Nov 9, 2015

PERADABAN DUNIA

PERADABAN DUNIA
(BELAJAR PERAN DAN FUNGSI DARI FILSAFAT)
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kedelapan,
Kamis, 05 November 2015
Direfleksikan oleh
Vivi Nurvitasari, 15701251012,
S2 Prodi PEP Kelas B Universitas Negeri Yogyakarta
Diperbaiki oleh
Marsigit


Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 05 November 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Sistem perkuliahan pada minggu ini berbeda dengan pertemuan sebelumnya karena pada pertemuan kali ini Pak Marsigit memberikan penjelasan tentang “Peran dan Fungsi Filsafat dari Awal Zaman sampai Akhir Zaman”.

Berikut adalah hasil refleksi dari materi yang telah disampaikan oleh Pak Marsigit pada pertemuan ke delapan :

Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar pun belum cukup untuk menyebutkannya karena sifat itu berstruktur dan berdimensi. Misalnya saja warna hitam mempunyai semilyar sifat hitam, yaitu hitam nomor 1 ini, hitam nomor 2 itu, dst. Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa  memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah.  Kalau hanya berubah itu hanya separuhnya dunia, separuhnya lagi bersifat tetap, buktinya sejak lahir sampai sekarang sampai mati pun manusia tetap ciptaan Tuhan.

Dunia jika hanya thesis saja baru separuhnya dunia dan itu tidak sehat dan juga tidak harmonis. Supaya sehat dan harmonis adanya interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Misalkan saja namanya Pak Marsigit, walapun ada tambahan Prof.; Dr.; M.A tetap saja namanya Pak Marsigit. Maka  sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Yang tetap itu tokohnya Permenides. Yang berubah itu tokohnya Heraclitus. Yang tetap itu bersifat idealis, dan yang berubah itu bersifat realis. Yang ideal tokohnya Plato. Yang realis tokohnya Aristoteles. Tetap-ideal itu ternyata salah satu sifat dari pikiran, sedangkan berubah-realis ternyata salah satu sifat dari pengalaman. Pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan.

Benarnya yang tetap, benarnya yang ideal, benarnya aksioma itu konsisten atau koheren, sedangkan benarnya yang berubah, benarnya kenyataan, benarnya pengalaman itu adalah korespodensi. Yang konsisten atau koheren tersebut merupakan matematika sebagai ilmu untuk orang dewasa sedangkan yang korespodensi adalah matematika untuk anak-anak yaitu matematika berupa aktivitas. Yang konsisten atau koheren tersebut bila dinaikkan menjadi transendentalisme, dinaikkan lagi menjadi spiritual dan semakin ke atas menjadi kebenaran tunggal yaitu mono dan menjadi aliran monisme. Sedangkan korespodensi bila diturunkan menjadi plural atau dualis yang menjadi dualisme.

Selagi kita itu berada di duniamaka kita masih mempunyai sifat yang plural, jangankan mahasiswa UNY, sedangkan diriku sendiri bersifat plural, karena bersifat plural maka pada yang tetap itu bersifat konsisten atau identitas yaitu A=A. A=A hanya terjadi dipikiran, maka matematika yang tertulis dibuku itu hanya matematika untuk orang dewasa, hanya benar ketika masih didalam pikiran, tapi ketika ditulis bisa saja salah. Sedangkan yang berubah itu bersifat kontradiksi yaitu A≠A, karena A yang pertama tidak sama dengan A yang kedua. Maka yang bersifat identitas itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sedangkan yang bersifat kontradiksi itu terikat oleh ruang dan waktu. Yang bersifat tetap dan identitas itu dikembangkan dan dipertajam dengan logika yang tokohnya adalah Sir Bentrand Russel, maka lahirlah aliran Logisism. Ilmu yang  bersifat formal dan lahirlah aliran Formalism, tokohnya Hilbert.

Jadi yang ada dan yang mungkin ada itu bisa saja sembarang benda. Kemudian dari adanya logika dari objek filsafat yang bersifat tetap, maka pera rasio menadi sangat penting, kemudian lahirlah aliran Rasionalisme tokohnya Rene Decartes. Sedangkan dalam objek filsafat yang bersifat berubah, sebagian besar terjadi pada pengalaman; maka lahirlah empirisme tokohnya David Hume yang menuju pada sekitar abad 15. Yang tetap itu kebenarannya bersifat absolut maka lahirlah Absolutisme, sedangkan yang berubah itu bersifat relatif, lahirlah aliran relatifisme. Jadi aliran filsafat itu tergantung pada obyeknya, dan ini terjadi pada diri kita masing-masing secara mikro, dan ketika kita membaca atau mempelajari buku, misalnya buku tentang Rene Decartes itu berarti makronya. Jadi hidup itu adalah interaksi antara mikro dan makro.

