten dalam satu hal menuju ke hal yang lain. Sehingga yang disebut analitik dan konsisten tersebut membutuhkan aturan atau postulat. Untuk yang mempunyai aksioma atau yang mempunyai postulat adalah subyeknya atau dewanya, misalnya seorang kakak membuat aturan untuk adiknya, ketua membuat aturan pada anggotanya, dosen membuat aturan untuk mahasiswanya. Sedangkan yang di bawah atau yang berubah itu bersifat sintetik punya sebab dan akibat. Yang diatas yang bersifat tetap atau konsisten itu bersifat analititk, dan juga bersifat a priori yaitu bisa dipikirkan walaupun belum melihat bendanya.

Yang dibawah berupa pengalaman itu adalah a posteriori, contohnya dokter hewan yang harus memegang sapi untuk bisa mengetahui mengetahui penyakit yang diderita si sapi tersebut, jadi a posteriori itu adalah paham setelah melihat bendanya. Sedangkan a priori, misalnya dokter yang membuka prakter pengobatan lewat radio, ketika menangani pasien, dokter tersebut mendengarkan keluhan-keluhan dari si pasien lewat radio, hanya dengan mendengarkan tanpa melihat, dokter tersebut sudah bisa membuat resep yang didasari oleh konsistensi antara teori satu dengan teori yang lain.

Maka Immanuel Kant mencoba mendamaikan perdebatan yang terjadi antara empirisme dan rasinalisme. Descartes dan pengikutnya berkata tiadalah ilmu jika tanpa pikiran, sedangkan David Hume berkata tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Lalu Immanuel Kant mengatakan bahwa antara Descartes dan David Hume itu keduanya benar dan juga keduanya salah. Dalam apa yang disebutkan oleh David Hume terdiri unsur kesombongan karena mendewa-dewakan pengalaman. Sedangkan dalam apa yang dikatakan Descartes itu terdapat kelemahan yaitu terlalu mendewa-dewakan pikiran dan mengabaikan pengalaman. Maka unsur daripada pikiran adalah analitik a priori, dan unsur daripada pengalaman adalah sintetik a posteriori. Ambil sintetiknya, ambil a priorinya, maka sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori, ya dipikirkan dan juga dicoba.

Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.

Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan  bukti.

Akhirnya filsafat dalam perjalanannya seperti yang disebutkan diatas, maka lahirlah dalam sifat yang tetap dan konsisten itu berupa ilmu-ilmu dasar dan murni, sedangkan dalam sifat yang berubah itu berupa sosial, budaya, ilmu humaniora. Maka sampai disitulah bertemu yang namanya bendungan Compte. Dari sinilah SEGALA MACAM PERSOALAN DUNIA sekarang ini muncul, yaitu dengan munculnya Fenomena Compte sekitar 2(dua) abad yang lalu. Fenomena Compte ditandai dengan lahirnya pemikiran August Compte seorang mahasiswa teknik (drop out) tapi pikirannya berisi tentang filsafat.

Compte berpendapat bahwa agama saja tidak bisa untuk membangun dunia, karena agama itu bersifat irrasional dan tidak logis. Maka diatasnya agama atau spiritual itu adalah filsafat, dan diatasnya filsafat itu ada metode Positive atau saintifik. Positive atau saintifik itulah yang digunakan untuk membangun dunia, maka lahirlah aliran positifisme. Jadi di Indonesia Kurikulum 2013 dengan metode Saintifiknya itu asal mulanya dari pikiran Compte yang berupa positivisme tadi. Jadi metode saintifik dalam kurikulum itu adalah ketidakberdayaan Indonesia bergaul dengan Power Now. Sumber persoalan/permasalahan segala macam kehidupan manusia di dunia sekarang ini adalah berawal mula dari dimarginalkannya Agama oleh Auguste Compte yang dianggap tidak mampu digunakan sebagai pijakan untuk membangun Dunia. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai Fenomena Compte.


