Nov 9, 2015

PERADABAN DUNIA

PERADABAN DUNIA
(BELAJAR PERAN DAN FUNGSI DARI FILSAFAT)
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kedelapan,
Kamis, 05 November 2015
Direfleksikan oleh
Vivi Nurvitasari, 15701251012,
S2 Prodi PEP Kelas B Universitas Negeri Yogyakarta
Diperbaiki oleh
Marsigit


Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 05 November 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Sistem perkuliahan pada minggu ini berbeda dengan pertemuan sebelumnya karena pada pertemuan kali ini Pak Marsigit memberikan penjelasan tentang “Peran dan Fungsi Filsafat dari Awal Zaman sampai Akhir Zaman”.

Berikut adalah hasil refleksi dari materi yang telah disampaikan oleh Pak Marsigit pada pertemuan ke delapan :

Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar pun belum cukup untuk menyebutkannya karena sifat itu berstruktur dan berdimensi. Misalnya saja warna hitam mempunyai semilyar sifat hitam, yaitu hitam nomor 1 ini, hitam nomor 2 itu, dst. Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa  memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah.  Kalau hanya berubah itu hanya separuhnya dunia, separuhnya lagi bersifat tetap, buktinya sejak lahir sampai sekarang sampai mati pun manusia tetap ciptaan Tuhan.

Dunia jika hanya thesis saja baru separuhnya dunia dan itu tidak sehat dan juga tidak harmonis. Supaya sehat dan harmonis adanya interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Misalkan saja namanya Pak Marsigit, walapun ada tambahan Prof.; Dr.; M.A tetap saja namanya Pak Marsigit. Maka  sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Yang tetap itu tokohnya Permenides. Yang berubah itu tokohnya Heraclitus. Yang tetap itu bersifat idealis, dan yang berubah itu bersifat realis. Yang ideal tokohnya Plato. Yang realis tokohnya Aristoteles. Tetap-ideal itu ternyata salah satu sifat dari pikiran, sedangkan berubah-realis ternyata salah satu sifat dari pengalaman. Pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan.

Benarnya yang tetap, benarnya yang ideal, benarnya aksioma itu konsisten atau koheren, sedangkan benarnya yang berubah, benarnya kenyataan, benarnya pengalaman itu adalah korespodensi. Yang konsisten atau koheren tersebut merupakan matematika sebagai ilmu untuk orang dewasa sedangkan yang korespodensi adalah matematika untuk anak-anak yaitu matematika berupa aktivitas. Yang konsisten atau koheren tersebut bila dinaikkan menjadi transendentalisme, dinaikkan lagi menjadi spiritual dan semakin ke atas menjadi kebenaran tunggal yaitu mono dan menjadi aliran monisme. Sedangkan korespodensi bila diturunkan menjadi plural atau dualis yang menjadi dualisme.

Selagi kita itu berada di duniamaka kita masih mempunyai sifat yang plural, jangankan mahasiswa UNY, sedangkan diriku sendiri bersifat plural, karena bersifat plural maka pada yang tetap itu bersifat konsisten atau identitas yaitu A=A. A=A hanya terjadi dipikiran, maka matematika yang tertulis dibuku itu hanya matematika untuk orang dewasa, hanya benar ketika masih didalam pikiran, tapi ketika ditulis bisa saja salah. Sedangkan yang berubah itu bersifat kontradiksi yaitu A≠A, karena A yang pertama tidak sama dengan A yang kedua. Maka yang bersifat identitas itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sedangkan yang bersifat kontradiksi itu terikat oleh ruang dan waktu. Yang bersifat tetap dan identitas itu dikembangkan dan dipertajam dengan logika yang tokohnya adalah Sir Bentrand Russel, maka lahirlah aliran Logisism. Ilmu yang  bersifat formal dan lahirlah aliran Formalism, tokohnya Hilbert.

Jadi yang ada dan yang mungkin ada itu bisa saja sembarang benda. Kemudian dari adanya logika dari objek filsafat yang bersifat tetap, maka pera rasio menadi sangat penting, kemudian lahirlah aliran Rasionalisme tokohnya Rene Decartes. Sedangkan dalam objek filsafat yang bersifat berubah, sebagian besar terjadi pada pengalaman; maka lahirlah empirisme tokohnya David Hume yang menuju pada sekitar abad 15. Yang tetap itu kebenarannya bersifat absolut maka lahirlah Absolutisme, sedangkan yang berubah itu bersifat relatif, lahirlah aliran relatifisme. Jadi aliran filsafat itu tergantung pada obyeknya, dan ini terjadi pada diri kita masing-masing secara mikro, dan ketika kita membaca atau mempelajari buku, misalnya buku tentang Rene Decartes itu berarti makronya. Jadi hidup itu adalah interaksi antara mikro dan makro.

Yang namanya logika, pikiran itu konsisten didalam filsafat disebut analitik. Analitik berarti yang penting konsisten dalam satu hal menuju ke hal yang lain. Sehingga yang disebut analitik dan konsisten tersebut membutuhkan aturan atau postulat. Untuk yang mempunyai aksioma atau yang mempunyai postulat adalah subyeknya atau dewanya, misalnya seorang kakak membuat aturan untuk adiknya, ketua membuat aturan pada anggotanya, dosen membuat aturan untuk mahasiswanya. Sedangkan yang di bawah atau yang berubah itu bersifat sintetik punya sebab dan akibat. Yang diatas yang bersifat tetap atau konsisten itu bersifat analititk, dan juga bersifat a priori yaitu bisa dipikirkan walaupun belum melihat bendanya.

Yang dibawah berupa pengalaman itu adalah a posteriori, contohnya dokter hewan yang harus memegang sapi untuk bisa mengetahui mengetahui penyakit yang diderita si sapi tersebut, jadi a posteriori itu adalah paham setelah melihat bendanya. Sedangkan a priori, misalnya dokter yang membuka prakter pengobatan lewat radio, ketika menangani pasien, dokter tersebut mendengarkan keluhan-keluhan dari si pasien lewat radio, hanya dengan mendengarkan tanpa melihat, dokter tersebut sudah bisa membuat resep yang didasari oleh konsistensi antara teori satu dengan teori yang lain.

Maka Immanuel Kant mencoba mendamaikan perdebatan yang terjadi antara empirisme dan rasinalisme. Descartes dan pengikutnya berkata tiadalah ilmu jika tanpa pikiran, sedangkan David Hume berkata tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Lalu Immanuel Kant mengatakan bahwa antara Descartes dan David Hume itu keduanya benar dan juga keduanya salah. Dalam apa yang disebutkan oleh David Hume terdiri unsur kesombongan karena mendewa-dewakan pengalaman. Sedangkan dalam apa yang dikatakan Descartes itu terdapat kelemahan yaitu terlalu mendewa-dewakan pikiran dan mengabaikan pengalaman. Maka unsur daripada pikiran adalah analitik a priori, dan unsur daripada pengalaman adalah sintetik a posteriori. Ambil sintetiknya, ambil a priorinya, maka sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori, ya dipikirkan dan juga dicoba.

Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.

Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan  bukti.

Akhirnya filsafat dalam perjalanannya seperti yang disebutkan diatas, maka lahirlah dalam sifat yang tetap dan konsisten itu berupa ilmu-ilmu dasar dan murni, sedangkan dalam sifat yang berubah itu berupa sosial, budaya, ilmu humaniora. Maka sampai disitulah bertemu yang namanya bendungan Compte. Dari sinilah SEGALA MACAM PERSOALAN DUNIA sekarang ini muncul, yaitu dengan munculnya Fenomena Compte sekitar 2(dua) abad yang lalu. Fenomena Compte ditandai dengan lahirnya pemikiran August Compte seorang mahasiswa teknik (drop out) tapi pikirannya berisi tentang filsafat.

Compte berpendapat bahwa agama saja tidak bisa untuk membangun dunia, karena agama itu bersifat irrasional dan tidak logis. Maka diatasnya agama atau spiritual itu adalah filsafat, dan diatasnya filsafat itu ada metode Positive atau saintifik. Positive atau saintifik itulah yang digunakan untuk membangun dunia, maka lahirlah aliran positifisme. Jadi di Indonesia Kurikulum 2013 dengan metode Saintifiknya itu asal mulanya dari pikiran Compte yang berupa positivisme tadi. Jadi metode saintifik dalam kurikulum itu adalah ketidakberdayaan Indonesia bergaul dengan Power Now. Sumber persoalan/permasalahan segala macam kehidupan manusia di dunia sekarang ini adalah berawal mula dari dimarginalkannya Agama oleh Auguste Compte yang dianggap tidak mampu digunakan sebagai pijakan untuk membangun Dunia. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai Fenomena Compte.


