Nov 1, 2015

TESIS DAN ANTI-TESIS PEMAHAMAN PENDEKATAN SAINTIFIK

Oleh Marsigit

Seperti diketahui bahwa secara eksplisit pendekatan Saintifik direkomendasikan untuk metode pembelajaran (dengan didukung atau dikombinasikan dengan metode lain yang selaras) dalam kerangka Kurikulum 2013. Sebelum diuraikan tentang implementasi dan contoh-contohnya, maka di sini akan dilakukan sintesis tentang adanya dikotomi pemikiran Saintifik dan Tidak Saintifik. Pendekatan saintifik yang terdiri dari sintak: a. mengamati; b. menanya; c.    mengumpulkan informasi; d.   mengasosiasi; dan e.   mengkomunikasikan.

Terdapat pemikiran (referensi) bahwa proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

Tesis 1dari referensi sebelah:
Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

Anti-Tesis oleh Marsigit:
Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

Tesis 2 dari referensi sebelah:
Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

Anti-Tesis 2 oleh Marsigit:
Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu
memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.

Tesis 3 dari referensi sebelah:
Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah. Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.Intuisi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik dan sistematik.Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkan mereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan orang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didompleng kepentingan pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku. Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya dan bernilai kreatifitas. Karena itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang  seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.Berpikir kritis. Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil eksperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

Anti-Tesis 3 oleh Marsigit:
Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah. Pendekatan Ilmiah bersintak (sesuai dengan referensinya), maka sifat Ilmiah tidak serta merta secara rigid identik dengan sintak-sintaknya. Untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun siswa sudah menggunakan sintak Saintifik.

Peran intuisi sangat penting bai sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman.
Akal sehat sangat bermanfaat sebagai dimulainya kesadaran untuk mempersepsi objek berpikir.

Kegiatan coba-coba secara ontologis bermakna sebagai kegiatan interaksi antara pikiran dan pengalaman, antara logika dan faktanya, antara analitik dan sintetik, dan antara a priori dan a posteriori.

Berpikir kritis adalah berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar.

Fenomenologi sebagai kerangka filosofis pendekatan Saintifik.

Hermenitika sebagai pendekatan epistemologi pendekatan Saintifik.

Yogyakarta, Nopember 2015


43 comments:

  1. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Saya sependapat dengan anti-tesis yang dibuat oleh Bapak. Dalam mengambil kesimpulan haruslah hati-hati karena kesimpulan yang diambil akan menjadi pengetahuan bagi siswa. Tidak selamanya kesimpulan yang sudah menggunakan sintaks pendekatan saintifik selalu benar. Ada kalanya terjadi kesalahan observasi seperti yang disebutkan artikel di atas. Jadi kesimpulan yang diambil haruslah dicek kembali kebenarannya.

    ReplyDelete
  2. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Kegiatan mencoba-coba sebenarnya merupakan kegiatan yang bermanfaat dalam proses pembelajaran karena melibatkan proses berpikir dan pengalaman siswa dalam menyelesaikan masalah sehingga secara tidak langsung membuat siswa berpikir kreatif, yaitu menyelesaikan masalah tidak hanya dengan langkah yang sudah ada, tetapi menciptakan cara/langkah baru untuk menyelesaikan masalah. Terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017
    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Paparan dan penjelasan ini memberikan sudut pandang baru bagaimana kita (saya) dalam memaknai pendekatan saintifik yang sebelumnya saya kenal melalui pelatihan-pelatihan hanya sebatas praktek yaitu menenuhi unsur 5M. Dengan membaca penjelasan ini, kami (saya) mulai berpikir bahwa dalam pendekatan saintifik suatu hal yang penting adalah bagaimana siswa membangun intuisinya dan mencocokkannya dengan realita (dalam hal ini mencoba) sehingga siswa mendapatkan suatu pengalaman dan bisa jadi pengalaman yang dia dapatkan adalah pengalaman melakukan kesalahan.