Dari kesemua aspek Fenomena Compte, yang didukung oleh ilmu dasar sehingga menghasilkan teknologi, sehingga menjadi paradigma alternatif, kenapa? Fenomena Compte dengan didukung dengan pengembangan Ilmu-ilmu dasar dan teknologi, telah menghasilkan Peradaban Barat dengan era industrialisasinya. Hingga jaman sekarang kontemporer, dunia dikuasai oleh segala aspek industrialisasi dan teknologi. Itulah-sebenar-benar fenomena Kontemporer atau Power Now yang mengusasi setap jengkal dan setiap desah napas kehidupan kita tanpa kecuali di seluruh dunia mulai dari anak-anak, orang dewasa, laki-perempuan, …dst. Dunia Timur yang lebih mengandalkan metode Humaniora, ditengah pergulatan dari dalam dirinya sendiri, TIDAK MENYADARI BAHWA FENOMENA COMPTE TELAH MENJELMA MENJADI POWER NOW, yang disokong pilar-pilar Kapitalisme, Liberalisme, Hedonisme, Pragmatisme, Materialisme, Utilitarianisme, …dst.

Sementara itu Indonesia, di mana letak geografis dan perikehidupan berbangsa dan bermasyarakat berasal dari Dunia Timur yang lebih mengedepankan aspek-aspek humaniora dengan Strukturnya Dunia Timur yang terdiri dari/dimulai dari Material paling bawah, Formal di atasnya, Normatif diatasnya lagi, dan  Spiritual yang menjiwai, mendasari dan melingkupi seluruhnya. Itu merupakan cita-cita Indonesia sesuai dengan dasar negaranya yaitu Pancasila, dimana Pancasila itu filsafat negara yg bersifat Monodualis, mono karena Esa Tuhannya, dualis yaitu aku dengan masyarakatku, jadi vertikal dan horisontal, itulah cita-cita kita semua sebagai warga negara Indonesia. Dalam perjuangan membangun struktur kehidupan Indonesia yang demikian tadi, ternyata kita menjumpai fenomena ontologis yaitu Fenomena Compte.

Secara filsafat, Fenomena Compte dapat dipahamai dari 2(dua) sisi, yaitu secara macro dan micro. Secara macro, Fenomena Compte sesuai dengan yang ditulis oleh Auguste Compte dalam bukunya POSITIVESME. Secara micro, maka setiap hari kita sendiri-sendiri atau bersama-sama atau secara kelembagaan/negara selalu mengalami Fenomena Compte. Contoh micronya adalah jika seseorang memutuskan untuk membeli produk baru, misal Hand Phone canggih, tetapi kemudian timbul masalah dalam dirinya, atau keluarganya, atau mungkin keluarganya menjadi berantakan gara-gara produk baru, maka itulah yang disebut sebagai micronya Fenomena Compte. Seorang mahasiswa yang membeli komputer baru sehingga melupakan kewajiban ibadah Shalatnya maka dia sudah terkena Fenomena Compte.


Maka kita belajar filsafat itu bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian). Pada jaman Kontemporer ini sudah banyak ikan-ikan kecil di laut yang mati terkena limbahnya kehidupan Power Now. Banyak juga makhluk hidup yang mengalami perubahan genetika/mutasi gen, misal TKI muda yang pergi ke Luar Negeri, setelah kembali dia sudah berubah semuanya, dunia dan akhiratnya. Itulah salah satu dampak mikro fenomena Compte.

Belajar Filsafat bukanlah sembarang manusia yang mampu menjalaninya. Ibarat kita ini adalah ikan kecil di lautan, maka belaar filsafat bukanlah sembarang ikan. Tetapi adalah ikan yang mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Kita yang belajar filsafat untuk mengatahui struktur dunia dapat diibaratkan sebagai seorang Bima yang mencari Wahyu atau Banyu Penguripan Perwitasari di dasar samudra. Sang Bima dengan bersikap mengalir dengan kesadaran hidup baik buruk, ditipu dan difitnah, tetapi didasari aspek Fatal dengan berserah diri pada Yang Kuasa, akhirnya dapat bertemu Dewa Ruci sang Dewa dasar laut sebagai representasi Dewa atau yang Kuasa, untuk memberikan wahyu atau pencerahan atau ilmu. Sebagai mahasiswa, ilmu yang engkau dapat dari P Marsigit dan juga dengan cara membaca Elegi-elegi kejadiannya mirip dengan sang Bima menemupakan air kehidupan. Engkau akan mengerti setiap aliran air jernih atau air limbahnya Kapitalisme mulai dari hulu sampai ke hilirnya.