Dari kesemua aspek Fenomena Compte, yang didukung oleh ilmu dasar sehingga menghasilkan teknologi, sehingga menjadi paradigma alternatif, kenapa? Fenomena Compte dengan didukung dengan pengembangan Ilmu-ilmu dasar dan teknologi, telah menghasilkan Peradaban Barat dengan era industrialisasinya. Hingga jaman sekarang kontemporer, dunia dikuasai oleh segala aspek industrialisasi dan teknologi. Itulah-sebenar-benar fenomena Kontemporer atau Power Now yang mengusasi setap jengkal dan setiap desah napas kehidupan kita tanpa kecuali di seluruh dunia mulai dari anak-anak, orang dewasa, laki-perempuan, …dst. Dunia Timur yang lebih mengandalkan metode Humaniora, ditengah pergulatan dari dalam dirinya sendiri, TIDAK MENYADARI BAHWA FENOMENA COMPTE TELAH MENJELMA MENJADI POWER NOW, yang disokong pilar-pilar Kapitalisme, Liberalisme, Hedonisme, Pragmatisme, Materialisme, Utilitarianisme, …dst.

Sementara itu Indonesia, di mana letak geografis dan perikehidupan berbangsa dan bermasyarakat berasal dari Dunia Timur yang lebih mengedepankan aspek-aspek humaniora dengan Strukturnya Dunia Timur yang terdiri dari/dimulai dari Material paling bawah, Formal di atasnya, Normatif diatasnya lagi, dan  Spiritual yang menjiwai, mendasari dan melingkupi seluruhnya. Itu merupakan cita-cita Indonesia sesuai dengan dasar negaranya yaitu Pancasila, dimana Pancasila itu filsafat negara yg bersifat Monodualis, mono karena Esa Tuhannya, dualis yaitu aku dengan masyarakatku, jadi vertikal dan horisontal, itulah cita-cita kita semua sebagai warga negara Indonesia. Dalam perjuangan membangun struktur kehidupan Indonesia yang demikian tadi, ternyata kita menjumpai fenomena ontologis yaitu Fenomena Compte.

Secara filsafat, Fenomena Compte dapat dipahamai dari 2(dua) sisi, yaitu secara macro dan micro. Secara macro, Fenomena Compte sesuai dengan yang ditulis oleh Auguste Compte dalam bukunya POSITIVESME. Secara micro, maka setiap hari kita sendiri-sendiri atau bersama-sama atau secara kelembagaan/negara selalu mengalami Fenomena Compte. Contoh micronya adalah jika seseorang memutuskan untuk membeli produk baru, misal Hand Phone canggih, tetapi kemudian timbul masalah dalam dirinya, atau keluarganya, atau mungkin keluarganya menjadi berantakan gara-gara produk baru, maka itulah yang disebut sebagai micronya Fenomena Compte. Seorang mahasiswa yang membeli komputer baru sehingga melupakan kewajiban ibadah Shalatnya maka dia sudah terkena Fenomena Compte.


Maka kita belajar filsafat itu bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian). Pada jaman Kontemporer ini sudah banyak ikan-ikan kecil di laut yang mati terkena limbahnya kehidupan Power Now. Banyak juga makhluk hidup yang mengalami perubahan genetika/mutasi gen, misal TKI muda yang pergi ke Luar Negeri, setelah kembali dia sudah berubah semuanya, dunia dan akhiratnya. Itulah salah satu dampak mikro fenomena Compte.

Belajar Filsafat bukanlah sembarang manusia yang mampu menjalaninya. Ibarat kita ini adalah ikan kecil di lautan, maka belaar filsafat bukanlah sembarang ikan. Tetapi adalah ikan yang mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Kita yang belajar filsafat untuk mengatahui struktur dunia dapat diibaratkan sebagai seorang Bima yang mencari Wahyu atau Banyu Penguripan Perwitasari di dasar samudra. Sang Bima dengan bersikap mengalir dengan kesadaran hidup baik buruk, ditipu dan difitnah, tetapi didasari aspek Fatal dengan berserah diri pada Yang Kuasa, akhirnya dapat bertemu Dewa Ruci sang Dewa dasar laut sebagai representasi Dewa atau yang Kuasa, untuk memberikan wahyu atau pencerahan atau ilmu. Sebagai mahasiswa, ilmu yang engkau dapat dari P Marsigit dan juga dengan cara membaca Elegi-elegi kejadiannya mirip dengan sang Bima menemupakan air kehidupan. Engkau akan mengerti setiap aliran air jernih atau air limbahnya Kapitalisme mulai dari hulu sampai ke hilirnya.

Untukmendapatkan sebenar-benar ilmu (wahyu) maka seseorang (Bima, Arjuna dan engkau si subjek belajar filsafat) harus mampu menatasi segala kontradiksi sesuai dengan batasan0batasannya. Jadi apakah anda paham apa itu kontradiksi? Karena sebenar-benarnya hidup ini adalah kontradiksi. Kontradiksi yang nyata dan yang kasat mata adalah ketika orang terjun ke air, muncul di atas sudah terlentang, maka berfilsafat itu mencari pengetahuan sehingga ketika terjun ke dalam air bisa muncul lagi dengan selamat. Jadi berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya. Maka adanya interaksi antara makro dan mikro. Jadi itulah gambarannya untuk mahasiswa sebagai bekal ketika membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit.

Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik).

Sehingga Indonesia telah menjadi obyek dari dunia Power Now, maka begini salah begitu salah, serba salah. Itulah kita bangsa yang lemah, para pemikirnya juga menjadi pemikir yang lemah, sehingga metode Saintifiknya juga menjadi tidak berkarakter, karena dalam setiap metode saintifik di dunia aslinya terdapat langkah yaitu Hipotesis. Tetapi di dalam Kurikulum 2013 tidak ada dan diganti dengan Menanya. Menanya apa, menanya untuk apa? Sebetulnya adalah untuk membuat Hipotesis sementara. Tetapi mendengan kata-kata Hipotesis tentu semua orang, guru dan murid akan ketakutan. Binatang macam apa Hipotesis itu. Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana.

Metode saintifik itu hanya salah satu aspek dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013 akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah metode Hermenitika.

Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menajam, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menejam atau menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode  saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive).  Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca. Ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis dari air agar bisa mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya. Jika engkau paham dan sadar mudah-mudahan keturunanmu juga nantinya akan mengerti dan sadar, juga orang didekatmu, keluargamu termasuk murid-muridmu. Amin.


Alhamdulillahirrobbil’alamin.

75 comments:

  1. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Setelah membaca artikel di atas, barulah saya tahu dari pertanyaan saya selama ini. Kenapa Indonesia sangat jauh tertinggal dengan negara2 eropa. Bahkan menjadi objek dari power now. Tidak perlu menyalahkan keadaan, cukup perbaiki diri kita terlebih dahulu. Karena bagaimana mungkin kita akan menjadikan Bangsa ini menjadi bangsa yang maju, sedangkan diri sendiri saja masih belum bisa memanage diri kita.

    ReplyDelete
  2. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Menjelaskan matematika bagi anak kecil atau anak sekolah dan orang dewasa sepert mahasiswa itu berbeda. Anak akan lebih paham jika diberkan contoh nyatanya bukan diberikan penjelasan definisi. Sedangkan orang dewasa hanya dengan defnisi bisa memikirkan dan akan paham

    ReplyDelete
  3. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pikiran manusia pada dasarnya terbatas karena manusia tidak mungkin bsia memikirkan semua sifat-sifat yang ada. Maka manusia hanya memikirkan sifat yang memiliki tujuan, membangun peradaban

    ReplyDelete
  4. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sebagai guru, harus bisa menposisikan diri sebagai siswa, bagaimana siswa berpikir guru haruslah paham. Karena pengalaman atau cara berpikir antara guru dan siswa papstilah berbeda. Maka dalam menyampaikan sesuatu kepada siswanya haruslah sesuai dengan cara berpikir siswanya

    ReplyDelete
  5. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Apa? (dalam pikiran) dibedakan menjadi spiritual, material dan yang terletak di antara keduanya adalah normatif. Normatif yang selayaknya dan pada umumnya dilakukan. Dimana terdapat langit dan dunia yang memiliki awal dan akhir yang selalu memiliki kontradiksi. Langit yang bersifat formal dan tetap, yang semakin ke atas adalah ideal, abolut dan jika dinaikkan lagi akan sampai pada sabda bahkan Firman Tuhan yang memang mutlak dan tidak akan berubah-ubah lagi. Sebaliknya yang terdapat di Dunia itu bersifat perubah, relatif bahkan semakin kebawah bersifat nyata selanjutnya bayangan. Sebagai manusia akan lebih baik jika dapat menyeimbangkan antara langit dan bumi, dan menjadikan keteratasan langit (firman Tuhan) menjadi landasan dunia.

    ReplyDelete
  6. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tidak ada didunia ini yang sempurna karena hanya 1 yang sempurna yaitu Tuhan yang menciptakan semesta. manusia pun tidaklah sempurna tidak akan pernah lepas dari kesalahan.