    Terima kasih banyak Pak, atas paparan dan penjelasannya.

    ReplyDelete
  4. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Prof. Marsigit selalu mempunyai sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Termasuk pemahaman tentang pendekatan saintifik ini. Selama ini pengetahuan saya mengenai pendekatan saintifik sangat "baku" seperti point-point pada tesis 1, 2, dan 3. Tapi ternyata, pemahaman tentang pendekatan saintifik tidak sesempit itu. Seperti pada tesis 1, sepengetahuan saya materi pada pendekatan saintifik tidak boleh berupa kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Tetapi menurut Prof. Marsigit, segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng ternyata dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Juga pada tesis 3, yang saya tahu dalam pendekatan saintifik harus menghindari hal-hal yang non ilmiah. Tapi ternyata, untuk dapat melakukan hal-hal yang ilmiah terkadang siswa harus melakukan hal-hal yang tidak ilmiah seperti kekeliruan mengobservasi, coba-coba, dan mengambil kesimpulan. Jadi, postingan ini menyadarkan dan memberikan pengetahuan yang baru bagi saya bahwa pemahaman pendekatan saintifik itu tidak "baku", sangat luas dan tidak terbatas.

    ReplyDelete
  5. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Sejauh ini, pengetahuan saya akan pendekatan saintifik, sedikit banyak lebih mengacu kepada hal-hal yang diuraikan pada bagian tesis. Kemudian saya menyadari bahwa anti-tesis yang bapak kemukakan memang sesuai dengan keadaan yang ada, seperti yang tertulis pada anti tesis 2 bahwa pendekatan saintifik dapat dilakukan dengan kerangka konstruksivisme, dimana siswa membangun pengetahuan dengan guru sebagai fasilitator. Karena pada faktanya, peran guru masih dibutuhkan cukup besar dalam pendekatan saintifik ini, padahal hal ini bertentangan dengan semangat saintisme.

    ReplyDelete
  6. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika boleh jujur penjelasan yang dipaparkan oleh bapak memberikan sedikit pencerahan bagi saya mengenai kurikulum 2013 yang sedang dihadapi para guru Indonesia. Sebagai mahasiswa yang memang belum langsung terjun menghadapi pembelajaran menggunakan kurikulum 2013, selama ini saya berfikir bagaimana caranya si kita menerapkan kurikulum 2013? Saya selalu berfikir dalam menerapkan kurikulum 2013 itu sulit karena adanya pernyataan yang menjadi “Tesis” pada artikel di atas. Namun setelah adanya antithesis dari bapak, saya mendapatkan sedikit pencerahan dalam memaknai pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Sisa pemahaman yang masih belum saya ketahui memang harus saya lakukan dengan belajar lagi dan tidak langsung merasa puas karena membaca anti tesis dari bapak pada artikel di atas.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  7. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Penemuan coba-coba atau trial and error bertujuan agar siswa mendapatkan pengalamannya sendiri dalam memecahkan suatu masalah. Apabila kita memberikan rumus sejak awal, siswa hanya dapat menyelesaikan satu model persoalan saja. Apabila terdapat situasu yang berubah pada persoalan, siswa mulai kebingungan. Melalui trial and error, siswa memiliki pengalaman bahwa ia pernah melakukan kekeliruan di bagian a, bagian b, dan lainnya sehingga siswa lebih percaya diri untuk mencari solusi.

    ReplyDelete
  8. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualikum Prof,
    Selamat pagi. Pembelajaran pendekatan saintifik berarti pendekatan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah ilmiah dalam membangun pengetahuan. Pendekatan ini menolak pendekatan non ilmiah, padahal dalam langkah-langkah ilmiah tersebut tidak dapat menghindari tahapan non ilmiah. Maka, perlu adanya keseimbangan di dalam pembelajaran. Maksudnya, pembelajaran yang dilakukan tidak hanya berdasarkan fakta, tetapi juga dengan melibatkan hal lain seperti intuisi dan juga percobaan dalam membangun pengalaman. Kedua hal tersebut memiliki peran penting dalam membangun pengetahuan siswa. Maka, filsafat mengajak kita untuk dapat mengkritisi segala sesuatu dengan membuat anti tesisnya.