Untukmendapatkan sebenar-benar ilmu (wahyu) maka seseorang (Bima, Arjuna dan engkau si subjek belajar filsafat) harus mampu menatasi segala kontradiksi sesuai dengan batasan0batasannya. Jadi apakah anda paham apa itu kontradiksi? Karena sebenar-benarnya hidup ini adalah kontradiksi. Kontradiksi yang nyata dan yang kasat mata adalah ketika orang terjun ke air, muncul di atas sudah terlentang, maka berfilsafat itu mencari pengetahuan sehingga ketika terjun ke dalam air bisa muncul lagi dengan selamat. Jadi berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya. Maka adanya interaksi antara makro dan mikro. Jadi itulah gambarannya untuk mahasiswa sebagai bekal ketika membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit.

Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik).

Sehingga Indonesia telah menjadi obyek dari dunia Power Now, maka begini salah begitu salah, serba salah. Itulah kita bangsa yang lemah, para pemikirnya juga menjadi pemikir yang lemah, sehingga metode Saintifiknya juga menjadi tidak berkarakter, karena dalam setiap metode saintifik di dunia aslinya terdapat langkah yaitu Hipotesis. Tetapi di dalam Kurikulum 2013 tidak ada dan diganti dengan Menanya. Menanya apa, menanya untuk apa? Sebetulnya adalah untuk membuat Hipotesis sementara. Tetapi mendengan kata-kata Hipotesis tentu semua orang, guru dan murid akan ketakutan. Binatang macam apa Hipotesis itu. Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana.

Metode saintifik itu hanya salah satu aspek dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013 akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah metode Hermenitika.

Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menajam, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menejam atau menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode  saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive).  Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca. Ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis dari air agar bisa mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya. Jika engkau paham dan sadar mudah-mudahan keturunanmu juga nantinya akan mengerti dan sadar, juga orang didekatmu, keluargamu termasuk murid-muridmu. Amin.


Alhamdulillahirrobbil’alamin.

27 comments:

  1. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Ketika belajar filsafat, sering kita tergoyahkan pendirian kita. Prof. Marsisgit pernah berkata dalam perkuliahan filsafat pendidikan, “Aku yang sekarang berbeda dengan aku satu detik yang lalu”. Sekarang saya membuat mengetik komentar dengan menggunakan l, dan sekarang sudah ganti dengan menggunakan on-screen keyboard. Jika dikaitkan dengan matematika, 3 = 3 adalah pernyataan yang salah, apalagi jika 1 + 2 = 3. Seperti selalu disampaikan Prof. Marsigit dalam kuliahnya, bahwa jika kita belajar filsafat, harus memposisikan spiritual di atas segalanya. Hal tersebut dimaksudkan agar kita terhindar dari sifat sombong dengan merasa menjadi manusia paling berilmu.

    ReplyDelete
  2. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Ketika belajar filsafat, sering kita tergoyahkan pendirian kita. Prof. Marsisgit pernah berkata dalam perkuliahan filsafat pendidikan, “Aku yang sekarang berbeda dengan aku satu detik yang lalu”. Sekarang saya membuat mengetik komentar dengan menggunakan l, dan sekarang sudah ganti dengan menggunakan on-screen keyboard. Jika dikaitkan dengan matematika, 3 = 3 adalah pernyataan yang salah, apalagi jika 1 + 2 = 3. Seperti selalu disampaikan Prof. Marsigit dalam kuliahnya, bahwa jika kita belajar filsafat, harus memposisikan spiritual di atas segalanya. Hal tersebut dimaksudkan agar kita terhindar dari sifat sombong dengan merasa menjadi manusia paling berilmu.

    ReplyDelete
  3. Latifah Fitriasari
    17709251048
    PPs PM C

    Filsafat membuat kita berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi berbagai permasalahan. Kemampuan berfikir secara jernih, menalar secara logis, dan mengajukan dan menilai argumen, menolak asumsi yang diterima begitu saja.