Yang namanya logika, pikiran itu konsisten didalam filsafat disebut analitik. Analitik berarti yang penting konsisten dalam satu hal menuju ke hal yang lain. Sehingga yang disebut analitik dan konsisten tersebut membutuhkan aturan atau postulat. Untuk yang mempunyai aksioma atau yang mempunyai postulat adalah subyeknya atau dewanya, misalnya seorang kakak membuat aturan untuk adiknya, ketua membuat aturan pada anggotanya, dosen membuat aturan untuk mahasiswanya. Sedangkan yang di bawah atau yang berubah itu bersifat sintetik punya sebab dan akibat. Yang diatas yang bersifat tetap atau konsisten itu bersifat analititk, dan juga bersifat a priori yaitu bisa dipikirkan walaupun belum melihat bendanya.

Yang dibawah berupa pengalaman itu adalah a posteriori, contohnya dokter hewan yang harus memegang sapi untuk bisa mengetahui mengetahui penyakit yang diderita si sapi tersebut, jadi a posteriori itu adalah paham setelah melihat bendanya. Sedangkan a priori, misalnya dokter yang membuka prakter pengobatan lewat radio, ketika menangani pasien, dokter tersebut mendengarkan keluhan-keluhan dari si pasien lewat radio, hanya dengan mendengarkan tanpa melihat, dokter tersebut sudah bisa membuat resep yang didasari oleh konsistensi antara teori satu dengan teori yang lain.

Maka Immanuel Kant mencoba mendamaikan perdebatan yang terjadi antara empirisme dan rasinalisme. Descartes dan pengikutnya berkata tiadalah ilmu jika tanpa pikiran, sedangkan David Hume berkata tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Lalu Immanuel Kant mengatakan bahwa antara Descartes dan David Hume itu keduanya benar dan juga keduanya salah. Dalam apa yang disebutkan oleh David Hume terdiri unsur kesombongan karena mendewa-dewakan pengalaman. Sedangkan dalam apa yang dikatakan Descartes itu terdapat kelemahan yaitu terlalu mendewa-dewakan pikiran dan mengabaikan pengalaman. Maka unsur daripada pikiran adalah analitik a priori, dan unsur daripada pengalaman adalah sintetik a posteriori. Ambil sintetiknya, ambil a priorinya, maka sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori, ya dipikirkan dan juga dicoba.

Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.

Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan  bukti.

Akhirnya filsafat dalam perjalanannya seperti yang disebutkan diatas, maka lahirlah dalam sifat yang tetap dan konsisten itu berupa ilmu-ilmu dasar dan murni, sedangkan dalam sifat yang berubah itu berupa sosial, budaya, ilmu humaniora. Maka sampai disitulah bertemu yang namanya bendungan Compte. Dari sinilah SEGALA MACAM PERSOALAN DUNIA sekarang ini muncul, yaitu dengan munculnya Fenomena Compte sekitar 2(dua) abad yang lalu. Fenomena Compte ditandai dengan lahirnya pemikiran August Compte seorang mahasiswa teknik (drop out) tapi pikirannya berisi tentang filsafat.

Compte berpendapat bahwa agama saja tidak bisa untuk membangun dunia, karena agama itu bersifat irrasional dan tidak logis. Maka diatasnya agama atau spiritual itu adalah filsafat, dan diatasnya filsafat itu ada metode Positive atau saintifik. Positive atau saintifik itulah yang digunakan untuk membangun dunia, maka lahirlah aliran positifisme. Jadi di Indonesia Kurikulum 2013 dengan metode Saintifiknya itu asal mulanya dari pikiran Compte yang berupa positivisme tadi. Jadi metode saintifik dalam kurikulum itu adalah ketidakberdayaan Indonesia bergaul dengan Power Now. Sumber persoalan/permasalahan segala macam kehidupan manusia di dunia sekarang ini adalah berawal mula dari dimarginalkannya Agama oleh Auguste Compte yang dianggap tidak mampu digunakan sebagai pijakan untuk membangun Dunia. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai Fenomena Compte.