    ReplyDelete
  9. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Terimakasih Prof Marsigit atas pemaparannya, hal ini membuat saya berfikir bahwa pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menjadi sangat mungkin untuk diberikan tentu saja, harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari penggunaan hipotesis dan berfikir abstrak yang sederhana, kemudian seiring dengan perkembangan kemampuan berfikir dapat ditingkatkan dengan menggunakan hipotesis dan berfikir abstrak yang lebih kompleks.

    ReplyDelete
  10. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend. Matematika B 2017

    Assalammualaikum, Wr. Wb
    Selamat malam bapak.
    Super sekali, saya sangat salut sama bapak, pmikiran sudut pandang dari bapak mengenai saintifik membuat saya memiliki wawasan yang lebih luas. Disini saya juga belajar bahwa kita bebas untuk berfilsafat, asal sesuai dengan konteks. Dengan sudut pandang bapak mengenai saintifik ini memberikan pencerahan bagi saya mengenai kurikulum 2013. Yang saya ketahui sebelumnya bahwa pendekatan saintifik hanya dengan 5M, sekarang saya mulai berpikir bahwa dalam pendekatan saintifik masih banyak hal yang penting.

    ReplyDelete
  11. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Setelah saya membaca postingan Bapak saya menyadari pentingnya berpikir luas. Hal-hal yang dianggap tidak berguna atau bahkan bertentangan ternyata bisa bermanfaat dan justru mendukung keberhasilan suatu hal.

    ReplyDelete
  12. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B / 2017

    "Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah". Kalimat ini sejujurnya menjadi tamparan bagi saya. Terlepas dari topik kajian pada postingan ini (tentang pendekatan saintifik), pada hari-hari yang lalu saya menjadi orang yang mudah, mudah mencari hal-hal non ilmiah, hanya dengan mengingkarkan hal-hal yang ilmiah. Sungguh postingan ini kembali membawa saya pada refleksi diri.

    ReplyDelete
  13. Dewi Thufaila
    17709251054
    S2 Pendidikan Matematika C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sebagaimanapun faktual atau saintiknya suatu pembelajaran, imajinasi tetaplah dibutuhkan, terlebih dalam pembelajaran matematika yang tidak segala sesuatunya dapat segera dipastikan, sebagian membutuhkan khayalan untuk memulai teorinya baru setelahnya dibuktikan dengan logika, dan secara empiris, berdasarkan penemuan, pengamatan, dan percobaan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  14. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari tesis dan antitesis pertama saya menyimpulkan bahwa pembelajaran ilmiah memiliki substansi berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Sedangkan segala macam kira-kira, khayalan, legenda tau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Sebagai sintetiknya adalah pembelajaran pembelajaran operasi bilangan bulat pada anak sekolah dasar dengan pendekatan saintifik. Karena pendekatan yang digunakan saintifik maka pembelajarannya adalah pembelajaran ilmiah. Contoh soal atau LKS yang diunakan dapat memuat cerita rakyat atau tokoh-tokoh dalam dongeng atau kartun yang dapat direpresentasikan ke dalam operasi bilangan bulat. Tentu hal ini selain menambah semangat siswa dalam belajar juga dapat menguatkan pemahaman siswa akan operasi bilangan bulat karena contoh soalnya berupa soal cerita yang sesuai dengan kesenangan siswa.
    Sintetis dari tesis dan aanti-tesis yang kedua yaitu pada saat pembelajaran saintifik, guru memfasilitasi siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri melalui kegiatan pembelajaran yang telah dirancang. Guru memberi kesempatan siswa untuk berpikir secara mandiri dalam menyimpulkan materi pembelajaran. Tentu saja guru sekaligus mendampingi agar pemikiran siswa tidak terlalu subjektif agar diperoleh kesimpulan yang sesuai denan materinya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuan berpikir dan menalar siswa, tetapi kontrol guru juga diperlukan agar tujuan pembelajaran sesuai serta tidak melenceng dari RPP yang telah dibuat.

