Nov 1, 2015

TESIS DAN ANTI-TESIS PEMAHAMAN PENDEKATAN SAINTIFIK

Oleh Marsigit

Seperti diketahui bahwa secara eksplisit pendekatan Saintifik direkomendasikan untuk metode pembelajaran (dengan didukung atau dikombinasikan dengan metode lain yang selaras) dalam kerangka Kurikulum 2013. Sebelum diuraikan tentang implementasi dan contoh-contohnya, maka di sini akan dilakukan sintesis tentang adanya dikotomi pemikiran Saintifik dan Tidak Saintifik. Pendekatan saintifik yang terdiri dari sintak: a. mengamati; b. menanya; c.    mengumpulkan informasi; d.   mengasosiasi; dan e.   mengkomunikasikan.

Terdapat pemikiran (referensi) bahwa proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

Tesis 1dari referensi sebelah:
Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

Anti-Tesis oleh Marsigit:
Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

Tesis 2 dari referensi sebelah:
Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

Anti-Tesis 2 oleh Marsigit:
Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu
memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.

Tesis 3 dari referensi sebelah:
Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah. Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.Intuisi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik dan sistematik.Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkan mereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan orang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didompleng kepentingan pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku. Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya dan bernilai kreatifitas. Karena itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang  seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.Berpikir kritis. Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil eksperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

Anti-Tesis 3 oleh Marsigit:
Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah. Pendekatan Ilmiah bersintak (sesuai dengan referensinya), maka sifat Ilmiah tidak serta merta secara rigid identik dengan sintak-sintaknya. Untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun siswa sudah menggunakan sintak Saintifik.

Peran intuisi sangat penting bai sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman.
Akal sehat sangat bermanfaat sebagai dimulainya kesadaran untuk mempersepsi objek berpikir.

Kegiatan coba-coba secara ontologis bermakna sebagai kegiatan interaksi antara pikiran dan pengalaman, antara logika dan faktanya, antara analitik dan sintetik, dan antara a priori dan a posteriori.

Berpikir kritis adalah berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar.

Fenomenologi sebagai kerangka filosofis pendekatan Saintifik.

Hermenitika sebagai pendekatan epistemologi pendekatan Saintifik.

Yogyakarta, Nopember 2015


85 comments:

  1. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    PPs. P.Mat C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dari elegi ini terdapat tesis pemahaman pendekatan saintifik dan antitesis pemahaman pendekatan saintifik. Dimana tesis dan antitesis merupakan bagian dari tahapan rangkaian proses dialektis oleh Hegel. Tesis adalah suatu konsep universal yang abstrak sebagai titik tolak. Antitesis ialah kontradiksi atas tesis. Sedangkan sintesis merupakan penyatuan konsep yang bertentangan antara tesis-antitesis.

    Sumber: Lubis, Akhyar Y. 2015. Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam membangun suatu pengetahuan yang menggunakan pendekatan saintifik serta melibatkan unsur logika dan pengalaman. Pengetahuan yang diperoleh sebelum bertemu dengan pengalaman (hanya berdasarkan logika) disebut a priori, sedangkan pengetahuan yang diperoleh setelah bertemu dengan pengalaman disebut a posteriori. Dalam menerapkan pendekatan saintifik juga harus benar-benar tahu akan muridnya karena nanti timbul sebuah pertanyaan apakah menerapkan pendekatan saintifik pada siswa itu menghasilkan outcome

    ReplyDelete
  3. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pada elegi ini termuat tentang penjelasan tentang pendekatan saintifik berdasarkan pemahaman kita. Pertama materi pembelajaran pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik berbasis fakta dan fenomena menggunakan logika atau penalaran bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Kemudian dikemukakan kontradiksinya oleh Bapak. Kita ketahui bahwa suatu konsep itu bisa dikatakan tesis dan bisa dibuat pula anti-tesisnya. Anti-tesis merupakan kontradiksi dari tesisnya. Maka kata Prof anti-tesis dari tesis tadi yaitu cara dengan kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Saya juga sangat setuju dengan pendapat bapak ini karena dengan alasan bahwa pendekatan saintifik merupakan pembelajaran ditujukan agas siswa membentuk pengetahuan dengan logika dan pengalaman.

    ReplyDelete
  4. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Kurikulum 2013 erat kaitannya dengan pendekatan saintifik, pendekatan yang terdiri dari dintak mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Pendekatan saintifiki juga melibatkan unsur logika dan pengaaman yang dirasa sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Dan masih banyak lagi yang tertuang dalam pendekatan saitifik, pendekatan yang hngga sampai saat ini masih mengalami perbaikan, dan masih banyak pelatihan para pendidik untuk merubah budaya pembelajaran dari tahun-tahun lalu menjadi pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  5. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Jika fenomena dan mengalaman menjadi substansi pembelajaran maka antitesisnya fenomena menjadi obyek pembelajaran. Jika pembelajaran masih menggunakan penjelasan guru maka anti tesisnya pembelajaran mengunggulkan kemandirian siswa untuk memperoleh pengetahuannya dengan sedikit penjelasan guru, bahkan tidak ada penjelasan guru karena guru hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  6. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Menangapi pernyataan "Memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru". Menurut saya, tidak semua siswa bisa membangun pengetahuan mereka sendiri walaupun guru sudah memfasilitasi. Sebab pengetahuan awal tiap siswa berbeda-beda karena berasal dari latar belakang pemahaman yang berbeda-beda pula. Didalam kelas yang homogen mungkin bisa, tapi bagaimana jika didalam kelas yang heterogen.