    ReplyDelete
  7. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pikiran manusia sekarang sangatlah terbatas pada tujuan hidupnya saja. sehingga hanya memikirkan segala sesuatu hanyua akan menguntungkan dirinya dan kelompoknya saja.

    ReplyDelete
  8. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    dalam mengajar. guru harus mampu memposisikan diri seperti teman si siswa. mampu memahami konsep dan pola pikir siswa. sehingga ketika metode belajar yang diberikan tepat. siswa juga mampu memahami materi dengan cepat dan tepat

    ReplyDelete
  9. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam memfasilitasi siswa guru harus tahu betul kondisi dan perkembangan siswa. Misalnya guru SD siswa harus dapat menjelma dan merasakan bagaimana siswa belajar dan mengikuti pembelajaran. Dengan begini Siswa akan terfasilitasi dikarenakan Pembelajaran sudah sesuai dengan tahap perkembangan kognitif nya.

    ReplyDelete
  10. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Guru adalah agen aktif yang perkataan dan perilakunya sebagai teladan dapat merubah kehidupan dan membentuk masa depan. Guru dapat memiliki kekuatan dan pengaruh dalam kehidupan murid mereka maka dari itu guru harus tau bagaimana cara memposisikan diri agar bisa mendampingi murid dalam memahami konsep dan membentuk pola pikirnya.

    ReplyDelete
  11. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Setelah membaca artikel refleksi ini, tergambar sangat menariknya filsafat. Seni berpikir yang kompleks, dimana memandang segala sesuatu dari segala sudut pandang. Sehingga selalu ada anti tesis di setiap tesis yang ada, terkadang memaksa kita untuk menganalisa kedua tesis yang saling bertentangan tersebut sehingga memungkinkan kita untuk mensintesis keduanya sehingga terbentuk tesis baru. Dan dalam menganalisa dan berpikir diperlukan landasan kuat dalam pemikiran, yang bisa di dapat salah satunya dengan membaca dan belajar.
    Terimakasih atas refleksi yang sangat inspiratif ini.

    ReplyDelete
  12. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Membaca postingan ini memberi pencerahan akan pertanyaan saya ketika dikelas pada perkuliahan Filsafat Ilmu hari ini "bagaimana agar kita sebagai guru dapat memahami cara berpikir siswa yang berbeda dari pemikiran kita?" Berbagai aspek dalam manusia, membuat kita memiliki banyak keterbatasan, salah satunya keterbatasan dimensi. Perbedaan dimensi ruang dan waktu antara guru dan siswa membuat berbagai macam pengaruh dalam proses pembelajaran, kemampuan memahami dimensi yang berbeda tentu dibutuhkan dalam hal ini.

    Guru sebagai fasilitator dalam pembangunan kemampuan berpikir siswa tentu saja diusahakan memiliki pemikiran yang luas dan dalam agar mampu menjalankan tugasnyadengan baik
    Terimakasih

    ReplyDelete
  13. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Untuk mempermudah transfer of knowledge, terkadang Guru TK dan SD harus menjelma menjadi anak-anak, guru SMP atau SMA menjelma menjadi remaja, memang begitulah adanya. Anak anak TK, SD terlebih kelas 1 sampai 3, bagi mereka belajar adalah bermain.. Bermain pasir, memberi makan ikan, bersepeda, bermain petak umpet... Dari pengalamanlah mereka memahami dunia. Begitulah filsafat memandangnya sebagai a posteriori. Dengan memberi makan ikan, mereka akan paham kalau makhluk bernama ikan itu hidup, butuh asupan, walau sebenarnya mereka bisa mencari makan sendiri. Orang dewasa telah melalui masa itu. Mereka telah mengetahui teori-teori tentang ikan, bagaimana ikan lele hidup, apa makanannya, bagaimana pengembangbiakannya dan lainnya. Begitulah filsafat memandangnya sebagai a priori. A priori diperkuat dengan banyaknya literatur yang sudah teruji melalui penelitian-penelitian mutakhir. Guru dengan analitik apriorinya mutlak memahami sintetik a posteriori anak. Semakin ia bisa masuk dalam dunia anak didiknya, semakin mudah ilmu pengetahuan tersampaikan.

    ReplyDelete
  14. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Indonesia menjadi negara yang serba salah. Begini salah, begitu salah. Karena para elite nya tidak Istiqomah berjuang mewujudkan cita-cita negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Benar dan salah menurut “kepentingan” semata. Apa jadinya jika anggota DPR dan KPK bertengkar terus? Apa jadinya kalau bupati walikota, lurah, camatnya suap menyuap? Bagaimana bisa bersaing dengan negara lain, kalau intern dalam negeri saja carut marut. Wajar kalau dipatuk dan diombang-ambingkan Rajawali PowerNow.

    ReplyDelete
  15. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak, saya jadi dapat wawasan baru, khususnya tentang fenomena Compte di mana seseorang mulai memisahkan agama dengan kehidupan sehari-harinya. Indonesia yang merupakan negara dengan adat ketimuran yang menjadikan nilai spiritual sebagai dasar atas seluruh struktur kehidupannya ternyata tidak lepas dari belenggu fenomena Compte tersebut. Seperti yang bapak sebutkan di atas, masih banyak di antara kita yang melalaikan kewajiban terhadap Yang Maha Esa karena terlalu asyik dengan Teknologi.
    Padahal Teknologi sebenarnya dapat dijadikan alat untuk berdakwah atau menyebarkan syiar agama. Seperti yang dilakukan oleh Nouman Ali Khan, banyak bahan dakwah beliau yang dibuat dalam bentuk video animasi dan diunggah di youtube sehingga dapat menjangkau semua kalangan termasuk kalangan muda yang gila teknologi. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk memisahkan nilai-nilai agama dengan kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika saya melihat dan membaca artikel bapak di atas, saya seketika teringat akan Maqolah Al Imam Asy Syafi'i yaitu "Man arooda ad dunya Fa'alaihi bi al 'ilmi, man arooda al aakhirota fa'alaihi bi al 'ilmi, wa man aroodahumaa fa'alaihi bi al 'ilmi" yang artinya kurang lebih seperti ini --Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu, barang siapa menginginkan akhirat maka hendaklah berilmu, dan barangsiapa menginginkan keduanya maka hendaklah berilmu-- Dari pemaparan bapak di atas, ada hal yang menarik sekali yang masih tergolong ilmu yang sangat baru bagi saya yaitu tentang fenomena Compte (Compte Phenomenon). Kenapa si saya mengingat maqolah al imam As-Syafi'i dengan fenomena yang baru saja saya dapatkan itu? Dari terjemahan maqolah di atas, jelas bahwa kita menginginkan selamat antara dunia dan akhirat maka hendaklah berilmu, hubungannya dengan fenomena Compte (Compte Phenomenon) di atas adalah kebanyakan dari kita sekarang yang berilmu hanya mengejar kemewahan dunia saja tanpa memikirkan apa yang terjadi kelak setelah kita bangkit dari alam kubur, bahkan mereka juga tidak memikirkan kejadian yang akan dialami di alam kubur setelah kita wafat nanti. Memang benar adanya dari perkataan nabi yang kurang lebih maksudnya adalah akan datang zaman dimana islam sudah asing bagi pemeluk agama islam. Secara perlahan fenomena tersebut terjadi zaman sekarang ini, kita lebih mementingkan membalas pesan dari kawan, pacar (yang punya pacar), pasangan (yang punya pasangan) atupun dari orang yang menurut kita penting namun kita mengabaikan untuk melaksanakan sholat tepat waktu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Analogi yang Prof gunakan untuk menjelaskan bagaimana mempelajari filsafat sangat membantu saya dalam berfilsafat. Ikan kecil diperaian luas sebagai pengandaian untuk kita yang sedang belajar filsafat. Banyak sekali bahaya yang akan kita temui di dalam air tersebut. Sementara kita hanya ikan kecil yang lemah. Namun meskipun kecil, kita tetap harus berusaha agar dapat bertahan hidup dan menurunkannya pada generasi penerus. Begitu pula kedudukan kita di dunia ini. Banyak tantangan yang perlu kita hadapi. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dan memahami struktur kehidupan dengan cara terus belajar dan membaca. Tentu dalam proses tersebut kita harus menggunakan spiritualitas sebagai pegangan agar tidak tergerus dalam fenomena kehidupan.

    ReplyDelete
  18. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Matematika A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Postingan di atas menambah keyakinan saya bahwa sekarang bangsa kita, terutama rakyatnya tengah mengalami perang yang lebih sulit dari perang fisik, yakni perang pemikiran. Setiap detik, semua informasi dari belahan dunia dengan mudahnya dapat masuk ke Indonesia. Dan bangsa kita, sangat mudah terpengaruh dengan kebudayaan-kebudayaan bangsa lain yang pada akhirnya memudarkan jati diri bangsa Indonesia sendiri. Contohnya, memisahkan agama dari kehidupan, melupakan adat istiadat, gaya hidup mengikuti bangsa barat, dan masih banyak yang lain. Menurut Prof. Marsigit pada postingan di atas "berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst". Oleh karena itu, penting bagi kita mulai dari sekarang untuk mulai mempelajari dan memahami filsafat agar tetap dapat menjaga Izzah (kehormatan) diri dan bangsa.