    Wasalamu;alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  15. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Berdasarkan postingan diatas, dapat dilihat bahwa pemikiran pendekatan saintifik yang disebut ilmiah tidak hanya berdasarkan tesis-tesis yang ada. Masih ada terdapat pemikiran lain yang merupakan anti-tesis dari pemahaman itu. Akan tetapi bukan berarti pemikiran itu berjalan sendiri-sendiri, namun dengan melakukan sintesis antara tesis dan anti-tesis tersebut.
    Seperti pada tesis dan anti-tesis 1, bahwa substansi materi pembelajaran tidak hanya berasal dari fakta yang dapat dijelaskan secara logika atau penalaran. Namun, dengan membangun pengetahuan diperlukan logika dan pengalaman. Nah pengalaman tersebut dapat diperkuat dengan cerita dongeng atau legenda.
    Begitu juga yang terdapat pada tesis dan anti-tesis 2, bahwa interaksi antara siswa dan guru tidak terlepas dari pemikiran subyektif dan menyimpang dari alur berpikir logis. Namun, justru proses berpikir subyektif siswa dibutuhkan untuk membentuk dan memperkokoh karakter siswa. Dan disinilah tugas guru sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi siswanya dalam membangun karakter.

    ReplyDelete
  16. Shelly Lubis
    17709251040
    Pend.Matematika B (S2)

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Saya setuju dengan penrnyataan bahwa secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang berpendidikan tinggi. Walaupun tidak semua hasil pemikirannya selalu benar. Tapi saya meyakini benar adanya bahwa pendidikan yang tinggi itu bisa merubah pola pikir seseorang.

    ReplyDelete
  17. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Menanggai anti tesis dari tesis 1, saya setuji bahwasannya terkadang kira-kira, khayalan, dan dongeng diperlukan untuk menguatkan landasan pikir dan pengalaman. Karena dunia logis bagi anak dan bagi orang dewasa pastilah berbeda. Suatu fenomena yang logis belum bagi orang dewasa bisa menjadi suatu yang khayal bagi anak-anak. Maka tidaklah bijak jika memkasakan anak-anak mengikuti dunia orang dewasa. Ada masa ketika sesuatu yang khayal dan bersifat dongeng itu penting untuk membantu anak memperoleh pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  18. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya sangat setuju dengan beberapa antitesis yang Bapak kemukakan, terutama antitesis 2 bahwa pengetahuan itu dibangun oleh siswa itu sendiri dengan bimbingan guru. Guru sebagai fasilitator seharusnya dapat memfasilitasi siswa untuk lebih mandiri dalam mengontruksikan pengetahuan dari berbagai sumber dan pengalaman siswa. Bukan semata-mata memberikan pengetahuan begitu saja tanpa mengetahui prosesnya layaknya mengisi wadah yang kosong.

    ReplyDelete
  19. Insan A N/Magister Pmat C 2017
    Pernyataan anti tesis yang logis dan mudah dipahami, secara eksplisit memang pendekatan saintifik adalah bagian dari kurikulum 2013. Pernyataan bahwa proses belajar harus terhindar dari sifat non-ilmiah, praktis akan menghilangkan sifat manusiawi. Karena manusia dibekali juga dengan kemampuan intuisi, rasa, dan kemampuan belajar yang berbeda.

    ReplyDelete
  20. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017


    Pendekatan ilmiah merupakan suatu pendekatan yang cocok untuk diterapkan pada proses pembelajaran. Selain khayalan, dongeng, legenda, dapat juga menggunakan budaya sebagai sarana untuk memperkokoh landasan pemikiran peserta didik. Hal tersebut dapat diterapkan dalam salah satu kegiatan awal dalam tahapan pendekatan ilmiah yaitu mengamati. Peserta didik yang diajarkan matematika dengan dasar mengamati hal-hal yang konkret di sekitarnya akan mendapatkan suatu pengalaman belajar yang bermakna dibandingkan dengan yang tidak.