Dari kesemua aspek Fenomena Compte, yang didukung oleh ilmu dasar sehingga menghasilkan teknologi, sehingga menjadi paradigma alternatif, kenapa? Fenomena Compte dengan didukung dengan pengembangan Ilmu-ilmu dasar dan teknologi, telah menghasilkan Peradaban Barat dengan era industrialisasinya. Hingga jaman sekarang kontemporer, dunia dikuasai oleh segala aspek industrialisasi dan teknologi. Itulah-sebenar-benar fenomena Kontemporer atau Power Now yang mengusasi setap jengkal dan setiap desah napas kehidupan kita tanpa kecuali di seluruh dunia mulai dari anak-anak, orang dewasa, laki-perempuan, …dst. Dunia Timur yang lebih mengandalkan metode Humaniora, ditengah pergulatan dari dalam dirinya sendiri, TIDAK MENYADARI BAHWA FENOMENA COMPTE TELAH MENJELMA MENJADI POWER NOW, yang disokong pilar-pilar Kapitalisme, Liberalisme, Hedonisme, Pragmatisme, Materialisme, Utilitarianisme, …dst.

Sementara itu Indonesia, di mana letak geografis dan perikehidupan berbangsa dan bermasyarakat berasal dari Dunia Timur yang lebih mengedepankan aspek-aspek humaniora dengan Strukturnya Dunia Timur yang terdiri dari/dimulai dari Material paling bawah, Formal di atasnya, Normatif diatasnya lagi, dan  Spiritual yang menjiwai, mendasari dan melingkupi seluruhnya. Itu merupakan cita-cita Indonesia sesuai dengan dasar negaranya yaitu Pancasila, dimana Pancasila itu filsafat negara yg bersifat Monodualis, mono karena Esa Tuhannya, dualis yaitu aku dengan masyarakatku, jadi vertikal dan horisontal, itulah cita-cita kita semua sebagai warga negara Indonesia. Dalam perjuangan membangun struktur kehidupan Indonesia yang demikian tadi, ternyata kita menjumpai fenomena ontologis yaitu Fenomena Compte.

Secara filsafat, Fenomena Compte dapat dipahamai dari 2(dua) sisi, yaitu secara macro dan micro. Secara macro, Fenomena Compte sesuai dengan yang ditulis oleh Auguste Compte dalam bukunya POSITIVESME. Secara micro, maka setiap hari kita sendiri-sendiri atau bersama-sama atau secara kelembagaan/negara selalu mengalami Fenomena Compte. Contoh micronya adalah jika seseorang memutuskan untuk membeli produk baru, misal Hand Phone canggih, tetapi kemudian timbul masalah dalam dirinya, atau keluarganya, atau mungkin keluarganya menjadi berantakan gara-gara produk baru, maka itulah yang disebut sebagai micronya Fenomena Compte. Seorang mahasiswa yang membeli komputer baru sehingga melupakan kewajiban ibadah Shalatnya maka dia sudah terkena Fenomena Compte.


Maka kita belajar filsafat itu bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian). Pada jaman Kontemporer ini sudah banyak ikan-ikan kecil di laut yang mati terkena limbahnya kehidupan Power Now. Banyak juga makhluk hidup yang mengalami perubahan genetika/mutasi gen, misal TKI muda yang pergi ke Luar Negeri, setelah kembali dia sudah berubah semuanya, dunia dan akhiratnya. Itulah salah satu dampak mikro fenomena Compte.

Belajar Filsafat bukanlah sembarang manusia yang mampu menjalaninya. Ibarat kita ini adalah ikan kecil di lautan, maka belaar filsafat bukanlah sembarang ikan. Tetapi adalah ikan yang mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Kita yang belajar filsafat untuk mengatahui struktur dunia dapat diibaratkan sebagai seorang Bima yang mencari Wahyu atau Banyu Penguripan Perwitasari di dasar samudra. Sang Bima dengan bersikap mengalir dengan kesadaran hidup baik buruk, ditipu dan difitnah, tetapi didasari aspek Fatal dengan berserah diri pada Yang Kuasa, akhirnya dapat bertemu Dewa Ruci sang Dewa dasar laut sebagai representasi Dewa atau yang Kuasa, untuk memberikan wahyu atau pencerahan atau ilmu. Sebagai mahasiswa, ilmu yang engkau dapat dari P Marsigit dan juga dengan cara membaca Elegi-elegi kejadiannya mirip dengan sang Bima menemupakan air kehidupan. Engkau akan mengerti setiap aliran air jernih atau air limbahnya Kapitalisme mulai dari hulu sampai ke hilirnya.