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Saya quote pernyataan "Mendengar kata hipotesis, guru dan murid menjadi ketakutan." Benar pak, kenyataannya memang begitu. Dulu ketika SMP belajar menulis karya ilmiah, konsep hipotesis tidak begitu dibenamkan sehingga hanya berupa kata-kata sebagai syarat kelengkapan karya ilmiah. Pembiasaan istilah sejak dini memang penting, dan mengenai langkah "MENANYA" pada langkah saintifik memang kontroversial. Dalam pelaksaaannya di kelas, banyak siswa yang melewatkan langkah tersebut karena tidak jelas tujuannya.

    ReplyDelete
  20. Insan Agung N/17709251052
    PPs P.Mat Kelas C

    Artikel di atas menunjukkan bahwa dalam membangun, baik membangun diri sacara mikro maupun membangun peradaban secara makro, selalu dibutuhkan dua acuan utama yaitu idealisme dan realisme. Mempunyai prinsip yang pasti yang didukung dengan pengalaman berarti, akan memudahkan seseorang dalam membangun.

    ReplyDelete
  21. Junianto
    PM C
    17709251065

    Sesuatu yang ada dan mungkin ada sebagai objek dari filsafat ilmu memang membutuhkan pemahaman yang cukup tinggi bagi saya. Namun, dengan postingan Bapak ini, saya cukup bisa memahami apa yang dimaksud dengan kedua hal tersebut bahwa cakupan ilmu filsafat sangatlah luas tidak hanya yang ada di sekitar kita tetapi juga untuk hal-hal yang mungkin ada. Sehingga belajar filsafat bersifat kontinu dan tidak hanya memikirkan satu cabang saja.

    ReplyDelete
  22. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya juga menggaris bawahi berkaitan dengan matematika untuk orang dewasa dan untuk anak-anak. Terkadang kedua hal ini sering terbalik dan saya pun juga pernah melakukannya. Matematika untuk anak-anak sangat berbeda dengan matematika untuk orang dewasa. Hal ini bisa dilihat terutama dari keabstrakan matematika sendiri. Anak-anak harus diajarkan dengan sesuatu yang konkret, sehingga matematikanya juga dikaitkan dengan benda atau dunia anak-anak. Berbeda dengan matematika orang dewasa yang lebih abstrak dan mengutamakan ilmu dan analisis.

    ReplyDelete
  23. Nur Dwi Laili Kurniawati
    PPS Pendidikan Matematika C
    17709251059

    Sebenar-benar hidup tidaklah tetap. Sebenar-benar hidup pasti ada yang tetap dan ada yang berubah. Karena itulah sebagai manusia yang hidup kita harus siap berubah. Harus siap berubah mengikuti perubahan yang ada. Tetapi kita juga harus siap untuk merubah. Jangan sampai kita hanya mengikuti perubahan tanpa tau arah yang kita tuju. Kita harus siap merubah haluan ketika perubahan yang ada tidak sesuai dengan pegangan hidup kita. Karena itulah sebenar-benar hidup juga lah tetap. Maka yang tetap adalah pegangan hidup atau prinsip kita dalam menghadapi perubahan.

    ReplyDelete
  24. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih postingannya pak,
    Benar kata bapak jika kita sebagai guru maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak (siswa), kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, yang akan dikejar oleh lava panas yang dimisalkan guru. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, agar anak lebih gampang memahami pelajaran.
    Selain itu di postingan ini juga menambah wawasan saya, karena banyak istilah yang saya dapatkan di postingan kali ini, salah satunya FENOMENA COMPTE. Baru saya sadari bahwa selama ini Fenomena Compte sudah merajalela di diri saya, dan benar benar sudah menjadi POWER NOW, yang harus segera dihindari.

    ReplyDelete
  25. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060

    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Alhamdulillah dengan membaca artikel Bapak ini saya menjadi lebih megetahui bagaimana cara belajar filsafat. Sebelumnya ketika mendengar kata filsafat, pikiran saya seperti sudah sulit untuk menerima. Akan tetapi, setelah membaca artikel ini sedikit demi sedikit mulai dapat mengikuti. Mengambil kata-kata dari Albert Einstein, "Agama tanpa ilmu buta, ilmu tanpa agama lumpuh', jelas bahwa antara agama dan ilmu sebaiknya harus berjalan secara beriringan. Bukan hanya mengedepankan pikiran yang menggunakan ilmu seperti pemikiran August Compte, tetapi juga harus mementingkan kepentingan akhirat (agama). Dalam menjalani hidup sebaiknya kita memang harus mampu mengikuti perkembangan zaman seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, jika tidak maka kita akan jauh tertinggal dengan yang lainnya. Namun demikian, kita juga harus memiliki prinsip hidup dan karakter diri yang kuat, memilih air yang tepat untuk tumbuh dan berkembangbiak demi generasi kita yang lebih baik lagi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Afiramita Hertanti
    S2- PMA 2017
    NIM. 17709251008

    terima kasih atas tulisannya, pak. Saya sangat tertarik atas pembagian realitas Kant yang membagi antara realitas yang a peiori san realitas yang a posteriori. pembagian tersebut memiliki kesamaan dalam konteks agama yaitu tidak semua hal dapat disentuh oleh pengamalan indera (a poteriori) seperti keberadaan hal-hal yang sifatya gaib, malaikat dll ( a priori). untuk yang tersebut terakhir ity membutuhkan keimanan yang kuat untuk meyakininya.

    ReplyDelete
  27. Insan A N/ S2 Pmat C
    Membangun adalah suatu proses.Proses tentunya berawal dari suatu yang kecil, yang mungkin tidak dianggap, seperti perlakuan kecil mematikan lampu, membangun kebiasaan kecil yang semakin lama proses maka akan terbentuk bangunan yang kokoh. Hanya dari sering mematikan lampu untuk mnghemat listrik sampai mampu menjadi pencipta lampu yang hemat listrik. Idealitas dan realitas.

    ReplyDelete
  28. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Ketika saya membaca tulisan ini, saya menjadi teringat saat pertemuan awal perkuliahan Filsafat Ilmu bersama Prof. Marsigit. Beliau mengawali pertemuan dengan berdo'a sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Terlihat sangat klise sekali namun dibalik pengawalan dengan berdo'a memiliki pengaruh yang positif untuk belajar. Prof. Marsigit mengingatkan mahasiswa untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Bahkan saat tidur juga sebaiknya dalam keadaan mengingat Tuhan. Filsafat bersifat subyektif dan ketika belajar filsafat juga melibatkan apa yang ada di langit dan di bumi. Hal ini berarti bahwa ilmu filsafat dapat berfungsi di berbagai aspek kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  29. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S@ B 2017

    "Jangan pernah seklai-kali hatimu kacau". Karena saya semakin menyadari betapa pentingnya agama sebagai pondasi dalam kehidupan kita. Fenomena Comte ada untuk dipecahkan dengan pondasi agama. Membaca postingan di atas, saya menyadari bahwa saya telah melakukan aktivitas yang melompat-lompat. Di mana saya terlebih dahulu membaca elegi-elegi yang bapa tuliskan sebelum saya membaca tuntas postingan kali ini.

    ReplyDelete
  30. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Terimakasih postingannya pak.
    Ini adalah artikel pertama yang saya buka dan baca. Saya merasa beruntung bisa langsung menemukan postingan ini karena berisi peran dan fungsi filsafat. Dari artikel ini saya mendapatkan gambaran tentang pembelajaran filsafat secara umum. Saya setuju dengan pendapat yang pernah saya dengar bahwa seseorang yang mempelajari filsafat sebaiknya juga memperdalam pengetahuan agamanya. Sebagaimana juga yang pernah bapak sampaikan pada pertemuan pertama, tiga hari yang lalu, bahwa pembelajaran filsafat mampu menjadikan yang pintar semakin pintar, dan sebaiknya yang salah semakin salah. Hal ini sejalan dengan isi artikel ini bahwa belajar filsafat bukanlah sembarang manusia yang mampu menjalaninya. Semoga peranan dan fungsi filsafat dapat kita terapkan dengan benar. Amin.

    ReplyDelete
  31. nama : Latifah Fitriasari
    nim : 17709251055
    kelas : PM C (S2)

    Subhanallah.. sangat memotivasi saya untuk terus belajar dan banyak membaca. Saya juga ingin meningkatkan cara belajar siswa dengan menerapkan hipotesis yang secara sederhana adalah pendapat sementara dimana pendapat tersebut boleh salah boleh benar sehingga untuk tahapan selanjutnya diperlukan percobaan yang sederhana. Terimakasih Pak atas inspirasinya.