    ReplyDelete
  21. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Setiap tesis memungkinkan untuk disusun anti-tesisnya, hanya tergantung dari sudut pandang mana yang mau dipakai. Memang benar bahwa materi pembelajaran terfokus pada fakta-fakta yang terbebas dari kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Namun kita tidak dapat mengelak bahwa siswa sebagai subjek belajar mempunyai perkiraan, khayalan yang tidak bisa dilepaskan begitu saja saat berkenaan dengan pembelajaran. memang untuk materi yang diproyeksikan pada tujuan pembelajaran difokuskan pada fakta-fakta. namun penemuan kembali fakta-fakta tersebut dapat dibantu dengan perkiraan-perkiraan, khayalan, dongeng yang telah dikenal oleh siswa, sehingga pembelajaran akan lebih mudah menuju materi yang menjadi tujuannya.

    ReplyDelete
  22. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mungkin kata "asal berpikir kritis dari tesis 3 yang dikemukakan mengacu pada pemikiran yang mengkritisi sesuatu secara asal-asalan. Hal ini memang tidak diperbolehkan dalam pendekatan saintifik, mengingat pendekatan ini mensyaratkan kemampuan berpikir kritis siswa secara logis yang menyangkut materi pembelajaran maupun fakta-fakta yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari siswa dalam koridor yang ilmiah.

    ReplyDelete
  23. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari Tesis dan anti-tesis yang pertama. Pembelajaran saintifik benar menggunakan pembelajaran yang berbasis fakta. Seperti halnya metode RME (Realistic Mathematics Education) yang pernah saya gunakan dalam pembelajaran matematika di SMA. Pada pembelajaran itu bukan hanya fakta yang dibutuhkan tetapi khayalan siswa pun juga dapat mendukung pemahaman yang lebih atas suatu materi. Karena khayalan juga memperkuat landasan pikiran dan pengalaman siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  24. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C (S2)

    Kesulitan peserta didik dalam memahami konsep matematika dikarenakan dalam pembelajaran selalu diawali dengan objek matematika yang abstrak. Pembelajaran matematika sekolah dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Dalam pembelajaran kita dapat mengatakan bahwa konsep matematika abstrak merupakan ilmu matematika formal, sementara konsep matematika yang konkret merupakan ilmu matematika informal.Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Dalam pendekatan saintifik, proses pembelajaran dimulai dengan mengamati suatu fenomena atau kejadian sebagai sumber belajar, selanjutnya menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

    ReplyDelete
  25. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik disebut ilmiah jika materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Saya sependapat, namun akan lebih lengkap jika jika siswa bisa berkreatifitas misalnya dengan kira-kira dan khayalan, tentu siswa akan mendapat pengalaman yang berbeda dan tentunya akan memperkuat pemahamannya terhadap substansi pembelajaran.

    ReplyDelete
  26. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof Marsigit atas artikel mengenai tesis dan dan anti tesis pemahaman pendekatan saintifik di atas. Persepsi dan perspektif yang berbeda-beda mengenai pendekatan saintifik sangatlah wajar. Tesis yang dikemukakan berdasarkan referensi dari sekolah, sudah cukup tepat dan sejauh ini perlahan dapat diimplementasikan disekolah-sekolah, meskipun sebagian yang lain masih menempatkannya sebagai wacana dan atau formalitas saja. Pendekatan saintifik yang di gadang-gadang pada pelaksanaan kurikulum 2013 saat ini memang membutuhkan pemikiran tingkat tinggi yang ilmiah dan relevan mengikuti tuntutan zaman. Kompetensi tersebut haruslah dimiliki dan dikuasai terlebih dahulu oleh para pendidik/ guru agar peserta didik benar-benar mampu mencapai tingkat berpikir yang ilmiah. Konten dalam proses pembelajaran yang digunakan oleh guru haruslah berbasis fakta atau fenomena yang secara langsung maupun tidak, menuntut peserta didik untuk berpikir menggunakan penalaran induktif dan deduktif, pemikiran yang kritis dan kreatif, serta cara yang tepat dalam membuat keputusan dan cara yang efektif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan didasarkan pada akal sehat, prasangka, pengalaman hidup, dan penemuan coba-coba, peserta didik dapat dilatih membangun berbagai konsep dan menanamkan perbedaan antara satu konsep dengan konsep yang lain, dimana itu akan menjadi pedoman ilmu pengetahuan yang akan ia miliki dan akan bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya selama ia menyerap berbagai informasi.