Untukmendapatkan sebenar-benar ilmu (wahyu) maka seseorang (Bima, Arjuna dan engkau si subjek belajar filsafat) harus mampu menatasi segala kontradiksi sesuai dengan batasan0batasannya. Jadi apakah anda paham apa itu kontradiksi? Karena sebenar-benarnya hidup ini adalah kontradiksi. Kontradiksi yang nyata dan yang kasat mata adalah ketika orang terjun ke air, muncul di atas sudah terlentang, maka berfilsafat itu mencari pengetahuan sehingga ketika terjun ke dalam air bisa muncul lagi dengan selamat. Jadi berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya. Maka adanya interaksi antara makro dan mikro. Jadi itulah gambarannya untuk mahasiswa sebagai bekal ketika membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit.

Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik).

Sehingga Indonesia telah menjadi obyek dari dunia Power Now, maka begini salah begitu salah, serba salah. Itulah kita bangsa yang lemah, para pemikirnya juga menjadi pemikir yang lemah, sehingga metode Saintifiknya juga menjadi tidak berkarakter, karena dalam setiap metode saintifik di dunia aslinya terdapat langkah yaitu Hipotesis. Tetapi di dalam Kurikulum 2013 tidak ada dan diganti dengan Menanya. Menanya apa, menanya untuk apa? Sebetulnya adalah untuk membuat Hipotesis sementara. Tetapi mendengan kata-kata Hipotesis tentu semua orang, guru dan murid akan ketakutan. Binatang macam apa Hipotesis itu. Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana.

Metode saintifik itu hanya salah satu aspek dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013 akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah metode Hermenitika.

Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menajam, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menejam atau menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode  saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive).  Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca. Ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis dari air agar bisa mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya. Jika engkau paham dan sadar mudah-mudahan keturunanmu juga nantinya akan mengerti dan sadar, juga orang didekatmu, keluargamu termasuk murid-muridmu. Amin.


Alhamdulillahirrobbil’alamin.

25 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 Pendidikan Matematika_D 2016
    16709251070

    Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar.Dalam hal ini menyebabkan manusia mempunyai sifat terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga hanya bersifat untuk tujuan tertentu yaitu membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah. Jadi untuk mempelajari filsafat atau memahaminya perlu dengan menggunakan sifat-sifat yang dimiliki dengan pengalaman ataupun menggunakan teori. Sebagai seorang mahasiswa kita harus bias menyeimbangkan antara pengalaman dan teori agar bisa beradaptasi dengan dunia atau kehidupan ini.

    ReplyDelete
  2. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Sejarah filsafat sejatinya adalah sejarah pertarungan antara akal (rasio) serta hati (iman) dengan tujuan siapa yang paling mendominasi dalam mengendalikan hidup manusia.Kadang kala akal menang mutlak dan kadang kala pula iman menang mutlak. Jika hal demikian terjadi maka akan sangat membahayakan hidup manusia. Manusia yang beruntung ialah manusia yang mampu menyeimbangkan antara dominasi akal dan hati. Begitu pula dengan pengetahuan yang terbagi antara kaum rosionalisme yaitu pengetahuan diperoleh berdasarkan akal yang disebut apriori dan kaum empirisme yaitu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman yang disebut denga aposteriori. Namun mengatasi pertentangan tersebut oleh Kant dijembataninya bahwa “akal budi dan pengalaman inderawi dibutuhkan serentak” atau yang sering disebut sintetik-apriori. Hal ini menjadikan sifat sintetik-aposteriori ini memberikan pengetahuan yang baru,namun sifatnya tetap,bergantung pada ruang dan waktu,dan kebenarannya sangat subjektif.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Selagi manusia berada di dunia maka ia masih mempunyai sifat yang plural. Karena bersifat plural maka pada yang tetap itu bersifat konsisten atau identitas yaitu A=A. A=A hanya terjadi di pikiran, maka matematika yang tertulis itu hanya matematika untuk orang dewasa, hanya benar ketika masih di dalam pikiran, tapi ketika ditulis bisa saja salah. Sedangkan yang berubah itu bersifat kontradiksi yaitu A≠A, Karena A yang pertama tidak sama dengan A yang kedua. Maka yang bersifat identitas itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sedangkan yang bersifat kontradiksi itu terikat dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Saya sebagai manusia juga mempunyai sifat yang plural. Saya 5 menit yang lalu tidak sama dengan saya yang sekarang. Kenapa ?. Bisa saja saya 5 menit yang lalu sedang lapar, sedangkan saya yang sekarang kekenyangan. Atau saya 5 menit yang lalu sedang mengetik di laptop, sedangkan saya yang sekarang sedang membaca tulisan yang telah saya ketik. Hal ini menunjukkan bahwa saya adalah sosok manusia yang selalu mengalami perubahan yang terikat dengan ruang dan waktu. Semua benda konkret di dunia ini terikat dengan ruang dan waktu. Lalu adakah sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu ?. Tentu saja ada, keputusan/judgement, hukum, dan aturan tidak terikat dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Objek dari filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada. oleh karenanya implementasi kurikulum 2013 semestinya juga aplikasi dari kombinasi beberapa paham dan metode yang ada. demi kesempurnaan sebuah rencana, maka pemikiran manusia harus selangkah lebih maju. terlebih memfasilitasi peradaban yang sekarang semakin maju, tidak cukup hanya berbekal satu pemahaman. sama sedangan analogis diatas bahwa A tidak akan selamnya bisa sama dengan A. tergantung cara pandang dan aplikasi dari dimensi mana kita melihatnya.