    ReplyDelete
  7. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Peserta didik yang memiliki sikap ilmiah dalam pembelajaran matematika adalah peserta didik yang mempunyai sikap kritis atau mampu berpikir kritis. Karakteristik seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis menurut Barry K. Beyer yang saya ketahui adalah mempunyai sikap skeptis (tidak mudah percaya), sangat terbuka, menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik

    ReplyDelete
  8. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mengembangkan pendekatan saintifik memerlukan pemahaman yang matematis dan terukur. Akan tetapi untuk memperkuat konsep dalam mengkonstruk pemikiran ilmiah maka perlu juga melakukan pemikiran kira-kira, khayalan, legenda, dan sejenisnya.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dalam pembelajaran saintifik, salah satu sitaks nya (dari 5M) adalah Mencoba. Dalam kegiatan ini siswa mengeksplor dan mencoba sehingga diharapkan mereka menemukan pengetahuan sendiri dengan fasilitas guru. Namun, perlu diingat lagi bahwa setiap individu tidaklah ada yang sama, pemikirannya pun berbeda untuk setiap individu. Untuk itu, saya setuju bahwa berpikir kritis adalah berpikir reflektif sangat diperlukan sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar. Berpikir reflektif melibatkan kemampuan kritis dan kreatif untuk meninjau kembali apa yang telah dilakukan sehingga diperoleh pengetahuan baru yang logis.

    ReplyDelete
  10. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dari tesis dan anti-tesis pemahaman pendekatan saintifik di atas saya mengetahui bahwa pendekatan saintifik memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan difasilitasi oleh guru. Dalam pembelajarannya, siswa belajar dari fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika dan didukung oleh pengalamannya untuk memperkuat konsep yang dipelajari. Selain itu, meskipun pembelajaran sudah menggunakan sintak saintifik, kesimpulan yang belum benar masih mungkin terjadi. Oleh karena itu, untuk memperoleh kesimpulan yang benar sesuai sintak saintifik, ada kalanya siswa melakukan sintak yang dikategorikan non saintifik.
    Terima Kasih.

    ReplyDelete
  11. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Setelah membaca post mengenai tesis dan antitesis ini, saya dapat mengetahui bahwasanya dalam pendekatan saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka konstruktivisme yaitu memberi kesempatan siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya dengan fasilitas guru. Dalam pelaksanaanya tidak disalahkan jika terkadang menggunakan pemikiran kira-kira , logika ataupun coba-coba dengan dibarengi oleh sintaks saintifik yang telah ada. Karena pemikiran logika, dll tersebut (non ilmiah) dapat memperkuat konsep yang sedang dipahami.

    ReplyDelete
  12. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pendekatan saintifik dalam kerangka Kurikulum 2013 melibatkan unsur logika dan pengalaman. Dalam melaksanakan kegiatan belajar dengan pendekatan saintifik, siswa tidak hanya melakukan hal-hal yang masuk dalam kategori ilmiah tetapi juga melakukan hal-hal non ilmiah seperti intuisi, prasangka hingga penemuan coba-coba. Kegiatan non ilmiah ini dapat memperkuat kegiatan ilmiah siswa dalam mengkonstrusksi pengetahuannya.

    ReplyDelete
  13. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Setelah membaca postingan diatas saya menjadi tahu bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik itu tidak hanya dengan guru yang dibutuhkan sebagai fasilitator siswa dalam membangun atau mengkonstruk pengetahuannya sendiri akan tetapi dalam hal ini logika berpikir dan pengalaman siswa juga sangat dibutuhkan baik itu secara ilmiah maupun non ilmiah.

    ReplyDelete
  14. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Melalui postingan tersebut saya mengetahui bahwa pendekatan saintifik tidak selalu bersikap ilmiah guna mengkonstruk pengetahuan siswa. Namun, melalui sikap non ilmiah seperti intuisi, prasangka, hingga penemuan coba-coba, yang disertai dengan logika berpikir dan logika pengalaman, justru dapat sangat membantu siswa dalam menarik suatu kesimpulan atau pengetahuan.

    ReplyDelete
  15. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pendekatan saintifik kini menjadi salah satu metode pembelajaran yang direkomendasikan dalam kurikulum 2013. Pendekatan saintifik melibatkan unsur logika dan pengalaman serta diselenggarakan dalam kerangka konstruktivisme yaitu menyerahkan sepenuhnya siswa belajar dan membentuk pengetahuan dalam dirinya tentunya disertai bimbingan guru yang tugasnya hanya sebagai pemberi fasilitas belajar. Selain bersifat ilmiah pendekatan saintifik juga mengandung unsur nonilmiah yang mana unsur atau sifat nonilmiah ini akan menyertai unsur ilmiah sebagai pembentuk pengetahuan serta menghasilkan kesimpulan/keputusan yang benar oleh siswa.

    ReplyDelete
  16. Dheanisa Prachma Maharani
    S1 Pend. Matematika A 2014
    14301241037

    Melalui postingan Prof. Marsigit yang berjudul Tesis dan Anti-Tesis Pemahamaman Pendekatan Saintifik ini saya mengetahui bahwa pendekatan saintifik tak melulu soal kegiatan ilmiah.