    ReplyDelete
  27. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Mengutip kembali tentang pernyatan yang menyatakan bahwa “ fakta atau fonemena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan dengan pendekatan saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman.Segala macam kira- kira, kahyalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman..Jika dikaitkan dengan filsafat,apakah hubungan atau korelasi yang paling mendasar antara filsafat dengan pendekatan saintifik?anaknda mohon pencerahan dan penjelasannya pak.terimaksih banyak sebelumnya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  28. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam postingan ini ada tiga tesis-antitesis. Dalam tesis pertama disebutkan bahwa segala substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Pada antitesis Prof Marsigit menyebutkan bahwa apa yang disebut di atas dapat menjadi landasan pikiran dan pengalaman. Saya sependapat bahwa kira-kira atau khayalan dapat dijadikan landasan pikiran. Seperti para ahli ilmu pengetahuan sebelum mereka menemukan sesuatu, tentunya mereka berangkat dari menganalisa hal yang ada dan yang mungkin ada. Misal: “Udara memang ada, karena buktinya makhluk hidup dapat bernafas. Tapi apakah ada unsur-unsur tertentu dalam udara? Kenapa ada yang beracun dan ada yang segar? Apakah kira-kira yang dapat menetralisir udara beracun tersebut?” Sama seperti ketika Archimedes bertanya-tanya, apakah kira-kira jika sebuah benda dimasukkan ke dalam wadah yang penuh air, air yang tumpah dari wadah tersebut volumenya sama dengan benda yang dimasukkan ke wadah?

    ReplyDelete
  29. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Pada antitesis 2, Prof Marsigit menyebutkan bahwa dalam pembelajaran dengan pendekatan santifik tidak ada istilah penjelasan guru-respon siswa, karena pendekatan saintifik pada dasarnya adalah pembelajaran konstruktivistik. Kata konstruk disini artinya adalah membangun, sehingga tujuannya adalah agar siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri. Diluar ada unsur “keinginan orang dewasa” di sini, sisi baiknya adalah siswa dapat benar-benar memaknai pengetahuan yang ia dapatkan dengan membangunnya sendiri dari pondasi hingga puncak. Tentu saja guru tetap berperan dalam pembelajaran yang dilakukan bersama siswa, namun guru berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai pemberi materi.

    ReplyDelete
  30. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P>Mat C 2017

    Mengenai tesis ketiga, saya kurang setuju dengan sumber referensi sebelah yang menyebutkan bahwa berpikir kritis adalah nilai non ilmiah yang harus dihindari dalam pembelajaran. Berpikir kritis adalah indikasi bahwa seseorang mempertanyakan suatu hal yang belum diketahui sifatnya yang sebenarnya, atau sifatnya masih rancu. Orang yang kritis akan terus mencari dan mengejar jawaban dari pertanyaannya. Jika pembelajaran dihindarkan dari sikap berpikir kritis, maka pembelajaran yang terjadi hanyalah sebatas transfer of knowledge atau lebih buruknya hanyalah ceramah oleh guru yang tidak benar-benar dipahami oleh siswa. Selain itu, mengenai penemuan coba-coba. Menurut saya, penemuan coba-coba tidak bisa begitu saja dihindarkan dari pembelajaran. Pada kenyataannya, catatan-catatan kuno tentang matematika zaman dahulu oleh bangsa-bangsa kuno banyak menggunakan coba-coba atau sering disebut dengan tial and error. Begitu juga para fisikawan. Dengan adanya trial and error, seseorang dapat mengetahui apa yang harus dilakukan agar error tidak terjadi. Dengan kata lain, orang tersebut sudah belajar sesuatu.