    ReplyDelete
  6. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Mat D 2016
    Belajar filsafat menjadikan seseorang belajar untuk mencari sebuah kebenaran yang sesungguhnya. Dan untuk mencapa sebuah kebenaran itu maka perlu menggunakan sebuah jembatan penghubung atau alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satunya menggunakan matematika. Dengan mempelajari matematika, seseorang belajar dari pikirannya yang dalam matematika disebut aksioma dan seseorang belajar dari pengalamannya yang disebut kenyataan. Aksioma ini dapat membuat seseorang berpikir bahwa ia memang ada di dunia. Aksioma dalam matematika perlu dibuktikan maka dari itu ketika seseorang berpikir ia ada maka ia harus buktikan bahwa ia memang ada di dunia ini dengan melakukan hal-hal yang dapat memberikan inspirasi bagi orang-orang sehingga orang-orangpun berpikir ia memang ada didunia ini.

    ReplyDelete
  7. Supriadi, kelas C 2016 Pmat Pascasarjana
    Ada 3 kajian dalam filsafat yaitu kajian ontologi yang membahas tentang hakekat sesuatu, kajian epistemologi yg membahas tentang bagaimana memperoleh sesuatu itu, dan kajian aksiologi yang membahas tentang tujuan atau manfaat sesuatu itu. Oleh karena itu dalam filsafat tidak lepas dari peranan antara rasio dan empiris. Oleh Immanuel Kant menyatukan antara aliran raionalisme dan emperisme karena keduanya saling membutuhkan, (Akal budi dan pengalaman indrawi dibutuhkan).
    Terkait kegiatan belajar mengajar di sekolah khususnya belajar matematika dapat dikaji dan diterjemahkan dari sudut pandang filsafat. Filsafat pendidikan matematika yang sesuai atau mengarah pada terwujudnya kehidupan yang maju yakni filsafat yang konservatif yang didukung oleh sebuah idealisme, rasionalisme (kenyataan). Itu dikarenakan filsafat pendidikan matematika mengarah pada hasil pemikiran manusia mengenai realitas, pengetahuan, dan nilai.
    Tanpa Filsafat, Pendidikan Matematika Menjadi Lemah. Lemahnya pendidikan matematika di Indonesia merupakan akibat tidak diajarkannya filsafat atau latar belakang ilmu matematika. Dampaknya, siswa, bahkan mahasiswa, pandai mengerjakan soal, tetapi tidak bisa memberikan makna dari soal itu. Matematika hanya diartikan sebagai sebuah persoalan hitung-hitungan yang siap untuk diselesaikan atau dicari jawabannya.

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    S2 P Mat D 2016
    Objek filsafat yang biasa dikenal dengan ontologi berarti bahwa sesuatu yang ada. Baik filsafat secara umum maupun terkhusus pada matematika. Ontologi matematika mempelajari segala sesuatu yang ada pada matematika sehingga obyek-obyek matematika dapat dipahami atau dipelajari bahkan dikembangkan sesuai dengan hakekatnya. Objek filsafat matematika tergantung sudut pandang seseorang dalam melihatnya. Ada yang beranggapan bahwa objek dan struktur matematika mempunyai keberadaan yang riil yang tidak bergantung kepada manusia, dan bahwa mengerjakan matematika adalah suatu proses penemuan tentang hubungan keberadaan sebelumnya. Aliran yang menyebutkan hal ini adalah Platonisme.