    Kegiatan ilmiah biasanya berlandaskan pada fenomena ilmiah yang hanya dapat dijelaskan dengan logika. Namun kenyataannya, fenomena yang bersifat khayalan, dongeng dan kira-kira dapat memperkuat landasan pikiran dan pengalaman

    Proses pembelajaran dari pendekatan ini harus terhindar dari pendekatan non ilmiah, meliputi berdasarkan pada intuisi, akal sehat, prasangka, dan penemuan coba-coba. Namun, intuisi, akal sehat, prasangka, dan penemuan coba-coba ternyata penting untuk mendasari dan menjembatani antara pikiran dan pengalaman

    Terimakasih

    ReplyDelete
  17. Muhammad Nur Fariza
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    14301241024

    Seperti yang ditulis oleh Pak Marsigit dalam postingan yang lain bahwa mencari anti-tesis untuk suatu tesis adalah wajib hukumnya bagi orang yang kritis. Hal ini dilakukan untuk senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini dilakukan agar tidak termakan mitos dari tesis yang ada.

    ReplyDelete
  18. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sintak dalam saintifik yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Mengamati yang dimaksud ialah mengamati fenomena yang terjadi menggunakan logika atau penalaran tertentu akan tetapi legenda, kira-kira, dan legenda juga dapat memperkuat siswa dalam pengamatan. Proses pembelajaran yang terjadi harus terhindar dari nilai non ilmiah yang berdasarkan pada intuisi, akal sehat, prasangka yang kesemuanya berasal dari coba-coba. Inilah hidup, unsur dalam kehidupan manusia semua ada tesis dan anti-tesisnya sama halnya dengan pendekatan saintifik yang juga ada tesis dan anti-tesisnya.

    ReplyDelete
  19. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran berbasis ilmiah. Dimana terdapat pembelajaran dengan metode penemuan dan pengembangan dalam memperoleh pengetahuan baru. Oleh karena itu pembelajaran yang bersifat abstrak khususnya bidang studi matematika lebih dipelihatkan konteks realitas dan logisnya. Peran guru sebagai fasilitator dan motivator untuk para siswa sangat penting dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik ini. Dimana guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, namun menjadi sarana dan prasarana agar siswa menemukan pengetahuan barunya sendiri.

    ReplyDelete
  20. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Materi pembelajan dalam kurikulum 2013 berbasis pada fakta atau fenomena yang merupakan objek keilmuan yang digunakana untuk membangun ilmu pengetahuan yang melibatkan logika dan pengalaman.

    ReplyDelete
  21. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Anti-Tesis 2 oleh Prof. Marsigit. Saya juga sepakat dengan pendapat Prof yang menyatakan bahwa pendekatan saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka konstruksivisme, yaitu memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya. Ditambah dengan adanya kombinasi dengan metode metode dan model-model pembelajaran lain yang juga berbasis konstruktivismem, maka pembelajaran siswa akan lebih bermakna untuk membangun dirinya sendiri dngan pengetahuan yang ada.

    ReplyDelete
  22. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Tulisan ini tidak hanya ingin memaparkan kritik terhadap pemahaman pendekatan saintifik yang umumnya dijadikan referensi oleh pendidik saat ini. Tetapi juga memberikan penjelasan, bagaimana seharusnya pemahaman pendekatan saintifik dalam pandangan Pak Marsigit. Saya termasuk pendatang baru dalam dunia pendidikan berbasis saintifik. Sehingga tidak banyak kritis yang dapat saya ajukan. Melalui komentar ini saya mencoba untuk menambahkan kritik terhadap anti-tesis oleh pak Marsigit. Menurut pandangan saya, dongeng atau khayalan tidak bisa menjadi landasan pikiran dan pengalaman untuk pendidikan berbasis saintifik. Karena menurut saya, dongeng atau khayalan masing-masing orang dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia berada. Sehingga pengembangan ilmu pengetahuan hanya akan terbatas pada dimana dia berada. Sedangkan yang dimaksud pendekatan saintifik dalam pandangan saya adalah untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang universal sehingga bisa diterapkan di manapun tempat yang ada didunia ini.

    ReplyDelete
  23. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dari hasil saya membaca tesis dan antitesis saya memperoleh bahwa dalam sebuah pembelajaran siswa dapat membangun konsepnya sendiri atau biasa disebut kontrutivisme. Peran guru disini adalah sebagai fasilitator dan tidak mendominasi dalam pembelajaran. Guru tidak boleh otoriter. Guru sebisa mungkin mengelola pembelajaran agar siswa berpean aktif dan pembelajaran tidak boleh didominasi oleh guru.

    ReplyDelete
  24. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Pembelajaran saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namun proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. Pembelajaran ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan daripada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar.

    ReplyDelete
  25. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dalam rangka memahami sesuatu, dapat dilakukan dengan cara membuat sintetis dan mencari anti tesisnya dari suatu tesis. Termasuk dalam memahami tentang pendekatan saintifik. Misalnya terdapat tesis sebagai berikut, Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Anti tesis yang mungkin adalah Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  26. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  27. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat Anti-Tesis oleh Prof. Marsigit tentang tesis I. Berbagai kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Dalam membangun sebuah pengetahuan diperlukan pengalaman (yang berupa kira-kira,legenda) dan logika

    ReplyDelete
  28. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Penerapan pendekatan saintifik menuntut adanya perubahan setting dan bentuk tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Salah satu model pembelajaran yang dipandang sejalan dengan prinsip pendekatan saintifik/ilmiah yaitu model inkuiri. Model inkuiri memiliki beberapa tipe, salah satunya model inkuiri terbimbing. Model inkuiri terbimbing menekankan pada siswa yang memecahkan masalah dari guru atau buku teks melalui cara-cara ilmiah, melalui pustaka dan melalui pertanyaan dan guru membimbing siswa dalam menentukan proses pemecahan dan identifikasi solusi sementara dari masalah tersebut.