    ReplyDelete
  32. nama : Latifah Fitriasari
    nim : 17709251055
    kelas : PM C (S2)

    Subhanallah.. sangat memotivasi saya untuk terus belajar dan banyak membaca. Saya juga ingin meningkatkan cara belajar siswa dengan menerapkan hipotesis yang secara sederhana adalah pendapat sementara dimana pendapat tersebut boleh salah boleh benar sehingga untuk tahapan selanjutnya diperlukan percobaan yang sederhana. Terimakasih Pak atas inspirasinya.

    ReplyDelete
  33. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menciptakan peradaban dunia mulai dari zaman dulu hingga sekarang. Yang ada dan yang mungkin ada,yang tetap dan yang berubah-ubah. Pada zaman dulu peradaban dunia sempat mengalami perselisihan paham antara paham yang mengagung-agungkan pengalaman dan paham yang mengagung-agungkan pikiran atau logika. Kedua-duanya memiliki tokoh yang pendapat yang sama-sama kuat dalam hal mendukung paham mereka masing-masing. Yang tetap itu Permenides sedangkan yang berubah itu Herachitos. Pengikutnya pun sama-sama banyak. Tetapi satu sama lain tidak mau berdamai melainkan saling menolak paham satu dan yang lainnya. Yang satu berada di dalam pikiran dan yang satu lagi di luar pikiran.
    Paham yang dibawa oleh Permenides yang bersifat ada, tetap, dan berada di dalam pikiran disebut Rasionalisme. Sedangkan paham yang dibawa oleh Herachitos yang bersifat mungkin ada, berubah, dan berada di dual pikiran disebut empirisisme. Kemudian peradaban dunia berubah setelah muncul seorang tokoh bernama Imanuel Kant yang menjadi juru damai dari perseteruan kedua paham tersebut. Ia mengatakan bahwa ilmu terbentuk bukan hanya dari salah satu diantara pikiran atau pengalaman, melainkan interaksi dari keduanya. Tiadalah dapat disebut sebuah ilmu jika hanya berdasarkan pikiran saja, dan tiadalah dapat disebut sebuah ilmu jika berdasarkan pengalaman saja.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  34. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Berfilsafat itu objeknya bersifat konkret namun pemikiran dan kebenarannya bersifat abstrak, apalagi di dalam dunia modern scientific-politics seperti sekarang ini yang perkataan manusianya bersifat ambigu bahkan banyak yang memiliki kepribadian ganda yang hanya menggunakan bahasa sebagai pedang untuk berperang, maka dari itu selalu ingatlah bahwa lisan kita merupakan musuh terdekat kita, jadi kita sebagai manusia berpendidikan sebagai kholifah di muka bumi ini hendaknya membiasakan hidup dengan konsep berprilakulah sesuai seperti perkataan.
    “You can't always get what you want, but, if you try, sometimes you just might find you get what you need ”.

    Wassalamu'alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  35. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs Pend. Matematika C

    Education is a never ending process. refleksi materi perkuliahan Filsafat ilmu tersebut memaparkan hirarki kehidupan ditinjau dari sudut pandang filsafat. berawal dari objek filsafat yang lemudian dielaborasi menjadi dikotomi-dikotomi kehidupan yang barangkali merupakan sesuatu yang "baru" bagi sebagian pembaca, termasuk saya.
    Paparan istilah-istilah dalam filsafat dikombinasikan dengan baik sehingga memberikan gambaran baru bahwa mereka semua saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

    ReplyDelete
  36. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs Pend. Matematika C

    saya sangat mengapresiasi dan afirmatif dengan statement yang menyatakan bahwa saat kita akan mengajarkan matematika atau akan memahami anak-anak pada umumnyta, kita harus menjelma selayaknya anak-anak. Benar sekali, hal ini juga telah saya praktikkan dalam saya membimbing anak-anak. Saat kita membimbing anak-anak dengan subjek kita atau posisi kita sebagi orangf dewasa, hal tersebut justru akan menjadi boomerang. anak-anak akan berpikir orang dewasa adalah seorang dewa yang perintahnya mutlak, sehingga anak akan berkembang seadanya dan sekadar kita "memerintah", tidak dapat mencapai zona maksimumnya. Namun jika kita memperlakukan diri kita selatyaknya anak-anak, dalam artian menggunakan bahasa maupun perlakuan yang mudah diterjemahkan dalam dunia dan bahasa mereka, anak-anak akan lebih asertif dan dapat berkembang maksimal tanpa ada bayang-bayang "dewa" yang menakut-nakuti mereka.
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  37. Nama: Efi Septianingsih
    17701251013
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan


    Pada kalimat ini "Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik)."

    Benar2 membuat saya semakin anti politik, karena mereka hanya menyelamatka kepentingam golongan, bukan bumi pertiwi ini.
    Yang jujur akan mati segera entah diketahui keberadaannya atau mungkin lenyap tanpa identitas diri. Atau mungkin diasingkan oleh kasus yang entah berantah.
    Sebegitu ringkihnya kah sistem di Indonesia ini pak? Saya tidak menyalahkan negara ini karena telah begitu teramat baik. Yang saya sesalkan adalah manusia yang berada dalam sistem tersebut yang menjadikan bumi pertiwi ini semakin merintih.
    Maaf sebelum nya ya pak, terimakasih pak

    ReplyDelete
  38. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika (Kelas B)

    Sebuah refleksi pembelajaran yang sangat lengkap. Ilmu yang disampaikan seakan sudah terangkum dalam artikel ini. kesimpulan dari artikel tersebut adalah setiap manusia memiliki warna yang bermacam-macam, oleh kerena itu kita harus memiliki pemahaman yang baik kepada semua manusia agar kita dapat bergaul dengan baik. selain itu juga keihklasan dalam belajar harus selau ditingkatkan. Ikhlas adalah kunci untuk mempelajari ilmu dengan menyenangkan. dengan demikian, kebaikan bagi diri sendiri dan irang lain akan mudah di dapatkan.

    ReplyDelete
  39. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Peran dan fungsi filsafat dari awal sampai akhir zaman jangkauannya sangat luas. Karena obyek filsafat itu sendiri yang ada dan yang mungkin ada. Bahkan masing-masingnya masih mempunyai struktur dan dimensi, sehingga sifatnya tidak terbatas. Disini saya tertarik dengan pendapat Immanuel Kant yang menyatakan bahwa mendewa-dewakan pengalaman merupakan suatu kesombongan, dan merupakan suatu kelemahan jika terlalu mendewa-dewakan pikiran. Maka yang sebenar-benarnya ilmu itu adalah yang bersifat keduanya, bahwa dalam setiap proses mengetahui kedua unsur (berdasarkan pikiran dan pengalaman) tersebut muncul secara bersamaan. Jadi memang harus dipikirkan dan juga dicobakan.

    ReplyDelete
  40. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    Pendidikan Matematika Kelas B

    Dalam hidup kita harus "mengalir", selalu berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan, selalu berusaha mengerti setiap individu karena manusia itu penuh warna dan setiap individu itu unik. Sebagai gambaran: saat kita membimbing anak-anak, kita tidak bisa berperan sebagai yang dewasa karena akan membuat mereka kurang berkembang dan apa yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak tidak sepenuhnya tercapai karena yang dewasa kurang dapat mengetahuinya. Terimakasih atas inspirasinya pak.

    ReplyDelete
  41. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Filsafat adalah ilmu yang mempelajari yang ada dan yang mungkin ada. Seperti yang disampaikan oleh Pak Marsigit bahwa kita tidak mampu menyebutkan seluruh yang ada apalagi yang mungkin ada. Misalkan menyebutkan warna biru, ada biru muda, biru tua, biru tosca, biru agak muda, biru laut, dan biru-biru yang lain. Ada sekitar 1 milyar pangkat 1 milyar, itu pun belum tentu selesai.
    Dengan keluasan ilmu filsafat, terkadang kita tidak tahu bahwa kita sebenarnya mempelajari ilmu filsafat, layaknya anak ayam kelaparan di atas makanannya.
    Menanggapi tentang kurang siapnya bangsa Indonesia terhadap berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politik bahwa memang saat ini Indonesia sedang mengalami degradasi karakter. Tidak jauh-jauh, banyak di sekitar kita yang sudah terlalu larut dalam budaya barat; hedonisme, hura-hura.
    Disadari atau tidak, hal tersebut menyebabkan berkurangnya nilai spiritual bangsa Indonesia. Misal: lebih rela menunda sholat dari pada menunda menonton film, lebih rela tidak membaca kitab al-Qur'an dari pada tidak membaca status facebook, twitter, dan lain-lain. Nah, hal itu menjadi penyebab utama krisis karakter bangsa Indonesia.
    Oleh karena itu, perlu ditanamkan nilai-nilai karakter sejak dini dalam lingkungan sekolah maupun keluarga.