    ReplyDelete
  10. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    filsafat Ilmu diindonesia yang berakibat dari letak geografis indonesia yang berada dibelahan timur dunia, akhirnya membuat pengaruh terhadap perkembangan dunia pendidikan diIndonesia. Pendidikan yang kemudian menjadi pembelajaran mengenai norma kesopanan baik dalam tutur bahasa, budaya, dan nilai budaya indonesia menjadi acuan bahkan untuk negara lain belajar dari budaya Indonesia. Tertuang dalam Kurikulum 2013, semakin membuat pendidikan di Indonesia menjadi semakin berbudaya santun dan menanamkan pendidikan yang baik.

    ReplyDelete
  11. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Yang dapat saya garis bawahi dari artikel di atas yaitu "filsafat adalah YANG ADA dan MUNGKIN ADA". Ada beberapa disiplin ilmu yang dapat dijangkau oleh nalar manusia dan juga ada yang tidak dapat dijangkau, itu berarti manusia akan menggunakan spiritual untuk menjangkaunya yaitu bila sesuatu yang dianggap benar itu sudah masuk ke dalam hati yaitu absolut. Maka lahirlah absolutisme, itulah yang dimaksud dengan yang ada dan mungkin ada. Demikianlah manusia dalam menghadapi peradan dunia ini. Dimana dalam bacaan tersebut menyebutkan perdebatan oleh Descartes dan pengikutnya yang berkata, “Tiadalah ilmu jika tanpa pikiran, sedangkan David Hume berkata, “Tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Dalam hidup ini memang tidak terlepas dari pikiran dan pengalaman, namun diantara perdebatan itu Immanuel Kant mencoba mengambil titik tengah untuk menyatukan kedua pendapat tersebut bahwa unsur daripada pikiran adalah analitik a priori, dan unsur daripada pengalaman adalah sintetik a posteriori. Ambil sintetiknya, ambil a priorinya, maka sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  12. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika Kelas-D 2016

    Berfilsafat adalah bagaimana kita hakikat dari sesuatu. Ada sebagian orang mengatakan bahwa berfilsafat sulit, sebenarnya tergantung kepada diri kita sendiri. Karena apa yang ada didalam pemikiran kita pasti berbeda dengan yang ada di pikiran orang lain, karena ini adalah dunia sehingga dalam dunia ini tidak ada yang persis sama (A=A). Dengan berfilsafat akan mengajarkan seseorang untuk saling menghargai dan mengesampingkan ego. Karena dalam filsafat tidak ada benar salah. sehingga dengan belajar filsafat kita akan selalu memperbaiki diri kita dari hari kehari menuju insan khamil.

    ReplyDelete
  13. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Berfilsafat berarti berpikir, berpikir merupakan subjek dari filsafat tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir radikan, sistematis, dan universal.. Untuk ini filsafat menghendaki pikiran yang sadar, dan manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan serta berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.

    ReplyDelete
  14. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Objek dalam filsafat objek dapat berwujud subjek itu sendiri contohnya jika aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Dan benar bahwasannya Jadi yang ada dan yang mungkin ada itu bisa saja sembarang benda. Dan begitu luas dan mencakupnya objek filsafat jika dilihat dari substansi masalah maupun sudut pandangnya terhadap masalah, sehingga dapat disimpulkan bahwa objek filsafat adalah segala sesuatu yang terwujud dalam sudut pandang dan kajian yang mendalam