    ReplyDelete
  29. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pendekatan Saintifik (Scientific Approach) dalam pembelajaran merupakan ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan Kurikulum 2013. Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipadu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/ilmiah. Kemendikbud (2013: 3) memberikan konsepsi tersendiri bahwa pendekatan ilmiah dalam pembelajaran di dalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen-komponen tersebut semestinya dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran, tetapi bukanlah siklus pembelajaran sehingga siswa dapat berperan aktif dalam setiap proses kegiatan pembelajaran.

    ReplyDelete
  30. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat dengan Bapak Marsigit mengenai anti-tesis yang telah dijelaskan. pembelajaran K13 membangun pengetahuan dengan logika dan pengalaman, dengan siswa memiliki pengalaman untuk menemukan konsep materi dengan mandiri maka siswa akan lebih paham mengenai materinya.

    ReplyDelete
  31. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    mengkonstruksi pengetahuan nya sendiri bagi siswa merupakan hal yang sangat penting, guru sebaiknya memberikan LKS untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya. pembelajaran yang bermakna adalah ketika siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Didalam LKS tersebut berisi mengenai alur penemuan penemuan konsep matematika dan siswa menyelesiakan masalah dan mengikuti alur berfikir LKS tersebut.

    ReplyDelete
  32. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    saya sependapat dengan Bapak Marsigit yang tertuang dalam anti-tesis 3, selain pengalaman , imajinasi, intuisi juga penting bagi siswa dalam pemecahan masalah. Intuisi sangat berperan dalam memahami pernyataan-pernyataan matematika dan dalam pemecahan masalah matematika. Pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  33. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik memang menggunakan metode ilmiah menggunakan sintaks-sintaksnya. Namun, dalam pembelajaran, intuisi dan pengalaman diperlukan untuk memperkuat pemahaman yang ada. intuisi, melakukan perkiraan atas suatu hal yang diamati merupakan langkah awal dari menanya. Saat kita melakukan pengamatan kita mengira-ngira apa yang sedang terjadi dan menanyakan sesuatu berdasarkan apa yang kita duga sedang terjadi. Jadi, menurut saya, metode ilmiah itu baru bisa berjalan jika ada metode non ilmiah, keduanya saling melengkapi.

    ReplyDelete
  34. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam kurikulum 2013 dipakai paradigma konstruktivisme dimana siswa dianggap sudah memiliki dasar dan siswa berperan aktif membangun pengetahuannya. Guru bertindak sebagai fasilitator. Jika guru tidak menilai setiap siswa secara subjektif dan memiliki penilaian merata bagi setiap siswa maka perlakuannya merata. Hal ini bertentangan dengan paradigma yang ada, yang menganggap bahwa kemampuan siswa berbeda-beda.

    ReplyDelete
  35. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pendekatan saintifik yang terdapat dala kurikulum 2013 merupakan pembelajaran dimana siswa diposisikan sebagai subjek dan objek belajar sedangkan guru sebagai fasilitator, pembelajaran ini dapat dikreasikan atau dapat dikombinasikan dengan metode pembelajaran yang sudah ada sesuai dengan situasi dan kondisi pembelajaran yang ada. Pembelajaran ini tidak hanya dapat digunakan pada mata pelajaran tertentu saja tetapi dapat digunakan di semua mata pelajaran dengan sintak-sintak yang telah ada. Tesis dan antitesis akan melahirkan sintesis pengetahuan yang baru yang dapat menjadi ilmu pengetahuan sehingga mengubah mitos menjadi logos. Tesis dan anti tesis pemahaman tentang pembelajaran saintifik merupakan pengarahan untuk menemukan solusi pembelajaran yang lebih bermakna karena berdasarkan realita di lapangan kebanyaka guru-guru mengeluh mengenai pendekatan pembelajaran sintifik ini. Padahal jika dicermati lebih dalam para guru mengeluh karena kurangnya pemahaman mereka tentang pendekatana tersebut. yaah,,, memang tidak bisa dipungkiri bahwa merubah paradigma tidaklah semudah membalikkan telapak tangan diperlukan usaha yang ekstra dalam perubahan paradigma tersebut. Perbahan paradigma terkait erat dengan ruang dan waktu, guru telah merasa nyaman dengan pengetahuan yang dimiliki jika diganti-diganti membutuhkan pembelajaran kembali padahal waktu yang dimiliki pun terbatas. Masih banyak yang lain yang mesti dipikirkan oleh para guru, misalnya kelengkapan sertifikasi, penilaian kompetensi guru, kegiatan ekstrakulikuler di sekolah dan sebagainya.