    ReplyDelete
  42. Asalamu'alaikum wr.wb. Berbicara filsafat, pasti akan berkaitan dengan segala yang ada dan mungkin ada. Segala sesuatu di dunia ini selalu berhubungan. Banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang pesat di dunia ini. Filsafat memiliki peranan dan fungsi yang sangat penting dalam perkembangan dunia. Beberapa dari sekian banyak adalah a posteriori, yaitu berdasar pengalaman.Sedangkan a priori berdasarkan keterkaitan antara teori yang ada.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  43. Guru itu digambarkan sebagai seorang dewa yang turun dari langit menuju bumi. Oleh karena itu, harus menjelma jadi manusia biasa. Ketika mengajar di SMP dan SMA guru harus bisa menjelma seperti pemikiran anak-anak di usia SMP dan SMA. Guru harus tau seperti apa perkembangan pemikiran anak-anak, kesukaannya, gaya belajar di usia mereka seperti apa, dsb. Dengan begitu akan terbangun chemistry belajar yang baik sehingga akan terbentuk pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang tidak akan pernah dilupakan siswa.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  44. Shelly Lubis
    17709251040
    PM B (s2)

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Setelah membaca hasil refleksi dan komen-komen teman-teman di atas, saya juga ingin mengomentari, terutama di bagian Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri. Menanggapi hal ini, seyogyanya tidak menjadikan kita anti politik. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, jika kita ingin menjadikan bangsa kita bangkit, salah satu senjata nya adalah politik. Jika anda merasa politik bisa menguasai anda, maka sebaiknya anda mundur, tapi jika anda merasa bisa menguasai politik dan tidak membiarkannya menggerogoti diri anda, maka sebaiknya anda maju dan gunakan senjata itu untuk membangkitkan bangsa kita.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  45. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017
    Assalamu’alaikum wr, wb
    Mengutip kalimat bapak “Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan.”
    Saya memahami ini sebagai suatu kecenderungan dalam memaknai suatu ilmu. Bahwa manusia dengan kapasitas kemampuan dan pikiran yang terbatas tidak akan mampu mempelajari semua hal di dunia. Manusia hanya bisa memikirkan bagian paling sedikit dari alam jagat raya. Sehingga banyak rahasia dan dimensi kehidupan yang sulit dijangkau oleh nalar. Namun, untuk kehidupan yang layak sebagai karunia dari Tuhan, bekal berupa potensi akal cukup untuk membangun peradaban dunia. Masing-masing manusia memikirkan hal-hal menurut kecenderungan potensi itu untuk mencapai tujuan tertentu. Hingga kemudian lahirlah dinamika kehidupan yang memiliki ragam keahlian. Ada yang memilih konsentrasi pendidikan, ekonomi, sosial, teknik, sains, seni dan sebagainya. Berkaca dari beberapa para ilmuan, mereka sukses membangun peradaban keilmuan yang terus berkembang hingga kini. Dengan keterbatasan, mereka fokus menekuni penelitian pada bidang-bidang yang diminati. Satu hal yang bersifat tetap adalah kodrat mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan dan yang berubah adalah pengalaman mereka untuk terus berpikir konstruktif menghasilkan temuan-temuan baru dan mutakhir.

    ReplyDelete
  46. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017
    Bagian ini cukup menarik untuk saya:
    “Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.”
    Saya sangat sepakat dengan analogi di atas. Berangkat dari pengalaman mengajar siswa SD, SMP dan SMA, saya berusaha memahami kondisi psikologi anak-anak didik saya. Untuk menjadi seorang guru kita perlu memahami dunia mereka. Sebab kondisi emosional para siswa mempengaruhi cara mereka berpikir dan menerima pelajaran. Misalnya saat mengajar anak-anak SD maka guru harus melepas sekat antara dirinya dan para siswa. Guru perlu menurunkan sedikit level kewibawaan, keseriusan dan menciptakan suasana bermain yang lebih menyenangkan. Sebab anak-anak adalah keceriaan, kelembutan dan kepekaan rasa yang sangat tinggi. Berbeda halnya ketika mengajar anak SMA, masa dimana mereka sedang memahami jati diri dan menemukan potensi yang dimiliki. Maka hal yang paling tepat untuk menambah intensitas kedekatan adalah dengan menciptakan keakraban seperti halnya kawan. Jadi, sikap penerimaan dari hasil interaksi yang tepat akan semakin memudahkan seorang guru memberikan pemahaman baik secara kognitif, afektif ataupun psikomotor.

    ReplyDelete
  47. Tari Indriani
    17701251027
    PPs PEP Kelas B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Membaca artikel diatas membuat saya berpikir tentang paragraf berikut,
    "Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik)."
    Memilih pemimpin yang hanya pintar saja tidak cukup, apalagi tidak pintar. Pemimpin harus ada jiwa empati, mengapa? Karna manusia dengan rasa empati yang ada dalam dirinya berpotensi cerdas dan kreatif. Karna tujuannya cuma 1 untuk mengubah lingkungannya miskin menjadi sejahtera, yang bodoh menjadi pandai, dan paling penting yang tak beragama menjadi beriman. Tapi sulit untuk mencari yang seperti itu, karna di Indonesia pemimpin bukan dipilih dari empati namun ditunjuk dari populariti. Mungkin itulah mengapa Indonesia lemah dan belum punya jari diri, karna terlalu banyak pribadi yang mudah dirasuki.

    Wassalamu'alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  48. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017
    Bagian penutup dalam ulasan ini begitu penting bagi saya. Membaca dan membaca. Kelihatannya sangat mudah namun saat untuk menerapkannya butuh dorongan yang kuat dari dalam diri serta konsistensi dalam menjalankannya. Satu ungkapan unik yang tertulis dalam artikel ini dan membuat saya menjadi merenung lebih dalam, yaitu "ikan ya ikan namun alangkah baiknya jika ikan itu mengetahui jenis-jenis air agar dapat mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya". Saya sangat setuju dengan statement unik ini. That's why kita dianjurkan untuk dapat memberi manfaat kepada orang lain melalui ilmu yang kita miliki. Ada suatu kesenangan bathin yang dirasakan saat kita melakukan hal tersebut.

    ReplyDelete
  49. Nama: Hendrawansyah
    NIM:17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.,,Terimakasih banyak pak atas penjelasannya.Membangun peradaban dunia memang tidak terlepas dari peran dan fungsi filsafat.Jika menelisik jauh tentang filsafat maknanya dalam bahasa aslinya adalah cinta terhadap kebijaksanaan.Dan untuk membangun peradaban dunia sangat dibutuhkan orang-orang yang bijak dalam berpikir dan bertindak.Berfilsafat berarti merenung secara mendalam terhadap segala sesuatu secara metodik, sistematik menyeluruh atau universal untuk mencari hakikat sesuatu.Namun bagaimanapun bentuk dan cara kita mempelajari filsafat dengan mengutip kembali penjelasan bapak bahwa “Sebaik-baik filsafat adalah yang ada pada diri kita sendiri.Sebagaimana yang juga telah dipaparkan sebelumnya bahwa filsafat memiliki objek material yang sifatnya tak terbatas yakni segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.Anaknda ingin memaparkan sebuah pertanyaan,Yang pertama, bagamanakah makna kata ada dan tidak ada yang sebenarnya menurut filsafat ilmu?Yang kedua, apakah ada ayat- ayat di dalam al-Qur’an terdapat penjelasan tentang aksioma?Karena aksioma yang anaknda pelajari tedapat dalam matematika dimana maknanya yang berarti kebenaran umum dengan tidak memerlukan pembuktian lagi dan diakui oleh banyak orang.Anaknda mohon pencerahan dan penjelasannya.Terimakasih banyak sebelumnya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  50. Assalamualaikum wr.wb. dan
    Selamat Siang,
    Nama : Ramayanti Agustianingsih
    NIM : 17709251045
    PPs PMat C 2017

    Filsafat itu terjadi pada diri kita sendiri dan seperti ungkapan yang tertulis pada artikel bahwa belajar berfilsafat itu “bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian)”. Ini artinya filsafat itu sangat diperlukan manusia supaya mampu bertahan pada zaman saat ini yang telah dikuasai oleh teknologi dan agar tidak terjebak dalam Fenomena Compte. Karena itu filsafat tidak dapat dilakukan orang-orang biasa saja, orang-orang yang enggan melatih otaknya untuk berpikir dengan mencari dan meningkatkan pengetahuannya. Dunia dan zaman terus berubah, pengetahuan pun terus berkembang sehingga jika kita enggan untuk mencari dan meningkatkan pengetahuan maka tentunya kita tidak akan tahu apa-apa karena ada banyak hal yang tidak diketahui dan dipahami, dan akhirnya kita pun hanya akan menjadi boneka yang dikendalikan oleh zaman, boneka yang mengikuti semua aturan zaman padahal belum tentu aturan-aturan itu baik dan sejalan dengan ajaran agama. Oleh karena itu agar mampu berfilsafat dengan baik, mari rajin-rajinlah membaca, baik membaca buku, artikel, atau elegi-elegi seperti yang diberikan oleh bapak dalam blog ini. Sekian dan terima kasih, maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Selamat Siang, dan
    Wassalamualaikmu, wr.wb

    ReplyDelete
  51. Nama : Dewi Saputri
    NIM : 17701251036
    PPS PEP B (S2)

    Assalamu'alaikum Wr.Wb
    Berfilsafat itu mencari pengetahuan dengan di dasarkan selalu berserah diri kepada yang maha kuasa, karena untuk mencari pengetahuan itu banyak sekali yang dapat membuat seseorang menyimpang dari keadaan yang sebenarnya. Banyak membaca dan selalu mencari ilmu pengetahuan dari manapun dengan yang sebenar benarnya serta harus tetap dilandasi dengan selalu berserah diri kepada yang maha kuasa dapat menyelamatkan kita dan generasi yang akan datang.