    ReplyDelete
  4. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Auguste Comte adalah seorang tokoh penting dalam filsafat positivisme. Dalam positivisme, ilmu pengetahuan didapat dari fakta-fakta yang teramati, sehingga positivisme menolak metafisika dan meletakkan agama di paling bawah. Sampai munculnya fenomena kontemporer atau yang biasa disebut oleh Pak Marsigit sebagai Power Now. Hal ini menjadi tantangan besar bagi negara kita terhadap positivisme yang masuk. Semakin derasnya aliran yang masuk diharapkan Indonesia berpegang teguh dengan ideologi bangsa yang menomorsatukan agama sebagai spiritualisme. Maka sebenar-benar fenomena Auguste Comte adalah berada di dalam pribadi masing-masing

    ReplyDelete
  5. Metia Novianti
    17709251021
    P.Mat A S2 2017

    Ajaran Comte yang berupa paham positivisme saat ini sudah tidak terhindarkan lagi dan semakin merajalela. Apabila kita tidak bisa memfilternya, kita sama saja seperti ikan-ikan kecil yang diibaratkan pada artikel di atas, dimana ikan-ikan kecil tersebut berada di air yang sudah tercemar limbah. Ajarannya yang menganggap bahwa agama itu tidak penting dan menempatkannya dalam posisi terbawah sungguh tidak sesuai dengan kehidupan di negara kita. Banyak-banyaklah beristighfar dan berdoa agar kita terhindar dari fenomena Comte.

    ReplyDelete
  6. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Pendekatan saintifik merupakan kerangka ilmiah pembelajaran yang diusung oleh Kurikulum 2013. Langkah-langkah pada pendekatan saintifik merupakan bentuk adaptasi dari langkah-langkah ilmiah pada sains. Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah, karenanya Kurikulum 2013 mempercayai esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.

    ReplyDelete
  7. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Mengutip kalimat ini "Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana."
    Ini pernah menjadi objek bahan pemikiran saya selama ini, mengapa Kurikulum 2013 tidak mengadakan hipotesis, padahal seringkali ketika membuat instrumen soal kita mengacu pada taksonomi Bloom yaitu level 6 (HOTS) tentang mencipta, dengan salah satu indikator nya adalah membuat hipotesis "create hypotheses".

    ReplyDelete
  8. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Mengutip kalimat ini "Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana."
    Ini pernah menjadi objek bahan pemikiran saya selama ini, mengapa Kurikulum 2013 tidak mengadakan hipotesis, padahal seringkali ketika membuat instrumen soal kita mengacu pada taksonomi Bloom yaitu level 6 (HOTS) tentang mencipta, dengan salah satu indikator nya adalah membuat hipotesis "create hypotheses".

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Saya setuju dengan pendapat uang menyatakan “ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis air agar dapat memilih air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi berikutnya dan keturunannya nantinya” karena hakekatnya manusia harus mengetahui hakikat hidupnya untuk apa dan bagaimana sehingga dapat melestarikan keturunan yang baik dan berkualitas sesuai dengan tujuan hidupnya yaitu tercapainya kebahagiaan dunia kahirat

    ReplyDelete
  10. Eka Luthfiana Lathhifah
    17709251062
    PPs Pmat C

    dengan belajar filsafat diharapkan kita tidak hanya akan menerima apa yang ada, namun kita juga mencari sudut pandang yang berbeda dari orang lain, belajar menjadi manusia yang berpikir kritis, logis dan inovatif.

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Zaman sekarang, dunia sudah dikuasai oleh teknologi, ketika tidak pandai-pandai dalam menyikapi maka hanya akan menjadi budak dari Power Now. Jangan sampai kita terkena fenomena Compte, teknologi merubah kita menjadi manusia yang apatis yang terlalu asik dengan teknologi, dan menjadi anti-sosial.

    ReplyDelete
  12. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Elegi diatas menjelaskan bagaimana sesuatu hal itu terus mengalami perubahan. Karena jika suatu hal tidak berubah maka ia telah manetap. Seperti juga perubahan berbagai teori dan pemikiran para ahli filsafat. Sehingga bermunculanlah berbagai teori yang kita kenal sendiri. Perubahan memang baik. Namun haruslah perubahan menuju ke arah kebaikan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  13. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dunia hanyalah panggung sandiwara, dimana kita seperti ikan-ikan kecil yang dsebut cidhol. Yang terkadang terseret arus deras aliran air, seperti itulah kehidupan jika kita tidak mempunyai landasan hidup yang jelas. Maka dari itu agar mempunyai arahan hidup yang jelas kita harus mampu dalam menghadapi fatamorgana hidup ini.