    ReplyDelete
  31. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Pendapat saya mengenai kalimat kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun sudah menggunakan sintak saintifik, di sinilah kiranya peran guru sebagai fasilitator pembelajaran yaitu untuk mengoreksi miskonsepsi-miskonsepsi yang terjadi dalam kegiatan belajar.

    ReplyDelete
  32. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pendekatan saintifik melibatkan logika dan pengalaman, khalayan, perkiraan, dongeng hanya menjadi landasan penambah pengetahuan. Dalam proses pembelajaran tidak boleh menggunakan intuisi ataupun perkiraan semata, karena semua hal dalam pembelajaran harus bersifat ilmiah tidak boleh bersifat nonilmiah. Apalagi hanya kemungkinan yang berdasarkan perkiraan tanpa landasan yang kuat.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  33. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pendekatan saintifik pada dasarnya untuk membentuk anak berfikir kritis terhada suatu masalah. Tugas seorang guru adalah untuk mengembangkan kecerdasan siswa. Berasal dari coba-coba maka siswa dapat mengembangkan kecerdasan intuisi. Kecerdasan intuisi itu sangat penting karena mereka dapatkan dari pengalaman ( dari penglihatan dan pendengaran). Selanjutnya, guru harus memberikan batasan dan mengembangkan kecerdasan refleksi nya. Hal ini menyebabkan siswa dapat berfikir secara runtut sesuai dengan aturan yang berlaku namun mereka tetap berfikir sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Terimakasih Bapak Marsigit untuk ilmunya.

    ReplyDelete
  34. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Terima kasih bapak atas postingan ini, postingan ini memberikan saya gambaran bahwa ada sudut pandang lain dalam memahami pendekatan saintifik. Karena saya masih belum pernah terjun langsung menggunakan pendekatan saintifik di sekolah dalam waktu yang lama dan terus-menerus, maka pengalaman dan pengetahuan saya mengenai pendekatan saintifik masih sedikit dan hanya berkisar pada ranah tesisnya saja. Setelah membaca postingan ini, saya menyadari bahwa selain dalam kehidupan sehari-hari ternyata dalam dunia pendidikan yaitu dalam pendekatan saintifik pun memiliki antithesisnya sendiri. Segala yang hanya dipikirkan belum tentu sama dengan yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu agar lebih memahami mengenai pendekatan saintifik ini kita tidak boleh hanya melihatnya hanya dari satu sudut pandang yaitu tesisnya saja, namun kita juga harus melihat dari antitesisnya. Sekali lagi terima kasih bapak atas penjelasan dan pembelajaran yang diberikan ini. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  35. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Pendekatan saintifik banyak menimbulkan perdebatan panjang. Selain perdebatan panjang, banyak juga yang mendefinsikan pendekatan saintifik kurang mendalam. Kita banyak terjebak dengan istilah sains, ilmiah dan sejenisnya. Padahal, ilmiah bukan semata-mata fakta yang dapat dinalar, melainkan dongeng, mitos, legenda dapat dijadikan sumber dalam pembelajaran saintifik. Jika kita memiliki pandangan saintifik yang begitu luas, maka, banyak kebudayaan Indonesia yang dapat dijadikan rujukan keilmuan.

    ReplyDelete
  36. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Dalam kegiatan pembelajaran di kelas dengan pendekatan saintifik guru lebih berperan sebagai fasilitator yang tugasnya menfasilitasi siswa untuk menemukan dan membangun berbagai konsep dan pengetahuannya secara mandiri. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran, yakni dengan melakukan penelitian sederhana, pengamatan, dan menemukan pola. Dengan proses pembelajaran seperti ini, harapannya siswa akan memiliki pengalaman belajar yang baik dan bermakna, sehingga apa yang ia dapat akan lebih membekas dan tertanam dalam benaknya.