    ReplyDelete
  36. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari artikel ini, saya mendapatkan informasi penting mengenai pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik atau sering kali disebut pendekatan dilmiah ini memiliki sintak ilmiah. Namun, siswa terkadang masih melakukan kegiatan ilmiah ini dengan kegiatan non ilmiah misalnya kekeliruan mengobservasi dan mengambil kesimpulan. Oleh karena itu, guru harus membantu siswa agar pelaksanaan pembelajaran menggunakan sintak ilmiah ini berjalan sesuai harapan sehingga tidak terjadi salah konsep. Walaupun demikian, guru hanya sekedar membantu saja, prinsip konstruktivisme harus dilakukan yaitu siswa mengkonstruksi konsepnya sendiri.

    ReplyDelete
  37. Untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa dalam matematika sekolah diperlukan penggabungan antara akal dan pengalaman atau diperlukan penggabungan antara rasionalisme dan empirisme. Pengetahuan seharusnya terbentuk melalui akal dan pengalaman. Karena matematika sekolah bersifat konkret dan berupa aktivitas siswa. Mula-mula diamati benda kongkrit dari matematika kemudian melalui nalar ditelusuri hubungan dan pola sampai pada matematika yang abstrak. Artinya dimulai dari pengalaman diperoleh pemahaman yang bersifat rasional.

    ReplyDelete
  38. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah menmbaca artikel ini, saya setuju dengan pendapat Prof. Marsigit pada antitesis 2. Dalam anti-tesis 2 disebutkan bahwa pendekatan saintifik sebagai kerangka konstruktivisme, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Pemikiran subjektif diperlukan untuk menambah pengalaman belajar, jika pemikiran tersebut kurang tepat, guru sebagai fasilitator membantu siswa untuk menemukan solusi yang tepat.

    ReplyDelete
  39. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan antitesis yang diberikan Bapak Prof. Marsigit saya belajar bahwa khayalan, dongeng dan semisalnya dapat dijadikan hal untuk memparkuat landasan pemikiran dan pengalaman. Untuk itu cerita rekaan juga dapat digunakan dalam pembelajaran asalkan masih terkait dengan topik pembelajaran dan dapat terkoneksi sehigga menunjang pemahaman siswa.

    ReplyDelete
  40. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya tertarik dengan kata "intuisi". berdasarkan hasil perkuliahan pada tanggal 26 mei 2017 saya mendapatkan banyak hal tentang intuisi. seseorang yang intuisinya kurang baik maka dia kurang memaknai dan menikmati hidup ini. dikarenakan dia tidak mengatehui arah dan hanya mengetahui kanan kiri saja sehingga terkesan kurang menikmati alam ini. seseorang yang intuisinya kurang baik maka dia akan cenderung menghafal jalan karena dia tidak dapat mengetahui arah.

    ReplyDelete
  41. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Pendekatan saintifik adalah pendekatan yang digunakan dalam kurikulum K13. Dalam penerapannya Pendekatan saintifik membutuhkan persiapan yang lebih banyak dan lebih matang dari pada pendekatan yang digunakan di kurikulum sebelumnya. Tulisan ini dapat menjadi bahan bacaan bagi para pengajar untuk lebih memahami tentang pendekatan saintifik yang baik dan mengerti tentang sintak-sintak yang terdapat dalam pendekatan saintifik. Dengan pengetahuan tentang pendekatan saintifik yang lengkap, guru dapat mempersiapkan pengajaran yang lebih baik sehingga dapat lebih maksimal dalam menjadi fasilitator untuk siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  42. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Jelas dikatakan pada elegi ontologi saintifik bahwa saintifik dibedakan menjadi dua macam yaitu saintifik idealis dan realis. saintifik realis ini memiliki 5 sintak yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Kebermaknaan pembelajaran dengan menggunakan metode saintifik ini juga didukung oleh pengalaman.

    ReplyDelete
  43. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tesis dan anti tesis yang pertama dapat disimpulkan bahwa substansi pembelajaran haruslah merupakan suatu yang dapat dijelaskan dengan logika dan fakta. Akan tetapi dongeng khayalan juga dapat dimanfaatkan dalam materi pembelajaran asalkan mampu dijelaskan keterkaitan dan hubungannya sehingga memperkuat pemahaman siswa.

    ReplyDelete
  44. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tesis dan anti tesis kedua saya menggaris bawahi bahwasannya tesis mengenai penjelasan guru bertentangan dengan roh dari pendekatan saintifik itu sendiri. pendekatan saintifik berlandaskan pada pembelajaran kontruktivism dimana siswa sendiri yang mengkonstruk pengetahuannya secara subjektiv dan mandiri.

    ReplyDelete
  45. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika dalam proses mengkonstruk pengetahuan terjadi miskonsepsi atau penyimpangan maka disinilah peran guru sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa menemukan jalan ataupun cara yang benar.

    ReplyDelete
  46. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran arusla bersifat ilmiah, akan tetapi dalam prosesnya tidak selalu hal ilmiah itu terjadi. Pendekatan ilmiah terkadang dapat kita temui dalam proses pembelajaran dan menurut saya itu hal yang wajar.

    ReplyDelete
  47. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti halnya pada poin 3 dibahas mengenai proses pembelajaran yang harus menghindari sifat nonilmiah. Akan tetapi dalam prosesnya terkadang sifat non ilmiah tersebut muncul akibat dari perlakuan subjek.

    ReplyDelete
  48. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Peran dari sifat non ilmiah itu penting sebagai triger untuk mempersiapkan otak untuk berfikir dan mencerna materi yang akan dipelajari. Intuisi disini berperan dalam berfikir berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

    ReplyDelete
  49. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam proses belajar akal sehat digunakan dalam memaknai ataupun menafsirkan objek-objek yang tengah dipelajari. Kegiatan mencoba-coba atau trial-eror disini sebagai suatu kegiatan yang memanfaatkan pengetahuan yang ada (prior knowledge) dan pengalaman serta mempertimbangkan logika dan fakta , analitik dan sintetik juga priori dan posteriori.

    ReplyDelete
  50. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berfikir kritis disini berperan aktif dalam pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman dan hasil yang telah dilakukan sebelumnya. Dimana sebelum mengambil suatu keputusan siswa akan melalui tahapan menganalisis terlebi dahulu.

    ReplyDelete
  51. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tesis 1 dan Anti-Tesis oleh Bapak Marsigit
    Saya setuju dengan anti tesis yang ditulis oleh Bapak Marsigit karena untuk membangun ilmu pengetahuan perlu digunakan fakta dan fenomena pada kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, tetap membutuhkan segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng untuk memperkuat landasan pemikiran, terlebih untuk para siswa yang relatif muda yang masih belajar matematika sekolah bahwa untuk belajar matematika misal membuktikan sesuatu masih menggunakan kira-kira untuk membuktikannya, tetapi justru itu yang akan membuat siswa semakin paham.

    ReplyDelete
  52. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tesis 2 dan Anti-Tesis oleh Bapak Marsigit
    Saya setuju dengan anti tesis yang ditulis oleh Bapak Marsigit bahwa penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis tidaklah selalu berarti salah, penalaran yang menyimpang yang muncul dari siswa tidaklah salah, hal itu tidak masalah muncul dari siswa karena akan menjadi pengalaman belajarnya. Dan yang seharusnya dilakukan adalah mencari pembenaran dari penalaran yang menyimpang tersebut tetapi tidak menyalahkan apa yang dilakukan siswa. Begitu pula dengan pemikiran subyektif siswa, hal tersebut bukan permasalahan selama guru dapat mengatasinya.

    ReplyDelete
  53. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Di sekolah kini memang sudah diterapkan kurikulum 2013 dan menggunakan pendekatan saintifik yaitu yang biasa disingkat dengan 5M. Menurut pendapat Prof. Marsigit dari yang saya pahami selama perkuliahan bahwa menanya seharusnya memang disebut hipotesis. karena siswa disini diminta untuk membuat hipotesis awal/rumusan sementara.

    ReplyDelete
  54. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pembelajaran matematika kini mengacu pada kurikulum 2013. Secara khusus pembelajaran berbasis kompetensi dalam kurikulum 2013 harus memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah pembelajaran perlu ditekankan pada masalah-masalah aktual yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada (Mulyasa, 2014:109).

    ReplyDelete
  55. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Tesis dan antitesis dari pemahaman pendekatan saintifik, yakni jika fenomena dan mengalaman menjadi substansi pembelajaran maka antitesisnya fenomena menjadi obyek pembelajaran. Jika pembelajaran masih menggunakan penjelasan guru maka antitesisnya pembelajaran mengunggulkan kemandirian siswa untuk memperoleh pengetahuannya dengan sedikit penjelasan guru. Demikianlah pemahaman pendekatan saitifik.

    ReplyDelete
  56. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika

    Pembelajaran saintifik dalam Kurikulum 2013 diajarkan dengan menggunakan sintak 5M, dimana pada bagian Menanya seharusnya diganti dengan Hipotesis. Selain dalam artikel tersebut, opini ini juga dijelaskan langsung oleh Prof. Marsigit selama perkuliahan. Karena dengan melakukan hipotesis, siswa mampu menduga-menduga kejadian yang seharusnya terjadi, sedangkan kegiatan menanya belum tentu mampu membawa siswa untuk melakukan hipotesis.

    ReplyDelete
  57. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik, guru sebagai fasilitator membimbing siswa untuk mengkonstruk pengetahuan siswa dalam memahami konsep atau materi yang diajarkan sehingga siswa menjadi aktif dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  58. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Saya setuju dengan anti tesis Bapak yang pertama bahwa segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Perlu diingat bahwa masalah nyata itu tidak hanya melulu merupakan permasalahan yang dialami oleh siswa atau benar-benar nyata, tetapi dapat berupa khayalan atau dongeng asalkan masalah tersebut dapat dibayangkan oleh siswa. yang terpenting adalah selama siswa dapat membayangkannya, maka tidak akan menjadi masalah. Semua itu dibutuhkan untuk melatih intuisi siswa agar terus berkembang. Jika terdapat materi matematika yang tidak ditermukan dalam dunia nyata atau mungkin sulit ditemukan, lantas hal ini justru akan menyulitkan guru, seperti materi fungsi eksponen atau logaritma?

    ReplyDelete
  59. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tesis 3 dan Anti-Tesis oleh Bapak Marsigit
    Menurut saya, tesis 3 dan anti-tesisnya oleh Bapak Marsigit ini tidak terlalu bertolak belakang seperti pada tesis 1 dan tesis 2. Akan tetapi, Bapak Marsigit menjelaskannya dengan lebih baik yang memiliki inti bahwa intuisi, akal sehat, kegiatan coba-coba, berpikir kritis, ditambah dengan fenomenologi dan hermeneutika adalah termasuk dalam komponen atau awal dari berpikir ilmiah, dan bukan serta merta dianggap sebagai berpikir non ilmiah.

    ReplyDelete
  60. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari ketiga tesis dan anti-tesis di atas dapat saya ketahui bahwa untuk membangun ilmu pengetahuan digunakan fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita, kemudian dengan akal sehat kita, fenomena-fenomena tersebut dapat dipikirkan dengan kegiatan coba-coba hingga akhirnya menemukan solusi yang sesuai hingga akhirnya dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.

    ReplyDelete
  61. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  62. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Membangun sebuah pengetahuan adalah dengan separuh pengalaman dan separuh logika, tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman saja atau logika saja. Itulah sebenar-benar hidup. Oleh karena itu, dalam memperkuat logika berpikir dapat digunakan pengalaman yang berupa kira-kira, khayalan, legenda atau dongeng. Dalam pendekatan saintifik yang bersifat ilmiah pun dapat digunakan kira-kira untuk memperkuat landasan berpikir juga pengalaman.

    ReplyDelete
  63. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pendekatan saintifik, diperlukan kemandirian untuk menemukan pengetahuannya karena siswa sendirilah yang mengkonstruksi ilmunya melalui fasilitas yang guru berikan, pemikiran subjektif dari siswa diperlukan untuk memperkokoh karakter dalam memperoleh pengalaman, bahkan penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis perlu untuk disadari dan dicarikan solusi serta penjelasannya yang berguna untuk memperkokoh konsep yang telah dibangun oleh siswa. Tidak serta merta menjudge kebenaran dari diri siswa.

    ReplyDelete
  64. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari tesis dan anti-tesis 3, saya menyadari bahwa sifat ilmiah tidak serta merta terlepas dari sifat non ilmiah. Bahkan terkadang untuk memperoleh sintak ilmiah dapat dilakukan hal-hal yang sifatnya non ilmiah. Peran intuisi, kegiatan coba-coba dan pemikiran kritis sangat diperlukan dalam pendekatan saintifik untuk dapat memperoleh kesimpulan yang benar. Dengan pendekatan saintifik pula, siswa dilatih untuk menajamkan intuisi dan berikir kritis.

    ReplyDelete
  65. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pendekatan saintifik siswa diajak untuk menajamkan intuisi, baik intuisi berpikir dan intuisi pengalaman dalam melihat hubungan antara fakta dan fenomena pada kehidupan sehari-hari yang berguna untuk mengkontruksi pengetahuannya. Mempraktikkan pemikiran seperti coba-coba dan memikirkan pengalaman atau hipotesis dapat membantu siswa dalam memahami dan memperkokoh konsep yang telah dimiliki.

    ReplyDelete
  66. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Tesis dan anti tesis pemahaman tentang pendekatan saintifik ini berisi tentang pendapat-pendapat yang secara hakikat apa itu pendekatan saintifik, bagaimana pendekatan saintifik seharusnya dilaksanakan, dan serta apa yang dihasilkan dari penerapannya. Anti tesis-anti tesis ini merupakan pendapat-pendapat yang dilakukan melalui kajian-kajian maupun pengalaman yang telah dilakukan.

    ReplyDelete
  67. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran yang bagus adalah pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran bermakna terjadi jika peseta didik membangun pengetahuannya sendiri. Pendekatan saintifik diharapkan dapat memfasilitasi siswa untuk dapat membangun pengetahuannya. Siswa difasilitasi untuk dapat berdiskusi, berkomnikasi,, berpikir kritis, dan merefleksikan hasil pemikirannya melalui pembelakaran di kelas dengan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  68. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Tesis dan anti-tesis dalam pendekatan saintifik dapat dipandang sebagai suatu hal yang digunakan dalam referensi penerapan pendekatan itu di dalam kelas. Agar dapat menerapkan pendekatan saintifik tentunya guru harus banyak referensi agar pengetahuannya semakin kaya dan dapat menerapkan pembelajaran itu dengan baik. Guru sebagai fasilitator hendaknya mampu memfasilitasi siswa agar dapat membangun pengetahuannya sendiri demi kemajuan belajarnya.

    ReplyDelete
  69. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dalam menerapkan pendekatan saintifik juga harus dilihat apakah hasil nya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ada. Membangun pendidikan melibatkan unsur logika dan pengalaman. Pengetahuan yang didapatkan sebelum adanya pengalaman disebut priori, dan sebaliknya jika pengetahuan didapat setelah melakukan pengalaman disebut posteriori. Suatu konsep itu pasti ada tesis dan antitesinya begitu juga mengenai konsep pemahaman pendekatan saintifk. Hal itu ada untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  70. Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan Matematika

    Pada tesis yang pertama 1, bahwa pembelajaran harus dengan logika dan penalaran bukan sekedar kira-kira, khayalan, legenda maupun dongen. Namun dari anti-tesis yang bapak berikan itu menarik, karena tidak hanya dengan logika dan penalaran, namun hal-hal lain juga dapat membantu dalam sebagai untuk memperkuat landasan pemikiran.

    ReplyDelete
  71. Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan Matematika I 2014

    Dalam anti-tesis yang kedua , disini lebih ditekankan bagaimana guru hanya sebagai fasilitator. Dan dalam pembelajaran siswalah yang membangun pengetahuannya sendiri dengan pembelajaran yang kontstruktivisme. Seperti yang disampaikan Prof Marsigit dalam perkuliahan etno matematika, bahwa pembelajaran yang konstruktivisme seperti inilah yang akan lebih meningkatkan kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  72. Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan Matematika I 2014

    Dalam sebuah pembelajaran matematika tidak serta merta intuisi harus dihindari, karena dianggapsebagai nilai nonilmiah. Nyatanya penggunaan intuisi juga diperlukan, karena intuisi berpikir itu perlu untuk menyelesaikan masalah yang tidak terpaku pada rumus.

    ReplyDelete
  73. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Pendekatan saintifik merupakan pendekatan ilmiah. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik menekankan pembelajaran berbasis fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

    ReplyDelete
  74. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Proses pembelajaran saitifik ialah pembelajaran yng berbasis fakta dimana objek keilmuan yang digunakan melibatkan unsur logika dan pengalaman, yang tidak menyimpang dari alur berpikir logis. Pendektan saintifik dapat memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri dengan fasilitas dari guru dan didukung oleh pengalaman siswa. Oleh karena itu, untuk mengunakan pembelajaran yang saintifik (ilmiah) dapat didukung oleh hal-hal non ilmiah, seperti intuisi dan pengalaman siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  75. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan santifik, penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.

    ReplyDelete
  76. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya tertarik dengan kalimat "interaksi antara pikiran dan pengalaman". antara pikiran dan pengalaman pastilah ada hubungannya. pengalaman mengajarkan kita untuk berfikir lebih bijaksana. bijaksana dalam menanggapi sesuatu agar tidak terulang kembali sebuah kejadian yan telah terjadi. pengalaman memang tidak ada yang buruk, semua dapat diajadikan pelajaan bagi kita semua.

    ReplyDelete
  77. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pemahaman pendekatan saintifik mungkin bagi beberapa guru masih dirasa asing. Pendekatan saintifik terdapat beberapa tahapan, diantaranya ada 5M. sebelum memulai pembelajaran, sebaiknya memang ada yang namanya apresepsi. apresepsi sebaiknya melibatkan seluruh siswa yaitu dengan cara memberikan kuis agar semua siswa berperan dalam kegiatan apresepsi.

    ReplyDelete
  78. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dalam anti tesis 2, saya setuju dengan pendapat Prof Marsigit menurut saya apabila menerapkan konsep melalui fasilitas guru siswa akan lebih mempunyai kemampuan saintisme yang baik yang artinya siswa tersebut lebih mengerti dengan pengetahuan tersebut.

    ReplyDelete
  79. 24. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Berdasarkan tesis dan anti tesis pertama logika dan pengalaman merupakan unsur penting juga sebagai objek untuk memperkuat objek keilmuan yang dapat membangun ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  80. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Melalui postingan diatas saya dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran saintifik yang tidak hanya guru melaksanakan kegiatan konstruktif untuk menambah pengetahuan siswa. Namun melalui prasangka, logika dan pengalaman agar siswa dapat menarik sebuah kesimpulan.

    ReplyDelete
  81. Novi Indah Lestari
    14301244001
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Seperti yang ditulis oleh Prof Marsigit bahwasanya mencari anti tesis tidak semuanya harus melalui prasangka namun juga harus mengembangkan ilmu pengetahuan agar tidak salah dalam menyimpulkan suatu tesis.

    ReplyDelete
  82. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mengenal pendekatan saintifik adalah salah satu cara untuk memahami kurkulum 2013. Hal ini dikarenakan pembelajaran yang berbasis saintifik adalah salah satu pembelajaran yang berdasarkan kurikulum 2013. Oleh karena itu membicarakan pembelajaran yang berbasis saintifik (pendekatan saintifik) sangat erat kaitannya dengan kurikulum 2013. Dalam pembelajaran saintifik ini, pembelajaran yang dilakukan dikelas menjadi lebih inovatif, kreatif, serta menyenangkan karena menggunakan variasi dalam metode atau strategi pembelajarannya, siswa juga semakin aktif dan mandiri untuk mencari pengetahuan yang diinginkannya.

    ReplyDelete
  83. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan saintific itu pembelajaran yang substansisnya mengamati atau meneliti atau dalam bahas fillsafat terjemahan dan menerjemahkan objek yang secara fakta dapat membantu proses logika untuk mendapatkan matematika formal. Jadi siswa diposisikan untuk menerjemakhan permasalahan sehingga mendapatkan pengetahuan matematika sesuai dengan permasalahan tersebut.

    ReplyDelete
  84. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Saya sependapat dengan anti-tesis yang dibuat oleh Bapak. Dalam mengambil kesimpulan haruslah hati-hati karena kesimpulan yang diambil akan menjadi pengetahuan bagi siswa. Tidak selamanya kesimpulan yang sudah menggunakan sintaks pendekatan saintifik selalu benar. Ada kalanya terjadi kesalahan observasi seperti yang disebutkan artikel di atas. Jadi kesimpulan yang diambil haruslah dicek kembali kebenarannya.

    ReplyDelete
  85. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Kegiatan mencoba-coba sebenarnya merupakan kegiatan yang bermanfaat dalam proses pembelajaran karena melibatkan proses berpikir dan pengalaman siswa dalam menyelesaikan masalah sehingga secara tidak langsung membuat siswa berpikir kreatif, yaitu menyelesaikan masalah tidak hanya dengan langkah yang sudah ada, tetapi menciptakan cara/langkah baru untuk menyelesaikan masalah. Terima kasih.

    ReplyDelete