    ReplyDelete
  14. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak tokoh yang terlibat dalam kontribusinya terhadap aliran dalam filsafat. Tokoh aliran filsafat seperti Plato dan Aristoteles mempunyai aliran dimana aliran tersebut memiliki sudut pandang berbeda dari dimensi dunia. Plato memiliki aliran yang dikenal sebagai aliran Permenides yaitu paham yang menganggap ada sesuatu di dalam pikiran sedangkan Aristoteles memiliki aliran yang disebut Heraclitos dimana menganggap ada sesuatu yang ada di luar pikiran. Namun dari kedua aliran tersebut dipersatukan oleh Imanuel Khan yang kemudian menggabungkan dari kesuanya sehingga filsafat dari masa ke masa sampai padazaman kontemporer seperrti sekarang ini sehingga bermunculan banyak aliran filsafat baru seperti romantisme, idealisme, transenden dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  15. Junianto
    PM C
    17709251065

    Filsafat adalah olah pikir. Segala macam pendapat dan pikiran diperbolehkan dalam filsafat. Maka dari itu apapun yang ada di dunia ini bisa menjadi objek filsafat asalkan kita mau memikirkannya. Berbeda dengan disiplin ilmu lain yang objeknya lebih spesifik. Dijelaskan pula bahwa objek filsafat juga segala sesuatu yang mungkin ada. Hal ini menunjukkan pemikiran tentang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi di dunia. Maka dari itu, filsafat itu mempelajari semua hal tanpa terkecuali dengan berpikir.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seseorang yang benar-benar menginginkan kehidupan yang baik di dunia ini, maka hendaknya mereka melakukan hermeneutika dalam hidup. Seseorang yang terlalu ambisi dalam menjalani hidup untuk memperoleh sesuatu, sering sekali tidak kesampaian karena mereka tidak dengan ilmu. Sesungguhnya hermeneutika dalam kehidupan memberikan arti kepada kita bahwasannya hidup itu harus memiliki ilmu dalam menjalaninya. Karena jika tidak memiliki ilmu, maka seseorang tidak akan bisa melakukan hermeneutika dalam kehidupan mereka.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Diriku bersifat plural. Diriku yang sekarang berbeda dengan diriku satu detik yang lalu. Hal tersebut memang benar dan saya rasakan sendiri bahwa manusia senantiasa berubah. Berubah keadaan, sifat, fisik, pemikiran, dan lain sebagainya. Hati manusia memang mudah terbolak-balik dan iman manusia memang selalu naik turun. Untuk itu sudah seharusnya kita meminta perlindungan dari kejahatan diri sendiri untuk karena terbolak-baliknya hati dan naik turun iman.

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Sungguh melihat fenomena powernow diatas saya menjadi teringat dengan pemimpin bangsa ini. Pemimpin melupakan janji-janji mereka untuk memperbaiki Indonesia. Para pemimpin malah mengambil hak rakyat dan merusak keyakinan rakyat. Kita harus pintar, cerdas, mengunakan akal pikiran dan jangan lupa untuk melibatkan hati nurani dalam menghadapi powernow.

    ReplyDelete
  19. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Time line dari belajar berfilsafat, dianalogikan seperti kehidupan di lautan. Manusia sebagai ikan-ikan yang ada di lautan luas. Orang berfilsafat yaitu sedang mencari air yang jernih. Dari aliran air ilmu pengetahuan filsafat (dari awal hingga akhir jaman yang akan terus berkembang). Air laut merupakan muara dari aliran sungai yang bermula dari pegunungan. Sehingga air tersebut tidak lagi menjadi jernih. Dengan begitu, manusia yang beajar filsafat harus membuka hati dengan segala hal yang ada agar mengetahui secara utuh, apa itu filsafat.