    ReplyDelete
  15. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Beberapa aliran yang muncul dalam filsafat sejatinya tidak terlepas dari pembahasan mengenai objek filsafat. Objek filsafat mengenai ada dan yang mungkin ada, sifatnya tetap dan berubah. Objek yang bersifat tetap ini sangat berkaitan erat dengan rasio atau akal sehinggal munculah aliran rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes dengan quote terkenalnya Cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada) pengetahuan yang didapatkan dari akal atau rasio ini adalah pengetahuan apriori, yang artinya paham/tahu sebelum melihatnya. Sementara itu, objek filsafat yang berubah sangat erat kaitannya dengan pengalaman sehingga munculah aliran empirisme yang dipelopori oleh David Hume bahwa pengetahuan yang kita peroleh bersumber dari pengalaman, karena itu pengetahuan tersebut berubah sesuai dengan kenyataan yang kita alami. Bagaimanapun kedua tokoh tersebut saling mengagung-agungkan pemikirannya masing-masing dan saling bertentangan satu sama lain. Oleh karena itu, Imanuel Kant mengemukakan suatu pemikiran yang dapat menjembatani kedua aliran tersebut yang dikenal dengan sintetik apriori. Imanuel Kant menganggap bahwa pengetahuan bersumber pada apa yang dipikirkan dan yang dialami.
    Sebenarnya sifat filsafat ini sangat banyak jumlahnya, apa yang kita pahami sebagai seorang manusia sangatlah terbatas. Seorang manusia yang belajar filsafat diibaratkan sebagai seekor ikan yang berenang dengan air yang penuh limbah, apakah nanti kita akan sampai pada permukaan dengan selamat ataukah hanya akan muncul di permukaan sebagai sesuatu yang tak bernyawa sebagai akibat ketidakmampuannya bertahan dari limbah-limbah tersebut. Manusia mempermasalahkan hal-hal yang dapat dipikirkannya, meskipun permasalahan tersebut terjawab maka akan merambah kepada pertanyaan-pertanyaan lain. Seseorang tidak akan puas dengan hanya mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri, dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstealasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dengan agama dsb.

    ReplyDelete
  16. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Ketika belajar filsafat, sering kita tergoyahkan pendirian kita. Aku yang sekarang berbeda dengan aku satu detik yang lalu. Sekarang saya mengetik hufuf "f", sekarang sudah ganti "i". Jika dikaitkan dengan matematika, 3 = 3 adalah pernyataan yang salah, apalagi jika 1 + 2 = 3. Seperti selalu disampaikan Bapak Marsigit dalam kuliahnya, bahwa jika kita belajar filsafat, harus memposisikan spiritual di atas segala-galanya, sehingga kita tidak goyah pendiriannya, bahkan bisa jadi goyah imannya.

    ReplyDelete
  17. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C
    Assalamu'alaikum.. Setiap orang perlu memiliki prinsip dalam menghadapi perubahan zaman. Tanpa prinsip yang kuat seseorang dapat terjerumus dalam perubahan zaman. Seperti yang telah Pak Marsigit contohkan, TKI yang berubah mengikuti tren d negara tempatnya bekerja. Tanpa prinsip yang kuat seseorang akan dengan mudahnya mengikuti perkembangan zaman tanpa menyaring dulu apakah perkembangan yang ia ikuti baik atau tidak, ia juga akan melupakan adat budaya negara sendiri. Tanpa prinsip orang bisa berubah menjadi orang lain dan melupakan jati diri. Sebagai warga negara Indonesia, sejatinya harus mempertahankan jati diri agar tidak termakan modernisasi yang tidak sesuai dengan jati diri. Untuk menghadapi kemajuan zaman tanpa melupakan jati diri diperlukan disiplin yang tinggi, kerjakeras, menonjolkan etos kerja, menghargai teknologi. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..

    ReplyDelete
  18. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    kita hidup di dunia ini tak terlepas dari perannya filsafat sebagai dasar dari semua segi ilmu, filsafat itu bagaikan jiwa kita yang menuntun menuju kebaikaan ataupaun ke jalan yang buruk. kehidupan kita sekarang ini adalah hasil representatif dari apa yang kita bayangkan dan kita inginkan. sebenar-benarnya hidup adalah ketika kita mengetahui diri kita ini hanya manusia yang tak sempurna sempurna itu hanya milik Yang Maha Kuasa. apabila kita mendapatkan suatu kesulitan maka sesungguhnya pasti ada jalan keluarnya. seperti yang di sampaikan artikel diatas, ikan ya ikan akan tetapi setidaknya dia tahu bermacam-macam air seperti itulah manusia, manusia ya manusia tapi dalam menjalani itu ada berbagai macam bentuk dan jenis di dunia ini.