    ReplyDelete
  52. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Ilmu filsafat membuka wawasan secara luas dan membuka pandangan bahwa dunia dan seisinya tidak ada batas. Kami sebagai manusia menjadi sadar bahwa kami hanya sebuah titik kecil di antara luasnya jagat raya. Sudah sepantasnya manusia memiliki sifat rendah hati dan peduli terhadap sesama.

    ReplyDelete
  53. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika Kelas C

    Assalamu'alaikum Wr.Wb
    Mengutip kalimat "Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca." Benar sekali Pak, dengan membaca kita bisa tahu tentang banyak hal dan tentu itu dapat meningkatkan kualitas diri. Kualitas diri itu sendiri memiliki peranan yang sangat penting dalam menarik kesuksesan yang diinginkan. Semakin tinggi kualitas diri seseorang, semakin besar kesuksesan yang ia bisa dapatkan. Semakin mudah juga ia bisa mendapatkan kesuksesan tersebut.

    ReplyDelete
  54. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Filsafat merupakan refleksi dari sebuah pengalaman. Pengalaman yang dapat dibangun dari membaca berbagai referensi sehingga tampak jelas bangunan yang akan dibangun itu. Dari pengalaman yang dimiliki tersebut dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan. Begitu pentingnya filsafat. Filsafat dalam pendidikan bukan hanya mempelajari tentang pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu dapat digunakan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Seperti guru yang menyalurkan ilmunya kepada siswa. Bukan hanya menuangkan air dari botol A ke botol B, tetapi guru juga memberikan cara bagaimana air yang ditumpahkan itu tidak akan tumpah. Tidak serta merta memberikan materi kemudian soal, tetapi guru memberikan contoh.

    ReplyDelete
  55. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Ulasan yang menarik Prof, filsafat adalah soal kemungkinan. Dalam perjalanan hidup manusia selalu menemui berbagai macam fenomena beserta deretan problem. Sering kali hal tersebut dilalui tanpa berpikir dengan sungguh-sungguh. Filsafat dapat dikatakan sebagai metode untuk berpikir secara reflektif sekaligus radikal. Hasil dari pemikiran yang terefleksi dan teradikalisasi tersebut adalah argumentasi, hal yang selalu menggoda manusia untuk mempersoalkan keadaan diri, hingga—dalam beberapa kasus—‘diusir’dari kebenaran. Namun, filsafat selalu menunda kepastian. Penundaan itulah yang membuka ruang kemungkinan-kemungkinan baru. Manusia memiliki kemampuan untuk mengkaji hal-hal yang bersifat empiris yang kemudian dibangun untuk menciptakan sebuah pengetahuan. Namun apakah pengalaman empiris setiap manusia sama? Atau semua manusia dapat mencapai sifat empirisme manusia pada umumnya? Lalu, bagaimana dengan kepercayaan yang selalu diceritakan dengan pengalaman empirisme oleh otoritas namun tidak perlu dialami oleh manusia lainnya menggunakan pancainderanya?

    ReplyDelete
  56. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    assalamualaikum wr wb
    benar bahwa sejak kecil anak harus sudah mulai dikenalkan dengan "hipotesis" yaitu pendapat sementara, jadi anak anak harus sudah bisa belajar berpendapat entah itu benar maupun tidak benar, untuk membuktikannya bisa dilakukan percobaan untuk beberapa kasus. Anak yang terbiasa berpendapat maka akan menjadi pribadi yang kritis dan maju

    ReplyDelete
  57. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  58. Bulan Nuri
    17709251028
    Pendidikan Matematika S2(Kelas B)

    Hasil refleksi perkuliahan ini sangat menarik. Setiap saat Indonesia dituntut oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga menjadikan indonesia negara yang harus selalu siap siaga untuk menghadapi perkembangan zaman. Adapun yang dapat dilakukan salah satunya memilih Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan. Karena padadasarnya Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam segala hal. Sehinnga Indonesia tidak menjadi anak ayam yang kelaparan dalam lumbung padi.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  59. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih Prof Marsigit atas ilmu yang diberikan pada artikel postingan diatas. Peran dan fungsi dari filsafat tentu tidak serta merta nampak dan tersurat oleh mata dan pikiran. Karena manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, maka manusia tidak mampu memikirkan apa yang menjadi dampak dari adanya filsafat untuk peradaban dunia yang begitu kompleks dan terus berkembang. Dunia adalah korelasi yang baik antara hidup dan mati, yang ada dan yang tiada, yang abstrak dan yang konkret, logika dan perasaan. Sedang peradaban dunia berarti kumpulan dan hubungan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subjektif. Pasalnya, kini peradaban dunia sangatlah cepat dalam tumbuh kembangnya. Sehingga tidak dipungkiri di jaman yang sudah sangat modern ini, filsafat sangat lah penting untuk dijadikan pegangan diri agar manusia tetap hidup pada jalur yang sesuai dan terarah. Kecerdasan otak manusia yang semakin meningkat, menjadikan peningkatan taraf hidup dan perkembangan jaman dan atau adat istiadat yang sudah tidak diragukan lagi. Saat ini manusia dituntut untuk dapat menempatkan dirinya dalam peradaban yang relevan, namun tetap harus mampu mengenali gejala-gejala penyimpangan dari jalan lurus yang telah ditanamkan oleh spiritualitas dirinya. Ide-ide yang terus bermunculan dari pandangan dan perspektif manusia tidak lah berniat menjadikan dunia ini hancur atau merusaknya, namun harus kita sadari bahwa dunia semakin lama semakin tua dan secara tidak sadar dampak dari peradaban masa kini akan dirasakan oleh anak cucu kita dimasa mendatang.
    Waalaikumussalam wr.wb.

    ReplyDelete
  60. Arina Husna Zaini
    PEP B S2 2017
    17701251024

    Assalamualaikum wr.rb.
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada bapak Prof. Marsigit atas tulisannya diatas.
    filsafat merupakan ilmu yang digunakan untuk mencari kebenaran dari hakikat segala sesuatu yang lahir oleh pemikiran manusia. Peran dan fungsi filsafatpun sangat beragam yang dapat ditinjau dari berbagai aspek, yakni filsafat ilmu, filsafat pendidikan dan lain sebagainya.
    oleh karena itu, jika di tinjau secara umum peran filsafat mengarahkan kajian ilmu umum seperti ilmu matematika. Bahkan ditinjau dari apek sosial dengan berifsafat dapat melahirkan pola hidup bahkan pandangan hidup. Oleh karena itu, penting artinya bagi kita untuk mempelajari ilmu filsafat .

    terima kasih
    wasalamualaikum wr.wb

    ReplyDelete
  61. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Perbedaan adalah konsekuensi dan keniscayaan dalam kehidupan. Munculnya perbedaan tidak berarti bahwa mereka bertentangan, karena berbeda tidak selalu bertolak belakang, ia hanya berbeda. Artinya tidak perlu munculnya seorang ‘pahlawan’ untuk menyamakan semuanya. Dengan ia memadukan semuanya (entah dengan mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk dari tiap pihak) bukankah justru ia menambah aliran baru lagi? Bukankah justru bertambahlah perbedaan itu? Sebagaimana dulu Indonesia yang mendirikan Gerakan Non Blok di tengah-tengah panasnya persaingan antara blok barat dan blok timur, bukankah Indonesia menciptakan blok yang baru? (Perlu saya sampaikan bahwa saya tidak mendukung salah satu blok)
    Lalu jika demikian kenapa pula Immanuel Kant harus mendamaikan perdebatan antara empirisme dan rasonalisme? Kenapa tidak kita biarkan saja empirisme berjalan dengan kebenarannya sendiri dan rasionalisme dengan kebenarannya sendiri? Menurut hemat saya, penyatuan dua aliran (meskipun dengan mengambil kelebihan dan meninggalkan kelemahan masing-masing) tidak selalu menghasilkan aliran baru yang lebih baik dari keduanya. Pilihan terbaik justru hadir jika kita membiarkan aliran tersebut berkehendak sesuai dengan keinginannya. Ambil contoh tentang system pemerintahan parlementer dan presidensial. Negara-negara yang menganut system parlementer, ia tidak mengalami kesulitan berarti yang membuatnya harus mengadopsi sebagian dari system presidensial. Mereka baik-baik saja dengan system parlementer. Begitu pula sebaliknya.