    ReplyDelete
  37. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarja

    Postingan mengenai Tesis dan anti tesis pemahaman ini menyadarkan kepada pembaca bahwa memandang sesuatu itu tidak selalu pada satu sisi saja sedangkan sisi yang lain diabaikan karena dianggap kurang memberikan manfaat. Namun jika dilihat pada sisi yang berlainan ternyata dibalik sesuatu yang dianggap kurang memberikan dampak yang baik. Seperti yang diuraikan di atas, "Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata". Ternyata antitesis dari pernyataan tersebut menyatakan bahwa kira-kira, khayalan, legenda, atau dongen tersebut menjadi pendukung dan penguat landasan pemikiran dan pemahaman siswa. Maka pelajaran yang dapat diambil dari postingan ini yaitu memahami suatu itu secara luas dan secara bijak sehingga dapat bersikap adil terhadap objek pikir lainnya.

    ReplyDelete
  38. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya mencoba menggaris bawahi beberapa hal dalam artikel tersebut. Paradigma konstruktifisme menjadi hal yang dominan dalam pendekatan saintifik dimana siswa di fasilitasi guru untuk berperan aktif falam belajar dan menbangun pengetahuaanya secara mandiri. Siswa juga diberi stimulus agar dapat berpikir kritis melalui masalah-masalah yang diberikan. Namun, meskipun dituntut ilmiah dalam segala hal, peran intuitif tidak bisa dikesampingkan. Dunia anak-anak memang sangat penuh dengan intuitif dimana mereka melakukan sesuatu tanpa alasan. Hal ini tentu perlu dipahami oleh guru sekaligus memahami psikologi siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  39. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Diskusi yang luar biasa, memberikan pengetahuan baru bagi pembaca tentang pendekatan saintifik dengan sudut pandang yg berbeda, pendekatan saintifik semestinya dimaknai lebih fleksibel, tidak hanya kaku dengan sistem ilmiah, kemudian pendekatan saintifik juga dimaknai secara luas dan mendalam, sehingga tidak terbatas oleh interaksi Guru-siswa saja, melainkan interaksi siswa-siswa, interaksi siswa-lingkungan, dan interaksi-interaksi lainnya yang mendukung perkembangan siswa.

    ReplyDelete
  40. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya pernah mendapatkan pembekalan mengenai pendekatan saintifik yang diterapkan pada kurikulum 2013 sewaktu micro teaching. Ketika itu, dosen saya menyalahkan kami jika kami memulai pembelajaran dengan menggiring siswa pada buku, misalnya "anak-anak, apa yang sudah kalian pelajari dari buku paket?". Menurut dosen saya, hal seperti ini telah keluar dari semangat saintifik, dimana pembelajaran harusnya dimulai dengan menyajikan fenomena alam untuk dikaji bersama-sama hingga akhirnya kita mendapatkan ilmu. Pendekatan saintifik tidak dimulai dari buku kemudian dicari padanannya di alam sekitar, namun justru kebalikannya. Yaitu mempelajari alam untuk kemudian dituliskan dalam buku atau catatan

    ReplyDelete
  41. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Membaca artikel ini saya mencoba memahami bahwa dalam memahami suatu hal termasuk memahami pendekatan saintifik kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Agar tidak terjebak dalam satu definisi aja. Dengan membaca anti tesis ini tentunya harapan kita, kita akan menjadi lebih bijak dalam memahami pendekatan saintifik termasuk dalam menyikapi apakah adanya intuisi membuat pendekatan saintifik ini tidak berjalan, namun pada kenyataannya intuisi sangat diperlukan oleh siswa untuk memahami dan memaknai materi pembelajaran itu sendiri.

    ReplyDelete