    ReplyDelete
  19. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    Pendidikan Matematika A 2014

    Dari tulisan ini, yang dapat saya pahami adalah bahwa objek filsafat adalah apa yang ada dan yang mungkin ada. sifat dari objek tersebut adalah tetap dan berubah-ubah, dimana sifat tersebut harus ada untuk menciptakan hidup yang sehat dan harmonis. karena jika hanya dipenuhi salah satu saja maka itu baru separuhnya dunia. hal yang tetap itu bersifat idealis sedangkan yang berubah itu sifatnya realis. idealis merupakan salah satu sifat dari pikiran sedangkan realis adalah salah satu sifat dari pengalaman. pikiran menghasilkan aksioma dan pengalaman menghasilkan kenyataan. aksioma adalah benarnya konsisten sedangkan kenyataan adalah benarnya korespondensi. pengalaman itu dibedakan menjadi 2 yaitu a posteriori dan a priori. a posteriori adalah paham yang diperoleh setelah melihat sedangkan a priori adalah paham tanpa melihat. unsur dari pikiran adalah analitik a priori dan unsur dari pengalaman adalah sintetik a posteriori. maka sebenar-benarnya ilmu adalah sintetik a priori, dipikirkan dan dicoba.

    ReplyDelete
  20. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Apa? (dalam pikiran) dibedakan menjadi spiritual, material dan yang terletak di antara keduanya adalah normatif. Normatif yang selayaknya dan pada umumnya dilakukan. Dimana terdapat langit dan dunia yang memiliki awal dan akhir yang selalu memiliki kontradiksi. Langit yang bersifat formal dan tetap, yang semakin ke atas adalah ideal, abolut dan jika dinaikkan lagi akan sampai pada sabda bahkan Firman Tuhan yang memang mutlak dan tidak akan berubah-ubah lagi. Sebaliknya yang terdapat di Dunia itu bersifat perubah, relatif bahkan semakin kebawah bersifat nyata selanjutnya bayangan. Sebagai manusia akan lebih baik jika dapat menyeimbangkan antara langit dan bumi, dan menjadikan keteratasan langit (firman Tuhan) menjadi landasan dunia.

    ReplyDelete
  21. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Fungsi filsafat adalah untuk memberikan landasan filosofis dalam memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendeskripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi, dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.

    ReplyDelete
  22. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Manfaat lain dari mengkaji filsafat adalah tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual, kritis dalam aktivitas ilmu/kelmuan, merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar (metode dan struktur ilmu), mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional, memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid, serta berpikir sintesis-aplikatif.

    ReplyDelete
  23. Elli Susilawati
    16709251073
    S2 Pendidikan Matematika D 2016


    A posteriori ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari pengalaman indrawi seperti kimia, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu kesehatan, pendeknya semua ilmu yang bersumber dari pengalaman dan eksperimen. sedangkan a priori adalah ilmu-ilmu yang tidak kita peroleh dari pengalaman dan percobaan, tetapi bersumber dari akal itu sendiri. Seperti halnya yang dicontohkan Prof Marsigit, seorng dokter tidak melihat/ meraba tubuh pasien secara langsung sudah dapat mengetahui penyakit yang diderita dengan mendengarkan keluhan-keluhan yang dialami.

    ReplyDelete
  24. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti ulasan bapak diatas yang seringnya Indonesia sering digempur oleh Power Now.
    Memang Indonesia semakin hari semakin sering digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, politik serta yang baru-baru ini sedang diguncang polemik tentang agama.
    Saya setuju Indonesia masih lemah dan belum mempunyai jati diri yang belum kuat dalam menghadapi dunia internasional maupun yang ada didalam negeri karena belum mempunyai pemimpin yang berkarakter. Setiap pemimpin Indonesia setiap diberi kesempatan mempin dalam pemilihan, pasti ada yang suka dan tidak suka, entah dari politik atau dari dunia internasional.
    Seperti polemik internasional dalam kasus Freeport yang sebenarnya sudah terjadi pada era Soekarno. Pada saat itu Soekarno bersikeras untuk tidak mau Freeport dilepas, Amerika pun tidak mau tinggal diam, mereka membuat situasi politik di Indonesia tidak nyaman bagi Soekarno dan akhirnya Soekarno dibuat lengser. Setelah lengser, barulah Amerika berani menyodorkan kontrak-kontrak kerjasama dengan Freeport oleh pemimpin setelah Soekarno yang menurut saya terlalu lemah terhadap asing. sampai sekarang.

    ReplyDelete
  25. objek kajian dari filsafat ada yang tetap dan ada yang berubah. yang tetap itu pikiran dan yang berubah itu pengalamannya. benarnya yang tetap itu konsisten jika dinaikkan menjadi kebenaran tunggal yang mono. dan benarnya yang berubah itu korespondensi jika diturunkan akan menjadi plural atau dualisme.

    ReplyDelete