    ReplyDelete
  62. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Peradaban dunia saat ini sudah mengalami kemajuan. Majunya peradaban dunia berpengaruh terhadap negara-negara di dunia salah satunya Indonesia. Pengaruh tersebut ada yang baik ada pula yang buruk. Pengaruh muncul dalam berbagai aspek kehidupan bernegara. Salah satunya dalam aspek pendidikan. Pendidikan merupakan hal penting yang harus dikembangkan dalam suatu negara. Pendidikan ikut serta berperan dalam menentukan kemajuan suatu bangsa.
    Setelah membaca tentang peradaban dunia, paham positivisme sudah semakin berkembang dan memiliki pengaruh yang besar. Seseorang seringkali mengabaikan ibadah karena urusan duniawi. Hal-hal tersebut sering tidak disadari.
    Untuk hidup pada zaman sekarang ini kita harus selalu berhati-hati dan memperkokoh landasan spiritual masing-masing.

    ReplyDelete
  63. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Apapun yang dilakukan saat ini akan berdampak bagi kehidupan di masa yang akan datang, seperti pepatah siapa yang menanam maka ia yang akan menuai. Apalagi profesi sebagai guru yang akan menjadi contoh bagi generasi penerus bangsa, maka penting bagi guru untuk memiliki kepribadian yang bisa menjadi contoh tauladan bagi peserta didiknya.

    ReplyDelete
  64. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam penjelasan diatas terlihat jelas bahwa tidak semua orang mampu belajar dan memahami filsafat. seperti diibaratkan bahwa kita yang belajar filsafat seperti ikan dilautan, ikan yang mampu mempelajari filsafat adalah ikan yang mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Oleh karenanya untuk mempelajari filsafat dibutuhkan tingkat kesadaran yang tinggi.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  65. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Alhamdulillah, setelah membaca penjelasan di atas saya menjadi mendapat tambahan gambaran mengenai filsafat. Filsafat itu adalah ilmu yang memikirkan obyek pikir, filsafat itu adalah kegiatan membangun pengetahuan. Untuk apa kita mempunyai pengetahuan? agar kita mampu menghadapi perkembangan jaman. Jika ditilik dari perkembangan jamannya, filsafat selalu melakukan pembaharuan. Hal ini juga mengikuti perubahan yang terjadi di muka bumi. Peradaban dunia berkaitan erat dengan teori filsafat August Compte yang kemudian kita kenal dengan jembatan Compte. Jembatan Compte dan Power now talah menguasai dunia. Karena kemajuan jaman dan teknologi, kita yang diibaratkan ikan-ikan telah mati terkena polusinya, mati dalam konteks ini adalah mati yang melalaikan tugas karena adanya pengaruh power now.

    ReplyDelete
  66. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Peristiwa serangan powernow yang semakin menjadi-jadi mungkin kebanyakan dari kita belum menyadarinya. Entah disadari atau tidak oleh para pengambil kebijakan, jika sistem yang mereka terapkan untuk mendidik generasi penerus ini mengandung fenomena Compte. Jika tidak, hal ini lah yang membuat kita seolah pemain kuda lumping yang kesurupan karena melakukan hal-hal yang kita tidak tahu mengapa kita melakukannya hanya karena pengaruh dari sesuatu diluar kendali kita. Pada saat inilah kita sebagai bangsa Indonesia harus bisa saling bekerjasama menyelamatkan bangsa dengan cara secara aktif mengikuti dan mengawasi jalnnya pemerintahan serta mengevaluasi dan memberikan sumbangan kritik yang membangun.

    ReplyDelete
  67. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Saya tertarik dengan filosofi kehidupan yang digambarkan dengan kehidupan ikan diatas "Ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis dari air agar bisa mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya". Ini mengingatkan kita bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri melainkan juga untuk keluarga kita, orang sekitar kita, generasi kita, bangsa kita, dan yang lebih kompleks untuk spesies kita sebagai manusia. Oleh sebab itu kita sepantasnya peduli dengan orang2 disekitar kita, keluarga kita, tetangga, saudara seagama, sebangsa dan setanah air, bukan hanya mementingkan kepentingan pribadi semata.

    ReplyDelete
  68. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb

    Semua tentang filsafat satu sama lain saling terkait. Membahas objek pasti terkait dengan yang ada dan yang mungkin ada. Membahas tesis pasti terkait dengan anti tesisnya, .... dst.
    Belajar filsafat tidak boleh setengah-setengah, iya kan Pak? Kita semua harus membaca dan terus membaca sampai akhir, karena jika mempelajari filsafat dengan setengah-setengah bisa menyebabkan kacau pikiran dan kacau hati. Seperti yang dicontohkan oleh Pak Marsigit mengenai anak kecil yang disuruh minta permen kepada Ibu guru dan kepada Tuhan, jika meminta permen kepada Ibu guru, permennya dikasih (dapet permen), tetapi ketika meminta kepada Tuhan, sang anak tidak mendapatkan permennya, dengan kejadian tersebut mendefinikan bahwa Tuhan tidak ada. Astagfirullahaladzim. Naudzubillah. Jadi belajar filsafat itu sama saja dengan memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbah materialisme, dll. Karena sebenar-benar filsfat adalah diriku sendiri.

    ReplyDelete
  69. Devi Nofriyanti
    17709251041
    Pps UNY P.Mat B 2017

    Terimakasih banyak untuk postingannya pak. isi dari postingan ini sedikit banyak telah saya pahami dari hasil perkuliahan kemarin. saya semakin sadara bahwa belajar filsafat itu penting agara kita bisa menjadi makhluk yang bijaksana yang tidak terombang-ambing dengan arus perubahan zaman tapi kita memiliki prinsip yang kokoh, bisa membedakan mana yang baik dan buruk. ada banyak hal yang ternyata jika dipikirkan secara mendalam menghasilkan pengetahuan yang baru. dari awal zaman hingga akhir zaman, manusia berlomba-lomba untuk mempertahankan kebenaran pendapatnya. dan saya sangat bersyukur karena saya menjadi bagian dari mahasiswa indonesia yang mempelajari filsafat dengan Pak Marsigit yang selalu memberikan contoh real dan menyisipkan petuah-petuah yang insya allah bisa mmembuka wawasan saya sebagai mahasiswa. saya memiliki tanggung jawab untuk menuntut ilmu, bukan karena untuk diri saya sendiri tapi untuk anak cucu saya generasi berikutnya, karena kemajuan generasi yang akan datang bergantung pada generasi kita saat ini.

    ReplyDelete
  70. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Peradaban dunia yang tertuang dalam refleksi ini menceritakan sejarah tentang filsafat. Perjalanan filsafat dari atas ke bawah dari monoisme sampai ke realistisme dan lain sebaginya. Dari abad ke abad para filsuf mengutarakan pendapatnya mengenai sesuatu yang tujuan sebenarnya yaitu untuk menuju kepada kebaikan, yang membedakannya adalah pusat atau fokus dari filsafatnya itu dari mana. Tidak ada yang salah atau benar dari perjalanan filsafat tersebut. Dengan adanya berbagai pandangan seperti itu menjadikan kita seseorang yang kritis untuk mencari tahu yang sesuai dengan pandangan kita yang mana. Tentunya bukan untuk ikut-ikutan maka dari itu diperlukan kegiatan yang membaca yang lebih agar dapat memilah dengan baik.

    ReplyDelete
  71. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Setelah mengetahi sejarah panjang mengenai filsafat. Maka kita akan mengetahui tujuan utama dari belajar filsafat ini adalah agar kita mampu untuk berpikir secara luas dan mendalam. Dengan berpikir kita dapat mengelompokkan sesuai wadahnya. "berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst". Artinya kita dituntut untuk berpikiran kritis untuk menjadi orang yang kritis tidak hanya menerima saja apa yang diberikan atau ditawarkan kepada kita.

    ReplyDelete
  72. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Semakin hari perkembangan dunia semakin maju, begitupun di Indonesia semakin hari semakin digempor dengan perkembangan teknologi, pendidikan, politik, dan teknologi. Harus memiliki kemampuan membangun pondasi yang kuat untuk mengikuti perkembangan zaman yang selalu meningkat tiap harinya. Membangun landasan itu dapat dengan menggunakan filsat di dalamnya. Namun sesuai dengan kalimat yang disampaikan pada postingan ini yaitu "membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya". Oleh karena itu kita harus banyak membaca agar tidak menjadi orang yang distorsi terhadap apa yang seharusnya.

    ReplyDelete