    ReplyDelete
  20. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Dunia saat ini secara perlahan namun pasti sudah mulai dikuasi oleh powernow. Kita yang hidup di abad ini diibaratkan sebagai ikan-ikan kecil yang hidup dalam air keruh. Kita saat ini sedang berjuang melawan arus untuk menemukan mata air kejernaihan. Dunia yang telah dikuasai oleh hedonisme, kapitalisme, liberalis dan mengesampingkan spiritualisme tidak dapat kita hindari. Kita hanya dapat menghadapinya dengan selalu berikhtiar agar selalu diberi kekuatan untuk mengadapi gempuran powernow. Kita selalu berdoa dan berikhtiar agar mampu agar selalu istiqomah berada dijalan kebenaran. Terimakasih

    ReplyDelete
  21. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Sebuah refleksi pembelajaran yang sangat lengkap. Ilmu yang disampaikan seakan sudah terangkum dalam artikel ini. kesimpulan dari artikel tersebut adalah setiap manusia memiliki warna yang bermacam-macam, oleh kerena itu kita harus memiliki pemahaman yang baik kepada semua manusia agar kita dapat bergaul dengan baik. selain itu juga keihklasan dalam belajar harus selau ditingkatkan. Ikhlas adalah kunci untuk mempelajari ilmu dengan menyenangkan. dengan demikian, kebaikan bagi diri sendiri dan irang lain akan mudah di dapatkan.

    ReplyDelete
  22. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Dunia anak-anak adalah dunia kenyataan. Maka pembelajaran terbaik bagi anak-anak adalah melalui pengalamannya. Dengan berinteraksi dengan lingkungannya anak akan belajar. Maka matematika bagi anak-anak bukanlah definisi dan teorema, tetapi aktivitas. Seorang guru perlu memfasilitasi siswa dalam membangun matematikanya melalui aktivitas-aktivitas bukan dengan memberikan definifi, teorema, dan rumus-rumus.

    ReplyDelete
  23. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Dunia hanya tempat manusia berkehidupan. Tetapi sebagai makhluk yang beragama, khususnya muslim. Dunia ini hanya jalan untuk menuju kembali ke Allah, sehingga lakukan hal yang baik dan jauhi larangan yang sudah Allah tetapkan. Peradaban dunia pun akan mengikuti hal-hal yang baik, jika semua orang melakukan hal yang baik (positif) dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif.

    ReplyDelete
  24. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Bacaan mengenai peradaban dunia di atas mengungkapkan tentang perubahan olah pikir dan orientasi manusia. Pada zaman awal peradaban, manusia masih berpikir primitif namun beberapa tokoh filsafat mulai menggunakan pemikiran mereka untuk melihat sisi lain dari fisik yang terlihat. Sampai pada zaman sekarang, filsafat yang berkembang adalah filsafat bahasa. Tentu, filsafat bahasa ini menjadi pemacu manusia mengalami disorientasi dan pola yang berkembang adalah keegoisan penguasa ingin menguasai yang lemah. Benang merahnya adalah karena kebanyakan manusia zaman sekarang menempatkan agama pada tingkatan paling bawah atau dianggap hal yang tidak mendasar. Oleh karena itu, untuk mengembalikan kebaikan peradaban, maka diperlukan penempatan agama berada pada tingkat tertinggi.

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Kemajuan zaman seolah ditandai dengan merebaknya fenomena compte. Munculnya teknologi-teknologi mutakhir mendorong masyarakat bersifat materialistik. Kebutuhan akan smartphone atau android seolah menjadi kebutuhan yang sangat pokok (primer). Aplikasi-aplikasi di dalamnya seperti WhatsApp, facebook, instagram, dan sebagainya seolah wajib dimiliki penggunanya. Bahkan saking sibuknya mengguanakan gadget tersebut, mereka melupakan ibadah, sholat, mengaji, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  26. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Belajar filsafat itu penting agar kita lebih mengenal diri dan lingkungan kita. filsafat juga mengajarakan kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak yang harus sesuai dengan ruang dan waktunya. belajar filsafat dengan Prof. Marsigit juga selalu diikutkan ke ranah spiritual sehingga apapun yang dipelajari insya allah tidak akan menyimpang dari ajaran agama.

    ReplyDelete
  27. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    semakin maju zaman, semakin banyak pula godaan. terkadang tidak disadari kita telah terombang-ambing dengan arus perubahan. dengan mempelajari filsafat kita diarahkan kembali ke jalan yang benar, bisa membedakan mana yang baik dan buruk. mungkin yang saya pelajari di perkuliahan ini hanya sebagian kecil kulitnya filsafat. seperti yang pak Marsigit katakan bahwa ini baru seninya, permulaannya belajar filsafat. walaupun demikian, semoga apa yang telah saya dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat, dapat saya terapkan di kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete